"–Hari Minggu lalu Tao bilang padaku bahwa kau sedang kencan dengan teman sekamarnya, apakah itu benar?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

title: boffins's life

Disc: all charas belong to God.

Cast: EXO members

Other cast: find out!

Genre: friendship, romance, university(?) life, humour

Warning: YAOI. BL. shounen-ai. don't like don't read.

yihaaa maap ya kemaren dikit (lagi-lagi) kali ini dan seterusnya panjang sungguh XD wkwk

oke2 aku tau ini emang belom ada sulay+taoris sama sekali T^T mohon bersabar dan menunggu oke/? semua akan indah pada saatnya/? /halah wkwk XD

sebenarnya misi tersembunyiku adalah menyampurkan semua ideku di dalam cerita ini, jadi maap kalo kesannya ada yang maksa dan agak maksa/? /lah

yaudah gamau kebanyakan bacot, presenting chapter 13!

enjoy~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Health-sciences faculty, Seoul National University

14.01 p.m.

KLING! /sfx: bunyi chat masuk/

Turunlah, hyung! Aku sudah di depan fakultasmu! Kuhitung 1-10 yaa..

Minseok membelalakkan kedua matanya begitu membaca chat yang masuk dari Jongdae. Menghitung satu sampai sepuluh?

KLING!

Satuu..

Minseok masih terpaku.

KLING!

Duaa..

KLING!

Tigaa..

KLING!

Empaat..

KLI–

PLOK!

"Hey, yaa!"

Sebuah tangan menyentuh pundak Minseok.

"Eih, jangan mengagetkanku, Lu!" Minseok segera menolehkan kepalanya dan menemukan teman berbagi kamarnya sedang tertawa kecil. Sungguh perubahan sikap yang hebat.

"Kenapa diam saja? Ayo kita keluar." Luhan berisyarat untuk mengajak Minseok keluar kelas, namun Minseok teringat akan sesuatu.

P.S: jangan sampai Luhan-hyung tahu.

Setidaknya ia bukan orang yang payah dalam mengingat. Ia teringat dengan pesan Jongdae barusan.

"Ah-aniya, kau duluan saja!" ujarnya sambil mengeluarkan cengiran pada Luhan yang sedang berjalan menuju pintu.

Luhan membalikkan badannya, "Waeyo? Apa ada sesuatu yang akan kau lakukan terlebih dahulu?"

HE.

Mengapa temannya ini pintar menebak.

Minseok sedikit terlihat gelagapan menjawab pertanyaan Luhan. "Apa terlihat sebegitu anehnya bila aku memintamu pulang terlebih dulu?"

Dapat terdengar dengusan kecil dari Luhan. Ia sepertinya menyerah berdebat dengan Minseok. "Ah, ye. Baiklah, tapi jangan salahkan aku bila nanti saat kau pulang kau tak akan menemukan cheese cake-mu." ujarnya seraya berlari kecil meninggalkan Minseok.

"Yaaa! Aish!" pekik Minseok sambil mengacak rambutnya pelan. "Jongdae, belikan aku cheese cake!" lanjutnya sambil menatap ke arah layar smartphone-nya dan–

Aku sudah menghitung sampai 10 beberapa kali, kalau kau tidak keluar juga aku akan menghampirimu dan menggendongmu seperti waktu itu.

Blush!

For God sake! Anak ini berani berkata begitu yang bahkan ia tak memakai embel 'hyung' padaku? –pikir Minseok geram. Tidak sepenuhnya geram karena seluruh wajahnya telah berubah warna menjadi merah.

KLING!

Turunlah, atau selain menggendongmu aku akan menciummu. Ini peringatan terakhir.

Tak berpikir lama, Minseok segera menyambar ranselnya dan berlari tergesa-gesa.

.

.

Dirinya menemukan sosok Jongdae sedang berdiri memunggungi sebuah patung yang menjadi simbol fakultas kesehatan. Memakai hoodie berwarna hitam, rambut yang dibuat gaya spike yang entah mengapa membuatnya makin terlihat mempesona –eh kau gila, Minseok!

Minseok mengambil napas dalam dan membuangnya sejenak sebelum akhirnya menyentuh pundak Jongdae dari belakang.

"H-hey."

Tak disangka, Jongdae langsung menggenggam jemarinya. "Hyung?" dengan perlahan ia menolehkan kepalanya dan menemukan sosok yang sedari tadi ditunggu.

Minseok menyeringai grogi. "N-ne, ini aku! Tadaah!"(?)

Dengan jemari mereka yang masih tertaut, Jongdae terkekeh pelan melihat Minseok yang mulai ber-aegyo. (itu menurut Jongdae)

Namun sedetik kemudian, Jongdae mengubah raut wajahnya menjadi masam. "Huh, aku sudah bilang dalam hitungan 10 kau harus cepat turun." rajuknya.

"Aah, mianhae.. Tadi Luhan sempat menahanku sebentar, jadi.." ujar Minseok sambil menatap ke arah lain, sedikit takut.

Jongdae segera tertawa sedikit keras melihat ekspresi Minseok yang layaknya orang ketakutan. "Gwaenchana! Wajahmu lucu sekali, hyung!" ujarnya masih sambil tertawa.

Minseok mengerucutkan bibirnya, "Wajahmu juga lucu, kotak!" cibirnya.

Bukannya berhenti, Jongdae malah tertawa semakin keras.

Minseok masih terus mencibir, hingga ia menyadari sesuatu.

"J-Jongdae-ya, ini.." ujarnya menunjuk tautan jemari mereka.

"Mwo?" Jongdae memasang wajah seolah-olah tidak tahu menahu dan malah semakin mengeratkan tautan mereka.

Minseok sudah tahu hal ini akan menambah rona merah di wajahnya. Ia tak ingin dianggap orang-orang seperti orang yang sembelit. (aa xiu, aylopyu muah)

TRRIIT!

Minseok terselamatkan oleh dering telepon.

"Yeob–"

"YAAAH! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?! CEPAT KEMBALI!"

Mari berdoa untuk telinga Jongdae dan Minseok.

Jongdae refleks menjauhkan ponselnya sambil meringis, sementara Minseok menutup kedua telinganya. Tautan mereka terlepas akibat terkejut dengan teriakan tersebut. Ah, siapapun yang berteriak, terima kasih!

"Baiklaaah aku akan segera–"

"HOI KOTAK TV! JONGIN AKAN MENCERITAKAN SESUATU YANG HEBOH, CEPAT KE SINI!"

Lagi-lagi.

Jongdae bersumpah ia tidak mengatur panggilannya dalam mode speaker.

"AISHHH! AKU AKAN TIBA DI SANA DALAM WAKTU LIMA MENIT!"

Dan tanpa berperike-ponsel-an, Jongdae menekan kuat tombol end call.

"Dasar speaker hidup mereka berdua itu, aishh!"

Seseorang tolong bangunkan Jongdae.

Jongdae melirik Minseok yang masih menutup kedua telinganya dengan kedua mata yang menutup. Ia terkekeh sebentar.

"Sudah, hyung." Jongdae menyentuh dan menjauhkan kedua lengan Minseok dari telinganya. "Gwaenchana? Maklum saja, mereka sedang dalam mode normal."

Minseok merasa dadanya sedikit bergemuruh saat menerima perlakuan Jongdae yang begitu gentle. "No-normal?"

Jongdae tertawa seraya menganggukkan kepalanya, "Yup. Sepertinya kau harus menghabiskan waktu bersama mereka kapan-kapan."

Minseok terdiam sesaat kemudian memukul pelan lengan Jongdae dan tertawa. "Not a bad idea!"

Jongdae merasa dirinya ikut tertawa saat melihat tawa Minseok yang oh-so-cute. "Dan itu dimulai dariku."

Minseok menghentikan tawanya, dan menatap Jongdae sambil memicingkan kepalanya, "Apa?"

Jongdae malah menyubiti kedua pipinya. "Ayo, hyung! Sebelum dua orang itu menulikan telinga kita!" ujarnya sambil menyambar jemari Minseok dan berlari kecil meninggalkan fakultas kesehatan menuju gym.

.

.

.

.

Delapan orang sudah berkumpul di dalam ruang ganti klub basket. Termasuk Minseok dan Jongdae di dalamnya. Serta Yixing yang dipanggil khusus untuk kali ini.

Jongin yang duduk di antara Sehun dan Baekhyun membuka suaranya, "Ehem. Sebelum kita melakukan tugas, bolehkah kau mempersilakanku untuk bercerita dahulu, tuan Oh Sehun?"

Sehun memandang Jongin dengan tatapan banyak-gaya-sekali-kau, "Ya ya ya, izin didapatkan." ujarnya sambil mendengus pelan.

Jongin hanya membalasnya dengan sebuah tawa yang cukup keras. Nampaknya ia sendiri merasa geli dengan apa yang telah ia katakan barusan.

Sebelum Jongin melanjutkan kata-katanya, Minseok mengangkat tangannya. "Apakah aku boleh mendengarnya juga?" tanyanya ragu-ragu. Sebab ia menganggap bahwa dirinya adalah 'orang luar'.

Jongin tersenyum, "Tentu saja, hyung! Memangnya apa alasan untuk tidak memperbolehkanmu?"

"Ah, ne.. Kupikir ini adalah pembicaraan klub atau pribadi yang tak boleh kudengar seenaknya..". "Tenang saja, jika itu pembicaraan pribadi Jongin maka didengar oleh seluruh dunia pun tak menjadi masalah, iya kan?" celetuk Yixing tiba-tiba sambil menatap Jongin disertai dengan cengiran.

Jongin mengangguk-angguk. Sehun menjitaknya dan membisikkan sesuatu. Kemudian Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu juga, hyung.." ujarnya seraya memanyunkan sedikit bibirnya.

Minseok hanya tersenyum kecil pada Yixing yang baru sekitar lima menit dikenalnya.

"Nah, bisakah aku memulainya?" Jongin kembali membuka suaranya dan disahuti oleh anggukan yang lain.

"Wufan-hyung, Yixing-hyung, ingatkah kalian bahwa aku sudah berjanji akan bercerita tentang kejadian Joonmyeon tempo hari?"

Wufan dan Yixing membulatkan bibir mereka, kemudian akhirnya mengangguk. Sepertinya mereka lupa.

Belum sempat Jongin melanjutkan, Chanyeol memotongnya, "Ah, ya! Aku lupa, aku butuh penjelasan darimu, Jong! Hari Minggu lalu Tao bilang padaku bahwa kau sedang kencan dengan teman sekamarnya, apakah itu benar?"

DEG!

Mendengar nama Tao, secara refleks Wufan menaikkan sebelah alisnya. Apalagi nama itu keluar dari bibir Chanyeol.

"Tenang, hyung. Yang akan kuceritakan juga berhubungan dengan pertanyaanmu." jawab Jongin masih sambil tersenyum. Nampaknya anak ini sedang dalam mood yang baik.

Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya antusias. Nampaknya ia begitu penasaran dengan cerita Jongin. Ekspresi seperti ini juga tak jauh berbeda dengan yang lainnya, kecuali Sehun dan Wufan. Sehun memang sudah tahu dan mengerti amat dalam(?).

Wufan?

Pikirannya sedang tercampur dengan hal-hal menyangkut Chanyeol dan Tao. Mengapa ia memikirkannya juga ia tak mengerti. Apakah ini efek samping dari menghindari Tao semenjak kejadian di gym beberapa minggu yang lalu?

"Jadi begini–"

.

.

.

.

.

.

Student's Dorm, Seoul National University

14.44 p.m.

Kamar bernomor 598 yang berada di lantai lima gedung tiga SNU berada di hadapan Kyungsoo saat ini. Sebuah tempelan gambar panda dan pororo terhias di depan pintu. Kyungsoo selalu tersenyum mengingat saat pertama ia menempelkan stiker itu.

Buru-buru menampik lamunannya, Kyungsoo merogoh ke dalam ranselnya untuk mencari kunci kamarnya.

Cklek!

"Aku pu–"

Kyungsoo terkejut melihat sosok roommate-nya sedang duduk manis di atas sofa sambil menonton televisi.

"Tao-ie?"

Tao tak bergeming.

Merasa ada yang salah dengannya, Kyungsoo segera menghampiri dan mendudukkan dirinya di samping Tao.

"Bukankah seharusnya kau latihan? Latihan dibatalkan? Atau kau membatalkan sendiri latihanmu?" tanya Kyungsoo pada Tao yang masih terlihat fokus menatap ke arah televisi.

Merasa tak diacuhkan, Kyungsoo menyentuh bahu Tao. "Sana, kembalilah berlatih. Bukankah kejuaraan minggu depan? Jangan me–"

Tak diduga, Tao malah memeluk Kyungsoo sambil terisak, "Whaaa! Apa yang harus kulakukan, Kyung..?!"

Kyungsoo tentunya memasang tampang terkejut. Namun kemudian ia langsung mengelus pelan punggung Tao, berusaha menenangkannya.

"Apa yang terjadi, Tao..? Tenanglah.." ujarnya menenangkan Tao.

Tao masih terisak di pelukan Kyungsoo.

Sadar bahwa menangis mungkin adalah yang Tao butuhkan saat ini, Kyungsoo membiarkannya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Tao melepaskan pelukan. Namun ia masih sedikit terisak sambil meringkukkan tubuhnya di atas sofa.

"Sekarang bisakah kau beritahu ada apa, Tao?" tanya Kyungsoo kembali setelah ia memberikan Tao segelas air dan beberapa lembar tisu untuk menghapus air matanya.

Dengan terisak, Tao akhirnya membuka suaranya. "A-aku..tak yakin bisa melakukannya.."

Kyungsoo mendekati tubuh Tao untuk dapat mendengar lebih jelas ucapan Tao yang begitu pelan, "Apa?"

"Aku tak yakin bisa melakukannya..! Kejuaraan itu.. Kemenangan..! Argh, mengapa semua orang begitu mempercayakan ini padaku..?!" Tao membenamkan kepalanya.

Kyungsoo kembali terkejut mendengar keluh kesah Tao. Ia tidak menyangka bahwa Tao merasakan tekanan yang amat kuat dari kejuaraan itu. Ia mengerti, sungguh mengerti dengan perasaan Tao. Memang tidak akan mudah menjadi orang yang harus memikul beban dan tanggung jawab berat.

Sepertinya saat ini Tao sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Dan beruntung, Kyungsoo baru saja menguasai hal itu dalam kuliah kemarin.

"Tao-ya.. Aku mengerti perasaanmu.." Kyungsoo kembali mengelus punggung Tao, memberikan ketenangan.

"Aku ingin kau mendengarkan hal ini. Orang-orang yang mempercayakan kejuaraan dan kemenangan padamu pasti tahu bahwa kau akan mampu mewujudkannya. Kau mampu melakukannya. Kau bisa. Mengapa orang-orang percaya akan itu namun kau sendiri tidak?" lanjutnya.

Perlahan namun pasti, Tao mengangkat kepalanya. Dan menatap ke arah Kyungsoo yang sedang tersenyum dengan mata yang masih berair.

"Kau harus percaya bahwa kau memang bisa! Kau tak ingin mengecewakan semua yang sudah percaya padamu, bukan?"

Tao mengusap kasar air matanya.

"Kau tak ingin papa mama, seonsaengnim, teman-teman, dan bahkan aku merasa sedih, bukan?"

Tao menggeleng pelan.

"Kalau begitu ayo menangkan kejuaraan itu!" Kyungsoo menepuk pelan kepala Tao sambil tersenyum. Senyuman yang menenangkan.

Sedikit demi sedikit sebuah senyuman terurai dari bibir Tao. "Ne! Aku pasti akan memenangkan kejuaraan!" ujarnya sambil mengepalkan tangannya ke udara.

Kyungsoo mengangguk senang dan mengacungkan kedua ibu jarinya.

"Ah! Sebaiknya aku segera berlatih! Gomawo, Kyungie-ya! Saranghae!" Tao beranjak dan meraih ranselnya terburu-buru menuju pintu dan menutupnya sedikit keras, mengingat ia sudah terlambat beberapa menit untuk latihan.

Sedangkan Kyungsoo tersenyum puas melihat Tao yang kembali seperti semula.

"Tidak buruk. Apa sebaiknya hal itu kukatakan juga padamu, hyung?" Kyungsoo kembali menggenggam kalung puzzle-nya.

Sedangkan Tao yang sedang berlari menuju lift teringat akan sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.

'Aku lupa berkata tentang orang itu.'

Tao memutuskan akan bercerita pada Kyungsoo lagi saat pulang nanti.

.

.

.

.

.

15.03 p.m.

"Joonmyeon-ssi, bagaimana dengan songwriter-nya? Kita membutuhkannya untuk lagu tema festival kali ini."

"Ah, Joonmyeon-ssi, pelatih para guitarist mengalami cedera di lengannya. Kita butuh pelatih baru untuk lagu festival."

"Joonmyeon-sunbae, bagian dapur kekurangan koordinator untuk stand-stand."

"Joon–"

"Aku tahu itu! Tolong beri waktu sebentar!" pekik Joonmyeon sambil memijat pelipisnya yang terasa begitu pening. Pada saat ini lah ia berpikir menjadi seorang petani lebih baik daripada ketua.

"Mohon dipercepat!"

"Ne! Kami benar-benar membutuhkannya segera!"

"Terlambat sedikit saja maka acara akan kacau..!"

"Baiklah, baiklah! Dia! Dia adalah jawaban kalian!"

Joonmyeon bangkit dari duduknya, dan menunjuk ke arah luar jendela dari dalam ruangan.

"Ah, dia? Baiklah, akan kubawa ia ke hadapanmu segera!" Dongwoon, salah seorang panitia yang sedang berbicara dengan Joonmyeon keluar ruangan dan menghampiri seseorang yang secara tidak sengaja ditunjuk oleh Joonmyeon barusan.

Apa?

Ya, Joonmyeon, kau telah menunjuk seseorang di luar sana.

'A-apa?! Aku benar-benar menunjuk seseorang?!' pekik Joonmyeon dalam hati.

Joonmyeon tidak bermaksud untuk menunjuk siapapun, ia hanya menunjuk sembarang arah. Dan sial atau mungkin untungnya, ia tepat menunjuk seseorang.

"A-ada apa ini?". "Sudahlah, ikut saja."

Joonmyeon dapat mendengar suara seseorang bersama Dongwoon di luar pintu.

Cklek!

"Aku telah membawa orang yang kau maksud, Joonmyeon-ssi."

DEG!

'JOONMYEON?!'

Seseorang yang dibawa oleh Dongwoon mendadak menganga lebar begitu melihat sosok Joonmyeon yang berada di balik meja.

Orang itu juga sedikit merona saat Joonmyeon menghampirinya perlahan. Ia mendengar dengusan kecil dari Joonmyeon sebelum berjalan menghampirinya.

"Maaf, siapa namamu?"

"Z-Zhang Yixing."

.

.

.

.

.

Beberapa menit sebelumnya.

"Huwah! Kau sungguh beruntung!"

"Kyaaahh! Aku berani bertaruh pasti di balik tampang cool yang kau perlihatkan sebenarnya kau grogi setengah mati, bukan?!"

"Ahahahaha! Kau benar-benar frontal!"

"Aigoo, Jongin, you're really doing a first move!"

"Hahaha! Aku suka sekali caramu, Jong!"

Chanyeol, Baekhyun, Jongdae, Minseok, dan Yixing begitu heboh saat cerita Jongin berakhir. Chanyeol menepuk-nepuk pundak Jongin berkali-kali, Baekhyun menepuk-nepuk lengan Jongin, Jongdae tertawa keras, Minseok mengacungkan kedua ibu jarinya, dan Yixing menepuk tangannya dengan girang.

"Ehm, aku ingin tanya. Kyungsoo yang ada dalam ceritamu benarkah itu Kyungsoo yang waktu itu kita lihat sedang bersama dengan umm Joonmyeon?" Wufan bertanya sambil melirik ke arah Yixing saat ia mengucapkan nama 'Joonmyeon'.

Jongin mengangguk mantap, sekaligus ia ingin membuktikan bahwa Kyungsoo itu miliknya(?). "Ne!"

"Aku pernah mengobrol dengannya sekali. Saat itu ia bercerita tentang temannya yang seorang atlet wushu." Wufan sedikit menekankan nada pada kata 'wushu' sambil menatap Chanyeol yang malah disambut dengan cengiran tak berdosa darinya.

Jongin menyipitkan kedua matanya, "Benarkah hanya tentang itu?"

Wufan tertawa kecil. Nampaknya ia kini tahu bahwa hoobaenya sedang merasa cemburu. "Kalau aku bilang lebih dari itu bagaimana?"

"Then you have to make sure where the nearest hospital is."

Ancaman Jongin membuat Wufan harus kehilangan keseimbangannya. Ia tak menyangka bahwa Jongin mampu mengancam seperti itu.

Wufan menatap Jongin dengan bingung.

Sedetik kemudian Jongin menyeringai, "Bercanda, hyung! Kau sudah tahu bahwa aku menyukai Kyungsoo-hyung, kau tentu tak akan menyakiti hoobaemu sendiri, bukan? Hehehe!"

DEG!

Ugh, yang dikatakan Jongin memang benar. Walaupun Wufan terlihat seperti seseorang yang dingin dan angkuh, namun sebenarnya ia memiliki rasa sayang yang luar biasa. Ia menyayangi seluruh teman dan hoobaenya tanpa kecuali. Err walaupun mereka sedikit menyimpang.

Wufan hanya mengusap tengkuknya dan tersenyum kecil menanggapi ucapan Jongin.

"Oke! Sekarang waktunya untuk misi!"

Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae dengan cepat mengeluarkan secarik kertas dari kantung mereka masing-masing.

"TARAAAH~!"

Jongin, Minseok, Yixing, dan Wufan melebarkan kedua mata begitu membaca tulisan yang tertera di atas kertas masing-masing tiga megaphone itu.

LIVE –kertas yang dipegang Baekhyun.

PERFORMANCE –kertas yang dipegang Chanyeol.

CONFESSION –kertas yang dipegang Jongdae.

Lalu mereka serempak menatap Sehun.

"SERENADE?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC XD

huahahahaha harusnya ini digabung aja sama yang kemarin yaa wkwk /plak

ciyus, ini pendek terakhir, chapter depan panjang nih soalnya mau buat pernyataan cinta sehun yang lebih panjang dan berarti/? wkwk mohon doa restunya XD ya silakan nasi kotak di sebelah sana/?

chapter depan sepertinya bakalan full hunhan /gak/ ya mungkin 70% hunhan /plak XD

bersemedilah kalian hunhan shipper! /jegerr termasuk saya! /jegerr lagi/? ngga deh saya mah adjie-nyunyun shipper /jegerr kembali

btw, mau nyampein turut bersuka cita atas kembalinya om adjie di kancah per-ffn-an!/? OM, TURUT BERSUKA YA ATAS KE-FANBOY-ANMU /party hard/

ohiya itu tao udah ngasih hint tuh /apaan wkwk

aku sengajaaa sengajaa buat si sudo jadi misteri \m/ wkwk

haf, lain kali aku mau buat drabble lagi deh :") jadi kepengen wkwk /lanjut dulu ini woy XD

dan makasih lagi buat yang masih mau nongkrong di sini:") kapan2 kita nongkrong bersama sambil baca nc oke? /dor

last word, tengkyuh;*