vormund
author : firetomylight
main cast : kim jongin / do kyungsoo
/ park chanyeol / sehun / luhan

YAOI CONTENT, dont like please leave ^^


Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya,

Jongin merasa benci membagi Kyungsoo.


Chapter 4


Jongin menutup kenop pintu itu perlahan, menarik nafasnya dalam. Hatinya terasa penuh. Ini aneh.

Perasaan yang seperti ini, Jongin belum pernah merasakan sebelumnya.

Ada amarah, rasa kesal, kecewa, dan entah mengapa hatinya merasa sedih, sangat sedih.

Tapi kenapa?

Bukankah seharusnya Ia merasa bahagia, kebahagiaan Kyungsoo adalah kebahagiaan untuknya, bahkan apapun itu tak akan ia biarkan untuk merusaknya, walaupun hanya sedikit, tidak akan pernah.

Lalu bagaimana jika sesuatu yang bisa merusak kebahagiaan dan senyuman Kyungsoo itu adalah dirinya?

Apa yang harus ia lakukan?

"Jongin? " sapaan lembut Bibi Jung membawa Jongin kembali dari segala pemikirannya yang mungkin sedikit lagi akan membuat otaknya meledak. Terlalu penuh.

"Ah Bibi, apa baru saja Bibi mengatakan sesuatu padaku? "

"Kau masih memikirkan tentang Kyungsoo? " tanyanya seraya memposisikan diri, berhadapan dengan Jongin di meja makan mungil itu.

Jongin tidak menjawab, hanya mengangguk.

"Percayalah, dia akan baik - baik saja"

"Entahlah" jawab jongin sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Karena yang terasa hingga saat ini, selama Jongin masih ada didekatnya, kebahagiaan itu semakin terasa jauh dan semakin menjauh.


Sehun menekan tombol dial di smartphone nya sekali lagi.

Ini kali kelima, Ia masih berusaha untuk menghubungi Jongin. Dan untuk kali kelima pula Jongin tidak mengangkat panggilannya, mailbox.

"Lihatlah Lu, dia masih tidak bisa dihubungi. " desah Sehun

"Coba lagi Sehun, ayolah. "

"Baiklah - baiklah, tapi kurangi rasa khawatirmu itu Ok."

Luhan tidak bisa menenangkan perasaannya sejak semalam. Sejak Ia ditinggalkan begitu saja oleh Jongin lebih tepatnya.

Luhan tidak melakukan sesuatu yang salah, ia yakin.

Apa ia berbicara sesuatu yang menyinggung perasaan Jongin?

Mereka bahkan belum sempat memulai untuk membuka suatu pembicaraan. Tapi kenapa Jongin pergi hanya karena ia ingin meminjam ponselnya?

Bukankan itu sesuatu yang berlebihan?

"Sehun"

"Eum? "

"Apa Jongin selalu bersikap seperti itu? Apa dia tidak pernah tertarik pada orang lain? "

Sehun hanya diam sesaat, tidak menjawab.

"Hei Kim Jongin! Lihat ini! Bagaimana? Dia tipeku" Sehun memamerkan sebuah foto di aplikasi Instagramnya dengan penuh semangat.

Jongin terlalu sibuk dengan ponselnya hanya untuk meladeni Sehun.

"Yaaa! " Teriakan keras Jongin tepat ketika Sehun merebut ponselnya.

"Seriously Kim! Aku tidak berbicara dengan tembok! "

"Ya, aku mendengarkanmu bodoh, kembalikan ponselku."

"Sebentar, aku hanya ingin tau, apa yang kau lihat. "

Sehun terperanga menatap layar ponsel Jongin, tidak ada yang spesial sesungguhnya, demi apapun, itu hanya profil instagram seseorang yang Sehun tau bernama Kyungsoo, Kim Kyungsoo, adik Jongin.

"Kau gila? Kau terobsesi pada adikmu Kim! " Jongin merebut paksa ponsel miliknya.

"Ayolah Jongin hentikan brother complex mu itu, lihat ini, kau akan menyukainya" kali kedua Sehun menyodorkan smartphonenya.

"Hmm"

"Kau hanya tidak tau Sehun, Kyungsoo itu yang terindah" jawab jongin pelan seraya tersenyum tulus.

Sehun tau tidak ada kebohongan disana, dan sejak saat itu ia menyerah pada kenyataan yang selalu ia coba pungkiri kebenarannya. Bahwa Jongin menyayangi Kyungsoo, tidak, Jongin mencintainya.

"Aku tidak tau Lu, tapi Aku yakin, kau bisa membuat kesempatan. "

"A-apa maksudmu? "

"Jika kau sungguh menyukai Jongin, Kau harus membuat ruang kosong dihatinya, dimemorinya. Karena jika kau berharap ruang kosong itu ada dengan sendirinya, itu tidak akan pernah terjadi. "


Sehun memutuskan untuk mengunjungi rumah Jongin hari ini setelah kesal karena Jongin untuk pertama kalinya bolos latihan dance mereka.

"Damn, perlombaannya minggu depan Kim! " sungut Sehun pelan seraya mengetuk pintu dihadapannya.

"Ya? "

"Sehun hyung? " Kyungsoo menyambut kedatangan Sehun dengan senyuman, senyum yang murni, senyum yang hangat, dan membuat siapapun yang melihatnya merasa harus menjaga dan melindungi senyum itu.

Sehun mengerti, sangat mengerti kenapa Jongin begitu sulit terlepas dari perasaan rumitnya terhadap adiknya sendiri.

Kyungsoo memang berbeda. Dia terlihat begitu murni. Wajahnya begitu polos dan menenangkan, suaranya terasa begitu damai.

Ah, rasanya Sehun iri sekali pada Jongin yang bisa mendengarkan Kyungsoo bernyanyi kapanpun Ia mau.

"Hanya ada jus jeruk hyung, aku belum berbelanja, Jongin hyung melarangku keluar rumah. "

Kyungsoo menaruh segelas jus jeruk dingin di atas meja ruang tamu.

"Jongin melarangmu keluar rumah? "

Kyungsoo mengangguk.

"Aku berkata padanya aku sudah baik - baik saja, tapi dia selalu tidak percaya. Dia bilang aku masih butuh istirahat, hee" tersenyum miris.

"Kau sakit? " Hampir saja Sehun meledak karena ia pikir Jongin sudah sangat gila melarang Kyungsoo keluar rumah karena over protect .

"Aku baik - baik saja hyung, sekarang sudah tidak sakit lagi. Bisakah kau bantu aku meyakinkan Jongin hyung?"

"Hmm itu sepertinya sulit Kyungsoo ah, kau tau kan, Jongin itu terlalu seenaknya sendiri. Lalu dimana dia sekarang? "

"Dia pergi tadi pagi, Hyung bilang ada kelas dan lanjut berlatih."

'Dia bahkan bolos latihan hari ini, apa yang sedang memenuhi pikiran mu jongin?'

To : Kim Jong

Ya! dimana kau! Beraninya kau membolos ketika final tepat minggu depan.

Katakan, aku akan menghampirimu.

From : Kim Jong

Sehun, bagaimana jika aku pergi, apakah Kyungsoo tidak akan tersakiti?

Aku ditempatmu, tempat ketika kau ingin sendiri.

Sehun menghela nafas membaca balasan pesan dari Jongin.

Perasaannya benar.

Waktu itu tiba, waktu yang sudah ia berusaha peringatkan pada Jongin berulang kali.

"Kyungsoo, terima kasih jus jeruknya, sepertinya Hyung harus pergi sekarang. "

"Tapi, kau belum mengatakan mengapa kau berkunjung Hyung" jawab Kyungsoo bingung.

"Aku hanya ingin melihat keadaanmu Kyungsoo, aku akan bilang pada Jongin kau sudah baik - baik saja ok" Sehun tersenyum seraya mengacak surai Kyungsoo lembut.

"Sehun hyung, tolong jaga Jongin hyung, aku percaya padamu."

"Tentu. " Sehun meninggalkan satu senyuman hangat untuk Kyungsoo dan berlari menuju tempat Jongin berada. Saat ini Jongin, perasaannya sedang sekarat.

Seoul, 12 April 2000

Hujan yang turun hari ini tidak seperti biasanya. Deras dan dingin.

Jalanan pinggiran kota seoul lengang, siapa yang akan nekat pergi keluar diwaktu malam hujan, kebanyakan akan menghabiskan waktu didalam ruang keluarga, mengahangatkan suhu dengan berbagi cerita satu sama lain. Atau menghabiskan waktu dengan selimut, menggulung hingga pagi hari.

Kim Donghyun menahan kedua matanya yang terasa berat, sesekali ia melirik versi mini dirinya yang berada di kursi belakang mobil, Jongin tertidur pulas.

Soyou, istrinya baru saja terlelap di kursi sebelahnya. Ia menyerah, lelah karena seharian menemani Jongin berkeliling kebun binatang, energi Jongin sungguh seperti ayahnya, tidak pernah habis.

"Deras sekali. "

Perjalanan pulang masih sekitar 10km lagi, Jalanan yang lengang dan hujan yang semakin deras membuat Donghyun merasa sangat mengantuk.

Dia harus segera sampai rumah.

Dengan jarak pandang yang terbatas ia nekat menginjak gas mobil nya lebih dalam.

Sedan hitam itu melaju kencang ditengah hujan yang tanpa ia tau sebuah kendaraan dari arah berlawanan juga melakukan hal yang sama.

Dan kecelakaan parah pada malam hujan tidak dapat dielakan.

Sebuah sedan hitam dan mobil berwarna putih susu bertabrakan kencang, head to head.

Donghyun memutar stirnya kearah kanan, mobil lawannya terbalik diposisinya. Tidak jauh dari itu sedan hitam itu menabrak pembatas jalanan.

Kepalanya terbentur keras, berdarah segar.

Keadaannya setengah sadar ketika ia mendengar Jongin memanggil dirinya dan Soyou.

"Appa.. Omma.." suaranya terdengar sangat menyakitkan.

"Jongin. " rintihnya pelan.

"Appa, sakit, aku tidak bisa bernafas. "

Air matanya mengalir.

Ayah macam apa yang tidak bisa melakukan sesuatu ketika anaknya sendiri merintih kesakitan.

"Bantuan akan datang Jongin, kau harus bertahan hingga saat itu tiba. "

Jung hana tidak memperdulikan penampilannya malam itu. Ia terengah - engah mendatangi pusat informasi.

"Sa-saya keluarga dari ko-korban kecelakaan yang, yang baru saja terjadi ."

Pakaiannya basah, menerobos hujan.

"Keluarga Kim, atau Keluarga Do? " tanya perawat yang berjaga malam itu.

"Kim. Kim Donghyun. Soyou. dan Jongin. "

Perawat itu menghela nafas dalam.

"A-ada apa? Bagaimana keadaan keluarga Kim? " Hana mulai merasa panik, kedua matanya mulai digenangi air mata.

"Begini, belum ada perwakilan keluarga Do yang datang, sedangkan suami istri keduanya meninggal dan hanya anaknya yang terkecil yang masih hidup. Tidak ada data keluarga atau orang terdekat yang bisa dihubungi"

"Aku tidak perduli! Dimana aku bisa bertemu Soyou! " teriak Hana putus asa.

"Kondisi pasien Soyou belum stabil, mari saya antarkan. "

Jung hana memasuki sebuah ruangan, tidak ada Donghyun atau Jongin disana. Soyou dikelilingi alat - alat canggih kedokteran, kondisinya setengah tersadar.

"Kau harus bertahan, demi Jongin. Ia butuh ibunya. " Hana menangis memengangi tangan lemah Soyou. "Anak itu, anak kecil yang aku lihat ketika mereka menolong Jongin. " Soyou bernafas secara perlahan. "Kau hanya harus memikirkan Jongin, Soyou."

"Titipkan dia pada Donghyun, untuk menjaga dia dan Jongin kami." Nafasnya semakin terdengar melemah.

"Ta-tapi dia siapa?"

"Aku mendengar ibunya, ibunya, memanggilnya Kyungsoo. "

Hana terdiam menahan tangisnya.

"Tolong Kyungsoo kami.."

" Tolong Kyungsoo kami.. Begitu membuatku teringat Jongin. "

"Hana, Aku ingin bertemu Donghyun."

"Aku disini, sayang. " entah sejak kapan ia berada disana. Donghyun mendekati istrinya yang terlihat sangat lemah.

Genangan air mata yang tertahan, bawah bibirnya digigit kuat - kuat.

Soyou tersenyum, Membalas genggaman tangan Donghyun.

"Terimakasih, sudah menjadi yang terbaik untukku. Maafkan aku."

"Kau harus bertahan sayang, Apa kau tidak ingin melihat Jongin kita, eum? "

"Aku ingin, tapi aku tidak bisa. "

"Aku, akan pergi."

"Sebentar lagi. " lanjutnya lemah.

"Tidak, kau tidak boleh pergi. "

"Jaga, jaga Jongin kita, dan Kyungsoo. " nafas Soyou terputus begitu menyelesaikan kalimatnya. Erangan tangis memenuhi ruangan itu.

Donghyun menjerit meneriakan nama Soyou berulang kali, memanggil istri tercintanya yang tidak akan pernah lembali.

Pada malam itu, Dua anak kecil yang terbaring disana, mereka kehilangan ibu mereka.

***** TBC ***

Halo semua! Ah maafkan aku tiba - tiba membangunkan FF ini dari mati suri nya, FF " Between " akan menyusul menjemput kebangkitannya juga ya .

Update terakhir September 2014 dan sekarang April 2017.

Maaf karena terlalu banyak hal yang terjadi selama 3 tahun ini, sampai exo sisa 9 biji doing astaga -_-

Anyway aku gaktau deh masih ada yang nunggu FF ini atau ngga, hihi. Is there any? :D