"–Jangan pernah bicara denganku lagi!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

title: boffins's life

Disc: all charas belong to God.

Cast: EXO members

Other cast: find out!

Genre: friendship, romance, university(?) life, humour

Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.

aim hir egeein ga bosen kaaan /.\ wkk

iya nih kris dasar sok/?wkwk

ohiya kalo masalah suho tenang aja, kan aku pernah bilang kalo suho itu 'ada apa-apanya' bahkan dia lebih sesuatu daripada si canyol/? jadi tenang aja ya, aku juga ga jahat kok sama teteh lay :3 /kedip/?

tumben ya saya apdet satu ff cepet.../hening/

sayang ide cerita ini masih anget banget, jadi bener2 langsung ditumpahkan saja/? wkk

yaudah, presenting chapter 9!

enjoy~

.

.

.

.

.

.

.

Sehun hanya terdiam tak mengerti sebelum Jongin menarik lengannya menyusul Yixing dan Wufan.

"Kita kejar mereka."

.

.

.

.

Kini Jongin dan Sehun tengah mengendap-endap di belakang duo keong racun Wufan-Yixing yang sedang mengikuti para tersangka, Joonmyeon-Kyungsoo. Jongin memutuskan untuk mengendap-endap tanpa ketahuan Wufan dan Yixing karena ia sangat ingin tahu ada hubungan apa Joonmyeon dengan Yixing.

"Psst, Jong! Kenapa kita harus mengendap-endap?"

"Kecilkan suaramu!" Jongin menoleh dan menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Sehun mengecilkan suaranya agar tak terdengar.

"Jawab aku, mengapa kita tidak bergabung saja dengan Wufan-hyung dan Yixing-hyung? Mengapa harus mengendap-endap?" tanya Sehun sambil menggerutu kecil, ia tak suka harus mengendap-endap layaknya pencuri.

Jongin menolehkan kepalanya ke arah Joonmyeon yang terletak sekitar 13 meter darinya. "Instingku mengatakan bahwa kita harus mengendap-endap."

"Mengapa harus mempercayai instingmu? Memang instingmu pernah benar?" gerutu Sehun.

Jongin mendesis, "Untuk masalah Kyungsoo-hyung instingku tak akan salah."

"Banyak gaya sekali kau, Jong." cibir Sehun.

Jongin tak menanggapi lagi ucapan Sehun. Ia memilih untuk kembali fokus pada sasarannya, Kim Joonmyeon yang sedang berjalan beriringan dengan belahan jiwanya –oke ini terdengar alay.

Samar-samar Jongin mendengar bisik-bisik dari duo keong racung Wufan-Yixing yang berdiri sekitar 4 meter darinya.

"Kali ini kau mau apa lagi, Xing?"

Yixing tak menjawab. Dia sedang sibuk memperhatikan Joonmyeon dari atas sampai bawah. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh, lihatlah, dahinya yang lebar nan mempesona. Senyumannya yang sangat meneduhkan –walaupun bukan ditujukan untuk Yixing–. Siluet wajahnya dari samping. Sungguh, Yixing sangat menyukai sosok Joonmyeon yang berada di depannya. Dan sungguh, Yixing ingin sekali menerobos di tengah-tengah Joonmyeon dan si anak psikologi yang menurutnya menderita kelebihan mata –oke, tak ada istilah seperti itu.

"Kau mau bukti apa lagi dari Joonmyeon?"

Terkutuklah kau, Wufan!

Suara besar Wufan mengganggu kegiatan menyenangkan yang sedang dilakukan oleh Yixing, menatap Kim Joonmyeon. Dan Yixing sangat tidak menyukainya. Wufan boleh saja bernapas lega karena Yixing tidak membawa satu pun benda tajam. (bercanda)

Yixing menatap Wufan dengan tatapan mendelik. Wufan yang mengerti arti tatapan Yixing segera berkata, "Kau kan dengar sendiri, kekasih Joonmyeon itu bukan sekedar isu."

Telinga Jongin melebar saat mendengar ucapan Wufan yang memang sengaja ia dengar. Begitu pun dengan Sehun.

Yixing mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Wufan. "Mereka akan segera berpisah. Aku yakin itu."

Wufan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Walaupun mereka benar-benar akan berpisah, namun bagaimana caranya agar Joonmyeon bisa kau dapatkan? Sementara Joonmyeon itu normal–"

"Kalau begitu akan kubuat ia jatuh dalam pesonaku. Iya, aku akan membuatnya merasa benar-benar 'normal' di dalam pelukan Zhang Yixing!" ujar Yixing sambil mengepalkan kedua tangannya.

Makin melebarlah telinga Jongin dan Sehun.

Wufan membulatkan kedua matanya sambil terpaku menatap roommate-nya yang begitu bersemangat dalam mengejar cinta.

Belum sempat Wufan berkomentar apa-apa, Yixing menarik-narik ujung bajunya, "Hei, lihat! Sepertinya mereka sedang berbicara sesuatu!"

Dari kejauhan, mereka melihat Joonmyeon sedang memperlihatkan sebuah kalung yang dipakainya pada Kyungsoo. Entah apa yang dikatakan oleh Joonmyeon yang membuat Kyungsoo begitu bahagia. Bahkan mereka bersumpah melihat rona merah di kedua pipi Kyungsoo. Setelah muncul rona merah tersebut, Joonmyeon segera menepuk-nepuk kepala Kyungsoo, yang malah membuat Kyungsoo semakin merona. Sontak, hal ini menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran yang sangat hebat dalam diri Yixing dan juga Jongin yang menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepala mereka sendiri. Satu pertanyaan yang terlintas dari kepala mereka: apa sebenarnya hubungan antara Joonmyeon dan Kyungsoo?

Wufan, masih dengan matanya yang membulat, menatap Yixing yang notabene lebih pendek darinya sehingga ia harus sedikit menunduk.

"Xi–"

"Khuhuhuhu.. Mengapa ini semakin menarik saja?"

GLEK!

Wufan menelan salivanya dengan kasar saat mendengar ucapan Yixing yang layaknya seorang tokoh antagonis dalam animasi.

Sementara Sehun dapat mendengar suara gemeretakan gigi dari Jongin yang mungkin saja kepalanya sedang mengeluarkan asap dikarenakan kecemburuannya terhadap pemandangan yang tersaji di hadapannya. Dengan takut-takut Sehun memanggil Jongin, "Hei, Jong. Gwaenchana..?"

Jongin menolehkan kepalanya ke arah Sehun, Sehun bersiap untuk melindungi tubuhnya dari amukan Jongin–

"Wae? Aku tidak apa-apa."

–eh?

Bukan begini, seharusnya Jongin mengamuk. Menghancurkan seluruh universitas. Oke, tidak. Setidaknya Sehun kira Jongin akan menggerutu.

Sehun memiringkan kepalanya, "Kau sakit, Jong?"

Jongin malah tertawa kecil mendengar pertanyaan Sehun yang begitu polos. "Sakit? Kalau kau bertanya di mana yang sakit, yaitu di sini." Jongin menunjuk dada sebelah kirinya, "Namun aku tidak sepantasnya terus-menerus memperlihatkan kesakitanku. Sakit, memang, tapi kurasa aku harus melawan rasa sakit itu." lanjutnya seraya tersenyum aneh.

Sehun terbengong. Ia merasa sifat Jongin berubah 180 derajat dari sebelumnya.

"Jong–"

"Harus kubuktikan sendiri." tiba-tiba saja Jongin berjalan menghampiri Joonmyeon dan Kyungsoo yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri.

Benar.

Berjalan.

Jongin berjalan dengan penuh percaya diri.

Jongin menghampiri Kyungsoo yang sedang bersama Joonmyeon.

Sehun benar-benar berpikir bila Jongin sudah gila.

BRUK!

Jongin menabrakkan tubuhnya ke tubuh Wufan dan Yixing yang berada di depannya dengan sengaja. Sontak, hal ini mengejutkan Wufan dan juga Yixing.

"Eh? Jongin?" ujar mereka serempak.

Tanpa mempedulikan ucapan dari kedua hyungnya, Jongin terus melaju. Sasarannya sudah di depan mata.

"Kenapa anak itu tiba-tiba muncul? Mau apa dia?"

"Ehm, hyung? Boleh kujelaskan kebingungan kalian?" Sehun yang setia mengekor Jongin muncul di tengah-tengah Wufan dan Yixing.

"Eeh kau juga ada, Hun?" Wufan kembali terkejut. Sementara Yixing hanya membulatkan bibirnya.

Sehun menghela napasnya, "Jadi selama ini penyebab semuanya adalah Kyungsoo-hyung."

Wufan dan Yixing mengerutkan kening, "Penyebab apa maksudmu?"

Sehun menepuk dahinya perlahan. "Oh, ya, kalian bukan saksi atas kelakuan Jongin selama ini."(?)

Wufan makin mengerutkan keningnya, "Kau bicara apa sih?"

Tanpa melihat ke arah Wufan, Sehun menunjuk Jongin dengan dagunya, "Lihat saja, hyung."

Wufan, Yixing, dan juga Sehun segera mengambil posisi ternyaman untuk melihat Jongin yang saat ini sudah sampai di hadapan Kyungsoo.

Terlihat Jongin sedang membungkukkan badannya di hadapan Kyungsoo dan Joonmyeon.

Sehun menyeringai, 'Showtime~'

.

.

.

.

"Baek."

Chanyeol melihat Baekhyun yang sedang sibuk menyoret-nyoret kertas kemudian memanggilnya.

Tak ada jawaban

"Baekhyun."

Baekhyun masih sibuk menyoret-nyoret.

"Byun Baekhyun."

Idem.

"Ya! Bantet! Aku memanggilmu!"

PLETAK!

Sebuah pulpen sukses melayang ke kepala Chanyeol.

"Aku juga dengar!" Baekhyun menoleh dan menggerutu ke arah Chanyeol.

Chanyeol mengusap-usap kepalanya serta memanyunkan bibirnya, "Jawab dong kalau kau dengar.."

"Ya sudah, aku jawab, ada apa Park Chanyeol roommate-ku yang tampan?" cibir Baekhyun.

Mendengar kata 'tampan' dari bibir Baekhyun, Chanyeol menyeringai lebar. "Akhirnya kau mengakui bahwa aku memang tampan."

Baekhyun menyipitkan kedua matanya, "Kenapa kau terlahir narsis sekali, sih?"

"Salahkan dirimu yang begitu manis sehingga membuatku selalu ingin menggodamu."

DEG!

Eh, apa? Telinga Baekhyun tidak salah dengar, kan?

Dengan cepat Baekhyun menatap Chanyeol, "Apa katamu?"

Chanyeol tertawa lebar, "Tak ada pengulangan!"

Baekhyun melempar Chanyeol dengan sebuah buku.

"Aw! Kalau kena itu akan sakit, Baek!"

"Salahmu kenapa kau begitu menyebalkan! Sudah, pergi sana!" Baekhyun membalikkan badannya dan kembali sibuk mencoret-coret.

Chanyeol mendengus pelan. Niatnya untuk menggoda Baekhyun harus diurungkan. 'Hahh.. Aku harus menggoda siapa lagi? Sehun tidak di sini.. Menggoda si kotak TV itu? Lupakan, aku malas melihat troll face-nya.' pikir Chanyeol. Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur miliknya. Sambil sesekali menatap punggung Baekhyun yang sedang duduk di depan meja belajarnya.

"Hoam.." Chanyeol menatap langit-langit kamarnya dan menguap sebentar. Rasa kantuk mulai menjalar di tubuhnya.

"Baek."

Chanyeol meraih bantal kepalanya.

"Bangunkan aku bila kau sudah selesai."

Lalu terlelap dalam tidurnya.

Tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun menolehkan kepalanya sedikit. Melihat Chanyeol yang sudah tertidur pulas.

.

.

.

Kyungsoo dan Joonmyeon balas membungkuk terhadap Jongin. Kemudian mereka tersenyum melihat Jongin.

"Kyungsoo-hyung dan Joonmyeon-hyung?" Jongin membuka suaranya. Suaranya terdengar normal, namun siapa yang tahu bahwa jantungnya sudah melompat-lompat.

Kyungsoo dan Joonmyeon nampak terkejut sebentar, mereka merasa bingung dari mana anak ini tahu nama mereka sedangkan mereka sendiri merasa asing dengan anak ini.

Jongin segera mengembangkan senyumnya, "Maaf sebelumnya bila aku lancang. Perkenalkan, namaku Kim Jongin dari teknik tahun pertama." Jongin kembali membungkukkan badannya.

"Ah, oke oke, tak usah seformal itu." ujar Kyungsoo merendah.

Akhirnya Jongin dapat mendengar suara malaikat itu. Setelah dirinya merasa lapar akan suara malaikat, akhirnya keinginannya terkabul. Saat ini, di hadapannya, sudah ada malaikat.

Jongin tak dapat menahan cengiran bahagianya. Ia pun menyeletuk, "Kyungsoo-hyung, ini Jongin!" ujarnya sambil terus tersenyum pada Kyungsoo.

Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, serta membulatkan matanya yang sudah sangat bulat, "Ne, kau kan memang bilang namamu Jongin."

"Kau lupa, hyung?"

Pertanyaan Jongin semakin membingungkan Kyungsoo. Kyungsoo mengerenyitkan keningnya. Berusaha mengingat-ingat.

"Kau mengenal Kyungsoo?" celetuk Joonmyeon tiba-tiba.

Jongin menatap sebentar ke arah Joonmyeon lalu mengangguk kecil. Dipandanginya Joonmyeon dari atas sampai ke bawah. Setelah puas, Jongin kembali menatap Kyungsoo.

"Ini aku, Jongin yang waktu itu menabrak pohon dan melukai hidungnya sendiri. Kau yang mengobatiku waktu itu, hyung."

Mendengar ucapan Jongin, Kyungsoo segera membulatkan bibirnya. "Ah, iya! Aku ingat!" ujarnya seraya menjentikkan jarinya.

Jongin terkekeh melihat tingkah Kyungsoo yang begitu lucu. "Akhirnya kau mengingatku, hyung."

Kyungsoo menyeringai lucu ke arah Jongin lalu berkata, "Ada perlu apa denganku?"

Jongin menelan salivanya dan menghela napasnya. "Aku ingin berterima kasih atas waktu itu padamu, hyung." ujarnya sambil tersenyum malu.

Kyungsoo mengedipkan matanya beberapa kali. "Eeeh? I-itu kan sudah lama.. Lagipula aku tidak keberatan, sudah menjadi tugasku.."

"Aniya, hyung. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. A-apa tidak boleh?" Jongin mengusap-usap tengkuknya perlahan.

"Te-tentu saja boleh! Baiklah, aku terima ucapan terima kasihmu, Jongin." ujar Kyungsoo. Ia menepuk-nepuk bahu Jongin beberapa kali sambil tersenyum, seolah menggambarkan bahwa Jongin telah melakukan hal yang baik.

Do Kyungsoo, kau tak tahu apa yang telah kau lakukan. Lihat, tubuh Jongin gemetaran sekarang.

Jongin meraih jemari Kyungsoo, menggenggamnya sebentar dan menjauhkannya dari bahunya. "A-ah, ne.. J-jeongmal kamsahamnida, hyung! A-aku permisi dulu, ne? Annyeong!" Jongin berkata dengan cepat dan langsung berlari meninggalkan Kyungsoo dan Joonmyeon yang terpaku.

"Ah, Jong–!"

SREK.

Kyungsoo merasakan ada sesuatu di dalam genggamannya.

Setelah ia melihatnya, ternyata memang ada sesuatu di dalamnya.

Sebuah gumpalan kertas kecil.

"Apa ini..?" Kyungsoo mengambil dan membuka gumpalan itu.

Apa kau suka film, hyung? Minggu siang kutunggu kau di depan gedung asrama. Aku tak menerima penolakan kekeke.

Blush!

Apakah ini sebuah ajakan kencan?

Sekujur tubuh Kyungsoo membeku. Ia belum pernah menerima yang seperti ini sebelumnya.

"Kyung? Gwaenchana?" Joonmyeon menatap Kyungsoo yang sedang terpaku pada secarik kertas dalam genggamannya.

"A-ah, ne! Aku tidak apa-apa!" Kyungsoo segera menyembunyikan kertas itu di balik tubuhnya.

Joonmyeon yang penasaran, mencoba mengambil kertas itu. "Apa yang ada di dalam kertas itu?"

"Bu-bukan apa-apa! Ayo hyung, kita pergi!" dengan cepat Kyungsoo melipat-lipat kertas itu dan menaruhnya ke dalam kantung bajunya, lalu ia berlari meninggalkan Joonmyeon.

"Eh, hei! Tunggu aku!"

Setelah Joonmyeon menghilang, Wufan, Yixing, dan Sehun keluar dari tempat persembunyian mereka.

Sehun yang sudah sangat mengerti, segera menyambut Jongin saat Jongin tiba di hadapan mereka. "Hei, apa yang kau lakukan padanya?"

Jongin menyeringai penuh arti. Sementara Wufan dan Yixing menatap satu sama lain tak mengerti.

"Lihat saja, hati Kyungsoo-hyung pasti akan kudapatkan!" ujar Jongin dengan penuh semangat.

Wufan menganga lebar tak percaya mendengar sumpah(?) Jongin barusan. Sehun hanya tertawa sambil menepuk tangannya. Sementara Yixing tak jauh berbeda dengan Wufan.

"Jong–"

Belum sempat Wufan bertanya, Yixing sudah mendahuluinya.

"Kau menyukainya? Anak psikologi itu?" tanya Yixing dengan bola mata yang berbinar-binar.

Jongin tersenyum malu-malu, "Oh, ya, aku belum bercerita. Padamu juga, hyung." Jongin menatap Wufan.

Wufan dan Yixing hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka.

"Biar kujelaskan lagi–"

"Tak usah, Hun. Kali ini aku yang akan menjelaskannya." potong Jongin saat Sehun hendak bercerita. Sehun hanya bergumam 'ok'.

Jongin tersenyum lebar, "Lebih baik kuceritakan besok saat kita berkumpul."

.

.

.

.

.

.

.

Gymnasium, Seoul National University.

05.06. p.m.

"Hey, Jong!"

Wufan menghampiri Jongin yang sedang sibuk mengipasi dirinya seusai latihan.

"Ne? Ada apa, hyung?"

Wufan mendudukkan dirinya di sebelah Jongin, dan mengusap tengkuknya sebentar, "Ng.. Soal tadi siang. Bisakah kau bercerita padaku sekarang?"

Jongin meletakkan botol minumnya, "Kenapa memangnya, hyung?"

Wufan menggaruk kepalanya sebentar, "Uhm.. Tak bisakah kau bercerita padaku dulu? I'm kinda into your story.."

Jongin terkekeh pelan, "Mianhae, hyung. You have to wait like everybody does."

Wufan mendengus kasar. "Alright."

Apakah karena Kyungsoo-hyung ia ingin sekali mendengar ceritaku? –pikir Jongin.

"Hey, yo! Ada apa dengan kalian?" Wufan mengalihkan topik pembicaraan dan menatap Chanyeol dan Baekhyun yang tak ribut seperti biasanya. Mereka sangat tenang.

Jongin dan Sehun yang sedari tadi menatap klub sepakbola juga ikut menatap Chanyeol dan Baekhyun.

Chanyeol menundukkan wajahnya, "Aniyo. Kami tak apa-apa, hyung."

"Bicara apa, sih? Kami baik-baik saja." ujar Baekhyun tanpa menatap ke arah teman-temannya. Ia malah sibuk memungut bola-bola basket dan menaruhnya ke dalam lemari.

Wufan kembali mendengus, "Jangan kalian pikir aku tak tahu. Aku sudah sangat mengenal kalian, bahkan Jongin dan Sehun yang baru bergabung dapat langsung mengenal kalian. Jangan berbohong."

Baekhyun mendelik tajam ke arah Wufan.

"Kau pikir sedalam apa kau mengenalku?"

Kemudian ia segera berlari menuju tempat latihan kejuaraan seperti biasanya, tanpa menyeret Chanyeol bersamanya.

Wufan, Jongin, dan Sehun hanya terpaku mendengar ucapan Baekhyun. Baekhyun yang biasanya selalu ceria sekarang menjadi seperti itu. Jongin dan Sehun belum pernah mengetahui sisi lain dari diri Baekhyun sebelumnya. Sementara Chanyeol hanya menunduk sambil sesekali menghela napasnya. Hal ini mengundang kecurigaan bagi Wufan.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

Chanyeol tersentak mendengar pertanyaan (lebih tepatnya tuduhan) Wufan padanya.

"Jika kau tersentak begitu berarti memang kau melakukan sesuatu padanya." Wufan semakin memojokkan Chanyeol.

Jongin dan Sehun yang tidak mengerti memutuskan untuk diam dan menyimak.

"Katakan. Apa yang sudah kau lakukan?"

"Tak tahu! Argh, hyung! Aku benar-benar tak mengerti dengannya!" Chanyeol mengacak-acak rambutnya dengan begitu emosi.

Sebuah ingatan beberapa jam yang lalu terlintas di otaknya.

.

.

-flashback-

.

.

Baekhyun meletakkan pensil yang sedari tadi dipakainya untuk mencoret-coret. Ia menoleh ke arah Chanyeol yang masih tertidur di atas kasur. Sudah 15 menit semenjak Chanyeol tertidur. Baekhyun yakin saat ini Chanyeol masih tertidur pulas.

Baekhyun menghela napasnya sebentar, kemudian menatap ke arah kertas yang sedari tadi dicoret-coret olehnya dan menatap wajah Chanyeol bergantian.

"Uh, bagian bibirnya kurang mirip.."

Baekhyun beranjak dari duduknya, dan mendekati Chanyeol yang sedang tertidur. Ia berjongkok di sebelah tempat tidur dan mulai membanding-bandingkan wajah Chanyeol dengan sesuatu dari atas kertas yang dipegangnya.

"Di bagian sini.." Baekhyun menghapus gambar di kertasnya dan mulai mencoret sebuah garis di atasnya.

Tanpa ia sangka, Chanyeol membalikkan kepalanya ke arah dirinya. Yang artinya wajahnya dengan wajah Chanyeol hanya berjarak beberapa senti.

Baekhyun menelan salivanya kuat-kuat memandang wajah tidur Chanyeol. Entah mengapa dirinya merasa begitu malu berhadapan sedekat ini dengan Chanyeol.

Hembusan napas Chanyeol menggelitik wajahnya.

"Chan.."

Entah apa yang mendorongnya, Baekhyun semakin mendekatkan wajahnya.

"..Yeol.. Mhnn.."

Baekhyun merasakan ada sebuah tangan yang menarik lehernya dan akhirnya bibirnya bersentuhan dengan bibir Chanyeol.

"Mmh.." tak tahu siapa yang memulai, sentuhan itu berubah menjadi ciuman yang dalam dan liar.

Chanyeol semakin melumat bibir Baekhyun, sementara Baekhyun mati-matian menutup mulut dan menahan desahannya.

"Aah..mhhnn.." mendengar desahan Baekhyun yang tak bisa tertahan, Chanyeol malah menciumnya semakin liar.

Baekhyun memukul dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Chanyeol yang begitu kuat.

"H-hentikan..!"

Dengan sekuat tenaga, Baekhyun berhasil mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya.

"Hahh..hahh.. Apa yang kau lakukan?!" pekik Baekhyun, masih dengan napas yang tersengal-sengal.

Chanyeol membangunkan tubuhnya, mengusap bibirnya, dan menatap Baekhyun dengan tatapan terkejut.

"Kau.." Baekhyun menunjuk-nunjuk Chanyeol dengan wajah yang sudah memerah.

"Jangan pernah bicara denganku lagi!" kemudian Baekhyun segera berlari keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.

"B-Baek..!"

.

.

-end of flashback-

.

.

"Yeol? Jawab aku! Apa yang kau lakukan padanya?!" Wufan menaikkan nada suaranya, dikarenakan Chanyeol tak kunjung bercerita.

"Aku izin tak ikut latihan dulu kali ini, ya, hyung. Annyeong." Chanyeol meraih ranselnya dan meninggalkan gym dengan langkah gontai.

"Yeol! Kau belum menjawabku! Arghh!" Wufan berteriak ke arah Chanyeol yang saat ini sudah semakin menjauh dan melempar sebuah botol minuman yang sudah kosong.

Jongin dan Sehun hanya saling menatap satu sama lain. Tak mengerti.

"Sudahlah, hyung. Mungkin Chanyeol-hyung butuh istirahat." ujar Sehun menenangkan Wufan yang sedang memijat pelipisnya.

Wufan kembali duduk di samping Jongin. "Hahh.. Baiklah."

"Kalian juga lebih baik pulang. Hari sudah semakin sore." titah Wufan pada Jongin dan Sehun.

"Ah, benar juga!" Jongin segera membetulkan ikatan sepatunya.

Sementara Sehun kembali menatap klub sepak bola.

"AH! Di mana diaaa?!" pekik Sehun tiba-tiba yang mengangetkan Wufan juga Jongin.

"Siapa, Hun?" tanya Wufan, ia menghampiri Sehun yang sedang menoleh-nolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

"Luhan-hyung, kan?" celetuk Jongin tiba-tiba.

Sontak, wajah Sehun merona mendengar kata 'Luhan-hyung'.

Jongin terkekeh, "Sepertinya ia baru saja pulang. Cepatlah kejar selagi sempat!"

Tanpa aba-aba lagi, Sehun meraih ranselnya dan segera berlari terburu-buru menyusul Luhan-nya.

Kembali, Jongin tertawa. Kali ini Wufan juga tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Sehun yang terlalu lucu.

'Ada hal-hal yang tak kuketahui dari para gay.' pikir Wufan misterius.

.

.

.

.

.

Student's Dorm, Seoul National University

04.08 p.m.

"Aku pulang."

Kyungsoo membuka pintu kamarnya dan Tao, lalu melepas sepatunya.

"Hahh.." Ia menghela napasnya dengan berat. Kemudian beranjak ke dalam kamar tidurnya, menaruh tasnya dan segera mengecek bahan makanan di kulkas.

Sebelum ia melihat sesuatu di antara tumpukan bukunya.

Sebuah kalung berbandul potongan puzzle. Persis seperti milik Joonmyeon. Hanya bentuknya yang berbeda. Sepertinya bandul ini memang terbuat dari potongan-potongan puzzle yang dibuat menjadi sebuah kalung.

Kyungsoo meraih kalung itu, dan menatapnya sambil tersenyum.

.

-flashback-

.

"Taraah~!"

Joonmyeon memperlihatkan sebuah kalung dari balik kerah bajunya. Kalung yang menjadi kenangan bagi dirinya dan juga Kyungsoo.

"Waah! Kalung itu!" pekik Kyungsoo gembira, kelewat gembira sampai ia mengeluarkan semburat merah di pipinya.

"Aku merindukannya.." ujar Kyungsoo sambil tersenyum sedih menatap kalung milik Joonmyeon.

Joonmyeon tersenyum, "Aku juga. Berkatmu aku menyadari kesalahanku selama ini. Aku merindukannya. Merindukan kau. Merindukan diriku yang lama. Begitu pun dengan kalung ini. Kuharap aku bisa memperbaiki kesalahanku. Kumulai dari yang kecil, yaitu kalung ini."

Kyungsoo semakin mengembangkan senyumnya, "Aku pun merindukanmu, hyung. Dan juga kalung ini."

Joonmyeon menepuk-nepuk kepala Kyungsoo dengan sayang yang membuat Kyungsoo semakin merasa gembira.

"Aku yakin, noona juga pasti akan bahagia mendengarnya!"

.

-end of flashback-

.

Kyungsoo kembali tersenyum seraya menggenggam kalung itu erat-erat. "Kau akan kupakai lagi. Sudah bosan kan, berdiam di sini terus?" ujarnya sambil memakai kalung itu.

Kalung itu sudah tergantung indah di leher Kyungsoo.

Kyungsoo tertawa kecil mengingat memori yang tersimpan di dalam kalung itu.

"Kau adalah hartaku yang berharga."

Setelah puas dengan kalung, Kyungsoo segera mencari apronnya dan berniat untuk memasak makan malam.

Srek!

Ia menyadari sesuatu dari dalam kantung bajunya.

"Ah.."

Kertas itu.

Kyungsoo kembali menatap tulisan yang ada di dalam kertas itu.

Mengapa setiap kali dibaca ia semakin merasa malu?

"Uuh, apa yang harus kulakukan..?"

Sepertinya makan malam kali ini harus terlambat.

.

.

.

.

.

05.08 p.m.

"Luhan-hyung!"

Sosok yang dipanggil Luhan menolehkan kepalanya dan ia mendapati seorang Oh Sehun sedang berlari ke arahnya.

Pada mulanya Luhan terkejut melihat Sehun sedang memanggil dirinya. Apa Sehun tidak salah memanggil orang?

"Se-Sehun..?"

"Ne! Memangnya siapa lagi, hyung?" ujar Sehun dengan ceria saat akhirnya ia berhasil mengejar Luhan.

Luhan merasakan dirinya begitu bahagia melihat Sehun yang akhirnya tidak kabur saat sedang bersamanya.

"Hehehe~" dikarenakan kebahagiaan yang amat sangat, Luhan tertawa kecil.

Blush!

Oh, Kami-sama! Lihatlah! Tawanya adalah tawa terindah yang pernah kulihat! mungkin inilah yang ada di dalam pikiran Sehun.

"Ada perlu apa, Sehun?" tanya Luhan dengan manis. Sialnya, amat manis.

Sehun nampak begitu nervous. Ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak terlalu gatal.

"A-aku ingin berterima kasih atas bubble tea pemberianmu, hyung. K-kamsahamnida!" ujar Sehun dengan tulus disertai senyuman mautnya.

Luhan yang melihat senyuman maut Sehun ikut tersenyum tak kalah maut dan manly-nya –lupakan.

"Ah, begituu.. Cheonmaneyo, Sehun-ah!" ujar Luhan sambil tersenyum manis.

Sehun nampak begitu canggung melihat senyuman Luhan, "Kau juga suka bubble tea, hyung? Maukah kau minum bersamaku kapan-kapan?"

Luhan nampak terkejut dengan tawaran Sehun yang tiba-tiba.

"Eeh..? A-aku.."

"Ma-maafkan aku tiba-tiba, hyung.. Aku tahu kau sibuk, jadi bila tidak bisa–"

"Mau kok. Dengan senang hati." potong Luhan sambil kembali tersenyum manis pada Sehun.

KLENENG KLENENG.

Sehun berdiri dengan latar belakang bunga-bunga mendengar jawaban Luhan.

Sehun kembali tersenyum dengan tampan dan tak kalah manly.

"Uhm.. Kalau begitu aku permisi dulu, ne?" ujar Luhan tiba-tiba.

Sebelum Luhan benar-benar pergi, Sehun segera menahan lengannya. "Tu-tunggu, hyung! Masih ada yang ingin kubicarakan.."

Luhan mengurungkan niatnya untuk pulang setelah melihat wajah Sehun yang nampak seperti orang yang sedang memelas.

"Baiklah. Ada apa, Sehun-ah?" tanya Luhan masih dengan senyuman mautnya.

Sehun melepaskan genggamannya pada lengan Luhan, dan menelan salivanya kuat-kuat saat menatap Luhan dari atas sampai ke bawah.

Why so legit? –pikir Sehun.

Mengerahkan seluruh keberanian dan ke-seme-annya, Sehun berkata, "A-aku menyukaimu, hyung."

GENJRENG.

Akhirnya.

Luhan terdiam sebentar. Tak lama kemudian ia tertawa kecil dan berkata, "Aku juga menyukaimu, Sehun-ah."

KLENENG KLENENG KLENENG.

WELCOME TO THE PARADISE, OH SEHUN.(?)

Sehun menganga lebar mendengar jawaban Luhan yang terkesan mudah sekali.

"J-J-Jinjjayo, hyung?" tanyanya memastikan.

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan imut. "Tentu saja. Aku juga menyukaimu, Hun!"

KLENENG KLENENG KLENENG. (lagi)

"H-hyuuung!" tanpa ba-bi-bu, Sehun memeluk tubuh Luhan.

Luhan hanya tertawa seraya membalas pelukan Sehun. "Aku senang Sehun menyukaiku, hehehe." ujarnya sambil mengelus-elus punggung Sehun.

Membuat Sehun merona mendengarnya.

'Terima kasih, Tuhan!'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC XD

huwaaa maaf ya lamaaa /ditimpuk/

sebenernya idenya udah ada, cuma kemarin lagi diserang virus males XD wkwk

ini kan hunhan-nya udah jadi, tapi sebenernya ada samtingnya lho /dibocorin/ wkwk tunggu di chapter berikutnya! x3

AKHIRNYA KAISOO MUNCUL! /jreng/ /sembah sujud kaisoo shipper/? wkwkwk

okeoke, sebelum aku ditimpuk mama karena belum tidur, cuap-cuap kali ini udahan dulu yaaa :3

makasih buat yang masih setia sama aku:") makasih banyaaak :**

selamat tahun baru juga! XD telat gapapa lah daripada ngga/? wkwk

last word, tengkyuh;*