"Iya. Aku suka Sehun–"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
helaaw ketemu lagi hahahaha
di chapter ini konflik(?)nya baru muncul wkwk
walaupun ujung2nya pairing ff ini udah ketauan, tapi tenang, aku akan berusaha buat alurnya yang mengejutkan(?) dan melegakan(?) wkwk keep on eyes(?)
kali ini dipanjangin lagi, aku manjangin per chapternya sedikit2, biar ngga keliatan kontras banget :3
WARNING! di bagian awal chapter ini ratingnya berubah jadi semi-M(?) hoho you've been warned~ /epil semail/?
presenting chapter 5!
enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aahnn.."
Terlihat dua anak manusia tengah asyik bercumbu di atas ranjang mereka. Sosok yang mendominasi permainan sedang sibuk menjelajahi partner bercintanya. Ia singkap rambut panjang nan indah milik partnernya agar dapat dengan leluasa mengesap leher putih mulus milik partnernya itu.
"Hnn..aahh.." partnernya yang cantik itu kembali mendesah, menggeliat-geliat tak nyaman saat sosok di depannya menciumi, mengesap, bahkan menggelitik lehernya dengan lidahnya.
"S-Sehunnh.."
Benar kawan, Sehun tengah mencumbui seseorang.
"Call my name, pretty~" Sehun menggoda dengan suaranya yang dibuat seseduktif mungkin.
"Ohh S-Sehunhh.."
Sehun menyeringai penuh kemenangan saat namanya kembali disebutkan. Tanpa aba-aba, ia mengecup-ngecup bibir yang telah menyebutkan namanya.
"Mmhh.." kecupan itu telah berubah menjadi sebuah ciuman yang amat dalam. Seolah tak ingin kehilangan rasa bibir masing-masing, tak ada yang mau melepaskan tautan.
"Mhhnn.." partnernya itu mencengkram kerah baju Sehun saat Sehun menyelusupkan tangannya ke balik bajunya.
"Luhan, kau sangat menggairahkan.." Sehun mengelus perut Luhan yang terasa sangat halus, hangat, dan mulus.
Oh, ya, partner cantik Sehun itu adalah Luhan. Luhan yang cantik, berambut panjang, dan tak lupa menggairahkan.
"Nghh.." Luhan kembali menggeliat.
"Kumulai, ya." Sehun menarik perlahan baju Luhan dari bawah ke atas. Dapat dilihat sang empunya baju begitu merona. Kedua pipinya, hidungnya, memerah lucu. Terlihat sangat cantik dan seksi di mata Sehun.
"..Ng..?" Sehun telah sampai ke bagian atas, dada Luhan. Dan ia merasakan ada sesuatu yang aneh.
"..Kau tak punya..dada?"
Luhan memicingkan kepalanya mendengar pertanyaan Sehun barusan. Bukankah sedari tadi Sehun tengah mencumbuinya? Kenapa baru menyadari hal itu?
"..Dadamu..rata..?" Sehun menatap Luhan dengan tatapan layaknya melihat pemakaman bubble tea.
Luhan membuka suaranya, masih memiringkan kepalanya dengan lucu, "Tentu saja dadaku rata. Aku kan laki-laki."
JEDERR!
"UWAAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
"UWAAAAAAAAAAAAAA!"
Sehun tengah berputar-putar di atas tempat tidurnya sambil berteriak-teriak layaknya orang gila.
"WAAAAAAA EOMMAAAAAA!"
Kedua matanya masih terpejam, dia masih berada di alam tidur.
Jongin yang sedang tidur di sebelahnya terbangun, "Huh?"
"GYAAAAAAAA! TIDAAK! TIDAAAK!"
Jongin mendapati Sehun berteriak-teriak, menggeleng-gelengkan kepalanya, memeluk erat gulingnya, berputar-putar di atas tempat tidurnya.
Jongin memegangi perutnya, dia sangat ingin tertawa sekencang-kencangnya. Namun sepertinya ia harus menunda hal itu, ia harus menghentikan igauan Sehun yang sangat berisik itu terlebih dahulu sebelum satu universitas akan berdemo ke kamar mereka.
"Oi, bangun!" Jongin mengguncang tubuh Sehun, berharap Sehun akan bangun.
"Tidak! Tidak!" Sehun masih bergumam ketakutan.
"Aku lupa kalau aku sedang membangunkan seorang bayi." Jongin mengerutkan keningnya, tengah berpikir dengan cara apa Sehun akan terbangun.
Sedetik kemudian Jongin menjentikkan jarinya, ia berbisik ke telinga Sehun, "Luhan-hyung sedang memakai lingerie."
CLIK!
Kedua mata Sehun terbuka dengan cepat. "Huahaha, benar kan, kau akan terbangun–"
Jongin menghentikan ucapannya saat ia melihat Sehun yang diam saja. Bola mata Sehun begitu besar, seakan-akan melihat sesuatu yang horror.
"–oi?" Jongin menggoyang-goyangkan tangannya ke hadapan Sehun.
GREP!
Tiba-tiba Sehun mencengkram lengan Jongin dengan kuat, "Jo-Jongin, tolong aku..!"
Sontak, Jongin terbelalak. Ada apa dengan sahabatnya ini?
"Hah..? A-ada apa, Hun?"
Bibir Sehun bergetar, ia nampak lucu sekali sekarang. Layaknya seorang anak kecil yang akan merajuk.
"Aku tak mau..! A-aku masih normal! Iya kan, Jong?!" pekik Sehun.
Jongin tak dapat lagi menahan gelinya, "Buhh.. Hahahahaha!"
"Jangan tertawaaa! Aku seriusss!" Sehun mengepalkan kedua tangannya.
"Mi-mian! Habisnya kau tampak menggelikan! Buahahahaha!" Jongin kembali tertawa sampai ia kelojotan. Ditepuk-tepuknya tempat tidur miliknya.
Sehun mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Kau sama sekali tidak menolong!"
"Hahaha! Oke, oke, mianhae." ujar Jongin masih dengan tawa di sela-sela ucapannya.
Sehun menatap Jongin, "Kau harus menolongku..! Aku merasa jiwaku tidak beres!"
Jongin mendudukkan dirinya ke atas kasur miliknya, "Memangnya jiwamu pernah beres?"
Sehun menggeram, "Aku serius! Bayangkan, aku bermimpi tengah bercumbu dengan–"
Sehun berhenti.
Entah mengapa wajahnya merona mengingat kembali mimpinya.
"–dengan?" selidik Jongin, ia menaikkan sebelah alisnya. Sebuah sunggingan nampak dari bibirnya. Nampaknya ia sudah tahu dengan siapa Sehun bercumbu.
"De-dengan.. I-itu! Orang itu! AAAARGH!" Sehun kembali mengacak-acak rambutnya.
Jongin kembali tertawa, "Sejak kemarin tingkahmu aneh. Kurasa ada yang jatuh cinta di sini."
DEG!
Sehun merasakan jantungnya berdebar tak karuan, "Si-siapa yang jatuh cinta!"
"Tingkah aneh itu menandakan bahwa seseorang sedang jatuh cinta."
.
.
.
-flashback-
.
.
.
.
"Oi, Luhan! Ke sini sebentar!" Doojoon memanggil Luhan dan mengisyaratkan agar Luhan mendatanginya.
Tak jauh, Luhan terlihat menoleh dan menganggukkan kepalanya, lalu berlari kecil ke arah Doojoon.
Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan dirinya yang sedari tadi sempat kehilangan pikirannya saat melihat Luhan.
"K-kau memanggilnya ke sini, hyung..?" tanya Jongin perlahan.
"Ne. Akan kuperkenalkan Luhan pada kalian." jawab Doojoon lengkap dengan cengiran. "Eoh? Sehun?" lanjut Doojoon saat matanya melihat Sehun yang masih mematung.
"Sehun?" Jongin menoleh ke arah Sehun.
Tak ada jawaban.
"Hun?" Jongin mencolek bahu Sehun.
Masih tak bergeming.
Sampai–
"Ada perlu apa, hyung?"
–Luhan telah berada di hadapan mereka. Tersenyum. Manis.
DEG!
"Luhan, kenalkan, ini Jongin dan Sehun. Mereka adalah hoobae-ku." ujar Doojoon seraya memperkenalkan Jongin dan Sehun pada Luhan.
Luhan menatap Jongin, mengulurkan tangannya, kemudian tersenyum, "Perkenalkan, aku Luhan dari kesehatan tahun keempat!"
Jongin menyambut uluran tangan Luhan, "A-ah iya.. Aku Jongin, Kim Jongin dari teknik tahun pertama. Salam kenal, Luhan-hyung." tak lupa, ia membalas senyuman Luhan.
"Ne! Dan.." Luhan bergerak menuju ke arah Sehun yang masih tak bergeming.
"Annyeong! Aku Luhan! Kau pasti Sehun, ya?" ujar Luhan ceria. Kawan, Luhan memang selalu ceria.
DEG!
Di saat yang sama, Sehun tersadar. Kedua matanya melihat sosok cantik itu tengah berdiri di hadapannya. Mengajaknya berkenalan. Tersenyum.. Manis.
"–ah...ah.." Sehun memundurkan langkahnya perlahan.
Merasa ada yang aneh, Luhan kembali bersuara, "Ada apa, Sehun?"
DEG!
Mendengar namanya kembali diucapkan oleh Luhan, Sehun merasakan wajahnya mulai memanas. Ia penasaran bagaimana rasanya saat Luhan menyebutkan namanya sambil mendesah–
"HUWAAAAA!"
Sehun berlari terbirit-birit. Benar, ia berlari. Menyelamatkan diri. Melarikan diri. Kabur.
Luhan, Jongin, Doojoon, dan bahkan Jiyeon–yang masih setia berada di sana karena ia pikir hal ini akan menarik– terbengong.
"Di-dia kenapa..? Apa aku mengatakan hal yang salah..?" Luhan menolehkan kepalanya ke arah Jongin-Doojoon-Jiyeon dengan wajah yang panik.
Dengan cepat Jongin menyanggah, "Aniya, hyung. Tenang saja, aku akan mengurus Sehun. Sampai jumpa lagi Doojoon-hyung, Jiyeon-noona, Luhan-hyung!" Jongin yang tengah berlari menyusul Sehun melambaikan tangannya.
Meninggalkan Doojoon dan Jiyeon yang terkekeh, serta Luhan yang membalas lambaian sambil tersenyum dengan bingung dan polos.
.
.
BRAK!
Sehun mendobrak pintu kamarnya dan Jongin dengan kasar. Ia langsung membanting dirinya ke atas sofa.
"HUWAA HUWAAA EOMMAAAAAA!" Sehun memeluk lututnya, lalu meraung-raung dengan keras.
Jongin yang menyusul di belakangnya langsung tertawa keras melihat Sehun yang sangat sangat sangat lucu dan menggelikan.
"Oh Sehun! BUAHAHAHAHAHA!" tawa Jongin tak kalah kerasnya dengan raungan Sehun.
"EOMMAAAA! HUWAWAWAWAAA!"
Sehun tak mempedulikan tawa Jongin, ia tetap meraung-raung.
"Selamat datang, Oh Sehun." gumam Jongin di sela-sela tawanya.
.
.
.
.
"HUAHAHAHA! Aku jadi ingin tertawa lagi mengingatnya!" Jongin kembali tertawa-tawa seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"AAARRGHH!" Sehun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jongin masih tetap tertawa.
Menghentikan tawanya sebentar, Jongin membuka lemari Sehun, "Tenanglah. Akan kubelikan bubble tea nanti." Jongin berkata seraya melempar sebuah handuk pada Sehun. "Mandilah dulu. Beruntung sekali kita terbangun pagi-pagi begini. Waktu siap-siap jadi banyak." lanjutnya.
Sehun (lagi-lagi) langsung dapat menangkap handuk itu. Ia mengerucutkan bibirnya, dan beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dengan langkah yang dihentak-hentakkan.
Dan kembali, Jongin tak dapat menahan gelinya melihat kelakuan Sehun.
.
.
.
.
.
Matahari tengah memancarkan sinarnya yang hangat. Begitu pun dengan suasana salah satu kantin yang berada di Universitas Nasional Seoul. Gedung fakultas sastra, teknik, dan politik yang terletak berdekatan menyebabkan kehadiran sebuah kantin yang luas di tengahnya. Sebagian besar mahasiswa yang berada di dalam kantin ini adalah mahasiswa yang berasal dari ketiga fakultas itu.
Di sebuah meja yang memanjang dan cukup besar terlihat enam anak manusia tengah asyik berbincang-bincang.
"HUAHAHAHA! Kau lucu sekali, Sehun!" Chanyeol tertawa seraya menepuk-nepuk meja setelah mendengar cerita dari Jongin tentang insiden Luhan.
"GYAHAHAHA! Rupanya itu alasanmu mengapa terus-terusan menatap klub seak bola!" Baekhyun tertawa sampai kedua matanya tak terlihat.
"HYAHAHAHA! Aku bersumpah juga akan tertawa bila melihat wajahmu kemarin!" Jongdae tertawa seraya menunjuk-nunjuk wajah Sehun.
Wufan terkekeh sebentar, "Ada-ada saja kau, Sehun."
Sedangkan yang ditertawakan hanya cemberut sambil terus menyeruput bubble tea-nya.
"Benar sekali, hyung! Kau harus melihat wajah Sehun kemarin! Hahahaha!" ujar Jongin menyetujui ucapan Jongdae.
Kelima manusia itu masih terus tertawa. Jangan lupakan, ada tiga megaphone di sini. Jangan dibayangkan seribut apa jadinya kalau masih sayang telingamu.
Sehun yang masih cemberut berusaha membela dirinya, "Ishh! Aku kan shock, hyung!"
Chanyeol membuka suara di sela-sela tawanya, "Memangnya kau tidak sadar bahwa dia itu lelaki?"
TUK!
Sehun meletakkan gelas bubble tea-nya dengan kasar, "Aku kira dia itu perempuan tomboy, hyung! Isshhh! Salahnya sendiri kenapa memiliki wajah yang seperti itu!"
Kelima manusia itu kembali terbahak-bahak.
"Kurasa Sehun benar-benar sedang jatuh cinta, hyung." Jongin menyeletuk tiba-tiba. Hal ini membuat penasaran keempat hyungnya itu.
"Si-siapa yang jatuh cintaaaa?!" sanggah Sehun.
"Sejak kemarin kelakuannya aneh. Itu pertanda bahwa dia sedang jatuh cinta, ya kan, hyung?" lanjut Jongin lengkap dengan cengiran.
"Sehun sedang jatuh cintaaa!" goda Chanyeol.
"Sehun jatuh cintaa!" Baekhyun ikut menggoda Sehun.
"Sehun jatuh cinta dengan Luhan!" Jongdae pun tak kalah ikut menggoda.
"Ya, ya, kurasa kau memang jatuh cinta pada 'nona' Luhan. Hahaha!" kali ini giliran Wufan menggoda Sehun.
Sontak wajah Sehun merona, "Ani, ani, aniyaaaa!"
"Oh, Minseok-hyung!" tiba-tiba Jongdae menginterupsi saat melihat sosok yang tak asing baginya sedang berjalan di kejauhan.
Chanyeol langsung menoleh-nolehkan kepalanya mengikuti pandangan Jongdae, "Eh, mana mana?"
"Siapa itu Minseok-hyung?" tanya Baekhyun.
"Nanti kuperkenalkan. Kupanggilkan dulu ya!" jawab Jongdae dengan ceria, ia beranjak dari duduknya untuk menghampiri Minseok yang tengah bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya.
Oh teman sebelahnya itu–
Sehun dan Jongin yang duduk membelakangi Minseok berada ikut menolehkan kepala mereka.
–Luhan.
DEG!
Sehun melihatnya. Melihat sosok di sebelah Minseok yang sedang dihampiri oleh Jongdae.
Luhan.
"Minseok-hyung!" panggil Jongdae saat ia tiba di dekat Minseok dan Luhan.
"Jo-Jongdae?" Minseok terbata-bata saat menyebutkan nama seseorang yang tengah memanggilnya.
"Hai, hyung." sapa Jongdae seraya memberikan senyum menawan (menurut Jongdae).
"Ha-hai." Minseok balas tersenyum yang tak kalah menawannya.
Dunia seakan milik berdua.
"Hai! Kau pasti Jongdae ya?"
Sebelum sebuah suara cempreng menginterupsi mereka. Suara Luhan.
"Oh, ne! Salam kenal, Luhan-hyung!" Jongdae mmengulurkan tangannya. Dan dibalas oleh Luhan, "Salam kenal juga, Jongdae!" ditambah cengiran dari Luhan.
Tentu saja Sehun melihatnya. Sehun melihat semuanya. Mulai dari Luhan yang bercakap-cakap dengan Minseok. Luhan yang menolehkan kepalanya dengan lucu saat Jongdae tiba-tiba menghampirinya. Luhan yang sedang nyengir.
Membuat jantung seorang Oh Sehun berdemo.
Jongdae terlihat tengah mengajak Minseok dan Luhan untuk duduk bersama di dalam kantin. Nampak Minseok dan Luhan yang mengangguk.
Jongin melirik ke arah Sehun yang sedang mematung, "'Nona' Luhan datang~"
DEG!
Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, "A-a-aa.." kemudian kembali menjadi Sehun yang gagap.
Beberapa langkah lagi Jongdae, Minseok, dan Luhan akan sampai ke meja mereka. Air muka Luhan secara tiba-tiba berubah menjadi lebih ceria.
"Jongin! Sehun!"
DEG!
Luhan berteriak dengan girang saat melihat sosok dua anak yang sudah tak asing baginya. Dua anak yang berkenalan dengannya kemarin. Atau lebih tepatnya hanya satu? Sebab yang satunya lagi melarikan diri.
"Hoo jadi anak cantik itu adalah 'nona' Luhanmu, Sehun?" goda Wufan saat melihat Luhan yang sedang berlari kecil ke arah mereka.
DEG!
"Waah benar-benar cantik!" kagum Chanyeol yang langsung diangguki oleh Baekhyun.
Wufan terkekeh, "Aku sering melihatnya. Ternyata namanya Luhan, ya.."
Jongin sedikit mendelik mendengar ucapan Wufan. Kenapa ucapan Wufan terdengar seperti seorang 'pengganggu' Sehun dan Luhan? Walaupun sering menggodanya, Jongin tak ingin ada yang mengganggu hubungan Sehun dan Luhan. Singkatnya dia telah menjadi seorang yang protektif pada Sehun dan Luhan. Dia takut Wufan akan bertindak sama seperti Kyungsoo waktu itu. Seperti Kyungsoo..
"Jangan macam-macam, hyung. Nanti Sehun ngambek."
Wufan kembali terkekeh mendengar ucapan Jongin yang terdengar lucu, "Kau lucu sekali. Aku tahu, Jongin." kemudian Wufan mengacak-acak rambut Jongin karena gemas.
Jongin hanya nyengir terpaksa.
"Dia datang~" Chanyeol dan Baekhyun terlihat tak sabaran menyambut Minseok dan Luhan.
"Annyeong!" sapa Minseok dan Luhan saat mereka telah sampai.
"Annyeong~" Chanyeol dan Baekhyun menyapa balik seraya melambai-lambaikan tangan mereka bersamaan. Sementara Wufan hanya tersenyum kecil kepada Minseok dan Luhan.
"Perkenalkan, ini Minseok-hyung dan Luhan-hyung!" ujar Jongdae seraya memberi tempat Minseok untuk duduk di sebelahnya.
"Halo Minseok-hyung~" kembali, Chanyeol dan Baekhyun menyapa Minseok masih dengan lambaian tangan mereka yang bersamaan.
"Dan, oh, hyung, kau bisa duduk di sebelah Sehun." ujar Jongdae pada Luhan yang masih berdiri.
Luhan mengangguk kecil, ia mendekati Sehun.
"Hai, Sehun!" sapa Luhan pada Sehun yang menatapnya lekat-lekat.
DEG!
"Aku duduk di sebelahmu, yaa."
DEG!
Kenapa ucapan Luhan barusan terdengar begitu manja? Begitu manis? Begitu menggoda? –pikir Sehun.
Saraf-saraf Sehun mulai tersadar, "A-A-AAA.."
Semua yang berada di meja tersebut sudah tahu apa yang ada di otak Sehun sekarang, minus Minseok dan Luhan sendiri.
'Anak itu sedang kacau.' pikir kelima-minus Minseok dan Luhan-manusia.
"Sehun..? Gwaenchana?" Luhan mendekati wajahnya ke wajah Sehun.
DEG!
Tidak! Kami-sama, kumohon aku tak bisa lagi bertahan! –pekik Sehun dalam hati.
Sehun segera berdiri. Dan–
"UWAAAA!"
–kembali berlari.
Meninggalkan sisa manusia di sana dengan mulut yang menganga sempurna.
Keheningan menyelimuti. Jangan hiraukan dengan bisik-bisik orang-orang di sekeliling mereka yang melihat insiden kecil barusan.
"..Hah..?" Luhan memecah keheningan. Dirinya begitu merasa bingung. Dia tak mengerti apa yang terjadi dengan Sehun sebenarnya.
"E-eh? Kenapa anak itu lari?!" ujar Chanyeol tak habis pikir.
"Sehun-ah! Luhan-hyung malah akan berpikir kau tak menyukainya..!" gumam Baekhyun seraya menggigit bibir bawahnya pelan. Diam-diam Chanyeol dan Baekhyun meng-ship Sehun dan Luhan.
"Pabbo." Wufan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jongdae dan Minseok hanya terbengong-bengong.
"..Se-Sehun-pabbo!" Jongin hendak beranjak dari duduknya, menyusul Sehun. Sebelum sebuah tangan menghalanginya.
"..Apa Sehun membenciku..?"
Pertanyaan Luhan membuat Jongin langsung menyanggahnya, "A-aniya, hyung! Sehun tidak membencimu..!"
Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae ikut menambahkan, "Sehun tidak mungkin membencimu, Luhan-hyung!"
Luhan tersentak mendengarnya. Namun mengapa ia masih merasa bahwa Sehun tak menyukainya? "Dia tak suka padaku ya? Kenapa dia selalu begitu bila melihatku..?"
Luhan menghela napasnya dengan berat. Rasa sedih menyelimutinya. Bahkan Luhan sendiri tak tahu mengapa ia sesedih ini.
"Tak mungkin, hyung! Percaya padaku, pada kami, Sehun tak membencimu! Sehun menyu– eeh Se-Sehun menyu– menyu–" ucapan Jongin terpotong saat ia merasa sudah kelepasan bicara.
"Sehun menyu..?" Luhan mengulang kembali ucapan Jongin dengan heran.
Jongin nampak begitu salah tingkah. "Ma-maksudku.."
"Jangan khawatir, Sehun pasti menyukaimu." Wufan menambahkan.
Luhan menoleh ke arah Wufan, "Aaah kau ketua klub basket! Wu-Wu Yifan!" ujarnya kembali ceria.
Wufan tersenyum, "Ne. Dan mereka ini adalah anggota-anggotaku."
Chanyeol, Baekhyun, Jongdae, dan Jongin membulatkan bibir mereka. Mereka akhirnya percaya bahwa Wufan benar-benar seorang ketua. Oke, lupakanlah.
"Sehun juga, ya? Aku pernah melihatnya bermain basket! Nampaknya dia pandai sekali bermain basket!" ujar Luhan dengan semangat. Melupakan keresahannya barusan.
"Ne, hyung! Kau tahu? Sehun dan Jongin mungkin adalah anak-anak emas yang akan membawa kemenangan!" Chanyeol menimbrung tiba-tiba.
Luhan semakin melebarkan senyumannya.
"Dan kau tahu lagi, hyung?" Baekhyun ikut terlarut dalam obrolan mereka.
Jongin menghela napasnya. Nampaknya kali ini ia selamat.
"Oh, ya! Kau pasti Minseok-hyung dari kesehatan tahun keempat, kan? Kenalkan, aku Chanyeol! Sastra tahun ketiga! Jongdae bercerita banyak tentangmu!" tiba-tiba Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Minseok yang berada di sebelah Jongdae dan segera mengoceh dengan tepat dan jelas(?).
'Jongdae bercerita banyak tentangmu!' kalimat itu sukses membuat Minseok merona, "N-ne. Salam kenal, Chanyeol!"
Baekhyun ikut menolehkan kepalanya, "Aku Baekhyun! Sastra tahun ketiga! Salam kenal, hyung!"
Minseok tersenyum manis, "Ne, Baekhyun!"
"Wah, kenapa Jongdae tidak bercerita padaku kalau dia punya teman yang semanis ini?" goda Wufan seraya terkekeh kecil.
Minseok semakin merona dibuatnya.
Jongdae mendelik tajam ke arah Wufan. Seakan-akan berkata 'jangan macam-macam, hyung!'
Wufan tertawa kecil, "Kau pasti tahu siapa aku, bukan? Hahaha. Salam kenal, Minseok."
Minseok mengangguk cepat.
"Wufan si ketua klub basket terkenal~" cibir Jongdae yang membuat Minseok tertawa mendengarnya.
"Jongdae kotak TV." balas Wufan.
Mereka saling mencibir sahut-menyahut.
"Ehm. Kurasa aku harus pergi sekarang.. Aku akan menyusul Sehun dan kelas akan dimulai sebentar lagi.." ujar Jongin setelah dirasa cukup berbincangnya dan segera beranjak dari duduknya.
"Tu-tunggu.." lagi, Luhan menahannya.
"Ada apa, hyung? Aku harus bergegas–"
"Sampaikan salamku pada Sehun." pinta Luhan dengan tersenyum manis. Amat manis.
'Sehun kau sungguh menyesal tidak melihat senyuman ini!' pekik Jongin dalam hati.
"Ah, ne! Akan kusampaikan! Sehun pasti gembira. Hahaha! Annyeong hyungdeul!" Jongin melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan meja.
Tanpa disadari, kedua pipi Luhan mengeluarkan semburat merah tipis. Dia tidak menyadari sorak sorai dari teman-temannya.
Punggung Jongin telah menghilang.
"Hm? Ada apa?" tanya Luhan pada Chanyeol saat Chanyeol memberikannya tatapan penuh arti.
"Kau menyukai Sehun ya, hyung?" tanya Chanyeol langsung tanpa basa-basi.
Pertanyaan Chanyeol membuat seluruh mata manusia yang berada di meja itu menatap Luhan lekat-lekat.
Luhan tersenyum, "Iya. Aku suka Sehun–"
JRENG.
Belum sempat anak-anak manusia itu berteriak-teriak gila, Luhan melanjutkan perkatannya, "–aku juga suka Minseok, Jongdae, Jongin, Wufan, Chanyeol, dan Baekhyun! Aku menyukai semua temanku!"
JRENG (lagi).
Dan batal sudah perayaan mereka saat mendengar ucapan Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
PAK!
"Hoi."
Kali ini giliran Jongin yang menjitak kepala Sehun yang tengah menulis sesuatu.
"Apa sih?!" ujar Sehun sambil berbisik. Dikarenakan saat ini mereka tengah dalam kelas.
Jongin mengeluarkan cengirannya sebentar, "Kau dapat salam dari Luhan-hyung."
DEG!
Klotak!
Sebuah pulpen yang dipegang Sehun terjatuh.
Jongin ingin sekali tertawa.
"Kau sih, langsung pergi tadi. Luhan-hyung tersenyum manis sekali padaku, lho. Sayang sekali kau tak melihatnya."
DEG!
Tanpa disangka, Sehun langsung mendelik tajam ke arah Jongin, "Ji-jinjja..? Semanis apa..?"
Jongin terkekeh kecil. Oh Tuhan, dia ingin sekali tertawa keras sekarang.
"Ya Tuhan, senyum Luhan-hyung manis sekaliiii~" Jongin kembali menggodanya.
Sehun mengepalkan tangannya, "Ja-jangan menggodaku!"
"Khuhaha!" Jongin tertawa dengan volume yang kecil, sangat kecil.
Sehun memilih untuk cuek, dan meraih pulpennya. Walaupun sebenarnya di dalam hati ia sedang menari-nari.
"Pfft–"
Tawa Jongin harus terinterupsi saat dirinya tengah menolehkan kepalanya ke arah jendela dan mendapati sosok Kyungsoo tengah berjalan menyusuri taman sambil membawa tumpukan buku.
"..."
Kyungsoo-nya tidak sendiri. Kyungsoo-nya itu tidak berjalan sendiri. Ada seorang lelaki yang menemaninya.
"–siapa itu..?" gumam Jongin. Pandangannya tak lepas dari sosok lelaki itu yang terlihat tengah menawarkan bantuan untuk membawakan tumpukan buku. Kyungsoo nampak menggelengkan kepalanya, sepertinya menolak tawaran lelaki itu. Namun beberapa saat kemudian Kyungsoo memberikan setengah dari tumpukan buku kepada lelaki itu. Dan mereka kembali berjalan seraya bercakap-cakap.
Jongin melihat Kyungsoo yang tertawa. Hatinya menjadi tidak karuan.
Lelaki itu bukan Wufan-hyung.
Kyungsoo bersama dengan lelaki lain.
Kyungsoo-nya.
Jongin mengepalkan tangannya sampai ia tak menyadari bahwa ia sudah meretakkan pulpen yang berada di genggamannya.
'Ck!'
"Oi? Ada apa denganmu?"
Pertanyaan Sehun mengagetkan Jongin yang tengah mengerutkan keningnya.
Jongin tak menolehkan kepalanya. Dia masih terdiam.
Sehun yang penasaran-karena tak biasanya Jongin seperti ini-mencoba ikut melihat sesuatu yang Jongin lihat.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang Jongin lihat, Sehun mendengus, "Kyungsoo-hyung ya?"
Jongin menundukkan kepalanya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Kyungsoo-hyung itu kan memang baik, tak heran bila ia punya banyak teman." ujar Sehun menenangkan Jongin.
Jongin giliran mendengus kasar.
"Lagipula itu kan si terkenal Joonmyeon-hyung yang merupakan ketua BEM. Tak heran bila Kyungsoo-hyung akrab dengannya."
Jongin melirik ke arah Sehun, "Joonmyeon? Ketua BEM?"
Sehun mengangguk, "Yang bersama Kyungsoo-hyung itu adalah Kim Joonmyeon anak matematika tahun keempat. Dia adalah ketua BEM. Kyungsoo-hyung adalah anggota BEM, bukan? Jadi kurasa wajar bila mereka dekat."
Kim Joonmyeon.
"Dan, oh, tak usah khawatir. Kudengar Joonmyeon-hyung sudah mempunyai kekasih."
"Jeongmal?"
Sehun mengangguk, "Makanya kau jangan hanya bermain playstation saja. Masa Joonmyeon-hyung seterkenal itu kau tidak tahu?" cibir Sehun.
Jongin tak peduli. Dia memang hanya memikirkan keluarganya, kuliahnya, playstation-nya, teman-temannya, dan Kyungsoo-nya. Tak ada waktu untuk memikirkan si terkenal.
Seharusnya dengan ucapan Sehun barusan Jongin akan merasa lega.
Namun sepertinya tidak.
Entah mengapa, Jongin merasakan sesuatu dari Joonmyeon itu.
Dia tak boleh lengah dari Joonmyeon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
hahaha bagaimana sedikit lebih panjang kaan XD
huahahahahaha apa itu semi-M-nya gitu doang/? wkwkw XDD
bingung nih, ke depannya mau ditambah adegan itunya apa ngga yaaa :/
oh iya, kenapa si Jongin manggil Kyungsoo itu 'Kyungsoo-nya'? karena Jongin kepedean/? karena yaaa Jongin maunya begitu/? wkwk
ohiya betewe di chapter kemarin belum aku jelasin yaa siapa Doojoon itu ._. Doojoon itu sunbaenya si Jongin sama Sehun, dia anak fakultas teknik juga :3 /? makanya si Jongin sama Sehun manggil dia 'hyung' bukan 'sunbae' karena udah kenal dan lumayan deket/? kalau manggil sunbae itu tandanya sopan banget dan ngga terlalu deket/?
yaudah, makasih buat yang masih setia sama saya :") /? dan maafkan segala kesalahan, kekhilafan, dan ketypoan saya n(_ _)n
buat yang lagi uas fighting! ganbatte kudasai neh!
last word, tengkyuh;*
