title: boffins's life

Disc: all charas belong to God.

Cast: EXO members

Other cast: find out!

Genre: friendship, romance, university(?) life, humour

Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.

haaalooooo XDDD

duh maaf yaa jadi aku buat bingung di chapter kemarin huhu ;;;

tenang aja, cerita ini sudah disponsori oleh om adjie/? jadi sudah aman/? wkwk

makaseh om atas bantuannya selama ini/?

tenang, semua member pasti bakal muncul.. tapi satu-satu yaa nggak semuanya tumplek/? dalam satu chapter ._. nanti keramean u.u /sok imut/ wkwk

betewe, ke depannya bakalan banyak tokoh di luar exo wkwk

yah, pokoknya terima kasih sudah menanti kedatangan saya /plak XD

okeee enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi menjelang. Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar milik duet maut Jongin dan Sehun, memaksa sang pemilik kamar membuka kedua matanya.

Jongin mengerjapkan kedua matanya, mengusapnya perlahan, "Hoam.." rasa kantuk masih menghantuinya. Ia memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidur kesayangannya menuju kamar mandi.

Saat melewati tempat tidur Sehun, "Dasar bayi." ia bergumam melihat wajah tidur Sehun yang layaknya seorang bayi tak berdosa.

Jongin memasuki kamar mandi, lalu menutupnya dengan agak keras, bermaksud agar Sehun terbangun.

Namun beberapa menit setelah Jongin keluar dari kamar mandi, Sehun masih tak bergeming.

"Heh, kebo sekali!" Jongin menghampiri tempat tidur Sehun dan–

"HOI, BANGUN!" Jongin berteriak keras di telinga kanan Sehun.

"MIRANDA KERR!" latah Sehun. Berhasil, Sehun terbangun.

"Otakmu cuma berisi Miranda." cibir Jongin seraya melempar sebuah handuk ke arah Sehun. Lagi-lagi, Sehun berhasil menangkapnya, padahal ia masih setengah tidur.

"Kenapa kau suka sekali melemparkanku barang-barang?" protes Sehun sambil menguap besar.

Jongin tak menjawab, ia sibuk mengutak-atik panggangan roti, "Cepat mandi. Kelas Yang-kyosunim dimulai satu jam lagi."

[kyosunim = panggilan untuk profesor/dosen, bisa juga 'gangsa']

Mendengar kata dosen risih itu, Sehun buru-buru berlari ke arah kamar mandi. Ya, dosen itu memang sangat ketat dalam hal waktu.

.

.

.

.

.

.

"Lu."

Minseok memanggil Luhan yang sedang sibuk menggigit sepotong roti.

"Ne?"

Minseok terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. Ia menunduk seraya mengusap-usap tengkuknya.

Merasa hening, Luhan menaruh sisa rotinya ke atas piring, "Ada apa?" kemudian bertanya pada Minseok.

"Itu.. Tadi malam apakah ada seseorang yang mengantarkanku pulang?" akhirnya Minseok berhasil melanjutkan perkataannya.

"Ada. Seorang lelaki. Dia menggendongmu–". "Mwo?!" Minseok memotong ucapan Luhan.

"Ya, makanya aku khawatir jangan-jangan kau habis diapa-apakan.. Tapi kau tidak apa-apa, kan?" selidik Luhan.

Minseok masih terpaku dengan ucapan Luhan tentang 'gendong'. Jongdae menggendongnya? Oh, kenapa rasanya ia begitu malu..?

"Halooo?" Luhan menggoyang-goyangkan tangannya di hadapan Minseok, "A-ah.." Minseok masih terbata-bata.

"Tuh kan, benar apa yang kukira! Kau jadi aneh, habis diapa-apakan ya sama dia?!" pekik Luhan histeris.

Minseok tersadar dari lamunannya, "Wow, wow, tenang! Aku tidak diapa-apakan!"

Luhan menusuk rotinya menggunakan garpu dengan kasar, "Kalau sampai lelaki itu mengapa-apakanmu, akan kupotong bendanya!"

Minseok bergidik mendengar ancaman Luhan yang terdengar begitu ngilu.

"Tenanglah, Lu. Aku masih utuh, tak ada yang kurang!"

"Dan kau masih bersih?"

Pertanyaan Luhan sukses membuat Minseok kehilangan keseimbangan lagi, seperti saat Jongdae, "Kau pikir aku apa.."

Luhan menatap Minseok dengan serius, "Dengar, sekarang bukan zamannya lelaki untuk santai-santai saja. Lihat, dengan wajahmu yang seperti itu bukan tidak mungkin untuk mengundang kejahatan!" ujar Luhan dengan polos dan asal.

Minseok tertawa keras mendengar perkataan Luhan yang begitu lucu di telinganya, "Justru kau yang harus berhati-hati!"

Luhan menatap polos Minseok, "Kok jadi aku?"

Masih tertawa, Minseok menepuk-nepuk pundak Luhan, "Pokoknya kau tak usah khawatir, Jongdae itu lelaki yang baik."

Luhan memiringkan kepalanya, "Jongdae? Siapa itu?"

"Oh, ya, aku lupa.. Lelaki yang tadi malam mengantarkanku pulang itu apakah wajahnya kotak seperti kardus TV?" (Jongdae, kami mencintaimu)

Luhan mengangguk cepat.

"Namanya Jongdae. Anak sastra tahun ketiga. Orangnya menyenangkan.. Sangat menyenangkan! Aku ingin bercerita banyak padamu tentangnya!" ujar Minseok dengan semangat.

Luhan nampak tertarik dengan cerita Minseok, "Ceritakanlah!"

"Baiklah! Begini–"

.

.

.

.

.

"Oi kotak TV, kenapa dari tadi kau senyum-senyum terus?"

Chanyeol, sedang menyeruput susu cokelatnya melihat Jongdae tengah bersenyum ria di daun jendela.

Jongdae menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol, "Aku bertemu dengan seseorang yang menarik, tiang jemuran." ujarnya lengkap dengan cengiran.

Chanyeol menggosokkan kepalanya menggunakan handuk dengan kasar, "Hal apa itu?"

"Kemarin malam aku terkunci di perpustakaan.". "Lagi?" ejek Chanyeol.

"Kali ini bukan terjebak seperti biasanya." bela Jongdae.

"Hoo.. Sepertinya ada sesuatu yang menarik.. Apa, apa? Kau menemukan gigi palsu Hong-kyosunim? Selebaran pengumuman kelas Jeon-ahjumma dibatalkan? Atau catatan berat badan Baekhyun?" tebak Chanyeol.

"Yang seperti itu lewat." ujar Jongdae dengan gaya (sok) cool.

Chanyeol menatapnya dengan tanda tanya besar. Jongdae dapat langsung membawa maksud tatapan Chanyeol.

"Semalam aku terkunci, berdua dengan seorang lucu sekali. Baekhyun lewat." ujar Jongdae.

"Benarkah ada yang seperti itu?" Chanyeol bertanya antusias. "Tentu. Wajahnya, tingkah lakunya, perkataannya, tak bisa kulupakan." ujar Jongdae dengan puitis.

"Ah, kapan-kapan perkenalkanku dengannya!" pinta Chanyeol. Jongdae menampik, "Tapi kau jangan macam-macam. Atau Baekhyun akan–"

"Aku tahu, aku tahu!" potong Chanyeol dengan cepat.

Beruntung Baekhyun sudah pergi dari tadi. Ia harus mengikuti kelas lebih awal dari Chanyeol dan Jongdae. Yap, geng megaphone tinggal sekamar. Yang artinya adalah jangan pernah masuk ke dalam kamar mereka kalau kalian masih menyayangi telinga kalian.

"Melihat wajahnya, kau akan melupakan segala kesusahanmu.." lanjut Jongdae lagi.

"Kau tertarik padanya?" interogasi Chanyeol, lengkap dengan cengiran.

Jongdae tertawa kecil, "Aku tak tahu apa ini, Yeol."

"Hmpfh, kalau kau suka lebih baik cepat diutarakan sebelum keduluan orang lain, contohnya aku."

"Mwo?"

Chanyeol tertawa keras, "Bercanda!"

"Pfft, dasar telinga lebar!"

Chanyeol hanya memeletkan lidahnya, "Ceritakan tentang tadi malam!"

Jongdae menghela napasnya, "Baiklah."

.

.

.

-flashback-

.

.

.

"Kau tinggal di gedung berapa, hyung?" tanya Jongdae setelah ia menyelesaikan ceritanya pada Minseok.

"Gedung empat, lantai tujuh nomor 739."

Jangan terkejut bila gedung asrama milik Universitas Negeri Seoul memang 'wah'.

"Rasanya semua anak tahun keempat tinggal di sana.." gumam Jongdae.

"Memang. Namun kami tidak terlalu akrab dengan sebelah kami. Apalagi dengan seluruh mahasiswa yang berada dalam gedung yang sama."

Jongdae tertawa, "Mungkin kau harus menekan bel satu per satu."

"Lalu kabur! Seperti saat kecil dulu! Hahaha!" ujar Minseok yang langsung disambut gelak tawa Jongdae lagi.

CTARR!

"HYAA!" suara petir yang amat menggelegar mengagetkan Minseok yang memang tak suka dengan suara petir yang mengagetkan itu. Minseok menutup kedua telinganya dengan tangan secara refleks.

ZRASSHH!

Hujan masih turun dengan derasnya. Belum ada tanda-tanda akan berhenti. Jongdae menolehkan kepalanya ke samping. Dilihatnya sosok yang sedari tadi tengah menemaninya berbicara sedang menggigil sedikit.

"Gwaenchana..?" tanya Jongdae dengan nada khawatir.

Minseok cuma menjawab dengan anggukan lemah. Sekali lagi, tubuhnya bergetar.

Jongdae segera melepaskan jas seragamnya, kemudian menyelimuti tubuh bergetar Minseok.

"Eh? Tak usah.." tolak Minseok saat Jongdae menyelimutinya.

"Tak apa. Atau kau mau kupeluk?" goda Jongdae yang membuat Minseok segera membulatkan kedua matanya.

"Hahaha, bercanda." Akhirnya Minseok mengeratkan jas milik Jongdae ke tubuhnya. Dia tak bisa lagi pura-pura tak kedinginan.

Beberapa menit keheningan. Hanya suara hujan yang menemani mereka. Sampai kemudian Jongdae iseng bertanya, "Berapa berat badanmu, hyung?"

"..."

"Hyung?"

"..."

"Minseok-hyung?"

PLUK.

Kepala Minseok terjatuh di atas pundak Jongdae. Minseok tertidur rupanya.

"Tidur, eoh?" Jongdae membetulkan posisi duduknya agar terasa nyaman untuk Minseok.

Masih dalam keadaan tidur, Minseok tetap menggigil, "Bbbrr.." desisnya.

Jongdae mengusap pelan pipi Minseok, "Kalau tahu begini aku tak akan membiarkanmu di sini lama-lama." kemudian merogoh kantung celananya, dan meraih sebuah kunci.

Ia terkekeh sebentar, "Bodohnya. Seharusnya sudah kubukakan sejak tadi," kemudian melirik ke arah Minseok, "Mianhae, hyung."

Jongdae menidurkan tubuh Minseok perlahan agar tidak terbangun, lalu beranjak menuju pintu.

CKLEK! Pintu perpustakaan terbuka.

"Eungh.."

Jongdae segera menolehkan kepalanya mendengar sebuah lengkuhan, "Sudah bangun, hyung?"

Masih setengah sadar, Minseok berkata dengan terbata-bata, "Pintunya..terbuka..? Bagaimana bisa..?!"

Jongdae mengeluarkan cengirannya, "Aku punya kuncinya."

Sontak, kedua bola mata Minseok membulat, "MWO? Ke-kenapa kau tidak bilang dari tadiiii?" Minseok berjalan terhuyung-huyung ke arah Jongdae.

"Mianhae, hyung. Awalnya aku hanya ingin mengerjaimu, tapi lama kelamaan aku jadi sangat ingin melewati waktu denganmu.. Jadi aku sengaja tak membukakan pintunya.. Namun kulihat kau kedinginan dan mengantuk, jadi..Ma-maafkan aku..!" ujar Jongdae sedikit merasa takut seraya membungkukkan badannya.

Minseok tak tahu akan menjawab apa, namun yang jelas ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Getaran.

Minseok semakin mendekati Jongdae, ia menggenggam kerah baju Jongdae, "Lupakanlah.. Aku mengantuk."

Jongdae terkejut melihat reaksi Minseok. Ia pikir Minseok akan langsung berlari meninggalkannya.

"Ba-baiklah, kuantar ke kamarmu ya, hyung?" tawar Jongdae. Minseok mengangguk lemah, rasa kantuk kembali menghampirinya.

Tubuhnya kehilangan kekuatan, lalu tertidur di dekapan Jongdae.

"Hyung? Hyung?" sebisa mungkin Jongdae membangunkan Minseok dengan cara mengguncangkan tubuhnya, namun Minseok tak kunjung bangun.

"Atau kugendong saja..?" Jongdae menatap tubuh Minseok dari atas sampai bawah, kemudian memutuskan untuk menggendongnya saja.

.

.

.

.

.

.

"AAAAA! That was so sweet~!" pekik Luhan saat Minseok menyelesaikan ceritanya, ia memukul-mukulkan garpu yang sedang dipegangnya ke atas meja. Itu pertanda bahwa Luhan sedang dalam mode greget.

Minseok tertawa melihat kelakuan roommate-nya yang kelewat lucu. "Benar, kan? Jongdae orang yang baik."

Luhan menggangguk-anggukkan kepalanya, "Lain kali perkenalkanku dengannya secara resmi!"

"Boleh, tapi kau jangan memasang tampang seperti seorang ibu yang khawatir kepada anaknya!" goda Minseok seraya meninggalkan kursinya menuju wastafel.

.

.

.

.

"Perkenalkanku dengan Minseok-hyung!" pinta Chanyeol dengan bola mata berbinar-binar saat Jongdae selesai bercerita.

Jongdae menepuk pundak Chanyeol dengan sebuah buku, "Tidak dengan wajah idiotmu itu. Bisa-bisa dia kabur."

"Wajahku ini cuma satu-satunya di dunia!" tampik Chanyeol seraya melemparkan sebuah handuk ke arah Jongdae.

"Kau tahu saja kalau aku belum mandi, hahaha!" Jongdae meraih handuk lemparan Chanyeol, kemudian bersiap untuk mandi.

"Mana pernah kau mandi duluan?"

"Itu karena mandimu satu jam."

"Tapi itu sehat."

"Buang-buang air."

"Hasilnya memuaskan."

Jongdae tak ingin melanjutkan perdebatannya, langsung masuk ke dalam kamar mandi.

"Hmpf, kotak TV itu.." Chanyeol mendudukkan dirinya ke atas kasur miliknya. Tanpa disengaja, ia melihat sebuah foto terjatuh.

Chanyeol mengambilnya. Terpampang sosok dirinya, Baekhyun, dan Jongdae saat pertama kali masuk ke universitas ini dan menjadi roommate.

Sebuah senyum terulas di bibirnya, "Nampaknya sainganku berkurang sekarang."

.

.

.

.

.

.

"Pertahankan tembakanmu, Sehun!" puji Wufan saat latihan basket berakhir.

"Tadi itu satu lagi tembakan terbaikmu, Sehun-ah!" puji Baekhyun.

"Dengan penampilanmu yang konstan, kau pasti bisa menjadi pemain sepertiku nantinya!" puji Chanyeol.

"Apa itu pujian?" senggah Baekhyun seraya melirik ke arah Chanyeol yang masih tersenyum lebar. "Yep! Itu kan, motivasi!" jawab Chanyeol dengan penuh percaya diri.

"Kau memang bisa saja mencari alasan!" Baekhyun terkekeh mendengar jawaban Chanyeol yang penuh dengan kenarsisan.

Biasanya Baekhyun akan menampik semua perkataan Chanyeol, namun belakangan ini dia tak mengerti kenapa dirinya perlahan menikmati perkataan Chanyeol yang agak nyeleneh. Bahkan tak jarang dirinya ikut tertawa bersama. Hal ini tentu membawa kebahagiaan sendiri untuk Chanyeol. Chanyeol menyukai saat-saat Baekhyun tertawa. Terlihat manis, menurutnya. Oleh sebab itu, Chanyeol tetap mempertahankan perkataan-perkataan yang dapat membuat Baekhyun tertawa.

"Tentu saja, Jongin juga bermain bagus. Aku bukan orang yang suka mendiskriminasi, tenang saja." lanjut Wufan sambil menatap ke arah Jongin. Ia tak ingin dirinya dicap sebagai diskriminan –hanya memuji Sehun.

"Jongin dan Sehun akan menjadi pasangan emas!" celetuk Chanyeol. "Nah, itu yang kumaksudkan!" tambah Baekhyun.

Jongin tersenyum lebar mendengarnya. 'Klub ini penuh dengan orang-orang baik' pikirnya. Sebenarnya, dirinya tak mempermasalahkan pujian-pujian untuk Sehun barusan. Namun, karena yang merasa tidak enak adalah pihak yang memuji, tak apalah.

Sehun, sedari tadi sibuk membereskan peralatannya dan memasuk-masukkannya ke dalam tas tiba-tiba memekik dan langsung meraih lengan Jongin, "Jong! Itu dia!"

Sehun menunjuk ke arah seseorang dari klub sepak bola. "Siapa maksudmu?" tanya Jongin yang belum menyadari.

"Itu.. Yang kita bicarakan kemarin..!" jawab Sehun, kedua matanya masih tak lepas dari klub sepak bola yang masih berlatih.

Jongin membentuk mulutnya menjadi huruf 'O' besar, "Yang mana?"

"Yang cantik! Itu!" Sehun kembali menunjuk sosok yang ia bilang cantik. Jongin tak dapat menangkap sosok itu karena permainan bola mengharuskan pemainnya untuk bergerak-gerak ke sana ke mari, bukan?

"Aku tak bisa melihatnya dengan jelas.. Ayo kita datangi!" Jongin menarik lengan Sehun, hendak berjalan mendekati klub sepak bola sebelum tangan Sehun menghentikannya. "Ja-jangan! A-aku belum siap.."

Jongin mendengus, "Dasar bayi! Sudahlah, tak apa! Kita kan hanya ingin mencari tahu yang mana orangnya, siapa namanya. Lagipula lihat, ada Doojoon-hyung di sana! Siapa tahu ia mempunyai informasi tentang anak-anak klub sepak bola perempuan."

"A-ah, tapi..." Sehun menggigit pelan bibir bawahnya. Ia nampak begitu grogi.

Tiba-tiba Baekhyun menghampiri mereka dan bertanya, "Ada apa?"

"Sehun, hyung, ia ingin berkenalan dengan seseorang dari klub sepak bola. Namun ia tak punya keberanian." jawab Jongin seraya mendelik penuh tuduhan pada Sehun.

Baekhyun terkekeh geli, "Kau kan sudah besar. Masa begitu saja tidak berani?"

"Ish, ini berbeda, hyung.." bela Sehun. Baekhyun menepuk punggung Sehun, "Kau pasti bisa! Kalahkan rasa malumu!"

Merasa diperlakukan lebih lembut, akhirnya Sehun berhasil menguasai rasa malunya, "O-oke.. Ayo maju, Jongin!"

Jongin merasakan dirinya ingin tertawa atau malah mendengus sebal. "Kenapa tidak dari tadi.."

Sehun memilih cuek, ia mendorong tubuh Jongin agar mempercepat langkahnya menuju klub sepak bola. Dengan Sehun yang tetap berada di belakang Jongin.

Jongin menatap ke sekeliling, berusaha mencari Doojoon. "Ah, hyung!" setelah berhasil menemukan sosok Doojoon yang sedang membetulkan tali sepatunya, Jongin berteriak.

"Oh, kalian." Doojoon menguraikan senyumnya saat melihat dua hoobae-nya tengah berlari kecil ke arahnya.

"Annyeong, hyung!" sapa Jongin dan Sehun seraya membungkukkan badannya –tanda hormat.

"Wow wow, tak usah seformal itu.." ujar Doojoon. Ia menepuk-nepuk pundak Jongin. Jongin mengeluarkan cengirannya.

"Hyung, apa kau mengenal semua anggota di klub sepak bola ini?" Jongin membuka suaranya.

Doojoon nampak kebingungan, lalu menjawab, "Ten..tu.. Kalau aku tak tahu anggota-anggotaku siapa saja, maka aku akan dianggap tak layak!"

Jongin dan Sehun membulatkan bibir mereka, "Jadi, kau adalah ketua klub, hyung?" tanya Jongin memastikan.

Doojoon tertawa, "Ne! A+ untuk kalian!"

"Kebetulan sekali! Apakah di klub sepak bola ada seseorang yang cantik, hyung?" lanjut Jongin langsung pada poinnya.

Doojoon nampak mengerutkan keningnya, "Cantik?"

Jongin mengangguk, "Ne! Sehun ingin berte –eh, tidak, kami ingin tahu saja! Hehehe." ucapan Jongin terputus saat Sehun menginjak kaki kirinya dengan sengaja. Mengingatkan agar Jongin tidak kelepasan bicara.

"Kalau sepak bola perempuann hari ini sedang tidak ada jadwal latihan–"

"Orang itu ada di sini sekarang, hyung." sahut Sehun.

Doojoon kembali mengerutkan keningnya.

"Oh, ya, ada! Mau kupanggilkan?" tawar Doojoon.

Sontak, wajah Jongin dan Sehun menjadi cerah, "Kalau hyung tidak keberatan!"

"Tentu tidak! Tolong panggilkan Jiyeon!" titah Doojoon pada seorang anggota klub.

Sehun merasakan debaran jantungnya tidak terkendali lagi. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang itu.

"Nah, ini Jiyeon. Dia satu-satunya perempuan yang bersikeras ingin berlatih bersama dengan klub lelaki." Doojoon memperkenalkan sosok seorang wanita yang sudah berada di sebelahnya.

"Aku Jiyeon. Manajemen tahun kedua." Jiyeon –wanita itu memperkenalkan dirinya.

Sedetik setelah kedatangan Jiyeon, Sehun terbengong.

"Oi, apa ini sosok maksudmu itu?" tanya Jongin sambil berbisik pada Sehun yang masih ternganga.

Dengan cepat Sehun menggelengkan kepalanya, "Bukan, bukan yang ini.."

Doojoon mendengar ucapan Sehun, "Maksudmu? Perempuan di klub lelaki hanya Jiyeon ini."

"Haah? Tapi, tapi, aku bersumpah melihat sosok yang can –ah.." Sehun memotong ucapannya saat terlihat sosok cantik itu tak jauh dari tempat dirinya berdiri.

"Hun?" Jongin menggoyangkan tangannya ke depan wajah Sehun.

"–cantik.. Itu.." Sehun menunjuk tepat ke arah sosok cantik yang kini tengah berlari kecil ke arah bangku pemain. Terlihat sosok cantik itu kelelahan. Peluh membasahi tubuhnya.

Jongin menoleh ke arah yang ditunjuk Sehun, begitu pun Doojoon dan Jiyeon.

"Ah! Itu.. Luhan!" ujar Doojoon tiba-tiba.

"Jadi itu, Hun? Ya, ya, memang cantik.. Katamu perempuan hanya Jiyeon di sini?" selidik Jongin.

Jiyeon terkekeh geli, begitu pun dengan Doojoon.

Luhan nampak mengipas-ngipas dirinya menggunakan tangannya.

"Aku tak berbohong mengatakan bahwa hanya Jiyeon satu-satunya perempuan di sini."

Terlihat Luhan menarik ujung bawah kaosnya. Ia terus menariknya sampai ke atas.

Sehun dan Jongin merasakan dagu mereka terlepas. Mereka melihat dengan jelas dada yang rata khas laki-laki. Dada Luhan.

"Sudah banyak orang yang tertipu dengan penampilan Luhan. Kami pun sempat tertipu. Luhan memang mempunyai wajah cantik yang tak wajar untuk ukuran seorang laki-laki."

Setelahnya Sehun tak dapat lagi merasakan di mana ia berpijak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC XD

hahaha haiii apdet lagii wkwk

maafin aku ya kalau kalian jadi rada bingung sama chapter kemareen huhu ;; niatnya mau sok-sokan nulis plotless gitu lol XD emang plotless kan yaa ya kaan? /maksa/ wkwk

yaudah, pokoknya makasih beraaat buat yang udah ngasih aku saran/kritik/sekedar jejak/? XD

last word, tengkyuh;*