Author's Territorial
Kaito : Yo… Minna-san… *nada super dark*
Koyuki : Ka-Kaito-kun… Me-menyeramkan… *merinding*
Kaito : Lagi badmood…
Koyuki : A-anoo, enjoy 'ya, minna-san-tachi~ ^^"
Summary :
Setiap musim punya caranya tersendiri untuk menarik. Begitu juga untuk menyatukan dua hati. Dimana setiap musimnya memiliki cerita tersendiri.
Disclaimer : Vocaloid milik YAMAHA.
Rated : T.
Genre : Romance, school life, drama, humor, friendship.
Warning : Normal POV only, typo(s), GaJe, abal, permusim beda pair, non mainstream pair, dll~
This Chapter Pair : MikuoxKaiko.
Kuro 'Kaito' Neko's proudly present : 四季 (Shiki).
Don't Like? Don't Read!
4 of 4
Season 4 : 冬 (Fuyu), 雪 (Yuki).
Pemuda itu memutar bola matanya. Menggosokkan kedua telapak tangannya menghasilkan kehangatan di antara kedua kulit yang bergesekkan. Asap putih terlihat tatkala nafas hangat meluncur dari bibir yang sedikit bergetar. Pemuda belasan tahun itu terlihat sedikit menahan dingin yang seolah menusuk kulitnya itu. Salahkan gadis yang menyuruhnya untuk 'pulang bersama'. Yah, walaupun memang rumah mereka searah, namun menunggu di musim dingin seperti ini berarti sudah bersiap-siap terkena flu.
Pemilik iris teal menghela nafas pendek, mengeluarkan karbon dioksida hangat yang terlihat seperti awan berwarna putih. Matanya bergerak, mencari sesosok gadis sebayanya dengan syal biru laut yang menjadi ciri khasnya. Namun, pelimik syal tosca justru mendapati sosok berambut merah muda dan gadis bersurai ungu panjang yang sedang berjalan bersama. Mereka sepasang kekasih. Tentu. Terlihat dari kedua tangan mereka yang saling bertautan. Ditambah lagi, sang pemilik surai merah muda adalah sahabat dekatnya.
Mengabaikan pemandangan yg ada di hadapannya, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, ia justru melihat kakak kelasnya yang sedang berjalan bersama guru biologinya. Rambut mereka yang sama-sama berwarna hijau lumut itu sangat mudah dikenali. Dia menghela nafas pendek. Kembali, wajah itu berpaling. Dan kali ini, dia melihat juniornya di club basket sedang berjalan bersama seorang gadis berambut panjang. Tampaknya, mereka baru saja jadian. Terlihat dari sang gadis yang masih agak canggung. Namun, yang sedikit membuat pemilik iris teal itu heran, kenapa juniornya yang super dingin dan populer menyukai gadis sederhana seperti itu? Entahlah. Dia juga tak membutuhkan jawaban.
'Kenapa 'sih banyak sekali pasangan baru di tahun ini?'
Ya… dia sendiri tidak mengerti. Pertama sahabatnya, lalu guru yang dekat dengannya, kemudian junior yang cukup ia kenal. Sekarang, ia merasa tertinggal. Yah… bukannya dia ingin pacaran atau apa… Ok… harus diakui bahwa adik dari sang 'DIVA' sekolah itu tengah menaruh hati pada seseorang. Siapa? Jika kalian tanya siapa, ia akan menjawab kalau ia menyukai gadis aneh, polos, dan bodoh… Tapi… itu artinya dia lebih bodoh karena menyukai gadis itu 'kan?
"Mi-kun!"
Teal menoleh, mendapati sosok yang lebih pendek darinya tengah berlari kecil ke arahnya. Syal dan surai pendek sebahu berwarna biru laut itu sangat ia kenali. Sosok itu berhenti di depannya. Sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal karena berlari di cuaca dingin.
"Kau membuatku menunggu 15 menit."
Sang gadis terkekeh pelan. Sang pemuda hanya tersenyum tipis. Yah, gadis di hadapannya memang seperti itu. Mereka berdua pun berjalan menuju stasiun, di mana kereta yang akan mereka naiki untuk pulang datang. Sembari berjalan, salju berwarna putih menemani tiap langkah mereka. Pemilik iris teal itu menggigil kedinginan. Berbeda dengan gadis di sebelahnya yang menikmati perjalanan sembari menyentuh benda berwarna putih yang berjatuhan itu.
"Huft… dingin…"
Pemilik surai tosca berguman di antara perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu. Gumanan sang pemuda tertangkap oleh indra pendengaran sang gadis. Ia menengok, menatap pemuda yang sedang berjalan di sampingnya.
"Mi-kun? Kau kedinginan ya?"
"Menurutmu?"
Sang gadis menggaruk belakang kepalanya sembari terkekeh kecil.
"Hehe… Maaf. Kau tahu 'kan? Sensei itu kalau memberi tugas sangat kejam."
Teal memilih untuk terus berjalan, sembari mendengarkan tiap kata yang meluncur dari bibir pemilik syal biru. Andai saja dia tahu, bahwa dirinya yang menjabat sebagai Ketua OSIS sama sekali belum tidur sejak 2 hari yang lalu. Dikarenakan oleh urusan OSIS.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun sampai di stasiun. Mereka pun memutuskan untuk menunggu di bangku yang tersedia di situ. Tosca bersyukur dalam hati karena akhirnya dia bisa masuk ke ruangan yang lumayan hangat. Sialnya, kereta yang mereka biasa tumpangi sudah lewat dari tadi. Alhasil, mereka harus menunggu kerete selanjutnya.
"Nee… Mi-kun…?"
"Hmm?"
"Tak terasa 'ya sebentar lagi sudah tahun baru. Dan itu artinya tahun ajaran baru."
"Hmm…"
Ya, tak dapat dipungkiri, waktu seakan berlalu dengan cepat. Padahal… serasa baru kemarin dia masuk ke dalam SMA. Waktu berjalan cepat. Namun, entah kenapa waktu terasa lambat sekarang. Seiring dengan jatuhnya kepala berhelaian tosca di pundak mungil gadis itu. Sang gadis terkejut. Tentu saja. Entah pemanas yang terlalu panas atau apa, namun wajah putih bak porselen itu kini tengah sewarna dengan cabai kesukaan kakak laki-lakinya.
"Mi-Mi-kun…?"
Jari telunjuk menempel pada bibir merah muda itu. Seolah-olah sebuah perintah bagi sang gadis untuk diam.
"Biarkan aku istirahat sebentar… Aku belum cukup istirahat beberapa hari ini."
Sang gadis benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Iris sewarna laut masih menatap pemuda yang tengah tertidur pada bahunya sekarang ini.
"Psst… lihat… Laki-laki itu tidur di bahu gadis itu."
"Pasangan yang manis."
Kira-kira seperti itulah komentar yang didengar oleh sang gadis. Wajahnya berubah merah. Kemudian, kembali memandang pemuda yang masih tertidur pada bahunya. Perlahan, senyuman manis mulai terukir di wajah cantiknya. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan rangkaian kata.
"Oyasumi… Mi-kun…"
Sang gadis melihat jam tangannya. Sudah sekitar setengah jam ia menunggu, namun kereta masih belum datang. Helaan nafas lolos dari bibir mungil itu. Tak lama, sebuah kereta sampai di stasiun itu. Dengan segera, ia membangunkan pemuda yang masih terlelap di bahunya.
"Mi-kun, bangun…"
Erangan pelan terdengar, kemudian sang pemuda menggosok-gosok matanya. Dia menatap gadis itu. Pemilik iris biru laut tersenyum, jari telunjuknya mengarah pada kereta yang baru saja sampai. Teal menguap, kemudian bangkit dari posisi duduknya. Ia melangkah ke dalam kereta, diikuti oleh pemilik surai biru laut.
Keduanya sama-sama duduk di kereta. Keduanya sama-sama diam. Tak lama, kereta itu bergerak. Sang gadis menatap jendela, di mana salju yang berjatuhan terlihat dengan jelas. Ujung bibirnya tertarik. Dia tersenyum. Tentu saja sang pemuda melihat senyum itu. Senyum yang selalu dia anggap sebagai senyum bodoh. Senyum yang ia anggap kekanakan. Juga senyum yang membuat dia… terpesona. Pesona yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Begitu menarik, sampai-sampai membuat pemilik iris tosca berpikir, sihir apa yang terdapat pada senyuman itu? Entahlah… dia pun tidak mengerti. Entah sejak kapan ketertarikan itu dimulai.
"Nee… Mi-kun…"
"Hmm?"
Lagi… menjawab dengan nada datar yang dibuat-buat. Walaupun tahu, dirinya sangat bahagia kala suara itu memanggil namanya.
"Akhir-akhir ini… Aku merasa ditinggalkan…"
Teal menaikkan alisnya. Tanda bahwa ia tidak mengerti. Tanpa menoleh pun, ia tahu bahwa pemuda di sampingnya tidak mengerti. Gerbong kereta itu kosong. Hanya ada dua remaja berbeda gender di dalam sana. Sang pemuda masih menatap sang gadis, meminta penjelasan. Pemilik iris biru laut menghela nafas pelan.
"Entahlah… Akhir-akhir ini Kuko-chan sering sekali menghabiskan waktu dengan Megurine-kun, Lenka-chan juga sama saja. Gumi-senpai aku takut menganggu dia."
"Saudaramu?"
Mengingat gadis di sampingnya yang mempunyai saudara yang sangat banyak, bukankah ia masih bisa menghabiskan waktu bersama saudaranya?
"He-em… Mereka sering sibuk sendiri, terkadang hanya Niga-chan yang mau diajak bersenang-senang."
"Lalu…? Maumu?"
Sang gadis menggaruk pipinya. Entah hanya mata pemilik syal tosca, atau pipi putih itu terlihat agak memerah? Dilihat dari gerak-geriknya, gadis itu terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Err… yah… setidaknya aku tidak ingin merasa tersisih itu saja…"
"Oh…"
Keheningan kembali mengisi celah kosong di antara mereka. Tak terasa, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka berdua pun turun dari kereta itu. Sembari melangkahkan kaki di atas jalanan bersalju, keduanya sama-sama diam. Hampir hanya suara desiran angin yang terdengar.
"Hei… Kaiko…"
"Hai'?"
"Bagaimana jika aku yang menemanimu…?"
Kedua sama-sama terdiam. Wajah keduanya sama-sama merah. Darah mereka seolah berdesir dengan cepat. Teal meruntuki dirinya sendiri. Kenapa juga dia harus berkata seperti itu? Sedangkan sang gadis tentu tahu maksud sang pemuda… ini… Pernyataan cinta… Jantungnya serasa melompat keluar. Kalau saja ada sihir mehilang atau sihir memasukkan kepala ke tanah, biru laut pasti sudah melakukannya.
Sang pemuda menarik nafas dan mengeluarkannya lagi. Mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Sang gadis mencoba untuk menutupi rasa malunya.
"Kaiko!/Mi-kun!"
Keduanya terdiam. Wajah yang sama merahnya. Sama-sama memalingkan muka. Sungguh… bagi pemuda atau pun sang gadis, hal tadi benar-benar memalukkan. Mengumpulkan keberaniannya, sang pemuda kembali membuka suaranya, walaupun tanpa menatap sang gadis, dan suaranya gemetar.
"Ano sa… Boku to sukiatte kureru… Kaiko?"
Wajah gadis itu tak bisa lebih merah lagi. Ya Tuhan… Apakah kepalanya akan mendidih? Wajahnya terasa sangat panas sekarang. Tak jauh beda dengan teal yang saat ini tengah menunggu jawaban dari gadis itu.
"Em… A-aku… ma-mau…"
Jawaban yang terlontar itu seolah-olah telah menghabiskan seluruh tenaga dari tubuh berbalut pakaian musim dingin itu. Sedangkan di sisi lain, pemilik surai teal hanya bisa diam di tempat. Diberanikannya untuk menatap gadis itu.
"Ka-kau bilang apa tadi…?"
Dia ingin memastikannya. Telinganya tidak bermain-main dengannya 'kan? Sang gadis pun memberanikan diri untuk menatap pemuda sebayanya itu. Dengan wajah yang sangat merah ia mengumpulkan seluruh keberanian dan suaranya.
"A-aku mau…"
Pada akhirnya… suara yang keluar sangat kecil. Namun, itu sudah cukup untuk didengar teal. Teal menatap biru yang masih menunduk kemudian, jemarinya mengisi celah-celah kosong di antara jemari berbalutkan sarung tangan itu. Entah sampai dimana, si biru pun tidak tahu. Namun, dia rasa tubuhnya sudah semakin panas. Apakah dia akan meleleh karena ini. Demi Tuhan… ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini.
"Te-terima… kasih…"
Sebuah kalimat yang mengudara itu membuat keduanya kembali terdiam. Biru memberanikan diri untuk mendongak. Menatap tosca yang lebih tinggi darinya. Dilihatnya pemuda itu masih tertunduk malu. Entah kenapa, dia tersenyum kecil. Teal menatap biru. Tanpa diperintah… tangan kanannya menyentuh pipi seputih salju itu. Menariknya perlahan. Mengurangi jarak antara wajah mereka. Sudah tahu apa yang akan terjadi. Biru menutup matanya tatkala hidung mereka bersentuhan secara lembut. Mengantarkan kehangatan pada wajah merah itu. Tangan mungilnya yang bebas diletakkan di depan dada bidang itu. Dirasakannya punggungnya sudah bersentuhan dengan dinding. Dan dengan satu gerakan. Jarak antara mereka menjadi nol. Kedua bibir itu menyatu. Seiring dengan salju yang berjatuhan. Ciuman itu begitu lembut. Membuat keduanya lupa bahwa mereka sedang berada di jalan umum. Akhirnya… hanya salju yang berjatuhan menjadi saksi bisu kedua insan itu. Sementara mereka masih menikmati bibir satu sama lain.
おわり
…
冬
Author's Territorial
Kaito : R&R?
R&R?
V
V
V
V
