Author's Territorial
All : Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, minna~!
Akai : Yo! Ore wa koko ni iru yo!
Eve : Ba-Ka-i…
Akai : Whatever you want shorty~
Eve : *Turn on the taser*
Akai : O-oi! Don't turn on tha-GYAAAAA! *die*
Eve : ハッピーリーヂィン (Happy Reading)…
Summary :
Setiap musim punya caranya tersendiri untuk menarik. Begitu juga untuk menyatukan dua hati. Dimana setiap musimnya memiliki cerita tersendiri.
Disclaimer : Vocaloid milik YAMAHA.
Rated : T.
Genre : Romance, school life, drama, humor, friendship.
Warning : Normal POV only, typo(s), GaJe, abal, permusim beda pair, non mainstream pair, dll~
This Chapter Pair : GumiyaxGumi.
Kuro 'Kaito' Neko's proudly present : 四季 (Shiki).
Don't like? Don't read!
2 of 4
Season 2 : 夏 (Natsu), 先生 (Sensei).
Pria berkacamata itu memijit pelipisnya pelan. Dihadapannya terdapat seorang gadis dengan surai hijau lumut. Kacamata menatap bandana dengan tatapan mengintimidasi. Menanggapi tatapan tajam, pemilik iris hijau muda menundukkan wajah.
"Nakajima-san, saya tidak percaya Anda mendapatkan nilai 50 di mata pelajaran saya…"
Ucapan dingin nan ketus itu semakin menambah kesan mengerikan pria itu. Walaupun tampan dan masih muda, sikap dinginnya membuatnya menjadi salah satu guru yang ditakuti. Salah satunya untuk gadis berusia 18 tahun ini. Sialnya, ia mendapatkan nilai dibawah rata-rata untuk mata pelajaran Biologi, mata pelajaran yang diajar oleh guru berusia 22 tahun itu.
"Anda tau… saya tidak punya pilihan lain selain memberikan Anda jam pelajaran tambahan sepulang sekolah… Walaupun merepotkan, saya tidak ingin ada murid saya yang tidak lulus. Jadi Anda belajar dengan giat, mengerti?"
Anggukkan merupakan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tadi. Kalau tidak, sang guru tidak segan-segan menscores muridnya. Kacamata mempersilahkan sang gadis keluar dari ruangannya. Dengan sopan, bandana membungkuk 90 derajat, sebelum melewati pintu berwarna coklat.
"Hah… kenapa aku harus sial…?"
Oh… 'Sial'? Kita lihat berapa lama kata itu tengiang di pikiranmu. Karena kalian berdua sudah masuk kedalam scenario musim panas.
Sekarang… Seorang gadis remaja beranjak dewasa sedang berada di kelas berwarna oranye dengan seorang pria berkacamata. Rambut hijau mereka tampak serasi di bawah warna oranye lembut itu. Gadis pemilik mahkota hijau itu tampak sibuk di antara kumpulan kertas-kertas dengan tulisan di dalamnya. Sedangkan kacamata hanya mengawasi gadis itu, masih dengan tatapan mengintimidasi.
"Nakajima Megumi-san, Anda sebaiknya menyelesaikannya dengan cepat."
Sang gadis melirik jam tangannya. Benda berwarna hijau itu menunjukkan pukul 5 sore. Dengan lebih cepat, ia kembali mengerjakan soal yang diberikan guru muda tersebut. Sang guru menghela nafas pelan, mengeluarkan CO2 dari tubuhnya. Jari telunjuknya terarah, membetulkan benda yang membantu pengelihatannya yang kurang baik.
Suara gesekan pena dengan kertas putih terdengar jelas di ruangan kelas 12 A. Hari sudah semakin larut, namun murid berbandana itu belum mampu menyelesaikan tugas Biologi yang diberikan untuknya. Sang guru menutup bukunya, ia menatap jarum waktu yang menunjukkan pukul 5.30. Helaan nafas kembali lolos. Walaupun ia bertanggung jawab atas nilai muridnya, namun ia cukup tahu diri untuk membiarkan muridnya pulang sendiri malam-malam. Ditambah lagi muridnya perempuan dan wajahnya cukup manis.
"Nakajika-san, Anda bisa kumpulkan tugas Anda sekarang…"
Bola mata hijau muda membulat. Ditatapapnya sepasang mata yang terhalang lensa pengelihatan itu.
"Ke-kenapa? Sa-saya belum selesai, Megpoid-sensei…"
Helaan nafas kembali lolos dari bibir tipis. Dari balik lensa, ia dapat melihat ekspresi kecewa muridnya itu. Namun, apa mau dikata, ia tidak bisa membahayakan muridnya dengan membiarkannya pulang larut.
"Hari sudah larut. Jalanan bisa berbahaya setelah petang datang… Anda bisa melanjutkannya besok."
Gadis berbandana mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum menyerahkan kertas tipis kepada sang guru. Pria 22 tahun itu menerima kertas berwarna putih itu. Kemudian mempersilahkan anak asuhnya kembali ke rumahnya. Sang gadis pun langsung menggendong tasnya, lalu membungkuk 90 derajat sebelum pergi. Namun, tangan kokoh mencengkram lengan mungilnya. Ditolehkannya manik permata hijau, sehingga bertemu dengan emerald dingin. Entah kenapa, permata zambrud itu membuatnya merasa… aneh… Seakan seluruh kekuatannya diserap oleh iris hijau mempesona itu.
"Saya akan mengantar Anda sampai rumah…"
Mata sang siswi terbelalak. Dia ingin merespon, namun malah pertanyaan yang mengudara.
"Ha-Hai'?"
Sang guru tidak memperdulikan siswinya yang kebingungan, ia langsung meraih tas laptopnya, dan berjalan mendahului siswinya. Bandana masih terdiam pada tempatnya, mencoba mencerna kata-kata sang mahkota hijau.
"Nakajima-san, jangan melamun. Ayo."
Mahkota berbandana terlonjak, menatap kacamata yang berdiri sedikit jauh dari tempatnya. Dengan langkah sedikit tergesa, ia berlari kecil menyusul pria yang 4 tahun lebih tua. Sang guru hanya menatap datar, kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Mereka hanya berjalan dalam diam. Angin malam di musim panas tidak terlalu terasa. Hanya udara panas yang terasa di kulit mereka. Ditambah dengan keramaian jalan yang dilalui. Suasana itu mendadak berubah ketika mereka melewati jalan taman yang lumayan sepi. Walaupun dari situ, kita bisa melihat sungai yang mengalir dengan tenang. Suara teratur air yang bagaikan berbaris dengan rapi.
Tak lama, sang guru dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Penasaran, sang siswi memcoba mengintip penyebab sang pria menghentikan langkah. Permata hijau muda menemukan jawabannya. 4 pria yang terlihat seperti preman berjalan ke arah mereka. Gemetaran, itulah yang dirasakan pemilik bandana itu. Belum lagi, 4 orang tadi memasang senyum sinis.
Tak butuh waktu lama, 4 orang itu sudah mengepung 2 manusia berbeda gender itu. Sang guru melindungi muridnya dengan posisi kuda-kuda.
"Wag… wah… Kita dapat mangsa bagus hari ini…"
Salah satu mereka mencoba mendekati sosok sang gadis, membuat tubuh mungil itu gemetar dengan hebat. Belum sempat tangan itu menyentuh kulit sang gadis, sosok itu sudah jatuh, lebih tepatnya dijatuhkan oleh sang guru. 3 teman sosok itu langsung menyerang secara bersamaan. Namun, dengan gesit sang guru menghindari mereka dengan mundur. Kontan saja mereka bertiga saling bertubrukkan. Namun, orang pertama yang dijatuhkan sudah kembali menyerang dengan belati di tangan kanannya. Bilah pisau itu berhasil menggores dahi sang guru, meninggalkan jejak merah kental. Pemilik zambrud mendecih kesal. Dengan cepat ia berlari ke arah sosok berbelati itu. Pukulan telak tepat terkena wajah, perut, dan alat vitalnya. Namun, naas lensa kanan kacamata itu terkena pukulan, sehingga lensa itu retak.
Setelah menumbangkan sosok bertubuh besar itu, ia menatap 3 sisanya dengan tatapan tajam. Kontan saja, mereka langsung melarikan diri. Sang gadis langsung mendekati pria 22 tahun tersebut. Ekspresi terkejut terpampang jelas tatkala melihat dahi dengan bekas sayatan itu. Belum lagi, tinta merah anyir mengalir sampai mata.
"Se-sensei tidak apa-apa? Da-dahi sensei terluka!?"
Sang guru menggeleng pelan.
"Luka seperti ini tidak apa-apa."
"Tidak bisa begitu! Sensei terluka karena melindungi saya!"
"Itu sudah kewaji-"
"Sensei, rumah saya sudah dekat. Kita obati sensei di sana!"
Tanpa mendengarkan kalimat yang akan mengudara, gadis itu lansung menarik pria 22 tahun itu ke rumahnya. Sesampainya di bangunan bercat oranye, bandana langsung membuka pintu kayu bercat putih. Kemudian, mendudukkan sang guru di sofa ruang tamu. Kemudian, gadis 18 tahun itu mengambil kotak P3K. Dia mengeluarkan alkohol untuk membersihkan luka itu, kemudian menutupnya dengan sebuah perban, dikarenakan luka itu lumayan besar.
Tangan-tangan mungil itu bergerak secara perlahan, melilitkan perban berwarna putih dengan hati-hati. Sang guru hanya terdiam. Diam-diam ia merasa nyaman dengan sentuhan lembut pada dahinya. Sejujurnya, belum pernah ada yang begitu perhatian padanya.
Iris sewarna zambrud menjelajah. Memparhatikan seisi bangunan bercat oranye itu. Kosong. Seperti hanya ada satu orang yang tinggal di situ.
"Nakajima-san, dimana orang tua Anda?"
Gadis itu masih serius melilitkan perban di kepala sang guru muda. Namun, ia tetap menyimak pertanyaan yang baru saja mengudara.
"Mereka sedang pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan…"
Setelah jawaban terlontar, mereka berdua sama-sama diam. Saling terlarut dengan kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya, sang siswi memecahkan keheningan dengan berteriak gembira, karena sudah berhasil mengobati sang guru.
Kemudian, gadis itu pun mengantarkan sang guru sampai di depan gerbang rumahnya. Sebelum pergi, sang guru membungkuk, mengucapkan terima kasih. Dan… tersenyum… Ya… tersenyum… Hal yang jarang dilakukan oleh guru muda itu. Namun, ia tersenyum… ini hal baru… Dan senyuman itu… hangat… Seakan menenangkan hati sang gadis remaja tersebut.
Siang yang cukup terik. Hari Minggu… Hari yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Namun, tidak untuk dua orang berbeda gender ini. Mereka sedang memasuki sebuah tempat dengan berbagai kacamata terpampang rapi. Sang guru berjalan menuju tempat di mana ia bisa membetulkan lensa pengeliatannya.
"Baiklah, sambil menunggu kacamataku dibetulkan, bagaimana kalau kita teruskan soal kemarin?"
"Eh? Tapi, sensei tidak apa-apa tanpa kacamata?"
"Bukan masalah besar."
Tepat setelah mengatakan hal itu, pemuda beriris emerald menabrak sebuah tiang.
"…"
"…"
"Baiklah… kita tunggu saja di sini…"
Tak terasa, sudah beberapa hari berlalu sejak pertama kali guru dan murid itu bersama. Sekarang, gadis berusia 18 tahun itu sedang berada di atap sekolah.
"Rupanya Anda di sini, Nakajima-san…"
Mahkota hijau lumut menoleh, mendapati sepasang zambrud yang terhalang lensa pengelihatan memperhatikannya dengan datar… namun lembut di saat yang sama.
"Selamat. Anda mendapat nilai tertinggi di pelajaran Biologi. Kalau seperti ini, Anda bisa meneruskan kuliah di kedokteran."
Gadis itu tersenyum. Permata hijau muda memperhatikan emerald yang berjalan ke arahnya, kemudian sama-sama bersandar pada dinding putih.
"Sensei…"
"Hmm…?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Semuanya…"
"Jelaskan."
Sang gadis menghirup udara, memasukan oksigen ke dalam paru-parunya…
"Sudah mengajariku selama ini. Melindungiku. Menjadi orang yang peduli padaku, dan… Menjadi cinta pertamaku…"
Emerald terkejut, menatap pemilik mahkota hijau dengan tidak percaya. Mahkota hijau buru-buru mengoyangkan tangannya di depan dada.
"Se-sensei tidak perlu menjawab pernyataan cintaku! Lagipula murid dilarang berpacaran dengan guru, bukan…"
"Naka-"
"Tapi, saat aku lulus nanti… Bersiaplah… Sensei…"
Sang pria terdiam. Menyadari apa yang baru dikatakannya, bandana menjadi salah tingkah. Wajah putihnya berubah merah, sangat kontras dengan mahkota hijaunya.
"A-anu… Se-sensei… i-itu-"
Perkataan sang gadis terhenti. Dengan sebuah bisikan halus.
"Kalau begitu… tetaplah menyukaiku sampai lulus nanti, Nakajima-san."
おわり
…
つづく
…
夏
Author's Territorial
All : Bales reviews~
Kuro Rei-chan :
Eve : Yep. Perempuan itu memang Gakuko. Ini sudah dilanjutkan. Terima kasih reviewnya~
Ical de Muffin :
Akai : Sorry. Jawaban Anda salah. Tapi, terima kasih reviewnya~ Ini sudah di update!
Kumo Usagi :
Eve : Terima kasih pujiannya. Ini sudah di update~
Eve : GaJe banget…
Akai : *mati lagi*
Eve : Next chapter wa Aki. R&R aja 'deh. Minna-san.
R&R?
V
V
V
V
