Saat istirahat makan siang. Semua murid, khususnya yang perempuan masih tetap di dalam kelas unutk merundingkan apa yang akan mereka lakukan kepada Ciel nanti, tetapi itu semua kandas karena Sebastian selalu bersama Ciel.
"Bagaimana kalau hari Sabtu nanti kita mengerjakan tugas musik ini?" Sebastian duduk di sebelah Ciel yang sedang risih dengan tatapan semua gadis yang ada di kelasnya.
"E-etto..." aura hitam menyelimuti seluruh ruang kelas sekarang. Ciel makin takut untuk berbicara.
Sebastian yang menyadari adanya bahaya yang akan datang, melakukan tindakan bodoh yang luar biasa gila. Dia mengecup bibir Ciel dan makin membuat aura hitam itu semakin membesar.
Ciel yang shock tidak dapat berpikir jernih. Dai takut sepulang sekolah nanti, dia akan di teror. Mengerikan. Jika perempuan sudah marah apalagi karena cinta, itu akan menjadi masalah besar.
"Hei...Michaelis! Apa yang kau lakukan huh?" Alois mendekati mereka berdua.
"Hm?" Sebastian menatap Alois datar. Alois menarik Ciel pergi dari tempat itu.
Alois menarik Ciel ke atap sekolah. Karena kekuatannya tidak dapat dibandingkan dengan Alois, Ciel hanya bisa pasrah. Setelah sampai Alois melepaskan genggamannya dari Ciel.
"Alois?" Ciel mendekati Alois.
Grab!
Alois menangkap pergelangan tangan kiri Ciel dan memojokannya di tembok. Posisinya sekarang Ciel berada dibawah Alois. Tangan kanan Alois melumpuhkan tangan Ciel yang kecil, sedangkan tangan kirinya memenjarakan Ciel dengan menyentuhkan telapak tangannya dengan tembok.
"A-Alois..." Ciel mulai ketakutan sekarang. Dai belum pernah melihat Alois yang seperti itu.
Mereka memang sahabat sejak kecil, tetapi Alois belum pernah seperti ini sebelumnya. Ciel mulai khawatir dengan keadaan Alois, tetapi dia lain pihak ia juga takut dengan Alois yang sekarang.
Alois merapatkan tubuhnya sehingga jarak antara mereka sangat tipis. Ciel mulai merasakan sesuatu yang tidak enak sekarang. Tangan kiri Ciel berusaha memberontak, tetapi itu tidak berhasil.
"Alois~" panggil Ciel sekali lagi.
Alois yang tidak mendengarkan Ciel makin mempersempit jarak diantara mereka. Alois mengeratkan genggamannya. Akhirnya bibir mereka bersentuhan. Dingin. Bibir Alois sangat dingin. Alois melepaskan kecupan singkat itu dan menatap Ciel yang terlihat shock.
"Sudah lama aku menahan perasaan ini, tetapi sekarang aku tidak dapat menahannya lagi." Alois kembali mengecup bibir Ciel dan turun kebagian leher. Ia menggigit leher putih Ciel. Ciel mengerang sedikit.
Plakk!
Saat pertahanan Alois lengah, Ciel menamparnya. Alois terlihat terkejut namun tersenyum. Ciel menahan air matanya, sedangkan Alois memegangi pipi kanannya yang ditampar oleh Ciel. Panas.
"Aku tidak tahu kalau kau orang yang seperti ini." Ciel pergi meninggalkan Alois di atap. Alois terduduk di lantai dengan wajah yang muram, ia bertekad untuk tidak memberikan Ciel kepada Sebastian.
.
.
.
Haru Haru
Chapter 4 : Triangle Love
Disclaimer :
Kuroshitsuji belong's to Yana Toboso
Genre :
Romance and Friendship
Pair :
Sebastian Michaelis & Ciel Phantomhive (female), Alois Trancy & Ciel Phantomhive (female)
Warning :
OOC, AU, TYPOs, dll
Bagi yang tidak bisa membayangkan Ciel sebagai perempuan, bayangkan saja dia sebagai laki-laki.
.
.
.
Sepulang sekolah, Ciel segera pulang dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau menemui gadis-gadis yang marah. Seperti biasa, ia menunggu bis di halte dekat sekolah. Sembari menunggu, ia memainkan ponselnya dan tiba-tiba itu berdering.
"Halo?" Ciel menyapa suara diseberang sana.
"Ciel! Apa kau baik-baik saja, Sayang?" sebuah sura tinggi khas wanita parubaya terdengar.
"Aku baik-baik saja, Bi." Ciel tersenyum lembut setelah mendengar bahwa bibinya yang menelponnya.
Ciel yang kehilangan orangtua saat masih kecil dirawat oleh adik ibunya, Angelina Dureless. Angelina yang bekerja di Amerika sebagai dokter. Ciel yang tidak mau mengikuti Angelina ke Amerika tetap tinggal di Inggris. Walaupun seperti itu, Angelina tetap mengawasi Ciel layaknya anaknya sendiri.
"Baguslah kalau begitu. Maafkan Bibi ya sayang, Bibi sangat sibuk jadi belum dapat menjengukmu. Pasti berat tinggal sendirian di Inggris dengan rumah yang kecil seperti itu." Angelina berceramah panjang lebar.
"Ya, tak apa-apa, Bi. Yang penting Bibi sehat." Ciel membalasnya.
Tut. Tut. Tut.
Sambungan telepon itu terputus seketika.
"Bibimu ya?" Sebastian menyandarkan kepalanya di bahu Ciel.
"K- kau? Kau mendengar semuanya?" Ciel terkejut, hampir saja ia menampar Sebastian.
"Ya dan sepertinya kau sangat sayang kepada Bibimu itu." Sebastian mencium leher Ciel.
"Tentu saja!" Ciel berdiri dan hampir membuat Sebastian jatuh.
"Hahaha bagaimana denganku?" tanya Sebastian jahil.
"Kau? Kau adalah stalker mesum yang suka mengurusi orang lain!" Ciel menaiki bis yang berhenti.
"Stalker?" Sebastian tertawa geli ketika diberikan julukan itu.
Di tempat yang jauh, Alois mengamati semua kejadian yang baru saja terjadi. Ia menggigit bibir bagian bawahnya.
"Aku tidak akan memberikan Ciel kepadamu!" Alois mengepalkan tangannya kuat-kuat.
~ooOoo~
Di rumah, Ciel sedang membersihkan rumah kecilnya agar nyaman.
Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu rumah Ciel. Ciel berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia terkejut dengan tamu yang datang. Alois.
"A-apa yang kau lakukan?" Ciel tergagap.
"Ayo masuk." Alois memasuki rumah Ciel dan menguncinya.
"Ada apa..." belum selesai Ciel menyelesaikan kalimatnya tubuhnya telah direbahkan diatas kasur mini miliknya oleh Alois.
"Kau hanya milikku seorang." Alois membuka kancing bajunya yang paling atas.
"Alois~" Ciel berusaha memberontak tetapi gagal.
Sekarang Alois mencium Ciel dengan kasar. Dijambaknya rambut panjang Ciel hingga berantakan, lalu ia menarik kepala Ciel agar mendekat. Ciel yang ketakutan, menutup mulutnya rapat-rapat. Alois yang kesal menggigit bibir bagian bawah Ciel dan akhirnya Ciel membukanya.
Lidah Alois menyusuri rongga mulut Ciel. Manis. Lidah Alois mengabsen gigi-gigi Ciel yang rapi. Saliva mereka bercampur. Saat Alois melepaskan ciuman itu, terdapat benang saliva tipis yang menghubungkan kedua mulut mereka.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan ke tahap yang lebih intim lagi?" Alois membuka dua kancing baju Ciel yang paling bawah, sehingga memperlihatkan bagian perut Ciel.
"Alois!" Ciel berteriak tepat di depan telinga Alois. Alois tersentakdan kemali ke dunia nyata.
"Ma-maafkan aku Ciel." Alois bangun dari posisinya dan duduk. Ciel menatap Alois dengan air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya. Ciel merapikan pakaiannya dan rambutnya dengan berlinangan air mata. Sebuah tangan memeluk Ciel dan menariknya kedalam sebuah pelukan.
"Aku tidak suka kalau kau dekat-dekat dengan Sebastian." Alois memeluk Ciel semakin erat.
"Aku tidak punya hubungan dengannya." Ciel mengusap air matanya di sela-sela pelukan itu.
"Tetap saja. Kau akan menyukainya suatu hari nanti dan aku tidak akan membiarkan itu!" Alois mencium kening Ciel.
Apa itu benar? Apa aku akan menyukai stalker mesum itu? pikir Ciel dalam-dalam.
"Lalu apa yang akan kau lakukan untuk itu?" Ciel menantang Alois dan sudah berhasil lepas dari pelukan Alois.
"Entahlah. Mungkin aku akan membunuhnya." Alois mengatakannya dengan santai.
"Membunuhnya?" mata Ciel membulat sempurna.
"Bisa saja." Alois berdiri dan menarik Ciel yang tadi terduduk di lantai kedalam kecupan hangat tanpa nafsu sama sekali.
"Itu berbahaya." Ciel menatap mata biru langit Alois dalam-dalam.
"Jika itu untuk mendapatkanmu, aku akan melakukan apa saja." Alois tersenyum layaknya iblis dan membuat Ciel merinding.
~ooOoo~
Hari ini adalah Sabtu, dua hari setelah kejadian Alois yang mengunjungi Ciel. Sekarang Ciel dalam perjalanan menuju rumah Sebastian. Mereka ingin menyelesaikan tugas musik yang diberikan kepada mereka. Menyebalkan memang harus bertemu dengan stalker mesum itu. Tetapi ini akan menjadi nilai mereka. Apalagi ini akan dikerjakan di rumah Sebastian. Mengerikan~
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama. Lumayan. Garis bawahi kata lumayan itu, karena rumah Sebastian sangat jauh dari rumah Ciel. Sesampainya di rumah Sebastian yang berupa hotel kelas atas. Apa yang terjadi sebenarnya?
Orangtuanya tinggal disini? Ciel memasuki lift dan menekan angka sepuluh. Ya, ruamahnya berada di lantai sepuluh. Untungnya Ciel tidak punya phobia ketinggian. Setelah sampai, ia mencari nomor kamar Sebastian. Merepotkan memang.
Akhirnya setelah lima menit, Ciel menemukan kamar Sebastian. Ia tekan bel rumah itu dan Sebastian membukakan pintunya. Ciel memasuki kamar itu dan terkesan.
Tembok dengan kertas dinding berwarna krem, gorden merah marun yang indah dipasang di jendelanya. Meja tamu berbentuk persegi panjang berwarna hitam dan sofa panjang untuk empat orang berada di sisi kanan dan kiri meja tersebut. Lantainya marmer.
Sudah lama Ciel tidak ke tempat mewah seperti ini semenjak orangtuanya meninggal. Rumahnya yang dulu sangat besar dan megah. Ciel selalu bermain petak umpet di dalam rumahnya.
"Dimana orangtuamu?" Ciel menyembunyikan kekagumannya.
"Mereka sudah kembali." Sebastian berjalan menuju sebuah kamar.
"Kembali?" Ciel mengernyitkan alisnya.
"Mereka tinggal di kota sebelah dan aku bersekolah disini. Setiap sebulan sekali mereka akan menjengukku disini." Sebastian menjelaskan kehidupan sehari-harinya sedangkan Ciel hanya bisa ber"oh" ria saja.
"Jadi kapan kita mengerjakan tugas musiknya?" tanya Ciel yang duduk di sofa.
"Tentu saja sekarang." Sebastian keluar dari kamarnya dan membawa gitarnya.
"Jadi apa yang akan kita buat?" Ciel melihat gitar itu.
"Aku sudah membuat nadanya, hanya tinggal liriknya saja." Jelas Sebastian.
"Kau sudah membuat nadanya? Coba kudengar."
Sebastian memetik gitarnya dan mulai memainkan nada yang sudah ia buat dua hari yang lalu. Nada yang ceria dan indah.
"Ah bagaimana kalau untuk bait pertama kau menyanyikan lirik..."
Begitu terus hingga proses penambahan dan pengurangan lagu itu selesai. Pada akhirnya lagu itu menjadi lagu yang indah dan bagus. Liriknya sangat menarik.
"Kau mau minum apa?" Sebastian bangkit berdiri.
"Tidak perlu." Ciel mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Aku tuan rumah dan aku harus melayani tamuku dengan baik." Sebastian berjalan menuju dapur.
"Apa saja yang penting minuman." jawab Ciel asal.
"Jadi kau mau aku berikan racun?" ucap Sebastian sambil terkikik pelan.
"Boleh juga." Ciel juga terkikik.
"Ini minumanmu, Nona. Racun segar yang baru aku buat." Sebastian meletakan secangkir teh hangat di meja.
"Boleh juga." Ciel menyeruput teh itu.
"Hahaha selera huormu bagus juga." Sebastian tersenyum geli.
"Tidak juga." Balas Ciel.
"Hei Sebastian!" panggil Ciel.
"Apa?"
"Rasanya mencintai itu bagaimana sih?" tanya Ciel dengan tampang polos dan berhasil membuat Sebastian bersweatdrop ria.
"Mencintai? Apa kau tidak pernah mencintai seseorang?" tanya Sebastian penasaran.
"Pernah. Aku mencintai beruang teddyku sampai ia dibuang oleh orangtuaku karena sudah rusak." jawab Ciel polos.
"Beruang teddy? Maksudku manusia. Ma-nu-sia!" Sebastian mengeja kata manusia untuk Ciel.
"Hm...kurasa aku menyayangi orangtuaku, bibiku, dan Alois." Ciel mengabsen orang-orang yang dekat dengannya.
"Alois?" Sebastian mengernyitkan alisnya.
"Iya. Alois temanku sejak kecil. Kami dekat sekali." Ciel tersenyum.
"Apa kau menyukainya?" Sebastian bertanya penuh selidik.
"Aku menyayanginya saja. Tapi kemarin dia mengatakan bahwa dia menyukaiku." Ciel menatap sisa teh yang ada di cangkirnya dengan tatapan sendu.
"Lalu apa yang kau jawab?" Sebastian kembali bertanya.
"Aku tidak menanggapinya." Ciel berkata jujur.
"Kalau begitu akan kuajari kau apa maksudnya mencintai itu." Sebastian bengkit berdiri lalu berjalan menuju Ciel. Ciel yang kebinungan hanya menatap Sebastian heran dan meletakan cangkir yang ia pegang di atas meja.
Bruk!
Sebastian membaringkan tubuh Ciel diatas sofa. Ciel tersentak dan menatap mata Sebastian dalam-dalam. Marah. Walaupun raut wajahnya tidak terlihat marah, tetapi matanya mengatakan bahwa dia sangat marah sekarang.
Kaki Sebastian menahan kedua kaki Ciel untuk kabur. Sebastian memenjarakan Ciel dengan kedua lengannya yang kekar. Ciel yang ketakutan, hanya bisa pasrah, karena aura Sebastian sangat berbeda saat ini. Aura hitam.
Sebastian mencium leher putih Ciel dan menemukan sebuah kissmark di sana. Sebastian makin kesal saja dan membuat kissmark juga, dia tahu bahwa itu adalah kissmark dari Alois. Ciel mendesah agak keras karena merasakan sakit di lehernya. Sebastian berpindah menuju telinga Ciel. Digigitnya daun telinga Ciel hingga berdarah dan ia jilati darah itu. Manis. Darah Ciel manis. Ciel hanya bisa menahan rasa sakit dan perih yang ia rasakan. Ciel merasa tidak berdaya sekarang.
Setelah selesai dengan invasinya, Sebastian bangkit beridiri dan merapikan pakaiannya yang ditarik-tarik oleh Ciel karena Ciel yang marah dan kesal. Ciel juga merapikan pakaiannya dan segera menampar Sebastian lalu pergi dari rumahnya.
Tidak ia sangka, ia akan mendapatkan perlakuan seperti itu di rumah Sebastian. Hal yang dilakukan Sebastian sudah lebih dari apa yang sudah Alois lakukan kepadanya kemarin. Ciel bersumpah tidak akan mengunjungi rumah itu lagi.
~To Be Continued~
Author Note :
Okay Author emang mesum ya! Sesuai janji Author membuat yang "hot" disini *mesum* Tapi tetep nggak bisa panjang-panjang ya :/ Saya aja bingung, ini adalah hasil kerja karena internet Author belum dibayar jadi nggak bisa dipake T.T *plakk* Author sengsara deh nggak bisa buka fanfiction sama situs manga langganan Author ToT padahal Author lagi baca Pandora Hearts o
Daripada saya banyak ngebacot mending kita bales review aja :D
asakuro yuuki ga login : Ini sudah update~
Kusa : Hahaha iya nih udah mulai kena virus cinta. Iya waktu itu lagi gatel berat nih tenggorokan sekarang udah baikan *loe kira uda berapa lama?*
Crystal of icE : Ah maaf sedalam-dalamnya... Soalnya saya nggak dapat ide sih, jadi begitu deh hasilnya... Maaf, sekarang saya udah update XD
Chiko-silver lady : Saya nggak tanggung biaya capsclock nya ya ;) Hahaha banyak adegan kissu~
BlackRabbit : Ini udah update~ Jangan terror saya lagi ya :)
kurosaki nouma : Makasih karena udah reiew setiap chapter T.T saya terharu sekali. Ini saya udah update.
Dan terima kasih untuk silent readers, karena telah membaca fic saya ^^ Akhir kata review please (_ _)
