Shingeki no Kyojin / Attack on Titan

Fanfiction by Makoichi

ERURI AU

"My Psychopath"

Illustration by Ian (Pixiv ID 2175316)


"Kau tahu Levi? Ketika seseorang sedang panik, dia akan membatu untuk beberapa menit!"

Levi melirik Hanji dengan tajam. Hanji hanya tertawa terbahak-bahak dengan omongannya sendiri. Levi yang sedang bosa memperhatikan ceramah dosennya, kini dia makin pusing dengan omongan Hanji yang terus menggebu di telinganya. Mike menepuk pundak Levi dan mengendusnya seperti biasa.

"Levi... Kau keramas 4 kali dalam sehari ini ya?"

Hanji tertawa kembali sampai satu kelas meliriknya dan menyuruhnya untuk diam. Levi menatap Mike dengan aura membunuh.

"Kau tidak perlu mengatakannya."

Tak lama kemudian, kelas pun berakhir sore hari. Levi seperti biasanya, pulang terlebih dahulu dan meninggalkan Hanji dan Mike. Teman Levi hanyalah mereka. Karena hampir semua orang tidak menyukai Levi yang dingin, egois dan anti-sosial.


Levi pulang ke rumahnya yang kecil namun sangat bersih dan nyaman. Hobi Levi memang agak unik. Biasanya, orang akan melakukan hal yang membuat mereka relax disaat senggang, tapi Levi akan segera mengeluarkan peralatan rumah tangga dan membersihkan rumahnya. Karena rumahnya kini dalam keadaan bersih total, dia tidak tahu harus berbuat apa.

Dia melihat isi kulkas, makanan masih ada dan segar. Dia melihat ke halaman depan, tamannya sudah dia siram. Dia melihat kaca jendela rumahnya, kacanya sudah mengkilap bagai permata. Levi benar-benar tidak tahu harus apa hari ini. Akhirnya dia menonton televisi.


Televisi masih menyala, Levi yang sedang menonton televisi malah ketiduran. Dia pun bangun dan melihat kearah jam, ternyata sudah jam 9 malam. Perutnya tiba-tiba berbunyi, dia agak lapar. Levi tidak punya waktu untuk membuat makan malam jam 9, sedangkan makanan yang ada di kulkas semuanya mentah. Dia akhirnya memutuskan untuk membeli makanan dari luar.

Levi menelusuri jalan-jalan malam yang dingin. Dia memakai mantelnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba dia melihat sosok yang tidak asing di matanya, Mike. Dia menghampiri Mike yang sedang membawa satu kantong keresek besar berisi bir kaleng.

"Kau mau pesta, Mike?"

"Ah, tidak, tidak. Ini hanya untuk persediaan saja."

"Begitu. Kenapa kau membelinya jam segini?"

"Soalnya temanku datang tiba-tiba. Jadi aku membelinya juga mendadak."

"Teman? Hanji?"

"Bukan, bukan. Kalau dia yang bertamu, aku tidak akan serepot ini. Dia baru datang dari luar negeri. Teman sejak kecilku."

"Kau punya teman sejak kecil?"

"Tentu saja aku punya. Aku tidak sepertimu."

Levi membuang muka dengan tatapan jengkel. Dia kembali menoleh Mike, "Aku pergi dulu." Levi berjalan menjauhi Mike, lalu dia melambaikan tangannya tanpa melihat kearah Mike, "Sampaikan salamku pada teman kecilmu itu."


Keesokan harinya. Levi sudah masuk kelas siang, disusul oleh Hanji yang datang setelahnya. Hanji membawa buku-buku aneh dan yang sulit dimengerti untuk menghilangkan rasa bosannya.

"Hei, Hanji." ucap Levi. "Kau tahu kalau Mike punya teman sejak kecil?"

Hanji menatap Levi dengan pandangan kosong yang bodoh, "Levi... Tentu saja semua orang punya teman sejak kecil. Aku juga punya banyak."

Levi membuang muka, "Oh... Berarti hanya aku di dunia ini yang tidak mempunya teman sejak kecil."

"Tumben kau mendebatkan masalah seperti ini. Memangnya kenapa?"

"Entahlah. Mike sepertinya akan melakukan apa saja untuk menyenangkan teman sejak kecilnya itu. Atau mungki Mike sebenarnya diperbudak olehnya."

Hanji tertawa, "Levi, teman tidak memandang budak atau apapun itu. Tapi kesetiaan dan balas budi. Kau akan menyesal nanti jika tidak punya teman."

"Begitukah? Berarti kalian harus membalas budi padaku suatu saat."

Hanji bermuka panjang, "Balas budi apanya? Kau saja seperti seonggok patung yang berdiri di depanku dan Mike."

Ketika mereka sedang mengobrol, Mike datang dengan wajah pusing. "Ah, kalian sudah datang duluan."

Hanji mengipasi Mike dengan bukunya, "Kenapa kau, Mike? Wajahmu pucat begitu."

"Dasar." Mike menggosok wajahnya pelan dengan kedua tangannya, "Dia benar-benar hardcore."

Hanji penasaran, "Hah? Siapa?"

"Temanku. Tadi malam dia datang. Aku sempat minum-minum dengannya."

Levi menoleh, "Oh, teman sejak kecilmu itu ya?"

"Eh?" Hanji kaget dan menoleh kearah Levi, "Jadi kau menanyakan tentang teman masa kecil karena kau bertemu dengan Mike kemarin ya?" Hanji menoleh kembali kearah Mike, "Siapa dia?"

"Rumahku dan rumahnya dulu bertetangga. Kami teman sejak SD hingga SMA. Tapi dia meneruskan perguruan tingginya di luar negeri."

"Waw! Hebat!" Hanji benar-benar tertarik dengan teman Mike.

"Mike!" terdengar suara dari pintu kelas.

Mereka bertiga menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang memanggil Mike.

Mike berdiri kaget, "E—Erwin! Kenapa kau kesini?"

Levi dan Hanji serempak, "Erwin?"

Laki-laki bernama Erwin itu menyuruh Mike untuk keluar sebentar. Dan seperti biasa, Hanji yang gampang penasaran mengikuti Mike dan bersembunyi untuk melihat mereka.

Erwin tersenyum, "Aku akan tinggal di rumahmu seminggu lagi. Tidak apa kan?"

Mike menggaruk kepalanya, "Erwin, aku sudah bilang, besok aku akan pergi untuk program studi. Dan aku akan menghabiskan waktu 3 minggu disana."

"Kalau begitu, biar aku aku tinggal di rumahmu sendiri."

Mike mengguncangkan pundak Erwin, "Jangan! Jangan! Kau malah akan membuat tempatku lebih berantakan dan lebih parah dari biasanya!"

Erwin menyipitkan matanya, "Apa sih? Kau seakan-akan menganggapku sumber bencana." Erwin melepaskan tangan Mike dari pundaknya, "Lalu aku harus tinggal dimana? Aku tidak punya kenalan lagi disini. Kalau pulang ke kampung halaman kita, aku bisa menghabiskan 4 jam di jalan untuk pulang pergi."

"Kenapa kau tidak ke hotel saja?"

"Tidak. Mahal."

Mike kembali mengguncangkan pundak Erwin, "Kau ini pelit sekali! Padahal sudah hampir kaya raya juga!" tiba-tiba Mike terdiam dan wajahnya tersenyum lebar, "Aku tahu!" Mike menoleh kearah Hanji yang sedang bersembunyi.

Hanji kaget dengan pandangan langsung dari Mike, "Ja—jangan di rumahku! Aku ini perempuan! Nanti muncul gosip aneh!"

Mike terdiam lalu melirik Hanji dengan santai, "Bukan kau. Panggil Levi kemari."

Hanji tersenyum lebar, "Aku tahu apa yang akan kau rencanakan." Hanji pun pergi untuk menjemput Levi.

Setelah Levi sampai, mereka menjelaskan masalahnya. Levi dengan ketus—seperti biasanya, menolak langsung permintaan tersebut. Dia tidak mau orang asing tinggal dengannya untuk seminggu penuh. Sekalipun itu teman akrab Mike.

Mike mengguncangkan pundak Levi, "Ayolah, Levi! Kasihan temanku ini!"

Erwin agak jengkel, "Hei!"

Mike berbisik pada Levi, "Dia orang yang baik. Dia sangat peka dan sensitif. Dia juga rajin mengerjakan sesuatu. Dia cocok denganmu."

Levi menyipitkan matanya yang tajam lalu melirik Erwin. Dia menggumam tentang Erwin, "Hmm, pakaiannya rapi. Blazer? Pasti orang sibuk. Wajahnya tegas, tapi aku belum tahu pasti. Tinggi sekali orang ini, meskipun tidak setinggi Mike. Tatapannya juga seperti orang bijaksana." Levi menghembuskan nafasnya, "Baiklah. Satu minggu saja, tidak lebih."

Hanji tertawa, "Levi berbaik hati!"


Seperti biasa, Levi meninggalkan Hanji dan Mike terlebih dahulu. Dia buru-buru ke rumahnya karena sebentar lagi akan ada orang asing menginap selama seminggu di rumahnya. Levi merasa ini tidak masuk akal karena dia begitu saja menerima orang yang baru dia kenal. Levi sebenarnya agak enggan menerima teman masa kecilnya Mike, yang bernama Erwin tadi.

Sorenya, pintu rumah Levi diketuk. Levi sepertinya tahu siapa yang mengetuk pintu. Dia selesai membereskan kamar tamu dan bersiap membuka pintu. Ketika pintu dibuka, Mike dan temannya tepat berada di depan Levi.

"Levi. Maaf, kita agak telat. Tadi Erwin baru pulang dari aktifitasnya." Mike meminta maaf.

Levi mengabaikannya dan mempersilahkan mereka masuk. Mike melirik sana-sini dan berpendapat kalau rumah Levi sangat bersih dan nyaman seperti biasa. Sedangkan Erwin hanya tersenyum-senyum melihat rumah Levi. Mike melihat jam tangannya, sepertinya dia harus pulang untuk persiapan keberangkatannya besok. Erwin masih berkeliling melihat rumah Levi sendirian. Mike menepuk pundak Levi dan berbisik.

"Levi. Lebih baik kau jangan membuatnya marah."

"Memangnya kenapa?" tanya Levi dengan nadanya yang datar.

"Dia agak pendendam dan susah diatur. Dia hampir mirip denganmu tapi dia masih dalam level pemula."

"Ho... Maksudmu aku ini di tipe ahli?"

"Bu—bukan begitu. Pokoknya jangan cari masalah."

"Bagaimana kalau dia yang mencari masalah denganku?"

Mike terdiam untuk sesaat, lalu dia tersenyum kaku, "Abaikan saja."

Mike pun pergi. Levi masuk dan menghampiri Erwin yang sedang menatap televisi. Erwin tersenyum kearah Levi.

Dalam hatinya, Levi bergumam, "Orang ini sepertinya tidak berbahaya. Apanya yang harus dikhawatirkan. Mike itu terlalu paranoid pada temannya sendiri."

"Levi kan?" ucap Erwin tiba-tiba.

"Hah? Iya."

Erwin tersenyum, "Maaf ya merepotkan."

"Tidak apa-apa. Mike itu temanku, jadi kau juga temanku." Levi membuang muka.

Erwin terdiam menatap Levi lalu tersenyum, "Oh begitu. Syukurlah."

Levi berjalan dengan cepat menuju dapur dia menggigit kuku jarinya, "Aku tidak mengatakan sesuatu yang aneh kan? Aku tidak pernah menanggapi seseorang seperti itu. Bagaimana kalau aku salah bicara?"

Erwin muncul di belakang Levi, "Umm Levi..."

Levi kaget, Erwin pun kaget. Levi mempersilahkan Erwin untuk duduk di meja makan, karena makan malam akan segera Levi hidangkan.


"Pasta?"

Levi menatap tajam Erwin, "Memang kenapa? Kau tidak suka pasta? Kau mau membeli makanan lainnya?"

Erwin tersenyum kaku, "Ti—tidak usah. Aku suka pasta."

Mereka duduk dengan suasana sangat sepi, mereka makan tapi seakan-akan mereka ada di tempat yang berbeda. Erwin memakan pasta miliknya sambil menatap Levi terus menerus. Levi yang menyadari tatapan Erwin, membalas tatapan itu dengan tajam. Erwin tersenyum.

Makan malam pun sudah selesai. Levi menyuruh Erwin untuk diam saja. Dia bisa mengatasi piring-piring sisa makan mereka. Erwin pun pergi ke kamarnya yang di tunjukan oleh Levi. Di kamarnya, dia langsung membuka telepon genggamnya dan menelepon Mike.

"Halo~?" suara Mike terdengar.

"Mike! Temanmu ini seperti pembunuh saja. Dia terus menatapiku dengan tatapan Sauron miliknya. Jangan bilang kalau dia psikopat."

"Tenang, Erwin. Dia hanya tidak terbiasa dengan orang lain. Dia itu sering sendirian. Jadi jangan ambil pusing. Hiburlah dia. Kalau bisa, kau buat dia tersenyum atau tertawa. Sepertinya Levi dari lahir tidak pernah tersenyum."

"Kalau aku bertemu denganmu, akan aku bunuh."

"Ke—kenapa?!"

Levi muncul di pintu kamar Erwin, "Hey. Kau sudah mau tidur?"

Erwin kaget dan membanting telepon genggamnya ke lantai dengan keras. Jaringan Mike pun terputus seketika. Levi membulatkan matanya sambil melihat telepon genggam yang dilempar oleh Erwin.

"Kenapa?" tanya Levi dengan lirikan tajamnya.

Erwin tersenyum kaku. "Ti—tidak apa-apa. Aku hanya mengecek email dan aku melihat spam. Jadi aku banting."

Levi menyilangkan tangannya, "Kau mau ke ruang televisi? Aku akan membuka botol wine jika kau mau."

Erwin tersenyum, "Oh, terima kasih. Aku akan segera kesana."

Levi pun meninggalkan kamar Erwin.


Di ruang televisi, mereka menonton acara komedi yang cukup terkenal. Erwin tidak bisa berhenti tertawa—sampai dia hampir menangis. Ketika Erwin melirik Levi, Levi menonton dengan wajahnya yang datar dan kerutan halisnya yang tajam. Erwin kini penasaran, apa yang bisa membuatnya tersenyum atau tertawa. Atau mungkin Levi memiliki sindrom aneh yang menahan tawanya.

Sadar ditatapi oleh Erwin, Levi bertanya, "Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Hah? Oh tidak apa-apa." Erwin kembali melihat televisi. "Oh iya, Levi. Kau tahu tidak? Mike pernah mencukur habis kumisnya. Lalu dia pernah disangka perempuan karena wajah Mike saat itu berkilauan dengan pelicin muka."

"Oh." jawab Levi singkat.

Erwin sepertinya gagal. Lalu dia menonton televisi lagi dan memikirkan hal-hal yang mungkin akan membuat Levi tersenyum.

"Ketika aku di Amerika, temanku seorang gay. Dia membeli produk bayi. Aku bertanya padanya untuk apa membeli produk bayi. Dia menjawab 'Tentu saja untuk putriku'. Aku kaget karena kini dia punya anak. Tapi setelah aku berkunjung ke rumahnya, istrinya adalah seorang laki-laki. Dan tentu saja anak perempuannya itu adalah hasil adopsi. Aku penasaran bagaimana mereka melakukan hubungan intim." Erwin tampak berpikir.

Levi menghembuskan nafasnya, "Kau benar-benar penasaran dengan hal seperti itu?"

"Hmm? Tidak juga sih. Hanya saja, aku tidak pernah membayangkan hal seperti itu."

Levi menatap Erwin, "Kalau aku melihatmu, aku sering berpikir. Apakah kau ini seorang playboy? Tampangmu seperti maniak wanita."

Erwin berwajah lesu, "Hah...? Benarkah? Memang akhir-akhir ini aku sering bergonta-ganti—"

Levi menatap Erwin dengan matanya yang membulat seakan-akan Levi kaget dan tebakannya benar. "Oh... Ternyata laki-laki tipe sepertimu memang sudah merajalela."

Erwin tertawa kecil, "Memangnya kau belum pernah memiliki hubungan dengan seseorang?"

"Tidak. Aku tidak pernah memikirkannya sedikit pun. Dan lagi, sebagian orang membenciku. Jadi biarkan sajalah. Toh aku juga tidak tertarik berhubungan dengan seseorang."

"Levi, kelak kau akan hidup bergantung pada orang lain. Kenapa tidak coba saja satu kali?"

Levi menatap Erwin dengan tajam, "Kau menyuruhku untuk memiliki hubungan dengan seseorang?"

"Tidak ada salahnya untuk dicoba kan?" Erwin tersenyum.

"Yah... Terserah."

"Ayolah Levi! Mungkin suatu saat kau akan mensyukurinya."

"Kenapa kau jadi memaksa seperti itu?"

Erwin tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantumu memiliki hubungan."

"Terserah kau saja."


Matahari pagi masuk ke sela-sela jendela kamar Erwin. Dia terbangun dan melihat jam yang menunjukan pukul 7 pagi. Erwin terbiasa bangun jam 7, dia pun keluar dari kamarnya dan hendak mengambil air minum. Di dapur ternyata Levi sudah mempersiapkan sarapan.

"Oh, kau sudah bangun. Aku sudah menyiapkan sarapan. Kau akan pergi jam 8 kan? Jadwalmu sudah aku periksa. Mike memberikannya padaku."

Erwin agak kaget, "Oh begitu... Maaf merepotkanmu."

"Kau selalu bangun jam segini?"

"Begitulah. Ini adalah jam paling pagi untukku."

"Kalau kau bangun jam segini. Kau akan selalu terlambat disini."

Erwin tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di kursinya. Levi menatap Erwin, "Aku percaya kau belum mencuci mukamu."

Erwin berdiri lagi, "Oh maaf." Erwin lari ke kamar mandi.

Setelah selesai membenah diri, mereka duduk untuk memakan sarapan mereka. Erwin membicarakan pembicaraan mereka kemarin malam.

"Bagaimana dengan rencana mencari pasangan?" tanya Erwin.

Levi menatap Erwin dengan tatapan kosong, "Kau benar-benar ingin aku berhubungan dengan seseorang ya? Kau tahu aku ini—" Levi tiba-tiba terdiam dan menatap Erwin lebih tajam lagi, "Kau menganggapku gay ya?"

Erwin terhentak, "Hah? Ya—yang benar saja!" tebakan Levi benar.

Levi melepaskan sendok dari tangannya lalu menatap Erwin dengan tatapan seorang detektif, "Dengar, Erwin. Aku tidak pernah menganggap diriku sendiri seperti itu dan sebaliknya aku padamu juga. Kita ini 2 laki-laki normal disini. Lagian, sikapmu itu sama sekali tidak sopan."

"Ma—maaf... Hanya saja aku—"

"Kau pernah punya pacar laki-laki kan?"

Mata Erwin terbuka lebar, "Ha—hah?!"

Levi kembali mengambil sendoknya, "Tertulis di wajahmu. Seteleh kau berhenti berpacaran dengan seorang laki-laki. Kau melepaskan beban itu dengan cara menghabiskan semua hasratmu dengan wanita."

"Mike memberitahumu?"

Levi terdiam lalu menghembuskan nafasnya, "Yah, sedikit. Tapi aku bisa menyimpulkan semua bebanmu." Levi menatap Erwin dengan tajam, "Aku laki-laki normal. Kau tidak usah khawatir atau takut padaku."

"Maaf." Erwin tampak bersalah.

"Jangan hiraukan. Aku bukan orang yang membesar-besarkan masalah."

"Jadi..." Levi menyilangkan tangannya, "Kau masih mau melakukan bantuan padaku?"

Erwin mengangkat wajahnya, "Hah? Memang tidak apa-apa?"

"Terserah. Daripada satu minggu kita bertingkah seperti orang asing dan tidak melakukan apa-apa."


"Kau memberitahunya?! Oh tidak! Dia akan membunuhku! Sekarang dia biasa saja, tapi suatu saat dia akan membunuhku! Dia psikopat!" suara Mike terdengar keras di telepon genggam Levi.

"Dia menganggapku gay. Aku hanya meluruskan semuanya. Dan jangan berteriak seperti itu, aku sedang ada kelas."

"Dengan mengatakan dia pernah memiliki kekasih laki-laki dan kau dapat informasi itu dariku?! Ya, dia akan membunuhku."

"Tenanglah. Dia bukan tipe orang yang liar. Kau ini terlalu berlebihan."

Suara tawa Mike terdengar cukup keras, "Kau belum mengenal dia—bukan. Kau bahkan tidak mengenal dia. Kau tidak tahu bagaimana jika dia sudah dalam mode on."

Levi mengerutkan halisnya, "Apa maksudmu?"

"Dia itu psikopat, pendendam, sadis dan tidak mengenal ampun. Dan parahnya, dia bermuka dua. Jika dia seorang aktor, dia pasti sudah mendapat Piala Oscar 5 lemari sejak lahir."

Levi menghembuskan nafasnya dengan bengis, "Apanya? Dia saja sepertinya takut padaku."

Mike kembali tertawa, "Levi, Levi. Aku sejak umur 5 tahun sudah menjadi teman baiknya. Dia seperti adikku sendiri."


Beberapa tahun yang lalu, Erwin dan Mike saat berumur 8 tahun...

"Erwin. Kau sedang apa?"

"Hmm? Tidak apa-apa kok."

Mike melirik ke depan Erwin dan melihat seorang anak laki-laki sedang tergeletak menangis dan terluka, Mike sangat kaget dan menghampiri anak laki-laki tersebut.

"E—Erwin! Ada apa dengan anak ini?"

Erwin berdiri dengan tegak dan membuang muka dengan wajahnya yang sinis, "Dia berkata kalau kau—Mike, adalah seorang pengecut kelas teri."

Mata Mike membulat kaget, "Erwin! Kau melakukan ini semua?! Hanya karena dia berkata seperti itu?!"

Erwin menatap Mike dan anak laki-laki yang terluka itu, "Kenapa? Aku membelamu. Harusnya kau senang, bodoh. Kau tahu bagaimana terlukanya aku mendengar ocehan sial dari anak itu? Dia menghinamu! Kau akan diam jika ada seseorang menghinaku?" tatapan mata Erwin menusuk Mike.

"Te—tentu saja aku akan membelamu!" Mike merinding.

Erwin tersenyum hangat, "Baguslah. Bantu aku membawanya ke atap. Kita akan melemparnya dari sana."

"Apa?!" Mike kaget setengah mati.


"Begitulah kira-kira ceritanya. Aku tidak mau mengingatnya lagi." suara Mike sangat loyo di telepon.

Levi terdiam lalu menghembuskan nafasnya, "Jadi... Kalian benar-benar melempar anak itu?"

Mike sewot, "Tentu saja tidak! Aku menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku bilang itu kecelakaan."

"Lalu, bagaimana dengan Erwin?"

"Dia mencoba membunuhku selama 2 minggu. Aku benar-benar ketakutan. Tapi aku berhasil membujuknya."

Levi sedikit penasaran, "Bagaimana?"

"Aku meminta maaf dan aku membiarkan dia memukulku sebagai tanda maafku itu."

"Oh... Jadi dia memukulmu? Kalian saat itu berumur 8 tahun. Bukan pukulan yang begitu menyakitkan."

"Itu sangat menyakitkan! Dia memukulku dengan tongkat jalan milik kakeknya! Dan luka itu masih membekas hingga sekarang."

"Syukurlah kau masih hidup."

Mike bernada malas, "Kau benar-benar tidak punya perasaan, Levi."

"Hmm, jadi itu alasannya kau mau melakukan apapun yang dia ingingkan. Kau takut padanya."

"Yah... Lumayan, aku lebih suka jika dia sedang mode off. Erwin itu orang yang mudah dekat dengan orang lain. Beberapa hari bertemu saja, jika Erwin sudah menganggap dia orang yang menyenangkan atau membuatnya senang, Erwin pasti akan selalu menempel padanya. Pokoknya, jangan cari masalah dengannya. Dan jika dia berkata 'Aku hanya ingin bersamamu' dengan senyuman hangatnya, artinya kau sudah dalam protection list-nya. Dia akan membunuh siapa saja yang mencoba mendekatimu, mengejekmu ataupun itu yang akan terjadi padamu."

"Tenang saja. Jika dia cari masalah, dia berhadapan dengan orang yang salah. Dan kau tidak perlu berlebihan dengannya seperti itu, dia teman baikmu."

Telepon mereka terputus, Levi kembali fokus ke pembelajarannya. Mike yang sedang studi lapangan benar-benar kelelahan menanggapi masalah ini. Tiba-tiba Mike terdiam dan berpikir.

"Ya Tuhan... Levi itu bak es yang sadis. Apa yang akan terjadi pada mereka...?"


"Perang?" Hanji menyumpalkan makan siangnya ke mulutnya yang terbuka lebar.

"Ha—Hanji! Jangan memasukan makanan sekaligus!" ucap Moblit, asisten kelompok penelitian Hanji.

"Mob, kau sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana maksudmu dengan perang antara cairan kimia dan magnet orisinil hasil olahan biologi?" Hanji mengunyah makanannya.

"Tapi aku sudah membuat sampelnya." Moblit membuka sebuah buku.

"Idemu tidak masuk akal. Tapi bagus juga untuk dicoba. Print out sekarang! Setelah jam makan siang, data itu harus ada di mejaku di kelas selanjutnya." Hanji menelan makanannya.

Moblit berdiri dengan semangat, "Ba—baik!" dia pun pergi dari meja kantin.

Levi datang sambil membawa makanannya dan duduk di depan Hanji, "Dia semangat seperti biasanya."

Hanji tertawa, "Dia adalah orang yang paling bisa aku andalkan. Aku suka dengan kerja kerasnya."

"Dan aku kagum," ucap Levi, "Karena dia masih mau bekerja dengan orang gila sepertimu."

"Apa sih? Aku tidak gila. Aku benar-benar normal, gadis tak berdosa yang normal."

"Hanji!" teriak seorang laki-laki, "Kau menggigit dan mengunyah buku sejarah dunia di perpustakaan kan?! Bagus! Sekarang aku tidak bisa menyalinnya! Semua orangt tidak bisa menyalinya!"

Hanji membalik badan kearah laki-laki itu, "Apa sih?! Aku hanya mengunyah satu halaman saja!" Hanji kembali dan memakan makanannya lagi.

Levi menatap lurus Hanji, "Itu. Yang aku maksud 'gila'."

Hanji tertawa cukup keras. Dia meminum jus yang ada di sampingnya sambil menatap pintu masuk kantin. Di pintu kantin, dia melihat sosok laki-laki yang dia kenal. Hanji menyimpan gelas jusnya. Dia menepuk pundak Levi.

"Hey, Levi. Bukannya itu Erwin, temannya Mike?"

Levi membalik badannya untuk melihat pintu kantin, dan ternyata itu memang Erwin, "Mau apa dia disini?" tanya Levi pada dirinya sendiri.

Hanji melambaikan tangannya ke Erwin, dan dia menyadari lambaian itu. Erwin segera menghampiri meja Levi dan Hanji. Dia pun ikut duduk makan siang bersama mereka.

Hanji tersenyum lebar kearah Erwin, "Waw... Kau datang kesini seperti ini kampusmu sendiri. Ada apa?"

Erwin membalas senyuman Hanji, "Aku kesini untuk makan siang. Tidak salah kan?"

Hanji tertawa, "Tidak apa! Ini kantin umum."

Levi menatap Erwin, "Kenapa kau repot-repot kesini?"

Erwin tersenyum dengan senyuman hangatnya, "Aku hanya ingin bersamamu."

Hanji bersiul, "Woohoo! Kalian seperti pasangan saja!" dia tertawa.

Mata Levi membulat besar sambil menatap Erwin dengan perasaan kosong dan dalam pikirannya dia melamun, "Aku... Ada dalam Protection List-nya."


to be continued...