"–Aku ingin sekali meng-'atasi' lelaki."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
helaaaw ayem hir egein/? XD
sebelumnya bila kalian menemukan sesuatu yang 'ngeh' dan membuat kalian berpikir 'ieuhh apaan sih ini' di chapter ini aku tekankan sekali lagi, aku buat cerita ini YAOI y-a-o-i y to the a to the o to the i okeee? jadi gaakan ada pair straight atau semacamnya, kalaupun ada itu adalah misteri/? aku ngga buat aneh2 dan semacamnya, oke oke? /kedip2/ dan jangan menimpukku setelah kalian membaca chapter ini yaa/? ;;;
dan yang nanya ada apa-apanya sama suho itu benar!/? pokoknya simak aja, nanti juga ketauan XD dan ini kris emang kesannya 'manja' ke lay, soalnya mereka temen banget dari awal jadi anak baru/?
ahaha jadi ngebocorin semua deeh/? simak aja deh yaa XD
betewe uasnya udahaaaaaan XDD dan sesuai janji, aku akan manjangin/?
wkwk okedeh, presenting chapter 7!
enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
KRIING! KRIING!
Sebuah jam weker tengah berbunyi kencang di dalam kamar sebuah galah –maksudku Wufan.
KRIING! KRIING!
Jam weker itu terus saja berbunyi.
"Ugh, berisik.."
Wufan belum berminat untuk membuka kedua matanya, ia masih ingin melanjutkan mimpinya..
KRIING! KRIING!
Wufan meraba-raba di mana jam wekernya itu berada. Lalu–
DUK!
Wufan yang merasa telinganya begitu pengang, memutuskan untuk mematikan jam wekernya dengan cara memukulnya dengan keras.
"Akhirnya kau diam juga.." ujarnya tanpa membuka kedua matanya. Ia meneruskan tidurnya yang sempat terganggu dengan jam weker yang tak bersalah.
"Wufan! Cepat, pagi ini kita ada– DEMI KERIPIK-KERIPIKKU!"
Yixing yang secara tiba-tiba muncul di depan pintu, terkejut dengan pemandangan seorang galah sedang tertidur pulas dengan bulir-bulir air yang terhias di bibirnya.
"WU YIFAN! BANGUN KAU!" secara tidak berperike-Wufan-an, Yixing menyibakkan selimut yang terbalut di tubuh Wufan.
"Nyem..nyem.." Wufan masih sibuk dengan igauannya.
"BANGUN!"
JDUG!
Yixing yang irritated, menendang tubuh Wufan hingga terperosok ke lantai.
"Aduuh!" akhirnya Wufan membuka kedua matanya. Ia mengusap-usap bokongnya yang terkena tendangan Yixing barusan.
"Rasakan itu pemalas! Dan apa itu air yang ada di bibirmu? Dasar jorok!" rutuk Yixing lagi seraya melipat selimut dan membereskan tempat tidur Wufan.
Wufan segera menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menggaruk-garuk kepalanya, "Hoam.." lalu ia beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Cepat mandi! Atau kau akan terlambat masuk kelas Kwon-kyosunim!" Yixing kembali berteriak-teriak layaknya seorang ibu yang sedang mengurus anaknya.
BLAM!
Tanpa menjawab perkataan Yixing, Wufan telah berada di dalam kamar mandi.
Baru saja Yixing hendak menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan–
"WU YIFAAN! JANGAN BERNYANYI! SUARAMU ITU MIRIP GENDERUWO!"
Dan begitulah aktivitas setiap pagi di kamar Yixing-Wufan.
.
.
.
.
.
"Kau mau tambah lagi, Tao?"
Sosok lelaki kecil bermata bulat tengah mengambil sebuah telur dari atas wajan, hendak menaruh ke atas piring teman bicaranya yang ia panggil Tao.
"Tak usah, Kyung." jawab Tao lengkap dengan senyuman manisnya.
Kyungsoo segera menaruh wajan ke atas wastafel, melepas afron yang ia kenakan, dan menarik kursi dan duduk di sebelah Tao.
"Tumben sekali. Biasanya kau selalu menghabiskan dua telur." Kyungsoo mengambil sebuah roti dan mengoleskannya dengan mentega.
"Uhm.." hanya itu jawaban Tao.
Kyungsoo menaruh roti itu ke atas piring Tao, "Apa ada masalah? Kau sakit?"
Dengan cepat Tao menggeleng, "Ani, Kyungie. Ah, lebih baik kita segera sarapan!" ujarnya. Tao segera mengambil roti di atas piringnya, dan mulai menggigitnya.
Do Kyungsoo, seorang mahasiswa psikologi tahun kedua tentu mengetahui gelagat orang yang sedang berbohong. Kyungsoo tahu bahwa Tao berbohong. Namun karena Tao adalah orang yang polos, Kyungsoo yakin cepat atau lambat Tao akan bercerita yang sebenarnya padanya. Jadi Kyungsoo memutuskan untuk diam saja.
"Jadi, Tao.." Kyungsoo membuka suaranya.
"Hm?"
"Bagaimana perkembangan latihanmu? Kejuaraan tinggal sebentar lagi."
"Baik! Berjalan dengan baik! Kau tahu? Bahkan kemarin seonsaengnim memujiku! Katanya kalau aku terus berpenampilan konstan aku dapat memenangkan kejuaraan!" jawab Tao dengan semangat.
Kyungsoo menyunggingkan senyumannya, "Itu bagus sekali!"
Tao menganggukkan kepalanya, "Aku ingin membuktikan bahwa klub martial arts mampu mengalahkan klub basket!"
"Semangat yang bagus! Berjuanglah, Tao!" Kyungsoo menaikkan kedua jempolnya ke arah Tao.
Di universitas ini klub basket dan klub martial arts memang terkenal dengan kerivalannya. Kedua klub berlomba untuk mendapatkan gelar juara demi kebanggaan universitas. Dua tahun lalu, klub basket meraih gelar juara, sedangkan klub martial arts tidak. Lalu tahun lalu, giliran klub martial arts yang meraih gelar juara. Hal ini membuat semangat klub basket begitu berkobar-kobar untuk mendapatkan gelar juara kembali. Tentu saja gelar yang mereka dapat adalah gelar dari masing-masing bidang olahraga yang digeluti.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Joonmyeon-hyung?" tanya Tao pada Kyungsoo yang sedang sibuk mengoleskan mentega kembali.
"Ng? Myeonnie-hyung baik-baik saja. Memangnya ada apa?"
Tao terkekeh, "Panggilanmu padanya terdengar begitu mesra, Kyung."
Sontak, ucapan Tao membuat Kyungsoo membulatkan kedua matanya yang sudah sangat bulat, "Aku kan memang selalu memanggilnya begitu." ujarnya heran.
Tao tertawa kembali, "Baiklah. Aku berangkat duluan, ne?" lalu ia beranjak dari kursinya.
"Eh, tunggu! Ini bagaimana?" Kyungsoo menunjuk ke arah sebuah roti yang telah diolesinya dengan mentega barusan.
"Ng, kau makan saja! Annyeong Kyungie~" Tao segera meraih ranselnya dan pergi meninggalkan Kyungsoo.
Kyungsoo yang melihatnya mendengus, "Ah, kalau begitu akan kubuat jadi bekal untuk Myeonnie-hyung saja~"
.
.
.
.
.
"Annyeong Sehun, Jongin! Jangan lupa, besok ada ujian pertama!"
Seorang perempuan tinggi, memiliki rambut panjang yang indah, dan berpipi chubby tengah melambai ke arah Sehun dan Jongin yang sedang sibuk merapikan alat tulis dan buku-buku mereka.
"Ah, benarkah itu Yookyung? Terima kasih telah memberi tahu!" ujar Jongin sambil membalas lambaian perempuan yang dipanggil Yookyung itu.
Setelah sosok Yookyung tak terlihat lagi, Sehun menyeletuk, "Apa sih yang ada di pikiranmu sampai ujian saja tak tahu."
Jongin tak menjawab cibiran Sehun.
"Makanya jangan terlalu memikirkan Kyungsoo-hyung."
Twitch!
"Bukankah kau juga sama? Jangan terlalu memikirkan Luhan-hyung."
DEG!
Jantung Sehun selalu mengadakan unjuk rasa saat terucap nama 'Luhan'.
"A-apa, sih?!" Sehun memanyun-manyunkan bibirnya mendengar ucapan Jongin.
Jongin tertawa, "Mana buktinya bahwa kau menyukai wanita? Segitu saja sudah salah tingkah."
Sehun merasakan dirinya malu, bingung, dan kesal. "ARGH! Tunggu saja! Akan kubuktikan!"
Jongin yang masih tertawa memutuskan untuk meninggalkan Sehun.
"Eh, hei! Tunggu aku!" Sehun buru-buru menyambar ranselnya dan berlarian mengejar Jongin.
"Kau lama." ujar Jongin saat mereka sedang berada di lorong kelas.
"Itu karena kau mengajakku ngobrol, kan." Sehun kali ini berjalan mendahului Jongin dengan cepat.
Entah mengapa tingkah Sehun terlihat sangat lucu. Jongin tak bisa menahan gelinya lagi, "Pfft.. Hahaha! Kau ini umur berapa sih, Hun? Benarkah kau seumuran denganku?"
Sehun membalikkan badannya ke arah Jongin yang berada di belakangnya, "Berhentilah menggoda–"
DUK!
Tanpa sengaja, Sehun menabrak seorang perempuan yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Perempuan itu menabrak punggung Sehun, dan membuat buku yang dibawanya terjatuh.
"Omo! Mi-mianhae!" Sehun segera membalikkan tubuhnya, dan berjongkok untuk membantu perempuan itu mengambil bukunya.
"Ah, gwaenchana.." perempuan itu berkata seraya mengadahkan kepalanya menatap Sehun.
Cling! Cling!
Untuk sedetik, Sehun terpesona melihat wajah perempuan itu yang menurutnya imut-imut. Rambut panjangnya yang terurai indah, pipinya yang sedikit gembil, bibirnya yang tipis dan kecil.
Sehun merasa bahwa dirinya normal.
"Bomi-yaaa! Ppali– eoh? Sehun? Jongin?" tiba-tiba sosok perempuan cantik berponi, dan memiliki hidung yang tak jauh berbeda dengan Jongin menoleh ke arah Sehun dan Jongin beserta perempuan yang ia panggil Bomi.
"Eunji-noona?" ujar Sehun dan Jongin saat melihat siapa yang memanggilnya barusan.
"Halo adik-adik! Sedang apa di sini?" sapa perempuan berponi itu –Eunji.
"Ka-kami sedang dalam perjalanan menuju gym untuk latihan klub, sebelum Sehun tidak sengaja me-menabrak gadis ini." jawab Jongin takut-takut seraya menunjuk-nunjuk Sehun dan perempuan di sebelahnya.
"Oh, Bomi-ya! Kau tertabrak Sehun?" Eunji menghampiri Bomi –perempuan yang tertabrak oleh Sehun tadi.
"Ah, ne. Tapi aku tak apa-apa, Eunji-ya." jawab Bomi, ia mengeluarkan cengirannya.
Sehun masih terpaku menatap Bomi –yang ia anggap adalah seorang gadis yang mampu membuktikan bahwa dirinya masih normal–.
Jongin? Ia sedang bergidik. Karena Sehun menabrak teman Eunji, yang juga tentunya adalah seorang senior. Tidak, tidak, masalahnya adalah gadis ini merupakan teman Eunji. Ia takut Eunji akan mengamuk. Bila Eunji sudah mengamuk, seekor gorila pun tak akan mampu melawannya.
"Baguslaah! Ayo, kita akan terlambat! Kami permisi dulu, Sehun, Jongin!" Eunji dan Bomi melambaikan tangan mereka ke arah Sehun dan Jongin, lalu berlarian kecil.
"Kau sih, ceroboh. Menabrak teman dari kingkong-noona. Untung saja ia sedang buru-buru tadi, kalau tidak–"
"Aku masih normal.."
"–eh?" Jongin mendekati Sehun.
"Aku masih normal! Dadaku masih bergetar saat melihat wanita!" secara tiba-tiba Sehun mencengkram bahu Jongin dan menggoyang-goyangkannya.
"Aku sudah membuktikannya!" lanjut Sehun lagi sambil memasang tampang seorang pemenang, ia melepas cengkramannya dari bahu Jongin.
Jongin mengusap-usap bahunya yang malang, "Ya, ya, ya, selamat." ujarnya datar lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
"Heeei! Kau kalah, Jongin! Kau ka–"
Bagai ditimpa oleh durian. Demi celana dalam Sooman.
"–lah.."
Sehun tercekat. Dadanya bergemuruh kencang. Ia membatu.
"Oh, Luhan-hyung! Minseok-hyung!" Jongin menyapa dua orang yang tidak sengaja sedang berdiri di hadapannya.
Minseok mendengar sapaan Jongin terlebih dahulu, ia menolehkan kepalanya, "Eh, annyeong Jongin!" sapanya seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah Jongin.
Jongin segera menghampiri Minseok yang sedang memegang segelas bubble tea.
"Tumben sekali mampir ke sini, hyung! Ada apa?" tanya Jongin dengan heran, karena tidak biasanya anak kesehatan mampir ke tempat anak-anak teknik.
"Secara tiba-tiba Luhan bilang ia ingin membeli bubble tea di sini. Kau kan tahu, bubble tea fakultas teknik adalah yang paling terkenal!" jawab Minseok sambil menyeruput bubble tea-nya. "Wah, benar-benar enak!" lanjutnya lagi.
Jongin terkekeh kecil, "Bubble tea di sini memang yang paling enak, hyung!" ujarnya bangga.
"Oh, iya, mengapa Sehun tidak ke sini?" Minseok bertanya setelah menyadari sosok Sehun masih terdiam tidak jauh dari tempat mereka berada.
Jongin mengeluarkan cengirannya, "Lebih baik minta tolong Luhan-hyung yang memanggilnya." pintanya pada Minseok.
Awalnya Minseok terlihat keheranan, namun setelahnya ia tertawa kecil lalu mencolek Luhan yang tengah membayar segelas bubble tea.
Luhan menoleh.
Entah mengapa pemandangan Luhan yang menolehkan kepalanya, rambutnya yang terkibar indah, terlihat dalam mode slow motion dari pandangan seorang Oh Sehun.
"Oh, hai Jongin!"
Luhan yang terlihat terkejut melihat Jongin yang ada di hadapannya.
Luhan yang menyapa Jongin.
Terlihat begitu indah dan masih dalam mode slow motion bagi Sehun yang masih terpaku.
Jongin terlihat mengucapkan sesuatu pada Luhan.
Sedetik kemudian kedua mata Luhan dan Sehun bertemu.
"Sehun!"
Luhan melambai-lambaikan tangan kanannya ke arah Sehun.
Sedangkan tangan yang satunya sedang memegang segelas bubble tea.
DEG!
"Sehun! Kenapa tidak ke sini?"
Oh, Luhan sedang menggoda Sehun supaya Sehun menghampirinya rupanya.
Apa?
Kau gila, Sehun!
"Sehuun!"
Luhan masih memanggil-manggil namanya.
Lihatlah, Luhan dengan bubble tea di tangannya.
Apa lagi yang lebih indah dari itu, Oh Sehun?
".. A-a-a.."
Bravo! Sehun kembali menjadi si gagap Sehun.
Luhan mengerutkan keningnya melihat Sehun yang tengah memundurkan langkahnya.
"UWAAAAAAAA!"
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Sehun berlari dengan kencang. Meninggalkan Luhan yang sedang membulatkan mulutnya. Meninggalkan Minseok yang tak jauh berbeda dengan Luhan. Dan Jongin yang–
–terbahak-bahak, "Itu yang kau sebut bukti, Oh Sehun? BWAHAHAHA!"
Luhan menarik-narik kecil ujung baju Jongin, "Uuh tuh kaan.. Sehun selalu begitu.. Dia benci aku ya? Ya, kaan?!" tak disangka, Luhan mengeraskan suaranya terkesan seperti sedang marah.
"Ani, ani, ani, hyung! Aku bersumpah, Sehun tidak membencimu! Percayalah padaku!" ujar Jongin di sela-sela tawanya.
Luhan mengerucutkan bibirnya, "Huh, baiklah-baiklaaah.."
'Sayang sekali si bayi itu tidak melihat ini!' pekik Jongin dalam hati begitu melihat Luhan mengerucutkan bibirnya.
"Jaa, aku permisi dulu ne, hyung?"
Sebelum Jongin melangkahkan kakinya, Luhan kembali menarik ujung bajunya, "A-aku tahu Sehun suka sekali dengan bubble tea, tolong berikan ini padanya." Luhan menyodorkan segelas bubble tea pada Jongin.
Jongin terperangah. "W-waah kau baik sekali, hyung.." ujarnya sambil mengambil bubble tea dari tangan Luhan.
"Eung, waktu itu aku melihat gelas bubble tea yang sudah habis di meja Sehun. Jadi kupikir Sehun menyukai bubble tea." jelas Luhan.
'Oh Sehun, aku bersumpah kau adalah orang paling beruntung!' pikir Jongin. Ia masih tidak habis pikir mengapa ada orang sebaik Luhan yang memberi minuman kesukaan untuk orang yang selalu berteriak histeris padanya.
"Terima kasih banyak, hyung! Aku sangat yakin Sehun akan merasa begitu senang!" ujar Jongin lengkap dengan cengirannya.
Luhan menundukkan kepalanya, "A-apa kau yakin Sehun mau meminumnya..?"
"Yakin! Aku yakin 100000000 persen! Jangan khawatir, hyung!" ujar Jongin dengan semangat.
Mendengarnya, Luhan terkekeh kecil, "Baiklaaah.. Gomawo, Jongin-ah!"
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam yang lalu.
.
.
"Konstitusi yang dibuat pada tahun ini merupakan konstitusi hasil tiruan dari negara-negara di Eropa."
Sosok wanita paruh baya tengah mengajar di depan kelas menggunakan sebuah projector.
Terlihat semua mahasiswa tengah menyimak dengan serius. Terkecuali untuk seorang mahasiswa yang mempunyai tinggi yang menyaingi menara kembar Petronas.
Menara itu –maksudnya Wufan, tengah memandang sosok yang duduk di depannya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
Sosok yang duduk di depannya tak lain tak bukan adalah roommate-nya sendiri, Zhang Yixing.
Wufan masih tak bisa melupakan ucapan Yixing kemarin. Tentang hal-hal yaoi. Tentang target barunya. Tentang Joonmyeon.
Wufan masih tak mengerti mengapa temannya selama empat tahun ini menjadi seorang ehm –gay?
Merasa ada yang menatapnya, Yixing pun menolehkan kepalanya.
"Apa?" tanyanya begitu melihat Wufan yang menatapnya.
"–Kau.. Apa kau yakin soal ucapanmu..?"
Yixing mengerutkan keningnya, "Ucapanku?"
"Jangan pura-pura tidak ingat."
"Apa, sih?" Yixing mulai risih.
Wufan terlihat tengah membentuk bibirnya menjadi huruf-huruf J-O-O-N-M-Y-E-O-N.
"Oh!" Yixing akhirnya mengerti maksud Wufan.
Wufan memberi tatapan dasar-lemot padanya.
Yixing mendelik ke arah Wufan, "Kenapa aku harus tidak yakin?"
"Karena.. Yah.. Apakah secepat itu kau memutuskan bahwa sekarang kau menyukai lelaki?"
Yixing menghela napasnya pelan. Ia mengerti bahwa situasi seperti ini tak akan berjalan mudah. "Yeah. Aku yakin."
Giliran Wufan menghela napasnya, "Boleh kutahu alasannya?"
Yixing menolehkan kepalanya ke arah sang kyosunim terlebih dahulu. Setelah dirasa sang kyosunim tidak memperhatikan dirinya dan Wufan, ia kembali menoleh ke arah Wufan.
"Aku ingin sekali meng-'atasi' lelaki."
Apa?
Wufan mengerutkan keningnya. Ia tak begitu mengerti dengan ucapan Yixing.
"Meng-'atasi'?"
Yixing mengangguk, "Maksudku seme, top. Aku ingin sekali menjadi top dari seorang lelaki. Karena selama ini aku bosan bila selalu menjadi top dari wanita."
Wufan nampak ingin tertawa, "Hei, aku memang tak mengerti tentang istilah tentang yaoi, tapi aku mengerti lelaki mana saja yang terlihat cocok dan tidak cocok menjadi top atau apa tadi istilahnya? Seme?"
Yixing mengangguk seraya memanyunkan bibirnya, "Maksudmu aku tak cocok menjadi seorang seme?"
Wufan terkekeh pelan, "Dan kau bilang apa tadi? Meng-'atasi'? Kau yakin kau bisa meng-'atasi' seorang Kim Joonmyeon?" Wufan masih terkekeh.
Yixing semakin memaju-majukan bibirnya, "We'll see, Wu Yifan." ujarnya, lalu ia kembali fokus pada kuliah dari Kwon-kyosunim.
Wufan menyeringai lebar penuh remeh, "Yeah, we'll see, Zhang Yixing."
.
.
.
.
Kelas telah usai, mahasiswa segera menyerbu kantin. Berniat mengisi perut mereka yang keroncongan. Tak terkecuali bagi Wufan dan Yixing. Mereka sedang duduk di sebuah meja kecil yang berkapasitas dua orang.
Wufan membuka suaranya, "Dengar, Xing, kalau kau serius ingin mendapatkan Joonmyeon lebih baik kau selidiki dulu hubungannya dengan seorang anak psikologi."
Yixing yang tengah meneguk minumannya berkata, "Hubungan? Anak psikologi? Apakah yang kau bilang kekasihnya itu anak psikologi?"
"Bukan. Ah, tak tahu. Yang kutahu katanya anak psikologi itu selalu bersamanya sepanjang waktu."
"Lalu? Apakah itu aneh? Kau juga selalu bersamaku sepanjang waktu–"
"Bukan seperti itu. Menurut kabar yang beredar di tengah-tengah anak-anak BEM, Joonmyeon dan anak psikologi itu nampak terlalu 'dekat'." potong Wufan lalu melanjutkan kata-katanya.
Yixing menatap lurus ke arah Wufan.
Wufan terkekeh, "Bisa saja kalau mereka itu sama denganmu, kan? Oleh karena itu kau harus menyelidikinya dahulu."
"Kalau Joonmyeon itu sama denganku itu adalah sebuah keuntungan! Masalahnya ada di anak psikologi itu.." ujar Yixing seraya mengaduk-aduk spaghetti pesanannya.
"Baiklah, kau akan membantuku menyelidiki mereka!" Yixing segera mengambil keputusan.
"UHUK!" Wufan tersedak begitu mendengar ucapan Yixing. "A-apa..? Aku?"
Yixing mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ya! Kau!"
"Wow, wow, wow, mengapa cepat sekali mengambil keputusan–"
"AAAAAH!"
Lagi-lagi ucapan Wufan harus terpotong, kali ini oleh teriakan Yixing.
Yixing terlihat menunjuk ke arah seorang lelaki yang tengah berjalan bersama dengan lelaki lain. Mereka berdua terlihat sama pendeknya –maksudku kurang tinggi.
"Itu dia! Target didapatkan!" Yixing segera menarik tangan Wufan, kemudian berlari mengikuti sang target yang baru saja berlalu di hadapannya.
"WHAT THE!"
.
.
Yixing dan Wufan tengah menguntit seorang Kim Joonmyeon beserta temannya. Mereka menguntit dari jarak sejauh tujuh meter di belakang. Tak jarang mereka harus menyembunyikan wajah mereka saat Joonmyeon tidak sengaja menoleh ke belakang.
"Mau ke mana mereka..?" gumam Yixing.
Sementara Wufan sedang sibuk mengolah otaknya. Ia merasa bahwa dirinya pernah bertemu dengan sosok yang berjalan bersama Joonmyeon.
Mereka berjalan menuju ruangan BEM.
Sadar bahwa Yixing dan Wufan tak bisa masuk ke dalam sana –Yixing dan Wufan bukan seorang anggota BEM–, mereka memutuskan untuk menguping dari luar.
"Sedang apa mereka di dalam..?" Yixing menempelkan telinganya ke dinding, berniat menguping.
Sedangkan Wufan masih memijat-mijat keningnya. Ia benar-benar merasa mengenal teman Joonmyeon itu. ".. Psikologi.. Hmm.." gumamnya.
Yixing menyikut lengan Wufan, "Ada apa sih denganmu?"
Wufan menatap Yixing, "Aku merasa mengenal teman Joonmyeon itu.. Anak psikologi.. Ugh.. Soo.. Do.." ujarnya masih memijat-mijat keningnya.
"Ah! Do–"
"Kyungsoo-ya, mianhae, aku harus mengangkat telepon."
Ucapan Wufan terpotong saat suara Joonmyeon terdengar dari dalam.
"Do Kyungsoo! Ya, teman Joonmyeon itu bernama Kyungsoo!" pekik Wufan.
"Ssh! Nanti terdengar!" Yixing segera membekap mulut Wufan.
Beruntung Joonmyeon maupun temannya –Kyungsoo tak menyadarinya.
Joonmyeon tengah berjalan menuju pintu, tak menyadari ada dua orang yang sedang menguping dari balik pintu, lalu mengangkat teleponnya, "Yeoboseyo? Ne, ada apa?"
Yixing menelan salivanya dengan kasar. Ia berdoa semoga Joonmyeon tak menyadari kehadirannya.
"Oh. Ya sudah kalau kau ingin datang menonton ya datang saja."
Datang? Siapa yang akan datang? –pikir Yixing.
"Nee." setelahnya Joonmyeon mengakhiri pembicaraan. Lalu ia kembali menghampiri Kyungsoo.
"Telepon dari Rongie-noona, ya, hyung?" tanya Kyungsoo saat Joonmyeon menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahnya.
Joonmyeon mengangguk kecil tanpa mengeluarkan suaranya.
DEG!
Jantung Yixing berdegub kencang. Rongie-noona? Noona? Telepon dari 'noona'? Dalam kata lain yang menelepon Joonmyeon barusan adalah seorang..wanita, kan?
Kyungsoo terlihat menghela napasnya, "Seharusnya kau bersikap lebih lembut pada kekasihmu, hyung."
CETARRR! JLEGARR!
Perkataan itu terdengar jelas di telinga Yixing dan Wufan. 'Seharusnya kau bersikap lebih lembut pada kekasihmu, hyung.' sangat jelas. Jelas sekali.
Tubuh Yixing merasa kaku. Siapa yang tahu sekarang ini petir dan halilintar sedang menyambar-nyambar di dalam hatinya. Oh, ya, kalian pembaca mengetahuinya(?).
"Oh, begitu ya." ujar Joonmyeon dengan acuh.
Kyungsoo mendengus, "Memang harus begitu, hyung. Kau sudah menjadi kekasihnya selama empat tahun!"
Joonmyeon memotong ucapan Kyungsoo dengan cepat, "Dia ingin ke sini hanya untuk bertemu dengan Sunggyu-hyung."
Kyungsoo menghela napasnya sekali lagi, "Jangan berpikiran seperti itu, hyung."
"Sudahlah, tak usah bicarakan dia." Joonmyeon beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju pintu.
"Gawat!" Wufan segera menarik tubuh Yixing yang tengah lemas menjauh dari ruangan BEM.
Cklek!
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Joonmyeon yang tengah meninggalkan ruangan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Huft. That was close.." Wufan menyeka keringatnya. Dan beralih menatap Yixing, "..Xing?"
"Khuhuhuhu.."
JRENG!
Wufan hanya mendapat jawaban sebuah tawa menyeramkan yang keluar dari mulut Yixing.
"Kim Joonmyeon." Yixing menatap punggung Joonmyeon yang semakin menjauh, dan mengepalkan kedua tangannya.
"AKAN KUBUAT KAU JATUH KE DALAM PELUKANKU!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
huwaaa jangan timpuk akuuu/?
tenang tenang, aku tekankan sekali lagi yaa ini yaoi sumpah yaoi(?) ;;;
walaupun di sini tertulis kekasih suho itu perempuan, tapi sebenernya ada sesuatu dari si suho yang mengharuskan dirinya mengakui bahwa ia adalah kekasih perempuan itu ;-; jadi intinya si suho dan perempuan itu bukan sepasang 'kekasih' kebaca kan dari sikapnya suho di atas :3
yah pokoknya simak aja chapter selanjutnya yang akan keluar tak lama lagi/? hoho XD di situ akan terkuak misteri/? dan rahasia joonmyeon XD
