Assalammu'alaikum minna. Saya datang. Nyahahahahahaahahahaha... XD #hajar. XD

Ehem, ehem.

Ehem, ehem, ehem, ehem.

Nah, kali ini saya datang dengan membawakan chapter baru dari fic saya yang paling di minati para readers. XD

Yah, seperti di chapter sebelumnya, di fic ini akan ada dua OC yang paling saya banggakan yang masuk dalam fic ini.

Icy: Toumitsu-sama, apa hanya kami berdua yang masuk ke dalam fic ini?

Cyber: Tentu tidak, ntar mau saya tambahin lagi di chpater ini, tapi belum tau siapa karena OC saya itu ada enam. Tapi yang dua lagi belum di tulis di profile karena masih bingung ama statusnya. XD

Ray: Itu artinya, yang akan masuk ke sini bisa Blaise dan Marine. Atau bisa juga Clear dan Vivid.

Cyber: Tapi saya memasukkan tergantung mood saya. XD

Ray: Terserahlah. XD

Icy: Oke, tanpa banyak bicara lagi. Ini adalah fic yang akan di persembahkan oleh Toumitsu-sama kepada para readers sekalian.

Cyber: Selamat membaca.

.

.

.

.

.


Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.

Rairyuu Ray & Hiryuu Icy ©Cyber Keju-ma

How to be a Mage ©Cyber Keju-ma.

Rate K.

GaJe, OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.

Don't Like?, Don't Read!


.

.

.

.

.

Dihalaman belakang sebuah mansion yang lebih terlihat seperti sebuah istana –atau sebut saja rumah Ray–, masih terlihat beberapa orang –lebih terpatnya sekelompok orang– sedang berkumpul dan sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting.

"Ne, Ai-chan, bagaimana?"

"Ayo ajarkan kami,"

"Kalian harus berbagi ilmu,"

Kira-kira seperti itulah pembicaran mereka. Yah, sepertinya mereka semua,yang kita kenal sebagai anak-anak dari Crypton Academy yang di bawa oleh Miku untuk membuntuti Ray dan Icy dan mereka masih saja bersikeras untuk di ajarkan agar bisa menjadi penyihir juga.

"Ano... bisakah kalian sedikit tenang?" tanya Icy kebingungan ingin berkata apa lagi.

"Kami tidak akan bisa tenang jika kalian berdua tidak ingin mengajari kami," jawab Rin dengan percaya dirinya.

"Bahkan pikiran kami akan terganggu selama tujuh hari empat belas malam," ucap Miku sambil memegang dan menggelenakan kepalanya.

"Lebih dari itu, kami tidak akan bisa tidur selama dua hari sembilan malam," ucap Tei yang mulai angkat bicara.

"Apa yang kalian bicarakan sih?" tanya Icy bingung dengan perkataan mereka.

"Intinya, kalian berdua harus mengajarkan kami," jawab Rin yang sepertinya lebih mengarah kepamaksaan.

"Baiklah! Baiklah! Kami akan mengajrkan kalian. Tapi tolong tenang," ucap Icy pasrah.

"Kau yakin akan mengajarkan kami?" tanya Kaito sambil memakan es krim yang entah dia dapat dari mana.

"Benarkah itu?" tanya Len meyakinkan.

"Benar. Tapi aku hanya ingin memberitahukan satu hal kepada kalian," ucap Icy kepada semua yang ada disana.

"Apa itu?" tanya Luka.

"Jika kalian berani melakukan sesuatu hal yang aneh..." ucap Icy menggantungkan kata-katanya.

"Jika kami melakukan hal aneh?" tanya Rin mengulang perkataan Icy sebelumnya.

"Katakan saja cepat," ucap Defoko tidak sabaran yang ternyata juga ikut-ikutan dalam pembicaraan mereka.

Icy kemudian dengan cepat mengeluarkan sebuah pedang di tangannya, namun pedang tersebut tidak terlihat seperti pedang biasa. Pedang itu terbuat dari kristal es. Sepertinya yang dia keluarkan adalah Dark Repulsor.

"...Akan aku bunuh kalian semua. Mengerti?" tanya Icy sambil mengcungkan pedangnya ke arah Miku dan sahabat-sahabatnya dan sekaligus mengahdihi mereka sebuah tatapan mata mengerikan.

Semua yang melihat Icy seperti itu hanya bisa diam. Takut. Tidak, bahkan sangat takut untuk berbicara setelah melihat ekspresi Icy yang seperti sedang kedatangan musuh. Tapi kemudian secara bersamaan mereka semua menganggukan kepala –tanda bahwa mereka semua mengerti.

"Bagus," ucap Icy sambil menarik pedangnya dan setelah itu, pedang yang dia pegang tadi menghilang entah kemana seperti sebuah cahaya.

"Ja–jadi–"

"Nah, baiklah semuanya. Sekarang ikuti aku. Kita akan mulai pelajarannya," ucap Icy sambil tersenyum manis dan kemudian segera berjalan masuk ke dalam rumah Ray.

Mereka semua –Miku dan sahabat-sahabatnya– hanya bisa mengangakan mulutnya melihat kepribadian Icy. Apa-apaan sebenenarnya orang itu, setelah memberikan tatapan mematikan malah tersenyum dengan manisnya. Kira-kira seperti itulah yang mereka ingin katakan, namun tidak bisa.

Akhirnya, setelah melakukan hal aneh di atas, Miku dan sahabat-sahabatnya pun mulai berjalan mengikuti Icy untuk masuk ke dalam rumah Ray.

.

.

.

.

.

"Ai-chan, kita mau kemana?" tanya Rin yang sedang berjalan di samping Icy dan dengan diikuti beberapa orang di belakangnya dan Icy yang merupakan sahabat mereka.

"Ke ruang latihan milik Ray," ucap Icy sambil terus memandu semua yang ikut.

"Aku sungguh masih tidak percaya jika kalian berdua itu adalah mage tingkat tinggi," ucap Miku. "Ingin sekali aku menjadi seperti kalian," lanjutnya dengan girangnya.

"Apa kita akan belajar menghancurkan dunia?" tanya Mayu dengan nada datarnya namun terlihat besemangat.

"Tidak mungkin kami mengajarkan hal seperti itu kepada kalian," jawab Icy. "Kami juga pun tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu," lanjutnya dengan jelas.

"Sial! Padahal aku ingin sekali menghancurkan dunia," ucap Mayu masih dengan nada datarnya.

"Mayu, aku akan ikut dengan mu untuk menghancurkan dunia," ucap Zatsune yang mendukung tekad Mayu.

"Astaga, apakah aku salah melakukan hal ini?" batin Icy bertanya. Dia hanya bisa menghela nafas karena terlalu bimbang dengan apa yang dia lakukan.

"Ne, jadi apa yang akan kau ajarkan kepada kami?" tanya Teto yang mulai ikut pembicaraan.

"Jangan tanya aku. Tanyakan saja kepada Ray-kun," jawab Icy malas.

"Kau lihat Gakupo, aku tidak percaya jika kita akan menjadi penyihir," ucap Kaito kepada seorang pemuda berambut ungu panjang dan diikat ala samurai.

"Aku akan menyihirmu menjadi terong," ucap Gakupo dengan percaya dirinya.

"Tidak sebelum aku menyihirmu menjadi es krim," ucap Kaito tidak mau kalah.

"Aku akan menyihir kalian menjadi pisang terlebih dahulu," ucap Len yang mulai iku-ikutan.

"Len-kyun, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku," ucap Tei sambil tersenyum manis kepada Len yang malah berhasil membuat Len merinding.

"Aku akan menggunakan ini untuk menyihir kalian semua," ucap lapis sambil mengeluarkan sebuah tongkat berlian yang sepertinya bisa digunakan untuk senjata.

"Tidak sebelum aku meninyihir kalian semua menjadi negi dan kemudian menjadi pengawalku," ucap Miku yang mulai berkhayal sesuatu yang aneh.

"Coba saja jika kau bisa," ucap Defoko menantang Miku.

"Lalu aku akan datang untuk melempar wortel kepada kalian," ucap Gumi ikut dalam pembicaraan Miku dan Defoko.

"Dan kemudian aku menyihir wortel Gumi menjadi roti," ucap Teto.

"Minum teh," ucap seorang pemuda serba hijau yang mirip dengan Kaito sambil meninum teh hijau yang entah dia dapat dari mana.

"Heh? Nigaito-kun, kau dapat teh itu dari mana?" tanya Lapis kepada pemuda berambut hijau tadi yang ternyata bernama Nigaito.

"Maksudmu teh ini?" tanya Nigaito kembali.

"Tentu saja," jawab Lapis.

"Ohh, aku memunculkannya dengan sihir," ucap Nigaito dengan polosnya.

"Ohh, begitu toh," ucap Lapis sambil mengganggukan kepalanya. "Ehh, tunggu. Tadi kau bilang apa?" tanyanya ingin mendengar jawaban dari Nigaito sekali lagi.

"Aku bilang, aku memunculkannya dengan sihir," ucap Nigaito sekali lagi dengan polosnya.

Hening.

Hening.

Hening.

Semua yang mendengar jawaban dari Nigaito –minus Icy– terdiam sejenak seakan sedang memikir sesuatu. Sesuatu adalah sebuah kata yang aneh, salah, dan ganjil yang keluar dari mulut Nigaito. Setelah terpikir sesuatu yang aneh, salah, dan ganjil itu–

"APA?! SIHIR KAU BILANG?!" teriak mereka semua –minus Nigaito dan Icy – dengan kompaknya.

Nigaito hanya bisa menutup telinganya diteriaki seperti itu. Sebenarnya dia bingung kenapa bisa sampai diteriaki seperti itu oelh mereka semua. Apa ada yang salah dengan jawaban yang dia berikan?

"Kalian ini kenapa sih? Tidak bisakah bersikap seperti biasa?" tanya Nigaito yang sepertinya kesal.

"Tentu saja tidak bisa," jawab Kaito.

"Dan kenapa kau bisa menggunakan sihir?" tanya Miku kepada calon adik iparnya tersebut.

"Ahh, aku–" belum sempat Nigaito selesai berbicara, ada seseorang yang langsung memoto perkataannya.

"Aku lupa memberitahukan sesuatu kepada kalian," ucap Icy yang ternyata orang yang memotong perkataan Nigaito.

"Sesuatu apa?" tanya Rin bingung.

"Sebelumnya, Nigaito sudah pernah belajar sihir kepada kami dan kini dia sudah bisa berevolusi ke dalam bentuk 'First Mage Mode'," jawab Icy dengan entengnya seakan tidak ada beban sama sekali saat mengatakan itu.

Mereka semua –minus Nigaito dan Icy– hanya bisa terdiam setelah mendengar jawaban dari Icy yang bisa keluar begitu saja dengan entengnya. Ternyata mereka semua sudah dikalahkan oleh Nigaito. Miris sekali.

"Dan kau tidak pernah mengatakannya kepada kami?" tanya Miku mulai kembali berbicara setelah terdiam beberapa saat.

"Untuk apa aku memberitahukannya kepada kalian?" tanya Icy kembali dengan santainya.

"Ini tidak adil!" ucap Tei yang sepertinya sedikit kesal.

"Dan bagaimana pula ceritanya hingga kau bisa menjadi seorang mage sebelum kami semua?" tanya Kaito kepada adik paling kecilnya itu.

"Ohh, waktu itu saat aku diserang beberapa orang, aku diselamatkan oleh Icy-nee dan Ray-nii. Karena mereka melihat aku yang tidak bisa melakukan apapun, akhirnya mereka dengan senang hari menawarkanku untuk belajar menjadi seorang mage," jawab Nigaito dengan sangat jelas dan juga tidak ketinggalan sikap polosnya saat menjawab sesuatu. Menjawab seakan tidak mengetahui dampak dari jawabannya yang keluar begitu saja denga ringannya dari mulutnya.

Mendengar cerita singkat dari Nigaito, mereka semua kembali terdiam. Ternyata Nigaito orang yang sangat beruntung bisa lebih dulu menjadi mage dan dia bisa belajar bukan karena permintaan, tapi karena ditawarkan.

"Kenapa kau tidak pernah cerita pada kami?" tanya mereka semua –minus Icy– secara kompak.

"Karena kalian tidak pernah bertanya," ucap Nigaito polosnya dan sekalia lagi berhasil membuat semua yang mendengar jawabannya terdiam dan menganga.

Dan setelah itu mereka semua kembali berbincang-bincang dalam perjalan mereka untuk membahas sesuatu yang sebenarnya sangat diragukan bahwa itu adalah hal yang penting.

.

.

.

.

.

Sekaranng disinilah mereka semua berada, di depan sembuah pintu kayu yang sangat besar dan terdapat ukiran-ukiran aneh di depan pintunya tersebut.

"Nah, disinilah kalian akan belajar," ucap Icy sambil menunjung ke pintu tersebut.

"Aku masih bingung kenapa Ray-kun bisa memiliki rumah sebesar ini," ucap Miku yang masih kagum dengan rumah Ray.

"Aku ingin tahu kau tinggal dimana, Ai-chan?" tanya Rin kepada Icy.

"Ohh, sebenarnya aku rumahku cukup jauh dari sini dan tentunya sangat jauh dari sekolah. Tapi karena Ray itu tunanganku, jadi aku meminta kepada Okaa-sama dan Otou-sama untuk tinggal disini bersama Ray-kun dan mereka mengijinkan," jawab Icy yang tanpa dia sadari kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Setelah mengatakan itu, dengan segera dia menutup mulutnya. Sepertinya dia keceplosan.

Mendengar jawaban dari Icy, seketika Rin dan Miku mulai memasang wajah dan senyuman aneh yang penuh arti dibaliknya. Seperti sedang membayang sesuatu yang aneh.

"Jadi intinya, kau tinggal serumah dengan Ray 'kan?" tanya Rin dengan senyuman anehnya.

"Aku jadi ingin aktivitas harian yang kalian lakukan di rumah ini?' tanya Miku yang juga memasang senyuman aneh penuh arti.

"Su–sudahlah. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Atau aku akan membunuh kalian," ucap Icy dengan wajahnya yang sudah memerah.

"Baiklah. Baiklah," ucap Miku yang masih belum mengahpus senyuman anehnya.

"Ne, Ai-chan. Selamat yah," ucap Rin dengan sangat tidak jelas apa maksud dari ucapan selamatnya itu.

Mendengar ucapan selamat dari Rin, Icy hanya bisa terdiam bingung. Sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan Rin tadi. Namun daripada berlama-lama, dengan segera dia membuka pintu yang ada di hadapnnya.

Setelah pintu tadi terbuka, terlihatlah sebuah ruangan yang sangat luas yang terisi dengan beberapa meja dan kursi. Kemudian terdapat juga beberapa lemari yang terisi buku yang banyak dan tidak diragukan lagi bahwa buku disana adalah buku sihir.

"Huwooo, luas sekali," ucap Kaito kagum dengan apa yang dilihatnya dan semua yang mendengar perkataan Kaito –minus Nigaito dan Icy – hanya menggangguk setuju dengan Kaito. Ternyata mereka juga kagum.

"Nah, silahkan masuk," ucap Icy yang kemudian masuk kedalam ruangan itu. Dan orang-orang yang tadi ikut dengannya, juga masuk kedalam ruangan itu.

Setelah berada di dalam ruangan itu, mereka semua masih tetap memasang tatapan kagum sambil melihat sekeliling ruangan tersebut. Benar-benar ruangan yang sangat bagus.

"Nah, kalian semua silahkan duduk di kursi yang ada disana," ucap seorang pemuda dari arah pintu masuk.

Mereka semua melihat kearah pintu untuk melihat siapa orang yang berbicara tadi. Dan yang mnereka lihat adalah seorang pemuda berambut ungu dan bermata kuning keemasan. Ahh, dia adalah Ray.

Namun karena yang berbicara tadi adalah Ray, mereka semua mulai duduk di kursi yang ada disana sesuai yang di perintahkan Ray.

"Nigaito, kau tetap bersama kami," ucap Ray seraya masuk ke dalam ruang latihannya.

"Baiklah, Ray-nii," ucap Nigaito sambil mengganggukan kepalanya dan kemudian berjalan ke sebelah Icy.

"Nah, untuk sekarang, aku hanya ingin mengajarkan mulai dari yang paling dasar," ucap Ray kepada mereka semua.

"RAY-SENPAI! ICY-SENPAI!"

"RAY-NII! ICY-NEE!"

Terdengarlah suara teriakan beberapa orang dari luar ruangan yang sepertinya sedang menuju ke ruang latihan di rumah Ray.

Merasa di panggil, Ray dan Icy pun segera melihat ke arah pintu. Dan beberpapa saat setelah mereka mengahadap pintu, terlihat seorang pemuda berambut merah dengan bola mata berwarna coklat gelap dan di sebelah pemuda tersebut terlihat seorang gadis berambut biru kehijaun seperti laut yang diikat ponytail memanjang dengan bola mata berwarna aquamarine.

"Blaise? Marine? Ada apa?" tanya Ray kepada kedua orang itu yang ternyata bernama Blaise dan Marine.

"Ahh, begini Ray-senpai. Tadi kami di suruh Ayah Ray-senpai untuk memanggil kalian berdua. Kami tidak tahu untuk apa. Kami hanya di suruh," jelas Blaise kepada Ray sambil memasuki ruangan dan diikuti oleh Marine di belakangnya.

"Hah, masalah pernikahan lagi," ucap Ray malas yang sebenarnya sudah tahu untuk apa Ayahnya memanggilnya.

"Ano Ray-nii, Icy-nee, kenapa Miku-chan dan teman-temannya ada disini," tanya Marine bingung.

"Mereka ingin di ajarkan untuk menjadi mage," jawab Icy.

"Nah, sementara kami pergi, tolong ajarkan kepada mereka dasar-dasar untuk menjadi mage. Kau tahu 'kan kalau rumah Ayahku itu sangat jauh dari sini? Jadi karena mereka sudah tidak sabaran lagi, tolong kau ajarkan saja dulu dasar-dasarnya, disini juga ada Nigaito," ucap Ray dengan panjang lebar. Ahh, sungguh sangat jarang bisa melihatnya bisa berbicara sepanjang ini.

"Eh, baiklah Ray-senpai," ucap Blaise menuruti permintaan dari Ray.

"Icy, ayo pergi," ucap Ray seraya keluar dari ruangan.

"Baiklah," ucap Icy seraya mengikuti Ray dari belakang.

Setelah Ray dan Icy keluar, Blaise dan Marine pun melihat ke arah semua orang yang ada disana. Sebenarnya apa yang membuat mereka ingin menjadi penyihir?

"Ano, Blaise-kun, Rine-chan, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Miku bingung melihat Blaise dan Marine yang ada disana.

"Seperti yang di perintahkan oleh Ray-senpai dan Icy-senpai, kami akan mengajarkan dasar-dasar untuk menjadi mage kepada kalian semua," ucap Blaise menjawab pertanyaan Miku.

"Ja–jangan kalian..." ucap Len menggangtungkan kata-katanya.

"Yah, kami juga mage seperti Icy-nee, Ray-nii, dan Nigaito-kun. Kemampuan kami masih jauh di bawah Icy-nee dan Ray-nii. Tapi sudah berada di atas Nigaito-kun," ucap Marine seakan sudah tahu apa yang di maksudkan Len.

Dan lagi lagi, mereka semua hanya bisa terdiam mendangar jawaban yang diberikan Marine. Ahh, sepertinya saingan mereka selain Nigaito, ada Blaise dan Marine yang notabene adalah sahabat mereka di satu sekolahan.

.

.

.

.

.


~To Be Continue~


Nyahahahahaha...

Akhirnya selesai chapter dua untuk fic ini. Huuffttt~

Bagaimana? Baguskah atau ancurkah?

Itu semua tergantung bagaimana dan darimana kalian menilainya.

Ray: Ternayata yang ditambahkan oleh Toumitsu-sama adalah Blaise dan Marine.

Icy: Ohohoho, jadi peran kami sebagai pelatih di gantikan?

Blaise: Kenapa harus kami yang melatih orang-orang itu?

Ray: Karena kami berdua dipanggil oleh Otou-sama untuk urusan pernikahan. XD

Marine: Ahh, ini buruk. Kami akan kerepotan.

Icy: Tentu tidak. Kalian akan di bantu oleh Nigaito Shion.

Nigaito: Kenapa namaku di bawa-bawa?

Ray: Kau harusnya merasa beruntung karena di chpater ini kau sudah lebih hebat dari pada mereka semua.

Nigaito: Iya juga sih.

Len: Ini tidak adil!

Icy: Apa yang tidak adil Len-sama?

Len: Si bakAuthor membuat Nigaito lebih hebat dari pada aku.

Nigaito: Len-senpai, tidak boleh begitu. Inilah yang namanya takdir. XD

Len: Setelah ini, aku ingin yang lebih dulu menjadi mage dari pada mereka semua.

Cyber: Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di chapter selanjutnya. XD

Ray: Oh yah, perkenalkan dua OC baru Toumitsu sama, Clear dan Vivid.

Clear: Saya adalah Keiryuu Clear. Saya bukan manusia, melainkan elf. Saya ini seratus persen laki-laki

Vivid: Saya Keiryuu Vivid. Saudara kembarnya Clear. Saya ini juga seorang elf dan saya ini perempuan.

Cyber: Nah, untuk bagian kalian mungkin akan muncul di beberapa chapter kedepan. Soalnya kalian itu bukan mage. Saya buat kalian tipe archer dan dengan element cahaya.

Clear: Tidak apa master.

Vivid: Yang penting kami bisa ikut merusuh di sini. XD

Cyber: Nah, baiklah para readers sekalian, saya sudahi dulu perjumpaan kita hari ini. Sampai jumpa di lain waktu. Matta nee.

#ngilang bersama dengan yang lain. XD