Disclaimer : Gakuen Alice isn't mine. I'm sure you've known it.
CHAPTER 01
EXIT
Sepasang mata hazel tersentak terbuka, dia terkesiap, nafasnya kemudian terdengar berat seakan habis berlari, keringat dingin membasahi tubuhnya.
Apa yang barusan terjadi?
Pikirannya berputar, bingung apa maksud dari hal yang dia alami tadi. Apa itu maksudnya bahwa alice miliknya tidak terkendali lagi? Berkat para ilmuwan gila itu, seluruh alice miliknya bagaikan bom waktu, akan menjadi tidak terkendali dan meledak sewaktu-waktu. Tapi…
Dia meraba-raba tubuhnya.
Dia masih hidup.
Dia lalu menarik nafas, berusaha menenangkan tubuhnya yang gemetar. Tenanglah, Mikan Sakura. Bukannya selama ini kau ingin mati? Kenapa kau malah gemetar?' Dia menghela nafas. 'Yah… biarpun harapanku lagi-lagi tidak terkabul. Aku masih hidup.'
Dia perlahan tenang, tetapi kemudian dia tersedak ketika pandangannya menjadi jelas.
Yang ada di hadapannya bukanlah ruangan tua tempat dia selama ini berada, ruangan tempatnya kini terlihat mewah dan terkesan baru. Dia terkesiap sembari tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri.
Tangan kecil yang ramping. Kulit mulus, tanpa adanya satupun bekas luka. Ditambah lagi dia tidak pernah menguncir dua rambutnya sejak dia SMP.
Mikan merasakan matanya melebar, detak nadinya semakin cepat, dan nafasnya hampir berhenti. Tanpa sengaja kedua matanya tertumbuk pada kaca jendela.
Apa?
Mulutnya terbuka, merasa syok dengan apa yang dia lihat.
Refleksi yang menyambutnya bukanlah sosok wanita dewasa. Sosok itu bertubuh pendek dan kecil, wajahnya yang tirus kini terlihat sedikit gembul.
Dia kembali menjadi anak-anak lagi.
Sekali lagi… apa yang terjadi? Apa hasil dari cahaya tadi adalah tidak terkendalinya alice Guliver? Atau ketika dalam proses pelepasan alice tadi kebetulan saja yang terakhir aktif adalah Guliver, makanya dia menjadi anak-anak?
Atau…
Rasa sakit yang tajam terasa di kepalanya sementara dia mengernyit. Dia merasakan rambutnya ditarik, membuatnya terjengkang ke belakang, jatuh telentang di atas sesuatu yang empuk, dan kemudian disusul oleh sesuatu yang menindih tubuhnya.
Wha…
"Siapa kau?" Sebuah suara terdengar di tengah-tengah kesadarannya yang memudar karena tangan yang mencekik lehernya. "Jawab aku dalam lima detik. Jika tidak, aku akan membakar rambutmu."
Ancaman.
Mikan tidak bodoh. Dia tahu bagaimana menangani sebuah ancaman, berkat kehidupannya selama ini. Dengan diam dia mengambil nafas sebisa yang dia hirup. Dia tetap tenang, setidaknya setenang orang yang diancam sekaligus dicekik dalam waktu bersamaan.
Dia perlahan membuka matanya, berusaha membuat jelas pandangannya yang mengabur. Sosok buram menjulang di atas tubuhnya, lutut mendesak perutnya, menahan tubuhnya.
Dan apa yang menyambut penglihatannya membuat nafasnya sontak berhenti.
Mustahil…
Kedua matanya melebar syok, mulutnya membuka tak percaya.
Dia tidak mungkin hidup…
Sepasang mata crimson mendelik tajam ke arahnya.
Natsume…
Natsume Hyuuga benar-benar kesal.
Selain rencananya untuk melarikan diri dari akademi gagal, dia juga terkena alice Pheromone si banci brengsek.
Semuanya gara-gara gadis jelek berstyle rambut konyol itu.
Hum, style rambut kekanakan seperti itu. Cuma bocah yang menggunakan pigtail sebagai style rambutnya.
Dia melihat bocah yang baru dipikirkannya tadi berdiri di jendela, perasaan kesal dan benci kembali menyelimutinya. Sebelum dia menyadarinya, tangannya menarik salah satu pigtail anak yang membelakanginya itu, menariknya dengan keras sampai anak itu terjengkang ke sofa tempat dirinya terbaring tadi. Tangan kirinya dengan cepat mencengkeram leher ramping gadis itu, lututnya menekan perut, menahan tubuh di bawahnya.
"Siapa kau?" tanyanya, dengan nada dingin dan mengancam. Mata mendelik tajam. Sebelah tangannya yang lain menarik semakin keras rambut cokelat gadis itu. "Jawab aku dalam lima detik. Jika tidak, aku akan membakar rambutmu."
Dengan pengalamannya dari misi-misi yang diberikan akademi padanya selama ini, dia menjadi sangat familiar dengan psikologi manusia. Bagaimana reaksi dan pikiran manusia saat merasa terancam, bagaimana gestur tubuh mereka, bagaimana kilatan mata mereka. Emosi gugup, panik, atau bahkan takut.
Hanya saja dia tidak menduga apa yang dia lihat.
Gadis kecil itu menarik nafas dengan tenang, perlahan dan hati-hati, sampai nafasnya yang tadi terdengar berat dan tersendat karena dicekik menjadi tenang dan teratur.
Siapa sebenarnya bocah ini? Ini reaksi yang sama sekali tidak umum, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya di tengah situasi kekerasan dan ancaman seperti itu.
Hanya orang-orang yang telah dilatih seperti dirinya yang bisa melakukannya.
Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka, dan Natsume nyaris terkesiap keras.
Menatap berkabut ke arahnya adalah sepasang mata hazel yang paling cerah yang pernah dia lihat, lebar dengan kepolosan, namun anehnya sangat dalam, hampir terlihat bijak dan dewasa. Dia juga melihat – walau sekilas dan tidak begitu nyata – kilatan rasa sakit akan penderitaan, kekejaman, dan penuh kegelapan.
Kilatan yang sama seperti yang selalu dia lihat dalam mata Persona.
Bagaimana bisa ada mata yang mengandung kepolosan anak-anak dan juga kekejaman seorang assassin seperti ini?
Suara kepakan sayap disusul pecahnya kaca jendela membuatnya tersentak. Dia menoleh, melihat seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya berlutut di bawah jendela setelah terjun mendobrak jendela yang terkunci.
"Kau terlambat, Luca."
Melihat Natsume membuat hati Mikan serasa diremas. Sembari melawan kenangan-kenangan buruk yang kembali berputar di kepalanya, dia menoleh ke arah suara pecahnya kaca, melihat sosok anak laki-laki berambut pirang belah dua dan mata biru yang cerah.
Luca…
Dia terkesiap pelan.
'Jangan panik, Mikan. Ingat untuk bernafas. Tarik nafas, keluarkan, terus ulangi,' pikir Mikan, sedikit gemetar, paru-parunya terasa terbakar.
Bernafas normal sekali lagi, Mikan memandang sekeliling. Dia tak bisa panik. Well… dia bisa, hanya saja belum. Dia harus mengerti tentang situasi yang dia alami saat ini. Dimulai dengan kapan dan dimana dia, diikuti dengan kenapa dia berada di sini dan apa yang harus dia lakukan.
Mikan bukan idiot.
Dia memang idiot ketika masih kecil, tetapi setelah bertahun-tahun melakukan 'survival' ditambah seratus tahun lebih dikurung dalam mansion tua dengan alice tersegel dan diparasiti 'Alice Absorber' (courtesy by elementary principal ft. crazy scientists) tanpa adanya harapan untuk keluar ataupun mati, mustahil bagi otaknya untuk tetap menjadi idiot.
Ruangan yang terkesan mewah dan baru, ditambah Natsume dan Luca yang masih kecil satu ruangan dengannya yang juga berumur sebaya dengan mereka, dikali déjà vu atas situasi yang sekarang terjadi.
Alicenya yang aktif saat pelepasan bukanlah alice Guliver…
Melainkan alice 'Exit'.
Dia kembali ke masa lalu.
Terlebih lagi dia kembali ke masa sebelum dia menjadi murid di akademi.
TBC…
A/N :
Penjelasan mengenai Alice Exit :
Alice Exit bisa dibilang sama seperti Alice Time Slip, hanya saja berbeda dalam hal fisik. Jika Alice Time Slip, alice tersebut akan membawa sepenuhnya orang yang menggunakannya ke masa lalu, masa kini, atau masa depan (sepenuhnya dengan kata lain tubuh, jiwa, dan hal-hal fisik yg dimiliki orang tersebut). Sedangkan Alice Exit akan membawa orang yang menggunakannya ke masa lalu, masa kini, atau masa depan, namun yang dibawa hanyalah hal-hal rohani (seperti jiwa, pikiran, kekuatan, dsb) dan efek samping dari alice tersebut adalah terhapusnya keberadaan orang yang berada dalam masa tersebut dan digantikan oleh orang yang menggunakan alice. Contohnya saja seperti dalam fic ini: Mikan tanpa sengaja menggunakan Alice Exit, dan karena itu dia kembali ke masa dimana dia belum menjadi murid akademi, jiwanya yang berumur satu abad lebih menggantikan jiwanya yang masih sepuluh tahun untuk mendiami tubuhnya. Jadi Mikan yang berumur sepuluh tahun secara otomatis terhapus, menghilang, dan digantikan oleh Mikan yang berumur satu abad lebih.
Mikan : ( _ ) Pusiiiiing… Nggak ngerti…
Author : ('-/-)a Yah… maaf saja, saya paling tidak bisa jika disuruh menjelaskan.
Hotaru : Aku ngerti, kok. Tenang saja.
Author : Oke, deh. Kalau begitu kau yang menjelaskan ke para pembaca, Hotaru-san.
Hotaru : Boleh, sepuluh ribu saja.
Author : (sweatdrop) Dasar mata duitan.
Hotaru : (cuek bebek)
Author : Baiklah, (dehem) Terima kasih telah membaca fic ini. (bows) Dan bagi yang mereview, saya sangat menghargainya.
Luca : (pake para binatangnya megang banner bertuliskan "Please review if don't mind)
….
…..
…..
With crimson camellia,
#
Scarlet Natsume.
