VORMUND

author : firetomylight

cast : – kim jongin – do kyungsoo park chanyeol – oh sehun – luhan

lenght : chaptered 3/?

YAOI CONTENT


"Kau masih hidup HAH?"

"KAU MASIH HIDUP SETELAH KAU MEMBUNUH ISTRIKU?"

"AKU BUKAN AYAHMU! ANAK SIALAN!"

"KAU HARUS MATI! TEBUS KEMATIAN ISTRIKU DENGAN KEMATIANMU!"

'Hyung, Jongin Hyung, kumohon tolong aku…'


VORMUND

CHAPTER 3


Jongin selalu merasa mengikuti saran Sehun adalah ide yang buruk meskipun ia tau Sehun dengan sangat baik. Bersahabat dengan Sehun lebih dari separuh usianya dirasanya cukup menjadi jaminan untuk menjadikan Sehun seseorang yang selalu bisa ia andalkan, meskipun lamanya waktu persahabatan mereka tidak membuat Sehun tau segalanya tentang Jongin. Satu hal yang pasti Sehun tau, Jongin menyayangi Kyungsoo, adiknya, lebih dari apapun bahkan dirinya sendiri.

Persahabatan itu dimulai ketika Jongin dan Sehun dipertemukan sebagai rival dalam sebuah turnamen dance antar sekolah menengah pertama. Jongin masih ingat benar saat itu Sehun begitu membencinya karena ia didiskualifikasi, pergi meninggalkan turnamen begitu saja setelah menerima telepon setelah Sehun begitu lama dan giat berlatih untuk bisa bertemu dengannya di final turnamen tanpa ia tau.

"Kim Jongin."

"Ya!" Sehun menyenggol lengan Jongin karena tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya.

"Shh."

"Kau melamun?" tanya Sehun bodoh, tentu saja karena tanpa bertanya pun semestinya ia tau jawabannya iya.

"Dia masih lama? Aku lelah ingin pulang."

"Tunggulah, Luhan bilang sudah dekat kok." jawab Sehun lengkap dengan cengiran khasnya, matanya menyipit, eye smile.

'Jongin, bagaimana jika kau punya pacar juga?'

'aku akan mengatur kencan pertamamu dengan Luhan.'

Satu dari sekian saran Sehun yang Jongin ikuti karena ia tidak pernah diberi pilihan untuk menolak. Mungkin Sehun hanya ingin membantunya menyelesaikan masalah-masalahnya yang ia pikir rumit atau memang betul-betul rumit.

"Jongin ah, berapa usiamu sekarang?" tanya Sehun seraya meminum ice moccachinonya.

"Sama denganmu."

"22, baiklah." Sehun akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri.

"Menurutmu apa yang biasanya seseorang lakukan di usia 22?" tanya Sehun lagi.

"Hidup, cukup makan, minum, tidur, dan belajar." Jongin malas-malasan menjawab pertanyaan Sehun. Jujur saja duduk di cafe dan menunggu seseorang seperti ini dirasa membuang-buang waktunya.

"Hmm."

"Hidupmu monoton sekali ya Jongin ah." ledek Sehun.

"Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban apa Sehun ah?"

"Apapun, tapi aku ingin ada kata 'berkencan' mungkin?"

Jongin menghela nafas.

Tidak ada yang salah dengan kata 'berkencan' hanya mungkin kata itu sedikit sensitif untuk Jongin. Ia fikir waktunya cukup berharga untuk sekedar ia buang menghabiskan waktu di kegiatan yang orang sebut 'berkencan'. Diusianya yang ke 22 tahun ini ia belum pernah sekalipun menjalin hubungan, mungkin hanya sebatas suka itupun perasaan yang sudah lama ia lupa rasanya.

"Luhan! disini." teriak Sehun seraya melambaikan tangannya.

Seseorang bersurai berwarna pirang berwajah mungil dan berkulit putih tersenyum seraya menghampiri meja dimana Sehun dan Jongin berada.

"Maaf aku terlambat." satu senyuman Luhan terkembang menarik seluruh fokus Jongin saat itu. Sehun hanya tersenyum puas memperhatikan reaksi sahabatnya.

"Halo, namaku Luhan."

"Jongin." Jongin menyambut uluran tangan luhan yang pertama.

"Senang sekali bisa berkenalan denganmu Jongin hyung."

"Jongin saja." jawab Jongin.

"Apa lebih baik aku pulang?" gurau Sehun.

"Kau punya rumah Sehun ah?" Jongin membalas gurauan Sehun.

"Maaf aku terlambat, aku pikir kelas vocal akan selesai lebih awal, ternyata aku salah." jelas Luhan sopan.

"Kau harus mendengar Luhan bernyanyi Jongin ah, kau pasti akan sangat menyukainya." Sehun tau Jongin selalu bercerita, memamerkan suara indah Kyungsoo ketika bernyanyi padanya.

'Dua hari lagi ulang tahunmu, hal apa yang paling kau sukai Jongin ah?'

'Aku, eum, aku menyukai suara Kyungsoo ketika bernyanyi.'

"Tentu." jawab Jongin, kedua pipi putih Luhan bersemu sempurna.

"Ah, aku ingin ke toilet. Kalian tunggu disini ok?"

"Sehun banyak bercerita tentangmu." Luhan memulai percakapan diantara dirinya dan Jongin.

"Kalian sepertinya dekat."

"Teman kecil." Luhan tersenyum.

"Apa yang dia ceritakan padamu?"

"Tidak banyak, sebenarnya, aku yang selalu bertanya padanya tentang dirimu."

Jongin terdiam sesaat.

"Eum Jongin ah, bolehkan aku meminjam ponselmu? Aku ingin mengabari ayahku, mungkin malam ini aku pulang terlambat."

"Tentu." Jongin mengambil ponsel putih dari sakunya.

'DEG'

Jantungnya berdetak keras, lagi, ada satu hal terpenting yang ia lupakan.

'KYUNGSOO'

Tanpa satu katapun Jongin berlari keluar kafe meninggalkan Luhan yang terpaku menatap punggungnya menjauh. Keringat dingin mengaliri pelipisnya. Firasatnya memburuk, benar-benar buruk.

"Lu, dimana Jongin?"

"Ia.. Pergi, aku tidak tau kenapa." kekecewaan jelas tergambar diraut wajah Luhan.

Sehun menghela nafas panjang.

"Kau memang benar-benar lemah Jongin ah, kalahkan perasaan itu demi kebahagiaanmu dan Kyungsoo." desah Sehun pelan, hampir tak terdengar.

.

.

"KAU HARUS MATI! TEBUS KEMATIAN ISTRIKU DENGAN KEMATIANMU!" teriakan itu menggema diseluruh ruangan seiring dengan cekikan yang semakin kuat dileher Kyungsoo.

Nafasnya tersengal, sesak.

'Hyung, Jongin Hyung, kumohon tolong aku…'

Kyungsoo memejamkan kedua matanya menguatkan dirinya untuk bertahan, mengirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Ia tidak pernah tau kesalahan apa yang ia lakukan hingga sosok yang ia panggil ayah dihadapannya ini begitu membencinya. Kenapa? Kesalahan apa? Apa yang ia lakukan hingga semua orang membencinya, bahkan Jongin. Apakah Jongin akan tetap disisinya begitu ia tau tentang segala rasa menyakitkan yang Kyungsoo pendam rapat. Dan Jongin juga akan membencinya pada akhirnya.

"MATI KAU SIALAN!"

Tarikan nafas Kyungsoo terputus ketika puncak amarah ayahnya tersalur pada satu cekikan kuat dilehernya.

'Maafkan aku Hyung'

dan semuanya menghitam.

.

.

.

.

"Hosh hosh."

Jongin membulatkan matanya begitu melihat pintu depan rumahnya yang terbuka lebar. Firasat buruknya menguar, hampir menangis ketika ia memasuki rumah disambut oleh pecahan porselen dan barang-barang yang berserakan.

"Kyungsoo.." desahnya pelan.

"Kyungsoo.." ia masih terdiam diposisinya. Takut. Takut menerima kenyataan yang tidak ingin ia tau. Tubuhnya bergetar hebat, kedua kakinya melemas. Perlahan ia melangkah, mencoba memberanikan diri mencari sosok yang saat ini memenuhi pikirannya.

"Jongin?" Tubuhnya ambruk seketika. Bibi Jung memeluk tubuh itu erat.

"Kyungsoo ada dikamarnya, ia sedang tertidur."

Jongin tidak merespon apapun. Pandangannya kosong.

"Semua sudah baik-baik saja Jongin ah, jangan salahkan dirimu lagi, ini bukan kesalahanmu." Bibi Jung masih memeluk erat tubuh Jongin, mengusap punggungnya perlahan.

"Aku akan kembali besok pagi, kau bisa temani Kyungsoo?"

"Dia membutuhkanmu."

'Kalian saling membutuhkan satu sama lain.'

Jongin membuka kenop pintu itu perlahan berjalan mendekati sosok terkasihnya yang tertidur.

Air matanya mengalir, diusapnya lebam dipipi putih Kyungsoo perlahan.

"Maaf."

"Maafkan aku."

Jongin menyelipkannya jemari miliknya diantara jemari Kyungsoo yang ia genggam erat.

"Apa luka itu sakit?"

Dikecupnya satu persatu luka Kyungsoo, matanya terpejam.

"Disini, dihatiku, terasa begitu sakit."

"Perasaan sakit ini, bagaimana cara menghapusnya Kyungsoo ah?"

Desahan nafas panjang seraya ia membuka kedua matanya, memandangi wajah Kyungsoo. Tak lepas dari pandangannya tubuh Jongin merespon memperpendek jarak pandangnya hingga deru halus nafas Kyungsoo terasa. Akal sehatnya menghilang ketika ia memutus jarak itu, menyatukan bibirnya dengan milik Kyungsoo. Kecupan-kecupan itu berubah menjadi semakin dalam seiring dengan rasa sakit dihati Jongin yang menguar dan terhenti ketika oksigen disekitarannya mulai menipis.

"Bantu aku Kyungsoo ah." kalimat terakhir Jongin sebelum akhirnya ia tertidur.

.

.

.

Kyungsoo membuka kedua matanya perlahan ketika aroma wangi makanan menyentuh indera penciumanya. Masih terasa sakit diseluruh tubuhnya, bahkan untuk sekedar melakukan gerakan ringan.

"Kyungsoo, Jongin sarapan sudah siap." teriakan bibi Jung membuat Kyungsoo tersadar ada seseorang berada tepat disebelahnya mengunci jemarinya dengan miliknya, berbagi satu selimut dengannya. Kyungsoo tersenyum, paginya sempurna.

"Hyung, bangun, atau bibi akan menghukummu membersihkan seluruh rumah." Kyungsoo tertawa kecil karena Jongin tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun, tubuhnya bergeliat menarik selimut mereka merapat.

"Kim Jongin!"

Kedua mata jongin spontan terbuka mendengar teriakan namanya, terbangun secara paksa adalah hal yang paling menyebalkan. Ia menginggalkan satu senyumannya untuk Kyungsoo sebelum melangkahkan kakinya malas menuju dapur.

"Aku datang Bibi!"

Bibi Jung tertawa kecil melihat Jongin dengan rambut yang berantakan dan matanya yang belum seratus persen terbuka.

"Kemana piyamamu?"

Jongin mendudukkan dirinya disalah satu kursi makan mereka, melipat tangannya diatas meja dan siap untuk melanjutkan mimpinya.

"Bangun, sarapan, dan lekas mandi Kim Jongin."

"Bibi akan mengantarkan bubur ini ke kamar Kyungsoo, jika bibi lihat kau masih diposisi yang sama, kau tau apa yang akan terjadi, dengar?"

"Ting Tong Ting Tong."

"Shh, siapa bertamu dipagi ini." Jongin merapikan rambutnya, menguap beberapa kali sebelum membukakan pintu.

"SELAMAT PAGI HYUNG!"

"Chanyeol?"

"Kau tidak ke sekolah?"

"Bolehkah aku masuk dulu hyung? Hehehe."

Jongin menatap Chanyeol dari bawah hingga atas, lengkap dengan seragam dan ranselnya, juga senyum lebarnya yang ia rasa tidak pernah hilang.

"Jadi, apa yang membawamu kesini, bukan ke sekolah?" selidik Jongin.

"Hyung, bolehkah aku bertemu dengan Kyungsoo?"

"Tidak boleh."

"Kenapa?" ekspresi wajah Chanyeol berubah, muram seketika.

"Karena kau tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya."

"Aku kesini karena ingin bertemu Kyungsoo, hyung."

"Di jam seharusnya kau berada disekolah?"

"Ah! Aku mengerti! Aku bukan tipe lelaki pembolos hyung! Sekolah hari ini membebaskan siswanya untuk pulang karena persiapan festival lusa. Hehehe."

Jongin mengerutkan dahinya.

"Sungguh hyung! Aku ini lelaki bertanggung jawab, kau bisa mempercayakan Kyungsoo padaku." seru Chanyeol bersemangat.

Jongin hanya tertawa kecil.

"Kyungsoo, Chanyeol ingin menemuimu."

Kyungsoo buru-buru menggelengkan kepalanya cepat.

"Bilang aku sedang tidur hyung, tolonglah." rengek Kyungsoo.

"Chanyeol?" tanya Bibi Jung.

"Tapi dia.."

"KYUNGSOO!" Seru Chanyeol lengkap dengan senyum terbaiknya menyusup diantara tubuh Jongin dan daun pintu.

"Ah, annyeonghaseyo omoni, aku Chanyeol, teman dekat Kyungsoo."

"Chanyeol, kau bisa memanggilku bibi Jung saja."

"Eh? Baiklah bibi Jung. Eum, bolehkah aku menggantikan bibi menyuapi Kyungsoo?" tanya Chanyeol.

Kyungsoo menggeleng, berdoa, berharap Bibi Jung tidak akan memindahkan mangkuk itu ketangan Chanyeol.

"Tentu saja." Bibi Jung tersenyum. Seraya menarik Jongin keluar dan menutup pintunya.

"Kyungsoo, kau sedang sakit ya?" tanya Chanyeol tidak berdosa.

Kyungsoo merasa malas untuk menjawab pertanyaan bodoh Chanyeol, ia merasa lebam diwajahnya sudah cukup untuk menjawabnya.

"Kyungsoo, AAAAA." Chanyeol bersiap menyuapi Kyungsoo yang merapatkan bibirnya.

"Aish, kau harus makan, kau mau bilang tidak lapar lagi?"

Kyungsoo melipat kedua tangannya didada.

"Kau mau menunggu sampai cacing-cacing diperutmu bernyanyi ya?" goda Chanyeol.

"Aku tidak mau makan makanan darimu, atau bukan makanan darimu tapi kau berniat menyuapiku, sama saja. Tidak mau." ketus Kyungsoo.

"Benar kau tidak mau makan?" tanya Chanyeol lagi masih dengan sendok ditangannya.

Kyungsoo mengangguk.

"Kau ini kenapa selalu berada disekitarku sih belakangan ini?"

"Hehehe, bagaimana ya? Sebenarnya.."

"Sebenarnya?" tanya Kyungsoo.

"Sebenarnya kau sedang sakit dan kau harus makan, buka mulutmu, AAA." Kyungsoo memalingkan wajahnya, menggeleng cepat.

Chanyeol menghela nafas panjang sesaat, seraya menaruh sendok ditangannya.

"Kyungsoo, kau pernah mendengar kisah tentang anak-anak di Kongo?"

"Kongo?" Kyungsoo menggeleng.

"Iya, itu adalah negara termiskin didunia. Kau tau bagaimana kondisi disana? Dengan pendapatan perkapita yang sangat kecil kondisi disana sangat menyedihkan. Anak-anak disana banyak yang kekurangan gizi, untuk memperoleh makan bahkan sangat sulit."

"Bagi seseorang hal yang dianggap tidak penting ternyata bagi orang lain bisa begitu berarti besar kalau saja kita mau belajar untuk lebih menghargai."

"Jadi, kau masih tidak mau makan?" Chanyeol mengambil sendoknya bersiap untuk menyuapi Kyungsoo.

Kyungsoo terdiam sesaat sebelum akhirnya menerima suapan pertama dari Chanyeol yang tersenyum padanya.

"Nah, begitu dong." ujarnya seraya mengusap surai hitam Kyungsoo.

"Kau harus lekas sembuh, ya?"

Ada rasa hangat yang menyelimuti hati Kyungsoo untuk pertama kalinya ketika melihat senyuman tulus Chanyeol.

"Kau suka sekali tersenyum seperti orang bodoh begitu ya, Chanyeol?"

.

.

.

"Bibi, tadi malam, itu ayah kan?" pertanyaan Jongin membuat Bibi Jung menaruh kembali mangkuk nasi ditangannya.

"Bibi jawab aku, yang melukai Kyungsoo, itu ayah kan?" Jongin berusaha meredam emosinya.

"Jongin, ayahmu hanya salah paham."

"Bibi, aku akan melindungi Kyungsoo, bagaimana pun caranya, meskipun itu ayah jika dia menyakiti Kyungsoo lagi…"

"Aku tidak akan menjamin apapun Bibi." desah Jongin pelan.

"Jongin bagaimana pun dia ayahmu."

"DIA JUGA AYAH KYUNGSOO!"

"Jongin hentikan, redam amarahmu, Kyungsoo bisa mendengarnya."

"Bibi tau, Kyungsoo adalah yang terpenting untukku, dan akan selalu begitu. Selalu."

Jongin bangkit dari tempat duduknya melangkahkan kakinya menuju kamar Kyungsoo.

"Kemarin kau memakan rotiku kan?"

"Aku membuangnya."

"Kau bohong, aku melihat kau memakannya kok, lahap sekali. Kau kelaparan ya? Hahaha."

Kyungsoo menerima suapan dari Chanyeol, menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Mengaku saja, kenapa malu sih?"

"Aku membuangnya Chanyeol."

"Kalau bohong kau makin pendek ya?"

"Kau merasa tinggi ya? Tiang listrik!"

"Hahaha. Pendek!"

Jongin menutup kenop pintu secara perlahan.

Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa benci membagi Kyungsoo.


TBC


Hi!

Makasih buat semua yang udah review di chapter sebelumnya jadi aku bisa update cepet(?) lah ya.

Maafkan typonya.

Maafkan ceritanya yang mungkin kesana kemari.

Yang masih merasa fanfic ini menarik dan diteruskan boleh review! :)

well, see ya next chap ya!

-xoxo

ps: kenapa jadi ada yang req chansoo, hahaha.