" Tenten, aku rasa Shikamaru benar-benar menyukaimu. Semua orang di sekolah juga tahu, dia bersikap begitu manusiawi jika bersamamu. Kau, satu-satunya orang yang dia ajak bicara," Sakura mengingat kejadian dua hari yang lalu ketika dia mengungkapkan perasaannya. Waktu itu Shikamaru bilang, dia sudah menyukai orang lain.
" Itu karena sejak kelas satu aku sekelas dengannya dan dia selalu duduk di belakangku. Semua orang juga tahu itu," jawab Tenten sekenanya.
" Tidak. Aku rasa tidak,"
" Kau masih menyukainya?" tanya Tenten.
" Entahlah, aku hanya merasa lega sudah mengatakannya," jawab Sakura. Memang itu yang dirasakan Sakura. Saat itu dia memang sedih, tapi hari berikutnya dia sudah merasa biasa saja. Mungkin itu karena Sakura sudah tahu kalau jawabannya akan seperti tiu.
' Jangan selalu memandang apa yang ada di depan, Sakura. Kalau kau mau sekali saja menengok ke belakang, kau akan tahu bahwa ada Neji yang menyayangimu. Juga Naruto yang selalu ada di sampingmu'. Tenten hanya bisa berbicara dalam hati. Seandainya saja sahabatnya tahu.
" Ngomong-ngomong tentang Shikamaru, bulan depan dia akan pindah sekolah. Dia akan pindah ke Paris," ucap Tenten sambil melirik ke arah Sakura untuk melihat reasinya. Sesuai dugaannya, Sakura terkejut mendengar berita itu.
" Benarkah? Tapi kenapa?" tanya Sakura, murung.
" Aku tidak menanyakannya. Kenapa wajahmu murung begitu? Merasa kehilangan ya? Sepertinya kau memang masih menyukai Shikamaru," goda Tenten.
" Kau itu, aku hanya merasa kecewa. Tidak apa jika dia tidak membalas perasaanku, tapi aku masih penasaran tentang dia. Aku ingin menjadi teman Shikamaru, sepertimu. Aku iri padamu," kali ini Sakura berkata dengan wajah sendu.
" Kalau begitu jadilah temannya. Jangan lari lagi setiap bertemu dengannya. Lagi pula, kurasa Shikamaru itu sebenarnya kesepian. Seperti katamu tadi, di sekolah akulah satu-satunya teman dia. Bagaimana kalau kita buat Shikamaru senang di minggu-minggu terakhir dia di sini? Agar dia merasakan senangnya mempunyai teman," Tenten tersenyum ke arah Sakura yang mengangguk mantap tanda setuju.
" Kau bilang Naruto ada di sini. Dimana dia? Aku tidak melihatnya dari tadi,"
" Dia ada di taman belakang bersama Neji dan Hinata. Kau tahu kan Naruto itu konyol dan lucu? Neji berharap Naruto bisa membuat Hinata tertawa,"
" Kau tidak cemburu?" tanya Sakura tiba-tiba.
" Apa?" Tenten terkejut dengan pertanyaan itu.
" Neji bilang Naruto menyukaimu? Aku lihat dia juga sangat dekat denganmu," tatap Sakura mencari tanda-tanda apakah pertanyaannya itu benar adanya.
" Kau percaya padanya? Hah! Itu tidak benar, jelas-jelas Naruto itu..." Tenten tidak melanjutkan kata-katanya. Hampir saja dia membuka rahasia tentang perasaan Naruto yang sebenarnya.
" Jelas-jelas dia apa? Kenapa tidak melanjutkannya?" tatap Sakura semakin dalam.
" Bagaimana aku bisa bicara jika kau menatapku seperti itu? Tentu saja aku akan mengatakan bahwa jelas-jelas Naruto hanya menganggapku teman," jawab Tenten tenang. Sepertinya jawaban Tenten berhasil membuat Sakura percaya. Karena setelah itu dia tidak menanyakan apa-apa lagi tentang Naruto.
000
Neji tersenyum melihat Hinata yang tertawa ceria, meskipun tidak seceria dulu. Bagaimana jika Hinata tahu kalau lelaki yang hampir menodainya meninggal tepat di malam setelah kejadian itu? Neji menggelengkan kepalanya, " Hinata tidak boleh tahu," gumamnya pelan. Tenten mendekati Neji dan duduk di sampingnya ikut memperhatikan Hinata yang sedang bercanda dengan Naruto dan Sakura. Tiba-tiba Tenten merasa badan Neji menegang, dia mengepalkan kedua tangannya. Tenten mengikuti arah pandangan Neji, Naruto sedang mencubit pipi Sakura dengan gemas.
" H-hey, jangan seperti itu. Aku tahu kau menyukainya, tapi jangan seperti itu. Kau seperti mau memakan Naruto saja," tegur Tenten menyadari bahwa Neji sedang cemburu melihat mereka.
" Apa kau bilang?" Neji menoleh ke arah Tenten ketika mencerna kembali kata-kata Tenten. ' Aku tahu kau menyukainya? Sejak kapan dia tahu?' tanya Neji dalam hati.
" Kalau maksud pandangan heranmu itu adalah apakah aku tahu kau menyukai Sakura jawabannya adalah iya. Ingat, firasatku itu tajam. Dari caramu memandang Sakura dan sikapmu jika bertemu dengannya, aku tahu kau jatuh cinta padanya. Sejak kita SMP bukan?" tebak Tenten tepat pada sasarannya.
" Jadi kau sudah tahu ya? Aku kira rahasia ini tidak akan diketahui siapapun, ternyata kau sudah menyadarinya dari dulu. Boleh aku bertanya?" kali ini Neji memasang wajah serius. Dia ingin menanyakan sesuatu yang ingin dia tanyakan dari kemarin.
" Apa ini sesuatu yang ingin kau katakan waktu itu? Ketika berangkat sekolah?" tebak Tenten dan lagi-lagi tepat sasaran. Neji bingung bagaimana Tenten bisa membaca semuanya.
" Apa Sakura mempunyai orang yang dia sukai?"
" Iya," jawab Tenten membuat Neji menunduk.
" Begitu ya," ucapnya lirih.
" Itu dua hari yang lalu. Tapi kalau sekarang aku tidak tahu,"
" Apa maksudmu dengan dua hari yang lalu? Apa dia baru saja putus dengan pacarnya? Tapi bukankah dia belum punya pacar?" tanya Neji tanpa jeda, membuat Tenten menahan tawanya.
" Aku tidak bisa menceritakannya. Sakura bisa membunuhku," kata Tenten penuh canda. Tapi ekspresinya kemudian berubah menjadi serius.
" Jika kau memang menyukainya, buatlah dia menyukaimu. Tapi jangan sampai karena keinginanmu itu kau merusak hal yang tidak kalah berartinya," kata Tenten sambil tersenyum dan pergi bergabung dengan Hinata, Naruto dan Sakura.
Neji masih mencoba mencerna kalimat Tenten yang terakhir," Hal yang tidak kalah beratinya? Apa maksudnya?".
000
Hari ini Hinata sudah mulai berangkat sekolah bersama Neji dan Tenten. Hal ini membuat Tenten senang melihat perubahan Hinata. Sepertinya Neji harus sering-sering membawa Naruto ke rumah. Tanpa sadar Tenten sudah tersenyum sendiri. Sakura yang melihat Tenten seperti orang gila langsung menyikutnya.
" Sakuraaa!" teriak Tenten manja.
" Kau itu kenapa? Senyum-senyum sendiri," kata Sakura dengan nada tidak suka. Tapi Tenten tidak peduli, dia malah melambaikan tangan kepada seseorang. Orang itu kini berjalan masuk ke dalam kelas. Sakura yang menyadari siapa orang itu bersiap-siap untuk lari. Tapi Tenten lebih cepat menyadari reaksi Sakura, dia langsung memegang tangan kiri Sakura agar dia tidak lari.
" Kau sudah setuju bukan untuk mencoba berteman dengan Shikamaru? Jadi jangan lari," Tenten berbisik mengingatkan pembicaraan kemarin di rumah Tenten.
" Kau memanggilku?" tanya Shikamaru menatap Tenten lembut. Sakura membuka matanya lebar-lebar karena terkejut melihat tatapan lembut Shikamaru kepada Tenten.
" Aa-ha," jawab Tenten sambil mengangguk.
" Ada apa? Kau tidak menyuruhku berkencan dengan dia bukan? Merepotkan," tanya Shikamaru begitu menyadari kalau dari tadi Sakura juga ada di sana. Ketika Tenten melambaikan tangan kepada dirinya, dia tidak bisa bohong bahwa dia senang Tenten memanggilnya. Sehingga yang dia lihat saat itu hanya Tenten, sedangkan yang lain entah bagaimana bisa tidak terlihat oleh matanya waktu itu.
" Jaga sikapmu," tegur Tenten dengan nada halus. Shikamaru menoleh ke arah Tenten lagi dan tersenyum.
"Hn," hanya itu yang keluar dari bibirnya.
" Kau ada waktu hari ini? Bagaimana kalau sepulang sekolah kau ikut kami jalan-jalan?" tanya Tenten bersemangat tidak lupa dengan senyum cerahnya. Senyum itulah yang selalu membuat semua orang nyaman, termasuk Shikamaru.
" Baiklah," jawab Shikamaru tanpa banyak tanya meskipun dia sendiri penasaran mengapa Tenten dan Sakura mengajaknya jalan-jalan.
" Jadi, nanti kita pergi naik apa?" Sakura mulai bersuara.
" Ah... benar juga," Tenten menyadari ada masalah dengan transportasi. Mengingat kendaraan mereka berbeda-beda. Tenten naik sepeda, Shikamaru naik motor dan Sakura dijemput sopirnya.
" Tinggalkan saja sepedamu di rumah Iruka-sensei," tiba-tiba Shikamaru mengeluarkan ide untuk menitipkan sepeda Tenten di rumah guru muda, yang kebetulan rumahnya tepat di belakang sekolah mereka.
" Tidak," sahut Tenten.
" Kenapa? Kau kan bisa naik mobil bersamaku atau berboncengan dengan Shikamaru. Tidak mungkin kan kami mengimbangi sepedamu? Bisa-bisa besokk baru sampai," ledek Sakura.
" Aku pulang naik apa? Besok aku berangkat sekolah bagaimana? Rumah kita kan tidak searah," Tenten tetap tidak setuju.
" Aku bisa mengantarmu dan aku bersedia menjemputmu besok. Lagi pula setelah jalan-jalan kita bisa kembali ke rumah Iruka-sensei untuk mengambil sepedamu. Itu juga kalau kau memang tidak ingin pulang tanpa sepedamu," kata Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Aku akan mengantarmu. Rumah kita searah," tiba-tiba Shikamaru memberikan solusi yang mengejutkan. Bukan karena Shikamaru mau mengantarnya pulang, tapi dari mana Shikamaru tahu rumah mereka searah. Shikamaru langsung membuat alasan atas kata-katanya tadi.
" Aku pernah melihatmu masuk ke sebuah rumah dan kurasa itu memang rumahmu," lanjut Shikamaru sebelum Tenten dan Sakura bertanya. Shikamaru berbohong, sebenarnya dia pernah mengikuti Tenten pulang sekolah. Tapi sepertinya dua gadis di depannya tidak menyadari kalau dia sedang berbohong.
" T-tapi..." Tenten masih ingin mengatakan kalau dia tidak setuju.
" Baiklah, jadi sudah ditetapkan. Ah... aku harus kembali ke kelas, kita bertemu di gerbang ya? Daaah," Sakura menutup pembicaraan agar Tenten tidak menolak lagi.
" Ada apa dengan sepedamu? Memangnya sepedamu itu terbuat dari emas?" tanya Shikamaru sekenanya karena Tenten masih saja terlihat tidak mau meninggalkan sepedanya.
" Sepeda itu, sepeda pertama dari ibuku. Hadiah ulang tahunku," jawab Tenten. Sebenarnya yang dimaksud adalah ibunya Neji. Shikamaru merasa ada yang janggal dengan kata-kata Tenten. Dari yang dia tahu, Tenten itu anak orang kaya. Mana mungkin sepeda itu adalah sepeda pertama dari ibunya. Melihat wajah Tenten yang murung, Shikamaru mengurungkan niatnya untuk bertanya.
" Sepedamu akan baik-baik saja. Percayalah," akhirnya kalimat itulah yang Shikamaru keluarkan dari bibirnya.
TBC ^_^
Hadeewh! Bagaimana ini? Kenapa semakin GAJE begini?
Mungkin ada yang mau menebak jalan cerita? Siapa tahu pikiran kita sejalan..wkwkkw (^v^)
Review teman-teman, kritik dan saran bahkan flame pun saya terima.
Natsumi Kyoko : iya nih alur cepat, kacha bingung sih T^T
Chara'Chanta : tuh kaaaann, kacha juga merasa ada yang aneh dan tidak beres dengan otak Itachi (maaf, maaf), tapi yaaaa... bagaimana ya? Karena saya akan menggunakan Sasuke, jadi terpaksa Itachi saya buat seperti itu..hohoho
