"–A-aku rasa aku tak punya alasan untuk tidak datang.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
helooow aim hir kembali/?
ga nyangka pada bener tebakannya tentang hunhan /eh wkwk XD
ternyata masih pada inget yaa sama omongannya luhan waktu itu wkwk
soal si suho aku sengaja sengaja sengaja bikin gajelas biar ditanyain terus /plak wkwk
daaaan buat yang minta chenmin kristao chanbaek sama kaisoo tenang aja mereka pasti ada, cuma sekarang2 ini aku lagi berusaha fokusin satu2 dulu, jadiii ditunggu yaa :3
mau ngebocorin dikit ah tentang suho-lay XD selama ini kan lay itu 'emak'(?) jadi di epep ini dia tetep 'emak' kok walaupun menggebu2 pengen jadi seme wkwk
btw si chanbaek emang aku sengaja bikin mereka kaya gitu hahahaha /epil laugh/? tapi tenang ajaa aku gaakan macem2in mereka kok /wink/?
yaudah presenting chapter 10!
enjoy~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Student's Dorm, Seoul National University
04.44 a.m.
Sang surya belum berkehendak untuk muncul ke permukaan bumi. Ayam jantan juga belum mengeluarkan suaranya menyambut sang surya. Suasana masih tenang. Seluruh insan masih memejamkan mata mereka. Menelusuri alam mimpi. Namun lain halnya dengan seorang pemuda yang memiliki kulit seputih susu campuran cat putih. Pemuda itu telah membuka kedua matanya sempurna. Ia telah terbangun dari tidurnya. Atau memang pemuda itu terjaga sepanjang malam?
Pemuda itu, Oh Sehun.
"Ehehehe."
Sehun membalikkan badannya ke kanan dan kiri sambil terus tersenyum-senyum. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya dan mencubiti pipinya bahkan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Uuh.. Luhan.."
Sekali lagi, Sehun menggumamkan nama seseorang yang berhasil mencuri jiwa dan raganya sambil menepuk-nepuk pipinya. Membayangkan kejadian kemarin sore.
Oh, pemuda ini sedang dimabuk cinta.
"Luhan.. Gyaaa!" Sehun menepuk-nepuk kasurnya terlalu girang layaknya orang gila.
Beruntung, roommate-nya adalah Jongin yang tak akan bangun walaupun disiram air panas –oke, bercanda.
Tiba-tiba Sehun bangun dari tidurnya. Ia mendelik ke arah gelas bubble tea pemberian Luhan tempo hari dan 3 gelas bubble tea pemberian selamat dari Jongin setelah acara 'penembakannya' berhasil yang terletak di atas meja. Sehun memutuskan mengambil gelas dari Luhan dengan terburu-buru.
Diusap-usapnya gelas itu sambil berkata, "Bagaimana kalau hari ini kuajak kau minum bubble tea bersama, Luhan-hyung?"
Tentu saja gelas itu tak akan menjawab, dia bukan Luhan, Sehun.
Luhan harusnya melihat kelakuan 'kekasih' barunya itu.
.
.
.
.
"JADI KAU DITERIMA?! HYAAAAA CHUKHAE SEHUN!"
Komplotan basket menepuk-nepuk tangan mereka dengan semangat, menari-nari layaknya cheerleaders bahkan Chanyeol sampai menggebrak-gebrak meja mereka. Oh, ya, minus Wufan tentunya. Sang ketua hanya memberi senyuman kecil tanda selamat.
"Ssst, hyung! Jangan keras-keras!" Sehun meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan para hyung-nya untuk diam.
"Hehehe mianhae! Aku terlalu bersemangat!" ujar Baekhyun dengan riang.
"Jadi bagaimana kejadian kemarin? Ceritakan, Hun!" ujar Chanyeol semangat.
Pernah kukatakan bukan bahwa Chanyeol dan Baekhyun adalah HunHan shipper (lol). Walaupun mereka sedang bertengkar, mereka tak akan membawanya sampai ke depan masalah HunHan. Namun tetap, Baekhyun tidak berbicara dengan Chanyeol sama sekali. Sewaktu di dalam kamar mereka pun Baekhyun tidak menyapa Chanyeol sama sekali. Beruntung, mereka bertiga dengan Jongdae. Jongae lah yang menjadi penengah di antara mereka. Bahkan sekarang Baekhyun dengan sengaja menyuruh Jongdae untuk duduk di antara dirinya dengan Chanyeol. Entah harus kasihan atau senang pada Jongdae.
Mendengarnya, Sehun langsung merona. Ia teringat kejadian dirinya memeluk Luhan dengan tiba-tiba. Sehun bersumpah, hal itu di luar kesadarannya. Salahkan mengapa Luhan memiliki tubuh yang hugable.
"Err.. Luhan-hyung bilang bahwa ia juga menyukaiku."
Sedetik setelah ucapan Sehun, ekspresi wajah keempat hyung-nya berubah.
"Itu saja?" tanya Baekhyun.
Sehun mengangguk, "Ne. Memangnya kenapa?"
Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebuah ingatan terlintas di kepalanya.
.
.
"Kau menyukai Sehun ya, hyung?"
"Iya. Aku suka Sehun–"
"–aku juga suka Minseok, Jongdae, Jongin, Wufan, Chanyeol, dan Baekhyun! Aku menyukai semua temanku!"
.
.
"Eeh apa kau yakin Luhan-hyung hanya bilang begitu padamu?" tanya Baekhyun sekali lagi. Ia menunjukkan raut wajah yang sulit diartikan, sama halnya dengan Jongdae dan Chanyeol.
"Ne, hyung. Sudah kukatakan bahwa Luhan-hyung hanya berkata begitu."
Setelahnya terdengar helaan napas berat dari Baekhyun, Jongdae, dan Chanyeol. Wufan? Ketua itu hanya duduk berpangku tangan dan menjadi penyimak yang baik.
Sehun menatap ketiga hyung-nya tidak mengerti. Sedangkan Jongin mengerenyitkan keningnya. Sepertinya ia mulai mengerti apa maksud para hyung-nya.
"Hyung.. Jangan bilang kalau Luhan-hyung itu.."
Jeda sedikit.
Baekhyun menghela napasnya sekali lagi, "Ne, Jongin-ah."
Jongin ikut menghela napasnya dan menatap Sehun dengan tatapan kasihan.(?)
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sehun. Ia menoleh pada Jongin dan ketiga hyung-nya bergantian.
Mereka semua berpikir bahwa arti dari kata 'suka' yang dimaksud Luhan itu berbeda dengan 'suka' yang dimaksud oleh Sehun. Namun tak mungkin memberi tahu hal itu pada Sehun. Perjuangan Sehun hingga akhirnya berhasil mengakui perasaannya sendiri tidaklah mudah. Yep, kalian saksinya bukan(?).
"Jadi apa yang akan kau lakukan dengan Luhan-hyung hari ini?" Jongin mengalihkan pembicaraan.
Sehun tersenyum simpul, "Mungkin akan kuajak dia minum bubble tea bersama."
Jongdae tertawa mendengar pernyataan Sehun. "Bagaimana bila kau membawa Luhan-hyung jalan-jalan berdua saja atau mungkin mengunci diri kalian berdua di dalam perpustakaan agar kalian bisa saling mengenal lebih dekat?"
Chanyeol langsung terhenyak mendengar penuturan Jongdae yang sepertinya familiar di telinganya. "Apa itu seperti kau dengan Minseok-hyung?"
Jongdae menyeringai kecil, "Percayalah, hal itu akan membuat kalian lebih mengenal satu sama lain!" ujarnya sambil menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian. Seolah menyuruh mereka melakukan hal yang sama dengan Sehun dan Luhan.
Baekhyun mendelik tajam ke arah Jongdae seolah berkata kami-adalah-roommate-selama-kurang-lebih-tiga-tahun-dan-kami-sudah-saling-mengenal.
Sedangkan Chanyeol yang mengerti atas ucapan Jongdae hanya menundukkan kepalanya. Baekhyun masih mendiamkannya. Bahkan ia memperlakukan Chanyeol layaknya sebongkah batu yang tak perlu dipedulikan keberadaannya.
"Oi, oi.." ujar Jongdae saat ia merasakan atmosfer yang mulai aneh di antara mereka yang disebabkan oleh Baekhyun dan Chanyeol.
Sebenarnya Sehun dan Jongin yang sedari tadi menyimak ingin bertanya tentang keadaan Baekhyun dan Chanyeol, namun mereka memilih untuk diam.
"Kuncilah diri kalian di dalam perpustakaan." celetuk Wufan tanpa melihat ke arah Chanyeol maupun Baekhyun.
'Kalian' yang dimaksud Wufan tentunya adalah Chanyeol dan Baekhyun.
"Ap–" belum sempat Baekhyun membuka suara, Wufan kembali menyeletuk.
"Atau perlu kami yang mengunci kalian bila kalian tak mengunci diri kalian sendiri?"
BRAK!
"Sudahlah, hyung!" tanpa diduga-duga, Chanyeol lah yang memprotes ucapan Wufan. Bahkan ia menggebrak meja perlahan namun tetap terdengar.
Sontak, hal ini membuat heran. Chanyeol yang paling riang dan ceria sekarang benar-benar berubah 180 derajat.
"Jangan membuat usulan yang aneh-aneh." lanjut Chanyeol lagi.
DEG!
Chanyeol tidak tahu betapa sakitnya hati Baekhyun saat mendengarnya. Sebenarnya Baekhyun berharap bahwa dirinya dikunci bersama dengan Chanyeol agar ia dapat menyelesaikan masalahnya. Ia sungguh tak berharap akan mendiamkan Chanyeol. Ia sendiri tak mengerti dengan dirinya. Mengapa ia terlanjur berkata bahwa dirinya tak akan lagi berbicara dengan Chanyeol. Namun ia sendiri merasa sakit dengan perlakuan Chanyeol waktu itu. Mengapa Chanyeol menciumnya? Mengapa setelah itu Chanyeol tidak berkata apa-apa yang mampu membuat ciuman itu menjadi sesuatu yang benar? Mengapa Chanyeol berani mencium dirinya tanpa sebuah status yang berarti? Hal itu seakan-akan berarti Chanyeol dapat mencium siapa saja sesuka hatinya, bukan?
"..Hiks.." satu isakan keluar dari bibir Baekhyun.
Isakan itu mampu membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Bahkan Jongdae sempat mendekati wajah Baekhyun yang sedang membuang muka ke arah lain.
"Baek..?"
".. HUWAAAA! DASAR IDIOOOOT!"
Sedetik kemudian Baekhyun telah berlari meninggalkan meja dengan wajah yang berkaca-kaca.
Tinggalah Wufan, Jongdae, Jongin, dan Sehun yang mematung sambil membulatkan bibir mereka. Chanyeol? Ia terkejut bukan main mendengar Baekhyun yang kembali mengatainya bodoh. Well, ia yakin umpatan Baekhyun barusan pasti ditujukan untuk dirinya.
PAK!
Wufan segera menjitak kepala Chanyeol dengan keras. Anehnya tak ada protes yang dilayangkan oleh Chanyeol. Chanyeol hanya menatap Wufan masih dengan wajah terkejutnya.
"Tunggu apa lagi? Kejar dia, pabbo!"
Mendengarnya Chanyeol mendapatkan kesadarannya kembali dan langsung berlari mengejar Baekhyun tanpa berkata sedikit pun pada teman-temannya.
"Semangat, hyung!" Sehun dan Jongin melambai-lambaikan tangan dan membentuk tangan mereka seperti sebuah ucapan 'fighting'. Iya, dua hoobae ini sebenarnya merasa amat sedih melihat hubungan Chanyeol dan Baekhyun yang meradang.
Diikuti dengan Jongdae yang menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendengus. "Semoga saja mereka kembali seperti semula, aku lelah menjadi perantara."
Sedangkan Wufan menghela napasnya lega, "Mereka memang ajaib."
"Eh, hyung, dari dulu aku ingin bertanya.." celetuk Sehun pada Wufan yang sedang meminum segelas ice lychee-nya.
"Mau bertanya apa, Hun?"
Sehun nampak mengusap tengkuknya, "Anu, mungkin pertanyaan ini juga ditujukan untukmu, hyung." ujarnya pada Jongdae yang tengah mengaduk-aduk strawberry float-nya.
Jongdae menunjuk dirinya sendiri seolah berkata 'aku?'.
"Apakah sebenarnya mereka berdua itu saling menyukai?"
Wufan dan Jongdae mengerutkan kening dan saling berpandangan. "Siapa maksudmu?"
"Chanyeol-hyung dan Baekhyun-hyung."
BRUSSH!
Wufan dan Jongdae menyemburkan minuman mereka mendengar pertanyaan polos Sehun.
"–Huk! Uhuk!" Jongdae-lah yang paling terbatuk-batuk.
"H-hyung? Gwaenchana?" tanya Sehun dan Jongin melihat dua hyung-nya tersedak.
"A-ah ye, gwaenchana." jawab Wufan sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Kenapa reaksi kalian seperti itu?" tanya Jongin saat Wufan dan Jongdae telah normal kembali.
Wufan nampak menggaruk-garuk pipinya pelan, "Yah seperti tebakanmu, Hun. Mungkin mereka berdua memang saling 'menyukai'."
Jongdae mengangguk kecil.
Sehun dan Jongin tidak terkejut dengan penuturan Wufan. Mereka memang sudah mengira bahwa ada 'sesuatu' di antara mereka.
"Lalu? Apa arti acara sembur-sembur barusan, hyung?" tanya Jongin kembali.
Wufan menelan salivanya. Mana mungkin ia bilang bahwa dirinya merasa shock bahwa dua hoobae-nya ini akhirnya menyadari adanya penyimpangan orientasi seksual yang terjadi di antara anggota-anggotanya. Wufan tak ingin menerima kenyataan bahwa dirinya berada di tengah-tengah para –uhm gay. Namun itulah kenyataannya, Wufan.
"Kami hanya tertawa karena akhirnya kalian berhasil mengetahui hubungan mereka." ujar Jongdae tiba-tiba.
Ucapan Jongdae seperti sebuah penolong bagi Wufan. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Sehun dan Jongin hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Jongdae melirik sebentar ke arah Wufan yang sedang sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan Sehun dan Jongin tentang para anggota basket yang lainnya. Seperti Minho yang kemarin dengan sengaja menelan onigiri bulat-bulat agar Taemin, seorang anak fakultas sastra menyadari ketidaksukaan Minho dengan skinship yang terus dilakukan Taemin dengan Naeun. Bisakah ada seseorang yang memberi tahu Minho bahwa onigiri saja tidak cukup, seharusnya ia menelan sebuah ban mobil –oke, intermezzo kembali.
Semburan Jongdae barusan sebenarnya berarti tak jauh berbeda dengan Wufan. Tidak, Jongdae bukan Wufan yang khawatir tentang masalah gay dan semacamnya. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya tak ingin orang-orang mengetahui hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Jongdae memang sudah mengira bahwa orang-orang akan bertanya-tanya tentang ChanBaek dikarenakan memang interaksi mereka yang terlihat 'luar biasa', namun ada suatu rasa di dalam hatinya yang merasa tidak rela dengan hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Meski kini rasa itu perlahan memudar.
Jongdae tersenyum sendu menatap Wufan. Ah, sepertinya ia mengetahui rahasiamu, Wufan.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam yang lalu.
.
.
"Lalala aku sayang sekali Boraemon~ eh, Dora the Explorer~ eh, Diego Michel~ eh, bukan, Diego Maradona~ eh, tidak, tidak, Luis Figo~ hmm tapi aku lebih menyayangi Sir Alex Ferguson!"
Minseok menatap roommate-nya dengan mulut menganga. Sebenarnya apa yang sedang disenandungkan oleh roommate-nya itu? Lalu mengapa sekarang roommate-nya terlihat seperti orang yang sedang ayan? (Luhan, we love you, muach)
Minseok tidak heran dengan senandung Luhan tentang mantan pelatih Manchester United yang sudah sangat berjasa –ah, lupakan– namun ia sangat takjub dengan Luhan hari ini. Bayangkan, sebelum ayam betina berkokok Luhan sudah bangun. Minseok sendiri heran mengapa ia barusan bilang ayam betina yang berkokok. Lalu Luhan sudah mencuci semua pakaiannya dan Minseok selama seminggu ke depan, padahal minggu ini baru memasuki hari ke-3. Lalu dengan senang hati Luhan menawarkan membuat sarapan dan makan malam untuk hari ini –Minseok berharap agar ke depannya Luhan saja yang memasak namun gagal–. Dan sekarang, Luhan sedang bersenandung ria sambil mencuci piring.
"Tapi aku juga suka Sehun~ euhh, Sehun? Sehun the Sheep!"(?)
Kembali, Minseok harus menganga lebar melihat tingkah Luhan yang kelewat ajaib. Telinganya tidak salah dengar, kan? Sehun?
"Lu! Kau curaaaang!" Minseok langsung merajuk pada Luhan yang tengah mengelap piring-piring hasil cuciannya.
"Eh? Curang kenapa, Min?" tanya Luhan dengan polosnya. Ia meletakkan piring-piring cantik yang berhadiah satu gelas cantik ke dalam rak, dan duduk di hadapan Minseok.
Minseok mengerucutkan bibirnya, "Kau tidak bercerita padaku tentang hubunganmu dengan Sehun."
Luhan tersenyum sambil melongo (tolong bayangkan sendiri/?), "Hubunganku? Sehun?"
Minseok mengangguk-angguk cepat, "Ne! Pasti kalian ada apa-apanya.." selidik Minseok.
Luhan nampak berpikir sebentar. "Oh, yaa aku lupa bercerita.. Kemarin sore Sehun bilang bahwa ia menyukaiku."
"MWO?! JEONGMAL?!" pekik Minseok, ia langsung mencengkram bahu Luhan.
Luhan tertawa-tawa melihat reaksi sahabatnya. "Ne, jinjja! Bagus bukan? Ternyata ia tidak membenciku!"
Minseok kembali menganga. Ia melepas cengkramannya perlahan.
"Lu, jangan-jangan kau.." ujar Minseok menyipitkan matanya. Ia sudah mengira bahwa Luhan salah mengartikan kata 'suka' dari Sehun.
"Apaa?" Luhan memiringkan kepalanya, menunggu ucapan Minseok.
Minseok memijit pelipisnya, ia merasa bingung harus berkata jujur atau tidak pada Luhan. Di satu sisi ia merasa harus mengembalikan sahabatnya ke jalan yang benar dengan cara memberi tahu bahwa Luhan salah mengartikan kata 'suka', namun di sisi yang lain ia khawatir bila Luhan memang benar-benar hanya menyukai Sehun sebagai seorang teman yang mana hal itu akan menyakitkan bagi Sehun.
"Minseok!" Luhan menggoyang-goyangkan tubuh Minseok, menyadarkannya dari lamunan.
"E-eh..?"
"Ayo, apa yang ingin kau katakan tadi?" Luhan nampak begitu penasaran dengan ucapan Minseok yang menggantung.
"Uhm.. Lupakan! Kau mau tanding PES? Kau boleh pakai MU!" tawar Minseok mengalihkan pembicaraan.
"Boleh!" Luhan langsung menyambut tawaran Minseok dengan semangat.
Beruntung sekali kau memiliki roommate seperti Luhan, Minseok.
.
.
.
[skipped time]
.
.
.
Sunday, November 17th.
08.30 a.m.
Cuaca hari ini sangat bersahabat. Dapat terasa hangatnya sinar mentari dan juga semilir angin yang berhembus. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Cuaca yang bagus untuk jalan-jalan.
"Hahh.. Mengapa aku setuju dengan ajakannya..? Mengapa begitu mudahnya aku terbius olehnya? Kita kan baru bertemu beberapa kali.. Bahkan dia adalah hoobae-ku. Dan mengapa sekarang kau menunggunya, Do Kyungsoo?" Kyungsoo yang sedang duduk di bangku taman depan gedung asrama bertanya pada dirinya sendiri. Sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus merona membayangkan kertas pemberian Jongin beberapa hari lalu.
Ia sendiri tak mengerti mengapa ia mau menerima ajakan Jongin. Tak mengerti mengapa seakan tak ada alasan untuk menolak ajakan Jongin.
"Uuh.." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya seraya mengepalkan kedua tangannya yang bertumpu di atas pahanya.
Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jongin. Sebentar lagi ia akan pergi bersama Jongin. Yang artinya bisa saja seharian ini ia akan melihat wajah Jongin. Hal itu membuat warna merah di kedua pipinya semakin menjadi.
"Hyung?"
TADAAH. Jongin telah datang.
Kyungsoo memalingkan wajahnya ke arah sumber suara secara refleks, dan ia dapat melihat wajah Jongin yang sumringah sedang berlari ke arahnya.
"Hahh.. Hahh.. Annyeong, hyung!" sapa Jongin dengan napas yang sedikit tersengal akibat berlari saat ia sudah berada di hadapan Kyungsoo.
"Annyeong, Jongin." balas Kyungsoo lengkap dengan senyuman manisnya.
"A-aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar datang! Terima kasih, hyung!" ujar Jongin lagi dengan ceria.
"A-aku rasa aku tak punya alasan untuk tidak datang.." Kyungsoo menundukkan wajahnya malu.
Jongin terkekeh melihatnya, "Baiklah, hyung. Shall we go?" ujarnya sambil mengulurkan tangan ke arah Kyungsoo.
Dan Jongin berani bersumpah demi gigi Chanyeol yang rata itu bahwa Kyungsoo sedang merona.
"O-okay." Kyungsoo menyambut uluran tangan Jongin.
Lalu mereka berjalan beriringan keluar gerbang universitas. Memulai 'kencan' perdana mereka.
Tak ada yang mengetahui bahwa ada sepasang mata tengah menatap mereka dari kejauhan.
"Kyungie?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
waaa maaf sedikiiit /digampar/
maaf yaaa chapter 10 jadinya sedikit dikarenakan sesuatu/? chapter depan aku pasti panjangin, dan ga akan lama2 kok aku postnya hehehehe ;3;
oke deeeh di sini ketauan akhirnya salah paham hunhan wkwk tapi tenang aja, kesalahpahaman itu akan diselesaikan dengan benar, padat, dan jelas/?
ohiya aku sengaja bikin date-nya kaisoo dulu, baru nanti balik ke bubble tea date-nya hunhan wkwk XD
makasih buat yang masih setia:")
aylopyupulgays /emot lope seribu biji/?
last word, tengkyuh;*
