CHAPTER 2
Kelas selanjutnya sudah dimulai, seperti biasa, Levi dan Hanji duduk bersampingan. Hanji melirik wajah Levi yang pucat dan tidak bicara apa-apa sejak makan siang.
"Levi. Kau kenapa?" tanya Hanji dengan matanya yang penuh pertanyaan.
Levi menghembuskan nafasnya pelan-pelan dan menatap balik Hanji, "Aku sedang malas. Urusi saja urusanmu." Levi menempatkan satu tangannya di dagunya dengan matanya yang tidak fokus.
Hanji berpikir sambil memanyunkan bibirnya, "Aku tidak pernah melihatmu seperti ini, Levi. Kau pasti punya masalah. Aku tahu itu. Kau lupa ya? Aku bisa membaca mata orang lain."
Levi mendesis dengan cepat, "Sial. Apa yang kau tahu?"
"Kau seperti ini sesudah makan siang, menurutku kau punya masalah dengan kelas ini, makan siang yang kau makan" mata Hanji menyipit, "Atau ada masalah khusus dengan Erwin." Hanji menatap Levi dengan tatapan curiga, "Dan menurutku. Kau punya masalah dengan Erwin."
Levi terdiam dengan wajah poker face, "Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?"
"Jika ada kelas yang menurutmu tidak menarik, kau akan langsung terdiam dan menguap sejak masuk kelas, tapi kau tidak. Jika makan siangmu tidak enak, pasti kau membuang makan siangmu lalu membawa sebungkus roti dan jus karton ke kelas ini." Hanji menyilangkan tangannya, "Yap. Ini ada hubungannya dengan Erwin."
Levi terdiam dengan wajah terganggu menatap Hanji, "Kau bisa menjadi stalker yang handal. Tidak terpikir kau selalu memperhatikan seseorang seperti itu."
Hanji terkekeh, "Tentu saja. Yang paling mudah terbaca itu adalah Mike. Dia tidak pandai berbohong." dia tersenyum lalu menatap Levi agak serius, "Jadi... apa masalahmu dengan Erwin?"
Levi membeberkan semuanya, namun masih merahasiakan masalah Erwin yang pernah berhubungan dengan laki-laki. Hanji kaget mendengar ucapan Levi, dia benar-benar tidak percaya jika Erwin adalah orang yang seperti itu. Bahkan Hanji yang bisa membaca mata pun tertipu oleh Erwin.
"Levi" ucap Hanji, "Dia berbahaya. Mungkin lebih baik kau tinggalkan dia. Beri dia kembali pada Mike."
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa diam saja. Aku tidak mau berhubungan lebih jauh dengan orang seperti itu." Levi menatap ke sembarang arah.
"Lalu, kau benar-benar menerima tawarannya untuk mencarikanmu pacar?" Hanji tersenyum, "Hei, hei, Levi. Menurutku ya, mungkin Erwin hanya ingin membuatmu tersenyum."
Levi menyipitkan matanya, "Yang benar saja."
"Benar lho!" Hanji menggeser kursinya lebih dekat ke Levi, "Dengar. Orang seperti Erwin itu biasanya tingkat kepenasaranannya sangat tinggi. Dia pasti penasaran bagaimana kau tersenyum atau tertawa. Dia menyampaikan lelucon aneh seperti itu mungkin karena dia ingin kau tertawa."
Dalam hati Levi, dia berkata, "Dia itu gay, Mata Empat. Dia takut kalau aku bisa menyukainya atau dia menyukaiku. Itulah alasannya."
Perbincangan yang aneh pun dimulai selama kelas berlangsung, Levi dan Hanji terus membicarakan Erwin. Namun Levi sama sekali tidak menanggapi usulan Hanji, karena hampir semuanya tidak masuk akal bagi Levi. Tak terasa waktu sudah habis. Kelas berakhir, Levi dan Hanji pun berpisah untuk pulang.
Di jalan, Levi bertemu dengan Erwin yang sedang menunggunya di depan gerbang kampus. Levi tidak terlalu kaget melihat Erwin, dia tahu Erwin akan menunggunya karena Erwin tidak menyimpan kunci rumah Levi.
Levi menghampiri Erwin, "Sejak kapan kau menungguku?"
"Aku?" Erwin tersenyum, "Aku menunggumu 2 jam setelah makan siang."
"Lama sekali." Levi berjalan menuju arah rumahnya, "Seharusnya kau menghubungiku dan meminta kunci rumahku."
Erwin mengikutinya, "Aku tidak ingin mengganggu pembelajaranmu."
Levi melirik Erwin, "Aku tidak akan terganggu. Hanya si bodoh Hanji yang selalu berhasil menggangguku."
Erwin tersenyum, "Kau benar-benar dingin, Levi."
"Begitukah?"
Erwin berjalan bersampingan dengan Levi, "Kau mau mampir ke kedai kopi?"
"Entahlah."
"Aku akan traktir."
Levi melirik kembali Erwin, "Baiklah. Terserah kau. Toh aku sedang tidak ada kerjaan hari ini."
Mereka sampai di sebuah kedai kopi yang cukup sederhana namun sangat nyaman. Levi tidak pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya.
"Kedai ini" ucap Erwin, "Milik temanku dan Mike waktu SMP." Erwin berjalan menuju meja kasir, disana ada seorang wanita yang cukup cantik dengan rambut pirang kuningnya yang pendek dan mata birunya yang terang, "Hei, Nanaba."
Wanita bernama Nanaba itu menoleh dan tersenyum melihat Erwin, "Erwin!" dia berdiri dari kursinya dan memeluk Erwin, "Sudah lama sekali!" dia menepuk pundak Erwin, "Lihat kau sekarang. Semakin mirip orang tua saja." dia tertawa.
Erwin tersenyum, "Terakhir kita bertemu adalah ketika kita di perpisahan SMA. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Penghasilan kedai ini masih tetap menjadi sumber kehidupanku."
Levi muncul di belakang Erwin dan membungkukkan kepala memberi salam.
Nanaba tersenyum lalu menoleh kearah Erwin, "Siapa ini? Laki-laki yang baru?"
Erwin tertawa kecil, "Bukan, bukan. Dia teman Mike."
"Oh! Maaf." Nanaba yang tinggi menurunkan badannya lebih rendah untuk menatap Levi, "Kenapa kau bisa kenal dengan Mike? Apa dia bergaul dengan anak SMP sekarang?"
Levi mengerutkan halisnya, Erwin tersenyum kaku, "Na—Nanaba, dia teman seangkatan Mike di kampusnya."
Nanaba kembali berdiri dengan wajahnya yang memerah malu, "Wah! Ma—maaf!" Nanaba mempersilahkan Erwin dan Levi untuk duduk di kursi yang biasa Erwin pakai. "Nah, kursi legendaris ini masih menjadi tempatmu yang paling kau cintai."
Erwin terkekeh, "Begitukah?"
Levi duduk terlebih dahulu dan membaca menu yang sudah tersedia di meja. Erwin dan Nanaba masih berbincang.
Erwin menatap Nanaba dengan wajah agak serius, "Levi itu orangnya alot. Jadi dia sepertinya menanggapi semuanya agak serius."
Nanaba terkekeh, "Tidak masalah, asal jangan sepertimu—" Nanaba dengan reflex menutup mulutnya.
Erwin tidak mendengar Nanaba, "Hah? Apa?"
Nanaba perlahan-lahan pergi sambil tertawa dengan canggung, "Ti—tidak kok. Benar! Kau pesan saja, nanti aku kesini lagi." Nanaba lari menuju ruang manager—ruangan kerjanya.
Levi melirik Nanaba dari balik menu yang dia baca. Levi benar-benar mengarti apa yang baru saja Nanaba maksud. Erwin duduk dengan perasaan penasaran, lalu dia menoleh kearah Levi.
"Kau sudah mau pesan?" Erwin tersenyum.
Levi kembali melihat menu, "Yah... Aku pesan latte saja."
Setelah mereka selesai dengan kopi mereka, Nanaba ikut Erwin dan Levi untuk mengobrol.
"Aku masih ingat" Nanaba tertawa, "Ketika kau sedang bermain sepeda, tapi ternyata sepeda yang kau pakai adalah sepeda milik si Pak Tua Legendaris. Salahmu membeli sepeda yang sama dengannya!" Nanaba masih tertawa.
Erwin terkekeh, "Aku suka dengan model sepedanya."
Levi meminum latte yang ke-3. Dia bukanlah bagian dari Erwin dan Nanaba, tapi dia adalah pendengar yang baik. Nanaba menoleh kearah Levi.
"Hey, Levi. Bagaimana kau bisa berteman dengan Mike?" tanya Nanaba.
"Aku?" Levi menyimpan gelasnya, "Aku bertemu dengan Mike ketika pertama kali masuk kampus. Dia telat dan hampir setiap hari menjadi bahan ejekan senior. Tapi Mike itu orang tangguh, jadi dia tidak begitu peduli dengan ejekan. Lalu dia melihatku sedang sendirian, tiba-tiba dia ikut duduk denganku dan mengoceh tentang bau-bauan. Dan tiba-tiba lagi, ada Hanji yang suka dengan pengetahuan alam."
Nanaba tersenyum, "Sepertinya kalian berteman dengan baik." dia menatap Erwin, "Aku dan Erwin sih memilih memisahkan diri."
Erwin meminum kopinya, "Apa boleh buat. Aku mengejar mimpiku." Erwin menyimpan gelasnya dan berdiri dari kursinya, "Maaf. Aku ke toilet sebentar." Erwin pun pergi.
Nanaba melirik Levi, "Lalu... Bagaimana kau bisa sedekat ini dengan Erwin? Kalian baru bertemu 2 hari yang lalu kan?"
"Entahlah. Aku ini selalu nyaman dengan siapa saja asal orang itu tidak membuatku marah."
"Kau tahu, mungkin lebih baik kau tidak terlalu—"
"Aku tahu" Levi menyalip ucapan Nanaba. "Aku tahu maksudmu. Mike sudah memberitahuku. Aku sudah masuk dalam protection list-nya."
Nanaba terkejut, "Kau tidak apa-apa dengan itu? Aku dan Mike yang sudah sangat lama berteman dengannya saja masih belum berani keluar dari protection list-nya."
"Apa boleh buat. Tidak ada alasan khusus aku dalam protection list-nya."
Nanaba tersenyum dengan canggung, "Kau mirip dengannya."
Levi melirik Nanaba, "Siapa?"
"Laki-laki kasar yang menyebalkan dan suka melakukan apapun yang dia suka."
"Apakah aku seperti itu?" Levi mengerutkan halisnya.
Nanaba terkekeh, "Tidak sama sekali. Tapi sifat 'Masa Bodoh'-nya mirip sekali."
"Siapa orang itu?"
Tawa Nanaba mulai mereda, "Dia dulunya kekasih—"
"Kalian membicarakan kekasih?" Erwin muncul di belakang Nanaba dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Mata Nanaba membulat sangat kaget, Levi bisa melihat keringat dingin yang mulai keluar dari wajah Nanaba. Levi melirik Erwin, dia berwajah tanpa ekspresi tapi entah kenapa Levi merinding melihat tatapan Erwin.
Nanaba membali badannya untuk melihat Erwin, "Ti—tidak kok. Kami tidak membicarakan apa-apa. Kami sedang random tadi."
Erwin tersenyum, "Oh. Maaf ya, aku kadang lama di toilet." dia membawa tasnya, "Levi. Mungkin kita harus pulang. Sudah mau malam." Erwin tersenyum kearah Nanaba dan meninggalkan uang sesuai struk yang dibawa Nanaba. Erwin berjalan keluar dari kedai kopi.
Levi langsung berdiri sambil membawa tas ransel hitamnya dan lari mengikuti Erwin. Nanaba melambaikan tangannya pada mereka.
Di jalan, Erwin berjalan tanpa berbicara apa-apa. Levi tidak berani melirik Erwin. Jalan menuju rumah Levi di sore hari cukup ramai karena dekat dengan distrik pedagang.
"Kau tahu Levi" tiba-tiba Erwin berbicara, "Aku terpikir suatu hal."
"Apa?"
"Rencana mencarikanmu kekasih." Erwin menatap Levi, "Sepertinya harus kita batalkan."
Levi menatap lurus ke jalan, "Kenapa tiba-tiba mengubah rencana seperti itu?"
Erwin terkekeh, "Entahlah. Mungkin lebih baik kau seperti ini."
"Seperti ini bagaimana?"
"Menikmati kesendirian."
Levi mengerutkan halisnya, "Oh, jadi kau mau aku tetap sendiri selama hidupku?"
Erwin tertawa, "Mana mungkin, Levi. Seseorang harus memiliki pasangan kan?"
Levi mencoba untuk menghindari topik pembicaraan ini. Dia berhenti di sebuah toko yang cukup ramai, "Aku akan membeli bahan makan malam."
"Baiklah. Aku akan menunggu disini." ucap Erwin yang duduk di kursi depan toko tersebut.
Levi masuk ke toko tersebut. Dia memilih cukup banyak bahan makanan. Ketika dia hendak mengambil sebuah makanan kaleng, dia tidak bisa meraihnya. Seorang pekerja toko menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pekerja itu.
Levi sebenarnya tidak suka ditolong. Apalagi ditolong saat menyangkut tinggi badannya. Levi melirik pekerja itu, dia cukup tinggi dengan dandanan yang cukup berantakan—mungkin karena bekerja di toko bahan makanan mentah. Rambut laki-laki itu agak mohawk, tapi entah kenapa kesannya tidak mohawk sama sekali. Tapi sepertinya dia cukup baik jika dilihat dari matanya.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengambil makanan kaleng diatas sana." Levi masih berjinjit untuk mengambil kaleng makanan itu.
Pekerja itu mengambilkan kaleng yang dimaksud Levi, "Silahkan." laki-laki itu tersenyum.
Levi agak jengkel, "Terima kasih."
Erwin masuk ke toko dan menghampiri Levi, "Levi. Kau sudah selesai? Di luar agak mendung. Mungkin akan turun huja—"
Mata Erwin terbuka lebar ketika melihat pekerja tersebut. Dia tidak berkata apa-apa selain membatu. Laki-laki pekerja itu pun mengerutkan halisnya dan mengepalakan tangannya. Dia lari masuk ke ruang penyimpanan.
Levi menatap Erwin, "Kenalanmu?"
Erwin membuang muka lalu keluar dari toko tersebut.
Mereka sampai di rumah. Levi langsung berjalan menuju dapur dan memasukan bahan makanan yang baru saja dia beli. Erwin duduk di ruang tengah samping dapur dan wajahnya agak kusut. Hingga kini Levi tidak mengerti dengan suasana hati Erwin, dia pun menghampiri Erwin.
"Hei, Erwin. Kau kenapa? Dari tadi bermuka masam seperti itu."
Erwin tersenyum simpul kearah Levi, "Aku tidak apa-apa, Levi."
Levi menyentil kening Erwin, "Kau bohong. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."
Erwin terkekeh, "Ayolah, Levi. Aku sedang tidak mau berbicara dulu."
Levi terdiam dan agak jengkel dengan kelakuan Erwin. Dia berdiri dan menatap Erwin dengan pedas, "Oh maaf kalau begitu. Aku tidak akan berbicara denganmu." Levi hendak pergi ke dapur.
Erwin menarik tangan Levi, "Bukan begitu."
Levi menatap tangannya yang dipegang oleh Erwin.
Erwin melepas tangannya dengan canggung, "Bukan itu maksudku. Hanya saja aku merasa tidak ingin membicarakannya."
Levi menghembuskan nafasnya, "Membicarakan laki-laki yang ada di toko tadi? Kau kenal dia?"
"Dia..." Erwin tersenyum, "Laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu."
Mata Levi agak terbuka, dalam hatinya dia bergumam, "Oh jadi dia partner Erwin dulu."
Erwin masih tersenyum canggung, "Aku tidak tahu kalau kini dia tinggal disini."
Levi duduk di kursi, "Keluarkan saja unek-unekmu. Aku akan mendengarkan."
Erwin menghembuskan nafasnya, "Kami berhubungan selama 3 tahun. Ketika aku duduk di kelas 3 SMA dan kami berpisah setelah aku pergi kuliah di luar negeri. Dia bilang dia tidak tertarik lagi dengan hubungan aneh yang kami jalani. Lalu sekitar 1 tahun setelah kami berpisah, aku mendapat kabar bahwa sebenarnya dia sudah menikah, dengan wanita tentu saja. Selama ini, dia berhubungan denganku tapi sebenarnya dia sudah memiliki wanita yang dia nikahi."
Levi menyilangkan tangannya, "Dia bisexual ya?"
Erwin tersenyum, "Sepertinya begitu. Tapi aku tidak marah atau dendam padanya. Aku senang jika dia senang."
"Kau masih menyukainya?" tanya Levi.
"Tidak. Hanya saja, agak sakit melihatnya secara langsung seperti tadi."
Levi menghembuskan nafasnya, "Sepertinya tingkah bodohmu yang terus bermain-main dengan wanita tidak membuatmu lebih baik."
Erwin tertawa kecil, "Bukan, tapi malah memperburuk keadaan."
"Kau tahu Erwin, aku tidak begitu tahu dengan urusan seperti ini. Tapi aku tegaskan, kau harus mencari kehidupan baru."
"Kehidupan baru?" Erwin agak bingung.
"Yah... Mencari penggantinya atau semacamnya."
Erwin terkekeh, "Aku akan menceritakan satu fakta padamu, Levi. Hubungan sejenis itu sangat kuat dari hubungan antara pria-wanita. Jika kau seorang gay atau lesbian, lalu kau menemukan orang yang kau cintai, kau tidak bisa mencintai orang lain lagi."
"Hoo... Begitukah?" Levi memiringkan kepalanya, "Apa ada yang bisa aku bantu dengan hal ini?"
"Mungkin kau lebih baik tidak ikut campur. Karena masalah ini cukup serius jika ditangani oleh laki-laki heteroseksual sepertimu."
Levi mengerutkan halisnya, "Hetero-apa?"
"Heteroseksual. Kau adalah laki-laki yang normal, Levi."
"Oh. Syukurlah aku laki-laki yang normal."
Erwin menatap Levi, "Dan mungkin lebih baik kau tidak perlu memikirkan masalah seperti ini." Erwin berdiri dari kursinya dan meninggalka Levi menuju kamarnya.
Levi menghembuskan nafasnya, lalu berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Mike. Temanmu semakin aneh saja setiap harinya." ucpa Levi lewat telepon.
"Oh iya? Erwin memang aneh. Apa yang kau harapkan? Aku sudah menceritakan keanehannya padamu."
"Oh iya. Aku ada dalam protection list."
Suara teriakan Mike terdengar di balik telepon Levi, "Bagaimana bisa terjadi?! Aku tidak mengerti?!"
"Tenang, bodoh. Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia merasa nyaman denganku dibanding denganmu."
"Apa maksudmu? Kau meremehkan persahabatanku dan Erwin yang berdarah-darah dan penuh gairah laki-laki manly?"Suara Mike datar namun menusuk.
"Apa sih? Bicaramu seperti orang bodoh." Levi teringat sesuatu, "Oh iya, tadi sore kami bertemu dengan wanita bernama Nanaba."
Mike sempat terdiam untuk sesaat, "Oh... Nanaba. Kalian ke kedai kopinya?"
"Begitulah. Sepertinya persahabatan kalian bertiga konyol sekali."
Mike tertawa, "Hei Levi." tawa Mike terhenti, "Kau meneleponku pasti ada sesuatu yang terjadi pada Erwin."
"Begitulah. Erwin baru saja bertemu dengan mantannya."
"Nile...?"
"Oh, jadi namanya Nile."
"Kau belum tahu?"
"Tentu saja tidak. Erwin tidak mau membicarakannya. Dia tampak depresi."
"Bagaimana menurutmu si Nile?"
"Aku baru saja bertemu, dan pertemuan itu pun tidak begitu berarti. Dia agak urakan tapi sepertinya dia orang yang baik."
Nada bicara Mike agak serius, "Apa yang diceritakan Erwin tentang Nile?"
Levi menceritakan cerita yang diucapkan Erwin pada Mike. Mike agak kaget dengan cerita yang Levi ceritakan.
"Levi" Mike masih bernada serius, "Itu semua tidak benar."
"Apa maksudmu?"
"Nile menikah begitu saja. Erwin bersikap biasa saja. Dia bersedih hati. Semua itu bohong."
Levi menghembuskan nafasnya, "Ceritakan. Aku tidak tidak mengerti."
"Nile yang bisexual itu benar. Dia lebih mencintai istrinya daripada Erwin. Saat Nile ingin mengakhiri hubungan mereka, tepatnya ketika kami lulus dari SMA, Erwin benar-benar marah. Dia tidak ingin mengakhiri hubungannya. Asal kau tahu, Erwin hampir menjadi buronan polisi karena mencoba membunuh Nile dan istrinya."
Levi terdiam.
"Itu semua belum seberapa." lanjut Mike, "Erwin hampir membunuh anak mereka juga. Nile sudah melakukan hubungan dengan istrinya ketika dia masih bersama Erwin. Dan memang Nile lebih mencintai istrinya. Erwin berusaha untuk mengeluarkan Nile dalam protection list-nya. Tapi sepertinya sulit baginya. Akhirnya, Erwin menjadi laki-laki casual yang banyak diidamkan wanita, dan Erwin sendiri melayani wanita-wanita itu. Erwin itu mempunyai 2 sisi yang berbeda."
"2 kepribadian. Begitu?"
Telepon genggam Levi terangkat tiba-tiba, Levi melirik kearah pinggir. Terlihat sebuah tangan yang mengambil telepon genggam Levi. Dia membalik badannya dan Erwin tepat di belakangnya. Erwin tersenyum sambil memegang telepon genggam Levi. Erwin berbicara dengan Mike dengan wajahnya yang masih tersenyum berseri-seri.
"Mike? Bagaimana kabarmu? Sudah pasti sangat baik." senyuman Erwin hilang seketika berubah menjadi sangat dingin seperti seekor serigala kutub, "Tapi sepertinya kau akan mati sekarang." Erwin menutup telepon genggam Levi lalu membantingnya dengan sangat keras hingga telepon genggam Levi menjadi serpihan. Levi yang gugup, menatapi Erwin dengan matanya yang hampir ketakutan. Erwin menatap balik Levi dengan tatapan sinis dan jijik.
"Sepertinya kau sudah tahu lebih dari yang diperkirakan. Apa sebelum membunuh Mike, kau harus kubunuh terlebih dahulu?" mata Erwin sangat mengerikan dan membuat Levi tidak bisa bergerak sama sekali.
Erwin mendorong tubuh Levi ke kasurnya dengan keras. Erwin menjulurkan tangannya ke leher Levi dan sedikit-sedikit memperkuat genggaman tangannya di leher Levi.
"Maaf, Levi. Aku menyukaimu. Tapi aku tidak suka jika kau harus melihatku seperti ini." Erwin tersenyum dengan tatapannya yang dingin.
Levi meronta dan memegang tangan Erwin dengan kuat. Levi tidak bisa berkata apapun. Dia hanya merintih dengan suaranya yang tertekan. Wajah Levi mulai pucat. Erwin masih tersenyum menatapi Levi.
Tiba-tiba air mata Levi mulai menetes karena cekikan Erwin. "E—Er—win..."
Cekikan Erwin melonggar namun masih tetap kuat di leher Levi.
Levi berusaha melepaskan tangan Erwin dari lehernya, "Er—win... Ku—kumohon... Ji—jika kau se—seperti ini... Tidak akan a—ada yang mencintai—mu..."
Mata Erwin semakin sinis menatap Levi, "Oh iya? Apa yang kau tahu dari kata 'mencintai'? Menikahi orang lain ketika sedang berhubungan dengan seseorang?" cekikan Erwin yang longgar kembali mengeras.
Levi mengeluarkan semua tenaganya untuk mencoba bangkit dan melepaskan cekikan Erwin. Levi berhasil mengangkat tubuhnya meskipun dalam keadaan dicekik oleh Erwin, "E—Erwin... De—dengarkan aku..."
Erwin sama sekali tidak memperhatikan Levi, dia masih saja mencekiknya.
Levi hampir menyerah, tubuhnya melemas dan matanya hampir tertutup. Namun Levi masih mencoba maju menuju Erwin. Cekikan Erwin agak melonggar karena Levi melawan. Levi maju dengan wajahnya yang hampir sekarat. Tangannya yang memegang tangan Erwin kini berpindah ke pipi Erwin. Levi tetap berusaha maju mendekatkan diri ke Erwin. Cekikan Erwin akhirnya terlepas.
Levi tersenyum, Erwin kaget dan matanya membulat.
"Terima kasih, Erwin." Levi menarik kepala Erwin dan tiba-tiba dia mencium bibir Erwin.
Erwin terdiam lemas karena tiba-tiba Levi menciumnya. Dia menutup matanya perlahan dan membalas ciuman Levi. Erwin memeluk Levi yang tubuhnya melemas karena cekikannya.
Levi melepaskan ciumannya, "Kau tidak perlu membunuh untuk dicintai atau mencintai seseorang." Levi kini memeluk Erwin.
Erwin tersenyum lalu menutup matanya dan senyumannya kini memudar, "Maafkan aku. Maafkan aku." Erwin kembali memeluk Levi.
"Mike?! Kau mau kemana?!" teriak seorang wanita.
"Maaf! Aku harus kembali ke kota!" Mike menyalakan mobilnya.
"Tapi kita masih dalam penelitian!"
"Aku harus menyelamatkan seseorang! Dia akan mati!" Mike mulai menjalankan mobil dan pergi ngebut.
"Mike!" wanita sekelompok Mike menghembuskan nafasnya setelah melihat Mike pergi dan tak terlihat lagi, "Bicara apa sih dia? Siapa yang akan mati? Dasar bodoh."
to be continued...
