Asslammu'alaikum minna. Saya kembali lagi.
Kali ini saya datang dengan membawakan sebuah fic dengan chapter baru.
Tidak seperti biasanya. Untuk di chapter ini dan mungkin seterusnya, akan ada beberapa OC dari author sebelah yang akan muncul. Yah, tentu saja saya sudah meminta ijin dengan author itu dan setuju untuk meminjamkan Ocnya untuk dimasukkan ke fic saya.
Mau tau siapa pemilik Ocnya? Dia adalah Yami no Ryou, atau dulu lebih dikenal Kuro Rei-chan. Dan OC yang saya pinjam adalah Rizu Kagami dan Yuki Aikuchi.
Icy: Tunggu dulu!
Cyber: Ada apa?
Icy: Toumitsu-sama, kenapa kau memasukkan musuh besarku ke dalam fic yang satu ini?
Cyber: Biar seru.
Ray: Kehancuran dunia akan segera dimulai.
Cyber: Sepertinya kau bisa mengetahui apa yang saya pikirkan.
Blaise: Lalu apa yang akan mereka lakukan?
Cyber: Merusuh. #dihajar.
Yuki: Kami akan ikut meramaikan fic ini.
Rizu: Benar.
Cyber: Tunggu, siapa kalian?
Yuki: Kau yang mengundang kami kesini, Baka.
Cyber: Ahh, maaf. Aku lupa.
Ya sudah, ndak usah banyak bicara lagi dari pada penasaran ntar. Ini dia, saya persembahkan ficnya kepada para readers sekalian.
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.
Rairyuu Ray, Hiryuu Icy, Kaenryuu Blaise, & Suiroo Marine ©Cyber Keju-ma.
Rizu Kagami & Yuki Aikuchi © Yami no Ryou.
How to be a Mage ©Cyber Keju-ma.
Rate K.
GaJe, OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.
Don't Like?, Don't Read!
.
.
.
.
.
"Baiklah, kita akan memulainya," ucap Blaise memerintahkan seraya membuka sebuah buku tebal yang entah dia dapat dari mana.
"Itu buku apa?" tanya Len bingung sambil menunjuk buku yang dipegang Blaise.
"Ohh, ini adalah buku yang digunakan untuk belajar dasar-dasar menjadi seorang mage," jawab Blaise dengan jelas.
"Hoo, kalau dari yang aku lihat bukunya sangat tebal. Dan itu berarti banyak yang harus dipelajari," ucap Len seraya menganggukan kepalanya.
"Iyah. Dan ini tidak akan sulit jika kalian benar-benar mempelajarinya dari awal," ucap Blaise seraya tersenyum kepada semua orang yang ada disana.
"Baiklah. Aku sangat bersemangat!" ucap Rin dengan semangat yang membara. Jika ini di anime, maka akan terlhat sebuah latar dengan api yang membara di belakangnya.
"Kau terlalu bersemangat Rin-chan. Tapi aku juga sama sepertimu!" ucap Miku yang ikut-ikutan seperti Rin.
"Ha'i, ha'i. Aku bisa mengerti kalian bersemangat, tapi bisakah kalian tenang agar kita bisa memulainya?" tanya Marine mencoba menenangkan Rin dan Miku seraya tersenyum canggung.
"Baiklah. Kami sudah tidak sabar lagi!" jawab Rin dan setelah itu dia kembali tenang.
"Ayo kita mulai," ucap Miku masih dengan bersemangat.
"Oke. Akan kita mulai," ucap Blaise dan kemudian dia membalik halaman buku yang sedari tadi dia pegang. "Untuk menjadi seorang mage, kalian harus memiliki pikiran yang jernih," lanjutnya dengan membaca tulisan yang tertulis di buku tersebut.
"Heh? Maksudnya?" tanya Tei kebingungan sambil memiringkan kepalanya.
"Yang dimaksud adalah, jika ingin menjadi seorang mage, kalian tidak boleh memiliki pikiran untuk melakukan kejahatan," jelas Marine kepada mereka semua.
"Sama seperti halnya Nigaito, dia bisa menjadi mage karena pemikiran dia sangat polos. Sedikit pun tidak pernah berpikir untuk melakukan kejahatan," tambah Blaise dengan lebih jelas seraya menunjuk Nigaito yang ternyata tengah bersantai sambil meminum teh hijau kesukaannya.
"Ohh, seperti itu," ucap Len sambil menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Blaise dan Marine.
"Hey kau Kaito, sebaiknya bersihkan terlebih dahulu pikiran kotormu itu," ucap Gakupo dengan tiba-tiba seraya bangkit dari posisi duduknya dan juga menunjuk Kaito.
"Apa maksudmu itu, hah? Pikiranmu itu lebih kotor dari pikiranku," balas Kaito yang tidak terima dikatai seperti itu oleh Gakupo.
"Tapi kau sama sekali tidak menyangkal," ucap Rin yang mulai ikut-ikutan meramaikan suasana.
"Hei? Kenapa kau ikut-ikutan?" tanya Kaito bingung namun kesal.
"Dan itu membuktikan bahwa kau memiliki pikiran kotor," ucap Miku yang ternyata juga ikut-ikutan.
"Kau juga Miku? Kenapa kau tidak membelaku?" tanya Kaito masih dengan nada kesalnya.
"Kalian semua sama saja," ucap Tei seraya bangkit dari posisi duduknya dan ikut kedalam pertarungan.
"Disini akulah yang memiliki pikiran yang jernih," ucap Luka membanggakan dirinya.
"Tidak! Akulah orangnya," ucap Lapis tidak mau kalah.
"Apa maksudmu, hah? Kau itu selalu saja memiliki pemikiran yang aneh-aneh," ucap Teto menyindir Lapis.
"Hei, kau ini menuduh orang sembarangan, hah?" tanya Lapis kesal kepada Teto.
"Kalau begini, aku akan berpura-pura baik dan setelah menjadi mage aku akan menghancurkan dunia," ucap Mayu dengan datarnya.
"Aku akan mengikuti jejakmu, Mayu," ucap Zatsune mendukung Mayu.
"Kalian ini lebih buruk dari pada Kaito," ucap Ted yang entah bagaimana ceritanya bisa ada disana.
"Kenapa aku yang dibawa-bawa?" tanya Kaito entah kepada siapa.
"Kalian semua sama aja," ucap Defoko yang sepertinya mulai kesal.
"Yah, sama aja," ucap Piko mulai ikut berperang.
"Kau sebaiknya diam saja! Cowok shota sepertimu tidak akan bisa menjadi mage," ucap Miki menyindir Piko.
"Hei, apa maksud ucapanmu, hah?" tanya Piko kesal.
"Lebih baik kalian mati saja sekarang," ucap Ruko dengan nada kesal.
"Kau saja duluan," ucap Gumi tidak terima. Padahal dia tidak ikutan.
"Lebih baik tutup mulut kalian sekarang," ucap Lenka mencoba menenangkan.
"Siapa kau berani menyuruh kami?" tanya Rin kesal kepada saudara kembarnya itu.
"Aku kakak kembarmu," ucap Lenka yang juga kesal karena adik kembarnya itu berani melawannya.
"Ya ampun. Kenapa harus seperti ini?" tanya Blaise entah kepada siapa sambil memijat pelan kepalanya. Sepertinya dia mulai pusing dengan keributan yang terjadi sekarang ini.
"Ahh, aku juga tidak tahu," ucap Marine seraya tersenyum aneh kearah Blaise sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Blaise-senpai, Marine-senpai, sebaiknya kalian istirahat saja sementara. Biarkan mereka menyelesikan pertarungan ini terlebih dahalu," saran Nigaito kepada kedua senpainya tersebut.
"Berapa lama keributan ini akan berlangsung?" tanya Blaise kepada Nigaito.
"Biasanya jika di mansion, keributan seperti ini bisa mereka lakukan selama satu hari penuh," jawab Nigaito dengan polosnya.
"Apa? Satu hari penuh?" tanya Marine tidak percaya.
"Apa kau gila? Mana bisa aku menunggu selama itu," ucap Blaise yang sepertinya mulai frustasi.
"Yah mau bagaimana lagi? Mungkin mereka akan tenang saat Ray-nii dan Icy-nee kembali," ucap Nigaito yang mungkin ada benarnya.
"Tapi kapan Ray-nii dan Icy-nee kembali?" tanya Marine yang juga ikut frustasi.
"Mungkin akan lama mengingat urusan ini dengan ayahnya Ray-senpai. Kau tahu sendirikan dimana rumah ayahnya Ray-senpai," jawab Blaise dengan lemas memikirkan seberapa lama lagi keributan ini berlangsung.
"Yah, sebaiknya kita bersabar saja," ucap Nigaito yang sepertinya juga pusing melihat teman-temanya sedang melakukan perang.
"Hei! Sebaiknya kalian bersihkan dulu pikiran kalian," ucap Kaito kesal karena terus dijelek-jelekan.
"Kau berkata seperti itu seakan pikiranmu sudah jernih," balas Luka tidak mau kalah.
"Kau saja yang duluan," balas Kaito yang jugda tidak mau kalah dengan Luka.
"Kalian bisa diam tidak sih?" tanya Lenka semakin kesal.
"Kau saja yang sebaiknya diam," ucap Rin melawan Lenka yang notabene adalah kakak kembarnya sendiri.
"Apa maksudmu?" tanya Lenka yang semakin kesal karena terus dilawani oleh Rin
"Kalian ingin mati sekarang, hah?" tanya Ruko yang sepertinya juga semakin kesal.
"Tenang saja, dunia akan aku hancurkan tidak lama lagi," ucap Mayu dengan senyum aneh terhias diwajahnya.
"Aku ikut dengamu," ucap Zatsune dengan semngat.
"Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran kalian sih?" tanya Tei kesal dengan dua orang aneh tersebut yang sepertinya sangat ingin menghancurkan dunia.
"Kalian semua itu bodoh atau apa sih?" tanya Defoko kepada semua yang melakukan keributan.
"Kau berkata seperti itu seakan kau sudah pintar," jawab Ted yang tidak terima dibilang bodoh.
"Bahkan nilaimu itu tidak lebih buruk dari nilaiku," ucap Neru yang juga tidak terima.
"Apa maksud kalian berkata seperti itu padanya?" ucap Defosuke yang tidak terima saudara kembarnya dikatai seperti itu.
"Yang mereka maksud adalah dia juga sama bodohnya," ucap Lily yang ternyata sedari tadi ada disana.
"Kau berkata seperti itu seakan memiliki otak," ucap Nero ikut-ikutan.
"Hai, jangan sembarang berbicara. Tentu saja aku punya," ucap Lily kesal.
"Tapi berlapis baja," ucap Gumi menambahkan.
Dan keributan pun terus berlangsung dengan meriahnya karena mereka semua saling mengejek satu sama lain dan juga tidak terima dikata-katai terus.
Blaise, Marine, dan Nigaito pun hanya bisa terdiam dengan mereka semua. Sebenarnya ap yang mereka permasalahkan sih? Bukankah hanya karena masalah pikiran yang jernih? Sungguh, mereka ini.
"Sepertinya mereka akan sulit diajari dan mungkin butuh waktu yang sangat lama," ucap Nigaito kepada Blaise dan Marine.
"Yah, sepertinya begitu," ucap Marine setuju dengan Nigaito.
Blaise masih terdiam melihat keributan yang terjadi diruangan tersebut. Namun, seketika ekspresi wajahnya berubah ketika melihat salah seorang disana yang tampak sangat tenang. Dan orang itu sama sekali tidak ikut dalam keributan .
"Sepertinya itu tidak akan berlaku untuk satu orang itu. Dia akan belajar dengan cepat," ucap Blaise seraya tersenyum melihat orang yang dimaksud tadi.
"Apa maksudnya itu, Blaise-senpai?" tanya Nigaito bingung dengan apa yang dimaksud oleh Blaise.
"Ahh, tidak ada," jawab Blaise singkat.
"YO, KALIAN SEMUA!" teriak seseorang yang misterius dari arah pintu masuk ruangan tersebut.
Mendengar ada yang menyapa, seketika keributan berhenti. Semua yang ada di dalam ruangan tersebut melihat ke arah pintu masuk untuk mengetahui siapa yang datang. Dan, alangkah kagetnya mereka ketika mengetahui siapa dua orang itu.
Terlihat di pintu masuk ruangan itu, dua orang gadis tengah berdiri dengan santainya sambil melihat keadaan di dalam ruangan. Yang satu seorang gadis yang memiliki rambut berwarna honey blonde dan panjangnya sebetis dengan bola matanya yang berwarna amethyst. Dan yang satu lagi adalah saorang gadis dengan rambut berwarna biru laut dan bola matanya yang berwarna biru cerah seperti langit.
"Rizu," panggil Marine kepada salah seorang disana yang memiliki warna rambut honey blonde.
"Yah?" sahut gadis yang bernama Rizu itu singkat.
"Dan, err, kadal es. Eh, salah, maksudku Yuki," panggil Marine kepada seorang gadis lainnya.
"Hei! Apa maksud perktaanmu itu, hah?" tanya yang dipanggil Yuki tadi.
"Tidak ada, hanya bercanda. Ahahahaha," jawab Marine seraya tertawa hambar dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Terserah kau sajalah," ucap Yuki pasrah.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Blaise kepada dua orang itu.
"Ahh, tidak. Hanya ingin bermain saja," jawab Yuki sambil tersenyum.
"Bukankah kau datang kesini untuk menantang Icy lagi?" tanya Rizu mencoba mengingatkan tujuan Yuki sebelumnya.
"Kau diam saja," jawab Yuki kesal.
"Ehh? Ingin bermain? Itu artinya kalian juga memiliki hubungan dengan Ray-kun dan Ai-chan? Itu artinya kalian juga mengetahui bahwa mereka itu mage?" tanya Miku dengan pertanyaan yang tidak bisa dibilang sedikit.
"Tentu saja," jawab Yuki singkat.
"Hueee! Kenapa kalian tidak pernah memberitahu kami?" tanya Rin sambil merengek.
"Kalian tidak pernah bertanya," jawab Rizu dengan santainya.
"Dan sebenarnya hubungan kalian?" tanya Miku lagi.
"Yah, kau tahulah. Bisa dibilang sahabat baik," jawab Yuki.
"Bukankah kau itu musuh besarnya Icy?" tanya Rizu mencoba membenarkan perkataan Yuki.
"Sudah kubilang sebaiknya kau diam saja!" ucap Yuki semakin kesal.
"Dari pada kalian menghalangi pintu, sebaiknya masuk saja," jawab Blaise seraya mempersilahkan Yuki dan Rizu masuk.
"Baiklah," ucap Yuki yang kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan dan diikuti oleh Rizu dibelakngnya.
"Ne, jadi..."
"Ray-kun, tunggu sebentar disana, aku ingin mengambil barangku yang tertinggal,"
Ucapan Yuki pun terhenti ketika mendengar ada suara seseorang yang sepertinya sedang berjalan mendekat menuju ruangan itu. Sangat jelas terdengar dari suara langkah kakinya. Dan juga suara orang tadi sangat tidak asing di telinganya atau lebih tepatnya sudah mengenal suara itu.
Suara langkah kaki itu pun semakin mendekat dan hingga akhirnya sampai pada pintu masuk ruangan latihan. Sedangkan orang-orang yang ada di dalam melihat ke arah pintu masuk ketika merasa ada yang datang untuk mengathui siapa itu. Dan orang itu adalah Icy.
"Ne, Blaise, Marine, apa kau melihat–" ucapan Icy pun terhenti ketika melihat ada orang lain di ruangan itu yang memang tidak asing lagi dimatanya.
"Yo, Icy," sapa Yuki kepada Icy.
"Yuki? Apa yang kau lakukan disini, hah?" tanya Icy penasaran seraya masuk ke dalam ruangan itu.
"Harusnya kau sudah mengtahui apa maksud kedatanganku kesini," jawab Yuki sambil terenyum aneh kepada Icy.
"Yah, harusnya aku tidak perlu bertanya lagi," ucap Icy seraya membalas senyuman Yuki.
"Hoi, hoi. Apa-apaan mereka berdua itu?" tanya Tei yang kebingungan entah kepada siapa ketika melihat kedua orang yang bagaikan es itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rin yang juga kebingungan.
"Dan apa ini? Kenapa hawa disini tiba-tiba menjadi dingin?" tanya Miku yang memang merasa aneh dengan kedaan ruangan itu. Tiba-tiba saja udara yang ada disana menjadi dingin seketika.
"Sebaiknya kalian siapkan saja baju hangat," saran Rizu kepada orang-orang yag ada disana.
"Itu hanya jika kalian punya," ucap Blaise santai.
"Aku harap kau tidak akan menggunkan senajat," ucap Yuki kepada Icy.
"Ara ara~ Bahkan aku bisa menyelesaikannya hanya dengan menggunakan mulutku," ucap Icy meremehkan.
"Hoo, kau pikir kau sudah hebat, hah?" tanya Yuki kesal karena diremehkan.
"Tentu saja," ucap Icy dengan sebuah senyuman yang lebih terkesan meremahkan di wajahnya.
"Percaya diri sekali," ucap Yuki semakin kesal. Dan entah dari mana, tiba-tiba terbentuklah sebuah es yang melingkar besar disektar dirinya dan Icy.
"Hoo, sudah mau memulainya yah?" tanya Icy.
"Tentu saja," ucap Yuki yang sudah bersiap-siap untuk menyerang Icy.
Namun saat hendak menyerang, lingkaran es yang ada disekitar Yuki dan Icy pun tiba-tiba terbakar oleh api dan seketika itu pula mencair menjadi aneh. Dan juga, hawa ruangan yang tadinya dingin kini telah kembali normal.
"Heh, sudah kuduga pasti dia berhasil," ucap Blaise dengan sebuah senyum kemenagan terhias diawajahnya.
Merasa ada yang aneh, Yuki dan Icy pun mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika mereka sadar bahwa yang mencairkan es mereka tadi adalah, seketiak mereka berdua mengalihkan padangan ke arah Blaise. Mereka yakin pasti ini ulah Balise mengingat hanya dia yang mempunyai element api.
"Blaise, apa yang kau lakukan?" tanya Icy seraya menatap tajam ke arah Blaise.
"Yah, kenapa kau membakar dan mencairkan es kami?" tanya Yuki yang juga ikut menatap tajam ke arah Blaise.
"Maaf, bukan aku pelakunya," jawab Blaise masih dengan sebuah senyuman diwajahnya.
"Jadi siapa?" tanya Icy curiga.
"Hanya kau disini yang memiliki elemnt api," ucap Yuki dengan yakin.
"Maaf, sayang itu tidak berlaku lagi di ruangan ini," ucap Blaise santai.
"Apa maksudmu?" tanya Icy bingung.
"I–itu..." ucap Rizu yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika melihat apa yang sekarang dilihatnya, dia sungguh tidak percaya.
"Ada apa?" tanya Yuki heran.
Rizu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun dia menunjuk ke arah seseorang yang ada diruangan tersebut –minus Blaise– yang ternyata itulah yang membuat dia tidak bisa berkata lagi.
Merasa aneh dengan kelakuan Rizu, semua yang ada disana melihat kemana arah Rizu menunjuk. Dan ketika mengetahui apa yang dilihat Rizu, alangkah kagetnya mereka semua –minus Blaise– karena sungguh tidak percaya.
Yang mereka lihat adalah seorang pemuda yang tengah berdiri dengan tegak dengan rambut berwarna honey bonde diikat model ponytail dan bola mata berwarna biru safir. Dengan mengenakan sebuah kemeja berwarna jingga gelap namun dibiarkan terbuka kancingnya dan juga memakai sebuah kaos untuk dalaman yang berwarna merah. Juga memakai sebuah celana panjang hitam dan sepatunya yang juga berwarna hitam. Orang tersebut adalah–
"LEN?!"
–Kagamine Len.
Yah, Kagamine Len. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi dengan dia? Kenapa dia tiba-tiba bisa berpakaian seperti itu? Bukankah biasanya dia mengenakan seragam sekolah berwarna putih?
"Aku sudah menduganya dari awal. Pasti Len bisa berkembang dengan cepat," ucap Blaise kepada mereka semua.
"Eh? Apa maksudnya itu?" tanya Len yang sebenarnya juga bingung terhadap apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya.
"Kau sekarang adalah seorang mage tingkat awal sama seperti Nigaito. Selamat Len," ucap Blaise seraya mengucapkan selamat kepada Len.
"HEEEHHHHH?!" semua yang ada disana hanya bisa terheran-heran sekaligus kagum melihat Len.
"Secepat itukah?" tanya Miku yang benar-benar bingung.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Marine yang ternyata juga bingung walaupun dia seorang mage.
"Hah, sudah kubilang 'kan tidak akan sulit jika mempelajarinya dari awal," jawab Blaise menjelaskan.
"Apa maksdumu? Kau baru saja mengajari satu hal kepada kami," ucap Rin.
"Memang aku baru mengajarkan satu hal, namun Len sudah mempelajari banyak. Aku ingin melanjutkan bahwa jika ingin menjadi mage itu janganlah sombong, jangan terlalu membanggakan diri, sebaiknya menjadi mage itu untuk menolong orang lain tapi kalian yang tidak bisa diam," jelas Blaise panjang lebar kepada semuanya yang ada disana. Dan smua yang mendengar penjelesan dari Blaise hanya bisa terdiam.
"Ahh, jadi ini salah kami?" tanya Miku kepada Blaise.
"Tidak. Tidak ada yang bersalah disini, hanya mungkin kalian belum sebereuntung Len," jawab Blaise dengan santainya.
"Huwaha... Len, sialan kau berani mendahului aku," ucap Kaito dengan nada sedihnya yang malah ingin membuat orang muntah.
"Len-kyun, kupikir kau akan berubah bersamaku atas nama cinta," ucap Tei yang kini memperlihatkan wajah sedihnya.
"Akan aku hajar kau Len," ucap Rin mengancam.
"Ehehehehe. Maafkan aku teman-teman. Mungkin bakatku lebih baik dari pada kalian," ucap Len dengan senyuman tak berdosanya sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ahh, sudahlah, itu tidak penting. Aku akan menyelesaikan ini," ucap Yuki yang kembali bersiap ingin menyerang Icy.
"Tidak sebelum aku menyelesaikannya terlbih dahuli," ucap Icy yang juga sudah bersiap.
"Apa yang ingin kalian selesaikan? Atau kalian yang ingin aku selesaikan?" tanya seseorang dengan nada dinginnya dari arah pintu masuk ruangan tersebut.
Mendengar ada suara seseorang lainnya dari arah pintu, semua yang ada di dalam ruangan tersebut melihat siapa orang itu. Dan, seketika pula mereka semua menjadi takut ketika melihat orang itu. Ray sudah berdiri di depan pintu masuk dengan wajahnya yang sangat dingin seperti es.
"Ehh... Ha–halo, Ray... –kun," sapa Yuki kepada Ray dengan nadanya yang ketakutan.
"Ehh, ano. I–ini tidak seperti yang kau lihat Ray-kun," ucap Icy yang sepertinya juga ketakutan.
"Mereka akan bertarung lagi, Ray–kun," ucap Rizu yang entah bagaimana pula bisa dengan tiba-tibanya sudah berdiri berhadapan tepat di depan Ray.
"Rizu, tidak bisakah kau tidak mendekati tunangan orang lain?" tanya Icy kesal melihat Rizu sudah tepat berada di depan Ray.
"Aku hanya ingin mengobrol," jawab Rizu dengan santainya.
"Dan lalu Len-sama?" tanya Ray seraya melihat Len yang sudah terlihat berbeda.
"Dia sudah mengalami perkembangan," jawab Blaise singkat namun jelas.
"Baiklah kalau begitu. Kalian lanjutkan saja pelajarannya. Icy, ayo kita pergi," ucap Ray seraya mengajak Icy.
"Baiklah," ucap Icy pasrah dan kemudian berjalan keluar ruangan.
"Dan aku berharap kalian berdua bisa ikut mengjari walapun kalian bukan mage," ucap Ray dengan nada datarnya sambil menunjuk Yuki dan Rizu.
"Baiklah. Aku akan mengajari sebisaku. Ray... –kun," ucap Yuki pasrah.
"Kau bisa percaya padaku, Ray-kun," ucap Rizu dengan percaya diri.
"Ayo kita pergi, Ray-kun," ucap Icy seraya menarik Ray pergi dari ruangan itu.
Dan beberapa saat setelah Ray dan Icy kembali pergi, suasana pun menjadi tenang. Kemudian mereka semua kembali melanjutkan pelajaran yang tadinya tertunda karena adanya keributan besar diruangan tersebut.
.
.
.
.
.
~To Be Continue~
Yoho...
Bagaimana chapter?
Terserah kalian sajalah.
Icy: Sial. Padahal aku sedikit lagi akan menghabisi si kadal es.
Yuki: Siapa yang kau sebut kadal es, hah?
Ray: Diam.
Cyber: Saya kagum dengan cara mengajarnya Blaise. Hebat.
Blaise: Arigatou master.
Ray: Bahkan kau bisa menyadari orang yang berkembang dengan cepat.
Blaise: Ahh, itu bukan apa-apa.
Nigaito: Akhirnya Len-senpai, kau bisa menjadi mage juga.
Len: Sudah kubilang aku akan melampaimu.
Nigaito: Coba saja jika bisa.
Len: Tentu saja bisa karena aku akan mengancam si BakaAuthor itu.
Cyber: Hei!
Rizu: Apa kami sudah boleh pulang?
Cyber: Belum, kalian masih akan main di chapter selanjutnya.
Rizu: Baiklah kalau begitu.
Marine: Dan sepertinya kehancuran dunia masih akan berlanjut.
Cyber: Mungkin saja sesuai dengan mood saya.
Marine: Ahh, master. Kau terlalu mendalami peran.
Cyber: Oke, sekian dulu dari saya. Saya minta maaf apabila ada kesalahan dan saya ucapkan terima kasih atas perhatian karena sudah mau membaca fic ini. Dan tentunya saya sangat berterima kasih kepada Rei yang sudah mau meminjamkan Ocnya dengan senang hati.
Akhir kata saya ucapkan sampai jumpa di lain waktu.
Dahh...
#ngilang dengan yang lain.
