Neji menemani Tenten berdiri di depan gerbang rumah sambil menunggu Hinata. Berulang kali Neji melirik ke arah Tenten, sepertinya gadis di sampingnya sedang gugup.
" Kau yakin tidak ingin aku antar? Hinata bisa berangkat bersama ayah dan aku akan mengantarmu," ini kesekian kalinya Neji menawarkan jasa untuk mengantar Tenten. Dan untuk kesekian kalinya juga Tenten menggeleng.
" Tapi kenapa kau gugup seperti itu?" tanya Neji tidak tahan melihat kegugupan Tenten.
" Aku tidak gugup," jawab Tenten sambil menunduk. Neji menghela nafas,'Ada apa dengannya hari ini?' tanya Neji dalam hati.
" Kau gugup, aku tahu itu. Apa karena pagi ini orang itu akan menjemputmu?" Neji ingat ketika tadi pagi Tenten menolak diantar ayahnya dengan alasan teman yang mengantarnya kemarin akan menjemputnya. Tenten tidak menjawab pertanyaan Neji.
" Maaf menunggu lama," Hinata berlari ke arah kedua kakaknya. Neji kembali menoleh ke arah Tenten.
" Aku akan mengantarmu,"
" T-tidak per..." kalimat Tenten terpotong oleh suara motor yang berhenti tepat di depannya. Tenten yakin itu pasti adalah Shikamaru.
" Sepertinya jemputanmu sudah datang," kata Neji menyadari bahwa motor yang kini berada di depannya sama dengan motor orang yang mengantar Tenten pulang. Neji kemudian menyuruh Hinata untuk segera naik.
" Kami berangkat dulu," kata Neji datar membuat Tenten langsung melihat ke arah Neji. Belum pernah Neji berbicara sedatar itu kepadanya. Hinata yang juga menyadarinya hanya bisa tersenyum takut sambil melambaikan tangannya. Tenten masih terdiam sampai-sampai tidak menyadari bahwa Shikamaru sudah berdiri di sampingnya.
" Itu kakakmu? Cara bicaranya membuatku kesal," suara Shikamaru membuat Tenten kaget.
" Maaf. Tapi biasanya dia tidak seperti itu," bela Tenten.
" Ah... sudahlah, kita harus segera berangkat. Kau tidak ingin telat bukan?" Shikamaru menoleh ke arah Tenten yang kini sedang mengangguk. Shikamaru melihat sesuatu yang aneh pagi ini pada diri Tenten. Ingin sekali dia menanyakannya, tapi tidak bisa.
000
Seperti biasa, Naruto dengan riang memasuki gerbang sekolah. Dia menyapa semua orang yang ada di sana, tidak peduli dia mengenalnya atau tidak. Benar-benar periang itulah kesan pertama jika bertemu dengannya.
" Pagi semuaaaa!" sapa Naruto dengan suara super kerasnya.
" Kau ingin membuat kami tuli dengan suara cemprengmu itu ya?" seorang perempuan merengut sambil menutup telinganya.
" Hey, hey! Shion, cobalah untuk tersenyum jangan memasang wajah seperti itu. Jika kau tersenyum harimu akan terasa lebih damai," kata Naruto kepada temannya yang bernama Shion itu, sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas.
" Damai katamu? Karena suaramu itu kami menjadi tidak tenang tahu! Aku heran, berapa baterai yang diperlukan untuk mengisi tenagamu itu? Ingin sekali aku melepas baterai-bateraimu itu," timpal salah satu teman Naruto yang duduk tepat di belakang Shion.
" Ini semangat anak muda tahu!" jawab Naruto dengan mata berapi-api. Tiba-tiba sebuah tangan menarik kerah belakangnya.
" Hey! Apa-apaan ini?" Naruto berteriak menyadari kini dia sudah diseret untuk duduk di kursinya.
" Kau berisik sekali," kata orang yang menyeret Naruto, Neji.
" Ternyata kau? Ada apa dengan wajahmu?" tanya Naruto begitu melihat wajah murung sahabatnya terpampang jelas di depan matanya.
" Tidak, aku hanya sedikit bingung. Hah! Aku ini kenapa!" desis Neji sambil meremas rambutnya.
" Y-ya ampun. Sepertinya kau sudah gila," Naruto terkejut sampai-sampai dia bergerak menjauh dari Neji.
" Kau itu yang gila," ujar Neji pelan.
" Kurasa kau benar, aku memang sedang merasa aneh pada diriku ini. Banyak sekali bunga yang tumbuh di sini," kata Naruto tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di hati. Neji mengerutkan dahinya.
000
Semua tatapan tidak percaya mengarah pada salah satu meja di kantin sekolah. Bahkan kantin yang tadinya memang ramai kini menjadi lebih ramai lagi. Di meja itu, tempat Tenten dan Sakura sedang makan. Tentunya ditambah satu orang yang menjadi daya tarik para siswi untuk memasuki kantin. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru. Sakura hanya bisa menggelengkan kepala melihat situasi itu. Sedangkan Tenten dengan tenang tetap makan tanpa rasa risih karena banyak orang yang memandang ke arah mejanya.
" Aku bisa gila, kau itu magnet atau apa?" tanya Sakura sinis.
" Sakura, nada bicaramu kurang sopan," tegur Tenten lembut sementara yang ditanya hanya diam menopang dagu.
" Tapi aku risih," kali ini Sakura mengatakannya dengan nada frustasi. Sakura teringat, dulu dia juga salah satu dari mereka. Selalu merasa ada yang menarik dirinya ketika melihat Shikamaru, 'Ternyata seperti itu rasanya. Pasti selama ini dia juga risih,' batin Sakura.
" Aku beruntung sudah bebas dari magnet gaibmu," kata Sakura disambut sebuah sendok memukul kepalanya pelan. Ternyata Shikamaru yang melakukannya.
" Kau pikir aku dukun? Dasar tidak sopan," kata Shikamaru, sepertinya kata 'tidak sopan' yang sering diucapkan Tenten sudah menular kepadanya.
" Shikamaru, itu tadi juga tidak sopan. Berhenti mengeluh dan makanlah," Tenten menengahi kedua temannya.
" Aku kehilangan nafsu makanku," Sakura memandang bakso yang belum dimakan sama sekali.
" Membuang makanan itu tidak baik," tegur Tenten sambil melirik ke arah Shikamaru yang melahap bakso terakhirnya.
" Kau itu benar-benar tipe istri idaman," Sakura mulai menggerutu sambil mulai memakan baksonya.
" Kalian tunggu di sini. Aku ingin ke toilet sebentar," Shikamaru beranjak keluar dari kantin dan kantin pun tiba-tiba mulai sepi. Ternyata pesona Shikamaru memang begitu kuat, mampu membuat kantin sangat ramai ketika dia datang dan membuatnya sepi ketika dia pergi.
" Tenten, kau tahu? Tadinya aku merasa aneh kenapa dulu Shikamaru yang bagiku seperti magnet kini tidak bisa menarikku seperti dulu. Sekarang aku merasa ada magnet lain yang menarikku," kata Sakura dengan wajah memerah.
" Aku tidak mengerti maksudmu,"
" Aku jatuh cinta,"
000
Dengan lemas Tenten mengayuh sepedanya. Dia merasa bingung dan frustasi. Perasaan itu dimulai sejak Sakura mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak tahu harus senang atau sedih. Sakura jatuh cinta.
" Tenten, kau tahu? Tadinya aku merasa aneh kenapa dulu Shikamaru yang bagiku seperti magnet kini tidak bisa menarikku seperti dulu. Sekarang aku merasa ada magnet lain yang menarikku," kata Sakura dengan wajah memerah.
" Aku tidak mengerti maksudmu,"
" Aku jatuh cinta,"
" Apa?!" tanya Tenten setengah berteriak.
" Pelankan suaramu,"
" M-maaf, aku hanya terkejut. Kau bilang jatuh cinta?" Tenten sudah bisa menguasai dirinya.
" Iya," jawab Sakura mantap sambil tersenyum senang.
" Kepada siapa?" tanya Tenten hati-hati. Jujur saja saat itu perasaan Tenten tidak enak. Tenten masih menunggu Sakura yang malu-malu untuk menjawab.
" Si Bodoh itu, aku tidak tahu kalau orang seperti dia bisa membuatku jatuh cinta. Kekonyolannya selalu membuatku tersenyum. Dan aku baru sadar bahwa selama ini dia yang selalu ada untuk menghiburku. Selama ini aku hanya melihat Shikamaru. Ketika aku memejamkan mata untuk berhenti melihatnya, aku malah melihat bayangan orang lain. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Dan ketika aku mulai membuka mata kembali bukan Shikamaru yang terlihat. Tapi Naruto," jelas Sakura dengan mata berbinar-binar.
Tenten menggelengkan kepalanya ketika mengingat apa yang dikatakan Sakura. Tenten masih terus memikirkan apa yang akan dia katakan pada Neji jika Neji tahu tentang hal itu. Lagi-lagi Tenten menggelengkan kepalanya sampai-sampai dia tidak menyadari ada seekor kucing yang melintas di depannya.
" Aaaah!" teriak Tenten sambil menghindari kucing itu. Tenten tidak jadi menabrak kucing tadi, tapi dia malah menabrak sebuah tiang listrik dan terjatuh.
" Sssh... tanganku," Tenten merintih kesakitan ketika mencoba berdiri. Tangan kanannya terasa nyeri. Saat jatuh posisi tangannya memang terhimpit antara batu dan sepedanya. Tenten kembali mencoba berdiri dan menegakkan sepedanya sambil menahan sakit.
" Hari yang berat," keluhnya.
000
Neji menatap marah pada pintu gerbang rumahnya. Dia menunggu seseorang. Seseorang yang tahu semua tentang masalahnya. Seseorang yang sangat dia percaya tapi sudah membuatnya kecewa.
" Y-ya ampun. Sepertinya kau sudah gila," Naruto terkejut sampai-sampai di bergerak menjauh dari Neji.
" Kau itu yang gila," ujar Neji pelan.
" Kurasa kau benar, aku memang sedang merasa aneh pada diriku ini. Banyak sekali bunga yang tumbuh di sini," kata Naruto tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di hati. Neji mengerutkan dahinya.
" Kau? Jatuh cinta?" tebak Neji dan dijawab Naruto dengan cengiran khasnya.
" Darimana kau tahu?"
" Tenten?" Neji tidak menjawab pertanyaan Naruto. Yang Neji tahu selama ini Naruto sangat dekat dengan Tenten, Neji ingin tahu apakah orang yang dicintai adalah Tenten atau bukan.
" Jadi Tenten memberitahumu ya?" kali ini Naruto tampak malu-malu. Pikiran Neji mulai kacau,'Jadi dugaanku selama ini benar,' kata Neji dalam hati.
" Jadi benar kau menyukai Tenten?" tanya Neji untuk memastikan dugaannya.
" Hah? Apa maksudmu?" Naruto bingung mengapa sahabatnya ini bisa mengira kalau dia menyukai Tenten.
" Orang itu Tenten kan? Sejak dulu kalian terlihat sangat akrab," kini Neji juga ikut bingung. Dia mulai menyadari bahwa dugaannya salah.
" Tentu saja kami akrab, tapi bukan Tenten orangnya. Selama ini Tenten hanya menjadi tempat aku berbagi, dia sangat nyaman diajak bicara dan selalu membuat solusi yang menakjubkan. Tenten juga yang selalu menjawab semua pertanyaanku tentang Sakura, apa yang disukai dan tidak disukainya. Apa saja yang dia lakukan di sekolah, Tenten sangat membantuku untuk mengetahui semua tentang Sakura. Dia bahkan tahu kalau aku menyukainya sejak SMP," kata Naruto sambil tersenyum.
Neji tidak menyadari ternyata selama ini Naruto juga menyukai Sakura. Yang mengejutkan, Tenten tahu tentang hal itu dan dia tidak memberitahunya. Padahal Tenten tahu kalau dirinya menyukai Sakura.
" N-Neji?" sapa Tenten gugup.
" Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" tanya Neji dengan sorot mata tajam. Tenten yang mendapat tatapan tajam itu langsung bertambah gugup.
" A-apa m-mak..."
" Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Neji membuat Tenten menundukkan kepalanya. Perasaan Tenten makin tidak enak, dia hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Neji. 'Apa Neji sudah tahu? Jangan-jangan Naruto memberitahu Neji kalau dirinya menyukai Sakura,' tebak Tenten dalam hati.
" Selama ini aku mempercayaimu, tega sekali kau membohongiku! Selama ini kau tahu kalau Naruto juga menyukai Sakura tapi kau tidak memberitahuku! Kenapa kau diam saja? Jawab!" bentak Neji sambil mencengkeram erat pergelangan tangan Tenten dan membuat Tenten meringis kesakitan. Ternyata itu adalah tangan kanan Tenten yang sakit karena terjatuh tadi. Tanpa sadar air matanya sudah menetes. Dia menangis karena tangannya yang sakit. Tapi dia menangis juga karena untuk pertama kalinya Neji berbicara kasar seperti itu kepadanya.
" Jawab aku! Brengsek!" Neji tidak sadar sudah memaki Tenten. Tenten tersentak mendengar kata yang baru saja dilontarkan Neji. Tenten memandang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" K-kau... tidak tahu rasanya menjadi seseorang yang menyimpan rahasia orang lain. Sangat berat," Tenten berkata lirih sambil memandang wajah Neji. Neji hanya terdiam, ada rasa bersalah dalam hatinya ketika melihat air mata Tenten.
" Aku tahu kau menyukai Sakura, begitu juga dengan Naruto. Tapi aku tidak bisa membeberkan semua rahasia kalian karena kalian mempercayaiku. Menyimpan rahasiamu, rahasia Sakura dan juga Naruto. Kau pikir mudah?" tanya Tenten lirih sambil menarik paksa tangannya dan berlari masuk ke dalam rumah. Neji hanya terdiam melihat Tenten yang seperti itu.
Tenten menutup pintunya pelan. Rasa sakit ditangannya sudah tidak terasa lagi, karena rasa sakit itu berpindah. Pindah masuk ke dalam hatinya. Tenten tidak pernah menyangka kalau reaksi Neji akan seperti itu. Kasar.
" Apa ini salahku?" tanya Tenten pada dirinya sendiri. Perhatian Tenten beralih ke arah tasnya. Handphone-nya berbunyi.
" Halo?"
" Bisakah kau keluar? Aku di depan rumahmu,"
000
Shikamaru keluar menuju halaman rumahnya sambil membawa ice cream di tangannya. Shikamaru menatap sendu kepada gadis pujaannya yang kini sedang duduk di bawah pohon mangga miliknya. Gadis itu siapa lagi kalau bukan Tenten. Ketika dia menjemputnya tadi, jelas terlihat kalau Tenten habis menangis. Tapi ketika Shikamaru menanyakannya, Tenten terus saja menyangkalnya. Kini Shikamaru sudah duduk di samping Tenten dan memberikan sebuah ice cream kepadanya.
" Terima kasih," kata Tenten sambil tersenyum tipis. Senyum yang tidak seperti biasanya. Shikamaru sadar betul dengan perubahan sikap Tenten.
" Kau ada masalah?" tanya Shikamaru penasaran. Tenten hanya menggeleng dan mulai menikmati ice creamnya. Shikamaru menangkap sesuatu di matanya.
" Ada apa dengan tanganmu?" tanya Shikamaru panik sambil meraih tangan kanan Tenten dan membuat Tenten sedikit meringis.
" Tidak apa-apa. Tadi aku terjatuh dari sepeda ketika pulang sekolah," jawab Tenten mencoba menenangkan Shikamaru.
" Kita harus ke klinik," kata Shikamaru dengan tatapan memaksa. Ice cream yang tadi dipegang Tenten dibuang begitu saja. Sekarang dia sudah membawa paksa Tenten masuk ke dalam mobilnya.
Mereka menuju klinik yang tidak jauh dari rumah Shikamaru. Selama diperjalanan, Shikamaru terus memarahi Tenten karena dengan bodohnya membiarkan pergelangan tangannya membengkak.
" Lain kali kalau sakit kau harus segera mengobatinya," kata Shikamaru dengan nada memerintah begitu mereka keluar dari klinik. Pergelangan tangan Tenten sudah dibalut dengan perban, kata dokter pergelangan tangan Tenten terkilir.
" Tadinya tidak begitu sakit, tapi..." Tenten tidak melanjutkan kalimatnya. Tenten menunduk mengingat Neji yang memarahinya. 'Tapi mungkin bertambah sakit setelah dia mencengkeram tanganku,' lanjut Tenten dalam hati. Shikamaru memandang Tenten yang sedang menunduk.
" Berjanjilah. Kau akan menjaga dirimu dengan baik," kali ini Shikamaru mengucapkannya dengan lembut membuat Tenten mendongakkan kepalanya. Tenten terdiam dan kemudian tersenyum. Senyum yang membuat jantung Shikamaru berdebar.
" Aku berjanji. Ah... tadi kau bilang ingin mengatakan sesuatu bukan?" tiba-tiba Tenten teringat akan alasan Shikamaru menjemputnya tadi. Ekspresi wajah Shikamaru kini berubah. Shikamaru kemudian melihat ke arah halaman klinik, ada sebuah bangku di sana.
" Kita bicara di sana saja," Shikamaru kemudian berjalan menuju bangku yang dilihatnya tadi. Tenten pun mengikutinya dari belakang dengan rasa penasaran.
" Ada apa?" tanya Tenten begitu mereka duduk. Shikamaru terdiam sesaat. Dia bingung harus memulai dari mana.
" Aku akan berangkat besok," Shikamaru mulai berbicara.
" Apa maksudmu?" Tenten tidak mengerti dengan ucapan Shikamaru.
" Besok aku akan berangkat ke Paris," jawab Shikamaru sambil menunduk.
" B-bohong! Kau bilang bulan depan, bukan? Lima hari yang lalu kau bilang begitu padaku!" Tenten tampak terkejut. Tidak sadar dia pun mulai menangis. Shikamaru yang menyadari reaksi Tenten mulai menoleh ke arah Tenten. Refleks Shikamaru langsung memeluk Tenten.
" Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?" tanya Shikamaru masih dengan posisi yang sama. Tenten hanya terisak tidak berkata apa-apa. Perlahan Shikamaru melepas pelukannya. " Kau mempersulitku," keluh Shikamaru.
" Kau berangkat pukul berapa?" tanya Tenten tanpa menghiraukan keluhan Shikamaru.
" Kami akan naik penerbangan pukul sembilan,"
" Aku akan mengantarmu,"
" Tidak," Shikamaru menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?" tanya Tenten manja.
" Aku sudah bilang bukan? Kau akan mempersulitku," jawab Shikamaru lirih sambil menatap lurus ke depan. Tenten masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Shikamaru.
000
Gaara berjalan keluar dari perpustakaan kota. Penampilannya yang err... kusut, tidak mengurangi kegantengan tingkat akutnya (?). Gaara melepaskan kacamata yang dari tadi bertengger di hidung mancungnya. Terlihat sekali kalau dia sangat lelah dan kurang tidur. Selalu seperti itu. ya, pulang dari perpustakaan larut malam.
Tit... Tit...Tit...
Langkahnya terhenti ketika mendengar ponselnya berbunyi.
Sender: Temari-nee
September 3, 2012 22:00
Gaara, cepat pulang. Nenek sakit, besok pagi sekali kita harus ke Konoha!
000
TeBeCe
Maaf update lamaaaaaaaaaaaaaaaa...
Pekerjaan di DuTa benar2 menyita waktuku... gomen ne
Tinggalkan jejakmu setelah membacanyaaaaa...
