Itachi melempar sebuah botol ke arah pintu kamarnya. Dia marah. Marah kepada Hinata yang menolaknya. Juga pada Neji yang memukulinya habis-habisan. Itachi sendiri tidak mengerti mengapa dia diam saja ketika Neji memukulinya. Neji, bisa dibilang dia adalah orang pertama yang benar-benar Itachi anggap sebagai temannya. Dulu, ketika keluarganya mengalami kesulitan yang membuat perusahaannya hampir bangkrut, semua teman-teman meninggalkannya. Itachi tahu, mereka mau berteman karena Itachi anak orang kaya. Tapi tidak dengan Neji. Itachi merasakan ketulusan pada pertemanan yang Neji tawarkan. Itachi tidak menyangka dia akan kehilangan seorang sahabat karena ambisinya untuk memiliki Hinata, cinta pertamanya.

" Kakak ini apa-apaan? Membanting barang-barang?!" bentak seseorang yang tiba-tiba muncul di balik pintu.

" Diam!" Itachi balik membentak orang itu yang tidak lain adalah adiknya.

" Kakak mabuk? Kakak kenapa, wajahmu lebam-lebam?" tanya adiknya ketika melihat pecahan botol minuman keras dan wajah Itachi yang babak belur.

" Hinata... Hyuuga Hinata, dia menolakku! Selama ini banyak perempuan yang mengejarku dan aku hanya jatuh cinta kepada Hinata. Tapi dia menolakku! Brengsek!" teriak Itachi sambil memegangi kepalanya. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya.

" Aku harus menemuinya. Dia harus menjadi milikku," gumam Itachi. Dia pun berdiri dan meraih kunci motornya. Dia tidak menghiraukan adiknya yang bertanya dia mau kemana. Dia hanya diam. Sampai akhirnya dia pergi melaju dengan kecepatan tinggi.

000

Satu bulan berlalu setelah kejadian di kolam renang. Sepertinya Hinata trauma dengan kejadian itu, sampai-sampai dia tidak masuk sekolah selama satu minggu. Dia takut keluar kamar dan setiap melihat kolam renang dia berteriak histeris. Tapi perlahan psikologis Hinata mulai membaik meskipun sekarang dia sudah tidak mau berenang lagi. Paling tidak Hinata sudah mau berangkat sekolah. Tadinya kedua orang tua Hinata sudah mau melaporkan Itachi ke kantor polisi, tapi ternyata ada sebuah berita mengejutkan. Pagi setelah kejadian itu, Neji mendapat kabar dari Naruto bahwa Itachi meninggal akibat kecelakaan. Akhirnya orang tua Neji tidak memperpanjang perkara itu dan mereka semua menyembunyikan kematian Itachi dari Hinata. Takut Psikologis Hinata akan memburuk.

Tenten melihat Hinata melamun di teras. Tenten merasa bersalah, kalau saja waktu itu ban sepedanya tidak bocor semua tidak akan terjadi. Neji tidak harus menjemputnya ke sekolah dan membiarkan Itachi ke rumah sendirian. Sebenarnya Tenten selalu merasakan hal yang tidak baik setiap melihat cara Itachi memandang Hinata. Tapi pikirannya itu ditepisnya, mengingat Itachi cukup dekat dengan Neji.

" Tenten, kenapa melamun?"

" I-ibu, tidak kok. Tenten hanya..." Tenten tidak melanjutkan kata-katanya.

" Tidak perlu terus-terusan merasa bersalah, Tenten. Ini juga bukan salah kamu," sepertinya ibunya tahu apa yang ingin dia katakan.

" Ibu benar, ini bukan salahmu. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu. Dari sekian perempuan kenapa Hinata yang dia pilih?" sahut Neji membuat Tenten kaget. Ternyata dari tadi dia berada di belakang Tenten.

" Tapi, aku rindu dengan Hinata yang selalu ceria. Aku ingin dia seperti dulu lagi," ungkap Tenten. Ada kesedihan di matanya.

000

Shikamaru memandang wajah perempuan manis berambut coklat yang sedang duduk di bawah pohon sekolah. Sudah satu bulan ini dia terlihat sedih. Ada rasa aneh ketika melihat gadis itu sedih. Dia ingin menghapus kesedihan dari wajahnya. Tapi pada akhirnya dia hanya diam menatap gadis itu dari kejauhan.

" Shikamaru," sebuah suara membuat Shikamaru berpaling ke arah suara itu. Sakura.

" Hm," hanya itu yang keluar dari mulutnya. Membuat Sakura menciut. Hampir saja dia lari seperti biasanya, tapi hatinya berbisik ' Jangan lari, cepat katakan'. Tanpa izin, Sakura duduk di samping Shikamaru.

" A-aku ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya sejak pertama aku masuk sekolah ini, aku melihat sesuatu yang menarik. Sesuatu yang membuatku tidak sabar menghabiskan hari Minggu. Sesuatu yang membuatku selalu bersemangat pergi ke sekolah. Aku... aku menyukaimu dari dulu. Apa kau..." kata-kata Sakura tiba-tiba dipotong oleh Shikamaru.

" Aku sudah menyukai orang lain. Maaf," setelah mengatakan itu, Shikamaru pergi meninggalkan Sakura. Sakura sebenarnya tidak terkejut dengan jawaban Shikamaru, tapi tetap saja dia sedih mendengarnya. Sakura berjalan menghampiri Hinata. Hinata menyadari kedatangan Sakura, dia terkejut melihat mata Sakura yang sembab.

" Dia menolakku," kata Sakura begitu duduk di samping Tenten.

" Shikamaru?"

" Iya," Sakura mulai menangis. Tenten memeluk Sakura erat. Tenten tidak menyangka sahabatnya ini akan mengungkapkan perasaannya. Tenten tidak mengatakan apa-apa, dia hanya membiarkan sahabatnya menangis sepuasnya.

Tenten masih memikirkan perasaan Sakura yang tidak terbalas. Seperti dugaannya, Shikamaru memang tidak menaruh perasaan yang sama kepada Sakura.

000

" Kau marah padaku?" sebuah suara datang dari arah belakang tempat duduknya.

" Kenapa aku harus marah?" Tenten berbalik bertanya kepada orang itu tanpa menoleh ke arahnya.

" Karena aku sudah melukai perasaan sahabatmu. Aku yakin dia sudah mengatakannya kepadamu," jawab orang itu, siapa lagi kalau bukan Shikamaru.

" Sebenarnya dari awal aku sudah tahu dengan jawabanmu itu. Tapi aku tidak pernah menyangka dia akan mengungkapkan perasaannya," ucap Tenten lirih.

" Akhir-akhir ini kau kenapa?" tanya Shikamaru mengalihkan pembicaraan.

" Aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?" tanya Tenten. Kali ini dia sudah menoleh ke arah Shikamaru.

" Kau terlihat sedih. Ada yang mengganggu pikiranmu?"

" Ah... Ada masalah di rumah. Aku tidak bisa menceritakannya padamu,"

"Minggu-minggu terakhirku di sekolah , apa kau tidak ingin membuatku senang? Apa kau bisa tersenyum seperti biasa?" Shikamaru sedikit memasang wajah murung.

" Apa maksudmu?" Tenten terkejut sekaligus tidak mengerti dengan apa yang Shikamaru ucapkan.

" Aku akan pindah ke Paris. Aku jadi resah memikirkan apa aku akan menemukan teman yang bisa aku ajak bicara sepertimu," Shikamaru tersenyum kecut.

" Pindah? Kapan?" Tenten cukup terkejut mendengar rencana perpindahan Shikamaru. Ada nada kecewa dari pertanyaannya. Tentu saja, Tenten kecewa karena kehilangan salah satu saingannya.

" Bulan depan. Apa kau merasa senang karena salah satu sainganmu akan pergi? Tapi dari nada pertanyaanmu tadi sepertinya kau kecewa aku akan pindah. Kau merasa kehilangan karena temanmu yang tampan ini tidak akan duduk di belakangmu lagi?" goda Shikamaru. Ini pertama kalinya Tenten tahu kalau laki-laki sedingin dia bisa menggodanya seperti itu.

" Astaga! Aku kira kau hanya bisa bersikap dingin dan tidur ketika pelajaran. Ternyata kau juga bisa berkata seperti itu," Tenten mengerucutkan bibirnya dan berhasil membuat Shikamaru tertawa.

" Apa aku seburuk itu?" tawa Shikamaru semakin menjadi.

" Kau bahkan tidak mengakuinya. Hey, apa aku sudah membuatmu senang? Kau belum berhenti tertawa," begitu Tenten selesai bicara, Shikamaru langsung berhenti tertawa dan memasang raut wajah yang seperti biasa.

" Kau tidak lelah? Memasang wajah seperti itu seharian. Sebenarnya aku lebih suka melihatmu tertawa seperti tadi," kata-kata Tenten berhasil membuat wajah Shikamaru memerah. Dia memalingkan mukanya dan Tenten malah terus menggodanya.

000