"–Perasaan ini begitu menyenangkan dibanding saat menyukai wanita."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
haloooow maap ya baru bisa apdet sekarang ;; lagi tengah2 uas padahal wkwk sayang ide udah ngalir kalo ngga dituangin XD
hihiw maafin aku yaa kalo telat ngeluarin tao sama laynya ;; di chapter ini mereka muncul kok tadaaah/? XD
ada yang penasaran sama 'kekasih'-nya suho ngga? /ngga ada/ wkwk itu akan diungkapkan nanti/?
btw makasih ya atas saran+kritik+supportnyaaa 3 :* :3333
yaudah, presenting chapter 6!
enjoy~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Perhatikan langkah! Jangan sampai menginjak kaki teman kalian!"
.
.
JDUK!
.
"Sunbae, hidung Jongin mengeluarkan darah!"
.
.
"Panggil medis!"
"Kyungsoo! Tolong urus anak ini."
.
.
"Kenapa bisa seperti ini? Aigoo, lain kali berhati-hati, ne?"
.
.
.
"Kim Jongin, sekarang giliranmu."
.
"Psst, lakukan saja seperti yang kulakukan tadi. Yang penting mereka tertawa. Soal harga diri kita diskusikan nanti."
.
"Aku bersedia melakukan apa saja demi senior itu, Sehun. Doakan aku!"
.
.
"HUAHAHA! BAGUS, BAGUS SEKALI JONGIN!"
"Lakukan lagi, Jongin!"
.
"Kkk~"
.
.
"Kau melihatnya, Hun?! Senior itu tertawa padaku! Oh Tuhan, aku bersumpah aku telah melihat seorang malaikat tertawa!"
.
.
.
.
"Jaa, terima kasih atas kerja sama kalian! Dengan ini kalian telah resmi menjadi bagian dari kami!"
.
"Selamat datang di Universitas Nasional Seoul! Namaku Do Kyungsoo."
.
.
.
.
"Jong!"
Sehun mengguncang-guncangkan tubuh Jongin yang sedang tertidur di atas meja.
"..Hah? Hah?" Jongin terlihat gelagapan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sehun mendengus, "Apa-apaan kau tertidur di dalam perpustakaan. Seperti bayi saja."
"Yang bayi itu kau." cetus Jongin seraya menggaruk-garuk sedikit kepalanya.
"Hoam.. Sial sekali, kenapa aku harus bermimpi tentang hal itu.." umpat Jongin di sela-sela kegiatannya menguap.
Sehun membuka lembaran buku Technical Engineering-nya dengan terburu-buru, "Mimpi apa?"
"Kau tahu lah."
"Argh sial! Di mana aku harus menemukan busi!" cetus Sehun frustrasi karena tak dapat menemukan sesuatu yang ia cari di dalam buku itu.
Jongin mendecak, "Coba cari di halaman 264."
Sehun yang mendengarnya langsung membalik-balikkan lembaran buku itu dengan terburu-buru, dan–
"Mwo? Benar-benar ada.. Bagaimana kau tahu itu, Jong?" tanya Sehun dengan begitu heran mengapa si Jongin dapat mengetahuinya, padahal sedari tadi Jongin tertidur.
"Sebelum tidur aku sempat membuka-buka sedikit. Mungkin tiba-tiba aku hapal? Mungkin saja."
Sehun menatap Jongin dengan tatapan apa-karena-hal-itu-lagi.
Jongin yang mengerti tatapan Sehun menyenderkan tubuhnya di atas kursi lalu menjawab, "Setiap aku teringat dengannya entah mengapa otakku bekerja dengan baik. Apa kau sempat berpikir bahwa ia adalah semacam obat peningkat kerja otak?"
".. Aneh. Kau aneh, Jong." ujar Sehun dengan datar, kemudian ia mengambil sebuah pulpen dan mulai menyalin sesuatu yang ada di dalam buku ke dalam notes miliknya.
Jongin tertawa kecil, "Ya, memang. Ini aneh. Apalagi semenjak kejadian ketua BEM itu. Siapa namanya? Joonbyun?"
"Joonmyeon." celetuk Sehun, ia meletakkan pulpennya sebentar, "Kenapa masih dibahas? Bukankah sudah kukatakan bahwa Joonmyeon-hyung sudah memiliki kekasih–"
"Aku tahu, Hun," Jongin menundukkan wajahnya, "Namun aku merasa ada sesuatu dari Joonmyeon itu."
Sehun mendengus kasar, "Kau bukan cenayang." lalu kembali mencatat.
Jongin menatap Sehun, "Kau berani taruhan denganku bahwa sebenarnya Joonmyeon itu memang ada apa-apanya?"
Sehun menoleh, "Taruhan kemarin saja kau kalah."
Jongin mendesis, "Akan kubuktikan bahwa Joonmyeon itu memang ada apa-apanya!"
"Maksudmu ada apa-apanya dengan Kyungsoo-hyung?"
Jongin menelan salivanya dengan kasar.
"Bu-bukan yang seperti itu.." Jongin mulai merendahkan nada suaranya.
Sehun tertawa pelan, "Sudahlah, Jong. Atau kau memang ingin kalau Joonmyeon-hyung dan Kyungsoo-hyung itu memang ada 'apa-apanya'?"
"Sehun! Kau–"
"Ah, ya, waktu itu sepertinya mereka begitu mesra~" Sehun kembali menggoda Jongin.
Jongin ingin sekali menyumpal mulut Sehun dengan kaus kakinya.
"Oh, Luhan-hyung!" tiba-tiba Jongin menunjuk ke arah pintu.
DEG!
Sontak, Sehun segera menolehkan kepalanya ke arah pintu dan.. tidak mendapatkan apa-apa.
"Bwahahaha! Makanya, jangan berani menggodaku!" giliran Jongin yang tertawa.
Terlihat Sehun sedang mengumpat-umpat Jongin.
BRUK!
Sehun dan Jongin menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara barusan. Dan mereka mendapatkan sosok seorang lelaki tinggi, ramping, wajah yang sepertinya berisi hidung semua, memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya, dan uhm terlihat –cantik?
Lelaki itu segera membungkuk untuk mengambil sebuah buku yang terjatuh tepat di sebelah meja Sehun dan Jongin.
"A-ah, mianhae! Aku tidak berhati-hati!" ujar lelaki itu.
Sehun dan Jongin seakan terhipnotis oleh hidung lelaki itu –mungkin lebih tepatnya Jongin yang terhipnotis dengan hidungnya–, "Ah, ne, gwaenchana." ujar mereka berbarengan sambil tersenyum pada lelaki itu.
"Kamsahamnida. Oh, aku sudah terlambat! Aku permisi dulu, ne?" lelaki itu melihat ke arah jam tangannya kemudian segera melesat dengan cepat.
Meninggalkan Sehun dan Jongin yang masih terpaku melihatnya.
Sebelum Sehun membuka suaranya, "Sebenarnya ada berapa sosok cantik di universitas ini?"
Belum sempat Jongin menjawab, ia langsung memekik, "Hoi, Hun! Sudah saatnya juga! Ayo!" lalu Jongin beranjak dari duduknya dan meraih ranselnya.
"Sudah saatnya apa?" tanya Sehun dengan polos.
"Basket!"
Setelah mendengarnya, Sehun segera membereskan peralatannya dan menyusul Jongin.
.
.
.
.
.
"Ya! Park Chanyeol! Itu susu stroberi milikkuuuuu!" Baekhyun menggapai-gapai sebuah susu stroberi kotak miliknya yang sedang berada di genggaman Chanyeol.
"Kau sudah setiap saat meminumnya! Biarkan yang satu ini menjadi milikku!" Chanyeol berlarian kecil menghindari Baekhyun yang sekarang sudah berancang-ancang mengejarnya.
"TIDAAAAAK! BERIKAN PADAKUUUU!"
Pemandangan kejar-mengejar Chanyeol oleh Baekhyun sudah menjadi kegiatan rutin di dalam klub basket. Semua anggota sudah sangat terbiasa melihatnya, termasuk Sehun dan Jongin yang baru bergabung sekitar beberapa minggu yang lalu.
"Oi, Jongin. Boleh aku bertanya sesuatu?" celetuk Wufan tiba-tiba pada Jongin yang sedang meneguk air dari dalam botol.
Jongin, yang sebenarnya sudah kehilangan sedikit rasa respect-nya pada Wufan akibat kejadian Kyungsoo waktu itu hanya mengangguk pelan.
"Kau uhm.. Apa kau mengenal para sunbaemu dengan baik?"
Jongin menolehkan kepalanya, "Sunbaeku? Maksud hyung?"
Wufan terlihat mengusap-usap tengkuknya grogi, "Uhm.. Maksudku sunbaemu di fakultasmu.."
"Ne, aku mengenal beberapa." celetuk Sehun tiba-tiba. Rupanya ia mendengar percakapan Wufan-Jongin.
Wajah Wufan langsung berubah menjadi cerah, "Jinjja? Siapa saja yang kau kenal?"
Sehun berpikir sebentar, "Ada Doojoon-hyung, Woohyun-hyung, Eunji-noona, Naeun, dan –"
"Uhm.. Apa kau tidak mengenal sunbaemu yang mempunyai mata yang terlihat seperti panda?"
Sehun berpikir kembali, "Panda..? Kurasa tak ada yang seperti itu.. " lalu ia bergumam 'AH'!
"Kalau yang seperti panda itu tadi kami baru saja melihatnya. Ya, kan, Jong?" ujar Sehun seraya menolehkan kepalanya ke arah Jongin yang disambut dengan anggukan dari Jongin.
"Yang memiliki hidung yang kelewat mancung itu, bukan? Dan memiliki lingkaran di matanya yang menyerupai seekor panda itu?" tambah Jongin.
Wufan segera mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalian mengenalnya?"
Dengan cepat Sehun dan Jongin menggelengkan kepala mereka, "Tidak."
Wufan menepuk dahinya, "Kalian tadi bilang tentang ciri-cirinya.."
"Tapi kami memang tidak tahu, hyung. Kami hanya bertemu dengannya tadi di dalam perpustakaan. Kami bahkan tak tahu namanya. Dan kami tak tahu bahwa ia adalah sunbae kami." jelas Sehun.
Wufan mendengus, "Kalian tak mengenal sunbae kalian sendiri?"
Sehun dan Jongin menggelengkan kepala mereka kembali.
"Namanya adalah–"
"WUFAN-HYUUUUNG! CHANYEOL MENGHABISKAN SUSU STROBERIKU!"
Ucapan Wufan terhenti saat mendengar teriakan Baekhyun yang begitu menggelegar.
"Mengganggu saja. Oh, ya, namanya adalah–"
"HYUUUUNG! CHANYEOL MALAH MENCURI SUSU STROBERIKU LAGI!"
Lagi-lagi teriakan Baekhyun mengganggu.
Wufan mendesis seraya beranjak dari duduknya menghampiri Baekhyun dan Chanyeol yang sedang ribut, "Ya, ya, aku datang."
Sehun dan Jongin tertawa keras melihat adegan Baekhyun yang mengadu pada Wufan.
"Chanyeol! Kembalikan susu stroberi Baekhyun! Cepat!" titah Wufan pada Chanyeol yang masih sibuk menggoda Baekhyun.
"Huh, pengadu! Dasar bantet pengadu!" ejek Chanyeol lagi.
"Caplang bodoh! Kemarikan susuku!" Baekhyun merampas susu stroberi dari tangan Chanyeol.
"Ya, ya, ya, tapi aku mau lagi, Baek~" rayu Chanyeol dengan berusaha manis agar Baekhyun mau membagi susunya.
Baekhyun mendengus, "Tidak! Tidak! Tidak!"
Wufan menghela napasnya dan meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang masih sibuk dengan urusan 'susu' mereka.
"Dua orang itu selalu saja." keluh Wufan seraya kembali menghampiri Sehun dan Jongin. "Ehm, maaf ada interupsi sedikit. Sampai mana tadi?" tanyanya.
"Namanya, hyung." ujar Sehun.
"Oh, ya, namanya–"
"WUFAN-HYUNG! CEPAAAAT! NANTI KEBURU GELAAAP!"
Untuk yang ketiga kalinya, ucapan Wufan harus terhenti dengan teriakan dari Baekhyun dan juga Chanyeol.
Wufan memijat keningnya yang terasa sakit. Mengapa anak-anak itu sangat berisik –pikirnya.
"Sudah, tak apa, hyung. Lebih baik kau pergi ke sana. Latihan sebentar lagi dimulai, kan? Kami akan pulang." ujar Sehun. Yep, latihan kali ini mengikutsertakan Wufan. Dikarenakan kejuaraan akan dimulai dua minggu lagi, sosok ketua pun semakin dibutuhkan dalam latihan.
"Baiklah. Lain kali kita lanjutkan. Annyeong Sehun, Jongin~" Wufan segera beranjak dan menghampiri anggotanya yang sudah menunggu.
Sehun dan Jongin hanya menganggukkan kepala mereka.
"Benar ingin pulang? Tak ingin lihat Luhan-hyung dulu?" goda Jongin pada Sehun yang tengah memasukkan peralatannya.
Blush! Segera saja wajah Sehun merona.
"Ti-tidak! Lebih baik aku melihat para wanita di luar sana!" cetus Sehun.
Jongin tertawa, "Wanita? Benarkah?"
"Ugh, jangan menertawaiku! Akan kubuktikan bahwa aku masih normal! Aku masih menyukai wanita!" Sehun mendelik tajam ke arah Jongin.
Jongin menghentikan tawanya, lalu balas mendelik ke arah Sehun, "Apakah menyukai seseorang itu bukan sesuatu yang normal?" ujarnya. Ia sedikit merasakan sakit di hatinya mendengar ucapan Sehun barusan. Apakah itu berarti Sehun mengatainya tidak 'normal' karena menyukai Kyungsoo?
Sehun membulatkan kedua matanya, ia menyadari jika ucapannya barusan mungkin menyakiti hati Jongin, "Bu-bukan seperti itu, Jong!" dengan panik, ia berusaha menarik ucapannya, namun tak bisa.
Jongin menghela napasnya. Mungkin Sehun hanya ber-denial tentang perasaannya –pikirnya. Ia pun terkekeh kecil, "Sudahlah lupakan. Kalau begitu buktikan ucapanmu barusan, Hun! Aku berani bertaruh kau tidak akan bisa!" ujarnya seraya meninggalkan Sehun.
Sehun menelan salivanya kuat-kuat, "A-akan kubuktikan!" lalu berlari menyusul Jongin.
.
.
.
.
.
"Hahh.. Hahh.."
Terlihat sosok tinggi yang tengah memegang sebuah tongkat menghembuskan napasnya yang tersengal-sengal.
"Ufh.." lalu sosok tinggi itu menyeka keringatnya yang bercucuran.
"Pertahankan itu, Zitao. Jika kau tampil konstan seperti saat ini aku yakin kau pasti akan memenangkannya!" seorang lelaki yang nampak telah berumur tengah menepuk-nepuk pundak sosok tinggi itu –Zitao.
"Ne, seonsaengnim! Terima kasih atas bantuannya hari ini! Dan oh, panggil saja aku Tao, lebih singkat!" ujar Tao seraya membungkukkan badannya ke arah si seonsaengnim.
Seonsaengnim itu mengelus surai Tao, "Baiklah, Tao. Jaga kesehatanmu, ne? Setelah ini segeralah pulang. Aku permisi dulu." lalu meraih tasnya, dan meninggalkan Tao.
Tao menganggukkan kepalanya, dan melambai ke arah seonsaengnimnya yang telah menghilang dari pandangannya.
"Baiklah, saatnya pulang~" Tao memakai kembali sepatunya, dan meraih ranselnya serta tongkat wushu-nya. Ya, Tao adalah seorang atlet wushu yang terkenal di dalam klub martial arts.
Tao melangkahkan kakinya sambil bergumam, "Kira-kira Kyungie memasak apa ya untuk makan malam? Uuh, memikirkannya saja sudah lapar.." ia mengusap-usap perutnya yang belum terisi apa-apa sejak siang.
KLOTAK KLOTAK!
Belum sampai ke pintu gym, Tao mendengar sesuatu yang sangat berisik. Ia menoleh dan–
"OMO! Mengapa bisa keluar semua?!" pekiknya saat melihat pemandangan tongkat-tongkat wushu, pedang kayu, dan berbagai macam alat-alat klub martial arts sudah tercecer di lantai.
"Haaah.. Sepertinya seseorang lupa mengunci lemarinyaa.." gumam Tao saat melihat barang-barang itu tercecer di lantai yang seharusnya berdiam manis di dalam sebuah lemari tepat di hadapannya.
"Ugh, sekarang aku harus memasukkannya kembali ke dalam lemari.. Aigoo, bahkan kayu pun dapat menjadi berat bila berjumlah banyak!" keluhnya seraya memungut pedang kayu satu per satu dari atas lantai.
"Beratnya.."
"Ehm, butuh bantuan?"
Sontak, tubuh Tao menegang mendengar ada suara berat yang sangat berat seperti suara om-om dari belakang. Ia takut tiba-tiba saja ada om-om mesum yang akan mengganggunya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Tao berdiri dan menggenggam sebuah pedang kayu, "..Ja-jangan ganggu Tao!"
"Ha-hah?"
Ahjussi ini keras kepala rupanya! –pikir Tao. Segera saja Tao berbalik melayangkan pedang kayunya itu ke arah si 'om-om'.
WUSH! TEP!
Beruntung, pedang kayu itu dapat ditangkap dengan baik oleh 'om-om' itu.
"W-wow, ada apa ini..?"
Tao akhirnya dapat melihat 'om-om' itu dengan jelas. Sepintas kalimat terlintas di pikirannya, "Kenapa wajahmu tidak seperti seorang ahjussi?"
Mendengar ucapan Tao, sosok ahjussi itu malah tertawa, "Jadi kau mengira aku sebagai seorang ahjussi ya? Ah, aku tahu, pasti gara-gara suaraku ini, kan?"
Tao tercengang, 'Mengapa ahjussi ini memiliki wajah seperti anak tk?' pikirnya.
Sosok ahjussi itu menatap lurus ke arah Tao, "Aku bukan ahjussi. Kenalkan, namaku Park Chanyeol. Aku adalah mahasiswa di sini. Tepatnya dari sastra tahun ketiga. Siapa namamu?"
Ah, rupanya Chanyeol. Ya, ya, tuan Park jangan salahkan Tao bila ia mengira kau sebagai seorang ahjussi. Salahkan suaramu itu. Kutekankan, SUARAMU.
(Oke, aku memang begini memperlakukanmu, Park)
Tao masih terbengong sesaat. Sepertinya Tao baru kali ini bertemu dengan seseorang dengan suara yang begitu berat dan sangat kontras dengan wajahnya.
"A-ah, ne, namaku Huang Zitao. Panggil saja Tao." akhirnya Tao berhasil melawan ketakutannya barusan.
Chanyeol tersenyum pada Tao. Catat, senyumannya kali ini terlihat begitu menawan.
"Nah, bagaimana Tao? Mau kubantu membereskannya?" tawar Chanyeol lagi.
"Ti-tidak usah Chanyeol-ssi." tolak Tao dengan halus, kemudian ia kembali memungut pedang-pedang kayu yang tercecer.
Tanpa mempedulikan ucapan Tao, Chanyeol segera ikut memungut pedang-pedang beserta tongkat-tongkat dan memasukkannya ke dalam lemari.
"A-ah, tak perlu–"
"Ssh, mana bisa kubiarkan kau melakukannya sendirian." potong Chanyeol. Ia menoleh ke arah Tao lalu tersenyum kembali.
Mendengar ucapan Chanyeol yang begitu tulus, Tao menyunggingkan senyuman manisnya, "Gomawo, Chanyeol-ssi."
Ah, sepertinya mereka tak melihat seseorang yang sedang berdiri bersandar pada dinding di seberang mereka.
'Apa maumu, Chanyeol?'
.
.
.
Selesai memasukkan peralatan, Chanyeol dan Tao segera meninggalkan gym. Terlihat Chanyeol tengah membawakan tas milik Tao, yang awalnya Tao melarangnya, namun karena Chanyeol sudah terlanjur membawakannya, Tao tak bisa lagi berkata apa-apa.
"Tao, kau belum memberitahuku kau berasal dari fakultas mana." Chanyeol membuka suaranya di tengah-tengah perjalanan mereka.
"O-oh iya, aku dari fakultas teknik tahun kedua."
Chanyeol membulatkan kedua matanya yang sudah bulat, "Teknik? Berarti kau mengenal Sehun dan Jongin, ya?"
Tao menoleh ke arah Chanyeol dan nampak berpikir, "Sehun? Jongin? Entahlah, aku tidak mengenalnya.."
Chanyeol terkekeh, "Mereka berdua itu adalah hoobae-mu. Seharusnya kau mengenal mereka, Tao." ujarnya dengan lembut.
Tao mengusap tengkuknya, "Oh, begitu yaa? Mianhae, nanti aku akan mencari tahu tentang para hoobae, hyung."
Chanyeol kembali terkekeh, "Ya, ya, begitu baru benar."
Dan mereka hanya tertawa bersama di penghujung sore.
.
.
.
.
.
Just the fraction of your love
Feels the air
And I fall in love with you
All over again
Alunan musik tengah dimainkan di dalam kamar seorang lelaki yang memiliki dimple yang khas.
Lelaki itu terlihat tengah menikmati seraya membaca sebuah komik.
BRAK BRAK BRAK!
"ZHANG YIXIIIINGGG! Jiù MìNG AAAAA! TASUKETTE KUDASAAAIII!"
Wu Yifan. Sang galah ketua klub basket melangkah terburu-buru dan mendobrak pintu kamarnya berteriak ke arah seseorang yang ia panggil Yixing barusan.
"ARRGHHH! SUARAMU MENGHANCURKAN LAGU, WU YIFAN!"
Yixing, lelaki yang tengah membaca komik dan menikmati lagu membalas teriakan Wufan barusan.
"YIXING! KAU HARUS MENOLONGKU!" Wufan menghampiri Yixing terburu-buru.
"KECILKAN DULU SUARAMUU!" Yixing menoyor dahi Wufan dengan keras.
"KECILKAN DULU LAGUMUU!" Wufan balas menoyor dahi Yixing.
Setelah beberapa kali sahut-sahutan, akhirnya Yixing mematikan lagu lalu duduk di hadapan Wufan dengan masih memegang komiknya.
"Kau tahu, Xing?! Barusan aku melihat Tao sedang berjalan bersama Chanyeol!" Wufan membuka suaranya. Ia terlihat sedang melempar sebuah boneka unicorn pemberian sang mama Yixing ke arah Yixing yang terlihat cuek mendengar curhatannya.
"Lalu? Kau cemburu?" tanya Yixing dengan acuh.
Wufan meremas sebuah bantal bermotif unicorn milik Yixing, "Huh! Harusnya aku yang membantu Tao tadi! Bocah gigi itu mendahuluiku!"
"Kenapa bisa didahului?"
Wufan memukul-mukul kecil bantal itu, mengibaratkan bantal itu adalah Chanyeol, "Mana kutahu bahwa Chanyeol masih berada di sana!"
Yixing hanya terdiam menatap Wufan.
"Awas saja kalau sampai Tao kenapa-kenapa! Berani sekali Chanyeol mendekati didi kesayanganku!"
Yixing menutup komiknya sedikit, "Benarkah Tao itu 'hanya' kau anggap sebagai didi-mu?"
Wufan menghentikan kegiatan pukul-memukul bantalnya, "Memangnya mau kuanggap apa lagi?"
"Kau terlihat seperti seseorang yang cemburu karena kekasihmu sedang 'jalan' dengan orang lain."
DEG!
Wufan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Kekasih? Tao? Mana mungkin! –pikirnya.
"Jangan sembarangan bicara, Xing."
Yixing hanya mengedikkan bahunya, lalu kembali sibuk membaca komiknya.
"Kau baca apa sih, Xing?" tanya Wufan karena Yixing mengacuhkan dirinya.
Masih diam, Yixing menunjukkan cover komiknya pada Wufan.
"KAU BACA APA, XING?!" pekik Wufan histeris saat melihat cover komik. Tergambar dua sosok lelaki yang tengah err..haruskah kujelaskan?
"Oh, ini, komik yaoi." jawab Yixing dengan santai. Ia meneruskan membalik-balik lembaran komik itu.
"Apa itu yaoi?"
Yixing menatap Wufan sebentar, "BL. Boys Love."
JEDERR!
Apa?
Apa Wufan tak salah dengar?
Yixing.
Sedang.
Membaca.
Komik.
BL.
Boys Love.
Dalam arti lain,
Gay.
"Wow, wow, tak kusangka.." Wufan masih membelalakkan kedua matanya.
Yixing merasa risih dengan reaksi Wufan, "Apa, sih? Bukankah kau juga sama? Kau dengan Tao itu."
"Ke-kenapa denganku dan Tao? Dia hanya didi-ku!"
"Incest." celetuk Yixing dengan asal, "Kalau begitu kalian incest."
Wufan terlihat tidak begitu mengerti dengan ucapan Yixing, namun ia tahu Yixing pasti sedang menggodanya.
"Aku mendapat target baru." ujar Yixing menghentikan protes-protes yang akan dilayangkan Wufan.
"Biar kutebak. Targetmu itu lelaki, bukan?" potong Wufan.
"Ne. Aku baru menyadari pesonanya.. Kau tahu? Perasaan ini begitu menyenangkan dibanding saat menyukai wanita." lanjut Yixing.
Wufan terdiam mendengarnya.
"Makanya aku memutuskan untuk membaca komik ini, agar aku mengetahui lebih jelas hal-hal tentang gay." lanjut Yixing lagi.
Wufan merebahkan tubuhnya ke atas kursi, "Boleh kutahu siapa targetmu itu?"
Yixing menutup komiknya, lalu mengeluarkan cengirannya, "Kau sudah sangat mengenalnya."
Wufan menaikkan sebelah alisnya, "Siapa?"
"Kim Joonmyeon."
"MWO?!" Wufan terbelalak dan membulatkan kembali kedua matanya.
Yixing terkekeh kecil melihatnya, "Kenapa reaksimu seperti itu?"
"Kita sama-sama tahu bahwa Joonmyeon sudah memiliki kekasih.."
"Itu hanya isu. Tak ada bukti." cetus Yixing.
"Tapi, Xing–"
"Sudahlah. Akan kutunjukkan bahwa Zhang Yixing akan mendapatkan Kim Joonmyeon!" ujar Yixing dengan penuh semangat.
Sedangkan Wufan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Good luck."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
haha maaf ya baru muncul ;A;
buat yang nagih chapter 6 akhirnya dapat kutepati/? XD
okeee jadi ini tokohnya udah muncul semuaa /akhirnya/
mulai kebaca kan ini konfliknya mau bagaimanaa kkk
tenang-tenang semuanya, ini official pair, serius, percayakan padaku'-')9
okedeh, makasih buat yang masih setia menungguku :") /lap ingus/ yu gais ar de bes! \m/
dan maaf ya, jadi pendek lagi huhu ;; soalnya aku ngetik ini di sela-sela uas ;; nanti abis uas aku panjangin lagi XD
last word, tengkyuh;*
