Setelah mengganti pakaiannya, Ciel kembali ke ruang kelas dan mulai mengerjakan soal yang diberikan oleh Mr. Randall. Soal matematika yang diberikan Mr. Randall terkenal sangat sulit, maka dari itu banyak siswa maupun siswi yang selalu belajar matematika sebelum pelajaran Mr. Randall dimulai, supaya jika terjadi ulangan matematika dadakan mereka dapat mengerjakannya dengan sekuat tenaga mereka.

Semua orang mengerjakan lembar kerja itu dengan serius. Padahal baru latihan saja tapi sudah sesulit itu. Banyak dari mereka yang saling bertukar jawaban. Tidak ketinggalan Lizzie dan teman-temannya itu. Sekarang mereka berusaha mencari korban mereka.

Ciel yang memang pandai dan memiliki kapasitas otak yang bagus dan dapat dikatakan jenius itu hanya tiduran diatas mejanya. Ya, dia sudah mengerjakan lembar kerja itu dengan lancar. Dan saat itu juga lembar kerja itu diambil oleh Lizzie yang kebetulan duduk di depan Ciel.

Srek~

Kertas latihan Ciel sukses diambil Lizzie. Ciel yang menyadari itu hanya bisa pasrah, karena dia tidak mau mencari gara-gara dengan Lizzie dan teman-temanya itu.

"Terima kasih ya, Ciel~" Lizzie mengembalikan kertas latihan Ciel yang nasibnya sudah naas. Kertas itu sudah lecek dan kusut. Ciel hanya bisa menghela nafas, sedangkan Lizzie dan teman-temannya hanya tertawa bahagia.

"Kumpulkan!" Mr. Randall tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.

"Apa?"

"Tanggung, Mr."

"Ha..."

"Sebentar lagi!"

Begitulah respon semua murid saat Mr. Randall mengatakan satu kata yang membuat semua murid kalang kabut. Hanya beberapa orang saja yang mulai mengumpulkan lembar kerja itu.

"Satu. Dua. Tiga..." Mr. Randall mulai menghitung.

"Ah...iya, Mr." semua murid segera mengumpulkan lembar kerja itu dengan tampang yang lemas tak berdaya.

"Hei, Sebastian apa yang kau lihat?" sebuah suara memanggil Sebastian.

"Ah, Alosi. Tidak ada." Sebastian yang terkejut mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

"Oh, kalau begitu bagaimana kalau kita ke LAB komputer? Aku mau main game." tanya Alois.

"Tidak. Aku mau makan saja." Sebastian berdiri dan segera keluar dari kelas yang ia pimpin itu.

.

.

.

Haru Haru

Chapter 2 : I'm sorry

Disclaimer :

Kuroshitsuji belong's to Yana Toboso

Genre :

Romance and Friendship

Pairing :

Sebastian Michaelis and Ciel Phantomhive (female)

Warning :

TYPOs, AU, OOC, dll

Bagi yang tidak bisa membayangkan Ciel sebagai perempuan, bayangkanlah dia seorang lelaki

.

.

.

"Gya!"

"Sebastian kau makin keren saja!"

"Mau makan apa?"

Itulah reaksi beberapa siswi yang melihat Sebastian masuk ke kantin. Ingat dia adalah seorang idol sekolah.

Sedangkan di tempat lain tepatnya di pojokkan kantin di kursi paling belakang pula, terlihatlah Ciel yang sedang duduk menikmati makan siangnya.

Sebastian yang sudah megambil makan siangnya itu sedang mencari tempat duduk. Kebetulan semua kursi telah terisi penuh, tersisa hanya berada di pojokkan dan disana ada seorang gadis berambut kelabu panjang yang sedang menikmati makan siangnya. Sebastian berjalan menuju tempat itu.

"Boleh aku duduk disini?" Sebastian tersenyum kepada sang gadis atau lebih tepatnya Ciel.

"Eh, boleh." Ciel menghentikan aktivitas mekannya dan melihat Sebastian yang tinggi.

"Terima kasih." Sebastian duduk dan mulai melahap makanannya. Semua mata memandang ke arah mereka berdua.

Ciel merasa risih dengan pandangan itu, terutama pandangan dari semua siswi yang melihatnya, dan dapat diperkirakan bahwa makna tatapan itu adalah akan-kuhabisi-kau. Ciel merinding.

.

.

.

Ciel P.O.V

Kenapa dia harus duduk disini? Lihat semua mata memandangku dengan tatapan heran dan

ganas.

Siswi-siswi itu seakan-akan ingin melahapku hidup-hidup.

Mengerikan.

Dia malah makan dengan santai lagi. Apa yang dia pikirkan sih?

Harusnya dia tidak duduk disini. Salahnya karena dia telat datang dan kantin telah ramai.

Ha...tapi semua ini telah terjadi. Aku hanya bisa pasrah saja.

Terima kasih untukmu, Sebastian Michaelis karena telah mengubah duniaku yang damai menjadi rusuh.

"Kenapa?" dia menoleh ke arahku.

"Ti-tidak." aku hanya memasang senyumku yang hanya kutujukan kepada orang yang dekat denganku saja.

"Kau merasa risih, ya?"

Deg~

Tepat sasaran. Perkiraannya tepat sekali di tengah.

"Hahahaha tenang saja. Mereka tidak akan memakanmu kok." Sebastian masih tersenyum.

"Hahahahaha tentu saja." aku berbohong.

"Kalau begitu lanjutkan makanmu." Sebastian menunjuk makananku yang hamper dingin.

"I-iya."

Aku hanya bisa mengatakan itu. Lidahku keluh untuk mengatakan hal yang sebenarnya kurasakan sekarang.

Ciel P.O.V end

.

.

.

Teng. Teng. Teng.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid segera keluar kelas dan berjalan menuju pagar sekolah. Tentu saja tujuan mereka adalah untuk pulang ke rumah. Tetapi ada tiga orang murid sedang melakukan tugas piket mereka.

Mereka adalah Tony, Felicia, Michael, dan Ciel.

Felicia mulai mengelap meja guru dengan telaten sedangkan Ciel membersihkan papan tulis, Tony sedang memegang kemoceng dan Michael sedang memainkan sapu.

"Ciel! Cepat bawa ember berisi air kesini!" Felicia berteriak layaknya beteriak kepada pembantunya. Ciel keluar dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil ember beserta airnya.

"Mereka merepotkan." Ciel mengeluh sepanjang perjalanan menuju kamar mandi.

Saat Ciel melewati ruang musik, Ciel mendengar harmoni indah yang dimainkan dengan gitar.

"Indah sekali." Ciel terkagum-kagum dengan lagu yang ia dengar tadi.

Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi. Dia mengambil ember dan mengisinya. Lalu berjalan pulang ke kelasnya.

"Be-berat sekali." Ciel mengangkat ember itu dengan kedua tangannya. Isinya memang tidak banyak, tapi bagi Ciel itu sudah termasuk banyak, karena tubuhnya yang kecil mengangkat benda seberat itu.

Ciel masuk ke kelasnya dan...

Bruk~

Sebuah sapu melayang kea rah Ciel dan gagangnya mendarat sukses di muka Ciel.

"Aduh!" Ciel berlutut sambil menutupi wajahnya sedangkan ember yang ia bawa jatuh dan isinya berceceran.

"Hahahahaha." suara tawa menggelegar dari ruang kelas itu.

"Ciel, kau yang bereskan, ok? Kan kamu yang membuat ini berantakan." Felicia menunjuk air yang tumpah di lantai dan membuat lantai itu becek.

Felicia, Tony, dan Michael keluar dari ruang kelas sambil membawa tas mereka, sedangkan Ciel masih berlutut di depan pintu kelas mulai mengangkat wajahanya. Dia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Saat mengelapnya dengan sapu tangan, ia melihat darah yang mengalir dari hidungnya.

"Kurang ajar mereka!" umpat Ciel sembari membersihkan sisa darah di hidungnya.

Setelah membersihkan darah itu, Ciel segera membersihkan kelas itu, supaya keesokkan harinya ia tidak disalahkan oleh Felicia, Tonydan, Michael karena tidak membersihkan kelasnya dan dia akan dibully habis-habissan oleh Felicia.

"Akhirnya selesai!" Ciel merenggangkan tubuhnya setelah membersihkan kelasnya selama satu jam.

"Saatnya pulang." Ciel mengambil tas ranselnya dan berjalan keluar dari sekolah.

Seperti biasa Ciel berjalan kaki menuju halte bis terdekat lalu naik bis itu dan pulang ke rumahnya.

Belum seratus meter Ciel berjalan, dia sudah dihadang oleh orang-orang yang tidak dikenal.

"Si-siapa kalian?" Ciel panik.

"Kau tidak perlu tahu siapa kami, yang perlu kau ketahui adalah kami akan menghajarmu." salah satu orang bertubuh tegap itu memainkan pemukul baseball yang ia bawa.

"Tung-tunggu! Apa salahku?" Ciel ketakuttan.

"Hm...karena kau telah membuat mejikanku marah." kata orang itu.

Orang itu berjalan mendekati Ciel. Ciel berjalan mundur secara perlahan. Orang itu makin mendekat. Ciel semakin ketakuttan. Saat orang-orang itu mulai mengayunkan pemukul baseballnya, ada orang yang menonjok mereka.

"Ukh..." pria itu tersungkur di depan Ciel.

"Eh?" Ciel kebingungan.

Ciel melihat Sebastian sedang memukul pria-pria itu satu-persatu. Ciel terkagum-kagum dengan aksi Sebastian.

"Kau tidak apa-apa, Ciel?" Sebastian mendekati Ciel.

"A-aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu?" tanya Ciel khawatir melihat luka-luka yang membuat lecet wajah tampan pria itu.

"Aku tidak apa-apa." Sebastian masih tersenyum dan mengambil tas gitar yang ia bawa.

"Tidak boleh dibiarkan seperti itu." Ciel menarik tangan Sebastian ke sebuah bangku yang ada di trotoar dan membersihkan lukanya dengan telaten.

Blush~

Saat tangan mungil dan halus Ciel menyentuh wajah Sebastian, Sebastian merasakan seluruh darahnya naik ke kepalanya.

.

.

.

Sebastian P.O.V

Ci-ciel?

Dia membersihkan lukaku.

Belum pernah ada orang yang membersihkan lukaku, kecuali ibuku.

Dia?

Pasti wajahku sudah semerah tomat. Belum pernah aku bertampang seperti ini di depan siapapun. Yang mampu hanya dia. Ciel Phantomhive.

Setelah kutelusuri ternyata dia anak dari pasangan Vincent Phantomhive dan Rachel Phantomhive. Nilainya uga bagus. Tetapi kenapa tidak ada orang yang memandangnya? Aku bingung.

"Apa sudah baikkan?" kurasakan tangan mungil Ciel berhenti mengelap wajahku.

"Ah terima kasih." ucapku.

"Tidak. Itu sudah sepantasnya, kau telah menyelamatkanku." dia tersenyum.

Dan senyum itu kuakui memang sangat manis.

"Ada apa? Apakah ada yang salah denganku?" tanyanya kebingungan.

"Tidak." aku bangkit berdiri.

"Terima kasih atas pengobattannya. Itu sangat membantu."

Karenanya wajahku tidak perih lagi seperti tadi.

Sebastian P.O.V end

.

.

.

Sebastian menarik tangan Ciel menuju lapangan parkir di sekolahan. Sebastian mengeluarkan kunci dari saku celananya, dan menyalakan sebuah motor biru tua.

"Ayo naik." Sebastian melempar helm ke arah Ciel.

"A-apa maksudnya?" Ciel terkejut saat menerima helm itu.

"Biar aman, kuantar kau pulang saja." Sebastian mulai menatap jalanan.

"Ba-baik." Ciel segera mengenakan helm itu dan naik ke motor Sebastian.

Sebastian mulai mengambil ancang-ancang untuk menjalankan motor, sedangkan Ciel hanya mengeratkan pegangannya pada pinggang Sebastian.

Motor itu melintasi jalan raya dengan cepat. Ciel dapat merasakan angin menembus tubuhnya.

"Dimana rumahmu?" Sebastian berteriak agar terdengar oleh Ciel.

"Di apartemen dekat pasar swalayan!" Ceil juga membalas dengan teriakkan.

"Baiklah!" Sebastian makin mengebut.

"Hei, nanti bisa ditilang!" Ciel protes.

"Tidak apa-apa!" Sebastian masih memperhatikan jalanan.

Setelah lima belas menit berkendaraan dengan ngebut, akhirnya Ciel sampai di sebuah apartemen kecil yang tidak seberapa. Sebastian hanya bisa melotot saat melihat tempat tinggal Ciel.

"Kau tinggal disini?" tanya Sebastian memastikan.

"Ya. Aku memang tinggal disini. Kenapa? Jelek ya?" Ciel mencibir Sebastian.

"Tidak kok." Sebastian tertawa masam.

"Ayo masuk. Kau sudah mengantarku, jadi aku harus memperlakukanmu dengan baik." Ciel berjalan memasuki bangunan itu dan berhenti di sebuah pintu dan memasukkan kunci dan masuk ke dalam.

Saar masuk ke dalam Ciel segera menyalakan lampu yang ada.

"Duduklah. Aku akan mengambilkan kau minum." Ciel berjalan menuju dapur. Ya, kalau masih bisa dibilang "dapur".

'Rumah ini, tidak maksudku kamar ini terlalu kecil. Buku berserakkan dimana-mana, lalu tempat tidurnya. Apa dia benar-benar tinggal disini?' Sebastian memperhatikan kamar Ciel dengan saksama.

Jika dibilang rumah juga tidak bisa, karena ini terlalu kecil. Dibilang kamar juga tidak bisa, karena ini seperti rumah yang meiliki dapur, kamar mandi, dan kamar tidur, hanya saja ini dalam satu ruangan, kecuali kamar mandi tentunya.

"Ini." Ciel memberikan minuman kepada Sebastian dan berjalan ke lemarinya dan mengeluarkan kotak obatnya.

Ciel mengeluarkan salep dan plester dari kotak obat itu dan mengobati luka Sebastian dengan telaten dan hati-hati.

"Au..." Sebastian merintih kesakittan.

"Maaf." Ciel masih fokus dengan pekerjaannya.

Sebastian menahan perih sementara Ciel menobati lukanya sehabis berkelahi tadi. Sebastian melihat Ciel dengan teliti.

'Wajahnya seperti boneka, kulitnya bagaikan sutra, matanya bagaikan permata yang tertimbun di tanah selama ribuan tahun, rambut kelabunya yang panjang menambah cantik gadis ini, dan aroma lavender.' Sebastian mulai blushing tak karuan, untung saja Ciel tidak melihat itu.

"Selesai." Ciel mengelap piluhnya.

"Te-terima kasih." Sebastian tersentak kaget dan mengulum senyumnya.

"Sama-sama." Ciel membalasnya dengan membelakangi Sebastian untuk meletakkan kotak obat itu.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Sebastian mengarahkan pandangannya keluar jendela.

"Tentu." Ciel duduk disebelah Sebastian.

"Kenapa kau tinggal disini?" Sebastian memulai dengan pertanyaan yang agak membuat Ciel terkejut.

.

.

.

Ciel P.O.V

Pasti dia kebingungan kenapa aku tinggal disini? Di tempat yang tidak layak untukku.

"Aku suka disini." aku berbohong.

"Oh. Kenapa tidak tinggal di tempat orangtuamu saja?" itu adalah pertanyaan yang paling menohok.

"Karena aku ingin mandiri." jawabku bohong lagi.

"Oh." dia mengakhiri semua pertanyaan itu dengan singkat.

Aku tidak mungkin jujur tentang masalahku kepadanya. Apalagi dia orang yang tidak kukenal dengan baik. Jadi apa alasannya aku memberitahunya?

"Ciel." dia memanggil namaku.

"Ya?" aku mengernyitkan alisku.

"Kenapa kau selalu dibully?" tanyanya dengan wajah yang mengibaratkan aku-tidak-melakukan-hal-yang-salah.

"Entahlah." jawabku jujur.

Aku memangtidak tahu apa alasanku dibully sampai seperti itu. Kadang aku dipermalukan, kadang aku dikerjai, kadang aku dicampakkan. Apa salahku sehingga terlahir di dunia ini?

Apa di kehidupan yang dulu aku terlalu banyak kesalahan? Ah, aku tidak percaya yang namanya "reinkarnasi".

Ha...jalankan saja apa yang Tuhan kehendaki, mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang berharga nanti.

"Ciel." Sebastian mendekatkan wajahnya.

Ciel P.O.V end

.

.

.

Sebastian mendekatkan wajahnya ke Ciel, Ciel yang merasa namanya dipanggil segera mengengok ke sumber suara tersebut. Bukanlah kata-kata yang ia dapat tetapi tatapan dari sang pemuda beriris red ruby itu.

"A-ada apa?" Ciel gugup dengan tatapan itu.

Sebastian mendekatkan wajahnya ke Ciel sampai Ciel dapat merasakan nafas pemuda didepannya. Lalu...

Sebastian menghilangkan jarak diantara mereka dengan sebuah ciuman. Ciel yang terkejut menutup rapat mulutnya, tetapi Sebastian tidak menyerah. Sebastian menggigit bagian bawah bibir Ciel dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Ciel. Lidah Sebastian mengabsen satu persatu gigi Ciel. Sebastian menjelajahi rongga mulut Ciel. Saliva mereka berdua menjadi satu dengan nikmatnya ciumana mereka.

"Eng..." Ciel mulai kehabisan pasokan udara.

Karena kasihan dengan Ciel, Sebastian melepaskan ciuman mereka, walaupun Sebastian masih berat hati untuk melepaskan bibir Ciel yang manis.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Ciel beteriak, nafasnya tidak terkontrol.

"Maaf. Aku hanya penasaran saja dengan kau." Sebastian memandang Ciel yang sedang menghirup udara dengan rakusnya.

"Apanya yang penasaran? Kau tahu itu adalah first kissku! First kissku direbut olehmu!" Ciel geram dengan perbuatan Sebastian yang mencuri ciuman pertamanya itu.

"Itu juga first kissku." Sebastian membalasnya dengan santai.

"Apa?" Ciel berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.

"Itu adalah first kissku." Sebastian mengulangi kalimatnya dengan memberi penekanan pada setiap suku katanya.

"Kau pasti bohong." Ciel memasang tampang curiga yang sangat imut.

"Tidak. Aku tidak bohong. Aku memang belum pernah mencium seorang gadis." Sebastian mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka dua.

"Padahal kaukan seorang idol pasti banyak gadis yang menyukaimu." Ciel mengatakan itu dengan agak berat hati.

"Ya. Tapi untuk berciuman aku sangat pemilih." Sebastian tersenyum.

"Argh, kenapa harus aku?" Ciel tidak terima.

"Soalnya kau manis dan berbeda dengan gadis lainnya." Sebastian mencubit pipi Ciel.

"Aneh." Ciel mengucapkan satu kata itu dengan datar dan dingin sedangkan Sebastian hanya bisa tertawa mendengar itu.

"Apa yang lucu?" wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.

"Kau itu imut dan manis jika sedang marah dan kesal. Apalagi kalau mengatakan sesuatu dengan datar dan dingin begitu. Makin imut saja kau." Sebastian mencubit pipi Ciel lagi.

"Eh sudah sore. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok. Bye~" Sebastian berjalan keluar meninggalkan Ciel kebingungan.

"B-bye~" Ciel membalasnya dengan kebingungan lagi.

Sebastian keluar dari apartemen Ciel dan mengendarai motornya ke jalan raya yang kosong melompong. Dengan kecepattan tinggi Sebastian memacu motor kesayangannya itu dengan cepat.

Di dalam pikirannya saat ini hanyalah Ciel. Ciel Phantomhive telah membuat dunianya berubah. Begitu juga dengan Ciel.

~To Be Continued~

Author Note :

Hai saya datang unutk melanjutkan cerita ini.

*lirik keatas*

Ah...pendek dan jelek sekali TT^TT *nangis guling-guling

Ini adalah fic pembebassan author dari MID semester yang telah berakhir hari ini. *ketawa nista*

Terima kasih telah mereview fic ini (_ _) Saatnya balas review~

Dimitri Light : Ha...berarti kita sehati, kak *plakk* Nggak apa-apa kok kak, saya tahu kakak sibuk #sotoy# Hahahaha saya mah inget yang pas kita di Facebook, kak. Sudah saya keluarin kak.

Kusa : Sudah saya lanjut :D semoga puas dengan chapter ini. Saya takut nggak ada yang baca karena fem!Ciel *pundung*

Rose : Saya sudah update! Iya kasihan ya Ciel U.U

Chiko-silver lady : Makasih atas dukungannya, Chiko-san. Oh...Goddess of Death saya lanjut kok, nggak bakal saya discontinued kok. Semoga ini panjang. *lirik ke atas*

Nah...saya sekarang mau pergi les mandarin dulu, bye~

Satu kata...

Review!