PET

KookTae

(JungkookxTaehyung)

Warning! Typo bertebaran, dll

Happy reading~

.

.

"Apa ini?" V mengangkat sebuah benda asing yang baru saja diberikan Jungkook padanya.

"Itu choker," jawab Jungkook singkat. Bukannya mengerti, V justru memiringkan kepala bingung. Jungkook membuang napas sebelum menjelaskan lebih rinci. "Choker adalah sesuatu yang kau pakai di leher. Fungsinya tidak beda jauh dengan kalung, tapi choker melekat di leher ketika dipakai sedangkan kalung tidak."

V merespon dengan suara 'oh' panjang sambil mengangguk-angguk. "Kenapa kau memberi ini padaku?"

"Hadiah," Jungkook menjawab sambil tersenyum. "Hari ini tanggal 1, yang berarti umurmu telah bertambah satu bulan."

Alis V terangkat sebelah. "Tak seperti biasa?" ia bertanya, heran. Ekspresinya berubah curiga. "Biasanya kau hanya mengabariku, tidak memberiku sesuatu seperti ini. Apa ada alasan lain?"

Jungkook tak langsung membalas. Ia justru tersenyum, lebar sekali. V merasa mulut Jungkook tak lama lagi akan robek kalau terus tersenyum selebar itu.

"Sebenarnya aku tidak tahu pasti kapan kau dilahirkan, tapi-" Jungkook memegang kedua pundak V secara tiba-tiba. Sang empu tentu terlonjak kaget. Kemudian Jungkook mengarahkan tatapannya tepat pada manik biru pemuda perwujudan kucing tersebut dan meneruskan, "-sesuai perhitunganku, hari ini kau tepat berusia lima belas bulan. Kau tahu apa artinya itu?"

"Apa?"

"Usiamu setara dengan manusia yang berusia delapan belas tahun," senyum Jungkook belum pudar. "Hari ini adalah ulang tahunku juga. Kini aku juga berusia delapan belas tahun, sama sepertimu."

V terkejut. Manik birunya melebar, membuatnya terlihat lucu. "Benarkah?" mendapat anggukan, V langsung antusias. "Astaga! Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?"

"Jika aku memberitahumu, apa kau bisa memberiku kejutan?" Jungkook balik bertanya sambil tertawa pelan. "Memangnya kau mengerti tentang tanggal? Kau saja tahu pertambahan umurmu karena aku selalu memperingatinya setiap pergantian bulan."

Mendengarnya, V mengembungkan pipi. "Bagaimana bisa aku mengerti tanpa diajari lebih dulu? Kau kira aku pernah menjadi manusia sebelumnya?" balasnya, yang tanpa sadar membuat Jungkook terdiam. Tidak menyadari perubahan ekspresi Jungkook, V meneruskan, "Kalau aku tidak mengerti, tentu itu salahmu karena tidak mengajariku!"

Mendapat kesadarannya kembali, Jungkook tertawa agak keras. Bertujuan agar V tidak menyadari bahwa Jungkook sempat termenung beberapa detik. "Iya, iya, aku yang salah," ia mengalah. V terlihat puas mendengarnya. "Mengenai hadiahmu, tadinya aku ingin memberi kalung kucing biasa. Tapi, mengingat kau yang memiliki dua wujud, aku tidak mau ambil resiko dengan membiarkanmu tercekik ketika tiba-tiba berubah."

"Tapi jika aku memakainya sekarang, benda ini takkan melekat pada leherku saat aku berubah ke wujud kucing."

"Lebih baik dibanding tercekik, bukan?"

Benar juga. V mengangguk menyetujui. Selanjutnya Jungkook meminta izin untuk memasangkan choker pada leher V. Begitu dipersilahkan, Jungkook cepat-cepat melekatkan benda pemberiannya tersebut pada leher si pemuda perwujudan kucing.

"Kau tahu?" Jungkook meraih bandul pada choker V. "Ini bukan choker biasa. Di sini tertulis namamu, dan di baliknya tertulis namaku," jelasnya.

V menunduk, berusaha melihat choker di lehernya sendiri namun tak bisa. "Bila aku tersesat, orang yang menemukanku bisa mengantarkanku kepadamu?" ia mencoba menerka tujuan Jungkook. Jungkook yang menggeleng membuatnya mengeryit. "Lalu?"

"Untuk menandakan bahwa kau hanya milikku seorang."

"Maksudmu?"

"Kau bertanya?" Jungkook meraih tangan V dan menariknya, membawa V ke dalam dekapan. V kaget bukan main. Seketika jantungnya berdetak tak karuan. "Kau hanya milikku. Persetan dengan orang yang membuangmu dulu. Sekarang kau bersamaku. Aku akan terus menjagamu hingga akhir hayatku."

Kalimat yang dilontarkan Jungkook terdengar aneh di telinga V. Ia merasa ada sesuatu yang tersirat di dalamnya.

Orang yang membuang V? Akhir hayat? Apa itu artinya kematian?

V berusaha mengingat sesuatu yang tampak penting. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan ingatannya yang hilang. Bisa jadi hal ini merupakan kunci untuk menemukan jawaban terkait dirinya sendiri.

"...dar... V, sadar! Kau baik-baik saja?"

Mengerjap, V mendapati Jungkook yang memandangnya khawatir. "Aku baik-baik saja," jawab V.

"Yang benar?" Jungkook memicing. Pandangannya belum berubah. "Apa aku memasang choker terlalu kencang? Kau tercekik?"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Sungguh," V menampakkan cengirannya. "Ah iya, hari ini kau ulang tahun juga. Aku harus memberimu hadiah."

Jungkook menggeleng. "Tidak perlu. Kau yang selalu menemaniku saja sudah cukup."

V menatap Jungkook, keberatan atas apa yang dikatakan majikannya. "Tidak bisa begitu," protesnya. "Kau selalu memberi segalanya untukku. Setidaknya aku harus membalas pemberianmu walau hanya sekali."

"Tapi hanya kau yang aku butuhkan."

"Jungkook, aku serius."

"Aku juga," Jungkook menatap manik V lagi. Kali ini lebih intens. "Lagipula, kau tidak bisa memberi apapun untukku. Aku takkan mengizinkanmu keluar dari kamar ini."

"Kenapa?"

"Kau akan tersesat."

"Kau meremehkanku?"

"Aku takut kehilanganmu."

Jawaban Jungkook singkat, namun membuat V hilang kata-kata. Lagi, matanya melebar ketika Jungkook kembali menariknya ke dalam pelukan.

"Aku memang tidak tahu asalmu," kata Jungkook, hampir berbisik. Hembusan napasnya membuat bulu kuduk V berdiri. Jarak antara mulut Jungkook dan leher V hanya terpaut kurang dari lima centi. "Tetapi aku tak peduli lagi. Masa lalumu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah kehadiranmu di sini untuk menemaniku. Kau mengubah hidupku. Aku sangat menyayangimu. Kumohon jangan tinggalkan aku."

V terhenyak. Tangannya terangkat guna memeluk balik Jungkook. Merasa ada yang berbeda dengan perasaannya saat ini. Sejak Jungkook memperlakukannya tak seperti biasa, jantungnya seakan lupa berdetak secara normal.

Udara di sekelilingnya seakan memudar perlahan-lahan, membuatnya sesak dan tersiksa. Otaknya bekerja amat keras untuk menemukan arti dari apa yang ia rasakan kini. Perasaan kali ini sangat berbeda dengan apa yang biasa ia curahkan pada Jungkook. Seperti bukan rasa sayang seekor hewan pada majikannya.

"Jungkook…?"

"Ya?"

"Apa kau… menyukaiku? Maksudku, menyukai dalam arti kata lain. Tidak seperti majikan kepada hewan peliharannya."

Ya, sepertinya V menginginkan Jungkook untuk jadi lebih dari sekedar majikan.

.
(PET)
.

Jungkook berseru sekuat tenaga, memanggil ibunya yang tengah berada di dapur. Ia menuruni tangga dengan gusar, tidak peduli kalau bisa celaka karena itu. Ibunya yang mendengar pun segera menghentikan kegiatannya sejenak, yang mana tengah memasak untuk makan malam nanti.

"Aduh, Jungkook. Kenapa teriak-teriak? Ada apa, sayang?"

"V kemana?" tanya Jungkook to the point, nadanya kedengaran panik.

"V? Bukankah ia tidak pernah keluar dari kamarmu?"

Mata Jungkook membulat. Jantungnya seperti berhenti sepersekian detik. Seketika tubuhnya lemas. Tanpa berkata, ia segera berlari keluar. Ia tak mengindahkan seruan ibunya. Yang ia pikirkan hanyalah mencari dan menemukan V cepatnya.

Tak sampai lima menit, Jungkook sudah berada di lokasi yang cukup jauh dari rumah. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Tak bisa memprediksikan apapun mengenai tempat yang mungkin didatangi V karena selama ini Jungkook terus mengurung kucingnya tersebut di dalam kamar.

"V! Kau di mana? Jawab aku, V!"

Mungkin suara Jungkook mengganggu orang sekitar. Siapa peduli. Ia terus berteriak sekencang yang ia bisa, mencari hingga ke pelosok sempit, berharap segera menemukan V.

Nihil. Usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Tak ada tanda-tanda keberadaan V di manapun.

Satu jam berlalu tanpa hasil yang berarti. Jungkook menghentikan langkahnya. Napasnya tersenggal. Berlari tanpa jeda selama lebih dari satu jam tentu menguras tenaga. Ingin rasanya berteriak, mengacak rambut di tengah jalan, untuk mengekspresikan betapa frustasinya ia saat ini.

Pemuda dengan rambut sekelam malam itu berpikir keras, berusaha mengingat akan hal terakhir yang ia lakukan sebelum V menghilang dari kamarnya.

Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah?

Apakah V marah kepadanya?

Apakah V merasa terkekang?

Rasanya Jungkook ingin mencari tempat yang bagus untuk gantung diri sekarang juga. Kehilangan V membuatnya hampir gila, padahal belum terhitung satu hari sejak V tak ditemukan di kamarnya

.
(PET)
.

Jimin yang saat itu sedang berjalan menuju rumahnya tiba-tiba dikejutkan oleh keberadaan seekor kucing yang tergeletak di pinggir jalan dengan kedua kaki belakang yang berlumuran darah. Kucing tersebut tampak tak berdaya dan sangat membutuhkan pertolongan seseorang, namun tak ada satupun dari orang-orang di sana yang ingin menolongnya.

Benar, tidak ada, kecuali Jimin.

"Astaga, astaga, astaga, ini tidak baik," Jimin bergumam panik. Tak mempedulikan tanggapan orang sekitar, ia mendekati kucing tersebut dan segera berjongkok. Sayangnya, ia tak tahu harus melakukan apa. Jujur saja, seorang Park Jimin tidak pernah mengurus seekor kucing yang terluka parah. Jangankan itu, memelihara hewan pun tidak pernah.

Semula, Jimin tak memiliki keberanian untuk sekedar menyentuh sang kucing. Tetapi begitu mendapati sebuah benda yang tergantung di leher kucing tersebut, Jimin mengumpulkan keberaniannya dan meraih benda itu takut-takut.

"Tunggu, apa ini choker?" Jimin mengeryit bingung. Kurang yakin dengan apa yang tengah dipegangnya. "Tapi kenapa seekor kucing memakai choker? Dapat dari mana? Apa seeorang mempunyai fetish pada kucing dan nekat memasangkan benda ini?"

Ayolah Jim, kucing di hadapanmu sedang sekarat dan kau justru mempertanyakan hal yang amat tidak penting?

Sang kucing yang berusaha menggerakkan kakinya menyadarkan Jimin dari lamunan. "Tunggu, jangan bergerak! A-aku akan-" Jimin terhenti ketika matanya menangkap suatu tulisan (huruf, lebih tepatnya) pada bandul yang tergantung di choker. Cepat-cepat ia membalik bandul tersebut, siapa tahu bisa menemukan petunjuk untuk menolong kucing malang itu.

Matanya melebar begitu membaca nama pemilik yang tertulis di sana.

"J-jadi kucing ini…" tatapan Jimin terpaku pada kucing yang kini mengarahkan mata padanya. Mata biru itu seakan tengah menyampaikan sesuatu padanya, yang entah apa. Tak ingin menunda, Jimin mengesampingkan segala kemungkinan-kemungkinan buruk dan mencoba mengangkat sang kucing hati-hati. Walau ia ingin mengantarkan sang kucing pada pemiliknya sesegera mungkin, namun tetap, Jimin tak ingin salah tindakan dan membuat kucing itu semakin terluka.

"Aku akan membawamu pada Jungkook secepat mungkin. Bertahanlah, kumohon bertahanlah," Jimin tak lagi berpikir untuk menunggu kendaraan guna mencapai rumah Jungkook. Ia memilih berlari walau sedang merasa lelah. Sore ini ia baru menyelesaikan kursusnya, dan seharusnya sudah berada di rumah untuk melepas lelahnya. Namun semua itu tak lagi ia pikirkan karena keselamatan kucing milik Jungkook adalah prioritasnya sekarang.

"Kau akan baik-baik saja, percayalah padaku," bisik Jimin berkali-kali. Tangan juga bajunya kini telah basah oleh darah kucing itu, membuatnya semakin panik. Ia berharap apa yang ia katakan dapat dipertanggung jawabkan olehnya. Ia berharap kucing dalam dekapannya dapat segera ditangani dan mendapat pengobatan yang tepat. Ia berharap Jungkook tidak larut dalam keterkejutannya dan dapat memberi penanganan secepatnya sehingga kucingnya dapat diselamatkan.

Tanpa sadar, Jimin menangis. Air matanya mengalir begitu saja tanpa ia kehendaki. Hatinya seperti tengah diremat sangat kencang. Ia merasa sesuatu yang sama pernah terjadi sebelumnya. Seperti déjà vu.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

HAI HAI HAIII ada yang nunggu update ini? Maaf banget baru sempet update aaaa kemarin ujian banyak banget seriusan, aku ga kepikir ini sama sekali. Tadinya juga mau dibikin twoshot aja tapi banyak yang aku tambahin jadi nyambung lagi ke chap 3 hehe. Terima kasih review dan kesabarannyaa. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Thanks for reading

Mind to review?