"–A-apa aku harus melapor padamu dengan siapa aku bicara apa yang kubicarakan dan dengan siapa aku pergi..?! Memangnya kau ini siapa..?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
title: boffins's life
Disc: all charas belong to God.
Cast: EXO members
Other cast: find out!
Genre: friendship, romance, university(?) life, humour
Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.
aku kembali~/?
ahahaha maaf ya baru apdet lagi ;-;
keasyikan tidur jadi keenakkan wkwk
yaudah presenting chapter 12!
enjoy~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cafetaria, Seoul National University
Monday, November 18th.
12.05 p.m.
"Hun, itu kentangku!"
"Ambil saja yang lain! Masih banyak!"
"Hun, itu sodaku!"
"Minta sedikit saja kok!"
"Hun, itu piringku!"
"Hun, itu hidungku!"
"TIDAAAK! HUN, ITU EOMMAKU!"(?)
Tepat di tengah cafetaria, suasana sebuah meja yang berisi anak-anak kelompok basket begitu ricuh. Berbagai macam teriakan terdengar, contohnya teriakan Wufan tentang kentangnya, Chanyeol tentang sodanya, Jongdae tentang piringnya, Jongin tentang hidungnya, dan Baekhyun tentang eommanya yang semua itu diambil secara paksa oleh tak lain dan tak bukan Oh Sehun. (eomma Baekhyun baik-baik saja)
Sehun sedang memasang tampang yang benar-benar tak bisa diartikan. Dan hal ini mengundang tanya para hyungnya. Apakah mungkin Sehun sedang bulannya?
"Kau kenapa sih, Hun?" akhirnya Chanyeol membuka suaranya setelah melihat Sehun menusuk-nusuk sebuah strawberry dengan kejam.
"Eh, jangan ditusuk-tusuk! Itu milikku!" secepat kilat Baekhyun menyambar strawberry itu dan langsung menyembunyikannya.
"Cih!" tak mempedulikan Baekhyun, Sehun malah mencari sesuatu yang lain untuk ditusuk-tusuk, hidung Jongin contohnya.
"Percuma, hyung. Sehun yang sekarang hanya akan menusuk sesuatu." ujar Jongin pada Chanyeol yang memasang wajah ngeri saat melihat kuda-kuda Sehun yang seakan-akan bersiap menusuk hidung Jongin.
Wufan yang memang mempunyai sifat penasaran yang amat sangat (dia menyembunyikannya dibalik gaya /sok/ cool-nya) bertanya, " Kau kesambet apa?"
JRENG.
Ternyata pertanyaannya tak se-cool gayanya.
Di luar dugaan, Sehun langsung berhenti dari aksinya begitu mendengar pertanyaan Wufan.
"..Hiks! Apa kurangnya aku? Aku tampan, pintar, putih, mancung! Idaman para noona! Tapi kenapa.. Kenapaaa?!" pekik Sehun dengan sangat percaya diri namun terlihat merana(?).
JRENG.
Tak bisa dipungkiri lagi, Sehun sedang galau seperti kebanyakan remaja sekarang ini. Pertanyaannya, siapa lagi yang digalaui olehnya selain si nona Luhan? Oh, maaf, itu bukan pertanyaan lagi ya.
"Aaaaa..! Kenapa kau begitu padaku, hyuuung!" lanjut Sehun, kali ini ia membenamkan wajahnya ke kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Meraung-raung. Tanpa mempedulikan tatapan kasihan orang-orang di sekelilingnya. Oh, Tuhan, siapa suruh berada di tengah-tengah keramaian.
"..O-oy, Hun! Tenanglah! Ada apa sebenarnya..?" Chanyeol berusaha menyentuh Sehun, namun niatnya dibatalkan saat tiba-tiba Sehun menatapnya tajam.
"..Hyung." ujarnya sambil terus menatap tajam pada Chanyeol.
Chanyeol yang merasakan tanda bahaya dari tatapan Sehun hanya bisa menjawab sambil tergagap, "N-ne..?"
Tiba-tiba air wajah Sehun berubah drastis. "WAAAAA! HYUUUNG!" dan langsung menarik kedua tangan Chanyeol dan membenamkan wajahnya di sana sambil meraung-raung.
Setelah terbengong beberapa saat melihatnya, Baekhyun memutuskan untuk menenangkan Sehun serta Chanyeol yang terlihat gelagapan menangani Sehun yang sedang meraung-raung.
"Se-Sehun-ah..? Tenang, tenang.." Baekhyun mengelus pelan punggung serta kepala Sehun.
Jongdae hanya menggaruk kepalanya, berusaha menahan seluruh ocehannya agar tidak menambah raungan Sehun.
Wufan berbisik pelan pada Jongin yang nampaknya mengetahui alasan raungan Sehun, "Ada apa dengan anak itu?"
Jongin menghela napas sebentar sebelum menarik Sehun dari genggaman Chanyeol dengan paksa.
"Kau tak bisa begini terus, Hun. Boleh aku cerita pada mereka? Sebelum mereka kelaparan dan mengorek-ngorek sampai kita tak bisa pulang." tanya Jongin pada Sehun yang masih terlihat berantakan.
Sehun hanya menyambut dengan anggukan kecil, sangat kecil bahkan hampir tak terlihat.
PAK!
Jongin menjitak kepala Sehun lagi, "Jangan memasang wajah begitu. Siapa tahu setelah bercerita kau akan dapat solusinya."
.
.
.
-flashback-
.
.
.
"A-ah, aku duluan, ne!" Sehun memasukkan barang-barangnya terburu-buru dan berpamitan setelah melihat sosok Luhan di kejauhan sana.
"Okee! Semoga berhasil di kencan pertamamu!" Jongin melambaikan tangannya pada Sehun yang sedang menabrak seseorang di langkahnya mengejar Luhan.
"Lu-Luhan-hyung!" akhirnya setelah tabrak-tabrakan dengan beberapa orang, Sehun tiba di sisi Luhan yang tengah membereskan barang-barangnya.
Luhan mendongakkan kepalanya, "Ah, Sehunnie!" dan tersenyum manis padanya.
DEG!
Sehun menyeringai grogi melihat senyuman maut Luhan yang selalu berhasil membuat jantungnya berdemo.
"Ah, hyung, sini aku bawakan." tanpa mendengar jawaban Luhan, Sehun langsung mengambil (tepatnya merebut paksa) ransel milik Luhan dan menggendongnya di depan (di belakang ada ransel miliknya sendiri, silakan bayangkan/?).
"Aah, tak usah Sehunnie.." Luhan berusaha merebut kembali ranselnya, namun tangannya ditahan oleh tangan milik Sehun yang entah kenapa sudah menggenggamnya erat.
"Ayo, hyung. Nanti keburu gelap!" dan langsung saja Sehun membawa Luhan menuju stand bubble tea seperti janji mereka.
Luhan hanya bisa merona saat menerima perlakuan Sehun yang menurutnya sangat manly namun tentu masih lebih manly dirinya.
Sepanjang perjalanan Sehun tak henti-hentinya berbicara tentang keanehan perilaku ketuanya saat berhadapan dengan boneka-boneka, atau seberapa absurd pasangan amoeba itu dan masih banyak yang lainnya. Tak ketinggalan tentang seberapa sering Jongin bergulung di atas aspal yang membuat tawa Luhan tak berhenti. Sebenarnya Sehun hanya ingin mendengar tawa malaikat itu dari Luhan. Ia ingin dan ingin lagi. Dan ia hanya ingin Luhan tertawa karena dirinya. Ia hanya ingin dirinyalah yang membuat Luhan tertawa lepas seperti ini.
"Ah, itu dia, hyung!" Sehun menarik perlahan tangan Luhan menuju tujuan mereka yang sudah ada di depan mata.
Saat itu ada beberapa orang yang sedang mengantre, barisannya lumayan panjang. Sehun tak ingin membuat Luhan harus berdiri lama, jadi ia memutuskan untuk mengantre sendiri dan Luhan diminta untuk menunggunya.
"Hyung, tunggulah di sini, aku akan segera kembali!" pinta Sehun setelah meletakkan ranselnya dan ransel Luhan di atas bangku tak jauh dari stand.
Luhan mengangguk manis, dan menunggu Sehun sambil memainkan psp miliknya. Sudah tentu ia akan bermain tak lain adalah sepak bola.
"Aaah! Curang, curang! Masa' aku hanya menyeleding-nya begitu saja sudah dikenai kartu! Wasitnya harus diganti!"(?)
Begitulah kira-kira yang terjadi saat Luhan sedang sibuk bermain psp.
Kira-kira 10 menit, seseorang yang akan mengubah dunia Sehun dan Luhan datang menghampiri.
"BOO!"
Luhan dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berteriak di belakangnya.
"HYAA!" sontak, ia langsung menolehkan kepalanya dan menemukan.. "Doojon-hyung?! A-aah kau mengagetkankuu!"
Doojoon, seseorang yang mengagetkan Luhan barusan hanya tertawa melihat reaksi Luhan. Ia melompat, dan duduk di sebelah Luhan.
"Sedang apa?"
Tanpa sadar Luhan menjadi sedikit terbata dan harus mengumpulkan keberanian untuk menjawabnya, "Me-menunggu Se-Sehun.."
Doojoon menaikkan sebelah alisnya, "Sehun?"
Luhan mengangguk dan menunjuk ke arah Sehun yang masih mengantre. "N-ne. Kami a-akan minum bubble tea bersama. A-apa kau mau ikut, hyung?"
Doojoon tertawa kecil mendengar tawaran Luhan. Ia menggeleng, "Tidak, terima kasih tawarannya. Aku hanya lewat sini dan tak sengaja melihatmu."
Luhan menunduk mendengar jawaban Doojoon. Entah ia merasa sedikit kecewa. Hanya sedikit. "O-oh, begitu.."
Doojoon menatap Luhan yang sedang menunduk yang entah mengapa ia menjadi sedikit gemas. "Hari Minggu nanti pergilah bersamaku. Akan kuajarkan teknik baru, dan pastinya kau akan bertemu dengan banyak teman."
CLING!
Mendadak, Luhan menolehkan kepalanya menatap Doojoon dengan wajah yang sungguh berbinar-binar. "J-jinjjayo?!"
Doojoon mengangguk seraya tertawa kecil.
"Huwaaa! Baiklah, aku pasti datang!" ujar Luhan kelewat semangat.
Doojoon kembali tertawa. Kemudian ia mengacak sedikit rambut Luhan. "Reaksimu itu benar-benar priceless."
Sontak, mengundang semburat kecil di kedua pipi Luhan.
"H-hyung.."
"EHEM!"
Doojoon maupun Luhan tersentak, dan segera menoleh untuk melihat suara siapakah gerangan.
Sehun. Tepat berdiri di depan mereka. Sambil memegang dua gelas bubble tea. Menatap penuh kecemburuan. (yang tentunya tak disadari oleh Luhan)
"Hoi, Sehun!" Doojoon segera berdiri menyapa Sehun dan mengelus pelan surainya.
"Hm." Sehun hanya menjawab sekedarnya dan menatap Doojoon dengan datar.
"Se-Sehunnie! Wah, sudah dapat ya? Terima kasih! Ayo segera minum!" Luhan menarik perlahan lengan Sehun, mengisyaratkan agar Sehun duduk di sampingnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, ne? Annyeong, Luhan, Sehun!" pamit Doojoon dan segera melesat meninggalkan mereka berdua.
Luhan membalas lambaian Doojoon, sedangkan Sehun masih terdiam dengan tatapan membunuh.
"Hun? Ada apaa?" tanya Luhan setelah menyadari keheningan dari Sehun.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Eeh?" Luhan tersentak saat mendengar pertanyaan Sehun yang terdengar seperti seseorang yang cemburu.
Sehun meletakkan gelas bubble tea-nya, dan menatap Luhan lekat-lekat. "Apa yang kalian bicarakan barusan?"
Luhan merasa Sehun berbeda dari yang sebelumnya. Ia sedikit takut. "Me-memangnya kenapa..?"
"Apa itu perlu ditanyakan alasannya? Jawab aku, hyung."
Luhan tak mengerti ada apa dengan Sehun. Ia merasa Sehun terkesan memiliki dirinya, sehingga apapun yang terjadi pada dirinya Sehun harus tahu.
"Me-memangnya apa masalahmu?" dengan sekuat tenaga, Luhan bertanya dengan jujur pada Sehun.
Ucapan Luhan malah membuat Sehun seakan dihujani oleh panah beracun.
"Masalahku? Tentu saja melihat kalian seperti tadi adalah masalahku!"
Entah dari mana, tiba-tiba saja Luhan menjadi sedikit emosi, "Ke-kenapa berkata seperti itu padaku..?! A-apa aku harus melapor padamu dengan siapa aku bicara apa yang kubicarakan dan dengan siapa aku pergi..?! Memangnya kau ini siapa..?!"
JEDERRR! JLEGARRR! /sfx: petir menggelegar/
DEG!
Mendadak sekujur tubuh Sehun menjadi lemas mendengar ucapan Luhan barusan.
Luhan bergegas mengambil ranselnya, dan beranjak pergi. "Ma-maafkan aku, Sehunnie..!"
Meninggalkan Sehun yang masih terbujur kaku.
Sebelum akhirnya, "TIDAAAAAAAAK!"
.
.
.
-flashback off-
.
.
TOENG.
Seluruh pasang mata yang telah mendengar cerita Jongin barusan menatap Sehun dengan tatapan kasihan.
"Apa kubilang, mereka juga pasti akan menatapmu seperti itu." ujar Jongin pada Sehun yang masih bergumam-gumam tak jelas.
Setelah kejadian itu orang yang pertama kali tahu adalah Jongin. Jongin juga menatap Sehun dengan tatapan kasihan setelah mendengar cerita Sehun yang disampaikan sambil tersedu-sedu(?).
Sehun sudah tak dapat menahannya lagi, ia pun menumpahkannya, "AAAAA HYUUUUNG! APA YANG HARUS KULAKUKAAANNN?!" ia kembali meraung-raung.
Wufan menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara tiga megaphone saling menatap satu sama lain.
"Ternyata memang benar yang kami curigakan selama ini.." ujar Baekhyun dengan lagak detektif.
Sehun menatap Baekhyun tajam, "Apa itu, hyung..?"
Baekhyun menelan salivanya berat-berat saat melihat wajah Sehun yang sudah berantakan(?). Sebenarnya ia tidak tega untuk memberitahukan kebenaran pada Sehun.
"Luhan-hyung itu hanya menyukaimu sebagai teman seperti teman-temannya yang lain, ia salah mengartikan suka yang kau katakan padanya tempo hari." celetuk Jongdae tanpa bersalah yang disambut dengan anggukan Chanyeol.
"Pa-pabboooo!" dengan cepat Baekhyun segera menjitak Jongdae dan Chanyeol yang berada di sebelah kanan dan kirinya.
Sehun?
Jongin bahkan Wufan pun tak berani untuk melihat reaksinya–
"HUWAAAAAAAAAAAAAAAA!"
–parah.
Sehun kembali meraung-raung. Kali ini ia meringkuk di atas kursinya. Sontak, hal ini bisa memancing perhatian orang-orang di sekelilingnya. Namun Sehun tak peduli, toh memang sejak tadi dirinya sudah menjadi pusat perhatian.
"Hiks.. Hiks.. Pabbooo.. Kenapa kau tak menyadarinya, Oh Sehun..?!"
Gumaman Sehun mengundang rasa iba para hyungnya. Chanyeol berusaha untuk mendekatinya–
"Aaaaa! Perjuanganku selama ini..! Perjuanganku hingga akhirnya aku menyadari perasaanku untukmu, hyuuuung..!"
–dan Chanyeol mengurungkan niatnya.
Sehun masih saja meraung-raung.
Jongdae yang berada di sebelah Wufan menyenggol lengan Wufan, "Apa tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghiburnya, hyung?"
Wufan, yang memang tak ingin ikut campur masalah para ehm gay mengedikkan bahunya, "Molla."
Masalah Yixing saja sudah membuat kepalaku hampir pecah –pikir Wufan.
"Sehun, Sehun! Lihat, Jongdae tak pakai celana dalam!"(?)
"Hun! Lihat, itu Miranda Kerr sedang bagi-bagi angpao!"(?)
"Sehun! Lihat, gigi Chanyeol ompong!"(?)
Segala macam bujukkan sudah dicoba oleh tiga megaphone, namun gagal. Sehun tak bergeming.
"Huwaah! Apa yang harus kita lakukaaan..!" pekik Baekhyun frustrasi akhirnya. Ia memukul-mukul pelan lengan Chanyeol dan Jongdae, kebiasaannya bila sedang frustrasi.
Jongin yang sedari tadi diam, akhirnya mencetuskan sebuah ide.
"Nyatakan perasaanmu sekali lagi padanya. Kali ini perbaiki kata-katamu."
Mendengar ucapan Jongin, Sehun segera mendelik padanya. "A..pa..?"
Jongin menjitak kepala Sehun sekali lagi, "Kubilang kau harus menyatakan perasaanmu padanya sekali lagi! Kali ini pikirkan baik-baik kata-kata yang akan membuatnya menyadari perasaanmu!"
Sontak, Sehun merasa diberi sebuah harapan. Berterima kasihlah pada peri Jongin.
Sehun mengatupkan kedua bibirnya, kemudian meraih lengan para hyungnya.
"Kumohon bantulah aku!"
"MWO?!"
.
.
.
.
.
.
Terlihat seorang namja dengan wajah terlalu cantik untuk ukuran lelaki tengah duduk berpangku tangan dan menyoret-nyoret bukunya tanpa mempedulikan kyosunimnya yang sedang berbicara di depan.
'..Oh..Se..Hun..' gumamnya sambil terus menyoret-nyoret di atas buku tulisnya.
Sesekali terlihat wajahnya yang sedih, murung, dan penuh penyesalan.
'Apa yang telah kulakukan.. Apakah Sehun akan membenciku..? Uuh..' Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan bulir air mata yang akan keluar dari kedua matanya. Nampaknya ia sedang menyesali perbuatannya pada Sehun beberapa hari lalu.
Luhan menyadari bahwa ia mungkin telah berlaku kasar pada Sehun. Padahal ia tahu bahwa Sehun benar-benar perhatian padanya. Mengapa ia bisa lepas kontrol seperti itu?
Namun ia juga tidak memungkirinya bahwa ia tak suka bila Sehun berkata seakan-akan dirinya tak boleh berbicara dengan Doojoon yang sangat dikaguminya.
'Uuh.. Apa yang harus kulakukan, Tuhan..?' Luhan membenamkan kepalanya ke atas buku-bukunya.
Tanpa Luhan sadari, roommate-nya melihat semua kelakuannya.
Minseok, menyadari ada yang aneh dari Luhan semenjak hari di mana ia bilang habis pulang membeli bubble tea bersama Sehun.
Sejak saat itu Luhan tak pernah lagi bercerita tentang Sehun. Setiap kali Minseok bertanya, Luhan selalu mengalihkan pembicaraan atau pun menjawab tidak apa-apa.
Karena rasa penasarannya yang besar, Minseok memutuskan untuk bertanya pada Jongdae. Ia bertanya saat itu juga(?).
Minseok mengirimkan pesan pada KKT Jongdae yang berbunyi, 'Apa kau tahu ada apa dengan Luhan dan Sehun?'
Tak sampai 5 menit, Minseok mendapat balasan dari Jongdae.
'Ada sesuatu. Oh, ya, kau mau membantu mereka, hyung? Lebih tepatnya sih membantu Sehun. Katakan iya! Aku juga ikut membantunya kekeke.'
'Eum asal kau janji akan menceritakan masalahnya setelah ini. Iya, aku akan membantu.'
Terkirim.
Kling! /sfx: bunyi chat masuk/
Dan setelahnya sebuah senyum mengembang dari bibir Minseok.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Joonmyeon-ssi, ini surat izin untuk kejuaraan nanti."
"Ah, ne, kamsahamnida."
"Kalau begitu aku pamit dulu."
Brak.
Pintu ruang BEM ditutup. Meninggalkan sang ketua kembali sendiri berkutat dengan kegiatannya. Mengurusi perizinan untuk kejuaraan nasional seminggu lagi.
"Hmm.. Baiklah, akan kuminta stempel secepatnya." gumamnya mengingat-ingat hal yang harus dilakukan selanjutnya, meminta stempel persetujuan dari Universitas.
Yap, hal seperti ini memang sudah menjadi tugas sang ketua. Meminta perizinan, mengurus kepanitiaan, maupun yang lainnya.
"Hmm.. Soundsystem, check! Stage, check! Hadiah, check! Trophy, check! Festival.. Ah, ya! Festival..!" Joonmyeon membelalakkan kedua matanya.
"Aigoo, mengapa aku sampai lupa dengan ini..!" ujarnya sambil memukul pelan kepalanya. Ia melupakan festival yang seharusnya adalah event tak terlupakan semua mahasiswa.
"Hmm.. Tunggu.. Mwoya?! Crossdressing?!" matanya kembali terbelalak saat menemukan tulisan 'all committees MUST participate with crossdressing event. (one representative per 2 person) '.
Sepertinya ketua BEM mengalami kejang-kejang saat ini. Dia tak tahu menahu tentang event ini. Ah, pasti bagian kreatif dan acara itu yang membuatnya.
"Gyaaaah! Per 2 person? Dengan siapa aku akan mengikutinyaa..?! Dan siapa yang mau ber-crossdress–"
Tok! Tok!
Ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Y-ya, silakan masuk."
Cklek.
Ah, ternyata Kyungsoo.
"Hyung, apa sudah selesai? Aku bawa sandwich, mari kita makan bersama!" Kyungsoo tersenyum manis pada Joonmyeon yang masih terpaku akibat crossdressing.
"Kyungie-ya, ayo pergi denganku ke festival!" tanpa ragu-ragu, Joonmyeon segera meminta Kyungsoo untuk pergi bersamanya.
"–Ee?" tentu saja Kyungsoo terkejut. Ia memang sudah terbiasa pergi bersama Joonmyeon ke festival, seperti tahun lalu. Namun pasti dirinyalah yang meminta agar Joonmyeon pergi bersamanya.
Joonmyeon mengangguk cepat, "Baguslah! Kalau begitu kau ikut event ini, ya?" ujarnya sambil menyerahkan kertas bertuliskan event crossdressing itu.
Kyungsoo mengambil dan membacanya.
Tiga detik.
Lima detik.
Delapan detik.
Sepuluh detik.
Lima bel–
"Baiklah, hyung."
–eh? Apa?
"Baiklah, hyung. Aku akan mengikutinya." ujar Kyungsoo sambil tersenyum lebar.
KLENENG KLENENG. Kau terselamatkan, Joonmyeon.
"Aaaa jeongmal?! Kau memang top markotop!"(?)
Kyungsoo terkekeh melihat reaksi Joonmyeon yang begitu lucu dan atraktif(?).
Ia melihat sesuatu di leher Joonmyeon bergoyang-goyang ke sana ke mari.
Kyungsoo kembali tersenyum. Ia menggenggam erat kalung puzzle-nya dari balik kerah bajunya. 'Aku senang akhirnya kau kembali menjadi Joonmyeon yang kukenal.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC XD
aaaa jangan timpuk aku jangaaaan/?
maafkan aku huhu sungguh maafkan keterlambatanku;-; dan maaf juga ini sedikit T^T soalnya kalau banyak nanti keburu-buru dan ga dapet feelnya/? /gaya /dor wkwk
adaaaa aja rintangan/? buat ngetik huhu sekali lagi maafkan daku ;-;
aaaa makasih buat yang masih setiaaa aku sayang kalian:") tentu aku juga menyayangi kalian semua tanpa kecuali {} /? wkwk
yaudah, next akan lebih kutingkatkan/?
last word, tengkyuh;*
a/n: pasangan amoeba = chanbaek
