Ciel duduk di bangkunya. Melamun. Ciel sedang melamun. Kejadian kemarin masih terputar jelas di otaknya.
"Ah." Ciel membaringkan kepalanya di meja sembari menatap langit cerah di luar sana.
"Hei hei Sebastian sudah datang." suara Caroline menyita perhatian semua gadis di kelas tersebut, kecuali Ciel.
"Pagi, semua!" Sebastian menyunggingkan senyumnya yang menawan.
Ciel masih menatap langit cerah. Suara bising dari dalam kelas membuat Ciel tidak tahan akhirnya Ciel menutup telinganya dan bangun dari kursinya dan duduk lagi, tetapi...
Bruk!
Sebuah suara menyita perhatian kelas lagi. Ternyata Ciel terjatuh ketika hendak duduk kembali di kursinya.
"Hahahahaha~" suara tawa dari semua orang yang ada di dalam kelas itu meledak seketika, kecuali Sebastian. Ciel hanya bisa meringis kesakitan.
"Sakit." Ciel bangkit dari lantai marmer dan kembali duduk di bangkunya dan menutup wajahnya dengan tangannya.
Ia sangat malu.
Sebastian yang melihat itu hanya bisa melihat kasihan Ciel. Ia tidak mau Ciel mendapat masalah jika dekat dengannya, apalagi kemarin Sebastian telah mencium bibir perawan Ciel.
"Kukutuk kau, Michaelis."
Itulah kalimat terakhir yang Sebastian ingat saat dia keluar dari kamar Ciel, ralat, rumah Ciel. Dia memang tidak berteriak tapi Sebastian dapat mendengarnya dengan jelas.
Srek~
"Galaksi datang!" teriak Alois masuk ke dalam kelas dengan tampang horror sehingga semua murid segera duduk di tempatnya masing-masing.
"Selamat pagi, anak-anak." Sapa Mrs. Angela.
Ya, Mrs. Angela mempunyai julukan di kalangan murid-murid. Galaksi. Itulah julukannya, artinya "galak" dan "seksi". Sungguh murid-murid zaman sekarang memang keterlaluan.
"Buka PR kalian." Mrs. Angela memasang senyum yang manis tetapi bagi murid-murid itu adalah senyum pembunuh.
Semua murid mengumpulkan PR mereka. Ciel yang mencari PRnya sekarang telah berkeringat dingin, karena ia tidak menemukan PRnya. Sekarang Ciel merasakan hawa membunuh dari arah depan.
"Ciel, mana PRmu?" Mrs. Angela tersenyum.
Ciel menelan ludahnya. Lalu berdiri dan berjalan keluar kelas dengan diiringi tawa yang menggema di seluruh kelas.
"Nona Phantomhive, sekarang ambil dua buah ember yang diisi dengan air." Mrs. Angela masih memasang senyumnya.
.
.
.
Haru Haru
Chapter 3 : Holiday
Kuroshitsuji belong's to Yana Toboso
Genre :
Romance and Friendship
Pairing :
Sebastian Michaelis and Ciel Phantomhive (female)
Warning :
TYPOs, AU, OOC, dll
Bagi yang tidak bisa membayangkan Ciel sebagai perempuan, bayangkan saja dia sebagai laki-laki
.
.
.
"Menyebalkan!" umpat Ciel dalam hati.
Sekarang Ciel sedang berdiri di koridor sekolah, tepatnya di depan kelasnya sambil membawa dua buah ember yang berisi air.
"Hahahaha nanti kau tidak bisa tinggi, loh." Sebastian keluar dari kelas itu.
"Diam kau, Michaelis!" Ciel menendang tulang kering Sebastian, sedangkan Sebastian hanya meringis kesakitan.
"Kau galak juga ternyata. Sini!" Sebastian mengambil salah satu ember yang ada di tangan Ciel. "Kasihan kamu, nanti tidak bisa tinggi." lanjut Sebastian dan sebuah ember berhasil mendarat di kepala Sebastian dengan sangat sukses.
Kring!
Suara bel tanda istirahat terdengar, Sebastian segera lari dengan cepat dari tempat itu.
"Eh?" Ciel hanya bisa sweatdrop.
"Nona Phantomhive." panggil Mrs. Angela dengan suara yang merdu namun menyiratkan ancaman bahaya.
"I-iya, Mrs. Angela." Ciel meletakan embernya di lantai.
"Lain kali jangan ulangi hal itu lagi." Mrs. Angela meletakan tanganya di kepala Ciel dan mengusap lembut kepala Ciel.
"Iya." Ciel menundukkan kepalanya lalu pergi ke kantin.
"Hei, kau sudah dengar gosip yang sedang hangat, belum?" tanya Avril.
"Belum. Memangnya apa?" jawab Caroline.
"Katanya Lizzie berpacaran dengan Sebastian." Avril menyeruput capuccinonya.
"Ha? Bukannya Lizzie masih pacaran dengan Alois?" Caroline yang terkejut hampir menyemburkan tehnya ke wajah Avril.
"Iya. Aku juga tidak tahu. Inikan baru gosip." Avril memakan sandwichnya.
Di salah satu meja, Ciel mencuri dengar pembicaraan musuhnya itu.
'Jadi dia sudah pacaran dengan Lizzie?' pikir Ciel.
Selesai makan Ciel berjalan menuju perpustakaan sekolah. Ciel selalu menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku.
Sekarang Ciel sedang berada di sebuah rak buku yang berisi tentang buku anatomi. Ya, cita-cita Ciel adalah menjadi seorang dokter.
Ciel mengambil beberapa buku anatomi dan mulai mencari tempat yang nyaman untuk membaca buku. Akhirnya Ciel mendapatkan tempat yang nyaman. Di pojok perpustakaan dekat jendela tepatnya.
"Makanan dicerna dengan enzim pepsin, HCL, dan sebagainya." Ciel mulai membaca buku itu dengan teliti.
Kring!
"Akh, baru saja dibaca sudah bel. Aku pinjam saja kalau begitu, tapi apa waktunya cukup ya?" Ciel bermonolog sendiri sembari berjalan ke meja administrasi di perpustakaan itu.
"Permisi, saya ingin meminjam buku ini." Ciel berkata dengan lembut, sedangkan sang penjaga perpustakaan menurunkan koran yang ia baca dan memincingkan matanya kepada Ciel. Ciel merasa risih ditatap seperti itu.
"Tentu boleh, tapi harus dikembalikan tiga hari lagi." penjaga perpustakaan itu memberikan cap di buku itu.
Setelah selesai, Ciel segera berlari menuju ruang kelasnya.
"Ah, setelah ini pelajaran mandarin. Membosankan." Ciel menghela nafas dengan berat dan duduk di tempat duduknya. Lalu pintu terbuka menampilkan seorang wanita berwajah oriental dan pakaian khasnya itu.
"Wuan, laoshi(1)!" semua anak-anak berdiri dan mengucapkan salam.
"Sekarang kita akan memulai YCT(2)." guru itu menyeringai lebar.
"APA?" semua murid shock.
"Kami belum belajar, laoshi(3)." Caroline mengemukakan pendapatnya.
Guru itu segera membagikan lembar soal dan lembar jawabannya. Pusing. Itulah yang para murid itu rasakan sekarang, setelah melihat soal yang ada disitu. Semuanya hanzi (4). Setelah dua jam berlalu akhirnya semua murid itu selesai mengerjakannya. Semua murid merenggangkan badannya.
Ya, St. Lucia Senior High School memang mempelajari berbagai macam bahasa, seperti Mandarin, Jerman, Prancis, dan sebagainya, oleh sebab itu sekolah ini menjadi sekolah favorite di Inggris, karena banyak lulusan sekolah ini yang diincar untuk bekerja di segala macam bidang.
Sekarang guru tu menjelaskan tentang kata hubung dalam bahasa mandarin. Ciel mulai mengantuk karena pelajaran ini. Matanya sudah mulai tertutup namun kembali terbuka lagi karena suara bel sekolah yang nyaring.
Akhirnya sekolah selesai, dan banyak murid yang menyerukan, "Thanks, God. It's Friday."
Ciel berjalan menuju pintu keluar sekolah itu. Seperti biasa ia pulang paling telat, karena menuggu semua murid untuk pergi. Tetapi sepertinya kesialan menimpanya hari ini. Langit sedang berduka kali ini, hujan turun dengan deras. Ciel hanya bisa menghela nafas berat.
"Bagaimana aku bisa pulang?" Ciel merogoh tasnya untuk mencari sebuah payung.
"Untung saja!" Ciel berteriak kegirangan karena menemukan sebuah paying dari dalam tasnya. Tidak ia sangka ada sebuah payung didalam tasnya.
Ciel segera membuka payung itu dan menerobos hujan dengan santai. Ciel berjalan dengan tenang, tetapi tidak disangka ada sebuah mobil sedan hitam yang dengan kasar mencipratkan air kotor kepadanya.
"Tunggu, kenapa nggak basah ya?" Ciel membuka matanya perlahan.
Tin. Tin.
Sebuah suara berisik terdengar. Suara itu terdengar dari belakang Ciel. Apa itu? Apakah itu mobil? Apakah itu motor? Berisik sekali! Pikir Ciel dengan emosi. Entah kenapa emosinya sering meluap-luap dua hari terakhir ini.
Tin. Tin.
Suara klakson yang membuat Ciel mumet itu akhirnya berhenti ketika Ciel menghadap kearah pemilik motor itu, yang tidak langsung berada disampingnya saat ini.
"Kau mau ikut atau tidak?" Sebastian memberhentikan motornya di depan Ciel dan menyerahkan helm kepada Ciel.
"Kalau mau mengajak bilang daritadi! Tidak perlu mengklakson berkali-kali! Telingaku hampir budeg tahu!" Ciel memakai helm itu dan menaiki motor Sebastian.
"Maaf... Aku kira itu akan berhasil!" Sebastian terkekeh pelan.
"Tapi... Kenapa kaki dan bagian bawah motormu kotor sekali? Ah jangan-jangan kau..." perkataan Ciel diinterupsi oleh Sebastian.
"Ya, aku yang membuatmu tidak kotor! Jadi sebagai balasannya kau harus mau kuantar pulang!" Sebastian tersenyum dengan tampang yang menyeramkan.
Dengan polosnya, Ciel meng"iya"kan perkataan Sebastian tadi. Dan sekarang Ciel memakai helmnya dan naik ke kursi penumpang di bagian belakang.
Tanpa banyak bicara dan pikir panjang, Sebastian segera menjalankan motor itu dengan cepat. Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai di "rumah" Ciel. Hujan telah reda dari tadi, tetapi matahari masih malu-malu untuk keluar.
Ciel menutup payungnya dan melepas helm itu. Ciel merapikan rambutnya yang berantakan karena angin yang kencang selama menaiki motor.
"Kau ini mengebut seperti seekor hewan yang telah mendapatkan mangsanya saja!" Ciel memasuki rumah kost-kostannya itu.
"Oh ya Ciel!" Sebastian menarik tangan Ciel dengan agak kasar.
"Au ada apa?" Ciel terpaksa membalikan badannya menghadap Sebastian.
"Apakah besok kau bebas? Kalau bebas maukah kau pergi bersamaku?" Sebastian menggenggam pergelangan tangan Ciel makin kuat.
"Akh!" Ciel meringis kesakitan.
"Jawab aku!" Sebastian sepertinya sudah tidak sabaran.
"Iya aku bebas besok! Memangnya mau kemana?" Sebastian melonggarkan cengkeramannya.
"Temani aku saja!"
"Kenapa kau tidak minta Lizzie saja yang menemanimu?" Ciel berkata dengan sinisnya.
"Apa?" Sebastian tampak bingung.
"Bukankah kau sudah berpacaran dengan Lizzie?" Ciel mengatakan sebuah gosip terhangat di sekolah.
"Aku tidak pacaran dengannya." Sebastian menjawabnya dengan polos.
"Oh." Ciel berusaha lepas dari Sebastian.
"Jawab aku, Ciel Phantomhive!" entah kenapa sepertinya Sebastian menjadi sangat agresif kali ini.
"Ba-baiklah!" jawab Ciel pasrah.
"Kalau begitu aku tunggu kau di taman kota jam sepuluh." Sebastian menyalakan motornya dan pergi secepat kilat.
"Orang itu kasar sekali hari ini!" Ciel berjalan menuju rumah mungilnya.
Ciel merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menatap langit-langit kamar yang berukuran empat kali empat meter itu. Jam telah menunjukan pukul sembilan malam. Pakaian Ciel telah berubah dari pakaian sekolah menjadi pakaian tidur. Ia bingung dengan sikap Sebastian hari ini. Selama larut dalam pikirannya, ia tertidur pulas.
~ooOoo~
Pagi hari telah datang. Cahaya matahari menerobos gorden tipis Ciel. Ciel bangun dan merenggangkan tubuhnya. Ia sedikit melakukan latihan terhadap tubuhnya sebelum ia teringat dengan janjinya dengan Sebastian.
"Ya ampun! Jam berapa sekarang?" Ciel melirik jam dindingnya. Jam manis itu menunjukan pukul sembilan tepat. Sekarang Ciel bergegas ke kamar mandi dan mambawa pakaiannya.
Keluar dari kamar mandi, Ciel sudah rapi dengan kaus bertuliskan "I Love Boyfriend" dan celana leging. Rambutnya masih basah karena keramas tadi. Ia segera menghadap cermin dan merapikan rambutnya yang basah dan acak-acakan itu.
Selang beberapa menit, sekarang ia telah siap untuk berkencan. Apa? Berkencan? Tunggu dulu ini hanya pertemuan antar teman saja, bukan kencan!
Ciel keluar dengan tas selempangannya. Tidak lupa ia mengunci pintunya dan pergi ke taman kota yang tidak jauh dari rumahnya.
"Lama sekali!" Sebastian melihat jam tangannya ketika Ciel datang menghampirinya.
"Maaf, aku bangun kesiangan tadi." Ciel menjulurkan lidahnya, tetapi ia juga terkejut dengan pakaian Sebastian. Sekarang Sebastian mengenakan kaus hitam bergambarkan gitar lalu dia mengenakan celana panjang hitam. Tampan. Ciel bersemu merah saat ketahuan memerhatikan Sebastian.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Ciel gugup.
"Berkencan!" Sebastian menarik tangan mungil Ciel. Ciel mebelalakan matanya.
Selama satu hari itu mereka pergi berjalan-jalan. Mereka sangat senang. Mereka mengunjungi banyak tempat yang indah dan menyenangkan. Belum pernah Ciel merasakan hal ini sebelumnya.
Tiba saatnya makan siang. Mereka memasuki sebuah café dan berbincang-bincang. Sebastian berkata bahwa ini adalah café milik orangtuanya. Ayah Sebastian mendatangi putranya dan menatap Ciel dengan ramah.
"Apa dia pacarmu?" tanya Ayah Sebastian. Pertanyaan itu sukses membuat Ciel memerah seperti kepiting rebus yang siap untuk dimakan.
"Bu-bukan. Kami hanya teman saja!" Ciel tersenyum dan menyanggupi pertanyaan Ayahnya Sebastian dengan gugup.
"Kau pandai memilih perempuan, nak!" Ayah Sebastian menepuk punggung Sebastian dan perkataan itu membuat Ciel semakin malu, tapi tidak bagi Sebastian. Sepertinya dia sudah biasa dengan itu.
"Frank, berhenti buat anak ini malu!" seorang wanita parubaya keluar dan memukul kepala Ayah Sebastian.
"Selamat siang, Bu!" Sebastian tersenyum.
"Se-selamat siang, Tuan Michaelis dan Nyonya Michaelis." Ciel memberi salam kepada orangtua Sebastian.
"Wah kau anak yang manis." Ibu Sebastian tersenyum. Ibunya sangat cantik dan Ayahnya juga tampan, pantas saja Sebastian juga tampan. Tunggu? Apa yang Ciel katakan barusan? Tampan? Hoho mungkin Ciel sudah terperangkap oleh Sebastian.
"Te-terima kasih, Nyonya." Ciel membalasnya.
"Jangan memanggil kami begitu! Kaukan teman anak kami, panggil saja bibi dan paman." Ibu Sebastian kembali tersenyum. Mungkin dari ibunyalah Sebastian menjadi seseorang yang senang sekali tersenyum.
"Baiklah, Bi!" Ciel menunduk malu.
"Ah lebih baik kita pergi saja. Jangan ganggu kedua anak muda ini!" Ayah Sebastian mendorong istrinya untuk menjauh.
"Keluargamu ramah ya?" celetuk Ciel setelah pasangan Michaelis itu pergi.
"Ya mereka memang ramah." Sebastian memerhatikan Ciel dengan seksama.
"Hari yang menyenangkan, Ciel. Kuharap kita dapat melakukannya lagi." Sebastian menurunkan Ciel di depan rumahnya.
"Ya. Terima kasih!" Ciel menunduk malu.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di kening Ciel. Ciel terkejut dengan apa yang ia dapat tadi. Sementara itu Sebastian mulai menyalakan motornya dan hendak pergi. Tetapi sebelum pergi, Sebastian mendapatkan sebuah ciuman tulus dari Ciel di bagian pipi kananya. Ciel yang malu segera berlari masuk ke dalam rumahnya, Sebastian hanya bisa tersenyum kecil.
~ooOoo~
Setelah kejadian itu, Sebastian dan Ciel jarang sekali bertemu. Saat pelajaran musik kali ini. Guru musik itu meminta murid-muridnya untuk berpasangan dan membuat sebuah lagu yang akan diseleksi untuk dinyanyikan saat ulang tahun sekolah. Karena jumlah murid kelas itu genap, jadi semua murid akan berpasangan dua-dua dalam setiap kelompok.
"Tulis nama kalian dan pasangan kalian di secarik kertas, lalu berikan itu kepada saya!" ucap guru musik itu dengan lantang
Semua murid sedang sibuk mencari pasangan mereka, tetapi Ciel hanya diam memerhatikan mereka semua. Ia tahu ia akan mendapat pasangan sisa, tetapi tidak disangka, Sebastian menghampirinya dan memintanya menjadi pasangannya.
Semua gadis menatap Ciel penuh arti, dari "Akan kuhajar kau!", "Apa?", "Kenapa dia buaknnya aku?" dan masih banyak lagi umpatan yang dapat menjelaskan tatapan mereka semua. Tetapi satu yang Ciel tahu pasti, semuanya menyatakan tidak setuju dan kebencian.
Sebastian yang menunggu jawaban Ciel akhirnya memutuskan mengambil secarik kertas dan menuliskan namanya dan Ciel disana. Sebastian menyerahkan kertas itu kepada guru musik dan mereka telah resmi menjadi pasangan untuk beberapa hari kedepan sampai lagu itu selesai diseleksi.
~To Be Continued~
Author Note :
Wah maaf ya, updatenya lama baaaangeeet! *ditendang readers* maklum orang males, jadi lama deh *innocent face* Hehehehe chapter ini pendek banget ya? *udah tahu masih nanya* maaf, soalnya saya lagi menderita gatal di tenggorokan saya, jadi susah konsentrasi. Sebagai gantinnya, di chapter depan saya bikin yang "hot" dan lebih panjang deh...
Nah tadi ada kata-kata yang nggak jelas kan sini saya jelasin *plakk*
(1) : itu bahasa Mandarin yang artinya "Selama Sing, Guru!"
(2) : itu singkatan dari "Youth Chinesse Test" test yang diadakan oleh pihak penyelenggara tiap tahun di Indonesia.
(3) : itu artinya guru dalam bahasa Indonesia.
(4) : tulisan mandarin aslinya. Bisa dibilang kanjinya.
Nah kalau begitu saya mau bales review dulu ya :)
Kusa : Wah maaf ya Kusa-san, chapter ini pendek banget. Otak saya lagi konslet karena harus mikirin karangan untuk Mandarin sama lagi sakit nih TT^TT
Rose : Hahahaha iya ada Sebby disana. Dia nungguin kamu loh *ditonjok* Ini udah update!
WhateverIWannaBe: Hahahaha nggak apa-apa kok.. Itu memang salah saya, maaf. Saya akan perbaiki lagi. Makasih koreksinya, mau koreksi lagi? :D
Aldy SangErich : Maaf nggak bisa update kilat (_ _) iya itu kesalahan saya, maklum ngerjain malem-malem jadi ya gitudeh (?)
Akhir kata.. Review Please!
