Seminggu setelah kejadian gila di rumah Sebastian itu, hari demi hari berjalan dengan normal. Bagi beberapa orang tentunya, tetapi tidak bagi Sebastian. Sebastian yang melakukan hal yang diluar akal sehat, menurut Ciel, kehilangan kesenangannya. Pasti kalian tahu apa kesenangannya itu, tidak lain tidak bukan adalah menggoda Ciel.

Beberapa hari ini Ciel lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alois daripada dengannya. Mungkin ia merasa karena pekerjaan rumah yang diberikan kepada mereka sudah selesai. Padahal tidak semudah itu selesai. Mereka belum sempat mencoba lagu itu sama sekali. Ya, salahkan Sebastian yang berbuat tidak sopan. Salahkan saja dia!

"Hei Sebastian. Kenapa murung begitu? Tidak biasanya." Sebuah suara rendah milik Ash menarik Sebastian dari lamunannya.

"Ah, tidak apa-apa." Sebastian tersenyum. Berusaha senormal mungkin.

"Hei hei aku tahu kau sedang dalam masalah!" Ash menepuk pundak sahabatnya itu.

"Sudahlah! Itu bukan urusanmu!" Sebastian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas. Sekarang masih jam istirahat, jadi wajar saja kelas sepi.

Di lain tempat. Tepatnya di perpustakaan sekolah, terlihatlah Ciel dan Alois yang sedang berdebat masalah buku. Begitulah mereka sejak kecil. Selalu berdebat masalah kecil.

"Menurutku dia sangat lemah! Wanita tidak boleh lemah. Memalukan saja!" Alois masih fokus dengan bukunya itu.

Ciel yang mendengar hal itu menautkan kedua alisnya, "Kau menyindirku?"

"Ti-tidak! Bukan begitu maksudku!" Alois menatap wajah Ciel dan mengibaskan kedua tangannya didepan wajahnya.

"Jadi?" Suara Ciel seperti menantangnya.

"Tidak ada." Alois meletakan tangannya diatas meja dan ia biarkan kepalanya bersandar diatas meja itu.

Kring!

Bel sekolah telah berdering. Tanda semua murid untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.

"Alois cepat!" Ciel manarik tangan Alois yang masih berpangku tangan diatas meja itu.

"Iya iya!" Dengan santai Alois berdiri dan berjalan mengikuti Ciel yang sudah berlari kecil sepanjang koridor sekolah itu.

.

.

.

Haru Haru

Chapter 5 : The Ball

Disclaimer :

Kuroshitsuji belong's to Yana Toboso

Genre :

Romance and Friendship

Pair :

Sebastian Michaelis & Ciel Phantomhive (female), Alois Trancy & Ciel Phantomhive (female)

Warning :

OOC, AU, TYPOs, dll

Bagi yang tidak bisa membayangkan Ciel sebagai perempuan, bayangkan saja dia sebagai laki-laki.

.

.

.

"...jadi begitulah reaksi ini akan terjadi." Suara bariton milik Mr. Aberlaine terdengar. Ia menutup buku yang ada di tangannya. "Anak-anak! Apa kalian tahu kalau sebentar lagi akan diadakan pesta dansa di sekolah ini?" tanyanya.

"Ya!" jawab semua murid serempak, minus Sebastian yang masih murung.

"Kalian diharapkan dapat hadir Sabtu ini, karena ini adalah agenda tahunan sekolah kita. Jadi berpestalah!" Mr. Aberlaine tersenyum lebar. Seperti biasa ia selalu semangat.

Semua murid hanya mengangguk. Mereka juga sangat antusias dalam agenda tahunan sekolah ini. Semua murid sekolah ini akan berkumpul di aula sekolah dan berdansa, dan seperti biasa, mungkin Ciel akan menjadi muka tembok lagi tahun ini.

"Jadi siapa yang menjadi pasanganmu nanti, Sebastian?" tanya Caroline yang entah mengapa dekat sekali dengan Sebastian hari ini. Mungkin ini karena ia teman satu kelompok Sebastian saat pelajaran kimia tadi.

"Entahlah~" jawabnya lesu. Sepertinya ia akan mencoba untuk minta maaf kepada Ciel agar Ciel mau menjadi pasangannya nanti.

"Bagaimana denganku?" Lizzie mengangkat tangannya.

"Katanya pesta kali ini kita harus memakai topeng!" Ronald, pemuda berambut pirang, berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh wali kelasnya hari Senin kemarin. Lizzie yang merasa diabaikan hanya menrenggut kesal.

"Topeng?" Sebastian menaikan sebelah alisnya. Kling! Sebuah ide terbesit di otak jenius Sebastian. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan nanti. "Aku pergi dulu!" Sebastian segera berlari menuju tempat parkir motornya dan menyalakan mesin motor itu. Ia melesat di jalanan dengan kecepatan yang lebih dari biasanya.

"Ada apa 'sih?" Ronald yang bingung hanya menatap sahabatnya aneh.

"Ronald, apa kau sudah punya pasangan?" Caroline mendekati Ronald. "Ah belum." Ronald tersenyum dan berjalan menjauhi tempat berpisahnya dengan Sebastian tadi.

~ooOoo~

Di rumah sederhana Ciel. Ciel sedang berbaring di tempat tidur kecilnya itu. Ia sedang memikirkan pesta dansa yang baru saja ia dengar. Ia paling tidak suka dengan pesta begini. Biasanya ia akan menjadi muka tembok dan seperti biasa ia akan menghabiskan waktu di taman sekolah menatap bintang-bintang.

"Menyebalkan! Kenapa harus ada acara seperti itu?" umpat Ciel entah kepada siapa.

"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya lagi.

Setelah berpikir jernih. Ia memutuskan untuk pergi. Malam minggu ini ia juga tidak ada kegiatan, lebih baik ia memerhatikan kejadian-kejadian aneh yang akan terjadi di pesta dansa saja. Dengan pikiran terakhir itu ia terlelap dalam mimpinya.

~ooOoo~

Kring!

Sebuah suara membangunkan Ciel. Bukan suara bel sekolah namun jam wekernya. Jam manis itu telah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Mungkin ini kebiasaan Ciel jika sedang liburan. Bangun siang bolong. Siapa yang tidak mau bagun siang jika sudah liburan?

"Eh? Sepertinya aku harus menyiapkan gaun untuk pesta dansa kali ini." Ciel beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju lemarinya. Ia ambil sebuah gaun manis berwarna biru tua dengan pita biru muda yang terlilit dibagian pinggang.

"Ha~" Ciel menghelas nafas berat.

Tok. Tok. Tok.

Sebuah ketukan pintu terdengar. Ciel membuka pintu itu dan melihat Alois yang berdiri dihadapannya.

"Ada apa?" tanya Ciel dingin.

"Aku hanya ingin melihatmu saja~" Alois tersenyum riang.

Ciel menyipitkan matanya, "Masuklah!"

"Terima kasih!" Alois duduk dilantai. Kalian pasti tahu, tidak ada sofa disana.

"Sepertinya kau akan pergi ke pesta dansa hari ini!" Alois memerhatikan gaun biru tua yang Ciel bawa.

"Ya begitulah! Tidak ada kerjaan!" Ciel melempar gaun itu ke kasurnya.

"Hm...kalau begitu aku yang akan menjadi pasanganmu!" tawar Alois.

"Hei hei siapa bilang aku akan berdansa?" tanya Ciel.

"He?" Tanda tanya memenuhi kepala Alois saat ini.

"Aku hanya memerhatikan kalian saja! Ck, siapa tahu ada hal menarik!" Ciel tersenyum layaknya seorang iblis. Andai saja ia bisa tersenyum seperti itu dihadapan gadis-gadis yang selalu mengganggunya itu bisa dipastikan tidak akan ada orang yang mengganggunya lagi. Tetapi ia tidak melakukan itu.

"Baiklah kalau kau tidak mau! Tapi aku siap menjadi pasanganmu." Alois berdiri dan keluar dari rumah kecil itu.

"Hei..." Alois pergi tanpa mempedulikan apa yang ingin Ciel katakan. "Datanf tidak diundang pergi juga seenaknya saja!" umpat Ciel kepada Alois yang sudah pergi dari rumah mungilnya itu.

~ooOoo~

Tidak terasa waktu sudah menjelang malam. Lebih tepatnya pukul enam kurang sepuluh menit. Semua murid baik pria maupun wanita sudah sampai di sekolah itu. Tidak terkecuali "Pangeran" kita, Sebastian Michaelis. Disekelilingnya terdapat beberapa orang wanita yang sepertinya mengajaknya untuk berdansa namun gagal.

Di balkon yang berada di aula itu terlihatlah seorang gadis dengan gaun biru tuanya. Pita yang terliliit dipinggangnya berkibar tertiup angin. Ia sedang menuggu bintang-bintang untuk keluar. Namun sepertinya ia terlalu cepat.

"KYAAA!"

"Sebastian jadilah pasanganku malam ini!"

"Sebastian sudah punya pasangan belum?"

Begitulah jeritan beberapa orang gadis yang melihat Sebastian berjalan memasuki aula. Di samping kiri ia ditemani oleh Ash dan di samping kanan ditemani oleh Ronald. Trio tampan di sekolah.

"Hei gadis manis, maukah kau menjadi pasanganku malam ini?" Ronald mencium tangan salah satu gadis dan sang gadis nyaris saja pingsan dibuatnya.

"KYAA!" Teriakan itu makin menjadi-jadi saja.

"Hei Ronald, jangan buat mereka makin berteriak! Telingaku sakit dibuatnya." Ash menjitak kepala Ronald.

Dengan tidak terduga segerombolan gadis langsung menerjang mereka bertiga namun mereka berhasil kabur. Mereka segera berlari menuju tempat yang sepi. Disana mereka langsung memakai topeng dan berjalan keluar dengan santai. Entah kerena mereka berjalan menuju aula. Sepertinya waktunya sudah dekat.

"Ladies and Gentlemen! Selamat datang di pesta dansa tahunan ini. Semoga kalian dapat menikmatinya! Musik mainkan!" Angela memimpin pesta dansa tahun ini. Setiap tahunnya akan ada panitia yang mengawasi pesta ini berbeda-beda.

"Baiklah aku akan mencari pasangan dulu! Bye~" Ronald melambai kepada kedua temannya dan segera bergabung dengan keramaian.

"Kalau begitu aku pergi." Ash juga mengikuti jejak Ronald.

"Hm...dimana anak itu?" Sebatian meletakan ibu jari dan jari telunjuknya di dagunya. Seperti orang berpikir. Ia melihat kesana-kemari. Mencari sosok berambut kelabu dengan iris sedalam samudra.

"Ketemu!" Sebastian menyeringai sekarang. Ia menemukan gadisnya, gadis berambut kelabu dengan gaun biru tua dan topeng berwarna senada. Tapi seringai itu tidak bertahan lama ketika seorang remaja berambut pirang pucat mendekati incarannya. "Alois!" gumamnya kecil.

Ciel yang sedang berada di balkon itu terkejut atas kehadiran Alois, "Alois?"

"Hahaha jangan melamun!" Alois menepuk pundak Ciel.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ciel, "Bukannya kau berpacaran dengan Lizzie?" tanyanya lagi.

"Siapa yang bilang? Itu cuma gosip! Harusnya kau bisa membedakan mana gosip dan kenyataan!" Alois menepuk puncak kepala Ciel pelan.

"Eh?"

"Mau dansa?" tawar Alois yang berlutut dan menarik tangan Ciel. Ciel yang merasa bahwa darahnya naik ke kepalanya hanya bisa mengangguk.

Dengan satu tarikan, tangan Alois telah memeluk pinggul Ciel. Mereka berdansa di lantai dansa. Semua pasangan juga berdansa disana. Mereka sangat menikmati itu. Sudah lama rasanya sejak terakhir mereka berdansa.

"Ganti pasangan!" Suara Angela menggema ke seluruh ruangan.

Alois melepaskan pinggul Ciel. Walau enggan rasanya tapi ia harus. Di saat yang bersamaan, sebuah tangan menggenggam tangan Ciel. Tangan yang besar dan dingin. Saat memutar tubuhnya, Ciel melihat mata sang pasangan barunya. Merah.

"Sebastian?" bisik Ciel terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Sebastian yang menarik tangannya tadi.

"Ssst~" Sebastian meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya. Jika wanita biasa mungkin sudah kehabisan darah saat itu juga, tapi ini Ciel! Ingat ini Ciel! Jadi ia tidak akan terpengaruh oleh hal semacam itu.

"K-kau!" Sebastian mengeratkan pelukannya membuat tubuh kecil Ciel harus melekat dengan tubuh sang raven.

"Diam dan nikmatilah!" Sebastian menyeringai. Ciel hanya bisa pasrah. Di sisi lain jantung Ciel berdetak tidak karuan. Alois yang menatap pasangan itu hanya bisa menghelas nafas. Mungkin karena itu ia enggan melepas Ciel tadi.

Mereka berputar di lantai dansa untuk beberapa menit. Walau dikatakan beberapa menit namun itu sangat lama bagi Ciel yang sepertinya sudah tidak tahan dengan Sebastian. Wajahnya sudah memerah parah. Akhirnya musik itu berhenti. Ciel melemaskan otot-ototnya, namun tangan Sebastian masih setia merangkul pinggulnya.

"Se-Sebastian~" panggilnya lirih.

"Maaf! Aku terlalu menikmatinya!" canda Sebastian. Jika Ciel mempunyai palu mungkin ia akan menghancurkan wajah tampan Sebastian saat ini.

"Jangan bercanda!" Ciel melepas tangan Sebastian dari pinggangnya dan pergi keluar aula. Alois segera menyusul Ciel yang keluar itu.

"Hei apa yang dia lakukan?" Alois berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Ciel.

"Menggodaku." Balas Ciel yang lebih mirip pernyataan.

"Hah? Sejak kapan?" Alois akhirnya dapat mensejajarkan langkahnya dengan Ciel.

"Sejak olahraga." Alois yang kecewa dengan perkataan Ciel terus mendesaknya, namun Ciel menolak untuk membiarakannya.

"Sudahlah kalau kau tidak mau memberitahuku!" Alois berjalan didepan Ciel. Ia sedang berpura-pura ngambek. Kekanak-kanakkan.

"Hei Alois!" Ciel mengangkat gaunnya sedikit dan mengejar Alois.

"My my, mau kemana, Tuan Putri?" Sebastian menarik pergelangan tangan Ciel.

"K-kau? Se-sejak kapan?" Ciel membulatkan matanya sempurna.

"Sejak kau pergi meninggalkanku sendiri di pesta dansa." Sebastian tersenyum.

Alois menggenggam tangan Sebastian yang satu lagi, "Lepaskan, Michaelis!"

Sorot mata Alois berbeda dari biasanya. Sorot mata yang tajam. Sebastian juga membalas tatapan itu dengan tatapan yang setimpal.

"H-hei! Aku bukan barang yang bisa direbut!" Ciel melepaskan tangannya dari Sebastian dan berjalan pergi meninggalkan kedua pria yang menyukainya itu dibelakang.

"Ciel!" Sebastian berusaha mengejar Ciel namun dihalangi oleh Alois, "Siapa bilang kau boleh lewat?" tanya Alois sakratis.

"Tch!" Sebastian hanya bisa mendecak kesal.

Di lain tempat, Ciel yang sepertinya sedang kesal hanya berjalan dengan cepat. Gaun biru tuanya ia angkat sedikit agar lebih mudah untuk berjalan. Sebenarnya ia sangat benci memakai gaun, tapi mau dikata apa? Pesta dansa harus menggunakan gaun, bukan?

"Mereka itu! Mereka pikir aku itu apa? Barang murah?" tanya Ciel semari menghentak-hentakan kakinya.

"Nona, tidak baik untuk seorang lady menghentak-hentakan kaki seperti itu!" Sebuah suara perempuan terdengar. Suara Elizabeth atau yang biasa disapa Lizzie.

"Kau!" Ciel berhenti dan mundur satu langkah ketika Elizabeth dan teman-temannya mengahadang.

"Nona manis, kau tidak boleh berteriak, ya~" Caroline memegang sebuah tali tambang.

"Ma-mau apa kalian?" Ciel mengerang ketika Lizzie memukul tengkuknya dengan keras. Seketika itu juga ia langsung jatuh pingsan.

Sedangkan di tempat lain yang tidak jauh darisana, terlihatlah Sebastian dan Alois yang sedang berlari. Sepertinya mereka sedang mengejar Ciel.

"Ciel!" Sebastian berteriak.

"Ciel!" Alois juga berteriak.

"Kemana anak itu?" Sebastian berhenti sebentar seraya mengamati sekitarnya.

"Apa dia sudah pulang?" gumam Alois.

Sebastian dan Alois masih terus mencari Ciel namun tiba-tiba saja Sebastian merasa seperti menginjak sesuatu yang keras.

"Sepatu?" Sebastian mengangkat sepatu itu.

"Itu milik Ciel!" ucap Alois yangmengambil sepatu itu secara paksa dari tangan Sebastian.

"Punya Ciel?" gumam Sebastian.

"Kenapa sepatu ini tertinggal?" Alois bergumam sendiri. Ia segera berlari menuju tempat parker dan mengeluarkan motornya. Sebastian yang tidak mau kalah juga mengikuti langkah Alois. Mereka saling mengejar di jalanan. Sepertinya Sebastian tahu kemana tujuan Alois. Rumah Ciel.

"Ciel!" Alois berlari menuju rumah Ciel dan memutat knop pintu itu. Terkunci!

"Maaf, apakah pemilik kamar ini sudah pulang?" tanya Sebastian ramah kepada salah seorang wanita yang lewat dekat sana.

"Sepertinya belum." Wanita itu terlihat berpikir.

"Terima kasih~" Sebastian tersenyum dan membuat wanita yang bersangkutan blushing sebentar.

"Kemana dia malam-malam begini?" gumam Alois bingung.

"Mungkin ke taman?" usul Sebatian.

"Tidak. Dia tidak mungkin ke taman malam-malam begini." Alois menatap rendah Sebastian.

"Lalu kemana?" tanya Sebastian yang tidak mengetahui apa-apa.

Alois terlihat berpikir sebentar, "Mungkin ia diculik?"

"A-apa? Jangan bercanda Alois!" Sebastian menarik kerah baju Alois.

"Itu hanya kemungkinan! Kau tahu, sejak kau dekat dengan Ciel hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat! Dia jadi lebih sering diganggu oleh perempuan-perempuan sekolah kita!" Alois mengatakan hal yang selama ini terjadi terhadap Ciel.

"Apa maksudmu?" tanya Sebastian sakratis.

"Dia tidak dapat hidup tenang!" Alois segera pergi dari tempat itu.

"Tidak dapat," Sebastian menyenderkan kepalanya didepan pintu rumah Ciel, "hidup dengan tenang?" Sebastian tersenyum miris. Padahal ia berniat untuk membuat Ciel bahagia namun semua itu salah. Semua itu hanya membuat Ciel merasa tersiksa dan sedih.

"Jadi...apa yang harus kulakukan?" gumamnya seraya memukul pintu rumah itu.

~To be Continued~

Author Note :

Hallo, minna-san! Ada yang masih ingat saya? *senyum manis* nggak ada? Wah sayang sekali U.U Maaf ya fic ini ngaret luar biasa. Dua bulan deh kayaknya T^T Maklum saya males *dilempar sandal swallow* maksud saya nggak ada ide hehehe. Chapter ini juga pendek :o

Kayaknya pada kesel deh :( saya bales review deh~

BlackRabbit : Maaf ngaret. Makasih udah review :D

xxruuxx : Benarkah? Kurang hot? Ini rated-nya masih T, jadi nggak akan sepanas rated M *maksud lo?* Salam kenal juga :D

sakamiiro : TYPO? Itu 'mah penyakit saya. Tangan saya nggak bisa lambat (?) WHAT? RUMAH SAYA MAU DIDATENGIN? *histeris* Terima kasih telah mereview :D

almira : Ini dia lanjutannya! Maaf lama~ Makasih udah review :D

Suwifuchan : Iya, dia temennya. Wah itu salah satu misteri cerita ini~ Nggak bisa saya kasih tahu~ *ditikam* Makasih udah review :D

Kucca : Selamat Anda dapat piring cantik! *dirajam* Udah kejawab 'kan pertanyaan-nya di chapter ini? Hehehehe saya orangnya terbuka kok nggak apa-apa kalau mau sksd sama saya *kepedean* Makasih udah review :D

Dimitri Light : Kakak? Iya saya ini mahkluk berbahaya dari Mars (?) *salah woi!* hahahaha saya cuima nyerempet aja kak belum full (?) Makasih kakak mau review XD

sebastian X ciel : Saya masih belum cukup umur bikin rated M D: lagian pasti nggak kuat bikin rated M. Makasih udah review :D

ciel phamtomhive : Terima kasih (_ _) Iya dia jadi antagonis. Bosen jadi anak baik mulu *digorok Lizie dan Lizie FC* Makasih sudah review :D

Wah wah banyak yang review *seneng* kayaknya saya perlu banyak baca manga shojou deh =.= sense romance saya selama liburan ilang kayaknya OTL yosh sebelum pergi dari halaman ini mohon review nya (_ _)