"Ternyata Kyungie pergi kencan dengan seseorang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
oke here I am XD
wkwk banyak yang nebak kalo yang ngintipin kaisoo itu suho ternyata dia adalah...jengjeng dia!/? wkwk temukan di chapter ini ya XD
kayanya ini chapternya banyak ya.-. jangan bosen ya/?
oke ngga banyak-banyak ngomong, langsung aja presenting chapter 11!
enjoy~
.
.
.
.
.
Tak ada yang mengetahui bahwa ada sepasang mata tengah menatap mereka dari kejauhan.
"Kyungie?"
.
.
.
.
.
Jongin melangkahkan kakinya dengan gugup. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia belum pernah merasa begitu nervous sebelumnya setelah terakhir kali merasakan nervous saat menarik celana teman sekelasnya.
Kali ini berbeda. Ada sosok Kyungsoo di sampingnya.
Sejak mereka meninggalkan gerbang universitas, tak ada yang membuka suara. Jongin berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung hoodie miliknya. Sedangkan Kyungsoo berjalan sambil terus menundukkan kepalanya. Sesekali Jongin mencuri pandang pada Kyungsoo yang masih menunduk.
Jongin tersenyum. Ia tak mampu lagi menahan rasa bahagianya. Akhirnya ia berhasil berbicara dengan Kyungsoo. Bahkan mengajaknya kencan. Oh, ya, bagi Jongin ini adalah kencan.
"A-ada apa? Apa ada yang aneh pada wajahku?" Kyungsoo yang sadar dirinya tengah diperhatikan, menoleh pada Jongin yang sekarang terlihat gelagapan.
"A-aniya." sanggah Jongin sambil mengusap-usap tengkuknya. "Kau terlihat manis, hyung."
Tanpa sadar kedua pipi Kyungsoo memanas mendengar pujian dari Jongin.
Bila Kyungsoo dapat mendengarnya pasti Jongin sedang bersorak-sorak dalam hatinya.
Dua sejoli itu terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di stasiun bus.
"Tak apa kan bila kita pergi naik bus?" tanya Jongin takut-takut.
Kyungsoo terkekeh, "Apa kau pikir harus mengendarai sebuah limusin untuk mengajakku pergi?" ujarnya bercanda.
"Jika itu membuatmu senang kupikir aku akan melakukannya."
"Eeh?" Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin sedang mengusap-usap tengkuknya dan tersenyum grogi.
"Ah, itu dia datang!" Jongin segera berlari kecil menuju salah satu pintu bus yang baru saja datang. Kemudian Kyungsoo mengikutinya.
Keadaan dalam bus begitu ramai mengingat hari ini adalah hari libur dan sudah pasti semua orang berpikiran hal yang sama, pergi ke luar rumah.
Jongin dan Kyungsoo terpaksa harus berdiri.
"Hyung, sini." Jongin mengisyaratkan Kyungsoo untuk berdiri di dekatnya.
Saat Kyungsoo sudah di dekatnya, Jongin merentangkan kedua tangannya mengelilingi tubuh mungil Kyungsoo. Berniat agar tubuh mungil itu tak tersentuh siapapun.
Kyungsoo sendiri tidak melayangkan protes dan juga tidak berkomentar apa-apa. Dirinya sudah terbiasa diperlakukan seperti ini dikarenakan tubuh kecilnya. Lagi-lagi Kyungsoo tidak tahu bahwa dada Jongin bergemuruh kencang.
.
.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di tujuan mereka.
"Hyung, kau suka film ber-genre apa?" tanya Jongin saat ia hendak melangkahkan kakinya memasuki sebuah teater.
"Mm aku bukan tipe orang yang pemilih, jadi kurasa genre apapun tidak masalah." jawab Kyungsoo.
"Komedi?"
"Boleh saja."
"Action?"
"Yup."
"Thriller?"
"Yep."
"Romance?"
"Uh-huh."
"Adult movie?"
"Yup –eh, tunggu. Mwo?"
Jongin terkekeh saat ia berhasil mengerjai Kyungsoo. Lihatlah, betapa bulat matanya saat terkejut.
"Gotcha, hyung!" Jongin berlari kecil mendahului Kyungsoo yang mungkin akan menjitak kepalanya seperti yang Sehun biasa lakukan.
"Yaa! Kim Jongiiinnn!"
Langkah Kyungsoo terhenti saat dirinya melihat sebuah mesin Doll Catcher yang terletak di sebelah pintu masuk teater.
Kedua mata Kyungsoo berbinar-binar melihat sebuah boneka Pororo terpajang manis di dalam mesin itu. Boneka Pororo itu termasuk yang limited edition. Bagaimanapun Kyungsoo harus memilikinya.
Baru saja Kyungsoo berniat mengambil sekeping uang logamnya, ia teringat bahwa dirinya sangat payah dalam permainan mengambil boneka.
"Uuh.." Kyungsoo menempelkan seluruh wajahnya ke dekat kaca boneka tersebut. Dan menatap boneka Pororo incarannya dengan sendu.
"Hyung?" suara Jongin menyadarkannya dari lamunan dan menghentikan kegiatan menatap bonekanya.
"Eh hehe.." ujar Kyungsoo grogi karena Jongin menangkap basah dirinya sedang meratapi sebuah mesin Doll Catcher.
"Sedang apa, hyung?" Jongin mendekati Kyungsoo dan menatapnya serta menatap mesin boneka itu bergantian. "Bermain ini?"
Kyungsoo menggeleng lemah, "A-aniya.. Aku hanya melihat-lihat." ujarnya dusta.
Jongin berusaha menelusuri pandangan Kyungsoo. Sedari tadi Kyungsoo tak melepaskan pandangannya pada mesin ini. Pastilah ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari dalam mesin.
"Ah!" pekik Jongin saat ia akhirnya menyadari sesuatu.
"Waeyo?" Kyungsoo akhirnya menoleh pada Jongin yang berada tepat di sebelahnya.
Jongin tersenyum –mungkin lebih tepatnya menyeringai–, "Ayo, hyung. Filmnya mulai sebentar lagi. Aku jamin kau pasti suka!" ujarnya sambil menautkan jemarinya dan jemari Kyungsoo.
Kyungsoo yang menerima perlakuan itu hanya bisa merona diam-diam. 'Ish, jantung! Tenanglah!'
"Kau ingin pesan apa, hyung?" tanya Jongin saat mereka sedang melihat-lihat menu selagi menunggu film mereka dimulai.
"Nachos." jawab Kyungsoo sambil tersenyum lebar.
"Ye? Bukankah lebih cocok popcorn atau french fries atau–"
"Aku mau nachos." ujar Kyungsoo lagi, kali ini ia sedikit mengerucutkan bibirnya. Khas anak-anak yang sedang merajuk.
Jongin harus menelan salivanya berat-berat melihat pemandangan indah(?) di depannya. "Aah oke, oke, akan kupesankan nachos untukmu, hyung. Asal kau berhenti mengerucutkan benda pink itu before something happen." ujar Jongin dengan cepat dan segera melesat.
"M-mwoya?" meninggalkan Kyungsoo yang termangu sambil menyentuh bibirnya sendiri.
.
.
Dua setengah jam berlalu.
"Wuaah, hyung! Tadi itu sungguh menakjubkan! Adegan di mana isi perut monster itu keluar benar-benar mengagumkan!" semenjak film selesai, Jongin terus menerus berceloteh riang.
Sementara Kyungsoo tertawa kecil setiap mendengar celotehan Jongin, tak jarang ia juga ikut menambahkan celotehan Jongin.
"Kau tunggu dulu di sini ya, hyung. Aku ingin ke toilet sebentar." pinta Jongin yang disambut sebuah anggukan dari Kyungsoo.
Setelah punggung Jongin menghilang, Kyungsoo segera mencari tempat untuk duduk.
Namun sayang, semua kursi telah penuh oleh berbagai macam pasangan yang tengah ber-lovey-dovey.
"Pft." gumam Kyungsoo. Ia tidak merasa iri, ia hanya ingin mereka pergi dari sana agar ia dapat duduk dengan nyaman.
Kyungsoo memutuskan untuk bersandar pada dinding di dekat pintu masuk.
Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada bermacam-macam orang di sini. Mulai dari sebuah keluarga dengan dua anaknya sedang sibuk membeli minum yang mana minum itu kemudian tumpah membasahi baju anak lelakinya sehingga sang ayah harus meminta maaf pada orang-orang di sekelilingnya yang terkena tumpahan minum itu dan sang ibu yang terlihat tengah memarahi sang anak sambil menyeka tumpahan minum menggunakan sapu tangan. Seorang ahjussi yang tengah menatap sebuah poster film dewasa –Kyungsoo bersumpah ahjussi itu pasti masih sendiri–. Dan ada seorang wanita berpakaian seperti seorang businesswoman sedang bercakap-cakap di telepon –Kyungsoo merasa kasihan pada wanita itu yang harus bekerja di hari libur–.
Kyungsoo mengeluarkan smartphone-nya dan menatap angka pada jam yang tertera di layar. Sudah 17 menit dan Jongin belum juga kembali.
Baru saja Kyungsoo berpikir bila Jongin terkunci di dalam bilik toilet–
"Pororyeong~ Porong~"
Sebuah suara mengagetkannya.
Sontak, Kyungsoo segera membalikkan wajahnya dan mendapati wajah Pororo.
"Tadaah!" sosok Jongin muncul dari balik Pororo itu.
Kyungsoo termangu melihat pemandangan Pororo ft. Jongin barusan.
"Ini untukmu, hyung!" Jongin segera menyodorkan sebuah boneka Pororo yang seingat Kyungsoo boneka itu adalah boneka yang tadi ia lihat di dalam mesin Doll Catcher.
"Eeh? A-apa..? Ba-bagaimana..?" Kyungsoo menyentuh boneka itu dan sedikit terbata-bata.
Jongin terkekeh kembali melihat reaksi Kyungsoo.
"Maafkan aku begitu lama. Aku baru saja berhasil mengambil boneka ini. Dan ini untukmu, hyung! Terimalah! Jebal?" Jongin memasang puppy eyes-nya.
Kyungsoo tak dapat berkata-kata. Hasratnya memiliki boneka ini sangat besar. Akhirnya ia mengambil boneka itu dari tangan Jongin dengan perlahan.
Kyungsoo segera memeluk boneka itu erat-erat, tak lupa dengan senyuman yang selalu terkembang di bibirnya.
Jongin yang melihatnya tak dapat menahan senyumannya, "Kau menyukainya, hyung?"
"Astaga, tentu saja! Aku memang menginginkan dia~" ujar Kyungsoo sambil menggoyang-goyangkan lengan boneka itu dan mengusap-usap kepalanya.
Jongin hanya terkekeh kembali.
Kyungsoo tersadar akan sesuatu, ia menatap ke arah Jongin. "Te-terima kasih banyak!" ujarnya sambil sedikit membungkuk.
"Hey, hey! Tak usah sampai begitu, hyung..!"
"A-aku telah merepotkanmu.."
Jongin tersenyum kembali, "Aku melakukannya karena aku mau, hyung. Sama sekali tidak merasa repot."
Kyungsoo menundukkan wajahnya mendengar jawaban Jongin yang membuatnya senang sekaligus malu.
"Uuh.. Mesin itu sungguh membuatku frustrasi.. Aku selalu gagal saat mengambil boneka. Entah mengapa sepertinya mesin-mesin pengambil boneka di dunia berniat mengerjaiku.. Ja-jadi aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu yang mau mengambil boneka ini untukku." ujar Kyungsoo lagi. Kali ini tanpa membungkuk, melainkan diganti dengan sebuah senyuman yang tulus dan amat manis yang sanggup membuat seorang Jongin diabetes.
"Ngomong-ngomong dari mana kau tahu aku menyukai Pororo?"
Jongin tersenyum kembali. "Karena Pororo mirip denganmu, hyung."
Kyungsoo sedikit merona mendengarnya. Sebenarnya sudah beberapa kali ia mendengar hal itu dari orang-orang, namun mendengarnya dari Jongin entah mengapa membuatnya malu.
"Apa kau akan menjaganya?" tanya Jongin sedikit menyeringai.
"Tentu! Dia akan selalu menemani tidurku. Se-sekali lagi, terima kasih." jawab Kyungsoo sambil menatap malu-malu ke arah Jongin.
'Seharusnya aku lah yang berterima kasih karena telah membuat hariku jadi lebih manis dari biasanya.'
Entah mengapa Kyungsoo merasa bahwa akan ada kencan-kencan selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam sebelumnya.
"Terima kasih. Silakan datang lagi."
Sosok tinggi nan rupawan tengah melangkahkan kakinya keluar dari dalam sebuah toko. Kaki jenjangnya melangkah dengan hati-hati, menghindari dirinya tersandung sesuatu. Senyuman terus terpampang di wajahnya.
Sosok tinggi itu –Chanyeol berhenti sesaat melihat siluet seseorang yang tidak asing baginya.
"Ng.. Tao?"
Entah kebetulan atau apa, Tao menoleh ke arahnya dan mereka beradu pandang untuk sesaat.
Sedetik kemudian Tao berlari kecil menghampiri Chanyeol.
"Hyung~!" panggilnya dari kejauhan.
Senyuman Chanyeol pun semakin merekah saat Tao makin mendekatinya.
"Annyeong, Tao-ie." sapa Chanyeol dengan senyuman di wajahnya. Jika kalian berpikir senyuman yang Chanyeol berikan adalah senyuman 5 jari miliknya yang biasa, kalian salah. Senyuman Chanyeol kali ini benar-benar mampu menawan hati dan ampela siapapun yang melihatnya. (Yeol, kembalikan ampela saya!)
Tao terengah-engah sebentar sebelum membalas sapaan Chanyeol, "Annyeong, hyung!" lengkap dengan cengirannya.
"Sedang apa, Tao?" tanya Chanyeol sambil mengajak Tao untuk duduk di sekitar taman.
"Umm tadinya aku berencana untuk berdiam di dalam kamar, namun Kyungie nampak begitu mencurigakan jadi aku mengikutinya diam-diam.." jawab Tao dengan polos.
Chanyeol menaruh kantung belanjanya di sebelah dirinya, "Kyungie?"
Tao menggaruk pipinya, "A-ah, ya, kau belum mengenalnya, ya, hyung. Kyungie itu adalah roommate-ku. Namanya Do Kyungsoo, anak psikologi tahun kedua."
Chanyeol nampak manggut-manggut mendengar penjelasan Tao. "Lalu? Apa yang mencurigakan darinya?"
"Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu Kyungie nampak mencurigakan. Ia terlihat tidak fokus dalam melakukan apapun. Sering kulihat ia sedang menepuk-nepuk kedua pipinya. Dan menatap secarik kertas kemudian berteriak-teriak 'huwaa!'. Setiap kutanya ada apa dia selalu menjawab tidak apa-apa. Lalu tadi pagi ia berkata ingin pergi sebentar, dan kutanya pergi dengan siapa ia tidak menjawabnya, malah langsung pergi terburu-buru. Dan ternyata setelah kubuntuti.."
"Ternyata..?" Chanyeol mengulang ucapan Tao.
"Ternyata Kyungie pergi kencan dengan seseorang!" ujar Tao berapi-api.
Chanyeol terkekeh mendengar ucapan Tao yang begitu lucu. "Jadi Tao merasa dibohongi oleh Kyungsoo?"
Tao menggelengkan kepalanya cepat, "Aniya, hyung. Aku hanya kesal mengapa Kyungsoo harus menyembunyikan itu dariku? Apa karena kencannya itu tampan walaupun kulitnya sedikit gelap dan hidungnya sedikit hilang–"
"Apa katamu tadi? Tampan, gelap, dan hidung hilang?" Chanyeol menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"N-ne.. Kencan Kyungsoo memang kuakui tampan dan eeh apa aku pernah melihat kencan Kyungsoo itu di suatu tempat, yaa..?" Tao meletakkan telunjuk di bibirnya dan memasang wajah berpikir.
Sedangkan Chanyeol hanya menganga lebar mendengar ucapan Tao barusan. Kencan Kyungsoo itu tampan? Chanyeol yakin bahwa Kyungsoo adalah seorang lelaki, dan itu artinya Kyungsoo bisa saja 'sama' seperti dirinya dan Jongdae serta Sehun dan Yixing.
Lalu gelap dan hidung hilang? Mengapa Chanyeol curiga pada seorang hoobae-nya yang memiliki ciri-ciri seperti itu? Tampan, gelap, hidung hilang. Sebab yang memiliki ciri-ciri seperti itu hanyalah dia di sini, menurut Chanyeol.
Kim Jongin, kau berhutang cerita padaku! –pikir Chanyeol.
"..Hyung?" Tao menggoyang-goyangkan tangannya ke depan wajah Chanyeol.
"Aah, ye?" Chanyeol akhirnya tersadar dari lamunannya.
Tao mengerucutkan bibirnya, "Kau mendengarkanku, kan hyung?"
"A-apa?"
"Aah kau tak mengacuhkanku.."
"Mianhae, mianhae. Bisa kau ulangi lagi?" pinta Chanyeol.
Tao mendengus, "Baiklaah. Kejuaraan sekitar seminggu lagi, dan kau tahu, hyung? Latihanku semakin menggila! Bayangkan, dalam seminggu aku hampir tak ada istirahat..! Aku mengerti semua ini dilakukan demi mempertahankan kemenangan.. Namun terkadang aku berpikir bahwa kemenangan itu konyol.. Bertarung dengan klub basket hanya demi sebuah gengsi itu konyol.."
Chanyeol tertawa pelan. "Huang Zi Tao, apakah kau tahu bahwa seseorang yang sedang mendengarkan ceritamu ini adalah seorang pemain basket yang akan bertanding nanti?"
Tao terkejut mendengar penuturan Chanyeol. Ia sudah berkata yang aneh-aneh padanya.
"EEE JEONGMALYOO? Na eotteohkhae..?!"
Chanyeol segera mengusap-usap kepala Tao untuk menenangkannya. "Calm down, Zitao. Aku tak akan macam-macam. Kita bertanding sportif, ne?" ujarnya sambil tersenyum pada Tao.
Tao menatap Chanyeol takut-takut sebelum akhirnya luluh. "N-ne, hyung. Ma-maafkan Tao.."
"Tak ada yang perlu dimaafkan." lanjut Chanyeol masih dengan senyumannya.
Tao hanya tersenyum grogi membalas senyuman Chanyeol.
"Karena aku sudah bercerita, bolehkah sekarang giliranmu bercerita, hyung?" Tao membuka suaranya.
Chanyeol menghentikan acara usap-mengusapnya, lalu menggaruk kepalanya sebentar, "Cerita ya.. Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku baru saja berbaikan dengan sahabatku setelah bertengkar cukup hebat dengannya."
Tao nampak begitu tertarik mendengar cerita Chanyeol. "Ceritakan, hyung!"
Chanyeol nampak tersenyum, namun tak ada yang dapat mengartikan senyumannya. "Baiklah."
.
.
.
-flashback-
.
.
".. HUWAAAA! DASAR IDIOOOOT!"
Sedetik kemudian Baekhyun telah berlari meninggalkan meja dengan wajah yang berkaca-kaca.
Tinggalah Wufan, Jongdae, Jongin, dan Sehun yang mematung sambil membulatkan bibir mereka. Chanyeol? Ia terkejut bukan main mendengar Baekhyun yang kembali mengatainya bodoh. Well, ia yakin umpatan Baekhyun barusan pasti ditujukan untuk dirinya.
PAK!
Wufan segera menjitak kepala Chanyeol dengan keras. Anehnya tak ada protes yang dilayangkan oleh Chanyeol. Chanyeol hanya menatap Wufan masih dengan wajah terkejutnya.
"Tunggu apa lagi? Kejar dia, pabbo!"
Mendengarnya Chanyeol mendapatkan kesadarannya kembali dan langsung berlari mengejar Baekhyun tanpa berkata sedikit pun pada teman-temannya.
.
"Baekhyun! Tunggu!" Chanyeol mempercepat lajunya saat ia melihat sosok kecil Baekhyun tengah berlari menuju gym yang saat ini sedang kosong.
"Tidaaaak! Pergi! Pergi!" pekik Baekhyun saat ia menyadari Chanyeol mengejarnya.
"Berhenti!"
GREP!
Chanyeol berhasil menggenggam lengan kanan Baekhyun sesaat setelah dirinya dan Baekhyun memasuki gym.
"Ugh! Apa maumu?! Lepaaas..!" Baekhyun berusaha melepaskan genggaman Chanyeol pada lengannya. Namun sepertinya sia-sia, genggaman Chanyeol terasa begitu kuat.
"Tidak akan kulepas sebelum kau menjelaskan padaku alasan kau mendiamkanku." ujar Chanyeol seraya mengeratkan genggamannya.
Chanyeol berinisiatif untuk membawa Baekhyun ke dalam ruang ganti pemain, agar tak ada yang melihatnya. Tak mempedulikan Baekhyun yang sibuk meronta-ronta.
BLAM! Setelah menutup pintu, ia kembali fokus pada Baekhyun dalam genggamannya.
"..Hiks.. Apayo.."
Chanyeol tercengang dan langsung melepaskan cengkramannya pada lengan Baekhyun saat mendengar isakan yang keluar dari bibir Baekhyun.
"B-Baek..? Gwaenchana..? Mi-mian–" ucapan Chanyeol harus terputus tatkala ia melihat Baekhyun berlari ke arah pintu, berusaha meloloskan diri. Beruntunglah Chanyeol lebih cepat dari Baekhyun.
Bruk!
Chanyeol segera menarik lengan Baekhyun dan mengunci tubuhnya ke dinding. Baekhyun yang bertubuh kecil memudahkan Chanyeol untuk mengurung tubuhnya.
"Jangan coba-coba kabur dariku."
Ancaman Chanyeol terdengar menakutkan juga membahagiakan bagi Baekhyun. Dia memang ingin sekali diperlakukan seperti ini. Dia ingin sekali Chanyeol memaksanya untuk mengatakan mengapa ia mendiamkannya.
Namun air mata mengalahkan segalanya. Baekhyun menangis di dalam kurungan Chanyeol.
"Yeollie bodoooh.. Idiooot.. Mengapa kau seperti itu, hiks.. Mengapa.." isaknya. Baekhyun terus mengulang-ulang kata yang sama.
Chanyeol tentu merasa panik melihat Baekhyun menangis. Refleks, ia segera mendekap erat tubuh mungil Baekhyun. Membiarkan air mata Baekhyun jatuh membasahi bajunya. Dan untungnya, Baekhyun tidak menolak tindakan Chanyeol. Malah akhirnya ia memeluk balik Chanyeol.
"Yeollie bodoooh.." Baekhyun terus terisak sambil memukul pelan dada Chanyeol. Persis seperti seorang gadis yang sedang merajuk pada kekasihnya.
"Maafkan aku, ne? Aku berjanji tak akan membuatmu marah lagi, Baek.." Chanyeol mengelus surai Baekhyun.
"Jangan menangis, aku tak suka melihatmu menangis." Chanyeol menghapus air mata dari kedua pipi Baekhyun.
"Apa kau tahu betapa tersiksanya diriku saat kau mendiamkanku, hmm?" lanjutnya sambil terus menghapus bulir-bulir air dari pipi Baekhyun.
Tanpa diduga, hal itu malah membuat air mata Baekhyun jatuh semakin banyak. "Hiks.. Aku juga.. Aku tak mau lagi mendiamkanmu, Yeol.. Ta-tapi aku juga tak mau lagi kau seperti itu.."
"Ssh, aku tahu. Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku." Chanyeol kembali memeluk erat Baekhyun yang masih menangis.
"Yeollie harus berjanji tak akan lagi begitu, ne..?" pinta Baekhyun seraya menatap kedua mata Chanyeol.
"Tentu. Asal Baekkie juga berjanji tak akan menangis lagi."
Mendengarnya, Baekhyun mengembangkan senyum manisnya. Ia mengusap sedikit kedua matanya.
"Yaksok?"
"Yaksok."
Setelah itu Chanyeol mencium kening Baekhyun tanpa ada ucapan apa-apa setelahnya.
.
.
.
-end of flashback-
.
.
"Ia kekasihmu, hyung?"
DEG!
Pertanyaan polos Tao membuat Chanyeol membulatkan kedua matanya.
"Bukankah sudah kubilang bahwa ia sahabatku?"
Tao nampak mengangguk-anggukkan kepalanya, "Begitu, ya? Kupikir ada sesuatu yang lain."
Chanyeol merasakan jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. Ia memang menyukai Baekhyun.
Menyukai.
Baekhyun.
Sebagai seorang sahabat?
Tidak.
Sebagai seorang yang spesial?
Baekhyun memang spesial.
Kekasih?
Tidak.
Uhm, mungkin harus kukatakan tidak tahu.
Ya, Chanyeol memang menyukai Baekhyun. Dan semua orang juga tahu bahwa anak caplang ini menyukai si imut-imut ber-eyeliner. Namun untuk kasus kali ini boleh kusebut Chanyeol dengan sebutan friend-complex? Benar, nampaknya itu adalah istilah yang cocok bagi Chanyeol. Uhm, tapi tidak juga. Ada kalanya Chanyeol merasa bahwa ia cemburu dengan kedekatan Baekhyun dengan orang lain, karena ia takut bila temannya dekat dengan temannya yang lain, takut Baekhyun akan melupakannya sebagai teman baik. Namun ada kalanya Chanyeol merasa ingin memiliki Baekhyun seutuhnya. Penyakit yang langka, bukan?
"Eum, hyung, mungkin sudah saatnya aku kembali." Tao hendak beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar sebelum suara Chanyeol terdengar.
"Maukah kau pergi bersamaku ke festival, Tao?"
Tao segera menoleh, "Eeh? Aku?"
Chanyeol mengangguk riang, "Ne! Pergilah bersamaku ke festival!"
Fyi, festival yang dimaksud adalah festival yang biasa diselenggarakan sebelum kejuaraan berlangsung. Festival itu diadakan sehari sebelum kejuaraan, dan akan berlangsung selama seharian penuh. Hal yang biasa dilakukan para mahasiswa adalah mengajak seseorang untuk pergi bersama ke festival.
Tao, yang memang menyukai festival mengangguk cepat. "Baiklah, hyung! Aku memang menunggu-nunggu festival itu, karena tahun lalu aku tak sempat merasakannya.." ujarnya sedikit sedih. "Dan terima kasih atas ajakannya, hyung! Aku sangat menanti hari itu! Annyeong, hyung!" ekspresi Tao berubah ceria selagi ia melangkahkan kaki meninggalkan Chanyeol sambil melambaikan tangannya.
Chanyeol menyadari sesuatu, "Tunggu, Tao! Beritahu aku nomor teleponmu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke waktu normal.
Cafetaria, Seoul National University
12.44 p.m.
Setelah puas dengan pertanyaannya, Sehun berkutat kembali dengan smartphone-nya. Ia nampak begitu serius.
Jongin yang berada di sebelahnya mendadak menjadi penasaran dengan apa yang Sehun lakukan. "Sedang apa?"
"Mencari kontak Luhan-hyung. Aish, mengapa susah sekali.."
"Oh. Ngomong-ngomong apa kau sudah meminta nomornya?" celetuk Jongin.
Hening.
"AAAAH! AKU BELUM MEMINTA NOMORNYA!" pekik Sehun histeris, bahkan hampir menjatuhkan smartphone-nya.
PLOK!
Jongin menepuk dahinya sendiri. Mengapa ia memiliki teman yang sungguh polos?
"Pabbo, ultra idiot." cibirnya pada Sehun yang masih terpaku, memikirkan bagaimana caranya menghubungi Luhan.
Terdengar kekehan dari Jongdae.
"Apa kau mau KKT-nya, Hun?"
Cling!
Sehun langsung menatap tajam ke arah Jongdae, "Ma-mau mau!"
Jongdae tertawa kecil seraya menyodorkan smartphone-nya yang langsung disambar oleh Sehun.
"Bagaimana kau mendapatkannya, hyung?" tanya Jongin setelah Sehun menyalin id milik Luhan.
"Simple, aku hanya iseng mengetik nama Minseok-hyung dan voila~ lalu aku bertanya apa id milik Luhan-hyung karena kupikir anak ini akan membutuhkannya." jawab Jongdae sambil menunjuk Sehun.
"Wah, jadi sudah sejauh itu hubunganmu dengan Minseok-hyung?" goda Jongin sambil menunjukkan ekspresi 'wah'.
Jongdae kembali tertawa, "Sejauh apa? Seoul-Beijing?"
"Pfft, garing!" kali ini giliran Sehun membuka suaranya. Anak itu telah sehat kembali setelah mendapatkan pencerahan dari Jongdae.
"Ya! Aku sudah memberimu id Luhan-hyung dan itu balasanmu?" protes Jongdae seraya mengambil kembali smartphone-nya.
Sehun tak bergeming, ia telah sibuk mengutak-atik smartphone-nya kembali. Jongin tertawa mengejek pada Jongdae yang langsung disambut beberapa protes lagi darinya.
"Aku ke kelas dulu. Annyeong." Wufan beranjak dari duduknya, dan segera meninggalkan ketiga hoobae-nya.
"Ne, annyeong, hyung!" ujar Jongdae.
Ah, mencoba menghindar dari kenyataan, Wufan?
"HUWAAAA! Luhan-hyung membalas chat-ku!" pekik Sehun histeris (lagi).
"Eish, ya sudah kau ajaklah dia kencan! Jangan berteriak-teriak!" ujar Jongin dan Jongdae bersamaan.
Deg deg deg deg!
Sehun nampak gemetar saat mengetik balasan untuk Luhan. Oh, mengapa ia begitu grogi saat mengetik tulisan 'bagaimana kalau sepulang latihan nanti kita minum bubble tea bersama, hyung?'.
"Di-dibalaaaas!"
Kelihatannya menyenangkan. Baiklah, sampai jumpa nanti sore~!^^ ppyong~!
BLUSH!
Sehun merona saat membaca jawaban dari Luhan yang terkesan begitu manis.
"Aaah, Luhan-hyung.." gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri membaca berulang-ulang jawaban Luhan.
Membuat dua orang di sebelahnya memasang wajah iri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
haloooo ini cepet kan apdetnya wkwk
maafkan diriku, kemarin baru pulang dari jowo sih ;;
oke deh, ini kaisoo-nya silakan dinikmati(?)
nanti ada lagi, maaf kalo sedikit2 dikeluarinnya :(
oke deh, sepertinya ini masih kurang panjang ya/? wkwk rencananya sih chapter depan bakalan lebih panjang /Amin/ wkwk
makasih buat yang masih setia:")
aylopyupul /emot lopelope/
last word, tengkyuh;*
