Disclaimer : Gakuen Alice isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Time Travel. Out of Character.


CHAPTER 04

LET'S GO TO CLASS!


"Mikan-chan! Sudah belum?!"

Mikan mengadah ke arah tirai. "Belum, Narumi-sensei!" sahutnya, sembari tangannya berkutat pada dasi yang melingkari lehernya.

"Aaah! Aku nggak sabar pengen lihat Mikan-chan pakai seragam!"

Sebulir keringat mengalir di dahi Mikan. 'Dasar pedo!' batin Mikan, merasa merinding dengan tingkah Narumi. 'Heran kenapa aku dulu menganggap Narumi-sensei itu ayah yang imut.' Bulu kuduknya berdiri ketika dia mendengar gumaman-gumaman Narumi yang – menurutnya – terlalu gay.

Tapi…

Dia melihat pantulannya di cermin. Seragam Alice Academy terlihat sangat pas di tubuhnya, atasan hitam lengan panjang dengan kerah lebar warna putih menutupi bahunya, rok kotak-kotak warna merah membalut sampai pertengahan pahanya, ditambah sepasang sepatu boot hitam yang menutupi kakinya.

'Aku…' Alis Mikan berkedut. 'Aku kelihatan kayak orang yang sok imut!' teriaknya dalam hati.

"Mikan-chan~!"

Suara panggilan dari Narumi membuatnya tersentak. "Iya, iya!" sahutnya, sembari mengambil pita di atas meja.

Jeritan senang menggema di telinga Mikan setelah dia menarik tirai terbuka, membuat kedua alisnya berkedut tak senang. Jemarinya dengan cekatan mengikat simpul pita yang menguncir rambutnya.

"Narumi-sensei, sudah cukup," erang Mikan, merasa tak nyaman dengan tatapan Narumi yang – menurutnya – terlihat seperti tengah menelanjanginya. 'Beneran pedo, deh,' batinnya muak.

Narumi cemberut. "Tapi, Mikan-chan!" seru Narumi, mengangkat tubuh Mikan ke udara, membuat Mikan terkesiap kaget. "Kau kelihatan imut!"

Rona merah menyebar di pipi Mikan. "Narumi-sensei! Turunkan aku!"

Cengiran Narumi semakin lebar sementara dia menurunkan Mikan. "Ne~! Siap masuk kelas, Mikan-chan?"

Mikan menghela nafas lega ketika kedua kakinya menapak lantai. "Iya, Narumi-sensei!" jawabnya, terdengar ceria. 'Tidak juga, Narumi-san. Kalau bisa, aku lebih memilih jauh-jauh dari akademi ini.'


"Mikan-chan," mulai Narumi, sementara mereka berdua berjalan menyusuri koridor. "Sebelumnya sudah kukatakan supaya diterima secara resmi, kamu harus lulus tes masuk, yaitu ujian perburuan selama satu minggu."

Mikan menelengkan kepalanya, bayangan sekilas mengenai saat pertama kali dia mengetahui alice miliknya terlintas di pikirannya. 'Ya, aku tahu.'

Narumi melihat ekspresi wajah Mikan yang kosong. "Tenang saja, tesnya mudah, kok, Mikan-chan," ujar Narumi, mengira Mikan cemas. "Kalau kamu bisa membaur dan berteman dengan murid-murid di kelas B, kelas yang akan kamu masuki, sekolah akan mengakui level alice yang kamu miliki."

'Sayangnya tesnya bukan seperti itu, Narumi-sensei,' Mikan tersenyum lebar, menyembunyikan kesedihan yang sedikit menyeruak dari dasar hatinya. Dia sangat menikmati kehidupannya di Alice Academy, sampai dia mengetahui tentang alicenya yang kedua dan bahwa dia bisa memodifikasi kegunaan kedua alicenya, yang membuatnya menjadi bahan eksperimen penting bagi para ilmuwan gila itu.

Mikan terlalu hanyut dalam pikirannya sehingga dia tidak menyadari bahwa Narumi berhenti berjalan, membuatnya menabrak punggung gurunya itu.

"Kita sampai, Mikan-chan." Narumi tersenyum lebar, sementara Mikan menoleh melihat pintu ganda yang menjulang di hadapannya. "Aku masuk duluan. Sampai namamu dipanggil, tolong jangan masuk dulu, ya!" ucap Narumi ceria, sembari membuka pintu.

Sementara Mikan berdiri diam di depan pintu, menunggu sampai dia dipanggil, pikirannya berputar kembali ke masa lalunya. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Sudah lama sekali sejak terakhir dia berbaur di antara orang-orang, dia tak bisa menjamin bahwa dia mampu berperan sebagai Mikan Sakura yang lama. 'Dan aku tak bisa meremehkan Hotaru,' pikirnya. Hotaru sahabat baiknya, walau Mikan melakukan aktingnya dengan sempurna, Hotaru tetap bisa mengetahui emosi dirinya yang sesungguhnya. 'Seperti Luca yang bisa menebak emosi Natsume,' batinnya geli, tawa kecil keluar pelan dari mulutnya.

Apa dirinya mau bersahabat lagi dengan Hotaru, meskipun sekarang dia tahu apa jadinya di masa depan? Konflik demi konflik semakin membuat Mikan ragu. Dia ingin bersahabat kembali dengan Hotaru. God damn it! Dia sangat merindukan teman baiknya itu! Tapi dia tidak mau Hotaru menjadi sandera pihak akademi!

'Apalagi, aku tidak lagi memiliki semua sub-aliceku!' sahut Mikan dalam hati. Ya, selagi dia di rumah sakit, Mikan menerawang alicenya. Dia masih memiliki alice Nullification dan Stealing, namun semua sub-alice yang dia dapatkan di kehidupannya yang lalu tidak ada lagi. Alice Nullification maupun Alice Stealing, kedua-duanya masih tetap menarik perhatian pihak atas Alice Academy. Mikan menggertakan giginya, dia belum membuat rencana tentang bagaimana dia hidup di akademi, dan itu membuatnya risih.

"Mikan-chan, masuklah!" Sahutan dari balik pintu membuyarkan lamunannya. Mikan menarik nafas untuk menenangkan hatinya, memasang kembali topeng tak terlihat yang menutupi emosinya yang sesungguhnya.

'Pokoknya untuk saat ini, jalani saja seperti kamu belum mengetahui apa alicemu, Mikan.' Mikan mendorong pintu terbuka. 'Ingat bahwa kamu ada di waktu ketika kamu belum mengetahui apa-apa. Pihak akademi belum mengetahui tentang dirimu, bagi mereka kamu hanya murid akademi biasa seperti anak-anak lainnya. Asal kamu tidak melakukan apapun yang menarik perhatian, kamu akan baik-baik saja,' batinnya terakhir kali, sebelum dia masuk ke dalam kelas.


Hotaru Imai sibuk memperbaiki penemuannya yang terbaru ketika wali kelas mereka yang bego masuk ke kelas, membuat hening kelas yang tadinya sangat ramai. Dia melirik sekilas pria berambut pirang yang tengah menghibur Fukutan, guru mereka, itu, sebelum terfokus kembali pada alat di tangannya.

"Tumben si banci ke kelas," Hotaru mendengar salah satu murid laki-laki bicara. Gumaman demi gumaman heran dari rekan-rekan sekelasnya menyambut telinganya, yang sama sekali tidak dia hiraukan.

"Tumben kau masuk kelas, Naru!" sahut seorang anak laki-laki yang dipanggil 'Kitsuneme' oleh teman-temannya, yang lalu disambut sahutan-sahutan lain dari murid lainnya.

"Maa, maa." Narumi tersenyum lebar. "Memang apa salahnya aku masuk kelas? Aku, kan, wali kelas kalian," lanjutnya, menghiraukan Fukutan yang dengan ketakutan bergumam, "Kalau kamu mengaku wali kelas mereka, jangan bebankan tugasmu ke orang lain, dong…"

Narumi tersenyum ceria sembari menepuk tangannya sekali. "Yak, tolong perhatiannya sebentar, anak-anak! Kita kedatangan-"

"Apa! Murid baru!?" teriakan dari si pembaca pikiran, Kokoroyomi, memotong ucapan Narumi yang kemudian cemberut pundung.

"Koko-chan... jangan menginterupsi..." gumam Narumi, merasa kecewa kejutannya berantakan.

Koko menggaruk belakang kepalanya. "Hehe... maaf, sensei..."

Narumi menghela nafas. "Seperti yang dikatakan Kokoroyomi, kita kedatangan murid baru,"

Hotaru mengerjap. 'Murid baru? Di pertengahan semester begini?'

"Mikan-chan, masuklah!"

Ucapan Narumi membuat Hotaru tersentak. 'Masa, sih…?' batinnya, kedua matanya melebar, perlahan menoleh ke depan kelas.

Kedua matanya semakin melebar tatkala seorang anak perempuan berambut cokelat yang sebaya dengannya berjalan masuk. Rambut anak itu dikuncir dua, wajahnya yang kekanakan terlihat sangat familiar bagi Hotaru.

'Mustahil…' Mulut Hotaru terbuka sedikit. 'Ini tidak mungkin…'

Anak perempuan itu berhenti, bibirnya membentuk senyum lebar yang terkesan polos. "Namaku Mikan Sakura. Salam kenal semuanya!"

To Be Continued…

A/N :

Author : Yeah… update…

Natsume : Yeah… ngaret…

Author : (death glare) Shut up.

Natsume : (stoic glare) Make me.

Author&Natsume : (saling tatap penuh aura permusuhan)

Luca : (sweatdrop) Ah… anu… di bawah ini jawaban dari review anda semua…!

###

To Sunny Blue February :

Author : (bows) Terima kasih atas reviewnya, dan… (blush) terima kasih banyak atas pujiannya. (-/- )\

Natsume : Siapa juga yang muji elo, author bego.

Author : (death glare)

Luca : (makin sweatdrop) Erm… terima kasih atas dukungannya.

###

To Ethel Star :

Author : Mikan bisa acting karena kehidupannya mengharuskan begitu. Kalau dia tidak bisa acting, tidak mungkin dia bisa bertahan lama dalam kehidupannya yang keras. Selain itu juga, anda pasti sudah mendapatkan hint – walau sedikit – mengenai apa yang telah dilakukan Alice Academy terhadap Mikan, jadi anda pasti mengerti kenapa Mikan bisa akting.

Natsume : (glare) Siapa bocah polkadot itu sebenarnya?

Author : (meletin lidah) No telling! That's spoiler!

Natsume : Tch.

###

To Yuki Sakura :

Natsume : (baca PM) Khukhukhukhukhu…

Author : (sweatdrop) Apa?

Natsume : Pertanyaan menarik. (lempar hape ke author)

Author : ( ~_o) (baca PM) ….. ('OAO)!?

Natsume : (dark aura + evil chuckle) Khukhukhu… jawab pertanyaannya Author. Kenapa, walaupun punya kekuatan yang luar biasa hebat dan kuat, Mikan Sakura masih tidak bisa lepas dari cengkeraman pihak akademi? Dan kenapa dia bisa tertangkap dan dikurung?

Author : Er… anou… (''OAO)

Natsume : (o_~ ) Hm?

Author : Eto…

Natsume : Hm, hm…?

Author : Erm… ('=A=) Itu… spoiler…?

Natsume : He…? (o_~ ) Bilang aja kalo elo belum mikirin sampai sana.

Author : (murmur) Diem lu.

Natsume : I already said MAKE ME.

Author : (snapped) I'LL SHOW YOU 'MAKE ME'! (nyerang Natsume pakai cambuk baja)

Natsume : (mengelak)

###

Luca : (bows) Terima kasih telah membaca dan mereview fic ini. Author sangat menghargainya. (sweatdrop lihat Author dan Natsume bertarung)

Para binatang Luca : (bentangin banner bertuliskan "PLEASE REVIEW IF DON'T MIND!"

….

…..

With crimson camellia,

#

Scarlet Natsume.