"–Akan kunyatakan perasaanku pada Luhan-hyung!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

title: boffins's life

Disc: all charas belong to God.

Cast: EXO members

Other cast: find out!

Genre: friendship, romance, university(?) life, humour

Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.

helaaaw ayem hir egein '-')/

seperti yang dijanjikan, ga lama banget kan ini aku muncul lagi/? wkwk

hahaha iya nih bener lay-nya ooc gitu yaa XD padahal niatku bikin lay yang apa adanya seperti yang asli/? tapi kalo ga menggebu2 gini gabisa dapetin mas junmyun dong : wkwk semangat teteh lay!/?

makasih buat yang udah kasih saran/kritik/masukan/ dan lain2 dan masih setia menunggu saya :") kkk

okedeh, presenting chapter 8!

enjoy~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Seharusnya kau bersikap lebih lembut pada kekasihmu, hyung."

.

.

Perkataan Kyungsoo barusan terus berputar-putar di kepala Joonmyeon. Membuatnya semakin terkesan seperti 'kekasih' yang buruk. Sebenarnya, ia tak ingin memperdebatkan tentang hal ini. Ia tak suka bila ada seseorang yang bertanya-tanya 'apa kabar kekasihmu?' atau 'sudahkah kau meneleponnya hari ini?' atau hal lain yang menyangkut tentang 'kekasih'. Yah, walaupun memang yang mengetahui 'kekasih'-nya itu di universitas ini sangat sedikit. Dan Kyungsoo adalah salah satunya.

"Hhh.. Haruskah kusudahi masalah ini..?" Joonmyeon merebahkan dirinya ke atas tempat tidur nan empuk miliknya.

"Tidak boleh! Kim Joonmyeon, kau tak boleh menyerah!" Joonmyeon mengepalkan satu tangannya di udara, dan memperagakan gerakan tangan 'fighting!'.

Namun sedetik kemudian ia kembali menghela napasnya.

"Hahh.. Aku sudah banyak merepotkan orang-orang.." Joonmyeon memijat perlahan pelipisnya yang terasa begitu pening.

Sejenak, ia menatap wallpaper smartphone-nya. Tergambar tiga orang sedang berdiri di depan gerbang sebuah sekolah. Orang pertama yang terletak di sebelah kiri adalah Joonmyeon sendiri. Di sebelah kanan adalah Kyungsoo. Dan di antara mereka ada seorang perempuan cantik berambut panjang indah, pipi yang gembil, tengah menggandeng tangan Joonmyeon dan Kyungsoo.

Joonmyeon menyunggingkan senyum sedihnya menatap layar smartphone-nya, "Aku telah merepotkanmu.. Dan juga Kyungsoo."

Lalu ia memalingkan wajahnya pada sebuah kalung yang berbandul potongan puzzle yang terdiam manis di atas meja belajarnya.

Joonmyeon beranjak untuk meraih kalung itu.

"Sudah berapa lama kau terdiam di sini?" ujarnya pada kalung tersebut yang kini sudah berpindah tempat di atas tangannya.

.

"Memang harus begitu, hyung. Kau sudah menjadi kekasihnya selama empat tahun!"

.

Joonmyeon menyunggingkan senyumannya, "Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Mengapa kau tetap bertahan denganku?"

Kemudian Joonmyeon membuka pengait kalung, dan melingkarkannya ke lehernya.

"Terima kasih atas segala kebaikanmu, Chorong."

.

.

.

.

.

.

Gymnasium, Seoul National University.

05.02. p.m.

"Oke, team! Tadi itu tembakan yang bagus!" Baekhyun menaikkan kedua ibu jarinya pada Sehun dan Jongin yang masih sibuk mengatur napas mereka.

Jongin tersenyum mendengar pujian yang terlontar dari sunbaenya yang pendek –maksudku kurang tinggi, "Apakah kami sekarang sudah setara dengan Chanyeol-hyung atau Minho-hyung atau Wufan-hyung?"

Baekhyun menyeringai lebar, "Kupikir iya!"

"Aniyaa! Masih cepat seratus tahun untuk bisa setara denganku!" sanggah Chanyeol tiba-tiba.

"Kau jangan terlalu pede, tiang!" Baekhyun segera menyikut lengan Chanyeol. Chanyeol hanya menggumamkan kata 'ouch!'.

"Sudahlah. Intinya Sehun dan Jongin adalah anak-anak berbakat." sela Wufan sambil mendelik tajam ke arah Chanyeol yang sedang mengelus-elus lengannya. Ia masih terngiang-ngiang kejadian tentang Tao. Dan ia memutuskan untuk tidak membicarakannya dengan Chanyeol.

"Umm, tapi mengapa Sehun hari ini tidak seperti biasanya?" tanya Chanyeol. Baekhyun yang sudah berhenti menyikut Chanyeol menepuk telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya, "Oh, iya! Untung kau bertanya, Yeol. Aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu, Sehun-ah. Biasanya dengan sekali lompatan kau dapat memasukkan bola ke dalam ring. Tadi kau butuh tiga sampai empat kali lompatan baru kau dapat memasukkan bola. Apa kau sedang tidak enak badan?"

Chanyeol, Baekhyun, dan Wufan menatap Sehun yang sedang meluruskan kedua kakinya dan menyeka keringatnya. Sedangkan Jongin menyeringai penuh arti.

"A-aku ti-tidak apa-apa, hyung.." jawab Sehun dengan terbata-bata.

Tentu saja ketiga hyungnya tidak percaya. Sehun terbata-bata padahal tidak ada Luhan di sini.

"Perlukah kupasangkan alat deteksi kebohongan padamu?" ujar Wufan.

Mendengarnya, Sehun hanya mengusap tengkuknya dan menelan salivanya dengan kasar.

"I-itu.."

"Hun, aku punya sesuatu untukmu." tiba-tiba Jongin menyodorkan segelas bubble tea.

Sehun yang melihat minuman favoritnya tentu saja langsung sumringah, "Ini bagianku untuk hari ini, kan?" ia mengambil bubble tea itu dengan cepat dari tangan Jongin.

Jongin terkekeh, "Karena kau sudah dapat, aku tak harus memberimu jatah untuk hari ini."

Sehun yang tengah menyeruput bubble tea-nya menoleh ke arah Jongin, "Maksudmu? Ini bukan bubble tea taruhan biasa darimu?"

Jongin menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian kembali menyeringai. "Coba tebak."

Chanyeol, Baekhyun, dan juga Wufan hanya terdiam mendengar percakapan kedua hoobaenya. Mereka pikir ini akan menarik.

"Dari siapa? Apakah ini darimu, Baekhyun-hyung?" Sehun menatap Baekhyun.

Baekhyun menggeleng.

"Chanyeol-hyung? Wufan-hyung?"

Chanyeol dan Wufan serempak menggelengkan kepala mereka.

Sehun menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap bubble tea di tangannya. "Ini dari siapa..?"

"Kau melupakan seseorang." celetuk Jongin.

Sehun mengerutkan keningnya, "Melupakan.. Siapa..?"

Seringai Jongin semakin lebar. "Coba ingat-ingat. Siapa saja di sini yang pernah melihatmu meminum bubble tea?"

Sehun nampak berpikir. Ia menggunakan jari tangannya untuk menghitung siapa saja yang pernah melihatnya meminum bubble tea.

"Ng.. Kau, Baekhyun-hyung, Chanyeol-hyung, Wufan-hyung, Jongdae-hyung –ah! Jongdae-hyung?"

Jongin kembali menggeleng.

Kening Sehun kembali mengerenyit, "Siapa lagi..?"

Jongin tertawa kecil. "Tidakkah kau merasakan kehangatan-'nya' saat kau meneguk bubble tea itu?"

Air muka Chanyeol, Baekhyun, dan Wufan tiba-tiba berubah. Sepertinya mereka mengetahui siapa pemberi bubble tea itu.

"Ah, aku tahu!" pekik Baekhyun lengkap dengan cengirannya.

"Aku juga! Aku juga!" Chanyeol tak mau kalah.

Sedangkan Wufan tertawa perlahan, "Kau harus berterima kasih padanya, Hun. Dia benar-benar sangat baik padamu."

Sehun masih terjebak dalam kebingungannya.

"Apa maksudnya..?"

Jongin yang tidak tahan dengan Sehun yang clueless menepuk bahu Sehun perlahan, "Ya! Ini adalah pemberian 'nona cantik'-mu, Hun!"

DEG!

Betapa terkejutnya Sehun saat mendengar bahwa 'nona cantik' yang memberikan bubble tea kepadanya. Rona merah keluar dari kedua pipinya. Mulutnya menganga dengan lebar.

Jongin segera tertawa lepas melihat reaksi Sehun.

"Aigooo, Sehun! 'Nona cantik'-mu begitu memperhatikanmu!" Chanyeol menaikturunkan kedua alisnya, berniat menggoda Sehun.

"Sehun-ah! Betapa beruntungnya dirimu!" Baekhyun ikut menggoda Sehun.

Sementara objek yang digoda sedang sibuk menggumamkan kata 'jinjjayo?' berulang-ulang.

"Sepertinya ia menyukaimu, Hun."

DEG!

Pernyataan terakhir Wufan sukses membuat seorang Oh Sehun merah sempurna.

"Ka-kalian jangan menggodaku terus!" Sehun berteriak sambil menundukkan wajahnya yang masih berwarna merah.

Ketiga hyungnya dan Jongin malah semakin mengeraskan tawa mereka. Mereka berpikir bahwa Sehun kelewat lucu.

"Ugh.." Sehun yang masih menahan malu menatap bubble tea pemberian Luhan di tangannya.

"Waeyo, Hun? Tak mau dihabiskan? Kalau begitu untukku saja!" ujar Jongin seraya mengambil bubble tea dari tangan Sehun.

Sehun terperanjat, "E-eh! Ini milikku!" ia merebut kembali bubble tea dari tangan Jongin.

Jongin mengeluarkan cengirannya, "Habiskan, ne? Luhan-hyung pasti senang."

Blush!

Yak, Kim Jongin, kau semakin memperparah merah-merah di wajah tampan Sehun.

Tanpa mempedulikan tawa dan ucapan hyung-hyungnya, Sehun kembali menyeruput bubble tea-nya.

"Luhan-hyung.."

.

.

.

.

.

.

Student's Dorm, Seoul National University

06.53 p.m.

"Lu, boleh bicara sebentar?"

Minseok membalikkan badannya dan memanggil Luhan yang sedang menulis sesuatu di atas notes-nya.

Luhan menoleh ke arah Minseok dan tersenyum, "Ne, Min? Mau bicara apa?"

Minseok meletakkan dagunya ke atas sofa yang tengah ia duduki, kemudian menyeringai, "Tentang tadi sore."

Luhan memiringkan kepalanya, "Ada apa dengan tadi sore?"

Minseok semakin melebarkan seringainya. "Bubble tea."

"Oh, ya. Kenapa dengan bubble tea? Kau suka, ya? Kalau begitu besok kita pergi membelinya lagi." ujar Luhan lengkap dengan senyuman manisnya.

Minseok mengaga. Dia lupa bahwa temannya yang satu ini memang kelewat polos.

"Maksudku bukan sepenuhnya seperti itu.."

"Lalu?" Luhan semakin bingung dengan temannya yang bulat itu. –ehm oke, maaf.

"Issh.. Kau lemot sekali, Lu!" gerutu Minseok yang sudah gemas dengan kepolosan Luhan.

Luhan merasa bahwa dirinya tidak lemot, melemparkan sebuah penghapus ke arah Minseok, "Enak saja! Memangnya kau sendiri tidak lemot?" protesnya seraya memanyun-manyunkan bibirnya.

Minseok memiringkan kepalanya agar tak terkena lemparan penghapus Luhan, kemudian mengambil sebuah bantal dan melemparkannya balik ke arah Luhan.

"Ya! Kau ingin perang bantal, eoh?" Luhan berhasil menangkap bantal lemparan Minseok dengan baik.

"Kau itu sebenarnya benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" gerutu Minseok lagi.

Luhan mengerutkan keningnya, "Apa sih maksudmu?"

Minseok mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Baiklah, baiklah! Langsung saja. Apa kau menyukai Sehun?"

Sejenak Luhan terdiam. Ia menempelkan pulpen yang sedang ia pegang ke atas bibirnya. Lalu tanpa ragu lagi menjawab, "Tentu!"

Minseok menyipitkan kedua matanya menatap Luhan, "J-e-o-n-g-m-a-l-y-o?"

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat, "Tentu saja! Siapa yang tidak menyukai anak semanis Sehun?"

TOENG(?)

Minseok kembali kehilangan keseimbangannya mendengar jawaban Luhan. "Bukan yang seperti itu.."

Luhan memiringkan kepalanya kembali, "Jadi yang seperti apa?"

Minseok kembali menatap Luhan dengan tajam.

"Doojoon-hyung atau Sehun?"

Eh?

Doojoon?

Luhan menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar ucapan Minseok yang seakan menyuruhnya untuk memilih di antara Doojoon atau Sehun.

"Doojoon-hyung bermain sepak bola dengan sangat keren. Aku menyukainya. Dan Sehun juga bermain basket dengan sangat keren. Aku pun menyukainya."

TOENG (lagi).

Minseok menepuk dahinya. Mengapa aku mempunyai teman yang sangat lemot –pikirnya.

Luhan yang keheranan akhirnya membuka suaranya, "Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku?"

Minseok menghela napasnya, kemudian kembali menatap Luhan. "Karena tak biasanya kau begitu memperhatikan orang selain Doojoon-hyung."

Sedetik kemudian semburat merah tipis keluar dari kedua pipi Luhan.

Minseok mendengus, "Kau sepertinya begitu perhatian pada Sehun, padahal anak itu selalu kabur saat melihatmu. Perhatian adalah tanda bahwa kau menyukai orang itu. Dan karena aku belum pernah melihat kau begitu perhatian pada orang selain Doojoon-hyung makanya aku bertanya."

Luhan kembali merona mendengar ucapan Minseok, "A-aku hanya mengagumi Doojoon-hyung karena kupikir ia keren." sanggahnya.

Minseok menyunggingkan senyumannya, "Bagaimana dengan Sehun? Apakah kau hanya mengagumi anak itu?"

Dan Minseok berani bersumpah bahwa ia melihat rona merah Luhan semakin berwarna merah.

"Ma-maksudmu, apa, sih? Aku menyukai Sehun dan Doojoon-hyung sama seperti aku menyukaimu, Jongdae, Baekhyun, Chanyeol, Wufan, dan teman-teman yang lain!" elak Luhan. Kemudian ia kembali fokus dengan kegiatannya menulis.

Tanpa Luhan sadari, Minseok tengah berpikir bahwa temannya sedang jatuh cinta dengan seorang hoobae.

.

.

.

.

.

.

Don't care what is written in your history

As long as you here with me

I don't care who you are

Where you're from

What you did

As long as you love me

(Backstreet Boys – As Long As You Love Me)

Wufan sedang merebahkan tubuhnya ke atas kasur nyaman miliknya. Kedua tangannya ia jadikan tumpuan kepalanya. Wajahnya tertutup dengan sebuah buku tentang konstitusi yang sudah bosan dibacanya. Kedua telinganya dilindungi oleh sebuah earphone yang tersemat di dalam lubang telinganya.

Air Conditioner yang menyala dengan kencang, kasur yang empuk, lagu yang enak, dan tidak adanya Yixing semakin menambah kebahagiaan seorang Wu Yifan.

Namun sayang. Belum sempat Wufan sukses melayang ke alam mimpinya, ia harus menerima kenyataan bahwa roommate-nya yang tercinta telah kembali dari acara belanja.

BLAM!

"AKU PULAANG~!"

Hooray, Yixing telah kembali!

"Ck.." Wufan mendecak mendengar suara Yixing yang melebihi suara dari mp3 player-nya.

"Coba tebak apa yang terjadi? Baekhyun harus membeli stok eyeliner-nya lagi karena stok sebelumnya dijadikan alat lukis oleh Chanyeol dan Jongdae! Menggelikan sekali!" Yixing terus mengoceh sambil mengeluarkan belanjaannya yang ia beli bersama Baekhyun.

Yixing yang juga adalah seorang mahasiswa politik tahun keempat sangat mengenal para anggota klub basket. Terutama Chanyeol dan Baekhyun. Pernah kukatakan bahwa Jongdae hanyalah seorang tim hore, bukan? Namun karena Jongdae terlalu sering bersama dengan klub basket, ia diangkat menjadi pra-anggota.

Wufan memutar bola matanya bosan. Sepertinya ia pernah mendengar cerita tentang eyeliner Baekhyun itu dahulu. Deja vu, nak Wufan.

Yixing tengah mencuci sayuran dan menyiapkan sebuah talenan untuk memotong-motong sayuran itu.

Wufan melepas earphone-nya dan beranjak menghampiri Yixing yang sekarang bersiap untuk memasak.

"Xing." panggil Wufan seraya menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.

"Apa?"

Wufan menggaruk kepalanya sebentar. Ia terlihat ragu-ragu untuk bertanya.

"Mengenai kejadian tadi siang.. Uhm.."

"Apa?"

Wufan meneguk salivanya dengan berat, kemudian melanjutkan kata-katanya.

"Kekasih Joonmyeon.. Ternyata itu bukan sekedar isu.."

CLING!

Mata Wufan membulat saat melihat Yixing tengah mengacungkan sebuah pisau. Segera ia mengambil langkah mundur.

TOK! TOK!

Ternyata Yixing cuma hendak memotong sayuran. Namun mengapa kencang sekali suaranya?

Wufan masih tak berani berkata apa-apa.

"Kekasih, ya."

Secara tiba-tiba Yixing bergumam sedikit keras(?).

TOK!

Ia kembali memotong sayuran dengan tenaga yang kuat.

"Aku tak peduli. Pokoknya aku akan mendapatkan Joonmyeon." lanjutnya dengan tegas.

Wufan masih terlalu takut untuk berkata apa-apa. Ia memutuskan untuk diam saja dan menunggu Yixing selesai menyiapkan makan malam.

'Menakutkan..'

.

.

.

.

.

.

.

Student's Dorm, Seoul National University

05.45 a.m.

Pagi menjelang. Matahari sudah keluar dari peraduannya dan mulai menyinari dunia. Ayam telah berkokok menyambut kedatangan sang surya. Saatnya aktivitas dimulai kembali.

"Nyem nyem.. Kyungsoo-hyung.. Emhh.."

Tidak, tidak, jangan berpikiran macam-macam dulu. Yang barusan itu suara Jongin. Suara igauan Jongin. Benar, ia masih tidur pulas.

Pindah ke kasur sebelahnya. Ada Sehun si anak manis yang juga masih tertidur. Oh, tidak, Sehun sudah membuka kedua matanya. Tunggu dulu, mengapa matanya berwarna merah?

"Kyungsoo-hyung, terimalah cintaku~"

Jongin masih mengigau tentang Kyungsoo. Membuat eneg seorang Oh Sehun yang mendengarnya.

Setelah melihat jam yang terpampang indah di dinding yang menunjukkan pukul 05.45 a.m., Sehun menghampiri Jongin yang masih tertidur pulas.

"Ireona!"

Tak bergeming.

"Wake up, you lazy!"

Masih tak bergeming.

Hilang kesabaran, Sehun menggelindingkan tubuh Jongin.

BRUK!

"Aduh!"

Sukses, Jongin akhirnya bangun.

Setelah itu Sehun kembali duduk di atas kasurnya sendiri tanpa mempedulikan protes dan umpatan yang dilayangkan Jongin.

Dengan masih mengusap-usap bokongnya yang sukses mencium lantai, Jongin merasakan ada yang aneh pada Sehun.

Tumben dia tak banyak bicara –gumam Jongin.

Jongin melompat ke atas kasurnya, dan bertanya, "Ada apa denganmu, Hun? Ngomong-ngomong tadi itu sakit."

Sehun hanya diam dan menundukkan kepalanya.

"Oi?"

Sehun tak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia malah beranjak dan mengambil handuk lalu bergegas menuju kamar mandi.

"Ada apa dengannya?" Jongin bertanya-tanya sendiri melihat kelakuan Sehun yang tidak biasanya.

Kedua matanya menangkap sebuah sedotan berwarna hijau menyembul dari balik tumpukan buku di meja belajar Sehun.

Merasa akan menemukan sesuatu, Jongin segera beranjak dan menghampiri sedotan itu.

Setelah menyingkirkan buku-buku, ia menemukan sebuah gelas bubble tea bekas minum yang ia yakini adalah gelas bubble tea pemberian Luhan kemarin.

Sebuah seringai terukir di bibirnya, "Bahkan kau tetap menyimpan sedotannya, Hun. Akhirnya kau menyadari perasaanmu sendiri."

Jongin terkekeh, "Apa tak sebaiknya ditaruh ke dalam kotak kaca?"

Setelah puas memandang gelas bubble tea itu, Jongin merapikan kembali meja belajar Sehun. Tanpa disengaja, secarik kertas kecil terjatuh.

"Eoh?" Jongin berjongkok dan mengambil kertas itu.

Cengirannya semakin lebar saat membaca apa yang tertulis di dalam kertas itu.

Tertulis hangul nama 'Luhan' di dalamnya. Lengkap dengan embel 'hyung' dan apa ini gambar di sebelahnya?

Ah, sebuah gambar hati.

Dan Jongin tak perlu lagi menebak siapa penulisnya.

Ia memutuskan untuk menaruh kertas itu ke dalam sakunya, dan menunggu Sehun keluar dari kamar mandi untuk sebuah pertanggungjawaban.

Lima menit setelahnya, Sehun keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih datar seperti saat masuk ke dalam kamar mandi. Namun tetap tampan. Lupakan kalimat sebelumnya.

Sehun hendak menggantung handuknya sebelum ia melihat roommate-nya sedang menyeringai aneh ke arahnya. Itu membuatnya mual.

"Apa yang kau lihat?" cetus Sehun.

Bukannya menjawab, Jongin malah menyeringai semakin lebar.

Sehun mendengus kasar, "Kau terlihat sungguh aneh."

Tanpa menjawab apa-apa, Jongin segera mengeluarkan secarik kertas yang ia temui tadi dan menunjukkannya kepada Sehun.

"Ini apa?"

JRENG.

Betapa terkejutnya Sehun. Lihatlah, kedua matanya sudah menyaingi Kyungsoo.

"HUWAAAAAA!" tanpa babibu, Sehun merebut kertas itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

Jongin langsung tertawa keras.

"I-ini tidak seperti yang kau duga..!" bela Sehun, lengkap dengan rona merah di seluruh wajahnya.

"Lalu apa yang harus aku duga?" goda Jongin di sela-sela tawanya.

Sehun menundukkan kepalanya. Rona merah semakin terlihat di wajahnya. Ia juga tak bisa lagi mengontrol detak jantungnya. Bulir-bulir keringat mulai turun dari pelipisnya.

"Sudahlah, Oh Sehun. Kau harus mengakuinya bahwa kau memang menyukai Luhan-hyung."

DEG!

Sudah tak bisa lagi mengelak, nak Sehun.

"Ba-ba-baiklah.. A-aku me-mengakuinya.."

Jongin menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Sehun, "Apa? Mengakui apa?" godanya.

Dengan mengerahkan seluruh keberanian, Sehun mengadahkan kepalanya, menatap lurus ke arah Jongin dan berteriak, "Aku mengakuinya! Aku menyukai Luhan-hyung!"

Dan tawa Jongin semakin meledak.

"HUAHAHAHA! Akhirnya Sehun menyadari perasaannya!"

Sehun sudah merasa seperti kepiting rebus saat ini. Ini pertama kalinya ia mengakui bahwa ia menyukai seseorang. Lelaki pula.

"Kau puas sekarang, Jongin?" ujarnya dengan ketus.

Jongin menepuk-nepuk pundak Sehun, "Tidak sebelum kau menyatakan perasaanmu padanya."

"APA?!"

JEDARR!

"A-a-aku ti-tidak–"

"Hei, jangan jadi pengecut! Apa kau tak ingin memberitahu perasaanmu pada Luhan-hyung? Perasaanmu yang sudah kau bangun mati-matian! Ingat jerih payahmu sampai akhirnya kau memutuskan bahwa kau memang menyukai Luhan-hyung! Ingat sikapmu yang selalu menghindari Luhan-hyung! Jangan sampai Luhan-hyung berpikir lagi bahwa kau membencinya." ujar Jongin panjang lebar dan berhasil membuat pikiran Sehun terbuka.

"A-apa Luhan-hyung pernah berpikir bahwa aku membencinya..?"

Jongin mengangguk. "Dua kali."

JEDARR!

"Mwo?! ARGH! A-apa yang sudah kulakukan..? Aku yakin, Luhan-hyung pasti membenciku sekarang..!" Sehun mengacak-acak rambutnya.

Jongin mencengkram bahu Sehun dengan kuat, "Apakah ada orang yang selalu menyapa seseorang yang dibencinya? Apakah ada orang yang memberi minuman kesukaan pada orang yang dibencinya?"

Sehun hanya bisa terdiam mendengar ucapan Jongin.

"Kau harus membuktikan sendiri, Luhan-hyung membencimu atau tidak!" Jongin melepaskan cengkramannya.

Sehun menghela napasnya, lalu menatap serius ke arah Jongin. "Baiklah.. Akan kunyatakan perasaanku pada Luhan-hyung!"

.

.

.

.

12.22 a.m.

"APA?! JADI SEHUN SUDAH MEMUTUSKAN AKAN MENYATAKAN PERASAAN PADA LUHAN-HYUNG?! HUWAAAAA! AKHIRNYAAA!"

Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae berteriak-teriak dan menari-nari setelah mendengar cerita Jongin.

"Ssst! Jangan berteriak-teriak, hyung!" ujar Sehun dengan panik, ia tak ingin seluruh universitas mengetahuinya.

"Mianhaeee! Kami terlalu girang!" ujar ketiga megaphone serentak.

Sehun hanya memalingkan wajahnya dengan malu.

Sementara Wufan hanya terdiam dan menatap kelima hoobaenya satu per satu.

Jongin? Sedang sibuk menggoda Sehun.

Sehun? Ah, anak itu sedang dalam mode jatuh cinta.

Chanyeol? Cengirannya melebihi lima jari, bahkan sebuah parabola dapat masuk ke dalamnya.

Baekhyun? Sedang sibuk memuji-muji sosok Luhan agar Sehun semakin terpikat. Seperti; 'Aih, Luhan-hyung itu sangat cantik!' atau 'Sehun-ah! Kau beruntung!'.

Jongdae? Kotak TV itu tak jauh berbeda dengan Jongin.

Wufan menghela napasnya. Ia tak menduga bahwa Sehun sama seperti Chanyeol, Jongdae, dan Yixing. Gay.

Wufan mengetahui ketertarikan seksual Chanyeol dan Jongdae yang menyimpang sejak dulu. Dirinya menyadari tingkah laku mereka yang berbeda di hadapan Baekhyun. Dan Wufan segera memutuskan bahwa mereka menyukai Baekhyun. Sementara Yixing –ah, roommate-nya itu kan sudah bicara blak-blakan padanya.

Memang, Wufan selalu menggoda Sehun dengan Luhan. Namun ia sama sekali tak berpikiran bahwa Sehun akan benar-benar menyukai Luhan. Tidak pernah berpikir tentang itu sama sekali.

"Hahh.." Wufan menghela napasnya dengan berat. Hal itu mengundang pertanyaan dari kelima hoobaenya.

"Waeyo, hyung?" tanya Baekhyun pertama kali.

"Kau seperti seorang ahjussi yang sedang memikul beban berat!" ujar Chanyeol.

'Bebannya itu kau.' pikir Wufan. Ia masih saja teringat kejadian tentang Tao itu. Hei, dengan terus memikirkan Tao bukankah berarti Wufan juga sama seperti Sehun, Yixing, Chanyeol, dan Jongdae? Tidak. Wufan adalah lelaki normal. Itu menurutnya.

"Kau tidak ikut senang tentang Sehun-Luhan, hyung?"

Pertanyaan Jongdae barusan sedikit menancap di hatinya. Ia tak ingin membuat Sehun merasa bahwa dirinya adalah hyung yang dingin dan acuh pada hoobaenya sendiri. Namun ia juga merasa tak seharusnya Sehun menjadi..gay.

"A-ah, tentu saja aku senang. Semoga kau berhasil, Hun."

Sebuah ucapan palsu terlontar dari bibir Wufan. Biarlah dia berbohong sedikit, yang penting Sehun merasa senang.

Sehun kembali merona dan mengangguk kecil.

Ugh, mengapa ini menjadi semakin rumit..? –pikir Wufan.

"Nah, kalau begitu segeralah cari Luhan-hyung!" titah Baekhyun pada Sehun yang masih merona.

Sehun terlihat sedikit gelagapan, "M-mwo? Se-sekara–"

"WU YIFAAAAN!"

Mendadak, meja mereka dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba dari Zhang Yixing.

BRAK!

Yixing menggebrak meja dan segera menarik lengan Wufan dengan terburu-buru.

"Wow, wow! Jangan terburu-buru, Xing!" tanya Wufan sambil menarik kembali lengannya.

Kelima hoobae mereka hanya melihat dengan mata yang membulat dan mulut yang membentuk huruf 'O' besar.

"Harus bergegas sebelum –oh, kalian pasti Jongin dan Sehun si anak baru itu, kan? Perkenalkan aku Zhang Yixing dari politik tahun keempat!" Yixing melihat sosok Jongin dan Sehun lalu segera memperkenalkan dirinya.

Jongin dan Sehun yang tersadar segera membalas, "N-ne! Salam kenal juga, hyung!"

"Baiklah perkenalan selesai! Kita harus pergi sekarang!" Sebelum Yixing menarik lengan Wufan pergi, Wufan menahannya, "Pergi ke mana?"

"Kau kan sudah berjanji akan membantuku mencari informasi tentang anak psikologi itu!"

DEG!

Tubuh Jongin membatu saat mendengar Yixing berkata tentang 'anak psikologi'.

"Kapan aku berjanji?!" protes Wufan.

"Ah, sudahlah! Barusan aku melihat Joonmyeon kembali berjalan dengan anak psikologi itu! Cepat! Kita harus mengikutinya!"

DEG! DEG!

'Joonmyeon..!' tanpa disadari, Jongin mengepalkan kedua tangannya.

Sehun menatap Jongin yang ia yakini sedang terbakar amarah. Ingin sekali ia menyiramnya dengan seember air. Lupakan.

"Kami permisi dulu!" tanpa basa-basi lagi, Yixing berhasil membawa Wufan pergi.

"H-hyung..?!" teriakan dari Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae pun dihiraukan oleh Yixing.

"Apa yang direncanakan oleh Yixing-hyung sampai melibatkan Wufan-hyung?" Baekhyun bertanya-tanya yang langsung disambut oleh Chanyeol dan Jongdae yang mengedikkan bahu mereka.

Sehun hanya terdiam tak mengerti sebelum Jongin menarik lengannya menyusul Yixing dan Wufan.

"Kita kejar mereka."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC XD

okedeeh akhirnya sehun ngaku jugaaa /sujud syukur/ wkwk lagian siapa yang gatahan sama pesona luhan-eonni /eh/ oke, luhan jangan menatapku dengan tatapan gue-manly-tau.

bagaimanakah kelanjutan kisah ini? apakah sehun berhasil menembak luhan? apakah akan ada kaisoo momen selanjutnya? /plak/ wkwk maafkan diriku yang belum mengadakan kaisoo momen ;; kaisoo itu pasangan keramat di cerita ini, jadi paling misterius(?) /sok misterius/ wkwk pokoknya tenang aja, masdio cuma milik bangjongin/? XD wkk

makasih buat semuanya yang masih setia membaca cerita abal yang sok misterius ini n(_ _)n /bows/

last word, tengkyuh:*