Tes. Tes.
Ciel marasakan tetes air membasahi wajahnya. Saat membuka sepasang iris sapphire miliknya, ia sangat terkejut. Ia berada didalam kondisi terikat diatas bangku. Mulutnya disumbat oleh kain putih.
Ia melihat sekelilingnya. Ruangan gelap yang dingin. Keadaan sekitar sangat gelap. Ia tidak dapat menentukan apakah sekarang pagi atau malam. Ciel teringat akan kejadian yang menimpanya saat pesta sekolah itu. Ia dipukul dan tidak sadarkan diri seketika itu juga.
Brak!
Terdengar suara pintu yang terbuka. Chaya matahari masuk kedalam ruangan gelap itu. Ciel menyipitkan matanya karena masih tidak terbiasa dengan cahaya yang baru saja matanya terima, setelah tidak melihat cahaya selama beberapa jam.
"Jadi tuan putri sudah bangun?" Caroline berjalan masuk kedalam ruangan itu. Ciel hanya bisa melirik Caroline dengan tajam.
"Kenapa? Tidak bisa bicara?" Rebecca mendekatkan wajahnya dengan wajah Ciel.
"Mau kubantu?" Suara yang tidak asing bagi Ciel. Suara Lizzie. Dengan senyum iblis ia menarik kasar kain yang menyumbat mulut Ciel sedaritadi
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ciel dengan nada kasar.
"Kenapa? Apa itu masih perlu dipertanyakan?" Lizzie membalasnya dengan kasar juga.
"Apa?" Ciel menaikan sebelah alisnya.
"Berhenti dekati Sebastian!" Lizzie berteriak. Ciel membelalakan matanya. Jadi semua ini terjadi karena Sebastian?
.
.
.
Haru Haru
Chapter 6 : Found You
Disclaimer :
Kuroshitusji belongs to Yana Toboso
Genre :
Romance and Friendship
Pair :
Sebastian Michaelis & Ciel Phantomhive (female), Alois Trancy & Ciel Phantomhive (female)
Warning :
OOC, AU, TYPO, dll.
Bagi yang tidak bisa membayangkan Ciel sebagai perempuan, bayangkan saja dia sebagai laki-laki.
.
.
.
Angin berhembus dengan kencang. Daun-daun berwarna kuning dan oranye berguguran. Semua orang berjalan menikmati musim gugur. Benar, sekarang adalah musim gugur.
"Kemana dia?!" Sebastian berlari mengelilingi area tempat Ciel tinggal. Sudah lima kali ia kelilingi tempat itu hari ini.
Di tempat lain, Alois sedang berlari mengelilingi taman yang dulu sering Ciel kunjungi saat masih kecil, "Ciel!"
Alois dan Sebastian sedang dibuk mencari Ciel dengan cara mereka masing-masing. Mereka mencari ke tempat yang sering dikunjungi oleh Ciel. Tapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan Ciel.
Sebastian mengepalkan tangannya dan memukul tembok yang ada disampingnya. Jam sudah menunjukan pukul lima sore hari, namun ia masih belum dapat menemukan Ciel. Apakah ini kesalahannya sehingga Ciel diculik seperti ini? Apakah perkataan Alois benar, bahwa hidup Ciel berubah karenanya?
Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Sebastian.
"Michaelis!" Alois memanggil Sebastian.
"Ada apa?" tanya Sebastian dengan raut wajah yang tidak dapat digambarkan. Antara sedih, marah, dan frustasi bercampur menjadi satu.
"Apa kau sudah menemukan petunjuk?" tanya Alois dingin dan datar. Sebastian tersentak. Belum pernah ia melihat pemuda pirang didepannya begitu dingin. Kepribadiannya yang ceria menghilang seolah-olah itu adalah sebuah akting. Apa kehilangan Ciel begitu membuatnya sedih, sehingga ia bersikap seperti ini?
"Sebastian!" Sebastian tertarik dari alam bawah sadarnya ketika sebuah suara meneriaki namanya. Sebastian menatap kedalam iris secerah langit musim semi itu lalu menggeleng pelan.
"Ha~" Alois menghela nafasnya pelan, "Kalau seperti ini, kita tidak akan pernah bisa menemukan Ciel." Alois memijat pelan pelipisnya.
"Kau benar." Sebastian menatap pemuda yang lebih pendek darinya itu, "Bagaimana kalau kita berkerja sama?"
Alois menoleh kearah pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan tidak percaya. Mereka adalah musuh. Masing-masing dari mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta Ciel. Tetapi sekarang, pujaan hati mereka menghilang tanpa jejak. Mungkin tawaran itu tidak ada salahnya.
"Boleh juga." Alois menerima usul itu.
"Sekarang kita mencarinya di sekolah untuk sekali lagi." Sebastian tersenyum melihat pemuda yang ada dihadapannya. Mungkin dua orang akan lebih efektif daripada sendiri.
~ooOoo~
Sekarang, Alois dan Sebastian sudah berdiri di gerbang sekolah. Jaraknya dengan rumah Ciel memang agak jauh, tetapi, demi menemukan Ciel mereka akan melakukan apa saja. Sebastian memasuki halaman sekolah yang luas itu diikuti Alois yang berjalan dibelakangnya.
Walaupun hari itu adalah hari Minggu, keadaan sekolah masih tetap ramai. Mungkin ada beberapa orang siswa yang sedang mengurus sesuatu di sekolah dan terlihat beberapa guru yang masih mondar-mandir di sekolah karena menunggu waktu untuk rapat guna membicarakan liburan musim dingin yang tinggal menghitung hari saja.
"Apa kau sudah memeriksanya di gudang olahraga?" tanya Sebastian sambil melirik sekelilingnya.
"Sudah. Hasilnya nihil." jawab Alois yang melakukan hal yang sama dengan Sebastian.
Sudah setengah jam mereka mengelilingi sekolah, namun hasilnya nihil. Mereka sudah bertanya kepada beberapa orang yang saat pesta dansa kemarin melewati lorong itu. Mereka bahkan sudah bertanya kepada cleaning service yang membersihkan area lorong dimana tepmat menghilangnya Ciel. Tidak mungkin 'kan kalau Ciel diculik hantu?
Ketika melihat sekelilingnya, Sebastian melihat disudut dekat loker yang berjajar rapi dekat sana.
"Alois, apakah sekolah ini mempunyai CCTV?" tanya Sebastian.
"Seingatku iya. Hei, bukankah masalah CCTV ini sudah dibicarakan oleh kakak kelas saat kita pertama kali memasuki sekolah ini? Memangnya kenapa?" gerutu Alois yang merasa terganggu karena sedang memikirkan beberapa tempat yang mungkin saja menjadi persembunyian sang penculik.
"Benarkah? Aku tidak ingat." Sebastian menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Seingatnya saat kakak kelas menjelaskan tentang fasilitas yang ad adi sekolah itu, ia membolos dan tidur di atap sekolah. Namun, di detik berikutnya sebuah lampu muncul diatas kepala Sebastian.
"Bagaimana kalau kita periksa CCTV? Siapa tahu saja kita dapat melihat siapa penculiknya?" Sebastian menatap pemuda pirang itu dengan dingin namun menyiratkan semangat yang berkobar-kobar untuk menemukan gadis pujaannya.
"Benar juga!" Alois memukul keningnya karena tidak terpikir cara itu sama sekali sedaritadi.
"Sekarang. Dimana ruang kontrol itu?" Sebastian berkacak pinggang. Sekarang ia sangat tampan. Dengan jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya dari hawa dingin dipadukan dengan blue jeans. Setiap siswi yang melewati tempatnya dijamin akan pingsan atau mimisan saat itu juga.
"Kalau tidak salah ada didekat ruang guru." jawab Alois yang memajamkan matanya memasang pose berpikir. Alois juga tidak kalah tampan. Jaket bewarna ungu tua dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam membalut sang pirang.
"Baiklah! Ayo kita kesana." Ajak Sebastian berlari menuju tangga yang tidak jauh darisana. Ruang guru terletak di lantai tiga. Sedangkan, mereka berada di lantai dua. Jumlah seluruh lantai yang dimiliki oleh gedung sekolah itu adalah lima lantai.
Setelah sepuluh menit, akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu berwarna coklat. Diatas daun pintu itu tertulis control room. Tidak salah lagi, ruangan itu adalah pusat dari semua CCTV yang dipasang oleh sekolah itu.
Sebastian mengetuk pintu itu dengan tergesa-gesa. Seorang pemuda dengan rambut hitam dengan gaya rambut yang sangat kuno dan kacamata yang bertengger di hidungnya itu membuka pintu itu.
"Ada apa?" tanya pemuda yang diketahui bernama William T. Spears itu.
"Kami ingin melihat rekaman CCTV saat pesta kemarin." Alois membuka suaranya.
"Tidak boleh." jawab pemuda berkacamata itu dengan tegas, "Rekaman-rekaman itu adalah dokumen rahasia sekolah. Tidak ada seorang siswa yang boleh melihatnya."
"Tetapi ini penting!" Sebastian menatap garang pemuda yang satu ini. Namun reaksi pemuda itu masih sama saja.
"Tidak ada yang lebih penting daripada menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kita." Pemuda itu menegakan kacamatanya.
"Kalau begitu..." Sebastian memukul kepala pemuda itu dengan sapu yang ada didepan pintu itu hingga jatuh pingsan, "aku harus menjalankan tugas yang diberikan Tuhan untukku. Maaf."
Sebastian berlari masuk, sedangkan Alois masih berdiri tegak di pintu itu. Ia tidak menyangka bahwa Sebastian akan melakukan hal itu. Apa ia benar-benar jatuh cinta pada Ciel sedalam itu?
"Trancy!" Sebastian memanggil pemuda pirang itu untuk melihat apa yang ia temukan didalam komputer itu. Alois tersentak dan segera mengunci pintu dan segera bergabung dengan Sebastian melihat apa yang ia temukan.
"Mari kita lihat." Sebastian duduk di kursi hitam sedangkan Alois berdiri disampingnya. Mereka berdua melihat kedalam alat berbentuk kotak itu dengan antusias. Sebastian menggerakan mouse yang ada kebawah.
"Itu!" Alois menunjuk sebuah baris yang menuliskan kata yesterday. Sebastian mengklik baris itu dan muncul beberapa rekaman. Total rekaman ada dua puluh rekaman. Sebastian dan Alois mencari latar situasi lorong saat malam hari.
"Ketemu!" Sebastian mengklik video itu dan komputer memainkan video itu. Alois dan Sebastian menonton video itu dengar cermat.
"Mereka itu! Mereka pikir aku itu apa? Barang murah?" tanya Ciel semari menghentak-hentakan kakinya.
"Nona, tidak baik untuk seorang lady menghentak-hentakan kaki seperti itu!" Sebuah suara perempuan terdengar. Suara Elizabeth atau yang biasa disapa Lizzie.
"Kau!" Ciel berhenti dan mundur satu langkah ketika Elizabeth dan teman-temannya mengahadang.
"Nona manis, kau tidak boleh berteriak, ya~" Caroline memegang sebuah tali tambang.
"Ma-mau apa kalian?!" Ciel mengerang ketika Lizzie memukul tengkuknya dengan keras. Seketika itu juga ia langsung jatuh pingsan.
Rekaman itu memudar menjadi hitam putih ketika Ciel jatuh pingsan.
"Jadi..." Alois menatap horor rekaman terkutuk itu.
"Lizzie!" Sebastian segera bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu. Alois menatap pemuda raven itu keluar dengan tergesa-gesa. Ia tersenyum pahit. Mungkin ini adalah masalah yang tidak dapat ia campuri.
Alois mematikan komputer itu, tidak lupa ia menghapus rekaman itu terlebih dahulu. Ia mendudukan William di dinding bercat hijau itu. Ia berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya. Ia tersenyum pahit. Sepahit cintanya untuk teman kecilnya.
~ooOoo~
Sebastian segera berlari keluar dari gedung sekolah itu. Sebastian terus berlari hingga matanya bertemu dengan seorang gadis yang ia kenali. Teman dari Lizzie. Caroline. Sebastian berjalan dengan cepat menuju Avril yang sedang berjalan membawa beberapa buku. Ia menarik tangan Avril dengan kasar.
"Dimana Ciel?!" geramnya.
"A-aku ti-tidak tahu!" Avril merintih kesakitan.
"Kalau begitu dimana Lizzie?" Sebastian makin kuat menggenggam tangan Avril.
"A-aku rasa di-dia ada d-di pa-pabrik ter-terbuang." Sebastian segera melepaskan genggamannya dan berlari keluar sekolah.
Angin dingin menimpa wajah tampan Sebastian. Berlari hanyalah yang ia pikirkan saat ini. Ia berlari menuju pabrik terbuang yang letaknya didekat sungai. Hanya ada satu pabrik yang terbuang. Di dekat sungai itu saja.
"Tunggu aku, Ciel!" Sebastian memacu kakinya semakin cepat menembus keramaian jalanan.
Setelah tiga puluh menit berlari, akhirnya ia sampai di pabrik terbuang itu. Dengan kasar, ia memasuki pabrik itu dan mendapatkan beberapa gadis, diantaranya Lizzie, sedang memukul Ciel. Semua orang yang ada disana melirik siapa yang tanpa izin memasuki markas mereka. Ciel mendongak dan melihat sebuah siluet pria tinggi dengan rambut hitam dan iris semerah darah.
"Sebastian." Lirihnya pelan sebelum jatuh pingsan akibat pukulan yang ia terima dari Lizzie dan teman-temannya.
"Lizzie!" Sebastian membulatkan matanya dan berlari mendekati pujaan hatinya yang jatuh pingsan dengan luka memar menghiasi wajah malaikatnya.
"Se-Sebastian!" Lizzie menutup mulutnya dan berusaha kabur namun gagal. Sebastian telah menangkap pergelangan tangan kanannya terlebih dahulu. Teman-temannya yang lain sudah melarikan diri. Mereka tidak mau berurusan dengan Sebastian yang sedang marah.
"Kenapa kau melakukan ini?" bentak Sebastian kepada Lizzie.
"A-aku..." Lizzie menarik tangannya namun tidak berhasil. Kekuatannya dengan kekuatan Sebastian berbeda jauh.
"Jawab aku, Elizabeth Ethel Cordelia Middlefold!" Sebastian membentaknya lagi. Belum pernah Lizzie mendengar nama lengkapnya disebutkan oleh Sebastian. Paling tidak, Sebastian hanya memanggilnya dengan nama kecilnya. Apakah ini berarti Sebastian sudah mulai marah kepadanya?
"A-aku... aku iri kepadanya!" jawab Lizzie dengan linangan air mata. Ia tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Iri?" Sebastian merenggangkan genggamannya.
"Iya! Aku iri kepadanya! Ia yang tidak mempunyai apa-apa dapat memenangkan hatimu bukannya aku yang memliki segalanya!" teriak Lizzie diselingi air mata yang mengalir di pipinya yang mulus.
"Lizzie..."
"Aku seorang putri dan dia hanyalah seorang...seorang yang miskin!" Suara Lizzie bergetar.
"Lizzie..." Kali ini nada Sebastian menjadi dingin dan datar.
"Apa yang kurang dariku?" Lizzie terduduk di lantai kotor itu. Ia tidak mempedulikan pakaiannya yang akan kotor.
"Kekayaan tidak menjamin apapun." Sebastian melepaskan ikatan yang melilit Ciel. Lizzie mendongak melirik Sebastian yang kini sudah menggendong Ciel ala bridal style. Sebastian berjalan meninggalkan Lizzie yang sedang termenung.
~ooOoo~
Sebastian membawa Ciel menuju rumahnya. Disana sudah menunggu Alois. Benar juga, sedaritadi ia di pabrik terbuang itu, ia tidak melihat Alois sama sekali. Ternyata ia menunggunya di rumah Ciel.
Alois melihat Ciel yang ada digendongan Sebastian. Ia tertidur dalam damai walaupun wajahnya penuh memar, lalu ia melirik kearah Sebastian, "Selamat kau berhasil." Alois memberikan kunci kamar Ciel.
"Kunci kamar?" Sebastian menaikan sebelah alisnya.
"Aku memintanya kepada pemilik rumah ini." Alois berjalan menjauhi Sebastian dan Ciel yang terlelap, "Kali ini kau menang, Michaelis. Lain kali aku tidak akan kalah darimu."
Sebastian menarik bibirnya sehingga membentuk seulas senyum, "Aku tidak akan pernah kalah darimu."
Sebastian membuka pintu rumah Ciel dan menidurkan Ciel di kasurnya. Sebastian mengambil sebuah wadah air dan mengisinya hingga setengahnya. Lalu ia ambil air biasa dan mengelap wajah Ciel yang memar dengan perlahan.
"Ciel. Maafkan aku." lirihnya seraya mengelap wajah damai Ciel yang terlelap tidur, "Aku akan menjagamu mulai saat ini. Aku akan membuatmu menyukaiku." Sebastian mengecup tangan Ciel dengan lembut.
~To Be Continued~
Author Note :
Akhirnya saya update chapter 6 juga *nangis terharu* saya nggak nyangka bakal dapet review sebanyak ini *nangis beneran* *dilempar tomat busuk*
Aduh nggak bisa panjang juga nih cerita wkwkwk nggak tahu kenapa setiap ngetik cerita ini pasti nggak bisa lebih dari 8 halaman kalau nggak ya 10 halaman aja. Tapi masih kebawa santai 'kan? ;;)
wkyjtaoris ALL : Wah maaf ngaret. Ini sudah lanjut. Thanks for reviewing~
Bara no hana-chan : Nggak apa-apa kok kalau nggak review di chapter sebelumnya. Nah...ini sudah update. Thanks for reviewing~
Sachii Nightray: Makasih udah review. Nggak apa-apa kok. Pas pertama terbitin cerita ini juga review nya dikit kok tapi sekarang udah mendingan. Makasih ya udah mau ngikutin cerita ini.
blue0jewel: Bernakah? Wah makasih ide saya dibilang brilian *malu* hehehe bosen liat Lizzie jadi anak baik mulu sih jadi saya giniin aja deh *dihajar Lizzie FC* Maaf lama bangeeet updatenya. Thanks for reviewing~
xxVitaxx : Wah maaf ya kalau alurnya cepat dan monoton. Saya akan perbaiki terus! Thanks for rwviewing~
Kim Victoria : Makasih sudah mau review. Maaf nggak bisa update kilat U_u
Sakamiiro : Makasih banyak loh udah mau review dua kali buat ngasih tahu aku siapa dirimu yang sebenarnya (?) bener banget. Kan bosen tuh liat si Lizzie jadi anak manis mulu saya ganti karakternya khu khu *dihajar Yana-sensei* Wah saya sudah update walau ngaret! Jangan datangi saya.
BlueDragon1728: Wah jangan gigit ban donk. Itu kan nggak enak mending gigit ini aja *kasih donat* bentuknya gk jauh beda kan? Makasih sudah mau review.
xxruuxx: Hahaha saya juga sempet lupa sama chapter 4 kok ._. *author macam apa ini?* Nggak kok, saya nggak pernah men-discontinued-kan cerita saya kecuali itu memang sudah tamat. Tenang saja!
BlackRabbit : Benarkah? Makasih udah dibilang keren. Ini udah update. Maaf lama. Untung kamu gk terror aku ._.V
Yak, inilah akhirnya lumayan banyak ya. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua reviewer dan silent readers yang sudah baca fic abal ini. Bagaimana? Makin penasaran atau gimana sama cerita ini? Masukan saja semua unek-unek kamu tentang fic ini di kotak review. Saya siap membalas pertanyaan dan responmu untuk fic ini.
