Disclaimer : Gakuen Alice isn't mine. I'm sure you've known it.
Warning : Sekuhara. Angst and horror.
CHAPTER 03
ICE AND SNOW AND… POLKADOT?
Putih…
Sejauh kedua matanya memandang, segalanya putih…
Dia melangkahkan kakinya, menggigil sesaat karena rasa dingin yang menjalar dari telapak kakinya.
Salju…?
Titik-titik putih bagai kapas berjatuhan perlahan, menghapus jejak-jejaknya. Dia mengadah, mencari sumber dari bola-bola berwarna murni ini, namun dengan pemandangan yang segalanya putih dia tak berhasil menemukannya. Walau begitu senyuman tersungging di bibirnya, perasaan rindu yang menenangkan merasuki dirinya.
Dia terus melangkah, dia tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan, meskipun ujung pikirannya terus memperingatinya akan sesuatu, dia menggubrisnya.
Ketenangan ini… sudah lama sekali dia tidak merasakannya.
Kakinya tersandung sesuatu, membuatnya jatuh terjerembab menuju dinginnya tumpukan salju. Dia bangun bertopang kedua tangannya, menoleh untuk melihat apa yang membuatnya jatuh.
Tubuh seorang gadis remaja berambut hitam pendek yang terbaring diam menyambut pandangannya. Kedua mata gadis itu menutup, wajahnya terlihat tenang dan bisu. Seragam putih berlengan pendek dan rok di atas lutut yang membalut tubuh gadis itu terlihat menyatu dengan salju yang mengelilinginya.
Hotaru…?
Ya… dia mengenal gadis itu. Hotaru. Sahabatnya sedari kecil.
Apa yang dia lakukan, berbaring di tempat dingin begini dengan pakaian seperti itu? Pikirnya, menjulurkan tangannya.
Namun sebelum dia sempat menyentuh tubuh sahabatnya, kedua mata Hotaru terbuka, menampilkan sepasang iris berwarna violet yang terlihat kontras dan indah ditengah-tengah salju.
"Mi…kan…"
Bisikan terdengar dari mulut Hotaru, membuatnya kembali tersenyum.
"Hotaru…" panggilnya, memandang penuh sayang ke arah sahabatnya. Tapi lalu matanya membelalak ketika Hotaru menatap tajam penuh permusuhan padanya.
"Ini semua salahmu, Mikan!" desis Hotaru, tubuhnya masih terbaring seakan ada sesuatu yang menahannya. Mikan tersentak mundur. "Aku tidak seharusnya berteman denganmu! Gara-gara kebodohanmu, gara-gara kau, keluargaku musnah!"
Mikan mengernyit, tubuhnya gemetar melihat tatapan Hotaru yang penuh dendam. "A… aku… aku tidak tahu… mereka…"
"Diam! Apa salah orangtuaku sehingga mereka bernasib seperti itu? Apa salah kakakku padamu sampai dia dibantai dengan keji seperti dia itu binatang?!" bentak Hotaru, tak mempedulikan Mikan yang gemetar. "APA SALAHKU SAMPAI KAU MEMBUATKU MENJADI SEPERTI INI?!"
Mikan terkesiap keras melihat rongga mata Hotaru yang kini kosong, melihat darah mengalir di wajah sahabatnya bagai air mata. Tangan kanan buntung dengan darah merembes deras menodai tumpukan salju. Patahan tulang terlihat di tangan kiri yang memutir. Telinga terpotong sebagian, mulut sobek, dan satu kaki remuk.
"Ho… Hotaru…" gumam Mikan lemah, menjulurkan tangannya ke arah Hotaru ketika ledakan dahsyat terjadi dari tubuh sahabatnya, membuatnya terlempar dan mendarat keras di tanah.
Mikan bangkit, kedua matanya membelalak syok melihat serpihan daging di depannya. "Hotaru…" Air mata mengalir di pipinya. Dia mengangkat wajahnya untuk melihat tubuh sahabatnya, namun kali ini pemandangan sekitarnya gelap. Hitam kelam, seakan berada di dalam kegelapan pekat tanpa batas. Tidak terlihat apapun, tidak bahkan tubuh sahabatnya.
"Sakura."
Dia berbalik, melihat lelaki berdiri menggendong seorang wanita di tangannya. Rambut pirangnya menutupi sepasang mata biru yang menelik penuh aura membunuh padanya.
"Luca…"
"Bagaimana bisa kau…" umpat Luca, pegangan terhadap tubuh wanita di gendongannya mengetat. "Bagaimana bisa kau membunuh ibuku?!"
Mikan bangkit berdiri. "Luca, itu…"
"Setelah segalanya yang kulakukan untukmu…" Luca memotong ucapan Mikan. "Bagaimana bisa kau membayarnya dengan ini?!" bentak Luca histeris. "PEMBUNUH!"
Tubuh Mikan semakin bergetar. Perlahan dia mundur, sebelum berbalik berlari sekencang mungkin, berusaha menjauh dari makian dari lelaki berambut pirang itu.
Walau begitu banyak wajah yang dia kenal muncul, mengulangi umpatan terakhir Luca terhadapnya. Dia menutup telinga dengan kedua tangannya, matanya terpejam erat sementara dia terus berlari diiringi makian "pembunuh!" dari banyak orang.
Sampai dia menabrak sesuatu… tepatnya seseorang, hingga dia jatuh terduduk kebelakang. Dia membuka matanya, mengadah, melihat lelaki berumur 20an berdiri menjulang di hadapannya. Sepasang mata crimson menatap tajam ke arahnya.
"Natsume…"
Mikan merasakan tubuhnya ditarik berdiri, merasakan bahu yang bidang di wajahnya, merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Kehangatan dan ketenangan menjalari tubuhnya dalam dekapan itu. Rasa takut yang melandanya tadi menghilang seketika.
"Kau datang…" gumam Mikan, mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan. "Kau benar-benar datang…" Senyum tersungging di bibir Mikan. "Kupikir kau tak akan pernah datang. Kupikir kau benar-benar melupakanku. Kupikir kau sudah mati."
"Memang."
Mikan mengerjap, dia mengangkat wajahnya. "Apa?"
Senyum dingin terlihat di wajah Natsume. "Aku menepati janjiku. Aku datang menyelamatkanmu."
Kedua mata Mikan melebar penuh horor melihat bercak-bercak hitam kemerahan menyebar di leher dan setengah wajah Natsume.
Senyum dingin Natsume menjadi terlihat sadis. "Kenapa, polkadot? Apa kau tidak senang melihatku?"
Mulut Mikan terbuka-menutup syok. "A… apa yang…"
Natsume mengetatkan cengkeramannya. "Kenapa kau menjauh, Mikan?" Kulitnya perlahan melepuh, daging dan kulit berjatuhan, meleleh bagai es yang mencair. Senyumannya semakin lebar. "Kau tidak ingat? Aku menjadi seperti ini karena kau. Aku, si bayangan itu, dan Naru datang untuk menyelamatkanmu, tapi lalu kau malah menggunakan campuran alice Mark of Death, Curse, dan Boil, pada kami."
Mata Mikan membelalak semakin lebar. "Ti… tidak mungkin… aku tidak…"
"Oh, iya…" Natsume masih tersenyum dingin, setengah wajahnya hanya terlihat tengkoraknya karena daging dan kulit meleleh. "Kau melakukannya. Kau menyiksa kami dan lalu membunuh kami. Aku melihatnya, Mikan. Kau membunuh si bayangan duluan, menyiksanya dengan menggunakan campuran alice dan membelah tubuhnya perlahan dengan alice Ice sampai dia mati. Dan lalu kau membunuh Naru. Oh, jangan lupa bahwa si guru banci itu mati pelan. Kau benar-benar kreatif, bisa-bisanya terpikir untuk membunuhnya dengan alice Nullification. Aku sendiri sama sekali tidak menyangka, kupikir Nullification itu hanya bisa digunakan untuk menihilkan alice, ternyata aku salah."
"Tidak…"
"Kau sangat menikmatinya, kan? Aku melihatmu tertawa sementara kau menihilkan bagian-bagian tubuh Naru satu demi satu."
"Tidak… aku tidak melakukan itu…"
"Terus, aku yang terakhir. Sepertinya kau memang ada dendam padaku. Kau menggunakan alice Mark of Death, Curse, Boil, Fire, dan Blood Bend, sekaligus padaku. Apalagi kau tidak membiarkanku mati cepat, membuatku mati jauh lebih lambat dari Naru. Kau meninggalkanku di dalam ruangan itu untuk membuatku menyaksikan tubuhku sendiri meleleh dengan sangat perlahan, melihat dan merasakan kengerian hidup dan mati."
"Tidak… hentikan…"
Api muncul di tangan Natsume, membakar pergelangan tangannya sebelum menyebar membakar seluruh tubuh. Mikan memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Natsume, merasakan api membakar punggungnya.
Dia mendengar Natsume tertawa keras, nafasnya tersengal-sengal akibat berkurangnya oksigen di dalam kobaran api. Dia melihat kulitnya melepuh, darahnya mendidih, dan akhirnya dia menjerit ketika api membakar tubuhnya sepenuhnya.
Kedua mata Mikan sontak terbuka, gumpalan udara terlihat dari nafasnya yang berat, keringat dingin mengalir di dahinya dan membasahi tubuhnya.
'Mimpi…?'
Dia menutupi kedua matanya dengan sebelah tangannya, tatapan terus mengarah pada langit-langit.
'Tapi… begitu nyata…'
Dia berpaling ke arah jendela, menatap serpihan salju berjatuhan.
Salju…
Dia merinding mengingat kembali mimpinya tadi.
Suara pintu terbuka terdengar membuatnya menoleh, melihat sosok pria berambut pirang masuk bersama dua anak lelaki dibelakangnya.
'Narumi-sensei…' Mata Mikan membelalak. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tempatnya berada sekarang. 'Jadi semua itu tidak sepenuhnya hanya mimpi?'
Ucapan Narumi memotong pikiran Mikan. "Ah! Mikan-chan, kau sudah bangun rupanya."
Mikan menelan ludah pelan. Ini bukan waktunya untuk melamun! Dia lalu memasang ekspresi polos anak-anak yang baru bangun dari pingsan. "Narumi-sensei… apa yang terjadi?! Ini dimana?!"
Narumi mendekati Mikan yang terlihat panik. "Tenang, Mikan-chan!" ujarnya, sembari tersenyum lebar. "Ini di rumah sakit. Aku benar-benar khawatir, kamu nggak sadarkan diri sejak lusa kemarin, kukira kamu nggak bakal bangun."
Lengan Mikan menopang tubuhnya untuk bangkit duduk. "Lusa kemarin?" tanyanya, terkejut. 'Aku tidur selama dua hari?' batinnya tak percaya.
Pria berambut pirang itu mengangguk, menarik kursi untuk duduk. "Apa kamu ingat apa yang terjadi, Mikan-chan?" tanya Narumi, kedua tangannya memegang tangan kanan Mikan. Dia lalu melanjutkan ucapannya ketika Mikan tak menjawab. "Aku dan Misaki-sensei menemukanmu terluka parah, berserta Natsume dan Luca yang juga terluka," lanjutnya, meninggalkan detail bahwa mereka berdua menemukan Natsume dan Luca yang juga babak belur menindih tubuh Mikan dengan Natsume mencekik leher anak perempuan itu. "Apa kamu bisa mengingat apa yang terjadi?"
Ya, Mikan ingat apa yang terjadi, tetapi dia menggeleng, memutuskan untuk tidak memberitahu mantan guru… err… gurunya itu karena dia tahu jika dia memberitahu apa yang terjadi, Natsume dan Luca akan menerima hukuman berat, terutama Natsume. "Tidak," gumamnya. Dia lalu menggaruk pipinya. "Aku ingat aku bangun di ruangan yang mewah, tapi setelah itu aku tidak ingat."
Narumi menghela nafas. "Begitu," gumamnya kecewa, sebelum tersenyum kembali. "Yah… sudahlah. Ngomong-ngomong, Mikan-chan," Dia melirik ke arah dua anak lelaki yang berdiri di dekat pintu. "Natsume dan Luca katanya ingin minta maaf soal kejadian kemarin."
Mikan mengerjap, sementara Natsume dan Luca membuka mulutnya mau memprotes.
"Iya, kan?" tanya Narumi, menoleh ke arah dua anak lelaki itu dengan senyum 'misterius', membuat Luca menelan ludah dan sebulir keringat dingin mengalir di belakang kepala Natsume.
"I-iya…" gumam Luca. "Maaf."
Natsume memalingkan muka. "Hn."
Sebulir keringat besar mengalir di belakang kepala Mikan. "Ah, ya, aku juga minta maaf." Mikan tertawa garing. 'Jelas banget kalau mereka nggak benar-benar minta maaf.'
Narumi bertepuk tangan, memecahkan suasana canggung yang terjadi. "Baiklah," Dia beranjak dari kursinya. "Aku mau memanggil dokter untuk memeriksa kondisimu, sekalian mau beli minum juga. Mikan-chan mau pesan minum?"
"Mmm… boleh aku minta air mineral?"
"Oke, deh!" Narumi membuka pintu. "Selagi kutinggal, kalian akrabkan diri dulu, ya!" ujarnya sembari melambaikan tangan, sebelum menutup pintu dan pergi.
Keheningan terjadi sesaat, Mikan menghela nafas sementara matanya masih tertuju pada pintu yang menutup. Tingkah Narumi tadi membuatnya rindu. Dia bisa merasakan air mata menggenang.
"Siapa kau?" Sebuah suara yang terdengar mengancam membuat Mikan kembali ke dunia nyata. Dia tersentak, melihat Natsume berdiri waspada dengan api di tangan kanannya dan tangan kirinya mengunci pintu.
"Na… Natsume!" sahut Luca pelan, merasa khawatir pada sahabat baiknya. Apa yang sebenarnya sahabatnya ini pikirkan?! Apa dia ingin mendapat hukuman yang lebih berat lagi?! Belum lagi ada hukuman dari Persona…
"Jawab!" desis Natsume, kedua matanya menyipit tajam.
Mikan terdiam menatapnya, tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Wajah Natsume memang menakutkan, tetapi Mikan pernah berhadapan dengan orang-orang yang lebih mengancam.
'Tapi…' Mikan merenung sejenak, memandang Natsume dengan tatapan penuh selidik seperti ilmuwan yang mengobservasi kelinci percobaannya. 'Apa mungkin karena umurku yang sudah tua, melihat tatapan mengancam Natsume-cilik jadi kelihatan kayak tatapan tajam anak kucing di mataku?' Dia menggigit bagian dalam bibirnya untuk mencegah tawa keluar. 'Adorable.'
Dia menyunggingkan senyum polos. "Aku Mikan Sakura. Aku datang dari Kyoto, kemari untuk mencari sahabatku."
Suara Natsume terdengar semakin berbahaya. "Apa kau mata-mata?"
Apa?
Mikan mengerjap. Barusan Natsume bertanya…
Mikan mendengus, sebelah tangan menutupi mulutnya untuk menahan tawa.
"Apanya yang lucu?" tanya Natsume dingin.
"Kamu." Mikan menghela nafas untuk menghentikan tawanya. "Kenapa kau bisa bertanya begitu? Jelas-jelas kalau aku ini hanya anak perempuan biasa."
Dia lalu mengernyit ketika Natsume menarik rambutnya. " 'Anak perempuan biasa' tak mungkin bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang terlatih." Tatapannya menerawang berbahaya, dia mendekatkan api di tangan kanannya ke wajah Mikan. "Kuulangi, siapa kau?"
Luca menarik lengan Natsume. "Natsume, sudah hentikan! Hukumanmu akan semakin berat kalau begini!"
Natsume tidak mempedulikan peringatan dari temannya, dia masih mengancam Mikan dengan alice Fire miliknya.
Mata Mikan juga menerawang. Dia mencoba mengaktifkan alice Nullification untuk melingkupi tubuhnya agar terlindung dari alice Fire milik Natsume, dan dalam hati menghela nafas lega. Sepertinya dia masih memiliki alicenya, tetapi dia khawatir sekuat apa alicenya saat ini.
"Dan ekspresimu yang tenang itu membuktikannya," geram Natsume, memotong lamunan Mikan. " 'Anak perempuan biasa' akan ketakutan atau menjerit jika api di dekat wajahnya."
Aw, shit…
Di dalam batin Mikan menepuk dahi dan mengutuk dirinya sendiri. Dia lupa untuk berekspresi ketakutan.
Kesalahan yang benar-benar fatal, eh?
Baiklah, kalau sudah begini…
"KYAAAAAAAAAA!" jerit Mikan. Dia mendorong wajah Natsume jauh-jauh dan memukul-mukul. "HENTIKAN! JANGAN MENDEKAT! JANGAN LUKAI AKU! TOLOOOONG!"
Natsume dan Luca membelalak syok dan terpaku melihat anak perempuan di hadapan mereka tiba-tiba panik dan memberontak hebat.
Ini anak… jangan-jangan anak ini lamban.
Mereka tersentak mendengar suara derap kaki yang semakin mendekat yang diiringi sahutan. Luca segera berlari menuju jendela, menempelkan dua jari ke mulutnya untuk bersiul.
Pintu berdebam terbuka. "Kau tidak apa-apa, Mikan-chan?!" teriak Narumi, berlari masuk diikuti Misaki yang tadi kebetulan berpas-pasan dengannya di belakangnya.
"Narumi-sensei!" sahut Mikan panik. Narumi terpaku menatap Mikan yang duduk menangis lebay di atas ranjang, sementara Natsume dan Luca berdiri di jendela dengan ancang-ancang mau melompat.
"Natsume! Luca!" bentak Misaki, perasaan kesal dan khawatir bercampur aduk.
Natsume dan Luca terdiam saling bertatapan sesaat, sebelum Natsume mengangkat sehelai kain putih bertotol.
"Sudah dulu, ya," ucap Natsume, tanpa ekspresi. "Celana polkadot."
Keheningan panjang menyeruak.
Natsume dan Luca memanfaatkan keheningan itu untuk kabur. Mereka melompat keluar jendela, terbang menggantung di kaki seekor rajawali raksasa, pergi menjauh dari rumah sakit.
Mikan menatap syok ke arah jendela.
What the…
Barusan Natsume…
Siiiiiiiiing~!
"Walah… diambil, ya?" Suara Narumi memecah keheningan.
TENG!
Tubuh Mikan terbaring lemas, sementara wajahnya menyuruk ke kedua lengannya yang telipat.
'Siiiiaaaaal!' jeritnya dalam hati. Tak disangka adegan yang paling TIDAK dia inginkan terjadi malah tetap terjadi!
"Mi… Mikan-chan?" panggil Narumi, ragu-ragu. Keringat dingin mengalir di wajahnya. "Sudahlah… jangan menangis lagi, Mikan-chan."
Aku nggak nangis! Mikan ingin sekali meneriakkan itu, tetapi dia terlalu kesal untuk melakukannya, apalagi mulutnya saat ini terlalu sibuk komat-kamit umpatan-umpatan dan kutukan-kutukan yang dia ketahui dalam tujuh bahasa berbeda, yang bahkan membuat seorang pelaut malu.
Narumi tersenyum lebar, berusaha menghibur. "Kalau cuma celana dalam yang diambil, bukan hal yang penting, kan?" Dia tertawa canggung. "Kalau besar nanti, dia pasti akan melakukan hal yang lebih gila lagi."
'Bukan hal penting, gundulmu!' batin Mikan. 'Harga diri jatuh, tahu!'
Dan Mikan merasa sedikit terhibur ketika Misaki mengatakan, "Itu, kan, hal yang penting."
"Aku…" gumam Mikan. Sialan, Natsume itu! Bisa-bisanya bocah berandal itu mengambil celana dalamnya! Tetapi yang keluar dari mulutnya lain kalimat. "Aku membuat kakek malu!" sahutnya, tangannya yang terkepal dihantamkannya ke ranjang berulang-kali. "Kakek pasti mengira aku sudah nggak layak jadi pengantin lagi!"
Narumi masih tersenyum lebar. "Ah, jangan khawatir! Saat itu aku akan membuat Natsume bertanggung jawab." ujar Narumi santai.
"Ogah!" bentak Mikan, sontak. Aura gelap lalu menyebar darinya, membuat Narumi dan Misaki langsung mundur.
Narumi menjulurkan tangannya, keringat dingin membanjiri wajahnya. "Mi…Mikan-chan?"
'Awas saja kau, Natsume Hyuuga!' geram Mikan dalam hati, wajahnya menampakkan ekspresi setan sementara rambutnya berkibar-kibar.
Guru berambut pirang itu melompat mundur memeluk Misaki ketika aura gelap semakin cepat menyebar.
'AKAN KUBUAT KAU DAN TANGANMU MENYESAL SUDAH BERANI MEMBUAT GARA-GARA DENGAN CELANA DALAMKU!'
Dan 'pernyataan perang' ini menjadi tanda awal dimulainya petualangan Mikan yang kedua sebagai siswa di Alice Academy.
To Be Continue…
A/N :
Author : Oh, yeah! Update… again… (tepar)
Hotaru : (stoic) Update-mu mulai ngaret.
Author : Yah… apa boleh buat, saya sibuk dengan tugas-tugas… T.U.G.A.S! Hal paling menyebalkan dalam sejarah! (Ш=┌┐=)Ψ
Hotaru : Itu karena kamu bodoh.
Author : (sigh) Yah… jadi orang bodoh itu nggak enak.
Hotaru : Makanya, pakai ini. (mengeluarkan alat berbentuk topi) Dengan ini, kamu bisa membuat otakmu seperti kamu punya ingatan fotografis. Cukup dengan Rp. .xxx, Clever Hat ini bisa kamu dapatkan!
Author : (sweatdrop) Kok, jadi komersial…? (sigh) Baiklah, sekarang saya akan menjawab review para pembaca sekalian.
###
To Ethel Star :
Author : (bows) Terima kasih telah membaca dan mereview fic ini. Dan ya, Mikan memiliki kesempatan kedua untuk mengubah masa depannya. Apakah masa depannya akan menjadi tetap seperti kehidupannya yang lalu (atau yang akan datang?) atau dia bisa mengubah masa depannya menjadi akhir yang bahagia, itu bisa kita lihat di akhir fic ini.
Hotaru : Fic ini akan terus dilanjutkan sampai tamat, walau tidak tahu kapan updatenya karena Author orangnya ngaret.
Author : (glare at Hotaru) Iya, iya. Saya memang ngaret.
###
To Chiroo :
Author : Terima kasih atas reviewnya! Dan terima kasih telah menunggu lanjutannya. (^_^)
Hotaru : Sudah ada sekilas di chapter ini tentang masa lalu dibalik penderitaannya.
###
To Sunny Iruzer February :
Author : Thank you for your review and your support. Dan Anda boleh memanggil saya Scarlet.
Hotaru : Karena dia memang dipanggil Scarlet.
Author : Tapi saya memang lebih memilih dipanggil 'Scarlet'. Kalau saya dipanggil 'Natsume', nanti nggak bisa membedakan antara saya dan Natsume. ('-_-)
Hotaru : (buka permen) Mikan nggak mungkin punya alice bentuk keempat.
Author : Yeah… karena Mikan punya Stealing Alice. #You know what I mean?
###
To Hikari Kashiwazaki :
Author : Ya, reader-san. Saya akan terus update fic ini sampai tamat.
Hotaru : Walau kamu harus nunggu lama untuk updatenya.
Author : (glare)
###
Author : (bows) Terima kasih telah menyempatkan diri membaca dan mereview fic ini. Saya sangat senang bila Anda menyukainya.
Hotaru : Tapi… (ngelirik fic) Biarpun Mikan kembali ke masa lalu, tetap saja adegan 'celana dalam' tetap terjadi, ya.
Author : ('==)a Ah… itu, kan, karena dia lengah. (noleh ke pembaca) Untuk akhir kata, Please review if don't mind. Selamat siang dan terima kasih! (^o^)/
Hotaru : Bye bye. (¬o⌐)0
….
…..
…
With crimson camellia,
#
Scarlet Natsume.
