Disclaimer : Gakuen Alice isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Time Travel. Out of Character (for Mikan).


CHAPTER 05

THE NEW KID


'Betapa rindunya.' Mikan memandang kelasnya yang sangat berantakan, senyum palsunya masih terpasang di wajahnya. 'Sulit dipercaya bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang hebat ketika mereka dewasa nanti.' Dia mengedarkan pandangannya, sebelum terhenti pada sepasang mata violet yang menatap terkejut ke arahnya.

'Hotaru…' batin Mikan, berusaha menahan air matanya yang mengancam keluar. Dia masih belum memutuskan apa yang akan dia lakukan mengenai Hotaru; tetap bersahabat atau menghiraukannya. Dua pilihan yang tersedia untuknya, sama-sama berujung tidak mengenakkan.

"Nah… Mikan-chan." Suara Narumi membuyarkan pikirannya, Mikan menoleh ke arah wali kelasnya yang tersenyum lebar – yang menurutnya sangat mencurigakan. "Karena kau sudah mengenalkan diri…"

Suara debam pintu terbuka memotong ucapan Narumi. "NARUMI! BERANINYA KAU MENGAMBIL BIBIT CEMETI DARI RUMAH KACA LAGI!"

Kepala Mikan sontak menoleh, mendapati Pak Misaki menatap tajam penuh aura hitam ke arahnya… tidak, lebih tepatnya ke arah lelaki di belakangnya.

"Erm… Narumi-sensei…" gumam Mikan, memalingkan wajahnya menuju Narumi. Sebulir keringat mengalir di dahinya ketika dia melihat Narumi sudah berdiri di ambang jendela yang terbuka.

Senyum lebar Narumi masih tersungging di bibirnya. "Berhubung kamu sudah mengenalkan diri, Mikan-chan," Dia melambaikan sebelah tangannya. "Kita harus berpisah di sini." Dia melompat keluar dari jendela. "BERTEMAN BAIKLAH DENGAN YANG LAIN, YA! SELAMAT BERJUANG!" teriaknya, sebelum lari menjauh secepat kilat.

"KEMARI KAU, BANCI!" teriak Pak Misaki sembari melompat keluar jendela untuk mengejar Narumi.

Mikan menatap pasrah ke arah jendela. 'Aku lupa… Narumi-sensei juga meninggalkanku sendirian meladeni kelasnya ketika aku pertama masuk akademi dulu…' Tawa monoton terdengar pelan dari mulutnya.

"Siapa kau?" Sebuah pertanyaan terdengar, Mikan menoleh, melihat seorang anak lelaki terbang di atasnya.

Mikan memasang senyum palsunya kembali, kali ini dia membuat senyumnya lebih terkesan polos dibanding yang sebelumnya. "Mikan Sakura. Kau sendiri?"

Anak itu menaikkan sebelah alisnya, merasa bingung dengan sikap 'terlalu ramah' dari Mikan. "Itu bukan urusanmu."

'Oh, iya. Anak-anak ini brengsek semua waktu aku pertama kali bertemu dengan mereka,' pikir Mikan geli dengan penuh nostalgia seperti orang lanjut usia. Oh… dia sudah bisa melihat sedikit bahwa kehidupannya di akademi untuk kedua kalinya akan sangat menyenangkan (bagi dirinya).

"Itu urusanku. Kau bertanya padaku siapa aku, dan aku menjawabnya. Sekarang giliranku bertanya, dan aku akan mengulangi pertanyaanku, kau sendiri siapa?" ujar Mikan, berusaha untuk tidak tertawa, dan membuat suaranya masih terdengar wajar.

Anak itu mengerutkan dahinya. 'Cewek ini… menarik…' pikirnya, merasa takjub dengan balasan dari Mikan. "Namaku Laki."

Mikan memberikan senyum lebar yang terkesan seduktif namun polos, membuat pipi anak laki-laki itu merona. "Senang bertemu denganmu, Laki-kun."

"A… ah… iya…" gagap Laki, sementara dia berbalik pergi menjauhi Mikan.

Mikan menggigit bibirnya, berusaha menahan tawa keluar. 'Oh my God! Ini menggelikan!' Dia ingat di garis waktunya yang asli, dia butuh waktu tiga minggu untuk tahu nama Laki.

Dia lalu melihat seorang anak lelaki berkacamata dan berambut kemerahan mendekatinya. 'Yuu…' Mikan mengerjapkan matanya, mencoba menghilangkan gambaran kolam darah dan bagian-bagian tubuh dewasa Yuu yang tercecer yang membayang di kedua matanya. 'Aku tidak ingin tragedi itu terulang lagi…' harap Mikan, mendorong kuat-kuat kenangan buruknya.

"Selamat datang di kelas B tingkat dasar, Sakura-san," sambut Yuu dengan senyum lebar. "Aku pengurus kelas, Yuu Tobita. Berada di kelas yang seperti ini… mungkin membuatmu tertekan, tapi…" Dia menggaruk belakang kepalanya, rona merah menjalar di wajahnya. "Kalau ada masalah dan hal yang tidak dimengerti, tanyakan saja padaku."

Mikan terdiam menatap Yuu. 'Dia… sama sekali tidak berubah,' batinnya, senyum lembut asli tersungging di bibirnya, membuat wajah Yuu semakin merah. "Terima kasih, Tobita-san."

Suara deheman dari Pak Fukutan menggema. Mikan menatap guru berambut hitam itu dengan sedikit simpati, sementara Yuu kembali ke bangkunya. Selama dia mengenal guru ini, Mikan melihat Fukutan selalu di'jahili' para muridnya, dan dia menjadi sedikit kasihan. "Maaf, Fukutan-sensei."

Fukutan dalam hati merasa girang bahwa murid baru ini menyadari keberadaannya. Selama dia mengajar di akademi ini, tak satupun murid-muridnya – heck, bahkan para guru lainnya juga – yang peduli padanya. Mendengar murid baru ini mengucapkan maaf padanya… itu membuatnya senang dan merasa dikenali.

"Ah… ti-tidak apa-apa, Sakura-san," ujarnya, sedikit bingung bagaimana menangani rasa gembiranya. Dia lalu menghadap ke arah murid-murid kelasnya yang terlihat cuek. "Ini teman baru kalian mulai saat ini, Mikan Sakura. Bertemanlah dengan Mikan, ya."

Ucapan itu mendapat lemparan bola kertas.

"Tak usah bilang 'teman', bodoh!"

"Siapa juga yang mau dengar omonganmu, guru bodoh!"

Sebulir keringat mengalir di kepala Mikan, melihat Fukutan – yang saat ini meringkuk melindungi dirinya – dilempari oleh para muridnya. Dia menghela nafas, mau di zaman apapun sepertinya Fukutan tak pernah dihormati para muridnya. Dia melihat sebuah kaleng dilempar ke arah Fukutan, dengan cepat dia mengambil mistar papan tulis dan mengayunkannya menuju kaleng tersebut seperti dia bermain baseball, membuat kaleng itu terlempar balik dan membentur kepala orang yang melemparnya.

"Sakura… san…" gumam Fukutan pelan, terkejut dengan Mikan yang melindunginya.

Suasana kelas menjadi hening. "Bagaimana? Sakit, kan?" kata Mikan kepada orang yang melempar kaleng, masih tersenyum. "Melempar kertas tidak apa-apa, tapi melempar kaleng pada guru itu sudah keterlaluan. Kaleng itu terbuat dari bahan yang sangat keras dan bisa menjadi benda tajam, kau akan melukai sensei jika kau melemparnya dengan kaleng itu." Mikan menghiraukan tatapan-tatapan dari murid-murid lainnya sementara dia membantu Fukutan berdiri. "Tidak apa-apa, sensei?"

Fukutan tersentak dari keterkejutannya. "A-ah… iya… terima kasih, Sakura-san."

Mikan tersenyum menghibur. "Sama-sama, sensei," Dia lalu menarik rambut Fukutan, membuat kepala guru itu mendekatinya. "Sensei jangan memperlihatkan sikap lemah seperti itu, hal itulah yang membuat mereka terus men'jahili' sensei. Sensei harus perlihatkan sikap tegas, dan jangan beri ampun walau mereka masih anak-anak, dengan begitu murid-murid sensei akan menghormati sensei," bisiknya, membuat kedua mata Fukutan melebar kaget.

Mikan tersenyum lagi seakan tidak pernah terjadi apapun. "Sekarang… dimana tempat dudukku?"


Natsume termenung dengan buku komik menutupi wajahnya. Sosok seorang anak perempuan berkuncir dua terbayang di benaknya, dia tak bisa menyingkirkan bayangan anak itu dari pikirannya. Anak itu… misteri, putus Natsume. Dia teringat kembali kejadian di ruang tunggu guru dan di bangsal rumah sakit, bagaimana anak itu bisa tetap tenang walau di tengah ancaman, bagaimana kedua mata anak itu tersirat kepolosan sekaligus kekejaman seorang assassin, dan kegesitan anak itu ketika bertarung.

'Anak itu bagai teka-teki…' batin Natsume, merasa tak senang. Dia tidak suka dengan apa yang tidak dia ketahui.

Dia merasakan kelas yang tadinya ramai tiba-tiba menjadi hening, dan tidak lama kemudian telinganya mendengar mendengar suara gesekan sebelum merasakan ada sesuatu… tepatnya seseorang duduk di sampingnya.

Itu tidak mungkin Luca, karena dia merasakan teman baiknya masih duduk di samping kanannya. Dia menggeser bukunya sedikit untuk melihat siapa orang yang dengan berani duduk disebelahnya.

Seorang anak perempuan dengan rambut cokelat berkuncir ganda.

Kedua mata Natsume membelalak.

"Kau…!"


Mikan menghela nafas. 'Sudah kuduga…' Dia berjalan menuju bangkunya dengan enggan. Dia harus sebangku lagi dengan Natsume. Mengingat anak lelaki bermata crimson itu membuatnya berkedut kesal. Beraninya anak bau kencur itu mencuri celana dalamnya… lagi. Dia memang kesal pada Natsume, tapi dia lebih merasa kesal pada dirinya sendiri karena lengah sehingga celana dalamnya bisa dicuri… lagi… oleh lelaki itu.

Dia duduk, tidak mempedulikan tatapan segan dari Luca. Tangannya menaruh buku yang diberikan oleh Fukutan, pikirannya masih dipenuhi 'dendam' sampai sebuah suara terdengar dari sebelah kanannya.

"Kau…!"

Dia menoleh, melihat Natsume melotot ke arahnya. Dalam hati dia mengerang, dia sedang nggak mood meladeni Natsume saat ini. Tapi, dia masih memasang wajah dan senyum polosnya. "Apa?"

"Si celana polkadot yang kemarin."

Urat mencuat di dahi Mikan. Beraninya anak ini mengumbar desain celana dalamnya di depan kelas.

Mikan masih mempertahankan senyum polosnya. "Oh, kau si mesum pencuri celana dalam yang kemarin. Aku nggak nyangka kita sekelas."

Alis Natsume sedikit berkedut mendengar kata 'mesum pencuri celana dalam', dia berusaha membuat wajahnya tetap tak berekspresi. "Apa, sih, yang kau katakan? Yang namanya pencuri celana dalam itu pencuri bodoh yang bermoral rendah, kan? Kamu mau mengatakan aku ini orang yang bermoral rendah?"

Senyum palsu Mikan menjadi kaku. 'Cowok ini…!' Dia kemudian tertawa kecil yang terdengar sangat sok feminin. "Ohohoho! Tidak… aku tidak pernah berpikir begitu. Justru sepertinya kamu sendiri yang 'merasa' seperti itu karena kamu yang bilang bahwa pencuri celana dalam itu bermoral rendah."

'Apa-apaan cewek ini…?!' batin Natsume geram, tapi dia masih memasang sikap cuek. Dia tidak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan dari para 'anak buah'nya tentang 'masalah dengan si anak baru'.

Dalam hati Mikan merasa girang. Dia merasakan kesenangan karena dia sekarang bisa mendepak mundur Natsume. "Berhubung kamu 'merasa', bagaimana kalau kamu kembalikan?"

Natsume menoleh. "Apa maksudmu?" tanyanya, masih berwajah netral.

Senyum Mikan melebar. "Barang yang kau curi dariku kemarin."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

"Apa aku harus memukul kepalamu dengan buku yang kupegang ini supaya kau ingat?"

Natsume terdiam, tentu saja dia tidak mau dipermalukan seperti itu. Membayangkan kepalanya dipukul dengan buku oleh cewek aneh ini saja sudah membuatnya enggan. "Ah… barang yang itu."

"Hm, hm… barang yang itu." Mikan mengangguk-angguk.

"Sudah kubuang."

Mikan mengerjap. "Apa?"

"Sudah kubuang, cewek tuli. Ngapain juga aku menyimpan barang menjijikan itu. Aku harus disinfeksi tanganku untuk membersihkan tanganku dari kuman-kuman."

Aura gelap melingkari Mikan.

"Oh, dan aku lihat kemarin 'barang' itu disapu tukang bersih-bersih. Aku lihat bagaimana pria itu menahan tawa ketika menemukan 'barang' itu," ujar Natsume monoton, tanpa ekspresi. Dalam hati dia menyeringai penuh kemenangan.

Mikan terdiam sesaat menatap Natsume. 'Yup. Bocah ini beneran Natsume.' Dia lalu tersenyum, aura hitamnya menjadi aura pink. Dia tertawa kecil, sebelah tangannya sedikit menutup mulutnya. Satu kalimat umpatan keluar dari mulutnya.

"Fuck you, bitch."

Mikan merasakan tarikan kuat dari belakang, kedua matanya melebar, merasakan tubuhnya sendiri melayang.

"Oi, anak baru," Seorang anak lelaki berambut pendek terlihat mengacungkan tangannya seperti tengah mencengkeram sesuatu. "Berani berkata tidak sopan pada Natsume."

Kedua mata Mikan menerawang memandang tatapan tajam anak yang membuatnya melayang. Ternyata anak itu cukup kuat juga, pikir Mikan, anak itu bisa menembus proteksi Nullification. Walaupun itu karena alice Mikan sedang sedang dalam kondisi yang cukup lemah, tapi alice Nullification masih terpasang. Mikan merasa girang, sepertinya Natsume punya tangan kanan yang kuat, ya.

"He-hentikan, kalian!" sahut Yuu, merasa panik. "Apa yang kalian lakukan terhadap anak perempuan yang tak berdaya?!"

Mikan menghela nafas. 'Yuu… masih tetap Yuu…'

"Lho? Nggak perlu dihentikan, kok…"

Yuu menoleh ke arah suara. "Shoda…!"

'Aw, man… Sumire-permy ikut bertindak…' Mikan menghela nafas lagi.

Sumire menatap sok ke arah Mikan. "Dari tadi hanya diam sambil memikirkan tentang apa alicenya, lalu apa? Anak ini menghina Natsume, kan?" Dia menyipitkan mata tanda tak suka. "Kalau hanya seperti ini terlalu baik, tahu."

Natsume melirik Sumire. Benar juga, mereka tidak tahu alice apa yang dimiliki anak ini. Dia menatap penuh selidik ke arah anak perempuan yang cari musuh dengannya itu. "Oi, celana polkadot. Apa alicemu?"

Dahi Mikan berkedut, senyum palsu kembali terpasang di wajahnya. "Kau seharusnya bertanya dengan nada yang baik-baik. Orang tak akan pernah memberimu jawaban jika kau bertanya seperti lagi menginterogasi begitu."

Dengan kata lain; persetan kau, cari tahu saja sendiri.

Oh… Natsume sangat tahu sekali maksud dari ucapan Mikan, dan itu membuatnya kesal. "Kokoroyomi."

"Ya, Natsume!" jawab Koko, tersenyum lebar.

Mikan terpaku. 'Fuck! Aku lupa ada mind reader!' jeritnya. Dengan cepat dia membangun dinding Nullification melingkupi pikirannya. Dia lalu melihat mata Kokoroyomi yang membelalak lebar penuh ketakutan. 'Aw, shit! Terlambat sudah!'

Natsume melirik Koko yang terdiam terpaku menatap Mikan. "Koko?"

Sumire menoleh. "Koko, Natsume bertanya padamu!"

Namun Koko masih tidak menjawab.

Murid-murid lainnya bergumam ramai, mereka melihat dan menyadari ekspresi ketakutan Kokoroyomi.

"Apa yang terjadi?"

"Kau lihat ekspresi Koko?"

"Apa alice anak itu begitu menakutkan?"

Hotaru, yang sedari tadi diam memperhatikan keributan yang terjadi, memutuskan untuk mengambil sikap. Dia berdiri, tangannya memasang sebuah sarung tangan yang terlihat seperti tapal kuda.

DUAK! DUAK!

Semuanya terkejut melihat Hotaru memukul kepala Kokoroyomi dan anak yang 'menyandera' Mikan. Mikan tersentak dari keterkejutannya ketika dia merasakan tubuhnya jatuh, secara refleks dia memutar tubuhnya dan menjejakkan kakinya dengan keras di atas meja.

Sumire menatap syok ke arah Hotaru. "Imai… apa yang…?"

Hotaru membalas tatapan Sumire dengan tajam. "Maaf saja, hanya aku yang boleh mengerjai si bodoh ini."

"Hotaru…" gumam Mikan takjub, sebelum merasakan tangannya ditarik.

Hotaru menarik paksa Mikan menuju pintu, tidak mempedulikan tatapan dari para murid lainnya. "Sial. Gara-gara kau, aku jadi tak bisa mendapat gelar murid teladan," bisiknya, yang hanya Mikan yang bisa mendengarnya. "Aku jadi tak bisa mendapatkan tiket makan di Central Town dan pulang kampung."

Senyum lembut terkesan sedih tersungging di bibir Mikan. "Maaf, Hotaru…"

Hotaru membuka pintu, dan menarik Mikan keluar. "Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada orang tuaku nanti."

Senyum sedih Mikan menjadi senyum geli. "Ya. Terima kasih, Hotaru."


Mereka terpaku menatap pintu dimana kedua anak perempuan yang menjadi pusat perhatian keluar dari kelas. Erangan terdengar, membuat mereka semua tersentak sadar. Mereka melihat Kokoroyomi terbangun sembari memegang belakang kepalanya sakit.

"Apa yang terjadi?" tanya Koko, mengelus kepalanya yang sakit.

Yuu dengan segera membantu Koko. "Kau tidak apa-apa, Koko?" tanyanya, sembari menolong Koko berdiri. "Tadi Imai memukulmu dengan cukup keras."

Koko tersenyum lebar ke arah Yuu. "Ahahaha! Jadi yang tadi itu Imai? Pantas saja."

Sebulir keringat mengalir di belakang kepala Yuu. Anak ini… kenapa masih tertawa setelah dipukul seperti itu?

Natsume melirik Koko dengan penuh selidik. "Koko, apa yang kau baca dari anak itu?"

Tawa Kokoroyomi terhenti, ekspresi Koko mengeras.

"Koko?"

Keringat dingin mengalir di tubuh Koko. "Ah… anu…"

Kedua mata Natsume menyipit tajam.

Koko terdiam sesaat, sebelum wajahnya kembali ke wajah cerianya. "Sebenarnya… aku tidak tahu… hahahaha!"

Sumire langsung mencengkeram kerah leher Koko. "KOKO!" Dia mengguncang-guncangkan tubuh Koko dengan keras. "Dasar nggak berguna!"

Natsume mendorong kekesalan yang hampir menyeruak. "Kenapa kau bisa tidak tahu, Koko? Apa kau tidak membaca pikirannya?"

Koko menghiraukan pusing yang muncul karena diguncang-guncangkan. "Aku memakai aliceku, kok!"

"Lalu, kenapa kau tidak membaca pikirannya?!" bentak Sumire.

"Aku bilang aku menggunakan aliceku!" balas Koko membentak, membuat Sumire berhenti. "Tapi, aku tidak bisa membaca pikirannya!"

Suasana menjadi hening mendengar pernyataan Koko.

"Apa… kau bilang…?" tanya Natsume, matanya melebar.

Koko menghela nafas. "Aku bilang walau aku menggunakan aliceku, aku tidak bisa membaca pikirannya." Dia menggaruk belakang kepalanya. "Entah itu karena dia mempunyai pelindung mental yang sangat amat kuat – yang itu hampir mustahil bagi manusia – atau dia punya alice yang sejenis dengan alice Barrier, yang bisa melindungi dia dari serangan alice manapun."

Natsume terdiam. Ingatan tentang dia tidak bisa menggunakan alicenya pada anak perempuan itu ketika di ruang tunggu guru, terlintas di pikirannya.

Alice yang sejenis dengan Barrier… itu menjelaskan kenapa dia tidak bisa menggunakan alicenya saat itu.

Kedua alis Natsume menaut serius. 'Tapi… kenapa aku merasa jawaban itu sama sekali salah?'

Luca memperhatikan sahabat baiknya yang terlihat tengah berpikir keras. "Natsume…" gumam Luca, khawatir.

"Begitu… jadi alice yang sejenis dengan Barrier, ya…?" gumam Sumire serius.

Bisikan demi bisikan, serta gumaman dari para murid lainnya perlahan menggema di seluruh kelas. Kokoroyomi memandang semua teman sekelasnya dengan ekspresi ceria yang palsu.

Dia tidak bohong ketika dia bilang dia tidak bisa membaca pikiran anak baru itu, tapi sebelum anak itu – sepertinya – menggunakan alicenya, Koko melihat sekilas pikiran dan ingatan anak itu.

Darah…

Kematian…

Teror…

Horror…

Mimpi buruk…

Koko menelan ludah, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dia tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada anak itu, dan dia tidak mau mengerti. Perasaan takut yang tak penah dia rasakan sebelumnya menjalarinya, dia tidak mengerti tapi yang pasti dia tidak ingin dan tidak akan pernah mau mengintip pikiran anak itu lagi. Walau dia disuruh, diperintahkan, dia tak akan pernah mau membaca pikiran anak itu tanpa seizinnya lagi.

Koko merasakan tubuhnya gemetar kaku. Sepertinya malam ini dan beberapa hari kedepan dia tak akan pernah bisa tidur.

To Be Continue…

A/N :

Author : Shit.

Hotaru & Natsume : Yeah, you're a shit.

Author : Damn! (anime panic mode on) Kenapa?! Kenapa karakter Mikan jadi kayak Mary Sue begini?! Aku nggak mau! Nggak mau!

Luca : Anou… Author-san…

Author : (nggak denger Luca) Ini salahmu! (nunjuk Natsume)

Natsume : Kenapa ini salahku, baka?

Mikan : (senyum sambil keringetan dingin) Oke, oke. Sekarang waktunya jawab review!

###

To Zecka S. B. Fujioka : Sankyuu.

Author : Um… kalau semuanya kembali ke masa lalu, malah jadi nggak seru.

Natsume : Bilang saja kalau kamu lebih suka cerita dengan heroine yang Mary Sue.

Author : (glare at Natsume) Aku sama sekali nggak suka dengan apa yang namanya Mary Sue. Mary Sue itu membuat alur cerita jadi nggak seru dan terkesan terlalu mudah.

###

To Nyanmaru : Thank you for your compliment.

Author : Umur Mikan itu… (digeplak Adult!Mikan)

Adult!Mikan : (telunjuk di bibir) A secret makes a woman woman.

Natsume : Dengan kata lain dia nenek-nenek di tubuh anak-anak.

Adult!Mikan : (death glare at Natsume) Diam kau, per- (ditembak Baka Gun)

Hotaru : (stoic) Pelanggaran copyright terdeteksi. Bayar.

(cat : "A secret makes a woman woman", kalimat yang menjadi trademark dari Chris Vineyard [Detective Conan])

###

Author : (bows) Terima kasih sudah membaca fic ini dan menjadi pembaca setianya. Saya sangat menghargainya.

Adult!Mikan : (smile) Please review if don't mind, okay! (lari ngejar Hotaru yang terus-menerus menembakan Baka Gun)

.

..

With crimson camellia,

#

Scarlet Natsume.