" –sepertinya emansipasi wanita berjalan lancar di sini, ya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

title: boffins's life

Disc: all charas belong to God.

Cast: EXO members

Genre: friendship, romance, university(?) life, humour

Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.

heloooow helow bandungg/?

terhura baca review :" awwww aku sayang kalian semua{} wkwk

makasih yaa makasih yang sebesar-besarnyaaa! :33

diusahain aku bakal apdet cepet hihi

enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

.

"Baiklah, hari ini cukup sampai di sini. Pulanglah kalian, sebentar lagi malam." titah Wufan kepada Jongin dan Sehun yang sedang sibuk mengelap peluh mereka.

Jongin mengangguk cuek. Sementara Sehun sibuk menengak-nengokkan kepalanya.

"Kau lihat apa?" tanya Baekhyun sambil mencolek pundak Sehun.

"Aniya.. Bukan hal penting." jawab Sehun sambil mengeluarkan cengirannya.

Baekhyun mendengus, "Aku tak percaya padamu. Biar kulihat.." Baekhyun nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.

"Sepertinya sedari tadi kau sibuk mengamati klub sepak bola.. Kau tertarik dengan sepak bola?" selidik Baekhyun. "Ah, tidak! Jangan bilang kalau klub sepak bola terlihat lebih menyenangkan! Di sini jauh lebih menyenangkan!" ujar Chanyeol sedikit panik.

"Aniya, bukan begitu, hyung.." ujar Sehun.

"Percayalah, klub basket adalah yang nomor satu di sini! Kau tak akan menyesal telah bergabung!" lanjut Chanyeol.

Sehun tersenyum grogi, "Ne, hyung.."

"Kau tak bisa memaksa orang begitu saja, Yeol.." protes Baekhyun. Chanyeol memeletkan lidahnya, "Mereka sendiri setuju kok."

Baekhyun memicingkan bibirnya, "Dasar Park pemaksa!"

"Byun bantet!"

"Park caplang!"

"Byun bogel!"

"Park autis!"

"Byun cemong!"

"Park–". "Sudah sudah!" Wufan yang sebal melihatnya, menangkupkan wajah Baekhyun dan Chanyeol dengan kedua tangannya. "HFFTTT.." hanya itu suara yang keluar dari mulut mereka.

Jongin dan Sehun terkekeh melihat pemandangan yang tersedia di hadapan mereka.

"Oh, iya, Wufan-hyung dari fakultas mana?" tanya Sehun tiba-tiba.

Wufan melepaskan tangkupannya pada Baekhyun dan Chanyeol, "Politik. Jadi kau jangan heran melihatku banyak bicara nanti. Tapi bicaraku didasari oleh logika, tidak sembarangan seperti anak ini." Wufan menunjuk ke arah Chanyeol.

"Mentang-mentang anak politik." cibir Chanyeol.

Wufan tertawa kemenangan, "Ya sudah, besok lagi kita bertemu. Selamat sore~" Wufan beranjak pergi dari gym.

Seraya melihat punggung Wufan menjauh, "Nah, ayo kita lanjutkan latihan, Yeol! Yang lain sudah menunggu!" Baekhyun menarik kerah baju Chanyeol. "Eh? Aaaah, sebentar saja, ya?" pinta Chanyeol dengan nada memelas.

"Latihan? Latihan apa, hyung? Apa kami juga ikut?" tanya Jongin.

"Sebentar lagi akan ada kejuaraan antar universitas. Tenang saja, giliran kalian akan tiba nanti. Kalian boleh pulang! Hati-hati di jalan!" jawab Baekhyun yang terus menjauh dari Jongin dan Sehun.

"Baiklah.. Hyung juga! Semoga latihannya lancar!"

Baekhyun tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Masih dengan Chanyeol di seretannya.

"Sampai jumpa, Jongin, Sehun!" ujar Chanyeol (masih dalam seretan) sambil berteriak.

Jadi begini, yang bertugas mengorientasi anak baru hari ini adalah Wufan, Chanyeol, dan Baekhyun. Karena merekalah yang merekrut Jongin dan Sehun. Sebenarnya, anggota klub basket itu sangat banyak jumlahnya. Sebanding dengan ketombe Chanyeol –oke, bercanda. Lalu, beberapa minggu lagi kejuaraan nasional antar universitas akan dimulai. Klub basket biasa menjadi juara, oleh karena itu mereka tak ingin prestasi itu menurun. Maka latihan dilakukan setiap hari kuliah. Bahkan kalau mau, hari libur juga mereka terkadang berlatih.

"Sunbae-sunbae di sini sungguh ajaib." komentar Jongin seraya membereskan barang-barangnya.

Sehun terkekeh kecil, seraya berkata, "Benar. Bahkan sepertinya emansipasi wanita berjalan lancar di sini, ya."

Jongin menolehkan kepala ke arah Sehun, "Eoh? Maksudmu? Kita tidak sedang berada di zaman perjuangan wanita."

Sehun berdecak, "Coba saja tadi kau lihat, Jong."

Jongin nampak kebingungan.

"Wanita zaman sekarang memang hebat."

Jongin semakin kebingungan.

"Ah, sudahlah! Besok kalau ada, akan kuberi tahu." Sehun meraih tasnya, kemudian beranjak meninggalkan gym.

"Eh, tunggu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"LUHAAAAN! KAU LIHAT DI MANA BUKU PANDUAN DIET OCB-KUUUU?"

"ARRGGHH! Padahal sedikit lagi masuk! Gara-gara kau, sih!"

Sosok lelaki kurus, berwajah ehm cantik untuk ukuran lelaki tengah sibuk memainkan stik playstation-nya. Pandangannya nampak begitu serius, dengan terus bergumam 'Yak, yak! Gocek situ! Ah, ah! Kanan, kanan!'.

BUK!

Kepalanya sukses terkena layangan buku.

"Apa-apaan?! Aku bertanya padamuuu!"

Ia melempar sebuah bantal sofa ke arah seseorang yang telah menggebuknya dengan buku tadi.

"Bukan aku yang menelan bukumu, Minseok!"

"Eih, jadi kau mau bilang kalau aku menelan bukuku sendiri?"

"Mungkin."

BUK!

Kembali, sebuah buku melayang.

"AAAAAA! Luhan, bantu aku mencari buku ituuu! Itu untuk bahan presentasi besok!" ujar sosok yang dipanggil Minseok.

"TIDAAAK! Aku sedang sibuk! Sebentar lagi babak kedua!" jawab Luhan kembali fokus pada playstation-nya.

"Kau curang! Awas saja kalau sampai memainkan timku!" ancam Minseok.

"MU jauh lebih hebat, weeeek!" ujar Luhan sambil memeletkan lidahnya.

"Huh, ya sudah! Aku pergi ke perpustakaan dulu! Tunggu aku pulang, oke? Jangan mengunciku di luar!" Minseok beranjak menuju pintu depan kamar mereka.

Luhan masih sibuk berkutat dengan mainannya.

"Gocek! AAA! Yak, yak! GOOOLLLL!"

Minseok menggeleng-gelengkan kepalanya melihat temannya yang satu itu. Kemudian ia membuka pintu dan menutupnya sedikit keras agar mengganggu konsentrasi Luhan.

.

.

.

.

.

Minseok telah berada di dalam perpustakaan. Perpustakaan Universitas Nasional Korea memang tak ada bandingannya di Korea. Perpustakaan ini mengoleksi segala jenis buku. Mulai dari buku ilmiah biasa, tesis, bahkan sampai komik. Aku tak bercanda.

Minseok terlihat tengah membalik-balikkan halaman sebuah buku tentang makanan yang tidak menggemukkan. Dia membutuhkan buku itu untuk bahan presentasinya.

"Hoaaam.." Minseok menguap seraya melemaskan otot lengannya yang sedari tadi bertumpu.

Cuaca di luar sedang mendung berawan. Sangat mengundang untuk memejamkan mata berbalut selimut serta cokelat hangat.

"Cuacanya membuat siapa saja jadi malas keluar.." gerutu Minseok seraya bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pojokkan ruangan, "Kurasa tidur sebentar tak masalah."

Minseok meregangkan kedua kakinya, berusaha mencari posisi ternyaman untuk tidur. Tak sampai lima menit, ia sudah tertidur.

Namun–

"Hei, pulanglah. Sebentar lagi perpustakaan ditutup." seorang petugas perpustakaan nampak menginterverensi seorang murid yang sedang asyik membaca.

"Ah, ne, baiklah." murid itu beranjak, kemudian keluar dari dalam perpustakaan.

Setelah murid itu pergi, petugas perpustakaan mematikan semua lampu.

KLIK!

Ruangan menjadi gelap.

KRIET. BLAM!

Petugas itu menutup pintu.

CEKLEK!

Ia mengunci pintu. Kemudian pergi ke ruangan selanjutnya.

O-oh, petugas itu tak mengetahui bahwa Minseok masih berada di dalam. Minseok sendiri masih tertidur pulas.

"Engh.." akhirnya Minseok menggeliat kecil. Dia merasa gelap. Benar saja–

"EH?! WAAA BAGAIMANA INI?!" Minseok terbangun dari tidurnya dan mulai panik.

DUG DUG! Minseok menggedor-gedor pintu, namun sayang, tak ada yang membukakannya.

"HUWAAA EOTTEOHKHAEEEE?!" pekik Minseok, ia berlarian ke sana ke mari dengan panik. Tentu saja, sebab ia hanya sendiri–

"Hoam.."

Sebuah suara mengagetkan diri Minseok.

"Ungh.."

Lagi. Suara itu terdengar.

Ada seseorang di sini.

Memberanikan diri, Minseok mencari di mana sumber suara itu.

Suara itu berasal dari pojok ruangan satunya, seorang lelaki. Minseok menyolek tubuh lelaki itu sedikit. Membangunkan dia, agar ia tahu bahwa dirinya terkunci di dalam perpustakaan.

Sosok itu menggeliat sedikit sebelum membuka kedua matanya, "Eoh..?" ia nampak bingung dengan pemandangan yang dilihatnya.

"Siapa.. Kau?" tanya lelaki itu. "Hei, kau terkunci di dalam sini, tahu!" tak menjawab pertanyaannya, Minseok malah memberitahukan tentang keadaan yang sedang mereka alami.

Benar saja, lelaki itu tersentak, " Jinjjayo? Waah keren!"

Apa?

Minseok hampir kehilangan keseimbangannya mendengar jawaban lelaki itu.

"Kau gila! Terjebak di dalam sini malah keren!" gerutu Minseok.

Lelaki itu tertawa, "Memang keren. Apalagi terjebak denganmu."

Sesaat Minseok merasakan kedua pipinya memanas. Eh, apa tadi? Kedua pipinya? Memanas?

'Apa yang terjadi denganku?' pikir Minseok.

Lelaki itu menatao Minseok dengan tatapan gemas. Ia berdiri dari posisi tidurannya, "Namaku Jongdae, Kim Jongdae dari sastra. Boleh aku tahu siapa namamu?" ujar lelaki itu, Jongdae lengkap dengan cengirannya.

"Ah, iya, aku Minseok, Kim Minseok dari kesehatan."

"Aku harus memanggilmu apa? Nampaknya kau lebih muda dariku, ya.." lanjut Jongdae lagi.

"Berarti kau harus berada di tahun kelima untuk bisa berada di atasku."

Jongdae tersentak, "Apa? Kau tahun empat? Tak terlihat seperti itu.. Kau terlihat seperti anak baru dibandingkan denganku yang tahun ketiga."

Minseok tertawa lucu, "Mana embel 'hyung'-nya?"

"Uh, baiklah, Minseok-hyung." ujar Jongdae masih dengan cengirannya.

Keheningan melanda mereka untuk beberapa saat, sebelum Jongdae membuka suaranya kembali. "Jadi, bagaimana kau bisa terkunci di sini, hyung?"

Minseok mendudukkan dirinya ke atas sofa empuk di bagian baca, "Aku tertidur.."

"PFF! Sama sepertiku! Hahaha!"

"Jangan tertawa!"

Jongdae mendudukkan dirinya di sebelah Minseok, "Aniya, hyung, aku tidak menertawakan dirimu. Aku tertawa karena bisa-bisanya kita terkunci di dalam sini. Padahal kan.."

Jongdae terus saja mengoceh. Ocehannya terkadang membuat Minseok tertawa. Ada saja hal yang ia ceritakan. Mulai dari betapa idiotnya wajah seorang temannya yang ia gambarkan berbentuk seperti batang bambu, betapa bawelnya seorang temannya yang hobi mengoles eyeliner, sampai seorang bule Cina yang sangat (sok) cool.

Minseok perlahan merasakan kehangatan dari seorang Jongdae. Ia belum pernah merasakannya, selain dari Luhan yang notabene adalah sahabat terbaiknya. Tak ada salahnya menambah sahabat, kan?

Walaupun di luar hujan mulai turun dengan derasnya, Minseok tak merasakan dingin yang berarti. Ia sedang bersama sesuatu yang menghangatkan dirinya. Entah mengapa, Minseok merasa bahwa dirinya sudah begitu dekat dengan Jongdae.

Dia harus menceritakannya pada Luhan nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC XD

Waaah maaf ya yang ini pendek huhu

Ngetik di tab susah ya/? Wkwk

Mohon maaf bila ada kekurangan, kekhilafan, dan ketypoan/? n(_ _)n

Next lebih panjang lagi deeh hehe :3

Makasih buat responnya, aku sayang kalian/?{}

Oh iyaaa

Happy Amoeba Day! Park Amoeba Yeol, umur anda bertambah yang artinya berkurang/? Hohoho kenapa saya bilang amoeba? Karena virus sudah menstrim wkwk

Pibesdey eaaa Chanyeol wkwk nih ada lope /eak

Daaaan

HEPI BESDEY OM ADJIEEEEE! /TEBAR PAKU/

TERUS BERKAYA EAPSSS WKWK

Last word, tengkyuh;*