-Opening -

CIAO, MINNA-SAN! Saku kembali dengan FF Ghost no Maou! *jeng jeng*

Sudah berapa hari ya ga update? 1 hari, 2 hari, 3 hari,... ah ribet! 1 bulan! #plakk

Hmm, typo di chapter 2 mungkin belum saya ditemukan. Semoga saja memang tidak ada XD

Okay, sesuai janji Saku, di chap 3 ini Saku akan menguak semua 'SECRET' yang ada di chapter sebelumnya.. :D Tapi sebelum memulai membaca FF Chapter 3 ini, bales review dulu ya! XD

-Reply Review –

To akanemori

Ceritanya sama kah? XD Hahahaha mojokan pake wig ungu? Apakah itu Gakupo? #plakk abaikan.. Typo mungkin belum saya temukan :D

Sankyu..! Ini sudah update chap 3 nya XD Review lagi ya!

To Kuro Rei-chan

Kasian? Biarin aja! #plak jangan kasian sama orang yang lagi ulang tahun XD (walaupun sebenernya ultah Rin masih lama sih XD) Ya Saku sedang mencoba sekali-kali nge-bully Rin hehe..

Sudah tau kan? XD 2 kepribadian? Itu akan dikuak di chapter ini X3.. Sekian dan Terima kasih.. :D

To Yami Nova

Hantu atau Astral ya? X3 Judul hanya mengibaratkan alur dari cerita ff ini.. Jadi jangan terlalu mementingkan judul ya.. XD Tapi tenang saja, di chap 3 ini bakal dijelasin semua 'misteri' yang ada di chap-chap sebelumnya :D

Rin : Kue nya abis buat di sumpelin T.T

Len : Ke gue lagi disumpelinnya..!

Arigatou sudah kembali mereview~ Review lagi.. XD

To Tsukiyomi Ayaka

Aya-chaan! XD Len temennya tuyul kok X3 #dilemparsendal

Arigatou sudah sempat membaca ff Saku, Aya-chan! XD review lagii~

To Kagamine Laras

Len : Aku sudah bilang kan? IM JUST JOKING! NOT REAL!

Rin : ga usah teriak juga kale! *tutuptelinga*

Len : sendirinya teriak -_-

Chapter 3 sudah update! XD Mohon dibacaa yaa, Laras-chan! Arigatou sudah mereview lagi X3

To Kurone ryu

Anda guest 93-san? X3 Ceritanya lucu ya? XD Terimakasih hahahahah :D

Menurut Ryu-san, CCTV itu hitam-putih? Hmmm.. coba saya tanya. Kenapa saat Rin memfoto Len, bukan Len yang ada disituu, melainkan seorang berambut hitam? XD

Hayo coba di tebaak XD.. Sambil mikir, silahkan dibaca chapter 3 nya yaa XD Sankyu!

To Kumo Usagi (Chap 1 dan 2)

Hai Kumo-chan X3 Terimakasih mau mereview ff Sakuuu XD

Mungkin Saku memang kebiasaan memakai tanda kurung terlalu banyak, memang itulah kekurangan Saku T.T Mohon maaf jika menggangu pemandangan..(?)

Len : Ngomong gue SHOTA lagi, gue sumpeel pake sendal!*bawasendal*

Saku : *sweatdrop*

Chap 3 telah update, mari dibacaa... #plakk Sankyu~!

.

.

.

Terima kasih atas review nya minna-san, terima kasih juga kepada pembaca pasif yang mungkin tidak bisa me-review.. but keep reading yeah!

Enjoy~

.

.

.

.

Di Mansion Rin

Suasana itu penuh dengan tawa, termasuk Len juga yang seharusnya ia tak merasakan sebahagia itu. Tapi kebahagian itu tak berlangsung lama, ternyata Gumi, salah satu maid yang ada di Mansion itu menyadari keberadaan Len.

"Hey kamu, bukankah kau yang tadi pagi memberi paket untuk Rin-chan?!"

.

.

.

.

.

.

Ghost no Maou

Vocaloid © Crypton Future Media

Adventure, Fantasy, Humour, Romance and Supernatural

Warning! : OOC, Fast Timeline, Typo(s), Humor Garing, Abal-abalan, Kalimat Komunikatif.

Don't Like, Don't Read!

.

.

Chapter 3 : Ancient Mystery of Ghost

.

.

.

Suasana langsung menghening seketika. Tapi tidak untuk Len, ia merasa biasa aja.

"Iya, itu memang saya. Ada apa ya?"

Maid itu langsung mengambil sebuah kamera, lalu dipotretkan tepat di wajah Len.

Ckrek!

Lalu dari layar kamera itu terdapat sebuah foto. Disitu...

.

.

..Hanya ada seorang lelaki berambut kuning bermata biru..

"Hmm? Mengapa Anda tiba-tiba memotret saya?" tanya Len dengan bahasa bakunya.

Gumi langsung bermuka pucat, "Saya lihat di layar CCTV, hanya ada pria berambut hitam..A-Apa maksudnya ini?!" teriak Gumi frustasi. "G-Gumi-san.. sebaiknya istirahat dulu saja..." kata Rin.

Kemudian Gumi langsung diajak ke kamar oleh Haku. Mukanya masih terlihat panik. Rin hanya menghela nafas.

"Shall we continue the party?"

.

.

.

.

.

.

Malam sudah larut, jam sudah menunjukan pukul 12.15 malam. Sedangkan Len dan Rin masih terjaga dari tidurnya. Di lain ruangan tentunya.

Rin's side

'Duh, insomnia lagi..' batin Rin. Ia beranjak dari kasurnya lalu duduk di sofa empuknya. "Nonton tv aja kali ya?" Lalu ia mengambil remote tv dan menyalakannya. Kebetulan siaran saat itu adalah film hantu.

"AAAAAAAARRRRGHHHH!"

Len's Side

Jam segini, ia masih mondar-mandir di kamar yang sudah disediakan sambil bergumam, 'Buset, lukisan jaman abad keberapa nih?! Wih, di kamar ada tv nya lagi, kurang mampu apa lagi nih keluarga..?'

Lalu ia mencoba berbaring di kasurnya. "Empuk sih..." ia memejamkan matanya. Belum lama kemudian ia bangun dan duduk. "...tapi ga bisa tidurrr!" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan sebelumnya.

Kemudian ia turun dari kasurnya. 'Kira-kira Rin udah tidur belum ya?' batin Len dalam hati,

"AAAAAAAAAAARRRGHHH!"

"Suara Rin!"

Sekejap Len langsung keluar dari kamar lalu membuka dengan keras pintu kamar Rin. "ARE YOU OKAY, RIN!?"

Rin hanya menutup mukanya dengan bantal. Len masih agak panik, setelah dilihatnya tv menyala, ia langsung tau apa yang terjadi sebenernya. Kemudian Len menghampiri Rin dan mengganti channel tv.

"Makanya tidur. Malah nonton tv lagi malem-malem.. Udah tau banyak film horor.." ujar Len. Rin mengangkat wajahnya yang ketakutan dari bantal. "Kau sendiri ga tidur tuh!" ucapnya tsundere.

Len hanya menggaruk kepalanya, "A-Abisnya ga bisa tidur... insomnia kayaknya.."

Setelah itu Rin berdiri lalu menghampiri pintu. Len mengikuti dari belakang. "Aku juga insomnia, mau bikin teh?" tanya Rin.

"Terserah.."


Sluurp!

"Aaah! Enak...Ini namanya apa?" tanya Len. "HAH? GATAU NAMANYA?!" tanya Rin muncrat.

Len geleng-geleng dengan polosnya. Rin menepuk jidatnya.

"Namanya Green Tea..! Masa gatau sih? Emang di Amerika ga ada?"

Kedua kalinya Len menggelengkan kepalanya. "Gatau ada atau nggak, yang pasti belum pernah aku liat yang kayak beginian.." kata Len sambil menunjuk teh yang habis digelaknya.

'Dan sebenernya aku bukan dari Amerika...' batin Len.

Rin meletakkan cangkir tehnya di meja depan dirinya duduk. Len yang di sampingnya juga ikut meletakkan cangkir teh. Rin merebahkan tubuhnya di sofa itu sambil menghela nafas berat.

"Len.."

"Hmm?"

"Sebenernya kau itu 'apa' sih?

Len terdiam. Rin merogoh kantong sakunya mencari hp. Dikeluarkannya hp itu lalu membuka galeri, tempat dimana foto 'Len' entah itu Len atau bukan, saat di atap sekolah tadi siang.

"Kau ingin tau sebenarnya?" yang ditanya malah balik nanya.

Rin menunjukan hpnya itu di depan Len. "Ya. Setelah aku tau ini siapa."

Len menghela nafas. Mereka berdua rupanya sudah tua ya, menghela nafas melulu.

"Yakin?"

Rin mengangguk. "Yakin."

"Beneran?"

"Beneran."

"Ciyus?" tanya Len terkekeh. Rin mulai merasa tidak enak, tapi ia mengangguk saja.

"I-Iya, Ciyus."

Len menarik nafas, dengan seringaian di wajahnya, Len berkata,

"Miapah?"

Rin diem. Males nanggepin ke-alay-an nya Len.

"Sekali lagi lu ngealay, gue ambil semua 'pisang' lu!"

'WATDEPAK!? TAU DARIMANA GUE SUKA PISANG!?' batin Len dengan muka terbelalak. "T-Tau darimana klo gue suka pisang?"

Rin melipat kedua tangannya di dadanya, "Emangnya gue ga tau pas perayaan ultah tadi? Lu ngambil pisang terus kan?"

Len mengangguk lemah. "I-Iya deh iya..." Nyerah.

"Jadi..." Len menoleh. "...lanjutkan jawabanmu." kata Rin sambil meminum sisa tehnya.

Len terdiam sejenak. Lalu mulai menjawab, "Bukan manusia."

BRUSSH!

"Bukan manusia?! Maksudmu alien?!" cerocos Rin tak sabar.

Ingin sekali Len membekep mulut Rin, tapi untuk menjaga imagenya ia tidak jadi.

"Bukan alien juga kali..." jawab Len sambil menutup matanya. Lalu ia melanjutkan kata-katanya tadi. "He's my other self, but one personality."

Rin jengkel. "Len..."

"Apa?" tanya Len datar.

"NGOMONGNYA GA USAH PAKE BAHASA INGGRIS BISA?" teriak Rin sambil menjewer telinga Len. "I-IYAA IYA BISA BISA BISA! LEPASIN DUL- ADUUH! ITTEEE! RIIINN"

"Sekali lagi ngomong bahasa inggris buat 'gaya-gaya' an, JANGAN HARAP PISANG MU MASIH ADA!"

JDGER!

"A-Ampun, ojou-s-sama..."

"JANGAN PANGGIL AKU OJOU-SAMA!" teriak Rin lagi sambil menarik narik hidung Len. Buat apa ya? Biar mancung kali :D

"I-IYAA RIN-CHAN DAH RIN –CHAAN! LEPASIN DLU! UGH GA...BISA...NAPAS!" ronta Len. Akhirnya Rin melepaskan tarikan mautnya. Sedangkan Len langsung menghirup udara sebanyak mungkin untuk mencegah terjadinya kekurangan-oksigen-karena-ditarik-hidungnya-sampai -maut-menjeputnya.

"Busettt!" Len memegang hidungnya yang merah. "Jewer udah dilepas, malah idung yang ditarik! Keluar mulut buaya, masuk kandang harimau ini namanya!" ujar Len frustasi.

"Huh!" kesal Rin. Len hanya meringis kesakitan. "Btw..tenaga lu kuat juga ya? Suka minum Extra Joss ya?" tanya Len. Masih berani ngelawak lagi.

"Dulu gue ikut Karate.. dan, gue GA PERNAH minum begituan.."

"Kenapa?" tanya Len polos. Rin mengambil ancang-ancang buat nonjok, Len langsung menggelengkan kepala sambil melambaikan tangan, "Maaf, Maaf, Damai damai.."

Rin yang masih kesal bangkit lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air putih, lalu ia balik ke sofanya dengan muka yang agak tenang. Lalu ia duduk disofa itu dan berkata, "Jelasin yang tadi.."

Len menoleh, "Artinya?" dan dijawab oleh anggukan Rin.

Len merubah posisi duduknya, biar 'PW' bahasa gaulnya. Kemudian ia mulai bercerita.

"Yang difoto itu diriku yang lain, tapi satu kepribadian.." jelas Len. Rin memiringkan kepalanya. "Maksud?"

"Yaa jadi wujud ku yang sekarang ini wujud manusiaku, yang berambut hitam itu wujud non human or e−"

Tangan Rin sudah siap untuk membogem, Len langsung menjeda perkataannya.

"I-Iya iya ga ngomong bahasa inggris lagi kok. Iya iya...keceplosan!" jawab Len dengan tangan berbentuk 'V'. Keringat dingin keluar dari pelipis Len.

"Okeh, Lanjut!"

"..Yang berambut hitam itu wujud non manusia atau bisa dibilang wujud gaib.."

"Gaib?" tanya Rin bingung. Len mengangguk.

"Kok gak keliatan?" dengan polos nya Rin bertanya. Len pengen gubrak tapi ga jadi, ga keren soalnya.

"B*tch please...Yang namanya 'gaib' itu ya gak keliatan laaahhh..!" ucap Len frustasi. Akhirnya Len hanya menutup mukanya dengan 1 tangan.

"Oooh iya ya? Lupa" cengir Rin. Len cuma sweatdrop.

"Jadi...sebenernya kau itu apa sih?" ulang Rin. Len mengelus-ngelus dagunya, "Ya bukan manusia..."

"Terus?"

"Nabrak dong!" jawab Len ngakak. Rin diem.

"Terus kau itu apa? Kalo bukan manusia, apa dong?"

"Hantu~" jawab Len dengan muka horor.

"Ga usah bercanda, toh gue juga ga takut, wleee!" tegas Rin sambil memeletkan lidahnya.

Sementara itu Len berdiri, "Kalo beneran gimana?" kata Len dengan muka serius.

Rin terperanjat, masa sih dia bisa serius? "Jadi..b-beneran?" tanya Rin takut-takut.

"..."

"..."

"Nggak, just kidding!" jawab Len ceria lagi. Rin mengambil ancang-ancang buat nendang. "E-Eh? Iya beneran kok beneran!" jawab Len cepat.

"Seriusan?"

Len mengangguk. "Jangan takut ya..Muka gue ga seserem lu kok.." canda Len.

BUAGHH!

Len beneran ditendang Rin sampe martabak telur, eh salah! Babak belur XD #bedajauh! "Aduh! Itte..." ringis Len sambil mengelus kepalanya yang terbentur.

Rin masih jengkel, saking jengkelnya ia menginjak kaki Len yang masih selonjor itu. "ITTAIIII ITAIII ITAII! I-IYAA RIN CANTIK KOK! MANIS KOK! GAK SEREEM GA SEREEEMM...!" teriak Len sambil memegang kakinya yang diinjak.

Rin yang mendengar itu mukanya langsung memerah, entah mantra apa yang dipakai Len membuat Rin blushing tingkat dewa.

Dan bodohnya, Len malah khawatir dan langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Rin. "Lu demam?"

BLUSSH!

Muka Rin yang merah lebih merah lagi dibandingkan sebelumnya−

−dan Len malah makin khawatir..

'BakaLen, lu pegang malah tambah merah muka gue...' batin Rin.

"Buset! Ke Bekasii, Badan lu panas banget siii!" sempat sempatnya Len ber'pantun' gaje di depan Rin yang lagi blushing berat. "Sini gue gendong!"

Sebelum Len mengangkat badan Rin, Rin menolak dengan 'tsundere'. "G-Gak usah! Badan gue berat! Gue bisa sendiri.." kata Rin dengan nada agak kasar. Len pasrah.

"Ya udah sana tidur, besok kita jalan-jalan.." ujar Len sambil masuk kedalam kamarnya. "Oyasumi.." ucapnya pelan, berharap Rin tidak mendengar. Tetapi ia tidak menyadari bahwa sekecil apapun suaranya, Rin tetap mendengar.

'Oyasumi Len..' batin Rin sambil masuk kedalam kamarnya dan tidur.


Matahari pagi menyambut, sinarnya menembus gorden kamar yang ditempati oleh Len. Sinar itu lah yang membuatnya menggeser posisi tidurnya.

"Ugh.."

Badannya yang asalnya menghadap gorden itu berpindah arah membelakangi matahari. Singkatnya ia males bangun. Tapi sepertinya ia tidak beruntung, memang Tuhan menginginkan Len untuk bangun.

KRIIIINNGGG!

"HUAAA!" Len langsung terlonjak bangun dari kasurnya. Dilirik jam weker di samping tempat ia tidur tadi. 'Weker sialan..!'

Kemudian ia mematikan jam itu lalu mengacak-acak rambutnya yang pada dasarnya sudah acak-acakan. Menurunkan kakinya lalu berjalan menuju sofa. Mengambil hpnya yang berwarna kuning touchscreen, memencet beberapa nomor yang panjang sekali (yang biasanya hanya 12 nomor,, ini sampai 30 nomor). Entah ia menghafalnya atau tidak, intinya ia ingin menelpon seseorang.

Tut...Tut...Tut...

"Len-samaa!"

Len sweatdrop seketika. "Oy, tak perlu berteriak seperti itu. Telinga ku sakit nih.."

"Gomennasai! Hamba terlalu kangen pada Anda, yang mulia Len-sama.."

Len menghela nafas. "Sudah kubilang tak usah terlalu formal, dan apa itu 'yang mulia'? Tidak enak didengar.."

"Baiklah, jika Anda yang meminta..Bagaimana kabar Anda?"

"Baik, arigato sudah mengkhawatirkanku..Bagaimana denganmu, Akaito? Dan keadaan disana?"

"Sama baiknya! Terimakasih, Len-sama! Keadaan disini berjalan dengan normal, tidak ada pemberontakan.. Damai dan tentram seperti biasanya.."

"Syukurlah kalau begitu.." ujar Len dengan lega.

"Tapi Len-sama.."

"Hmm?"

"..musuh Anda yang selama ini sering melecehkan Anda, sekarang ikut turun ke bumi. Memungkinkan datang untuk mencari perkara dengan Anda.."

"APAA?!" teriak Len terkejut. "K-Kapan dia berangkat? Kenapa kau tidak menelponku?"

"..kami disini juga baru tahu, tim laboratorium baru menyadari bahwa potion yang bisa merubah bentuk 'setan' menjadi 'manusia' itu hilang.. Dan kemungkinan besar pelaku yang mencuri adalah musuh Anda.."

"Kusso..." decih Len. "Baiklah, terimakasih infonya, Akaito.."

"Kembali..Len-sama! Senang Anda baik-baik saja.."

"Kalau begitu ku tutup telponnya..Bye!" Klik! Len langsung mematikan telpon lalu menaruh hpnya di meja di depannya.

Tok Tok Tok

"Masuk.." jawab Len. Kemudian masuklah seorang maid berambut abu-abu di kuncir satu ke samping. "Ohayou Len-sama, nama saya Haku. Saya minta ijin untuk membukakan gorden kamar Anda.." kata Haku sambil sedikit membungkukan badannya.

"O-Oh ya s-silahkan.." ucap Len terbata-bata. Baru kali ini cewek masuk ke kamar yang ditidurinya.

Kemudian Haku membukakan gorden, "Ini handuk dan baju gantinya, sarapan sudah disiapkan di bawah.. Mohon cepat turun.." kata Haku sambil tersenyum.

"Ha'i"


Setelah mandi, Len segera memakai pakaian yang telah disediakan. Kaos biru laut bergambar lumba-lumba didepannya dan jaket tanpa lengan berwarna kuning kejinggaan dipakainya, dengan bawahan jeans biru tua tentunya.

Setelah berpakaian, Len segera turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Sesampainya di ruang makan, ia melihat Rin sudah berpenampilan rapi dengan dress oranye selutut dengan lagging hitam dan pita yang biasa di gunakan nya tidak terlihat di atas kepalanya. Rambutnya sepanjang bawah bahu itu digerai dan memakai 4 jepit dibagian poninya.

1 kata yang ada di pikiran Len,

"..Bijalang.."

Hening sesaat.

"Apa kau bilang? Bijalang?" tanya Rin sweatdrop.

Kemudian Len berjalan menuju tempat duduk di depan Rin dan duduk disitu, "Iya, Bijalang.." jawab Len santai. Di depannya ada susu putih, sandwich, nasi goreng, omelet, dan makanan lainnya.

"Apaan tuh, Bijalang?"

Len menyeruput susunya seteguk demi seteguk. "BIdadari JAtuh dari LANGit.."

Mendengar itu, Rin menampar pipinya sendiri. "Bidadari macam apa aku ini? Gak bisa terbang, jatuh kan jadinya...!" protes Rin mencak-mencak. Len jawdrop.

"Makan sendiri atau gue suapin?" tanya Len canda. "Hoek!"

"Ogah, disuapin ama lu.." desis Rin. Lalu ia memakan sandwichnya dengan gigitan besar. "Lhaghipua inhi khan otii, mnaa bisha dichuaain" kata Rin dengan mulut penuh.

"Apakah kau sudah berganti bahasa? Bisa tolong ajarin?"

Bletak!

Sebuah sendok sukses mendarat tepat di atas kepala Len, intinya sendok itu dilempar Rin. Rin menelan sandwichnya, "Baka, tadi gue ngomong 'Lagipula ini kan roti, mana bisa disuapin'.."

Len tertawa hambar, "Berarti tadinya mau kan disuapin?"

"Tau 'minder' gak sih, Len?" sindir Rin. Lalu dengan cepat ia menghabiskan rotinya dan meneguk susu yang sudah disiapkan.

"Nggak"

.

.

Bersabarlah wahai Rin, karena sang Author telah membuat Len di fanfic ini berperilaku senista-nistanya sebagaimana orang nista yang berbuat nista (?)

"Len.." panggil Rin. Len menoleh. "Apa?"

"Kenapa sih setiap makan, mesti terakhirnya makan pisang?" tanya Rin. Len menggaruk kepalanya. "Kebiasaan.." jawab Len. "Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu tiap abis makan, selalu makan jeruk?"

Rin tersentak, buah kesukaannya dilibat-libatkan. "Kebiasaan.." jawab Rin santai.

"Copas!"

"Bodo..Wlee" Rin memeletkan lidahnya. Lalu Len duduk di sebelah Rin. Mereka sedang berada di ruang tv.

"Kita harus biasa membiasakan kebiasaan yang dibiasakan oleh orang yang sudah biasa membiasakan kebiasaan itu" kata Len gaje.

Rin sweatdrop. "Ngomong apaan sih?"

Len menggeleng, "Nggak, baca sms dari temen.." dan langsung ditanggapi anggukan dari Rin. "Mau pergi ga?" tanya Len.

"Kemana?"

Len tampak berpikir sebentar, lalu menjawab. "Anterin gue keliling kota, kan gue baru pindah kesini.." kata Len. Rin menghela nafas. "Ya udah.. tapi jangan jauh-jauh ya?"

Kemudian Len mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dan berjalan ke garasi. Mobilnya mengkilap, sepertinya baru dicuci oleh butler Rin. "So cool..! Awesome!"

"Mobilmu gak barubah sama sekali, Len.." desah Rin pasrah. Secepatnya Len langsung menaiki mobilnya dan mengeluarkannya dari garasi, disusul Rin masuk ke jok depan sebelah Len duduk. Mobio berplat nomor K 463 NE itu mulai berjalan keluar dari mansion.

.

.

Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Tak ada satu pun yang berniat menulai pembicaraan. Len yang tak tahan itu pun menyalakan radio FM. Memilih FM 102 yang merupakan FM langganannya. Rin yang melihat itu hanya diam dengan muka 'no comment'.

"Selamat pagi semuanya.. Apa kabar yang disana? Baik baik saja kan?"

"Baik.." jawab Len. Rin terkikik pelan, Len menoleh dengan wajah ngapain-lu-ketawa

"Jam-jam segini Anda sedang sarapan ya rupanya..? Selamat menikmati sarapannya ya..."

"Udah sarapan mas, sejam yang lalu.." sahut Len kembali. Rin memandangnya dengan muka lu-waras-atau-nggak-sih

"Anda duduk dengan tenang sambil meminum kopi yang hangat-hangat.. Atau biasanya teh manis untuk pendamping sarapan Anda..Nikmat sekali.."

"Nggak, orang gue minum susu tadi.." ujar Len jengkel. "Ah mas, makanya ga usah sok tau deh.." lanjut Len lagi. Rin udah mulai mengira dengan pikiran kayaknya-beneran-ga-waras-ni-orang-sebelah.

"Oy Len, perhatiin jalan tuh.. Jangan ngeladenin FM aja... Ntar kalo lampu merah, ada yang nyebrang, terus ketabrak, terus orangnya jatuh, terus mobil kita berhenti, terus kita keluar, orangnya minta duit gimanaa?" tanya Rin yang tidak bisa dibilang pertanyaan lagi (karena kependekan).

Len sweatdrop.

"Iya deh iya.. terus kita mau kemana?" tanya Len balik. Rin berpikir sejenak, "Gimana kalo kita ke VoLaIce Skate?"

"Tempat apaan tuh?

"Tempat main ice skatting, biasanya hari sabtu gini rame kok..!" kata Rin dengan ceria. Len sih iya iya aja, ARS..Asal Rin Senang.. XD

"Tunjukin jalannya..Gatau jalan nih.." lirih Len. Rin mengangguk-ngangguk saja.

"Abis ini ada perempatan belok ke kanan." kata Rin. Kemudian Len melajukan kecepatan mobilnya. Tampa sadar, dari arah kiri juga mobil berkecepatan yang sama.

.

.

"LEN AWAS!"

Len membulatkan matanya lalu segera memutar kemudi mobil dan menimbulkan suara decitan ban mobil. Disusul suara klakson mobil dari depan.

TIN! TIIIIINNN!

BRUAKKK!

.

.

"Terlambat.."

.

.

.

.

To Be Continued..


GYAHAHAHHAHAHA! Saku balik dengan selamat sampai tujuan! (?)

Gimana? Gimana? Jelek ya? Pendek ya? Ya udah..! (?)

Maaf ya Chapter 3 nya pendeek bangeet! Gomennn (_ _)v

Oh iya, secret Len di chapter ini sudah mulai terungkap kan? Memang belum sepenuhnya sih,, tapi tunggu chapter selanjutnya! Apa yang terjadi dengan Len dan Rin? Bagaimana nasib mobil K 463 NE ? #plakk Berikut preview untuk next chapter!

Preview Chapter 4 :

The Weird Accident

"Rin! Rin! Jangan MATI!"

.

"Apa yang terjadi sebenarnya?"

.

"Mobil itu...tidak ada pengemudinya!"

.

"Maafkan aku, Len.."

.

"Kumohon..Jangan pergi.."

.

.

5 kata penutup dari Saku X3

MIND TO REVIEW THIS CHAPTER?

Shirota Sakuya