"–kuberi tahu, kau dilarang untuk tertarik padanya. Karena dia benar-benar cantik.."
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
haaiiii hari ini bonus dua chapter sekaligus!/? wkwk
tau ga, chapter kedua tadi aku aplot waktu dosennya lagi ngajar/? wkwk pake hape pula/? XD
iyaaa emang terlalu pendek yaa :c om adjie aja bilang gitu/?
yaudah, kali ini dipanjangin (dikit) ya wkwk
tenang, tenang semuanya/? bakalan muncul kok, tenang saja sudah diatur dan ada gilirannya :9 wkwk
enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CTARR!
Suara petir yang menggelegar memaksa Luhan untuk mematikan playstation-nya. Dia tak ingin mengambil resiko kehilangan playstation-nya.
"Ugh, padahal sedikit lagi.." gerutu Luhan seraya mematikan TV-nya. Kemudian ia meraih bantal sofa, dan memeluknya.
ZREESSSHH.
Hujan turun dengan deras. Memaksa seluruh insan untuk menggetarkan badannya.
"Bbrr, dingiinnn.." Luhan memeluk dirinya sendiri serta meniup-niup kedua telapak tangannya.
Luhan menengok ke arah smartphone-nya. Pukul 08.22 p.m.
"Ini sudah malam.. Kenapa Minseok belum kembali?" gumamnya.
Luhan berpikir bila Minseok sedang mampir ke tempat Ham-ahjumma, mengobservasi menu apa yang akan dimasak untuk besok seperti biasa. Dan bila melakukan itu, Minseok akan kembali pada pukul 09.30 p.m, yang artinya masih sekitar sejam lagi.
"Bosaaannn..!" Luhan mem-pout-kan bibirnya sebentar, kemudian membolak-balikkan badannya yang sedang tiduran di atas sofa. Bila sedang hujan, Luhan biasanya akan mengobrol banyak dengan Minseok. Sekarang? Luhan sendirian.
"Jangan-jangan dia ngambek.. Ah, sudah mau akhir bulan sih. Dia jadi lebih sensi daripada biasanya.." gumam Luhan lagi seakan-akan Minseok mengalami penyakit bulanan.
"Ah, tak mungkin.. Dia kan, sudah besar. Wajahnya saja yang kelihatan seperti anak baru lahir."
Bisakah seseorang memberikan Luhan sebuah cermin?
Hujan semakin deras. Luhan semakin uring-uringan.
Sejujurnya, Luhan tak suka harus sendiri di saat hujan.
"Cepatlah kembali, Minseok!" ujarnya seraya menenggelamkan wajahnya ke atas sebuah bantal.
.
.
.
.
.
.
Tiga setengah jam yang lalu.
.
.
"Ah, sudahlah! Besok kalau ada, akan kuberi tahu." Sehun meraih tasnya, kemudian beranjak meninggalkan gym.
"Eh, tunggu!"
Jongin berlari kecil menyusul Sehun yang berada di depannya. Sambil bercanda, kedua hoobae itu meninggalkan gym.
"Psst, mereka benar-benar hoobae yang lucu. Belum ada yang seperti mereka selama satu dekade terakhir!" Chanyeol berbisik pada Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan Jongin dan Sehun sambil sedikit tertawa.
"Memangnya kau sudah di sini satu dekade yang lalu?" cibir Baekhyun.
Chanyeol hanya tertawa.
Entah mengapa, Baekhyun merasa tergelitik melihat tawa Chanyeol. "Dasar idiot."
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, seakan menggoda Baekhyun yang masih tertawa dengan manis.
"Apa? Mau menggodaku? Jangan harap." ujar Baekhyun seraya menoyor dahi Chanyeol dengan cara agak berjinjit.
"Ouw.." Chanyeol mengusap-usap dahinya.
"Ayo mulai, nanti pulangnya telat!" titah Baekhyun, ia melempar sebuah bola basket ke arah Chanyeol.
Chanyeol masih dengan cengirannya, "Baiklah komandan!"
Klub basket memulai latihan rutin mereka untuk hari ini. Tanpa mengetahui sepasang mata sang ketua tengah mengawasi mereka.
Wufan, atau boleh kubilang galah jemuran? –oke tidak, Wufan.
Wufan, yang ternyata tidak benar-benar beranjak dari gym seperti perkataannya tadi. Apa yang ia lakukan?
"Dribble! Ah, ya! Pass ke Minho!" seruan Baekhyun terdengar sampai ke telinga Wufan.
Oh, ya, biar kujelaskan. Baekhyun, dengan tubuh yang memang pas-pasan untuk bisa bermain basket ternyata sangat diakui di klub basket. Baekhyun sangat menguasai teori-teori dalam permainan basket, sangat mahir mengatur strategi, mahir berlaku layaknya seorang pelatih. Siapa yang bilang bahwa pelatih harus seorang mantan pemain? Asalkan kau mempunyai wawasan luas dan dapat membuat strategi yang bagus, kau bisa menjadi pelatih. Bahkan Baekhyun terkenal dengan tubuh kecilnya yang menjadi satu-satunya di klub basket. Coret Jongdae, ia hanyalah seorang tim hore.
Chanyeol, yang memang sepertinya dari ia lahir sudah tinggi seperti tiang bendera, adalah hasil rekrutan Wufan. Wufan tertarik dengan tinggi Chanyeol yang sangat menonjol. Pada awalnya Chanyeol dianggap seorang yang cool dan serius, namun sepertinya Wufan harus menjilat ludahnya sendiri. Tetapi klub basket bersyukur, dengan adanya Chanyeol mereka selalu terhibur dan tak pernah merasa lelah. Ditambah dengan adanya Baekhyun, yang merupakan hasil rekomendasi Chanyeol. Mereka berdua memang dapat menyebabkan nyeri kepala yang amat sangat, namun di sisi lain mereka dapat membuat dagu anda menjadi lepas.
Wufan mengedarkan kepalanya ke seluruh penjuru. Dengan tidak sabar, ia juga terus melirik ke arah jam tangannya.
Jam lima. Itu artinya sudah saatnya, bukan?
Saatnya apa?
"Huff.." sosok Chanyeol tengah meluruskan kedua kakinya, dan mengelap bulir-bulir keringat yang turun dari pelipisnya.
Tiba-tiba Baekhyun menempelkan sebuah minuman kaleng dingin ke pipi kanan Chanyeol. Chanyeol tersentak, "Eoh?".
Baekhyun mendudukkan dirinya di sebelah Chanyeol, "Lelah kan? Ini, minumlah." lalu menyodorkan minuman kaleng itu.
Chanyeol tersenyum, lebih tepat menyengir, "Tumben kau perhatian." godanya.
Baekhyun mem-pout-kan bibirnya, "Memang aku sejahat apa padamu sampai tak pernah memperhatikanmu.." ujarnya tanpa melihat ke arah Chanyeol.
Chanyeol terkekeh, seraya mengacak rambut Baekhyun, "Kau tahu, saat bibirmu begitu kau terlihat menggemaskan."
Baekhyun merasakan kedua pipinya memanas tak wajar, "Aku memang menggemaskan."
Chanyeol kembali terkekeh, "Ne, aku suka itu."
CLING!
Telinga Baekhyun menangkap suatu kata yang entah mengapa membuat jantungnya berdegub lebih cepat, "A-apa..?"
"Tak ada pengulangan." ujar Chanyeol seraya memeletkan lidahnya.
"Ishh.."
Chanyeol menempelkan minumannya balik ke pipi kiri Baekhyun, "Ah!" Baekhyun tersentak.
"Ayo pulang, pendek." Chanyeol meraih tasnya, kemudian mengajak Baekhyun pulang.
Baekhyun memanyun-manyunkan bibirnya seraya mengambil tasnya –tetapi
"Eeeh! Kembalikan tasku!" Baekhyun berusaha meraih tasnya yang berada di genggaman Chanyeol. "Raihlah jika kau bisa, pendek!" Chanyeol berlari kecil meninggalkan Baekhyun di belakangnya.
Baekhyun terkejut, kemudian berusaha berlari mengejar Chanyeol, "CAPLAAAANGGGG!"
Sisa anggota klub lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Pemandangan seperti ini sudah biasa.
Wufan yang melihatnya dari jauh juga menggelengkan kepalanya, "Si idiot itu kenapa tidak langsung saja.."
Buru-buru Wufan membuyarkan lamunannya saat ia melihat sosok yang telah ditunggunya –seorang lelaki kecil?
Wufan mengecek jam tangannya. Pukul lima lebih sepuluh menit. Seharusnya sekaranglah waktunya. Seharusnya klub martial arts akan berlatih di sini.
"Mana..?" gumam Wufan.
TRIT. Terdengar suara dering telepon yang berasal dari lelaki kecil itu.
"Yeoboseyo? Oh, Tao?"
CLIK.
Kedua mata Wufan membesar mendengar nama 'Tao'.
"Ne? Oh, begitukah? Baiklah, sayang sekali ya.. Padahal aku ingin melihatmu. Nee, sampai jumpa nanti." lelaki kecil itu memutuskan percakapannya di telepon. Kemudian ia hendak meninggalkan gym sebelum–
"HYAAA!" Wufan secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Catat, secara tiba-tiba. Siapapun akan terkejut, bukan?
"O-oh, maaf mengagetkanmu.." ujar Wufan.
Lelaki kecil di hadapannya nampak begitu terkejut, lihatlah matanya seakan ingin keluar.
"Ah, ne.. Gwaenchana.."
Hening.
Lelaki kecil itu hendak benar-benar pergi, sebelum suara Wufan menghentikannya. "A-anu.. Itu.. Apa kau tahu mengapa klub martial arts tak latihan hari ini?"
Lelaki kecil itu menoleh ke arah Wufan, "Oh, ya, katanya sih hari ini latihan mereka ditiadakan. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat Tao –temanku berlatih. Sebentar lagi kan kejuaraan." jawab lelaki kecil itu dengan lancar.
Wufan menggarukkan kepalanya yang tidak terlalu gatal, "Tao.. Uhm, kau kenal Tao?"
Lelaki kecil itu nampak kebingungan, "Tentu. Dia roommate-ku."
"Bagus!" pekik Wufan tiba-tiba.
Lelaki kecil itu tersentak sedikit.
"Ah, mianhae.. Uhm, aku Wufan, politik tahun keempat. Kalau boleh tahu siapa namamu?" ujar Wufan sedikit grogi.
"Do Kyungsoo, psikologi tahun kedua. Bangapta, Wufan-hyung." ujar lelaki kecil –Kyungsoo dengan sopan.
"Tidak, tak usah terlalu formal begitu.."
Kyungsoo mengeluarkan cengirannya sedikit.
"Jadi, kau mengenal Tao?" tanya Kyungsoo.
Wufan mengangguk lemah, "Semacamnya.."
Kyungsoo memiringkan kepalanya, "Maksudmu?"
"Lebih baik kita bicara di luar." ajak Wufan seraya berjalan kecil meninggalkan gym. Kyungsoo mengikuti di belakangnya.
"Maksudku, kita hanya saling menyapa saat bertemu di gym ini.. Yah, tidak kenal yang benar-benar kenal, bukan?" lanjut Wufan di tengah perjalanan.
"Tapi itu bisa dimasukkan dalam kategori 'kenal', hyung. Ah, ceritakan pertemuan kalian!" pinta Kyungsoo dengan antusias.
Wufan terkekeh kecil melihat kelakuan Kyungsoo.
"Aku tak yakin ingat secara detil." Wufan berkata seraya menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo.
"Tak apa! Ayolah~" pinta Kyungsoo lagi, kali ini dengan nada memelas.
Wufan, yang memang tak bisa menahan suatu yang terlihat atau terdengar lucu, mengusap kepala Kyungsoo sekali, "Baiklah, simak baik-baik."
.
.
.
Beberapa menit sebelumnya.
.
.
"Jongin! Shampoo-nya habis! Tolong belikan di gerai bawah!" Sehun berkata dari dalam kamar mandi. Yah, dia sedang mandi sore rupanya.
Jongin yang sedang asyik memainkan remote control TV-nya, berdecak, "Malas.."
"Ayolah, Jong! Kalau rambutku bau nanti itu salahmu!" ancam Sehun.
Jongin beranjak dari duduknya, "Ya ya ya! Tunggulah!"
Ia meraih hoodie-nya yang tergantung di dekat jendela. Di saat yang sama, ia melihat sesuatu.
Sosok Wufan tengah berjalan dengan seseorang yang tak asing lagi baginya. Sosok yang selama ini membuat semangat di harinya. Sosok yang berhasil membuatnya menjadi pintar (ini kata Sehun). Sosok itu..
Jongin mengepalkan tangannya. 'Apakah kita harus menjadi rival, hyung?'
Lalu beranjak dengan terburu-buru.
BLAM!
Pintu kamar mereka dibanting keras oleh Jongin.
Biar kujelaskan lagi, universitas yang mereka masuki mempunyai fasilitas asrama sendiri yang diperuntukan bagi seluruh mahasiswa. Asramanya benar-benar sangat nyaman. Satu kamar hanya boleh diisi oleh dua-tiga orang. Bila lebih dari tiga orang dapat memecah konsentrasi, begitu alasannya. Biasanya mahasiswa yang sekamar adalah yang berada dalam tingkat yang sama. Oleh sebab itu, Sehun sekamar dengan Jongin. Selain karena mereka satu tingkat, satu fakultas, Sehun adalah teman pertama Jongin di universitas ini, begitu pun sebaliknya. Mereka menjadi dekat hanya dalam waktu tiga hari, saat orientasi universitas.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke waktu normal.
.
.
ZRASSHH.
Hujan masih turun dengan deras.
Luhan masih bergelindingan di atas sofa.
"Jam berapa ini..?" Luhan kembali meraih smartphone-nya, "ASTAGA! JAM SEPULUH!" pekiknya.
"Eotteohkhaeee? Minseok belum kembali! Haruskah kupanggil pemadam kebakaran–"
TING TONG.
Bel kamar Luhan berbunyi. Benar, bel. Setiap kamar memiliki bel tersendiri.
"Kuharap itu Minseok!" dengan masih panik, Luhan membuka pintu.
"MINSEOK!" Luhan yang mendapati pemandangan seorang lelaki tengah menggendong tubuh Minseok dengan bridal style, langsung merebut tubuh Minseok.
"Anu..". "Kau! Apa yang kau lakukan pada Minseok?!" pekik Luhan menuduh pada lelaki itu.
"E-eh, aku tak melakukan apa-apa.. Aku hanya mengantarkan ia pulang.." jawab lelaki itu.
Luhan masih memberikan tatapan aku-tak-percaya-padamu-karena-wajahmu-kotak.
Lelaki itu membaca apa yang ada dalam pikiran Luhan, "Terserah bila kau tak percaya." ia nampak beranjak pergi.
"Oh, ya, sebelumnya tolong berikan ini pada Minseok-hyung nanti." lelaki itu memberikan sebuah buku kepada Luhan, lalu pergi.
Luhan melihat judul buku yang diberikan lelaki tadi, "Buku yang diinginkan Minseok.. Siapa sebenarnya lelaki itu..? Ah, yang penting Minseok selamat." gumam Luhan dengan asal.
Luhan menutup dan mengunci pintu tanpa melihat kembali ke arah lelaki tadi.
Sosok lelaki tadi belum sepenuhnya meninggalkan kamar Luhan dan Minseok. Ia bergumam, "Aku lupa memperkenalkan diri, aku Jongdae. Kau pasti Luhan-hyung, bukan? Hahaha, benar-benar orang yang menarik." Jongdae terkekeh geli membayangkan wajah panik Luhan seakan-akan seorang ibu yang panik melihat anaknya pulang digendong oleh seorang lelaki asing, seraya benar-benar pergi ke kamarnya sendiri yang berjarak dua gedung dari gedung asrama Luhan dan Minseok.
"Aku akan menceritakan ini pada kumpulan anak berisik nanti."
.
.
.
.
.
.
Kembali ke empat jam yang lalu.
.
.
BLAM!
Jongin membanting pintu, ia telah kembali dari acara belanja shampoo-nya.
Ia mengetuk pintu kamar mandi, "Hoi, nih shampoo-nya!"
Saat pintu itu terbuka, Jongin segera melempar shampoo ke dalamnya.
"Weits!" beruntung, Sehun mempunyai refleks yang bagus sehingga shampoo itu bisa ia tangkap.
Setelahnya Jongin kembali mendudukkan dirinya sambil bermain remote control.
Sebenarnya Sehun ingin bertanya, namun ia harus menyelesaikan mandinya terlebih dahulu.
.
.
Beberapa menit kemudian, Sehun telah berpenampilan rapi dan tampan seperti biasa.
PAK!
Sehun kembali menjitak kepala Jongin yang sedang asyik memijit-mijit tombol remote control.
"Apa, sih?" tanya Jongin dengan ketus.
"Kau kenapa?" Sehun duduk di sebelah Jongin sambil meraih sebuah kaleng berisi keripik.
"Aniya."
Sehun mengunyah keripik dengan kasar, "Aku tahu kau bohong. Tak usah ditutupi, apa gunanya kata teman kalau kau menutupi sesuatu dari seorang teman?"
Jongin mendengus, "Baiklaaah.." ia mematikan TV.
"Tadi kulihat.. Wufan-hyung sedang jalan bersama Kyungsoo-hyung.."
"Biar kutebak, kau merasa cemburu?" tanya Sehun memotong ucapan Jongin tiba-tiba.
Jongin kembali mendengus, "Aniya.. Aniya.. Tak tahu.." ujarnya seraya menelengkupkan tubuhnya ke atas sofa.
Sehun menutup kaleng keripik, kemudian menaruhnya kembali ke atas meja, "Akui saja, kau memang cemburu. Tak ada yang akan menertawaimu, lagipula."
Jongin membalikkan tubuhnya, "Baiklah! Aku akui.. Aku ingin sekali bisa dekat dengannya.. Berjalan bersampingan dengannya.. ARGH!" Jongin melempar sebuah bantal ke arah Sehun.
"Aku tahu kau kesal, namun jangan melempariku dengan bantal!"
Jongin gantian meraih kaleng keripik, kemudian mulai mengunyah dengan kasar.
"Bagaimana dengan kau sendiri, Hun?" tanya Jongin.
Sehun menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu?"
Jongin menyenderkan tubuhnya, "Apa belum ada sosok yang menarik perhatianmu?"
Sehun menghela napasnya, "Kan sudah kubilang, besok kalau dia ada akan kuberi tahu."
"Wuah, jadi sudah ada? Kenapa tak bilang-bilang padaku?" Jongin nampak antusias.
Sehun terkekeh, "Aku sendiri tak tahu ini bisa dibilang seperti apa sebenarnya.."
Jongin melempar Sehun dengan sebuah keripik di tangannya, "Baiklah, besok aku akan mengetahuinya."
"Kuberi tahu, kau dilarang untuk tertarik padanya. Karena dia benar-benar cantik.."
Jongin nampak terdiam sesaat, 'Secantik apapun wanita itu, aku tak akan pernah tertarik.' gumamnya. "Tenanglah, aku tak akan mengkhianati Kyungsoo-hyung."
Sehun gantian melempari Jongin dengan bantal, "Lagakmu seperti sudah dapat Kyungsoo-hyung saja."
"Pasti akan kudapatkan!" Jongin melempari Sehun dengan remote yang untungnya berhasil ditangkap oleh Sehun.
"Hei, kau mempunyai refleks yang bagus. Keputusan yang tepat kita masuk ke dalam klub basket." puji Jongin seraya terus melempar sesuatu pada Sehun.
"Jangan mengalihkan pembicaraan." Sehun beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mendapatkan sesuatu bagi makan malam mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
hahaha gimana agak panjang kan /plak XD
janjiiiiii next lebih panjang beneran deeeh ;; wkwk
makasih sekali lagi buat yang udah ngebaca+ngomenin :3 segala bentuk komen aku terima dan aku baca, lhoo..
Mohon maaf bila ada kekurangan, kekhilafan, dan ketypoan/? n(_ _)n
kkk, last word, tengkyuh;*
