Disclaimer : Gakuen Alice isn't mine. I'm sure you've known it.
Warning : Time Travel. Out of Character. Alternate Reality. Membingungkan.
CHAPTER 02
AWAKE
"Geez… kau pikir itu salah siapa, Natsume?" omel Luca, sementara dia menepuk-nepuk pakaiannya untuk menyingkirkan kotoran dan pecahan kaca yang . Dia menutup matanya, merasa sedikit kesal pada sahabat baiknya. Apa dia tidak usah datang menyelamatkannya saja, ya?
Luca membuka matanya, menyadari kondisi yang terjadi. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya, sebelah alisnya terangkat melihat Natsume menduduki tubuh anak perempuan berambut cokelat di sofa. "Siapa itu?"
Natsume menggerakkan bahunya. "Dia di sini ketika aku bangun." Nada suaranya terdengar tenang dan dingin. "Dia menolak memberitahu identitasnya."
Luca perlahan berdiri, masih menepuk-nepuk pakaiannya. "Apa dia pengguna alice?"
Ekspresi wajah Natsume tidak berubah. "Entahlah." Dia sendiri juga ingin tahu. Anak ini entah kenapa membuatnya penasaran dan juga merasa gelisah.
Karena dalam mata anak ini tersimpan sesuatu yang mengerikan yang sama dengan mata Persona.
Tangannya yang mencekik leher mengetat, kedua matanya menyipit, aura membunuh menyeruak dari tubuhnya tanpa disadari.
"Dia tidak mau mematuhiku sama sekali, jadi aku berpikir untuk membuatnya menangis."
Keringat dingin mengalir di dahi Luca, dia terpaku menyadari sesuatu yang ganjil dari Natsume. Dia hanya sesekali melihat tatapan dan ekspresi seperti itu di wajah sahabat baiknya, hanya muncul ketika itu melibatkan Persona.
Natsume merasa terancam.
Siapa sebenarnya anak ini? Dia menatap seksama gadis – ya, dia melihat jelas bahwa anak itu perempuan – yang terbaring di bawah tubuh Natsume. Gadis itu tidak bergerak sama sekali, tatapannya terlihat kosong dan tubuhnya kaku seakan dia tidak sadarkan diri dengan mata yang masih terbuka.
Apa yang membuat Natsume merasa terancam? Anak ini terlihat biasa-biasa saja, malah kelihatan ketakutan.
"Kenapa kau tidak menggunakan alicemu saja?" tanya Luca, menelengkan kepala.
"Aku lelah dan aku belum bisa menggunakannya dengan benar."
Luca mengerjap. Sekarang… itu menarik. Natsume selalu bisa menggunakan alicenya kapanpun, bahkan ketika dia tidak lagi memiliki tenaga. Natsume suka memaksakan diri.
Mendengarnya mengatakan itu, baru pertama kalinya.
Luca mengulurkan tangannya, merasa penasaran dengan anak yang ditahan oleh Natsume. Namun, sebelum sempat menyentuh, tangan yang ramping tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya, membuatnya tersentak kaget.
Dia mengernyit sementara cengkeraman di lengannya mengetat, matanya melebar ketika dia merasakan dirinya melayang jatuh. Kedua matanya terpejam sakit setelah punggungnya menghantam keras lantai, membuat nafasnya tersedak, disusul kemudian dengan sesuatu… tidak, tepatnya seseorang menindih tubuhnya.
Dia membuka mata dan apa yang menyambut pandangannya membuat nafasnya tercekat.
Takut.
Dia bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat.
Ngeri.
Sepasang mata hazel yang menatap menerawang membunuh ke arahnya, bagaikan sebuah mimpi buruk di alam nyata.
Crap. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan ini semua. Kenapa dari semua alice yang dia miliki harus berakhir dengan alice Exit?!
Bernafas, Mikan. Bernafas.
Pikirannya bagaikan ada ombak yang menghantam. Ditengah-tengah situasi baru yang tiba-tiba dimana dia kembali ke masa lalu, ditambah cekikan di lehernya dan rasa sakit dari rambutnya ditarik, membuatnya tidak lagi mampu berpikir.
"Dia menolak untuk memberitahu identitasnya."
Apa yang…
Kenangan buruk berputar dalam benaknya: Segerombolan AAO menyekapnya. Diburu oleh pihak-pihak akademi. Sekelompok ilmuwan akademi mengutak-atik tubuhnya.
Ketika dia merasakan aura membunuh, itulah yang membuat tali emosinya putus. Hanya insting bertarung yang menguasai tubuhnya. Semua yang masuk dalam pikirannya adalah bahwa ada orang yang menahannya dan mengancamnya. Mata Mikan menggelap sementara emosinya berkobar.
Musuh.
Dia tidak lagi berada di ruangan yang indah, melainkan ruangan mansion tua tempat dia terkurung selama satu abad, tidak melihat Natsume dan Luca, tetapi sosok-sosok bayangan yang terus menahannya dengan kasar. Dia mendengar tangan bergerak menuju ke arahnya, Mikan tanpa pikir panjang langsung mencengkeram erat lengan tersebut, dengan cepat dia berguling, melepaskan dirinya dari cengkeraman.
Salah satu dari sosok bayangan itu melemparkan pukulan ke arahnya, tapi Mikan sudah bergerak. Menyandarkan tubuhnya ke belakang, dia menendang bayangan itu tepat di dada. Bayangan itu terlempar ke belakang, sementara dia melakukan salto dan berdiri. Dia menarik lepas lengannya yang dicengkeram, mengayunkan kakinya ke samping, menendang tenggorokkan salah satu sosok bayangan itu. Menjejakkan kakinya ke sandaran sofa, dia melompat, mengelak dari tackle yang dilancarkan musuh.
"Tahan dia!" Dia mendengar seruan dari salah satu bayangan. Kedua musuhnya menerjang bersamaan, dia menarik bahu salah satu dari mereka, menggunakannya untuk pijakan, dan berputar menendang sosok bayangan yang lain tepat di kepala.
Hanya saja sosok bayangan itu menangkap kakinya. Dia menarik dengan keras, berusaha membebaskan kakinya, sebelum jatuh ke lantai. Kefrustasian meningkat sementara dia terus memberontak, Mikan hampir menendang makhluk itu, namun cengkeraman di kakinya sangat ketat.
Mikan duduk untuk meninju makhluk bayangan itu, tetapi bayangan yang lain berhasil merangkak kepadanya dan menariknya kedalam pitingan kepala, memotong jalur udara ke paru-parunya. Dia berusaha melepaskan diri, hanya saja pegangan pada kakinya yang terlalu kuat membuatnya mustahil untuk lepas. Pandangan Mikan mulai mengabur dan dia nyaris kehilangan kesadaran ketika dia mendengar suara teriakan, disusul kemudian lepasnya pitingan di lehernya dan pegangan di kakinya.
Mikan terhuyung-huyung ketika darah tiba-tiba mengalir dengan cepat ke kepalanya, membuatnya pusing dan pemandangan sekelilingnya berubah.
Dia bukan lagi berada dalam mansion tua, tetapi di ruangan yang indah dan mewah. Kenapa dia berada di ruangan yang bagus? Bukannya dia barusan… Realisasi menyentaknya, dia perlahan mengerjap dan memandang sekeliling, melihat Natsume dan Luca yang terduduk lemas terikat oleh sulur. Mendongak, dia melihat lelaki dewasa berlari mendekatinya.
Narumi-sensei…
Ingatan kejadian beberapa jam tadi kembali padanya: pelepasan alice, terbangun di masa lalu, dirinya sebagai anak-anak, Natsume, Luca…
Dia mengerjap lagi, matanya melebar ketika menyadari situasi yang terjadi. 'Astaga… apa yang telah kulakukan…?'Dia memegang dahinya. Ini tidak seharusnya terjadi, dia tidak seharusnya… 'Apa yang bisa kulakukan sekarang?' Dia harus melakukan sesuatu, tetapi dia tidak bisa berpikir. Dia benar-benar tak bisa berpikir, dia nyaris tak punya udara dalam paru-parunya. Dia jatuh terkapar, dia mencoba menenangkan diri, namun dia terlalu pusing karena darah yang mengalir ke otaknya dengan cepat.
Mikan berjuang untuk bernafas, tetapi dia hanya bisa mendapatkan sedikit oksigen, itu tidak cukup. Berkedip cepat, dia mencoba untuk menyingkirkan bintik hitam dalam visinya, tetapi bintik itu terus menyebar. Dia mendongak panik melihat Narumi berlutut di depannya sembari meneriakkan sesuatu pada seseorang lain yang juga berada di ruangan ini. Dia hampir tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya, sementara pandangan dan pendengarannya mulai memudar.
"Panggil petugas medis… cepat! … Salah satu dari mereka…"
Mikan mengerjap, matanya semakin lama semakin sering menutup.
"-tercekik… pendarahan, dan…"
Rambut Narumi panjang sebahu, sama seperti pertama kali Mikan bertemu dengannya. Narumi memegang bahu Mikan, mengguncang-guncangkannya pelan.
"Mikan-chan, apa kamu bisa… jangan pingsan… akan datang segera…"
Mikan nyaris tidak mendengar apa yang dikatakannya, terlebih lagi mengerti, tetapi dia tidak keberatan. Dia sangat merindukan mantan gurunya itu.
Dia mendengar dengan samar suara langkah kaki yang berlari masuk, melihat Narumi mengayunkan sebelah tangannya cepat. "…gerak cepat… -buh! Dia harus… bisa jadi… -karat tepat sekarang! …"
Sementara kelopak matanya perlahan menutup, Mikan tak bisa ingat kenapa dia begitu panik sebelumnya, tetapi itu tidak lagi menjadi masalah. Dia bisa merasakan lengan yang kuat mendekapnya erat. Jika dia masih punya tenaga, dia akan tersenyum. Dia merasa aman, sesuatu yang tak pernah dia rasakan selama satu abad lebih. Mikan merasa lelah, ototnya melemas dan tubuhnya menjadi lumpuh.
'Narumi-sensei tidak akan keberatan jika aku tidur sejenak…' Itulah pikiran terakhir Mikan sebelum dia akhirnya jatuh ke dalam gelapnya tidur, tak sadarkan diri tanpa dia sadari.
TBC…
A/N :
Author, Mikan, Hotaru : *megang banner* WELCOME AGAIN TO PRICE OF THE FORGOTTEN!
Natsume, Luca, Yuu : *confetti + balon + terompet*
Author : *bows* Terima kasih telah meluangkan waktu membaca fic ini, saya benar-benar senang.
Natsume : Kalo emang ada yang baca.
Author : *panah nancep* (T.T) Natsu-chan, [Natsume : *api di tangan* Siapa yang kau panggil 'Natsu-chan'?] ucapanmu menusuk seperti biasa. Saya sampai bisa merasakan sesuatu yang tajam menusuk saya. *darah muncrat dari tusukan panah*
Mikan,Luca,Yuu : *pucat + panik* DARAH!
Author : (^_^) Terima kasih kepada Classico Blu telah mereview dan menjadi pelanggan setia fic ini. Mengenai pertanyaan anda tentang apa saya akan mengambil sisi serius dari cerita… Tidak juga, saya tipenya netral. Saya tetap akan memasukkan unsur humor ke dalam fic ini. Lagipula, Alice Academy tak akan menjadi Alice Academy kalau nggak ada humor, kan?
Mikan : *blush* Dan kenapa kamu malah nanya soal kejadian 'celana'?!
Natsume&Author : *smirk*
Mikan : *ngelempar asbak ke Natsume dan Author* HAPUS SERINGAI ITU!
Luca + the animals : *megang banner "PLEASE REVIEW IF DON'T MIND"*
…
….
…
With crimson camellia,
#
Scarlet Natsume.
