Shikamaru menghentikan motornya di sebuah rumah. Sesuai rencana, Shikamaru mengantar Tenten pulang. Mereka pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Dengan buru-buru Tenten turun dari motor.
" Terima kasih sudah mengantarku," kata Tenten dengan gusar.
" Kau sudah sampai di rumah sebelum matahari terbenam, jangan panik seperti itu. Dasar merepotkan," sindir Shikamaru karena masih merasa jengkel pada Tenten yang memaksanya segera mengantarnya pulang.
" ," Wajah Tenten memerah karena malu mendengar sindiran dari Shikamaru.
" Besok aku harus menjemputmu jam berapa?"
" Ah... Itu, kau tidak perlu menjemputku. Kakakku bisa...," belum selesai Tenten bicara, Shikamaru sudah memotongnya.
" Aku akan menjemputmu jam setengah tujuh," sambar Shikamaru. Saat Tenten mau menolaknya Shikamaru sudah menghidupkan motornya dan langsung melaju meninggalkan Tenten. Shikamaru tersenyum menang. Dia pasti lebih gembira lagi jika tadi melihat Tenten yang kalang kabut karena dirinya memaksa untuk tetap berangkat sekolah bersama.
Shikamaru berhenti di depan sebuah rumah mewah. Seorang satpam langsung berlari untuk membuka pintu gerbang. Ya, rumah mewah itu adalah rumah Shikamaru. Shikamaru berjalan memasuki rumah setelah mengandangkan motornya. Senyum di wajahnya belum juga hilang, membuat salah seorang pelayannya terheran-heran.
" Tuan muda sepertinya gembira sekali?" tanya pelayan tersebut yang sepertinya sudah berusia 30 tahun.
" Ah... Sizune-san mengagetkan saja. Aku ke kamar dulu," Shikamaru yang salah tingkah mendengar pertanyaan Sizune langsung berjalan menaiki tangga. Sizune hanya tersenyum melihat tingkah majikannya.
" Hah! Aku ini kenapa?" tanya Shikamaru pada dirinya sendiri setelah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dia kembali mengingat kejadian di taman tadi.
" Aku beli ice cream dulu ya?" kata Tenten dengan wajah seperti ingin memakan ice cream satu ember penuh. Sementara Sakura dan Shikamaru sudah duduk karena lelah. Mereka sempat jengkel karena ternyata Tenten hanya mengajak mereka jalan-jalan di taman, bukan di tempat yang lebih menyenangkan. Tapi pada akhirnya mereka juga merasa gembira.
" Ah... kau selalu begitu jika melihat ice cream. Pergilah, tolong belikan aku satu ya? Kau juga mau?" tanya Sakura kepada Shikamaru dan dijawab dengan gelengan. Tenten dengan semangat langsung pergi ke arah seorang penjual ice cream keliling.
" Katakan padaku, kau menyukainya kan?" pertanyaan Sakura yang tiba-tiba itu membuat Shikamaru terkejut.
" Apa maksudmu?" Shikamaru pura-pura tidak mengerti.
" Ayolah! Aku tahu kau menyukainya. Tidak, tidak. Semua orang di sekolah bahkan mengira kau berpacaran dengan Tenten," Sakura menatap Shikamaru dengan tajam. Tatapannya seolah menuntut agar Shikamaru mengakui perasaannya.
" Biar saja mereka mau bicara apa," jawab Shikamaru. Dalam hati dia bertanya pada dirinya sendiri apakah itu benar.
" Kata orang memang tidak penting. Tapi yang lebih penting itu perasaanmu. Jadi cepat jawab pertanyaanku, kau menyukainya atau tidak?" kali ini Sakura bertanya dengan wajah memohon, tetap berharap Shikamaru akan menjawab.
" Jangan berharap aku akan memberitahumu," jawab Shikamaru sekenanya, membuat Sakura mengerucutkan bibirnya.
" Baiklah, aku tidak peduli pada perasaanmu kepadanya. Tapi saranku, kalau kau memang menyukainya kau harus segera mengatakannya. Jangan sampai kau menyesal," kata-kata Sakura kali ini membuat Shikamaru termenung.
" Waaah! Kau benar-benar memikirkan kata-kataku ya? Itu artinya kau memang...," Sakura tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena saat itu juga Shikamaru menutup mulut Sakura dengan tangannya. Mata Sakura menatap Shikamaru minta penjelasan atas aksi menutup mulut itu.
" Hey! Kenapa kau menutup mulut Sakura seperti itu? Tidak sopan," tegur Tenten yang sekarang sudah berada di belakang Sakura dan itulah jawaban mengapa Shikamaru menutup mulut Sakura. Shikamaru buru-buru melepas bekapannya.
" Tidak, tadi kami sedang bercanda," jawab Shikamaru. Tenten merasa aneh dengan jawaban Shikamaru karena mengingat Shikamaru adalah orang yang jarang terlihat bercanda. Tapi Tenten tidak ambil pusing, dia menganggap bahwa itu hal yang bagus bila Shikamaru sudah bisa akrab dengan Sakura. Tenten pun ikut duduk dan memberikan ice cream milik Sakura.
" Handphone-mu," kata Shikamaru ketika mendengar suara bergetar dari tas Sakura. Sakura langsung mengambil handphone-nya dan berjalan menjauh untuk mengangkat telpon.
" Aku senang kau bisa akrab dengan Sakura. Tidak sulit kan bergaul dengan orang? Di Bali nanti, kau harus bisa mendapat teman yang sebanyak-banyaknya. Kau mengerti kan?" Tenten mulai menasehati Shikamaru sambil memakan ice cream coklat favoritnya.. Shikamaru tersenyum mendengarnya.
" Kau khawatir padaku?" goda Shikamaru.
" Memikirkan apa kau akan bisa memperoleh teman di sana, tentu saja membuatku khawatir," jawaban Tenten membuat wajah Shikamaru memanas. Dia tidak tahu kenapa bisa begitu. Sakura berjalan mendekati mereka. Sakura bingung melihat wajah Shikamaru yang memerah.
" Waah! Ada apa dengan wajahmu itu?" Sakura menunjuk wajah Shikamaru membuat Shikamaru menoleh ke arah lain.
" Hmm? Memangnya wajahmu kenapa?" tanya Tenten tidak mengerti.
" Diamlah. Aku tidak apa-apa," Sakura tertawa mendengar jawaban Shikamaru.
" Papa menyuruhku segera pulang, maaf aku harus pulang duluan. Hey orang aneh! Jangan lupa mengantar Tenten pulang!" kata Sakura dengan nada mengancam. Tenten hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
" Daaa!" Sakura berlari meninggalkan mereka berdua.
" Aku kira Sakura marah padaku setelah aku menolaknya," kata Shikamaru begitu Sakura sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
" Tadinya aku juga berpikir seperti itu. tapi Sakura bilang dia ingin menjadi temanmu. Dia penasaran padamu," Tenten sudah menghabiskan ice creamnya.
Shikamaru tersenyum,' Pasti penasaran tentang itu,' tebak Shikamaru dalam hati.
" Aku senang kau mengajakku jalan-jalan hari ini. Terima kasih," Shikamaru terlihat benar-benar senang ketika mengatakannya.
" Iya, aku tahu kau senang. Hari ini kau lebih banyak tersenyum. Aku suka," Tenten tersenyum ke arah Shikamaru dan membuat wajahnya kembali memanas. Shikamaru saat ini sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. Tentang perasaannya. Juga perasaan Tenten kepadanya.
" Tenten, aku...,"
" Astaga! Sudah jam empat!" tiba-tiba Tenten terlonjak ketika melihat jam tangannya. Shikamaru kecewa, dia belum selesai bicara.
" Tenten, dengar dulu. Aku...," lagi-lagi Tenten memotong kata-kata Shikamaru.
" Shikamaru, ayo pulang. Sudah sore," Tenten mulai merengek minta pulang.
" Tapi,"
" Ayooo," kali ini Tenten menarik-narik tangan Shikamaru. Shikamaru menghela nafas. Dia jengkel karena dia belum mengatakan apa-apa Tenten sudah merengek minta pulang. Akhirnya dia tidak jadi mengatakannya dan mengantar Tenten pulang.
000
Hinata heran melihat ibunya yang tampak gelisah. Tadi dia dan ibunya melihat Tenten pulang diantar seorang laki-laki.
" Ibu kenapa gelisah?" tanya Hinata sambil menyentuh pundak ibunya.
" Hinata, kira-kira yang mengantar Tenten tadi siapa?"
" Hinata tidak tahu, Bu. Mungkin temannya. Mau Hinata tanyakan?"
" Tidak, jangan. Ibu sendiri saja yang bertanya," kata ibu sambil berjalan menuju kamar Tenten. Dia membuka kamar Tenten, pelan.
" Ibu boleh masuk, Sayang?"
" Ya bolehlah, Bu," jawab Tenten sambil tersenyum. Ibu masuk dan duduk di samping Tenten. Ibu tampak ragu untuk mulai pembicaraan.
" Yang mengantar Tenten tadi siapa?" tanya ibu hati-hati.
" Owh, itu teman satu kelas Tenten. Maaf , Bu. Tenten pulangnya terlalu sore," Tenten merasa bersalah karena pulang terlalu sore.
" Tidak apa-apa, Sayang. Tapi, itu bukan pacar Tenten kan?"
" Bukan, Bu. Tenten dan Shikamaru hanya teman biasa," jawaban Tenten membuat ibu tenang. Dari penglihatannya tidak ada tanda-tanda kalau Tenten berbohong. Tapi rasa penasarannya jadi berbelok arah begitu mendengar nama Shikamaru.
" Shikamaru? Shikamaru yang disukai Sakura?" kali ini ibu tampak semangat bertanya kepada Tenten.
" Loh? Ibu tahu Sakura menyukai Shikamaru?" Tenten bingung kenapa ibunya bisa tahu. Selama ini yang tahu hanya dia dan Sakura, juga Shikamaru tentunya.
" Ibu pernah dengar kalian membicarakan Shikamaru. Ibu pikir Shikamaru itu pacar kamu, jadi ibu menyimak obrolan kalian. Ternyata Sakura yang suka pada Shikamaru," jawab ibunya malu-malu karena ketahuan menguping.
" Memangnya kalau Tenten yang suka pada Shikamaru kenapa?" tanya Tenten menggoda ibunya. Ibunya tampak gugup mendapat pertanyaan seperti itu.
" Ya, tidak apa-apa. Ibu ke kamar dulu ya?" pamit ibu, buru-buru keluar dari kamar Tenten. Tenten heran melihat ibu yang gugup menjawab pertanyaannya.
Hiashi yang baru saja selesai mandi geleng-geleng melihat perubahan ekspresi istrinya. Sebelum keluar tadi istrinya tampak gusar dan setelah masuk sudah senyum-senyum sendiri.
" Kenapa?" tanya ayah heran.
" Ibu lega, Yah. Tadi yang mengantar Tenten ternyata bukan pacarnya. Sepertinya kita harus bertindak cepat, Yah. Bagaimana kalau rencana kita dipercepat saja?"
" Ibu, mereka itu belum lulus SMA. Sebaiknya kita menunggu mereka lulus dulu," ayah tampak kurang setuju dengan pendapat ibu.
" Ayah, kalau kita kalah start bagaimana? Ibu tidak mau kecolongan," alasan ibu mulai membuat ayah goyah.
" Benar juga. Ya sudah ibu atur saja," jawaban itu membuat ibu langsung memeluk ayah.
" Semoga keputusan kita ini yang terbaik untuk mereka. Kira-kira mereka kaget tidak ya, Yah?"
" Ibu harus siap dengan reaksi mereka nanti,"
000
" Ternyata kau di sini? Aku mencarimu dari tadi," Neji berjalan ke arah Tenten yang sedang duduk di ayunan halaman rumah. Tenten menoleh ke arah Neji, dia membawa sesuatu di tangannya. Sesuatu yang membuat Tenten senang sekali.
" Ice cream!" seru Tenten membuat Neji tertawa.
" Ini," kata Neji sambil duduk di samping Tenten.
" Terima kasih,"
" Jadi tadi itu pacarmu atau siapa?" tanya Neji sambil menyenggol lengan Tenten sehingga ice cream yang dimakannya tadi mengenai pipinya. Membuat Tenten merengut.
" Apa yang kau lakukan?" kata Tenten masih dengan ekspresi yang sama, Neji sampai tertawa melihatnya.
" Maaf, maaf," kata Neji sambil mengusap pipi Tenten yang terkena ice cream. Pipi Tenten memerah, jantungnya berdegup kencang. Dengan cepat Tenten menarik wajahnya dan menoleh ke arah lain. Dengan gugup tangannya menghilangkan sisa noda ice cream di pipinya. Neji sedikit terkejut dengan reaksi Tenten, tapi dia juga terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan.
" Ah, tadi kau tanya apa?" Tenten mencoba menyairkan situasi yang tiba-tiba membeku.
" Yang mengantarmu tadi, apa dia pacarmu?" Neji mengulangi pertanyaannya.
" Bukan,"
" Sepertinya aku pernah melihatnya. Dia yang menemanimu di gerbang sekolah waktu ban sepedamu bocor itu kan?" tebak Neji.
" Iya, itu dia. Ada apa?" tanya Tenten dengan ice cream yang sudah lenyap dari tangannya.
" Sepertinya... Dia menyukaimu," kata Neji sambil menepuk kepala Tenten. Neji tersenyum mengetahui ice cream yang diberikannya sudah berpindah tempat dalam waktu kurang dari lima menit.
" Bagus kalau begitu. Ternyata ada juga yang menyukaiku," jawab Tenten sekenanya.
" Benar juga, tadinya aku khawatir kalau tidak ada yang mau menjadi pacarmu. Lihat saja wajahmu," kata Neji dengan wajah serius.
" Jadi aku sejelek itu ya?" tanya Tenten menunduk lesu. Neji sudah tidak bisa menahan tawa ketika Tenten menunduk lesu. Tenten sadar Neji sekarang menertawainya. Dia melotot ke arah Neji den Neji langsung berlari karena melihat Tenten siap memukulnya. Akhirnya mereka bermain kejar-kejaran di halaman rumah.
" Kena kau!" seru Tenten senang karena berhasil menangkap tangan Neji. Tenten menjulurkan lidah dan mencubit pipi Neji.
" Ampun!" teriak Neji, sekarang Tenten menggelitikinya.
" Tidak!" Tenten menolak untuk menghentikannya.
" Baiklah kalau begitu!"
" Hentikan!" Tenten kegelian karena Neji sekarang membalasnya.
" Baiklah, aku sudah lelah!" Neji yang kelelahan langsung duduk di atas rumput.
" Itukan salahmu sendiri," Tenten mengerucutkan bibirnya dan lagi-lagi membuat Neji tertawa.
" Apa kau tidak menyadarinya? Kau itu cantik," Neji mengatakannya dengan sebuah senyum hangat. Seperti senyum yang dulu pertama kali dilihatnya. Neji berdiri dan meninggalkan Tenten yang masih tertegun mendengar kalimat Neji yang terakhir. Tenten menggelengkan kepalanya.
" Tidak, aku... tidak boleh," bisik Tenten pada dirinya sendiri.
000
Seorang gadis pirang berkucir empat menatap sendu ke arah adik bungsunya. Tidak normal, itu yang ada dipikirannya. Seharusnya remaja SMP sepertinya menghabiskan waktu dengan keluar bersama teman-temannya. Tapi remaja berambut merah itu selalu berkutat dengan buku. Tidur hanya 2 jam di setiap harinya membuat lingkaran mata yang cukup tebal. Kenapa dia begitu suka membaca buku? Tidak, bukan karena dia suka tapi karena dia merasa harus seperti itu. Dia ingin diakui keberadaannya oleh Gubernur Suna, ayahnya. Dia ingin suatu hari nanti ayahnya mau melihat atau mungkin memeluknya dan memanggil dengan sebutan 'anakku'.
" Gaara, sudah waktunya makan," gadis itu mulai menghampiri adiknya.
" Hm,"
" Ayolah Gaara! Kau akan kenyang sebelum makan kalau terus-terusan membaca buku!"
" Temari-nee, hari ini ayah pulang jam berapa?" tanya Gaara kepada kakak perempuannya, Temari, tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
" Aku menyuruhmu makan Gaara, kenapa kau menanyakan itu?" Temari mengalihkan pandangannya dari Gaara. Dia tahu benar apa maksud Gaara menanyakan itu.
" Aku akan makan, jadi tolong jawablah,"
" Ayah bilang akan pulang untuk makan malam. Setelah itu dia kembali ke rumah dinas,"
"Aku mengerti," kata Gaara datar.
" Kau akan ke perpustakaan kota lagi? Ayolah Gaara, bagaimana ayah akan mengakuimu kalau kau sendiri selalu menghindar? Hubungan kalian tidak akan mengalami kemajuan kalau terus seperti ini!"
" Hm. Ayo makan," kata Gaara dan sepertinya kata-kata Temari tadi mental entah kemana. Gaara menutup buku yang dibacanya. Dia menyerahkannya kepada Temari lalu berdiri dan meninggalkan Temari di kamarnya.
" Apa?" Temari tidak mengerti kenapa buku itu diberikan pun melihat sampul buku itu. ' Temari', ada namanya di sana. Lima detik kemudian dia tersadar bahwa itu adalah buku matematikanya.
" Kami-sama, apa benar adikku ini tidak normal? Dia bahkan membaca buku untuk anak kelas 3 SMA," Temari mulai terlihat frustasi melihat adkinya yang dari tahun ke tahun semakin aneh.
TBC..
Lohaaaaa... tambah aneh ini, Hiashi yang sama sekali tidak tegas dan killer seperti biasanya. Ditambah Neji yang main kejar-kejaran. ...Haduuuuuwhh!
Sabaku No Gaalank: Gaahina ya? Kapan ya munculnyaaaaa... mungkin 1 tahun kemudian atau 3 tahun kemudian...hihihiihi ^_^ tunggu aja ya (padahal lagi bingung mau dimunculkan kapan...wkwkwk)
michi hana: muncul kok, dikit tapi...hehehhe
Hinataholic: terimakasih ralatnya ^_^ maaf masih banyak typo...hehehehee
