Matahari sudah keluar dari peraduannya. Burung-burung menyanyikan lagu untuk memuji nama Tuhan diluar sana. Sinar mentari yang sudah agak tinggi menerobos masuk melalui jendela kamar yang tidak ditutupi oleh gorden. Seorang pemuda berambut hitam segelap malam mengerang pelan sebelum akhirnya membuka iris ruby miliknya. Ia mengerjap sekilas sebelum benar-benar fokus dengan apa yang terjadi.

Ketika ia sudah mengingat apa yang terjadi semalam, ia langsung melihat tubuh yang ada diatas kasur yang lusuh itu. Wajah gadis yang sedang tertidur itu disinari oleh mentari pagi yang hangat, sehingga untuk sekilas wajahnya terlihat seperti malaikat yang turun dari surga. Sebastian mengeyampingkan rambut Ciel yang menutupi wajahnya.

Tiba-tiba, Sebastian merasa sesuatu bergetar di sakunya. Ia merogoh sakunya dan menemukan ponselnya yang bergetar. Sebastian melirik nama yang tertera pada layar ponselnya. Ia berjalan keluar dari tempat Ciel tinggal. Sesampainya diluar, ia mengangkat telepon itu.

"Halo?" jawab Sebastian dingin.

"Sebastian, apa kau baik-baik saja, nak?"

"Iya."

"Sebastian, cepatlah pulang sekarang!"

"Ada a−" Sambungan telepon dari ayahnya terputus. Dari nada bicara ayahnya, sepertinya ia sangat khawatir dan...takut?

Sebastian yang merasa khawatir dengan orangtuanya segera mengirim pesan singkat ke ponsel Ciel kemudian bergegas pergi dari tempat itu dengan mengendarai motornya pulang.

Didalam rumahnya, Ciel yang baru saja bangun berusaha memfokuskan pandangannya pada sekelilingnya. Ia masih ingat apa yang terjadi kemarin. Ciel merasakan rasa sakit pada tangan kirinya. Saat ia menggulung lengan bajunya, ia dapat melihat memar yang berwarna biru di sikunya. Tidak heran ia merasa sakit.

Ciel yang sudah sadar penuh bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandinya. Disana ia mengambil handuk kecil dan mencelupkannya kedalam air dingin, kemudian ia membasuh luka memarnya itu perlahan. Ia meringis sedikit ketika ia merasakan sakit yang amat sangat. Walau sudah terbiasa dengan berbagai cobaan dan hantaman, tetap saja yang namanya luka itu tetap sakit sampai akhir zaman sekalipun.

Ciel yang sudah membersihkan dirinya, mencari ponselya di kasurnya. Setelah ia menemukannya, ia melihat ada pesan masuk. Ciel mengernyitkan alisnya dan membuka pesan itu.

"Dari Sebastian?" Ciel membaca pesan singkat itu dengan cepat. Sepertinya Sebastianlah yang menyelamatkan Ciel dari ancaman Lizzie. Ciel yang tersenyum sedikit kemudian membalas pesan singkat itu.

.

.

.

Haru Haru

Chapter 7 : The Truth

Disclaimer :
Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso

Genre :
Romance and Friendship

Pair :
Sebastian Michaelis x Ciel Phantomhive (female), Alois Trancy x Ciel Phantomhive (female)

Warning :
OOC, AU, TYPO, dll

.

.

.

Sebastian yang mengendarai motornya dengan kecepatan konstan akhirnya sampai di rumahnya. Saat Sebastian memasukan motornya ke garasi, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di rumahnya. Segera saja ia masuk ke rumahnya dan berjalan menuju ruang tamunya. Saat ia memasuki ruang tamunya, ia melihat sekelompok orang berpakaian jas lengkap mirip bodyguard mengelilingi ayahnya yang duduk di sofa rumah mereka. Ia tampak tegang.

"Ayah?" Sebastian memanggil ayahnya.

"Oh! Jadi dia adalah Sebastian?" Sebastian membalikan badannya ketika namanya dipanggil oleh orang yang tidak ia kenal.

Sebastian melihat wanita dengan rambut hitam panjang yang elegan serta iris gelapnya yang menakjubkan. Pakaian yang wanita itu kenakan seperti seorang wanita kantoran yang terdiri dari jas khusus wanita dan celana panjang hitam. Wanita itu memancarkan keanggunan dari dirinya. Ia juga menyadari bahwa ibunya berada dibelakang wanita itu sambil menatapnya khawatir.

"Ada apa ini?" Sebastian bertanya dengan nada yang agak kesal sambil melirik ayah, ibu, dan wanita tidak dikenal itu.

"Hahaha~ Jangan terlalu tegang, nak~" Wanita itu berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu itu. Suara ketukan sepatu hak tinggi wanita itu terdengar sangat lembut dan elegan. Sebenarnya siapa wanita itu? Ibunya yang sedaritai mengikuti wanita tidak dikenal itu duduk disebelah ayahnya.

"Duduklah, nak." Pinta wanita itu seakan-akan ialah pemilik rumah tersebut. Lalu ia melambaikan tangannya dan para pria-pria yang mengenakan jas itu dan pria-pria itu pergi dari sana. Bohong besar jika Sebastian tidak penasaran mengenai wanita serba hitam itu. Sebastian duduk di sofa single yang ada di ruangan itu. Jika dilihat dari jauh, urutannya seperti ini, orangtua Sebastian duduk di sebuah sofa panjang, lalu wanita itu duduk di sofa panjang dengan arah berlawanan dengan sofa kedua orangtua Sebastian yang dipisahkan oleh meja kaca, dan Sebastian sendiri duduk di sofa single yang terletak ditengah sofa itu.

"Ehem." Sebastian berdehem untuk mendapatkan perhatian ketiga orang dewasa yang ada, "Sebenarnya ada apa ini?"

"Begini, nak..." perkataan ayahnya terputus oleh wanita serba hitam itu.

"Aku ingin kau menjadi Raja di Inggris." Wanita serba hitam itu berbicara dengan mudahnya. Sebastian yang mendengar itu diam ditempat seolah-olah ia telah dibekukan oleh Ratu Es.

"Nyonya pengacara, saya kira Anda terlalu frontal." Ibu Sebastian menyampaikan pendapatnya.

"Begitukah?" balas wanita serba hitam itu.

Ibu Sebastian menambahkan, "Biar saya yang menjelaskannya."

Sebastian yang mendengar perkataan ibunya langsung memerhatikan ibunya dengan antusias seperti seorang anak kecil. Bukannya dia itu anak kecil, namun ini sangat menyita perhatiannya. Siapakah wanita serba hitam itu dan apa maunya?

"Nak, begini..sebenarnya kami bukanlah orangtuamu yang sesungguhnya." dan Sebastian seperti tersambar petir di siang bolong, "Ibumu yang sesungguhnya adalah seorang wanita cantik bernama Jean dan ia adalah Ratu yang meninggal setelah melahirkanmu." Ibunya mulai bercerita.

Sebastian yang sudah sadar dari keterkejutannya bertanya, "Ja-jadi ayahku yang sebenarnya adalah..." ia menatap ayahnya dalam.

"Benar." Jawab ayahnya, "Ayahmu yang sebenarnya adalah Raja Alfred."

"Semua ini terjadi sebelum kau lahir." Ibunya mulai ceritanya yang panjang.

"Saat itu kau masih ada didalam kandungan Ratu Jean. Ratu Jean adalah ratu pertama dari Raja Alfred yang sekarang ini sedang menjabat. Saat usia kandungannya mencapai 4 bulan, Raja Alfred mengumumkan bahwa ia mengangkat seorang pelayan yang cantik bernama Esmeralda menjadi selirnya. Ratu Jean tidak dapat berbuat apa-apa dan menyetujui hal itu walau ia sangat sedih. Ketika memasuki usia kandungan tujuh bulan, Ratu Jean difitnah berhubungan dengan perdana menteri negera ini dan diasingkan oleh Raja yang marah kepada istrinya. Lalu sebulan setelah itu terjadi, Esmeralda diangkat menjadi Ratu selanjutnya. Ratu Jean yang diasingkan melahirkan kau di daerah jauh dari pusat kota Inggris dan meninggal. Sebelum meninggal, ia menitipkanmu kepada kami yang waktu itu adalah patsuri yang menjadi pelayannya selama Ratu Jean diasingkan."

Sebastian menatap ayah dan ibunya secara bergantian seolah ia tidak mempercayai apa yang dikatakan mereka. Wanita serba hitam yang sedaritadi hanya diam saja mulai angkat bicara, "Namaku adalah Luna dan aku disini untuk menjadikanmu sebagai Raja selanjutnya karena Raja Alfred sekarang sedang sakit parah."

Sebastian hanya bisa menatap wanita serba hitam yang mengaku bernama Luna itu dengan tatapan tidak percaya.

.

.

.

Ciel yang sedang duduk di salah satu kursi perpustakaan kota membolak-balikan buku yang sedang ia baca. Dengan wajah yang serius dan penuh penghayatan, ia membaca setiap deret kalimat di buku tebal itu dengan teliti dan mencernanya di otaknya yang terkenal jenius.

Buk!

Ciel mengangkat kepalanya dan melihat kesampingnya. Seorang laki-laki dengan tinggi yang lumayan duduk di kursi sebelahnya dan mulai membaca buku yang ia letakan dengan keras di meja. Ciel memerhatikan buku-buku yang pria itu baca. Semua bukunya adalah tentang sejarah dari Inggris.

"Apa aku menganggumu?" tanya pria itu yang menyadari bahwa Ciel menatapnya, atau lebih tepatnya bukunya.

Ciel melihat mata pemuda yang duduk disampingnya itu. Iris emas yang sangat indah, pikirnya. Lalu Ciel membalas, "Ah tidak. Hanya terkejut saja."

"Hn." Pemuda itu kembali pada bukunya dan Ciel pun melakukan hal yang sama.

Mereka sama-sama berkutat dengan buku yang berbeda aliran itu untuk 2 jam sampai seorang pria tinggi dengan pakaian yang rapi, seperti pegawai kantoran, menghampiri pemuda yang duduk disebelahnya dan beberapa pria lain dengan tampang seperti bodyguard mengelilingi meja mereka.

Ciel yang menyadari adanya tamu yang tidak diundang langsung mendongak dan terkejut setengah mati. Bagaimana tidak kalau beberapa orang yang tidak dikenal mengepungnya. Ralat, mengepung dirinya dan pemuda tidak dikenal itu.

"Anno−" Ciel berusaha bertanya namun terputus ketika pemuda disebelahnya membuka suaranya.

"Apa yang kau lakukan, Thomas?" tanya pemuda itu dengan nada yang dingin seraya berdiri.

"Maaf, Tuan Muda, namun waktu Anda untuk melihat-lihat sudah habis." Ucap pria dengan jas yang bernama Thomas itu.

Ciel mengangkat sebelah alisnya tanda ia sedang bingung. Pemuda beriris emas itu lalu menghadap Ciel, "Maaf sudah membuatmu tidak nyaman." Pemuda itu menundukan kepala sedikit lalu berjalan pergi bersama pria-pria aneh itu.

Ciel yang hanya bisa menatap mereka dengan heran. Hari ini adalah hari yang aneh menurutnya.

.

.

.

Ciel berjalan menuju pusat perbelanjaan di kota Inggris. Setelah ia membaca buku di perpustakaan, ia baru ingat bahwa bahan makanan di rumahnya sudah habis dan ia harus membeli itu semua.

Dengan langkah yang santai namun pasti, Ciel berjalan menuju sebuah toko yang biasa menjual bahan makanan. Walau Ciel tinggal sendiri, ia tidak terlalu suka makan makanan cepat saji. Sebagai calon dokter, ia harus menjaga kesehatannya agar tidak sakit sehingga ia belajar masak dari Bibinya tercinta.

Bel kecil berbunyi ketika Ciel mendorong pintu toko itu. Harum bahan makanan dapat ia cium dengan jelas. Banyak ibu-ibu sedang berbelanja disana. Ia mengambil sebuah keranjang dan dengan cekatan ia mengambil beberapa bahan makanan. Setelah 15 menit, akhirnya ia selesai dengan acara berbelanjanya.

Ketika ia berjalan di pusat perbelanjaan itu untuk pulang, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal baik. Ciel memasang wajah masam dan segera berjalan cepat untuk menghindari orang itu. Ya, betul. Orang itu adalah Lizzie, musuh bebuyutannya.

Lizzie yang sedang memilih beberapa pakaian mendongak ketika ia melihat seseorang yang sangat familiar. Ketika ia melihat sekelilingnya, ia melihat Ciel yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Rasa bersalah langsung hinggap di hati gadis bangsawan ini. Dengan langkah yang agak takut-takut, ia mendekati Ciel.

"Ci..el?" Lizzie memanggil namanya.

Ciel merutuki kesialannya dan membalas, "Apa?"

"Hm.." Lizzie berdiri dihadapannya sambil melihat kemana saja kecuali mata Ciel, "Soal yang kemarin.." Ia mulai memainkan ujung dari roknya.

Ciel hanya bisa berdiri disana sambil menatap teman sekelasnya dengan tatapan tidak percaya. Seorang Elizabeth atau biasa disapa Lizzie sedang berbicara padanya dengan tampang yang bersalah. Apa dunia sudah mau kiamat?

"Maaf ya." Lizzie yang sedaritadi berusaha menghindari mata Ciel akhirnya menatap iris sapphire itu.

Ciel tersenyum sebelum membalas, "Sudah kumaafkan."

Lizzie yang senangnya bukan main hanya bisa mengeluarkan air matanya. Itu bukanlah air mata kesedihan, namun itu adalah air mata kebahagiaan. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang yang sering ia jahati sebaik ini sehingga ia bisa memaafkannya. Semalam ia sudah berpikir banyak tentang hal ini dan merenungkan diri. Ia malu terhadap dirinya sendiri dan ia mengerti mengapa Sebastian menyukai gadis biasa ini. Mungkin secara materil, Ciel jauh darinya. Namun sikapnyalah yang membuatnya tampak seperti bangsawan.

"Eh, kenapa menangis?" Ciel yang tidak biasa menanggapi orang menangis langsung panic dan khawatir. Ia menepuk punggung Lizzie untuk meredakannya.

"Karena aku bahagia." Jawab Lizzie sambil mengusap matanya yang berlinang air mata. Ciel mengeluarkan sapu tangan putih yang ada di sakunya dan memberikannya kepada Lizzie. Lizzie menerima saputangan itu dan mengelap air matanya.

"Jadi kita teman sekarang?" tanya Lizzie sambil tersenyum manis dan lebar.

"Ya. Kita teman." Ciel mengulurkan tangannya dan Lizzie balas menjabat tangan sahabat barunya itu.

Dan sisa hari itu dihabiskan kedua sahabat baru itu untuk berbelanja dan melakukan hal khusus perempuan lainnya.

.

.

.

"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan muda?" tanya seorang pria berjas hitam itu kepada seorang pemuda bersurai hitam dengan iris emas itu.

"Aku baik-baik saja." Jawab pemuda itu pendek. Pemuda itu memerhatikan jalanan kota London yang memang agak ramai pada hari itu.

Mobil hitam miliknya itu berjalan stabil di jalanan kota London. Tidak lama terlihatlah sebuah rumah megah −ralat− istana yang sangat besar. Mobil itu memasuki istana dengan mudahnya. Ketika pemuda itu turun dari mobil, para pelayan berpakaian hitam putih langsung menyambutnya bak orang penting kerajaan.

"Selamat datang kembali, Pangeran Claude." Sapa seorang pelayan dan membawanya ke sebuah ruangan dan meninggalkannya dihadapan seorang wanita cantik dengan iris emas dan rambut pirang sebahu. Wajahnya begitu menawan dan cantik. Tubuhnya yang ramping dan tinggi menambah nilai plus didalam dirinya.

"Apakah Ibunda mencariku?" tanya pemuda yang bergelar Pangeran itu kepada wanita yang menjabat sebagai Ratu.

"Nak, Ayahmu sedang sakit dan aku berharap kau dapat menggantikannya sebagai Raja." Tutur wanita itu dengan wajah datar sambil memainkan es batu didalam gelas wine miliknya. "Aku ingin kau menjadi Raja dan mendapatkan kuasa atas Inggris."

"Tapi, Ibunda..." Perkataannya terputus ketika sang ibu menatapnya tajam. Iris emas yang sama dengan miliknya itu menusuk uluh hatinya sehingga ia terdiam.

"Tidak ada kata tapi." Tutur wanita itu lagi sambil meminum isi gelas itu sampai habis dengan elegan.

~To Be Continued~

Author Note :

Guess what? I'M ALIVE! Yohooo!

Ok, sudah setahun tidak melanjutkan cerita ini dan pada ngira ini discontinued kan haha! Kalian salah besar *dilempar ke Pluto* Saya tidak akan pernah discontinued sebuah cerita~ Ok, setahun nggak update cara penulisan dan bahasa yang saya gunakan sudah berubah ya. Saya merasa gaya saya dulu itu alay U_U Tapi..kita harus menatap kedepan, benar gak? Plus….disini saya bikin konflik baru dan haremnya makin banyak. Hahahahahahaha~ *ketawa ala ibu tiri*

Moga-moga masih ada yang inget saya dan cerita kecil ini. Ok, sekian bacot saya dan jangan lupa review ok?

.:Thanks to Review:.

voly ichi yama,Bara no han-chan, Kuro Ao, kharisma shima, almira dila, ShafirAisha, xxx, yui, yuiko, Thetrue AngelBeast, Kagamine MiCha, ArQuella