Hinata pusing melihat kakak laki-lakinya berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Satu jam yang lalu Neji mengetuk pintu kamar Tenten dan mendapati Tenten tidak ada di kamarnya. Wajahnya mulai terlihat frustasi saat itu. Hinata menebak, pasti ada yang tidak beres dengan mereka. Mungkin semacam pertengkaran. Tapi keadaan seperti ini adalah yang pertama kalinya. Selama ini Neji menjaga Tenten seperti adiknya sendiri. Bahkan ketika SD, Neji pernah berkelahi dengan temannya karena berani memanggil Tenten dengan sebutan "Si Anak Pungut".

" Hinata, bisakah kau menelponnya?" tanya Neji sambil memijat pelipisnya.

" Kenapa tidak Nii-san sendiri yang menelpon Tenten-nee?"

" Tidak bisa, aku..." kata-kata Neji terputus oleh suara pintu gerbang yang terbuka. Neji segera keluar rumah diikuti Hinata. Tenten, dia tidak sendiri. Ada Shikamaru disana dengan motornya. Tangan Neji mengepal kuat melihat apa yang ada di depannya. Dia masih berdiri di depan pintu, bahkan sampai Tenten sudah ada di depannya. Tenten berjalan menunduk melewati Neji. Hinata hanya mengerutkan keningnya.

" Darimana?" tanya Neji dingin. Tenten berhenti tepat di belakang Neji. Melihat tidak ada tanda-tanda Tenten akan menjawab, Neji langsung membalikkan tubuhnya.

" Aku mencemaskanmu! Kau malah enak-enakan pergi bersama dia?" Neji menaikkan nada bicaranya. Kali ini bukan Tenten yang kaget, tapi Hinata. Dia belum pernah melihat kakaknya sepert ini kepada Tenten.

" Nii-san kenapa? Jangan membentak seperti itu!" Hinata sudah tidak tahan untuk tidak membela Tenten.

" Masuk kamar," kata Neji dingin sambil menatap adiknya.

" T-tapi..."

" Nii-san bilang masuk!"

" Nii-san keterlaluan!" seru Hinata sambil berlari menaiki tangga. Neji menyesal sudah membentak Hinata. Entah kenapa emosinya sangat meledak-ledak.

" Kau tidak perlu membentaknya. Kau itu marah kepadaku, bukan Hinata. Maaf sudah membuatmu cemas," kata Tenten lirih dan terkesan dingin. Bahkan dia tidak membalikkan tubuh ketika mengatakannya. Neji mengutuk dirinya yang tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Dia datang ke kamar Tenten untuk meminta maaf dan sekarang dia malah memperkeruh suasana. Perlahan Neji mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Tenten dari belakang. Tenten sangat terkejut menerima perlakuan Neji yang tiba-tiba berubah.

" Gomen," Neji membisikkan kata itu tepat di telinga Tenten. Tanpa sadar Tenten menangis. Neji semakin mengeratkan pelukannya.

" Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika aku berbuat kasar kepadamu atau memakimu, kau boleh menamparku. Tapi kumohon... maafkan aku," kali ini Neji mengatakannya dengan lembut dan penuh penyesalan. Dia bisa merasakan Tenten menganggukkan kepalanya.

" Terima kasih," kata Neji lirih sambil tersenyum. Tiba-tiba matanya tertuju pada tangan Tenten yang terbalut perban. Perlahan dia mengangkat tangan Tenten.

" Tidak apa-apa. Tanganku hanya terkilir," kata Tenten sambil berbalik, seolah mengerti apa yang ada dipikiran Neji.

" Apa ini juga ulahku?" tanya Neji dengan tatapan sendu. Tenten menggeleng cepat sambil tersenyum.

" Demi seekor kucing, aku menabrakkan sepedaku ke tiang listrik ketika pulang sekolah dan...,"

" Aku memperparahnya bukan?" Neji memotong kalimat Tenten.

" Tidak,"

" Aku masih ingat apa yang aku lakukan tadi. Aku mencengkeram tangan kananmu," Neji masih memegang tangan kanan Tenten. Hening.

" Kalian sedang apa?" tiba-tiba sebuah suara memecahkan keheningan. Secara otomatis Tenten menarik tangannya dari tangan Neji.

" I-ibu?"

000

Neji meremas rambutnya. Dia merasa dirinya benar-benar bodoh karena sudah memeluk Tenten. Dia hanya perlu meminta maaf, bukan memeluknya. Beruntung ibunya tidak melihat, karena akan ada masalah baru jika sampai itu terjadi. Semacam tuduhan jatuh cinta kepada adik sendiri misalnya. Meskipun sebenarnya Tenten bukan adiknya, tapi siapa yang tahu pikiran ibunya?

" Kalian sedang apa?" tiba-tiba sebuah suara memecahkan keheningan. Secara otomatis Tenten menarik tangannya dari tangan Neji.

" I-ibu?" ucap mereka bersamaan.

" Ya ampun! Ada apa dengan tanganmu?" tanpa pikir panjang ibu langsung menjatuhkan tas dan berjalan menuju Tenten.

" Tidak apa-apa, Bu. Hanya jatuh dari sepeda dan Tenten sudah pergi ke klinik," Tenten berusaha menenangkan ibunya.

" Neji! Jelaskan kepada ibu! Hinata bilang kalian berdua bertengkar dan kenapa tangan Tenten bisa terluka? Ibu sudah bilang kau harus menjaganya!"

" Maaf, Bu. Aku tahu ini memang salahku, kami bertengkar karena..." belum selesai Neji mengatakan yang sebenarnya, Tenten sudah menyahut.

" Neji marah karena Tenten pergi tanpa pamit. Apalagi tangan Tenten sedang terkilir. Ini salah Tenten, Bu. Seharusnya Tenten tidak membuat Neji khawatir," Tenten dengan lancar mengatakan kebohongannya. Neji kaget mendengar pembelaan Tenten. Tapi untunglah ibu tidak memperpanjang masalah.

Neji masih tidak percaya, Tenten membelanya. Padahal dia sudah berteriak dan memakinya. Tapi itulah Tenten, gadis yang masih bisa tersenyum setelah dibully teman-teman satu kelasnya hanya karena dia tidak punya orangtua. Gadis yang bisa memaafkan orang yang sudah menamparnya. Itulah yang membuat Neji kagum dan menjadi orang yang paling tidak terima atas semua perlakuan yang diterima Tenten. Tapi apa yang dia lakukan tadi? Dia menjadi salah satu dari mereka.

" Selama ini aku mempercayaimu, tega sekali kau membohongiku! Selama ini kau tahu kalau Naruto juga menyukai Sakura tapi kau tidak memberitahuku! Kenapa kau diam saja? Jawab!" bentak Neji sambil mencengkeram erat pergelangan tangan Tenten dan membuat Tenten meringis kesakitan. Ternyata itu adalah tangan kanan Tenten yang sakit karena terjatuh tadi. Tanpa sadar air matanya sudah menetes. Dia menangis karena tangannya yang sakit. Tapi dia menangis juga karena untuk pertama kalinya Neji berbicara kasar seperti itu kepadanya.

" Jawab aku! Brengsek!" Neji tidak sadar sudah memaki Tenten. Tenten tersentak mendengar kata yang baru saja dilontarkan Neji. Tenten memandang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

" Bahkan aku sudah menyebutmu brengsek. Kalau dipikir-pikir yang brengsek itu aku," kata Neji sambil menatap lurus ke sebuah foto. Fotonya bersama Tenten di hari kelulusan SMP.

000

Pagi-pagi sekali Neji bangun dan memasak. Apa? Memasak? Yah, saat ini dia sedang membuat omelette rice di dapur. Ayame yang baru masuk pun terpukau melihat keahlian si sulung Hyuuga itu. untuk pertama kalinya dia melihat tuan mudanya berteman dengan peralatan memasak.

" Tu-Tuan muda sedang apa?" tanya Ayame dengan suara bergetar masih tidak percaya dengan yang dilihatnya.

" Kau tidak lihat?"

" M-maksud saya, kenapa Anda memasak. Ini tugas saya, Tuan muda. Sebaiknya Anda segera bersiap ke sekolah,"

" Baiklah, lagi pula aku juga sudah selesai. Jaga omelette ini dengan baik, jangan biarkan siapapun memakannya, kecuali Tenten. Jika dia sudah bangun, berikan padanya," kata Neji sambil melangkah keluar.

" Untuk Nona?" wajah Ayame memerah mendengar untuk siapa Tuan mudanya repot-repot memasak.

" Y-y-ya ampun. Yang dia lakukan manis sekali," mendadak mata Ayame berubah menjadi love-love.

000

Tenten berlari menuruni tangga. Apa dia terlambat bangun? Tidak, karena saat ini masih pukul enam. Dia sudah siap dengan seragam, tas dan sepatunya. Ayame segera berlari menyusul Tenten mengingat pesan yang diberikan Neji tadi.

" Nona! Tunggu!" sepertinya teriakan Ayame tidak didengarkan tenten. Terbukti dia terus berlari keluar gerbang.

" Bagaimana ini? Aku harus mengatakannya kepada Tuan muda!" serunya.

" Mengatakan apa?"

000

Shikamaru memijat kepalanya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. Tapi perempuan di depannya ini benar-benar membuatnya pusing. Perempuan itu, Tenten, datang ke rumahnya pagi-pagi dan mengajaknya pergi ke sekolah.

" Ayolah Shikamaru-kun, paling tidak ucapkan selamat tinggal kepada teman-teman, kepada penggemarmu. Kau tidak boleh pergi diam-diam seperti ini!"

" Kau benar-benar merepotkan," Shikamaru menyerah, akhirnya dia membiarkan Tenten menarik tangannya.

000

Neji mengayuh sepedanya menuju sekolah Tenten. Neji sedikit marah ketika mendengar dari Ayame bahwa Tenten pergi tanpa sarapan dan tanpa sepedanya. Tanpa sepedanya! Pikiran Neji langsung tertuju pada lelaki yang akhir-akhir ini selalu bersama Tenten. Laki-laki dengan rambut nanas anehnya. Tanpa pikir panjang Neji masuk ke gerbang sekolah Tenten. Sudah ada Sakura yang menunggunya disana.

" Neji, sebenarnya ada apa? Nada bicaramu ditelpon tadi sedikit menakutkan," tanya Sakura begitu Neji sudah di depannya.

" Dimana Tenten?"

" Apa maksudmu? Dia kan tinggal bersamamu?" Sakura semakin bingung dengan pertanyaan dan sikap Neji yang menurutnya tidak biasa. Neji tidak menjawab pertanyaan Sakura, pandangannya beralih pada gadis berambut coklat terurai yang sedang berdiri di tengah lapangan basket bersama seorang pria berambut nanas.

" Tsk!" Neji langsung menuju lapangan yang sudah mulai dikerumuni siswa-siswi. Sakura memutar bola matanya lalu mengikuti Neji.

Tenten bingung ketika Shikamaru menariknya ke tengah lapangan basket. Teman-temannya mulai berkumpul dan menatap penuh tanya.

" Apa yang mau kau lakukan?" ucap Tenten lirih sementara yang ditanya hanya tersenyum tipis.

" Selama hidupku, aku selalu merasa kesepian. Aku tidak punya banyak teman, karena aku selalu berpikir bahwa mereka itu pasti sangat merepotkan dan berisik. Tapi seseorang mengajarkanku apa arti penting dari seorang teman. Meskipun ini terlambat, aku ingin memulainya dari awal," dengan lantang Shikamaru mengeluarkan kalimat yang cukup panjang itu. Tenten hanya memandang Shikamaru tidak percaya. Si tukang tidur dan malas bicara ini benar-benar sudah keluar dari kepribadiannya.

" Namaku Nara Shikamaru. Senang berkenalan dengan kalian. Ini adalah hari terakhirku di sekolah ini, jadi maukah kalian menjadi temanku? Maaf, jika sikapku tidak baik kepada kalian selama ini dan terimakasih untuk kalian yang tetap memperhatikanku yang seperti ini. Arigatou," Shikamaru membungkukkan badannya diiringi tepuk tangan teman-temannya. Mereka mendekat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Shikamaru.

Neji hanya terdiam melihat apa yang terjadi di depannya. Sedangkan Sakura masih belum sembuh dari keterkejutannya. Terkejut dengan apa yang dilakukan Shikamaru, juga terkejut karena ini adalah hari terakhir Shikamaru di sekolah.

000

" Jangan menangis," Shikamaru menepuk kepala Sakura yang terus menangis.

" Bodoh! Kau membohongiku?" Sakura mencubit perut Shikamaru. Shikamaru hanya meringis mendapat cubitan itu. Ini memang perpisahan, tapi Shikamaru merasa senang karena dia tahu bahwa teman-teman menyayanginya.

" Tuan muda, sudah saatnya kita ke bandara," sopir Shikamaru kembali mengingatkan untuk kesekian kalinya.

" Aku akan mengantarmu," kata Tenten yang dari tadi menahan air matanya untuk tidak keluar dengan bebas.

" Tidak,"

" Kenapa?" Tenten kembali merajuk.

" Sudah kubilang kau hanya akan mempersulitku," kata Shikamaru sambil mendekati Tenten. Tanpa pikir panjang Tenten langsung memeluk Shikamaru.

" Aku akan merindukanmu," kata Tenten, perlahan air matanya menetes.

" Aku juga," Shikamaru membalas pelukan Tenten.

" Kenapa aku tidak dipeluk?" Sakura benar-benar merusak suasana. Tapi sepertinya Shikamaru memaafkannya kali ini, mereka bertiga pun berpelukan (Teletubbies?).

Neji menatap lurus pemandangan itu. Ada rasa aneh yang menjalar dihatinya. Sepertinya dia masih patah hati karena Sakura. Atau jangan-jangan?

000