And I Love You

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Aomine Daiki/Momoi Satsuki. Genre: Friendship/Romance. Rating: K+. Other notes: for Aomomo Week Day #5: Bond.

(Ketika mereka berdua masih berusia sekitar tujuh tahun, Aomine berpikir bahwa ikatan mereka adalah kawan dekat semata.)


Ketika mereka berdua masih berusia sekitar tujuh tahun, Aomine berpikir bahwa ikatan mereka adalah kawan dekat semata. Sahabat. Tak lebih, karena memang pola pikirnya juga masih sederhana, yang dia pikirkan sehari-hari hanyalah siklus antara belajar-makan-tidur-main, yang berulang-ulang, dan seringkali melibatkan Momoi di dalamnya, sebagai sahabat terbaiknya dalam menghabiskan hari.

Aomine sedang menggiring bola dengan lincahnya siang itu, dan lapangan kecil tersebut masih memiliki beberapa genangan air.

"Satsuki, lihat, ini shooting gaya bebasku yang—"

BRUK

"Dai-chan!"

Lelaki itu terpeleset karena kehilangan konsentrasi dan menginjak bagian yang sangat licin dengan langkah super cepat. Dia langsung bangkit untuk duduk, namun baru sadar bahwa lututnya terluka.

"Tunggu Dai-chan, jangan disentuh! Ayo ke sana, cuci dulu lukanya—Dai-chan bisa jalan?" Momoi menunjuk pada kran air di ujung lapangan.

"Uh, bisa ..."

Tiba di tempat yang dimaksud, Momoi pun membantu untuk mencucikan luka Aomine dengan penuh kehati-hatian. "Tadi aku beli plester luka. Kebetulan sekali, hehehe. Ibu titip untuk persediaan di rumah. Nah ini, untuk Dai-chan saja salah satunya," Momoi mengambil satu plester, membuka kemasannya, lalu menempelkannya dengan hati-hati ke atas luka Aomine. "Cepat sembuh, ya, Dai-chan!" Momoi mengelus bagian yang terluka.

"Terima kasih, Satsuki! Kau selalu baik padaku!"

"Aa, aku kan sahabat terbaik Dai-chan!"

Ya, semua terasa semudah itu ketika mereka masih bocah.


Ketika mereka sudah beranjak dewasa, ketika Aomine menyadari seberapa besarnya rasa suka Momoi pada Kuroko, ikatan mereka terasa seperti ... platonik.

Aomine sayang Momoi, dia tahu itu. Dia paham itu. Dia juga bisa membaca bahwa Momoi sayang padanya, karena Momoi lebih memilih untuk menjaganya kemanapun dia pergi, kapanpun dia butuh, meski Aomine sadar bahwa dia kadang begitu menjengkelkan bagi Momoi.

"Tetsu-kun memberiku boneka ini!" atau "Hari ini Tetsu-kun membalas pesanku!" dan "Tetsu-kun tampan dan keren sekali hari ini!" adalah ungkapan yang tak asing di telinga Aomine.

Dia senang Momoi berada di sampingnya, dia senang Momoi selalu ada untuknya, tapi perasaan ini sungguh tak jelas.

Dia sendiri kadang tak tega melihat Momoi bekerja begitu keras untuk tim begitu mereka masuk SMA, dia kadang ingin menyentuh gadis itu untuk menenangkannya dan mengatakan bahwa di juga ada untuk Momoi di saat terberatnya, namun kadang dia ragu.

Sebab dia tidak tahu—batas ikatan ini begitu kabur—ini kasih sayang antar sahabat atau sesuatu yang lain?

Hal itu terbiarkan begitu saja selama bertahun-tahun.

Bahkan sampai ketika mereka sudah melewati tahun SMA mereka, masuk kuliah—yang lagi-lagi mereka menjalaninya dengan masih tetap berdua seperti biasa—bahkan ketika rasa suka Momoi telah luntur pada Kuroko ...

... dan bahkan saat Momoi telah berpacaran dengan lelaki lain di kampus, yang menembak gadis itu tepat di depan Aomine.

Ikatan mereka masih kabur di antara dua status, sekabur batas senja dan malam yang ditampilkan oleh hari yang masih menyajikan warna oranye yang bergabung dengan lembayung.

Sahabat atau dua orang yang saling cinta karena membutuhkan satu sama lain selalu?


Ikatan mereka semakin kacau setelah ciuman yang diberikan oleh Aomine yang sedang lepas kendali karena melihat Momoi terduduk di bangku taman, matanya merah dan terisak. Gadis itu diputuskan pacarnya, rupanya.

Dan Aomine tak terima orang yang dia sayangi disakiti.

Maka dia, yang marah sekaligus kesal dan perih melihat Momoi yang terluka, tanpa sadar langsung mencium gadis itu di bibirnya.

Momoi nyaris berontak tapi sentuhan Aomine pada pipinya membuatnya tunduk. Mereka baru sama-sama sadar bahwa ini sangat salah setelah mereka melepaskan diri. Momoi membuang muka dan Aomine mendecih serta melakukan hal yang sama.

Mereka pulang secara terpisah.


Aomine yang pertama kali tidak tahan dengan kecanggungan yang tiada tara, yang terjadi selama tiga hari setelah ciuman itu.

"Satsuki," dia memanggil setelah gadis itu mengangkat teleponnya.

"Hn ..." Momoi agak ragu.

"Buka jendela kamarmu."

Mereka bertatapan dalam keheningan setelah Momoi melakukannya.

"Kita ini apa?"

"... Huh?"

"Ya, aku sayang kau. Tapi aku tidak tahu ini apa. Apa hanya karena kita sahabat atau ini adalah cinta yang lain, aku tidak bisa mengerti hal ini."

"Ah—Dai-chan, aku harus—"

"Jangan menghindar, Satsuki. Kita sudah mengenal satu sama lain seumur hidup kita, jangan kauhancurkan semua hanya karena mundur dikarenakan hal yang sepele."

Momoi menunduk. Tarikan napas baginya terasa berat. Akhirnya dia mengalah untuk tidak pergi.

"Kau mencintaiku, Dai-chan? Kenapa tidak bilang dari awal saja? Kenapa setelah banyak hal terjadi, kau baru mengatakannya?"

"Kaupikir aku tidak mengalami hal sulit saat memikirkannya? Aku meragukan banyak hal. Kupikir aku hanya menyayangimu sebagai sahabat yang selalu ada untukku—ternyata begitu aku melihatmu dimiliki seseorang dengan sesuka hatinya dan ditinggalkan semau dia—aku keberatan."

"Lalu ... kita ini apa?"

Aomine menggeleng. "Aku tidak tahu."

"Kalau begitu ... biarkan saja semua berlalu dengan cara ini. Kita tetap seperti biasa."

"Bagaimana kalau aku keberatan?"

"Maksudmu?"

"Aku ingin kepastian. Aku tidak butuh hanya sekadar hubungan biasa."

Momoi menarik napas panjang. "Kauingin memastikan perasaanku? Baik, aku sayang padamu, Dai-chan. Tapi aku masih belum tahu apakah aku menyayangimu sebagai sahabat, kekasih, kawan, tetangga, atau—"

"Karena itu, menikahlah denganku."

"APA—"

"Setahuku, penyelesaian paling baik untuk dua orang yang saling menyayangi itu ya menikah. Kaujuga tidak sedang dalam hubungan serius dengan seseorang, 'kan?"

"I-iya sih ..."

"Ikatan ini hanya akan menjadi pasti kalau kita menikah. Selesai."

Momoi tidak bisa menemukan keraguan di mata Aomine yang sedari tadi tidak lepas dari dirinya.

Semua memang rumit, tapi Momoi tahu bahwa ini akan menjadi lebih rumit lagi jika dia membiarkan semua jadi gantung, menjauhi Aomine—dan dia tahu dia tak akan sanggup lagi melakukannya karena dengan berjauhan dengan lelaki itu selama beberapa hari saja sudah cukup membuatnya tersiksa.

Apa salahnya menikahi orang yang sudah dikenal sejak awal kali dia mengenal dunia? Semua akan tetap sama karena mereka sudah terbiasa bersama, mereka hanya memastikan ikatan saja.


Sepasang cincin yang sama, sebagai pengikat, melingkar di jari manis mereka tujuh bulan kemudian.

Tak ada pihak yang menyesalinya.


Persahabatan, cinta platonik, serta kasih sayang ialah suatu ketidakpastian yang mengantarkan mereka menuju suatu kesimpulan sederhana, bahwa mereka menyayangi satu sama lain. Tak peduli itu rasa sayang pada sahabat, kawan, atau rekan belaka—sebab pasangan yang diikat janji pernikahan adalah sepasang sahabat, kawan, juga sekaligus rekan yang memutuskan untuk hidup bersama atas nama ketulusan janji dan kesucian niat.


A/N: well, aku percaya suatu teori; buat dua orang yang sudah kenal sekian lama, lalu ada pengakuan 'mendadak' yang berbau cinta begitu (dalam cerita ini, ciuman Aomine adalah contoh lainnya), maka pasti ada rasa 'canggung' yang menciptakan tensi di antara kedua orang itu. ya. aku percaya. karena aku pernah mengalaminya.

happy aomomo week!