Sei menangis keras saat aku melihat kelopak mata Hinata sempurna tertutup. Masih ada keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya, tapi aku bisa dengan jelas melihat dadanya yang tak bergerak. Normalnya saat kita kelelahan, dada kita naik turun karena mati-matian mengatur napas kan? Normalnya dalam keadaan tidur pun, dada kita naik turun karena harus bernapas kan?
Tanpa pernah kusadari, sembari memeluk erat Sei, aku tahu ada air mata yang mengalir. Hatiku mendadak dingin. Tangisan Sei semakin keras di dalam pelukanku.
Tuhan, katakan bahwa ini bohong.
.
.
My Happiness
.
By : Fuyu No Yukishiro
.
Disclaimer:
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
Inspirasi:
Clannad After Story episode 18-20; K-Drama 49 days; dan semua manga dan anime yang pernah saya baca #Eh?
.
Standard Warning Aplied! ^_^
.
Spesial Thanks:
.77; KuDet; MuFylin; Hyou Hyouichiffer; LaChoco Latte; Yukori Kazaqi; flowers lavender; azzahra; SasuSakuHina00; pingki954; gece; Emma; Syura; luluk minam; un; And all Reader…
.
#2 : Tsukime Hana, yoroshiku onegaishimasu.
.
Happy Reading
Semoga fanfict ini tak mengecewakan :D
Hyuuga Hinata menatap nanar tubuhnya sendiri. Air matanya nyaris keluar tapi wanita itu tak bisa menangis. Tubuh halusnya tertarik ke belakang, menembus tembok rumah kecilnya dan terbang ke langit. Terbang dan terus terbang hingga wanita itu berada di sebuah tempat yang gelap. Tempat yang dingin dan menyesakkan.
Hinata jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
"Kau menyesal?"
Hinata mendongak. Sesosok makhluk ada di depannya. Tatapannya datar, tak berekspresi. Wajahnya tertutup oleh tudung hitam bercorak awan merah.
Malaikatkah makhluk ini?
"Aku shinigami," ucapnya seolah mengerti raut bertanya pada wajah Hinata. Hinata gelagapan dan termenung ketika makhluk itu menyodorkan telapak tangannya. "Aku kemari menjemputmu. Surga menunggumu."
Tak ada tanggapan. Hinata menunduk semakin dalam. Air matanya semakin mengalir keluar.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Bi-Bisakah surga menungguku lebih lama?" Hinata bertanya pelan. Telapak tangan itu bergerak turun dan postur tubuh sang shinigami membeku. Hinata tak berani mendongakkan wajahnya, aura shinigami di hadapannya benar-benar mengerikan.
Mereka diam cukup lama. Hinata masih mempertahankan posisi menunduknya. Kedua telapak tangannya terkepal erat. Air mata Hinata mengalir lagi.
"Beri aku waktu, shinigami-sama. Meski setahun, sebulan atau mungkin hanya satu hari pun," Hinata menjeda kalimatnya sebelum mendongak ke arah sang shinigami. "Aku hanya butuh waktu untuk mengatakan bahwa aku bahagia bersamanya. Bahwa aku begitu menyayangi Sei-chan."
Hinata tak tahu apakah iris indigonya menatap iris mata sang shinigami yang wajahnya tak terlihat karena tudung kepala hitamnya atau tidak, tapi yang jelas Hinata berharap bahwa pandangan matanya membuat Shinigami yang ada di hadapannya tersentuh.
"... Baiklah."
Mata Hinata berbinar senang.
"Tapi kau harus menunggu."
Alis Hinata bertemu, bingung.
"Menunggu apa?"
Hinata dapat melihat lengkungan kecil dari bibir sang shinigami.
"Menunggu waktu yang tepat."
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Botol-botol berbau menyengat tergeletak di ruangan itu. Sesosok tubuh bergelung di tengah ruangan tanpa alas. Raut wajahnya acak-acakkan dan pria itu sama sekali tak terganggu dengan sinar matahari yang telah menyinari wajahnya, menyuruhnya untuk terbangun dan menyambut pagi dengan suka cita.
Bel berbunyi membuat pria itu menggeliat. Niatnya ingin mengabaikan bel rumahnya namun gagal ketika bel itu terus berbunyi sebanyak lebih dari tiga kali. Dengan enggan, pria itu berjalan sempoyongan menuju pintu rumah, membukanya dan mata oniks-nya langsung disuguhkan pemandangan seorang wanita berambut cokelat yang tersenyum ke arahnya.
Meski tersenyum, pria itu tahu bahwa wanita di depannya itu tengah menahan amarah terhadapnya.
"Ohayou gozaimasu, Uchiha-san, mau menemaniku kencan pagi ini?"
Pria itu, Uchiha Sasuke, mau tak mau mengangguk saja.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Secangkir kopi hitam dan satu gelas parfait cokelat ada di hadapan mereka berdua. Sasuke menatap kopinya dengan malas, lebih malas lagi ketika melihat satu gelas besar berisi parfait cokelat yang ada di depan wanita yang katanya mengajaknya kencan.
"Ah... aku sudah lama ingin makan parfait-nya, tapi Neji suka melarangku makan yang manis-manis seperti ini, huh! Menyebalkan!"
Wanita itu, kakak iparnya, Hyuuga Tenten merutuki nasib makanan manis yang selalu dilarang oleh suaminya, Hyuuga Neji. Tenten langsung mengambil sesendok Parfaitnya lalu melonjak kegirangan lagi.
"Oishii~"
Uchiha Sasuke mendengus karena ulah Tenten yang kekanakkan, lebih kekanakkan ketimbang Sasuke yang usianya lima tahun lebih muda dari Tenten.
"Langsung saja, Tenten-san, apa yang mau kau katakan?" Sasuke menyesap kopi hitam dengan satu sendok gula sembari menghirup wangi kopi yang khas, membuat penat di kepalanya akibat alkohol semalam sedikit hilang.
Raut bahagia Tenten berkurang ketika mendengar pertanyaan Sasuke. Menghela napas, Tenten meletakkan sendok kecilnya dan menatap Sasuke dalam.
"Empat tahun telah berlalu." Meski samar, Tenten tahu raut wajah Sasuke sedikit berubah menjadi pasi. "Sudah waktunya Sei-chan masuk TK."
"Anak-anak masuk TK saat usia mereka lima tahun," elak Sasuke lalu menyesap kopinya.
"Sei mewarisi kepintaranmu. Meski masih empat tahun dia sudah bisa menghitung penjumlahan dengan cepat dan sudah bisa menulis namanya sendiri dalam kanji. Wajar kalau aku memasukkannya ke TK."
"Konyol."
"Sasuke!"
Suara dentingan cangkir dan pisin terdengar. Sasuke menatap Tenten dalam dan tajam.
"Aku belum bisa menemuinya," kata Sasuke terdengar lirih. "Tak akan bisa."
"Hinata akan marah kalau kau bersikap seperti itu kepada putrinya."
Tak ada jawaban. Tenten menghela napas. "Besok, aku dan Neji tidak bisa menemaninya piknik. Padahal Sei-chan ingin pergi piknik. Aku ingin kau menggantikan kami sambil memikirkan tawaranku memasukkan Sei-chan ke TK."
"Akan kupikirkan."
Lalu Sasuke meninggalkan Tenten sembari meletakkan beberapa lembar uang seharga kopi yang dipesannya dan pergi. Tenten menghela napas.
"Dasar bodoh! Setidaknya bayarkan parfait-ku juga, ipar pelit dan bodoh!" dengus Tenten kesal, lalu wanita itu menghela napas sembari melihat ke kaca.
Ada kabut kesedihan di iris matanya.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Keesokan harinya, Sasuke berjalan pelan ke sebuah rumah dengan toko kue yang bertuliskan 'Hyuuga bakery'. Sasuke menatap dalam-dalam toko kue itu sebelum lensa matanya merefleksikan sebuah bayangan dirinya dan Hinata saat mereka membantu menjaga toko kue keluarga Hyuuga itu. Sasuke menghela napas dan bayangan itu menghilang. Lalu Sasuke mendorong pintu toko yang tak tertutup dan memasuki toko tempat dia dan Hinata sering menghabiskan waktu bersama-sama.
"Tenten-san? Neji-san?"
Tak ada jawaban. Sasuke menghela napas. Pria itu berjalan memasuki rumah semakin dalam, melewati toko kue yang pintunya masih dibiarkan terbuka. Melepas sepatu snakersnya dan berjalan memasuki rumah di mana Hinata dibesarkan.
Mendadak, perasaan Sasuke sesak. Membuat tubuh pria itu membeku di tengah ruangan.
"Hinata, aku mencintaimu. Setelah kau lulus dari Konoha Gakuen, maukah kau menikah denganku?"
"Eh?"
"Mau?"
"Hm... ya, a-aku mau."
BANG!
Sasuke menendang barang yang ada di sekitarnya, menimbulkan keributan yang memekakkan telinga lalu terdengar sebuah teriakan kecil di ujung ruangan.
Sasuke menoleh ke arah teriakan dan Sasuke tercekat. Mata hitamnya melihat sesosok wajah dengan tinggi tak lebih dari seratus senti menatapnya takut-takut. Sosok itu seorang anak perempuan dengan usia sekitar empat tahun. Kulitnya putih dengan helai rambut ungu kehitaman sepanjang punggung dan iris sewarna rembulan yang mengingatkan Sasuke kepada sesosok perempuan yang sangat dia cintai.
Anak itu menatap Sasuke dengan takut-takut. Nyaris seluruh tubuhnya berada di balik sekat yang membatasi ruang tengah dengan kamar Hinata dulu.
"O-Ohayou gozaimasu," suaranya lirih. Sasuke bisa melihat keringat meluncur di pelipis anak itu sebelum anak itu memberanikan diri menunjukkan seluruh tubuh mungilnya yang terbalut dress selutut dan tas yang cukup besar. Anak itu menatap Sasuke dengan takut-takut. "Ohayou gozaimasu, otousan. Uchiha Seiko, empat tahun," saat mengatakan empat tahun, anak yang mengenalkan dirinya dengan nama Uchiha Seiko menunjukkan empat jarinya – kecuali ibu jari – ke arah Sasuke. "Yo-Yoroshiku onegaishimasu!"
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Sasuke mendudukkan dirinya di depan televisi. Dengan bosan mengganti saluran TV berkali-kali. Sudut matanya melirik sesosok bocah yang berada di ruangan itu, beberapa meter darinya sembari menatapnya lekat-lekat.
Sasuke mencoba tak mengambil peduli atas kehadiran putrinya sendiri dan tetap fokus pada saluran TV yang kini tengah menampilkan ramalan cuaca.
Dering telepon membuat Sasuke berjalan malas ke arah telepon, melewati Sei yang mengikuti gerak tubuh Sasuke, membuat Sasuke merasa sedikit terganggu.
"Moshi-moshi?" Sasuke mengangkat telepon dengan sedikit kasar. Sasuke semakin kesal ketika yang terdengar di seberang sana adalah suara Tenten, kakak iparnya.
"Sudah kuduga kau datang, Sasuke-san," kata suara itu membuat Sasuke berdecak, tapi tak berminat membela diri atau melontarkan kata yang ketus.
"Kapan kalian pulang?"
Tedengar keheningan sebelum terdengar tawa Tenten yang nista.
"Besok atau mungkin lusa?"
"Ck, jangan bercanda! Lusa aku masuk kerja."
"Aku tidak bercanda, Sasu-chan~"
"Jangan panggil aku Sasu-chan, Tenten-san!"
Lalu terdengar tawa Tenten sebelum suara Tenten menjadi serius. "Sasuke-san, sudah empat tahun kau tidak menemui Sei-chan, kau hanya melihatnya dari jauh atau lewat foto-foto yang kukirim. Aku dan Neji memakluminya tapi kami rasa sudah waktunya kau menghadapinya. Sei-chan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, terlebih Otousan-nya yang –"
"Aku mengerti!"
Lalu Sasuke menutup teleponnya dengan kasar. Saat Sasuke menoleh ke arah Sei, bocah itu merengut takut menatapnya. Tubuh mungilnya berdempetan erat dengan tembok. Sasuke menghela napas lalu melirik ke arah jam dinding. Sudah waktunya makan siang dan perutnya memang lapar.
"Kau mau makan?" tanya Sasuke dingin, tak menatap bocah itu lama-lama. Di tanya seperti itu membuat Sei yang semula ketakutan mengangguk pelan. Sasuke bergumam singkat sebelum beranjak ke dapur, meninggalkan Sei yang menatap punggung ayahnya tanpa kata.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Dua piring nasi goreng terhidang di meja kecil itu. Mereka duduk berhadap-hadapan, Sei menatap makanannya tanpa rasa riang dan Sasuke mengerti itu. Dilihat dari tampilannya Nasi goreng buatannya memang tidak menggugah selera. Hanya campuran dari nasi, telur dan kacang polong yang dicampur di atas wajan. Kalau Hinata pasti menambahkan tempura dan beberapa potong tomat kesukaan Sasuke.
Sasuke menggenggam sendoknya erat ketika memorinya kembali mengingat Hinata yang membuat perasaannya sesak.
"Ayo dimakan."
Gelengan kepala diterima oleh Sasuke. Sasuke mendengus, terserah sajalah. Perutnya sudah lapar, maka tanpa memperdulikan bocah yang ada di depannya, Sasuke menyuap nasi goreng buatannya yang memang tak terlalu enak.
Lalu keheningan terjadi di antara mereka. Sasuke mencoba tak peduli dengan keheningan yang terasa berat ini lalu menegak minum sebelum suara Sei yang imut terdengar dengan sedikit keras.
"Sei mau nasi!"
Suapan Sasuke terhenti. Sasuke melihat wajah Sei yang memerah karena teriakannya sendiri. "Aku sudah membuat nasi goreng, kan?"
Gelengen kepala lagi. "Sei mau nasi!"
"Nasi putih?"
Anggukan kepala. Sasuke mendengus sebelum beranjak berdiri.
"Baiklah."
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
"Kapan aku bisa menemui mereka?"
Sang shinigami menatap Hinata dalam sebelum berkata datar.
"Sebentar lagi."
Hinata menatap sendu ke arah suami dan anaknya yang memakan makanan mereka dalam diam dan canggung.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
"Terima kasih makanannya."
Sasuke menatap ke arah Sei yang menepukkan tangannya di depan dada lalu mengambil mangkuk bekas makanannya sebelum berdiri dan berjalan ke arah dapur. Sasuke memperhatikan saat Sei mengangkat mangkuknya tinggi-tinggi agar mangkuk itu bisa berada di tempat cuci piring. Namun karena tubuhnya yang memang terlalu pendek, Sei yang kesulitan tidak habis akal. Bocah itu memeluk mangkuknya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap sesuatu yang bisa dijadikan pijakan. Ketika menemukan pijakan yang berada beberapa puluh langkah dari tempat dia berdiri, Sei berjalan ke arah pijakan berupa bangku plastik berwarna biru, lalu meletakkan mangkuk kecil di atas bangku tersebut dan mendorongnya hingga ada di bawah tempat cuci piring. Lalu bocah itu kembali memeluk mangkuknya dan mencoba kembali untuk memasukkan mangkuk tersebut namun tak berhasil karena, meski sudah berjinjit dan beralas bangku berkaki pendek pun, Sei belum dapat menggapai tempat cuci piring tersebut.
Mata Sei membulat bingung ketika seseorang mengambil mangkuk tersebut dan meletakannya di dalam bak cuci. Melihat ayahnya sendiri ada di belakangnya membuat wajah Sei memerah malu. Ini pertama kalinya sang ayah mau mendekati dan membantunya tanpa diminta oleh Sei.
Meski Sei belum pernah sekalipun berduaan dengan ayahnya, Sei tahu ayahnya adalah ayah yang baik seperti kata Tenten-baasan.
"Minggir, aku mau mencuci," kalimat Sasuke membuat Sei mengangguk pelan lalu turun dan menjauhi Sasuke sambil menunduk.
Di dapur, sepasang ayah dan anak hanya berdiri diam di sana dengan aura yang begitu canggung.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
"Hinata?"
Hinata menoleh. Sang Shinigami memperlihatkan sesuatu yang Hinata tahu apa itu, sebuah kalung dengan bandul semanggi berkelopak empat. Hinata menerima kalung itu.
"Pakai itu dan kau bisa menemui keluargamu."
Mata Hinata melebar. Gadis itu nyaris ingin menangis. Hinata ingin membungkuk untuk berterima kasih sebelum suara dingin sang shinigami memperingatinya.
"Jangan senang dulu, Hinata," kata sang Shinigami. "Kau hanya punya waktu 30 hari dan Kau tidak akan kembali sebagai Hyuuga Hinata. Kau dilarang untuk mengatakan jati dirimu yang sebenarnya, jika kau melanggarnya, maka saat itu juga, sosokmu akan hilang."
Hinata terdiam lama. Tadinya wanita itu ingin protes, tapi Hinata tahu bukan haknya untuk protes. Hinata sudah meninggal, jasad wanita itu sudah menjadi abu dan terbang beberapa tahun silam. Tuhan sudah cukup berbaik hati kepadanya jadi tidak seharusnya Hinata protes dan merasa keberatan akan kebaikan Tuhan yang ini.
Maka, Hinata menghela napas sebelum menjawab mantap.
"Aku mengerti, Shinigami-sama dan aku tidak keberatan."
Sebuah janji sudah dibuat ketika Hinata merasakan seberkas sinar membungkus tubuhnya dan sang shinigami untuk yang pertama kalinya membuka tudung yang menutupi tubuhnya.
Hinata terpana ketika melihat wajah shinigami yang tersenyum ke arahnya.
.
My Happineses (c) Fuyu no Yukishiro
.
Gadis itu melangkah pelan. Sepasang iris hitamnya menatap pintu-pintu apartement yang berjejer rapi. Gadis itu tersenyum sebelum berjalan dengan agak tergesa. Tas jinjingnya diselipkan ke ketiaknya. Bunyi hak sepatu terdengar menaiki tangga. Gadis itu sedikit terengah ketika kini dia berdiri tepat di sebuah pintu paling ujung setelah tangga.
Tersenyum, gadis itu menekan bel, cukup keras. Tak butuh waktu lama sebelum terdengar suara pintu yang terbuka lalu mata hitamnya melihat sesosok pria yang terlihat baru bangun tidur.
"Siapa?"
Gadis itu tersenyum, menatap pria yang bertanya kepadanya dengan sarat kerinduan. Ingin, ingin sekali gadis itu langsung memeluk pria di depannya dan mengatakan siapa dia sebenarnya, namun gadis itu tidak bisa.
"Ohayou gozaimasu, Uchiha-san," suaranya terdengar lembut. "Perkenalkan, saya Tsukime Hana, saya datang untuk memenuhi janji saya kepada almarhumah istri anda, Uchiha Hinata-san."
Hana, nama Hinata sekarang ini, dapat melihat dengan jelas raut terkejut suaminya ketika bibirnya menyebut nama Hinata. Masih tersenyum, Hana kembali berkata.
"Boleh saya masuk dan menjelaskan semuanya, Uchiha-san?"
.
.
"Ne, Hinata kau tahu, Hinata memang nama yang cocok untukmu, tapi aku punya nama yang lain yang juga cocok untukmu."
Hinata menatap Sasuke penuh minat dan Sasuke hanya tersenyum menanggapi sinar penuh minat dari kekasihnya. Di raihnya dagu Hinata dan mengangkatnya sedikit, mempertemukan dua pasang mata yang berbeda warna. Wajah Hinata memerah.
"Tsukime Hana."
Sebelum Hinata terhanyut dalam ciuman yang dalam dan memabukkan, sayup sayup terdengar suara Sasuke yang rendah.
"Bagiku kau seperti bulan yang menemaniku, Hinata."
.
.
To Be Continued
.
Next Chapter :
.
"Otousan?"
"Hn."
Bocah kecil itu menatap lamat-lamat.
"Otousan membenci Sei?"
Pria itu menatap sekedar sebelum membuang muka.
"Hn."
.
"Hinata-san pasti akan menangis ketika tahu kau membenci anak yang dilahirkannya."
"Jangan sok tahu! Kau tidak tahu apa-apa tentang Hinata dan keluarga kami!"
"Aku tahu! Aku tahu semuanya, Sasuke-kun!"
"Apa? Sasuke-kun kau bilang?"
.
Author Notes:
Ok, pertama, saya minta maaf karena telat update, alasannya banyak, jadi gak akan saya sebutin satu-satu. Trus, maaf kalau chapter ini beda sama spoiler di chapter satu, ini chapter sengaja saya potong karena kesenjangan di chapter akhir nanti kalau emang bakal kayak chapter yang awal.
Kedua, saya mau bilang terima kasih, Ternyata, meski saya orangnya kayak gini, cerita yang saya buat seperti ini, masih banyak yang menanti karya saya… #NangisTerharu. Serius, saya senang sama review dan jumlah statistic yang baca…
Ketiga, saya mau bilang, saya akan lama update lagi, tapi semoga gak akan lama. Awal desember saya sibuk di sekolah dan di kampus, jadi ya… saya telat dari ini, maafkan sayaaa… huhu
Sekarang waktunya Q&A, nanti yang ada akun saya bales via inboks ya :')
.
Q&A
Kenapa harus Angst? Karena saya lagi suka angst, hehe. Tenang aja, Saya pake system (?) sweet angst-kok, gak berakhir sad ending, juga gak berakhir happy. #Dihajar. Izin Fave! Siap, terima kasih *cium*| Apa Sasuke membenci anaknya? Jawabannya di Chapter 3 aja ya :D | Hina-nya meninggal? Iya, tapi bangkit lagi kayak 49 days, #plak | Jadi keinget Anime Clannad: After Story. Ceritanya kurang lebih sama 'sih. Cerita ini terinspirasi dari Anime itu ya, senpai? Yups, dari anime itu, tapi dengan beberapa perubahan. :D | Reinkarnasi? Bukan, saya gak pake konsep itu, saya pake konsep miracle. J | Hinata gak mati? Di chapter ini, Hinata mati, hehe | Jadi fuyu udah kuliah ya! Haha, Saya udah tingkat akhir, hehe. Emang keliatan awet muda sih, hoho | Saya rasa saya akan menyukai fic ni. Sy tunggu lanjutannya. Huwaa… makasih banyak, udah update, silakan baca lagi, hehe| Jangan lupa fict author yang lainnya! Eheheh *bletak| Author gak tega kan? Saya orangnya tegaan *Tendanged|
Sekedar SopIler(?) endingnya gak terduga kok.. .:D
Review minna-san?
271113
Fuyu no Yukishiro
