And I Love You

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Aomine Daiki/Momoi Satsuki. Genre: Friendship/Romance. Rating: K+. Other notes: for Aomomo Week Day #7: Firsts.

(Ini kisah tentang segala yang pertama, tapi tidak sesederhana itu.)


Satsuki tak akan membicarakan tentang ciuman pertama, pelukan pertama, atau bahkan sentuhan pertama mereka berdua. Semuanya terlalu rumit untuk dijabarkan. Lagipula, dia lupa beberapa di antaranya. Untuk hal pertama, dia yakin itu terjadi saat mereka sama-sama masih tujuh ... atau delapan tahun, ya? Dan itu terjadi secara kebetulan karena Daiki tersandung, lantas menjatuhi dirinya dan mempertemukan bibir mereka. Pelukan? Sentuhan? Ah, mana gadis itu ingat. Memorinya akan hal tersebut kabur, sekabur ingatan tentang kapan dia pertama kali bertemu Daiki atau kapan pertama kali menonton pemuda itu bermain basket.

Ini adalah deretan cerita tentang beberapa hal pertama, namun bukan yang sesederhana itu.


Kali pertama Satsuki mendapatkan perhiasan yang bukan dari orang tuanya adalah di malam itu, yang mana dia dan Daiki tengah menghabiskan waktu bersama di sebuah festival musim panas. Entah yang keberapa kalinya mereka pergi berdua begini.

"Dai-chan, tadi kaulihat ada orang jual takoyaki tidak?"

"Hm."

"Belikan untukku, dong," gadis itu mengerling manja, "Aku mau pilih-pilih yukata, nih. Sekalian beli buatmu juga. Kau ke sana, dan belikan aku takoyaki, ya, ya?"

Daiki sempat menggerutu, tapi lelaki itu tak menolak perintah, dia berbalik dan kembali ke tempat yang diminta.

Satsuki selesai memilah-milah yukata untuk mereka, dan saat itu Daiki juga datang dengan seporsi besar takoyaki.

"Aa, terima kasih!" dia menerimanya dengan riang. Dia langsung memakannya.

Namun Satsuki baru sadar bahwa pemberian Daiki belum selesai. Tangan pemuda itu masih terulur, dengan sebuah kotak kecil di atas telapaknya. "Bonus."

"Bo ... nus?" Satsuki agak tak percaya ketika mengambil kotak itu, apalagi ketika membuka isinya.

Dia baru seratus persen sadar saat membuka isinya.

Marry me?

Satsuki memandang cincin—isi kotak itu—dan Daiki secara bergantian.

"Jangan kauanggap aku bercanda, oke?"

Yang selanjutnya terjadi adalah ... Satsuki mendadak menginjak kaki Daiki.

"Oi, oi, Satsuki, sakit! Apa maksudmu, hah?"

"Apa otakmu tidak bisa memikirkan cara yang lebih romantis lagi untuk melamar pacarmu, hah?"

"Oi—"

Satsuki mendadak memeluk Daiki. "Tapi aku suka caramu, Dai-chan—aku bersedia!"


Ini pertama kalinya Satsuki merasa amat gugup walau yang dihadapinya hanyalah ayah dan ibu Daiki. Sesungguhnya, Satsuki biasa berinteraksi dengan mereka. Dia biasa berbicara dengan ibu Daiki layaknya dengan ibunya sendiri, dan bahkan tak jarang ayah Daiki membelikannya barang-barang. Mereka akrab.

Namun malam ini, pertama kali Satsuki merasa amat canggung meski hanya berhadapan dengan keduanya yang datang bersama Daiki ke rumahnya.

"Ya, seperti yang kaulihat, sepertinya candaan kita waktu mereka kecil dulu ternyata benar-benar terjadi."

Satsuki hanya menunduk.

"Kausetuju?"

"Aku tidak punya pilihan kalau mereka memang menginginkan satu sama lain begitu."

Satsuki kelihatan agak lega. Bahu Aomine pun melemas.

"Jadi ... kira-kira kapan tanggal pernikahannya?"

Malam lamaran privat antara dua keluarga itu cukup menegangkan pada awalnya, namun semakin lama, suasana menjadi semakin santai karena dua keluarga memang sudah mengenal satu sama lain.

Daiki dan Satsuki tidak berhenti tersenyum satu sama lain setiap kali pandangan mereka bertemu malu-malu malam itu.


Kali pertama Satsuki datang ke kantor wedding organizer ... adalah suatu hal yang membuatnya agak bingung. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang akan dia pesan terlebih dahulu di sana? Bagaimana kalau nanti dia tiba-tiba bertengkar dengan Daiki di sana, mengingat bahwa cukup sering mereka berselisih karena hal-hal kecil?

Dia memang sudah merencanakan semuanya, tapi dia tahu, bahwa kegugupan bisa saja mengacaukan banyak hal.

"Kaugugup karena apa, hah?"

"Mmm, bukan gugup," gadis itu meralat. "Hanya ... bingung. Ah, entahlah. Mungkin juga karena terlalu gembira?" dia tertawa kecil. "Aku nyaris tidak percaya ini, Dai-chan. Orang yang kuajak untuk ke wedding organizer adalah kau. Ah, rasanya campur aduk, hihihi."

"Jangan terlalu repot memikirkannya."

Tapi ternyata, tak sesusah yang dia pikirkan. Orang melayaninya ramah sekali. Mereka berdua cukup menyebutkan jenis dekorasi apa yang mereka mau.

Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak meributkan hal-hal kecil. Pertama kalinya Daiki mau menurut padanya tanpa protes sedikit pun.

Dan setelah selesai memilih bunga untuk dekorasi taman—mereka memutuskan untuk mengadakan pesta outdoor untuk pernikahan mereka—Satsuki baru menyadari satu hal.

Pertama kalinya dia melihat bahwa bunga blue chrysantemum dan bunga satsuki jika dikombinasikan akan jadi semanis ini. Seindah ini. Sesempurna ini.


Satsuki sedang sibuk mendaftar penerima undangan dengan laptopnya di ruang tamu ketika Daiki mendadak datang. Sebuah amplop mencurigakan dibawanya, dan langsung diletakkannya di atas keyboard laptop gadis itu.

"Apa ini?" Satsuki mengintip isinya.

"Aku tidak tahu ternyata ibuku menyiapkan hadiah kejutan itu."

"... Tiket?"

"Ya. Tujuan Paris, tiga hari setelah tanggal pernikahan kita. Bulan madu. Dan Tanteku yang berjanji membayarkan biaya hotelnya. Hadiah pernikahan, katanya."

Mata Satsuki terbuka tidak percaya ketika melihat sungguh-sungguh isinya.

Dia memekik senang, langsung melompat kegirangan dan memeluk Daiki. Bahkan dia membawa lelaki itu berputar-putar di ruangan, saking senangnya.

"Dai-chan! Ini akan jadi kali pertama aku pergi keluar Jepang! Dan ternyata—aku akan pergi bersamamu, untuk bulan madu, lagi, hihihi~"

Satsuki dulu sempat iri ketika mendengar kawan-kawan sekolah, kuliah atau rekan kerjanya pergi ke luar negeri, sementara dia tak pernah melakukannya sama sekali.

Ternyata, kali pertama dia bepergian ke luar negeri—adalah dengan suaminya sendiri kelak!


Banyak momen-momen hal pertama yang dialami Satsuki di usianya yang kedua puluh lima ini, namun yang paling berkesan adalah ...

... saat dimana dia amat yakin bahwa dia memilih orang yang benar untuk hidupnya. Apalagi ketika janji suci itu terucapkan.


A/N: AAAA AOMOMOWEEK-NYA AKHIRNYA SELESAI HUHU NANGES /no

aduh terima kasih ya buat reader, reviewer, faver(?) dan follower fic ini, aku seneng banget ternyata tanggapannya bagus :"D semoga ini bisa sedikit lebih meramaikan fandom fanfic aomomo, khususnya momoi sendiri. semoga ini bisa menghibur kalian semua!

dan oh ya, chapter 7 ini ada semacem sekuelnya, kupublish di akun AO3-ku, penname-ku di sana crystallizedcherry. judulnya Planning for Future, pake bahasa inggris. fic itu nyeritain tentang kisah mereka di Paris hshshshshs pendek aja sih tapinya.

sekali lagi, terima kasih banyak. sampai jumpa di Semanis Berry dan The Trace Autumn Left! ayo kita suburkan arsip fic momoi! /DOR/