Tenten memasuki kelasnya bersama seorang temannya. Namanya Sakura. Sakura adalah teman Tenten dari mereka SMP. Sakura adalah gadis yang disukai Neji. Tenten tahu sekali kalau Neji menyukai Sakura dari mereka SMP dulu. Sikap Neji selalu berbeda ketika berada di dekat Sakura. Tampak canggung tapi suka. Itu yang dilihat Tenten selama ini. Tapi apa yang akan dilakukan Neji kalau dia tahu bahwa Sakura menyukai Shikamaru, teman sekelas Tenten. Belum lagi Naruto, teman dekat Neji, yang juga menyukai Sakura.

Tenten memejamkan matanya begitu duduk di bangkunya, dia pusing memikirkan cerita cinta sahabatnya. Bagaimana tidak pusing, Sakura selalu datang ke kelasnya dan menanyakan tentang Shikamaru. Sedangkan Tenten tahu bahwa Neji, keluarga barunya, menyukai Sakura. Lalu Naruto yang setiap hari menempel pada Tenten. Dan parahnya lagi, Neji mengira Naruto suka pada Tenten. Padahal kedekatan mereka karena Naruto yang selalu ingin tahu apa yang Tenten lakukan bersama Sakura. Pasti, kalau semuanya terbongkar akan sangat menyakitkan.

" Hey, kau dengar tidak?" tanya Sakura sewot membuat Tenten refleks menoleh padanya.

" Apa?" tanya Tenten polos.

" Astaga! Dari tadi aku tidak didengarkan?" tanya Sakura sedih. Tenten hanya tersenyum melihat wajah temannya. ' Paling-paling dia tanya tentang Shikamaru' pikirnya.

" Jadi, tadi Shikamaru duduk di mana? Dia peringkat berapa?" tanya Sakura antusias. Tenten tersenyum mendapatkan apa yang dia tebak benar.

" Dia duduk di belakangku dan peringkatnya tepat di bawahku," jawab Tenten sambil memainkan handphone-nya.

" Syukurlah dia duduk di belakangmu seperti biasanya, "

" Aku sudah kelas tiga, aku tidak mau jadi mata-mata lagi. Jadi, kau sendiri saja yang langsung menanyakan semua kegiatan dia," goda Tenten tanpa menoleh ke arah Sakura.

" Jahat sekali. Astaga!" tiba-tiba Sakura menjerit tertahan. Tapi tetap membuat Tenten kaget dan menoleh. Dia tahu apa yang membuatnya terkejut senang, Shikamaru berjalan memasuki kelas. Otomatis Sakura langsung berdiri dan kabur. Itu reaksi Sakura setiap melihat Shikamaru, melarikan diri dan dia akan mengirimkan pesan pada Tenten. Benar saja, beberapa detik kemudian handphone-nya bergetar.

Sender: Sakura
Juli 2, 2012 10:05:11 AM

Apa yang dia lakukan?

Tenten menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika dia akan membalas pesan dari Sakura, Tenten merasakan ada yang duduk di sampingnya. Shikamaru.

" Temanmu itu kenapa? Apa aku terlihat menakutkan? Padahal di luar sana banyak sekali yang ingin mengajakku bicara. Tapi dia malah kabur," tanya Shikamaru tiba-tiba. Tenten tahu benar Shikamaru itu populer di sekolahnya. Tapi seingat Tenten, satu-satunya orang di sekolah yang selalu Shikamaru ajak bicara adalah dirinya. Dia selalu bersikap dingin pada yang lainnya. Karena itulah Sakura sempat mengira Shikamaru menyukai Tenten.

" Itu karena wajahmu yang selalu muram dan terlihat malas berbicara. Mereka memang ingin mengobrol denganmu, tapi kau tidak pernah menjawab setiap mereka menyapamu. Seharusnya kami yang bertanya, kau itu kenapa? Sosialisasimu buruk sekali,"

" Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi... kenapa temanmu kabur setiap melihatku?" Shikamaru mengerutkan dahinya.

" Mungkin dia menyukaimu," jawab Tenten dengan nada bercanda walau sebenarnya dia menjawab seperti untuk mengetahui perasaan Shikamaru kepada Sakura.

" Hmm, itu lagi. Tidak ada jawaban yang lain?" Shikamaru tampak tidak suka setiap Tenten menyinggung kata ' mungkin mereka menyukaimu'. Tenten kecewa umpannya tidak dimakan oleh Shikamaru. Tapi dari kata-katanya tadi, Tenten merasa Shikamaru tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Sakura. Cenderung penasaran pada reaksi Sakura.

" Kau mau tahu cara untuk mengurangi perhatian mereka padamu?"

" Apa?" tanya Shikamaru penasaran.

" Pacar. Cari pacar dan mereka akan berhenti menjadikanmu pusat perhatian," jawab Tenten sambil menoleh ke arah Shikamaru.

" Apa kau mau menjadi pacarku?"

" A-apa?" Tenten menatap tidak percaya ke arah Shikamaru. Shikamaru menatap lurus ke depan.

" Merepotkan. Aku hanya bercanda,"

000

Neji mengayuh sepedanya menuju sekolah Tenten. Tadi Tenten menelponnya kalau sepedanya bocor. Tenten bilang dia sudah memasukkan sepedanya ke bengkel yang ada di sebelah sekolahnya. Tapi katanya nanti sore baru bisa diambil.

" Sudah lama?" tanya Neji ketika mendapati Tenten sedang berdiri di sebelah seorang temannya.

" Ah... cepat sekali. Maaf ya merepotkan, tadi Sakura sudah pulang duluan karena itu aku menelponmu. Oh ya Shikamaru, aku pulang duluan ya?" pamit Tenten pada lelaki di sampingnya.

" Iya," jawab Shikamaru singkat dan pergi meninggalkan Tenten dan Neji.

" Ada apa dengannya," kata Tenten lirih.

" Apa dia pacarmu? Kau tidak pernah bilang sudah punya pacar?" Neji langsung membrondongkan pertanyaan kepada Tenten.

" Apa maksudmu? Tentu saja bukan, dia itu hanya teman biasa. Sudah ayo jalan," perintah Tenten yang sudah siap duduk di kursi penumpang.

" Kau ini," Neji pun mulai mengayuh sepenya.

" Apa?"

" Tidak. Kau tahu? Hinata mulai mengeluh lagi, kenapa kalau berangkat bersama tapi pulangnya tidak. Hah... anak itu. Jam belajar kita kan berbeda dengannya,"

" Dia juga mengirimkan pesan padaku. Dia bilang ingin pulang bersama kita, bukan Teuchi-san," Tenten tertawa mengingat pesan yang dikirim Hinata.

" Jadi dia juga mengirim pesan padamu? Apa dia bilang kalau kita harus pulang cepat?"

" Tentu saja,"

" Berenang," kata mereka bersamaan dan mereka berdua pun tertawa.

000

" Mereka lama sekali," Hinata mulai bosan menunggu kedua kakaknya. Dia pun melepas kimononya dan langsung melompat ke kolam. Gerakannya sungguh indah.

" Wow!" sebuah suara membuat Hinata terkejut. Suara yang dikenalnya, Itachi. Itachi adalah teman satu kelas Neji. Dia sering bermain ke rumah Neji walau hanya sekedar menumpang renang.

" Itachi-nii, Hinata kaget tahu? Kak Neji mana?" tanya Hinata yang sekarang sudah berada di tepi kolam.

" Dia bilang, dia mau menjemput Tenten. Aku disuruh duluan kemari," kata Itachi sambil membuka seragamnya. Lalu berjalan mendekati Hinata, dia tidak bosan-bosannya memandangi Hinata. Ya, sejak pertama kali melihat Hinata dia sudah jatuh cinta. Pertama kali melihat pun saat Hinata sedang meloncat ke kolam renang seperti tadi. Apalagi tubuh Hinata yang bisa dibilang ideal bagi kaum laki-laki, padahal dia masih SMP. Ada desir aneh jika Itachi melihat Hinata berenang. Sejak itulah Itachi sering datang dengan alasan ingin menumpang berenang. Padahal dia sendiri punya kolam renang yang lebih luas dari kolam renang keluarga Neji.

" K-kenapa melihatku secperti itu?" tanya Hinata gugup karena merasa risih dengan pandangan Itachi. Hinata sudah sering merasakan pandangan aneh dari Itachi. Sebenarnya saat ini dia takut Itachi melakukan hal buruk padanya.

" Kau takut? Padahal aku berharap kau suka jika aku memandangmu seperti itu," kata Itachi dengan senyum ngeri, di mata Hinata tentunya. Itachi sudah masuk ke kolam saat itu.

" A-aku akan menyuruh Ayame-san membuatkan minuman untukmu,"

" Ayame-san tidak ada, tadi aku sempat bertemu dengannya. Dia bilang mau pergi ke supermarket membeli sesuatu," kata Itachi sambil menahan tangan Hinata yang hendak keluar dari kolam. Sedetik kemudian Itachi menarik Hinata dan memeluknya. Hinata sadar apa yang dia takutkan selama ini akan terjadi. Hinata memberontak, tapi tenaga Itachi jauh lebih besar. Itachi mencium Hinata dengan paksa sambil mencoba menarik turun baju renang Hinata. Entah apa yang ada dipikiran Hinata, dia ingin secepat mungkin lepas dari pelukan Itachi. Dia menggigit bibir Itachi. Sontak Itachi menarik tubuhnya dari Hinata.

" Beraninya kau!" teriak Itachi. Diraihnya kepala Hinata dan dia celupkan kepala Hinata ke dalam air. Berulang kali dia melakukannya. Dia mengangkat kembali kepala Hinata dan...

PLAK!

Itachi menamparnya. Tubuh Hinata sudah lemas, dia menangis berharap seseorang menolongnya.

" Aku ingin kau menjadi milikku! Kau dengar!" bentak Itachi.

" J-jangan b-berharap aku a-kan menyu-kai-mu," jawab Hinata terbata-bata.

" Kalau begitu akan kupaksa kau menyukaiku!" saat itu juga Itachi kembali mencium Hinata dengan paksa, hingga sebuah suara air menghentikan kegiatannya. Dan ketika dia menoleh sebuah pukulan mendarat di pipi kanannya. Neji yang memukulnya. Neji menyeret Itachi keluar dari kolam, sementara Tenten dengan panik menghampiri Hinata yang hampir tenggelam. Sementara Neji terus memukuli Itachi di pinggir kolam.

" Neji! Hinata pingsan!" teriakan Tenten membuat Neji berhenti memukuli Itachi.

" Pergi! Mulai sekarang kita bukan teman. Dan jangan pernah berani mengganggu Hinata lagi!" usir Neji membuat Itachi segera angkat kaki sambil memegang bibirnya yang berdarah. Neji teringat pada adiknya dan langsung berlari membantu Tenten mengangkat tubuh Hinata keluar dari kolam.

TBC...

Hwaaa... Kacha kok jadi bingung sendiri ya buat critanya?huhuhuhu
mohon tinggalkan jejak ya teman-teman.

Masukan dari anda adalah motivasi bagi saya.

Balaaass:

Hinataholic : terimakasih, ini sudah saya lanjutkan meski agak kacauuu ^^

Natsumi Kyoko : terimakasiiihhh.. semangaaattt!