Naruto©Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Typo(S) de el el
Don't Like Don't Read
.
.
A fiction for SasuSaku FanDay 2014
.
.
Pagi ini, Sasuke keluar dari kamarnya dengan senyum sangat tipis. Ia sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Sakura. Segala macam rencana sudah tersusun rapi di otak jeniusnya. Waktu memang baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas, namun ia sudah siap untuk berangkat ke sekolahnya.
"Pagi sekali, tumben?" tanya Itachi pada adiknya yang baru memasuki dapur.
Sasuke mendengus, entah kenapa susasana hatinya langsung berubah melihat kakaknya yang masih terlihat seperti kuntilanak dengan rambut panjangnya yang tergerai awut-awutan. "Aku tidak pemalas sepertimu," dengusnya.
Mendapat tanggapan seperti itu, Itachi malah terkekeh. Ia sudah sangat terbiasa menerima perkataan sinis dari Sasuke. "Terserahlah," desahnya kemudian, "tapi semoga berhasil," imbuhnya dengan seringai.
Mata sasuke menyipit, wajahnya langsung terlihat masam melihat seringai menggoda dari Itachi. "Tsk, mandi sana!" kesal Sasuke melempari Itachi dengan buah apel.
Dengan sigap, sulung Uchiha itu menangkap buah tersebut dengan mulus dan langsung menggigitnya. "Sankyuu," balasnya.
Sasuke lalu keluar dari dapur dengan dua buah apel merah di tangannya. "Aku berangkat," ujarnya kemudian. Meninggalkan Itachi yang sibuk dengan apelnya.
"Semoga berhasil!" teriak Itachi menyemangati Sasuke.
Tanpa menoleh, Sasuke hanya bergumam tidak jelas. Namun, sejujurnya pemuda itu mengucapkan terima kasih pada kakaknya, meski di dalam hati.
.
Tidak seperti biasanya, kali ini Sasuke tidak menggunakan bis atau mobil ke sekolahnya. Ia mengambil sepeda di dalam garasi. Jarak sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya membutukan waktu sepuluh menit menggunakan bis.
Mengayuh sepedanya santai, Sasuke menyeringai tipis memikirkan kembali rencana pertamanya pagi ini. Memang, sudah beberapa hari ini, ia sengaja membiarkan Sakura lolos dari hukumannya. Namun, ia tetap menjalankan perintah Tsunade untuk mengajari gadis itu agar nilainya membaik. Tapi, sudah saatnya sekarang. Ia benar-benar ingin memberikan kejutan untuk gadis itu.
.
.
.
"Ah~ hari ini, aku membolosnya kemana, ya?" gumam serang gadis dengan riangnya. Mata hijau beningnya bersinar bahagia memikirkan beberapa hari kemarin, ia bisa melakukan hobinya tersebut.
Kemudian seringai penuh kemenangan terukir di bibir peach-nya. Dan yang membuatnya puas adalah, ia akhirnya bisa lolos dari Sasuke. Dan tiga hari kemarin, Sakura membolos berturut-turut di saat jam pelajaran terakhirnya. Meski ketika istirahat pertama, Sakura mengerjakan soal-soal khusus yang diberikan Sasuke. Namun Sakura tidak merasa keberatan, toh akhirnya ia bisa membolos juga.
Kali ini, Sakura mengepang rambut sebahunya. Ia nampak manis, dengan sedikit poni yang menutupi jidatnya. Menyambar tas selempangannya, Sakura keluar dari kamarnya dengan riang.
"Ohayou minna!" serunya riang ketika tiba di dapur. Namun sedetik kemudian, ekspresinya langsung berubah drastis melihat siapa yang tengah sarapan bersama orang tua dan kakaknya. "Apa yang kau lakukan dirumahku?!" geramnya.
Sasuke melirik Sakura dengan ekor matanya, namun ia tidak menanggapi. Pemuda itu kembali menyantap nasi goreng di piringnya.
"Uchiha, aku berbicara denganmu, baka!" teriak Sakura kesal. Wajahnya yang tadi berseri-seri, kini berubah total.
Mebuki yang melihat sikap tidak sopan putrinya akhirnya membuka suara. "Sasuke itu tamu, lho. Dan sekarang cepat sarapan kalau tidak mau terlambat."
Mendengus kesal, Sakura menuruti perkataan ibunya. Ia menarik kursi di samping Sasori yang tengah lahap dengan hidangannya.
"Jangan menampilkan wajah seperti nenek sihir begitu," ujar Sasori melihat raut wajah adiknya.
Sakura mendelik, "Diam kau! Menyebalkan," gerutu Sakura.
"Sakura!" Kini Kizashi yang menegur Sakura.
Sakura mengomel dalam hati, semua orang seolah memusuhinya. Ini semua karena Sasuke. Ugh, rasanya Sakura ingin menghajar pemuda itu. Apalagi ketika tanpa sengaja ia melihat Sasuke yang tengah menyeringai padanya.
Cih!.
.
.
.
"Ayo naik!" perintah Sasuke untuk yang ketiga kalinya.
Sakura masih saja mematung dengan kerutan di dahinya. Ia bersedekap memandang Sasuke dengan mata menyipit. "Tidak mau!" tolaknya lagi.
Sasuke menghela napas, ia lalu menarik paksa tangan Sakura dan menyuruhnya duduk menyamping di depannya. "Jangan membantah, dan cepat naik," titah Sasuke lagi. Namun kali ini suaranya begitu datar nan dingin.
Entah kenapa, kali ini Sakura menurut tanpa suara. Gadis itu langsung naik di atas sepeda Sasuke. "Kenapa tidak pake sepeda yang ada boncenganya? Kalo begini pantatku bisa tumpul setibanya di sekolah," gerutu Sakura.
Sasuke mengabaikan gerutuan Sakura, namun pemuda itu menyeringai tipis ketika mulai mengayuh sepedanya. Perjalanan mereka dipenuhi keheningan, baik Sasuke maupun Sakura terlalu malas untuk memulai perdebatan mereka.
Sakura sendiri mulai menikmati perjalanan mereka. Udara pagi terasa begitu menyegarkan di paru-parunya. Meski terasa sedikit dingin, namun ia sangat menikmatinya. Sudah lama ia tidak naik sepeda, dan terakhir kali ia melakukannya waktu ia masih kelas satu sekolah dasar.
Sakura merindukan perasaan ini. Perasaan yang telah lama menghilang. Meski ia tidak mengerti, namun Sakura tidak ambil pusing. Untuk saat ini, ia mencoba untuk menikmati rasa nyaman yang entah datang darimana. Dan tanpa ia sadari, senyum sangat tipis tersungging di bibirnya.
Gadis itu tidak menyadari, sedari tadi Sasuke melirik wajahnya, pemuda itu menyeringai tipis.
.
.
Sakura turun dari sepeda Sasuke sambil mengelus pantatnya yang terasa nyeri. Dan sesuai perkiraannya, itu benar-benar sakit. "Gara-gara kau, pantatku terasa tumpul begini," gerutu Sakura. Gadis itu berjalan sedikit terpincang, merasakan bagian bokongnya menyengat ketika melangkah.
Sasuke hanya terkekeh, ia kemudian melangkah lebih cepat meninggalkan Sakura yang berjalan seperti pinguin. "Temui aku di belakang sekolah setelah makan siang!" titah Sasuke seenaknya.
Sakura mendengus, "Tidak sudi!" balasnya ketus.
"Kau mau kelas dua setahun lagi?" Sasuke menghentikan langkahnya, seringai sudah terpampang di wajah tampannya.
Sakura menggeram marah. Dengan tangan masih mengelus bokongnya, Sakura berjalan melewati Sasuke dengan wajah super kesal.
Sasuke menyamai langkahnya dengan Sakura. "Bawa juga bento yang dibuatkan ibumu," ujarnya memerintahkan.
Sakura mendelik, "Dasar tukang perintah!" kesal Sakura.
Mengangkat bahu, Sasuke tidak peduli dengan ucapan Sakura. pemuda itu melengos melewati Sakura, mengabaikan omelan tidak jelas yang diperuntukkan padanya.
.
.
Sakura menguap bosan, kedua tangannya mengepal memangku dagunya. Walaupun pandangannya mengarah pada Guy-sensei yang tengah menjelaskan tentang pentingnya semangat masa muda dalam mengarungi hidup?, namun pikiran Sakura melayang ke hal-hal random.
Contohnya saja, Sakura mendengus kesal katika mengingat tim sepakbola favoritnya kalah tadi malam, kemudian tiba-tiba ia terkekeh sendiri saat mengerjai kakaknya dengan berpura-pura menjadi sadako. Lalu, tentang keberhasilannya lolos dari Sasuke selama tiga haru berturut-turut. Sakura tidak bisa menyembunyikan cengiran lebarnya mengingat hal itu, ia berencana untuk melakukannya lagi nanti ketika jam pelajara Orochimarur-sensei.
Namun tiba-tiba, Sakura teringat dengan kejadian tadi pagi. Kesalnya dia ketika melihat Sasuke di rumahnya, berangkat sekolah bersama dengan sepeda hingga membuat pantatnya terasa tumpul. Juga sifat Sasuke yang suka memerintah yang membuatnya kesal bukan main. Tetapi, Sakura tidak menyadari dirinya sudah tersenyum manis.
Apakah ini artinya, ia memang sudah memaafkan Sasuke sejak awal?
"Apakah kau mengerti, Haruno Sakura?"
Sakura terlonjak kaget mendengar suara ngebass di dekatnya. Ia kemudian tersenyum kikuk pada gurunya. "Entahlah, sensei," jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Guy menghela napas pasrah, ia kembali ke depan kelas dengan wajah berseri-seri. "Baiklah, karena salah satu teman kita belum mengerti. Saya akan mengulangnya dari awal," ujarnya semangat.
Serempak, penghuni kelas itu hanya mendesah lelah. Mereka harus mendengarkan lagi ceramah tidak jelas dari guru mereka. Sedangkan Sakura, gadis itu tengah memikirkan rencana untuk membolos hari ini.
.
.
Sasuke merapikan mejanya, ia memasukkan buku matematika ke dalam tasnya. Melihat kelasnya sudah mulai sepi karena istirahat makan siang, pemuda itu kemudian beranjak dari bangkunya.
Langkah kakinya terlihat santai, sebelah tangannya ia sembunyikan di dalam saku celananya. Seringai tipis juga terpatri di wajahnya.
Ketika tiba di belakang sekolah, Sasuke kemudian memasuki kebun kecil yang memang jarang dikunjungi siswa. Di bawah pohon momoji yang masih berdaun hijau, ia melihat Sakura yang tengah duduk sambil menggerutu tidak jelas.
"Dasar baka! Dia yang menyuruhku kesini malah tidak datang." Sakura terus ngedumeli sendiri. Tidak menyadari Sasuke telah berdiri dengan seringai di belakangnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sasuke kemudian duduk di samping Sakura. membuat gadis itu terkejut bukan main.
"Kenapa baru datang? Kau membuang-buang waktuku tahu!" dumel Sakua langsung pada objek kekesalannya. Emerald-nya menyipit melihat Sasuke yang hanya duduk santai tanpa rasa bersalah karena membuatnya menunggu.
Sakura yang kesal karena tidak mendapat tanggapan dari Sasuke, meraih kasar kerah baju pemuda itu hingga membuat satu kancingnya terlepas. Sakura lalu mengacak marah rambut emo Sasuke, tidak mempedulikan geraman marah dari sang pemilik rambut.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!" geram Sasuke, berusaha menepis tangan Sakura dari kepalanya.
Sakura melotot, ia kembali berusaha menggapai rambut mencuat Sasuke dan menarik-nariknya kesal. "Kau mneyebalkan," gerutunya.
Lelah, akhirnya Sasuke meraih kedua tangan Sakura dengan satu tangan miliknya. Ia lalu menyandarkan Sakura di batang pohon. "Sekarang, bagaimana?" tanya Sasuke ambigu.
Sakura memberontak, mencoba melepaskan diri dari kungkungan Sasuke. "Lepaskan, bodoh!" teriak Sakura.
Sasuke merapatkan tubuhnya dengan Sakura. Seringai kembali terpatri di bibirnya ketika melihat rona kemerahan di pipi Sakura.
"A-apa yang kau lakukan? Minggir, baka!" titah Sakura dengan wajah mulai memerah.
Sasuke hanya diam, ia menatap tepat di bola hijau yang sangat dirindukannya. Mendekatkan kepalanya, Sasuke berbisik tepat di telinga Sakura. "Aku lapar," katanya. Sasuke kembali duduk, mengabaikan delikan maut yang ditujukan padanya.
Jantung Sakura berdebar, rasanya seolah ingin meledak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa segugup ini. Untuk menyembunyikan kegugupannya, Sakura mulai mnegomel tidak jelas pada pemuda itu. "Kau benar-benar menyebalkan, Uchiha!" desisnya.
"Hn," balas Sasuke seadanya. Ia mengambil bento yang dibawa Sakura dan mulai membukanya. "Buatan ibumu selalu enak," komentarnya, masih mengabaikan gadis pink yang masih menggerutu tidak jelas.
Lelah karena tidak ditanggapi, akhirnya Sakura memilih menyudahi omelannya. Ia mengerucutkan bibirnya ketika dengan seenaknya Sasuke mulai melahap makan siang buatan ibunya. "Hei, jangan menghabiskannya. Aku juga lapar," protes Sakura melihat isi kotak bekalnya ludes separuhnya.
Merampas kotak bekal berwarna merah dari tangan Sasuke, bersamaan dengan sumpitnya. Sakura langsung melahap tempura yang tersisa. Meski tengah makan, gadis itu sempat-sempatnya mnegomeli Sasuke yang hanya menyisakannya sedikit.
Sasuke hanya bisa menyeringai melihat Sakura yang tengah makan, sembari mengomeli dirinya. Dan tanpa disadari gadis itu, Sasuke menyeringai tipis sambil tetap meletakkan matanya di wajah Sakura yang terlihat menggemaskan.
.
.
.
Awalnya, Sasuke berniat ke kamar mandi. Namun, tanpa sengaja sia melihat Sakura yang tengah mnegendap-endap di lorong yang tengah sepi karena semua siswa tengah belajar. Karena itu, Sasuke memutar haluannya dan mengikuti Sakura diam-diam.
"Mau kemana?"
Sekujur tubuh Sakura membeku sejenak. Jujur, ia sangat terkejut mendengar suara bariton di belakangnya. Namun beberapa detik kemudian, ia menggeram kesal setelah dapat menguasai diri. "Mau bolos kenapa?" tantangnya.
Sasuke mendengus, "Aku tahu, tapi mau bolos kemana?" ulang Sasuke lebih spesifik.
Sakura memutar matanya bosan, ia kemudian mneyipitkan matanya. "Jangan-jangan, kau mau menggerebek tempat bolosku," selidik Sakura memindai wajah Sasuke.
Sasuke terkekeh, "Itu tidak perlu," dengusnya, "karena aku tidak akan pernah mmebiarkanmu lolos," tambahnya dengan seringai.
"Uchiha Sial—"
Sebelum Sakura menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu Sasuke menyumpal mulut gadis itu. "Berisik, bodoh!"
Sasukepun menyeret Sakura menuju kelas gadis itu, tanpa melepaskan telapak tangannya dari mulut Sakura.
.
.
Sakura menghela napas frustasi. Meski bel istirahat kedua sudah berbunyi, namun ia masih mendekam di dalam kelasnya. Iris emerald-nya menatap keluar jendela. Menikmati pemandangan langit biru tanpa awan.
Sakura mendesah, hari ini adalah hari paling buruk kedua dalam hidupnya—setelah kejadian sepuluh tahun lalu.
Kemudian, suara deritan membuat Sakura menoleh. Ia menahan napasnya saat mendapati wajah Sasuke tepat berada di depan wajahnya, lengkap dengan seringai yang sangat dibencinya. "K-kau lagi!" desis Sakura memalingkan wajahnya yang mulai memanas.
"Hn," balas Sasuke. Tanpa permisi, ia mengambil tas selempangan Sakura dan menyita komik di dalamnya. "Aku akan memberi peringatan nanti," jelasnya.
Sakura mencoba mengambil komik di di tangan kiri Sasuke, namun gagal. Meski ia telah berdiri, tapi pemuda itu tetap bisa menempatkan komik tersebut di luar jangkauannya. "Kembalikan itu, baka!" kesal Sakura.
"Tidak bisa!" tolak Sasuke.
"Kau…" Sakura kehabisan kata-kata untuk pemuda itu. Gadis itu tahu, apapun yang akan dilakukannya, Sasuke tidak akan mengembalikan komiknya. Karena itu, ia memilih diam dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. "Aku benar-benar membencimu," gumamnya.
Sasuke menghela napas melihat tingkah Sakura, apalagi dengan kata terakhir gadis itu. "Hn, aku tahu," balasnya. Ia kemudian berdiri menimbulkan decitan dari kursi yang didudukinya, "Sepulang sekolah kerumahku, kau harus menyelesaikan soal yang kuberikan," titahnya.
Masih menelungkupkan kepalanya, Sakura hanya bisa menggerutu mendengar perintah Sasuke barusan. Namun, usapan lembut di kepalanya membuat Sakura membeku. Sontak, Sakura menengadahkan wajahnya, mendapati Sasuke yang tengah mengelus lembut kepalanya.
"Hn, kutunggu di parkiran, Saki," ujar Sasuke kemudian. Dan tanpa pamit, pemuda itu berjalan meninggalkan Sakura yang masih terbengong.
"S-Sasuke-kun…" Tanpa sadar, Sakura menggumamkan nama Sasuke.
Sasuke menyeringai senang mendengar Sakura memanggil namanya seperti dulu. Meski begitu, ia tidak menghentikan langkahnya. Sasuke terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, hingga keluar dari pandangan Sakura.
..
.
.
Sudah dua puluh menit lebih Sakura menunggu di parkiran, tapi Sasuke belum juga menampakkan kepala emonya. Berdecak kesal, Sakura memilih untuk meninggalkan sekolah dengan menghentakkan kakinya kesal. Cih, kenapa juga ia rela menunggu pemuda itu, namun bagian dirinya mengatakan ia harus menunggu. Argh! Sakura menjadi bingung sendiri.
Mengacak rambutnya frustasi, gadis itu lalu memantapkan diri untuk pulang, meninggalkan Sasuke yang entah sedang apa. Seperti kebiasaannya, Sakura ngedumel sendiri melampiaskan kekesalannya.
Ketika mencapai pintu gerbang, Sakura dikejutkan oleh suara decitan benda yang ternayta adalah ban sepeda Sasuke karena berhenti mendadak.
"Naik!"
Sakura mendelik, ia terus saja berjalan mengabaikan Sasuke. kemudian, ia merasakan tali tasnya ditarik hingga membuat tubuhnya sedikit oleng. Untung saja gerak refleknya bagus, tidak membuatnya terjatuh.
"Naik, dan jangan membantah!" untuk kedua kalinya Sasuke memerintahkan dengan nada datar penuh intimidasi.
Mendengus, Sakura menuruti ucapan Sasuke meskipun tengah kesal dengan pemuda itu.
.
"Kenapa lama sekali?" tanya Sakura membuka suara. Gadis itu bosan terjebak dalam keheningan terus. Ia lebih suka berdebat dengan Sasuke daripada harus diam seperti itu.
"Hn, aku ada urusan dengan Tsunade-sama," jawabnya kalem.
"Itu pasti tentang hukuman itu, menyebalkan," gerutu Sakura.
Sasuke tidak menanggapi, ia kini fookus dengan jalanan dan rencana yang sudah ia siapkan untuk Sakura.
Kembali, perjalanan pulang mereka diwarnai dengan keheningan.
.
Setelah memarkirkan sepedanya, Sasuke membawa Sakura masuk ke dalam rumahnya. Pemuda itu tahu, Sakura terlihat sedikit enggan untuk masuk, namun ia tetap memasksanya dengan menyeret gadis itu. Menaiki tangga, Sasuke membawa Sakura ke dalam kamarnya.
Sasuke kemudian menyuruh Sakura untuk duduk di meja belajarnya, memberikan gadis itu setumpuk kertas yang berisi soal-soal yang telah dikumpulkannya.
"Kerjakan itu, aku mau mandi," katanya memerintahkan.
"Aku tidak mau!" tolak Sakura menyipitkan matanya. Yang benar saja, ia baru pulang sekolah dan sudah disuruh untuk belajar lagi. Sasuke pasti berencana untuk menyiksanya.
"Kerjakan!" titah Sasuke lagi seraya membuka satu persatu kancing seragamnya.
Sakura yang melihat dada bidang Sasuke langsung berbalik menghadap kertas-kertas sialan di atas meja. Ia tidak sanggup melihat pemuda itu bertelanjang dada, entah kenapa ia merasa malu.
"Sial!" rutuk Sakura dalam hati.
Sasukepun masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan keringatnya.
Mendengar suara air mengalir, Sakura langsung meletakkan pulpen dan kertas soal di atas meja. Ia menagacak-acak rambut sebahunya, menandakan keadaan hatinya yang tengah kacau saat ini.
Merasa bosan, Sakura kemudian meneliti setiap sudut kamar yang didominasi warna dark blue tersebut. Kamar ini benar-benar telah berubah banyak, setelah sepuluh tahun tidak pernah berkunjung. Kemudian, matanya menangkap sebuah figura yang ada di atas nakas di samping ranjang king size mlik Sasuke. Gadis itu perlahan berdiri, lalu mendudukkan diri di atas kasur. Ia mengambil figura tersebut dan menatap sendu sosok yang ada di sana.
Foto dirinya dan Sasuke ketika mereka masih kecil.
Sakura tersenyum miris, ia benar-benar merindukan saat-saat mereka bersama dulu.
Terlalu fokus dengan foto masa kecil dirinya dan Sasuke, gadis itu tidak menyadari Sasuke telah keluar dari kamar mandi. Dan seulas senyum tipis terukir di wajah tanpannya.
.
.
"Aku tidak ingin memakai ini." Sakura kembali menyodorkan T-shirt putih dan celana pendek pada pemiliknya.
Sasuke menautkan alisnya," Kenapa? Bukankah dulu kau sering meminjam bajuku?" tanya Sasuke polos.
Sakura mendengus, "Pokoknya aku tidak mau, dan jangan ingatkan aku tentang hal-hal bodoh lagi," kesalnya.
Sekilas, tatapan Sasuke sedikit terlihat berbeda. Namun sedetik kemudian, kembali seperti semula. "Jadi, kau hanya ingin mengenakan bra dan celana dalam di rumahku. Bagus juga," kata Sasuke mengangkat bahu.
Sakura langsung memerah mendengar ucapan yang dilontarkan pemuda itu. Ia langsung menyambar baj yang ada di tangan Sasuke dan masuk ke dalam kamar mandi. "Dasar mesum!" teriaknya dari dalam.
Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Tangan kirinya mengambil gelas yang berisi jus tomat yang hanya tinggal sedikit lagi. Pemuda itu memang sengaja menumpahkan hampir semua jus miliknya di seifuku Sakura.
.
.
.
Sakura memijit pelipisnya, soal nomor 35 terlalu sulit untuknya. Ia merasa belum pernah mendapatkan pelajaran itu. Meski ia sering membolos, gadis itu selalu mempelajari lagi materi yang dibahas di hari membolosnya. Namun tampaknya, soal yang ini tidak pernah dipelajarinya.
"Ugh, aku tidak mengerti," gerutu Sakura. kepalanya langsung terjatuh di atas lembaran-lembaran yang berserakan di atas meja.
"Jangan malas-malasan!"
Mendengar suara Sasuke, Sakura langsung duduk tegak dengan tangan bersedekap. "Aku tidak begitu," bela Sakura, "hanya kurang mengerti soal yang ini," ujarnya mennjukkan soal yang dimaksud.
Melihat sekilas, Sasuke mengembalikan kertas tersebut pada Sakura. "Hn, aku juga, Itu pelajaran kelas tiga," ujarnya datar.
Sakura langsung mengamuk, Uchiha ini memang benar-benar ingin mengerjainya.
Melihat gelagat Sakura, Sasuke hanya mengangkat bahu. Ia kemudian keluar dari kamar, mendapat tatapan marah dari gadis itu.
"Kau mau kemana, baka! Kapan kita selesainya, aku sudah lelah dan mau pulang," protes Sakura.
"Nanti," katanya lalu menutup pintu.
Sakura menendang kesal bangku yang tadi didudukinya, kemudian berlari ke arah pintu. Namun, ketika ia mencoba membukanya ternyata terkunci.
"Uchiha Sasuke-teme!"
Di luar, Sasuke hanya bisa terkekeh geli mendengar umpatan-umpatan yang ditujukan padanya. ia memainkan sebentar kunci di jarinya, lalu memasukkanya ke dalam saku celana.
Sesaat kemudian, nada dering ponselnya menandakan ada telepon masuk. Merogoh ke dalam sakunya, Sasuke melihat si penelpon yang ternyata adalah kakaknya.
"Hn, apa?"
Sasuke mendengus mendengar ucapan si penelpon, namun setelahnya ia menyeringai tipis.
"Terima kasih," ucapnya sebelum mematikan sambungan telepon.
.
.
.
Lelah memukul ,menggedor dan menendang pintu kamar Sasuke, akhirnya Sakura menyerah. Gadis itu menyeret langkahnya dan menjatuhkan diri di kasur empuk milik Sasuke. Ia mendesah berat, matanya terpejam. Mencoba untuk mengatur emosinya.
Setelah sepuluh menit, emerald bening itu terlihat, tatapannya langsung tepaku pada langit-langit kamar Sasuke. Di atas sana, puluhan kertas warna warni yang berbentu bulan dan bintang menempel, dengan warna yang sudah pudar. Beberapa menit, Sakura hanya bisa terpaku menatap kertas-kertas itu. Kemudian, memorinya berputar ke masa-masa kecilnya dulu bersama Sasuke.
Yup, kertas-kertas itu adalah buatan dirinya sebagai hadiah ulang tahun untuk pemuda itu. waktu itu, Sakura tidak punya uang untuk membelikan Sasuke hadiah, ia juga malu untuk meminta pada ibunya karena sedang ngambek.
Sungguh, Sakura tidak menyangka. Sasuke masih menempelkan kertas-kertas tersebut di langit-langit kamarnya. "Sasuke-kun…" Bibirnya menggumamkan nama teman masa kecilnya, senyumpun tercetak di wajah ayunya.
Kemudian, sebuah kotak merah muda di atas nakas menarik perhatiannya. Sakura mengernyit, sejak kapan benda ini ada disini, pikirnya. Namun ia tak ambil pusing, dan langsung membawa benda tersebut ke atas kasur.
"Ini…"
Sakura menatap kaget melihat benda-benda yang di dalam kotak merah muda itu. Ia langsung meraih album foto berwarna biru. Satu persatu, ia membolak balik halamannya, meneliti tiap gambar yang tercetak.
"Kalau dilihat-lihat, dari dulu aku memang manis," gumamnya menyanjung diri sendiri.
Kini, tangannya meraih sebuah buku gambar. Sakura ingat betul, buku itu miliknya dulu. Ternyata, Sasuke masih menyimpannya. Jujur saja, Sakura merasa senang, sangat senang malah.
Ada begitu banyak benda-benda bersejarah mereka, dan Sakura merasa sangat bodoh untuk mengabaikan Sasuke selama sepuluh tahun ini. Apalagi ketika dirinya menatap foto terakhir mereka, saat ulang tahunnya sebelum insiden yang menjadi awal dari semuanya terjadi. Di foto itu, Sakura tersenyum lebar ke arah Sakura dengan Sasuke yang mengecup pipinya.
Dan dari sekian banyak benda masa kecil mereka, ada setumpuk notes yang terlihat kusut. Tentu Sakura tahu, itu adalah catatan peringatan yang yang diberikan Sasuke untuknya di sekolah. Tapi kenapa Sasuke mnyimpan sampah seperti itu.
Sakura berniat untuk membuangnya, namun ketika memperhatiakan kertas tersebut, matanya membelalak. Selama ini, setelah Sasuke memberinya catatan peringatan, gadis itu memang langsung meremas dan membuangnya. Dan berakhir dengan Sasuke yang menceramahinya tentang tidak boleh membuang sampah sembarangan.
Sakura tidak menyangka dengan apa yang dibacanya. Penasaran, akhirnya gadis itu memeriksa satu persatu catatan tersebut. Dan ternyata semua isinya sama. Menghela napas, akhirnya Sakura merebahkan diri kembali di kasur.
"Gomen, Sasuke-kun…" gumamnya lirih.
Dan tiba-tiba, suara pintu terbuka membuat Sakura kaget, dan sontak langsung duduk dan tersenyum kaku. Tubuhnya menegang tatkala manik kelam Sasuke menatap tepat di kotak merah muda yang isinya berserakan di atas kasur.
"A-aku…" Sakura tidak tahu harus berbicara apa. Kata-kata yang ingin diucapkannya seolah tertahan di tenggorokannya. Apalagi ketika Sasuke mulai melangkah mendekatinya dengan ekspresi datarnya. Hal itu membuat Sakura semakin gugup.
"Sakura," panggil Sasuke dengan nada berbeda dari biasanya. Ia berhenti tepat di ujung ranjangnya, dimana Sakura tengah duduk kaku dengan kaki menjuntai ke bawah.
Sakura menggigit bibirnya, cairan bening sudah siap tumpah di pelupuk matanya. "Sasuke-kun, aku…" Masih, gadis itu belum bisa menyuarakan isi hatinya.
Sakura tidak dapat membendung lagi air matanya ketika Sasuke merengkuh tubuhnya. Kepalanya ia sandarkan di dada bidang sahabatnya, dengan kedua lengannya memeluk tubuh tegap itu. Sekitar sepeuluh menit, baik Sasuke maupun Sakura tidak ada yang memulai pembicaraan. Sakura sibuk menangis, sedangkan Sasuke hanya membelai lembut surai merah jambu Sakura. Sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu, menikmati aroma menenangkan dari Sakura.
Mereka masih dalam posisi berpelukan, menikmati keberadan masing-masing. Mencoba untuk menghapus rasa rindu selama sepuluh tahun ini.
Mendengar isakan Sakura semakin melemah, akhirnya Sasuke melonggarkan pelukannya. Ia mengangkat kepala Sakura yang terkubur di dadanya. Menyeka cairan bening di sudut-sudut mata gadis itu, kemudian mengecup singkat kening gadis di rengkuhannya.
"Maafkan aku…"
Akhirnya, kata yang ditunggu Sakura selama sepuluh tahun ini keluar juga dari mulut Sasuke. meski hanya dua kata sederhana, namun sudah berarti segala bagi gadis itu.
"Aku juga, maafkan aku…"
.
.
.
.
"Sejak kapan kau bisa memasak?" Sakura menaikkan sebelas alisnya, mencicipi sup buatan Sasuke.
"Memangnya kau yang tidak bisa melakukan apa-apa," dengus Sasuke. Ia mengangkat panci berukuran sedang tersebut dan membawanya ke atas meja makan di samping dapur.
Sakura mendelik, "Cih, baru memasak saja sudah sombong!"
"Hn, sekarang duduk dan tutup mulut cerewetmu," titah Sasuke. Memegang pundak Sakura dan mendorongnya menuju meja makan.
Meski kesal, Sakura tetap mengikuti perintah Sasuke. Lagipula, perutnya sudah mulai memberontak minta diisi.
Sasuke menuangkan sup ke dalam mangkuk dan menyajikannya kepada Sakura dan dirinya. Ia lalu duduk salah kursi tepat di depan gadis itu. Dan tanpa ada perdebatan lagi, mereka mulai menyantap makan malam.
"Itachi-nii, paman dan bibi kemana?" Sakura menyeruput kuah supnya, sembari matanya menatap ke arah Sasuke.
"Kaa-san dan Tou-san lagi keluar kota, dan si baka-aniki entah kemana," jawabnya sambil mengigit irisan tomat segar.
"Oh," tanggap Sakura kembali menyibukkan diri dengan makan malam.
Sakura dan Sasuke menikmati hidangan dalam diam, ditemani oleh suara dentikan sendok dan piring yang saling beradu.
.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah selesai mencuci bekas mereka makan, dapur juga sudah nampak bersih dan rapi.
Mengelap tangannya, Sakura kemudian keluar dari dapur dan menemui Sasuke di ruang keluarga. "Aku mau pulang," lontar Sakura.
"Tunggu sebentar," ujar pemuda itu. Ia lalu ke kamarnya dan menyuruh Sakura untuk duduk di sofa. "Aku akan mengambilkan barang-barangmu.
Sakura menurut, ia kemudian duduk manis sambil memencet remote televisi, mencari saluran yang menurutnya menarik.
Tidak lama, Sasuke datang dengan tas Sakura dan sebuah kue.
"Siapa yang ulang tahun?" Sakura menaruh remote dan menghampiri Sasuke untuk mengambil tasnya.
"Kamu," jawab Sasuke menarik lengan Sakura dan membawanya keluar rumah.
Sakura terkekeh, "Apa karena kita pisah selama sepuluh tahun, kau jadi lupa kapan ulang tahunku?" tanyanya menggelengkan kepalanya. "Aku merasa terlupakan," gumamnya lirih dengan seringai jahil.
Sasuke memutar matanya, ia masih menyeret Sakura hingga tiba di taman belakang rumahnya. Ia menaruh kue di tangannya di atas meja bundar yang terbuat dari kayu, dan menyuruh Sakura duduk di bangku. Melihat Sakura yang ingin protes, Sasuke menyentil jidat gadis itu. "Diam dan duduklah!"
Sakura merengut, ia mulai merengut tidak jelas karena perbuatan Sasuke. Tangan kanannya mengelus jidatnya yang terasa sakit. "Sakit bodoh!" kesalnya.
Sasuke kemudian mengelurakan koek api dari dalam sakunya, dan mulai menyalakan tujuh belas lilin di tas kue tersebut. Ia kemudian duduk di samping Sakura.
"Apa ini?" Sakura menatap bingung Sasuke.
Sasuke mendesah, "Kau marah padaku karena dulu aku yang meniup lilin ulang tahunmu, jadi aku ingin menggantinya sekarang," paparnya.
Sakura tersenyum, ia kemudian memeluk pinggang Sasuke di sampingnya. "Kau menggemaskan, Sasuke-kun." Sakura lalu menangkup kedua pipi Sasuke dan mulai menariknya.
"Hentikan itu!" kesal Sasuke melepaskan tangan Sakura dari pipinya. "Dan cepat tiup lilinya!" titahnya.
Sakura menggeleng, kemudian tersenyum manis pada Sasuke.
Melihat jenis senyum Sakura, entah kenapa Sasuke memiliki firasat buruk.
"Lagu ulang tahunnya, mana?" tanya Sakura menyeringai.
Sasuke mendengus, ia lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Namun Sakura terlebih dahulu menahannya.
"Aku ingin Sasuke-kun yang menyanyikannya," ujarnya tersenyum lebar.
"Aku tidak mau!" tolak Sasuke cepat. Ternyata firasatnya benar.
Sakura menampilkanwajah terlukanya, merengek agar Sasuke menuruti keinginanya. "Sasuke-kun, ayolah," pintanya lirih dengan wajah sendu.
Menggeram rendah, Sasuke akhirnya menuruti keinginan menyebalkan Sakura itu. "Tapi ada syaratnya," tawarnya.
Sakura mengerjap, "Apa?"
Sasuke menyeringai, kemudian mendekatkan wajahnya pada Sakura. "Kau harus mengganti yang sepuluh tahun, dengan seumur hidupmu bersamaku," ujar Sasuke.
"Eh, maksudnya?" Sakura benar-benar tidak mengerti.
Mengacak rambut sebahu Sakura, Sasuke terkekeh lalu menyentil jidat gadis itu. "Setelah lulus, kau harus tunangan denganku, bodoh!"
"Tidak mau!" tolak Sakura cepat. Wajahnya sudah memerah di bawah cahaya rembulan dan lampu taman di sekelilingnya. Gadis itu bisa mersakan degup jantungnya yang berpacu cepat, juga perutnya terasa aneh.
"Aku tidak menerima penolakan!" tukas Sasuke.
Sakura menggeram rendah, sahabatnya ini memang sangat sangat menyebalkan. "Kau menyebalkan, "gerutu Sakura.
Sasuke tersenyum tipis, "Hn, dan cepat tiup lilinnya," katanya lagi.
"Aku ingin Sasuke-kun menyanyikan lagunya dulu," tolak Sakura dengan seringainya. Gadis itu tahu, Sasuke sangat enggan untuk melakukan keinginanya itu.
"Dasar keras kepala!" dengus Sasuke. Akhiranya ia mengalah, dan mulai bernyanyi dengan suara beratnya.
Sakura tertawa lebar mendengar nyanyian Sasuke, ia tidak menyangka Sasuke akan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. "Suaramu fals sekali, Sasuke-kun," ejeknya.
Mendelik kesal, Sasuke lalu mengecup singkat bibir Sakura untuk membuat gadis itu menutup mulutnya. Dan benar saja, sedetik kemudian suara tawa Sakura langsung lenyap. Pemuda itu menyeringai melihat gadis di sampingnya tengah menganga lebar sambil menyentuh permukaan bibirnya.
"Kau mau lagi?" tanya Sasuke menggoda.
Sakura mneggeleng pelan, ia masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Sebenarnya, kenapa ia bisa begini hanya karena ciuman singkat seperti itu. Bahkan otaknyapun tidak berpikir sekarang.
"Sekarang tiup lilinnya!" titah Sasuke untuk yang ke sekian kalinya.
Sakura mengangguk, lalu meniup liin-lilin kecil tersebut.
Seetlah semuanya padam, Sakura tersenum tulus pada Sasuke. "Terima kasih, Sasuke-kun," ujar Sakura tersenyum lebar.
Sasukepun ikut mengulas senyum, ia membelai lembut surai merah jambu Sakura dan mengecup sekilas kening gadis itu.
"Hn," balas Sasuke.
Sakura kemudian mendekat pada Sasuke dan memeluk pemuda itu. Begitu pula Sasuke, ia membalas pelukan gadisnya tidak kalah erat.
"Aku merindukanmu, Sasuke-kun," gumam Sakura.
"Aku juga," balas Sasuke.
Dibalik dua pohon bonsai, seorang pemuda berdiri dengan senyum lembut di bibirnya. "Akhirnya," gumam Itachi lega.
Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Sakura dan Sasuke yang masih menikmati momen bersama mereka.
"Sepertinya, sebentar lagi aku akan miliki keponakan," kekehnya.
.
Sakura melepaskan pelukannya, ia menatap Sasuke tersenyum. "Antar aku pulang," katanya memerintahkan.
Sasuke mengangguk, kemudian berdiri dan menggenggam jemari Sakura. "Ayo."
Sakura tersenyum lebar, meremas sedikit jemari Sasuke yang bertautan dengan jarinya.
"Terima kasih, Sasuke-kun."
.
.
.
.
.
Owari
.
..
.
Gomen apdetnya telat, benar-benar tidak ada waktu buat ngetik lanjutan fic ini.
Karena bikinnya ngebut, alurnya ikutan ngebut xD, maaf untuk typo(s)nya juga….
HAPPY SASUSAKU FANDAY 2014!
