12 Days Before Christmas (Christmas Love)

-Day 1: Meeting-

Main Cast: ChenMin.

Other Cast: EXO Official Pairings, etc.

Rate: T

Genre: Fantasy, Romance.

Warning: YAOI, Typo(s), EYD Berantakan, Alur kecepetan.

Disclaimer: EXO's member belong to GOD and SM Entertainment. I just own the plot ^_^

.

.

.

"Legenda tentang adanya peri itu hanya bualan belaka. Fiktif, kau tahu itu? Tidak mungkin menjadi kenyataan!"| Fairy did (not) exist. Mungkinkah begitu? Benarkah peri hanya sebuah bualan? Ataukah kenyataan? Haruskah aku percaya disaat ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu peri yang dimaksudkan di dalam buku legenda? /EXO Official Couple/YAOI/RnR?

.

.

.

.:: 12 Days Before Christmas [Christmas Love] ::.

.

.

.

'Kepercayaan'

Sebenarnya, apa kepercayaan itu?

Mengapa kita harus percaya kepada orang lain?

Memberikan rasa percaya kita kepada orang itu, walaupun pada akhirnya tidak dihargai?

.

.

.

Seoul National University, Seoul, 12 December 2013.

"Xiu-xiu~ look at this!" Teriak Luhan.

Namja yang dipanggil tersebut, Xiumin, mengangkat sebelah alisnya. "Wae?"

"Aish, segeralah kesini, Xiumin-ge~ kami ingin agar kau melihat ini," Ucap Baekhyun yang duduk tepat di sebelah Luhan.

Xiumin hanya memutar kedua bola matanya, lalu beranjak dari tempat duduknya menuju meja tempat Luhan dan Baekhyun berada. Dengan segera, namja berpipi chubby tersebut mendudukkan diri di hadapan kedua sahabat— abnormal— nya.

"Waeyo?"

"Lihat! Aku dan Baekhyun menemukan buku ini di perpustakaan!" Seru Luhan kegirangan sambil menunjukkan sebuah buku dengan sampul yang kelewat kusam.

"Buku apa itu? Kelihatannya tua sekali?" Tanya Xiumin sambil menunjuk kearah buku yang sedang dipegang oleh Baekhyun.

"Oh? Ini buku yang membahas tentang fairies. Yeah, as you know," Baekhyun tersenyum dan meletakkan buku tersebut keatas meja.

Xiumin mengibaskan telapak tangannya. "Fairies? Tch, kalian berdua sungguh konyol. Fairies itu tidak nyata!"

"Fairies itu nyata, ge!"

"Tidak nyata!"

"Nyata!"

"Tidak nyata!"

"Nyata!"

"Yak!" Xiumin berteriak. "Legenda tentang adanya peri itu hanya bualan belaka. Fiktif, kau tahu itu? Tidak mungkin menjadi kenyataan!"

"Fairies i—"

Luhan menatap kedua sahabatnya malas, lalu melengos pelan. "Oh, c'mon, daripada kalian berkelahi sendiri, lebih baik kita baca saja terlebih dahulu buku ini."

"Aku setuju dengan usulmu, Lulu-ge" Ucap Baekhyun girang, sementar Xiumin hanya memandang Luhan dan Baekhyun datar.

Perlahan, Luhan membuka lembar demi lembar buku tua tersebut. Sesekali, mereka –ex Xiumin— tertawa melihat gambar ataupun tulisan yang tertera pada buku tersebut.

"Eh? Mengapa dari halaman 101 langsung meloncat ke halaman 104?" Ujar Baekhyun kebingungan.

Luhan mengangkat kedua bahunya, "Mollayo, Baek. Mungkin salah cetak."

"Salah cetak? Eum… Kau benar, ge."

"Yaa~ kalian itu bagaimana sih? Apa kalian tidak memperhatikan kalau halamannya menempel satu sama lain, eoh?"

Xiumin merebut buku itu, lalu dengan perlahan melepaskan kedua halaman yang menempel itu agar tidak robek sedikit pun. Dahi Xiumin sedikit mengerenyit saat melihat halaman yang tertempel tersebut. Pada halaman tersebut, tampak gambar seseorang berjubah biru tua dan membawa tongkat kayu yang diselimuti es. Wajah namja pada gambar itu sangat rupawan —atau lebih tepatnya tampan.

"Jack Frost?" Desis Xiumin pelan.

"Xiu-ge, apa yang kau— omo! Jack Frost!" Pekik Baekhyun pelan.

"Woah, aku tak menyangka kalau ternyata Jack Frost sangat tampan~" Gumam Luhan.

"Lulu-ge, bukankah di daftar isi tidak menuliskan adanya Jack Frost? Lalu bagaimana bisa?" Tanya Baekhyun.

"Molla"

"Hei, sebenarnya… Jack Frost ini… Nugu?" Tanya Xiumin.

"Umm… Aku kurang tahu tentang Jack Frost, Xiu-xiu. Yang aku ketahui, Jack Frost adalah seorang peri salju dan es. Dia biasa datang disaat natal, namun tidak banyak orang yang tahu tentang dirinya."

Xiumin hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Luhan, lalu kembali menatap buku tersebut. Ditelusurinya sosok yang menarik perhatiannya tersebut, hingga pandangannya jatuh pada salah satu ilustrasi. Ilustrasi itu menggambarkan Jack Frost yang tengah menggendong seorang anak kecil bermata sipit.

Keduanya digambarkan sedang tertawa bahagia dan bermain diantara tumpukan saju putih. Ilustrasi yang sangat sederhana, namun menyentuh. Karena sang pembuat ilustrasi telah menghidupkan ilustrasi sang Jack Frost dengan anak tersebut melalui sorot mata keduanya yang terlihat hangat.

Kemudian, mata Xiumin beralih dari ilustrasi tersebut, dan membaca tulisan kecil di bawahnya.

'Jack Frost, and his grandchild, J—'

Sayangnya, bagian dimana nama anak kecil tersebut tertulis, tinta pada bagian tersebut mulai menghilang dan tak dapat dibaca karena buku tersebut sudah berumur cukup lama.

"Xiu-xiu~ have you ever listen about the legend of '12 Days Before Christmas'?"

"Nope. Why, Lu?"

"Jadi, menurut legenda, setiap harinya saat kita melewati ke 12 hari menuju natal itu, akan ada keajaiban yang akan diberikan kepada kita dari para peri. Entah kau mendapatkan barang apa yang kau ingingkan, kebahagiaan, kesehatan, atau apapun itu." Ujar Luhan. "Namun, dalam legenda, ada satu hal yang menarik. Yaitu tentang Jack Frost."

"Hal menarik? Maksudmu?"

"Well, dalam legenda, disebutkan bahwa Jack Frost sering mendatangi seorang manusia disaat ke-12 hari itu berjalan tiap tahunnya. Jack Frost selalu datang kepada manusia itu dan memberinya beragam kebahagiaan. Pada akhirnya, Jack Frost jatuh cinta pada manusia yang juga mencintai dirinya, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Tapi asal kau tahu, appa dari Jack Frost adalah King dari para fairies, King Oberon. Dan King Oberon menegaskan bahwa tak satupun peri diperbolehkan untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan manusia, hanya sebatas teman. Atau sahabat. Yah, seperti itu,"

Luhan menarik nafas. "Sayangnya, King Oberon mengetahui hal itu dan berniat memisahkan Jack dari manusia tersebut. Tetapi, Jack yang sudah sangat mencintai manusia itu, akhirnya kabur dari Pixie Castle, bersembunyi di dunia manusia, dan menikahi manusia itu."

"Lalu? Apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Baekhyun penasaran. Sedari tadi, namja tersebut mendengarkan pembicaraan Xiumin dan Luhan.

"King Oberon berhasil menemukan Jack, dan memaksanya untuk kembali ke Pixie Castle, meninggalkan istri Jack sendirian. Namun Jack menolak dan tetap ingin berada di dunia manusia, apalagi pada saat itu istrinya tengah mengandung anak mereka berdua—

—Akhirnya, King Oberon mengalah dan memberi pilihan pada Jack. Jack harus ikut pulang dengan dirinya, atau, apabila aegya Jack sudah lahir nanti, maka aegya-nya harus diserahkan kepada King Oberon, dan menjadi Prince of Pixie menggantikan Jack."

"King Oberon jahat sekali, eoh," Gumam Xiumin.

Luhan tersenyum kecil lalu melanjutkan ceritanya. "Jack pun menyetujui hal itu. Dan pada saat bayi itu lahir, Jack dan istrinya benar-benar memberikan bayi itu kepada King Oberon. Anehnya, sejak bayi itu diserahkan, hampir seluruh umat manusia melupakan adanya Jack Frost, sang peri salju dan es. Dan sejak saat itulah, Jack benar-benar menghilang, entah ia kembali ke dunia Pixie atau bagaimana, tapi eksistensi Jack Frost benar-benar menghilang pada jaman itu" Jelas Luhan.

"Wait… Bagaimana dengan istri Jack?" Tanya Xiumin.

Luhan menggelengkan kepalanya "Nan molla-yo. Tidak dituliskan dalam legenda bagaimana akhirnya hubungan antara Jack dengan istrinya."

"Omona… kenapa kisah mereka sedih sekali?" Baekhyun mendesah prihatin.

"Itu hanya legenda, Baekkie. Sejujurnya aku juga belum terlalu tahu bagaimana dang kebenaran kisah ini. Tapi karena di buku dan internet hanya ada kisah legenda ini, dan hanya ini cerita satu-satunya di dunia tentang Jack Frost, kemungkinan ini adalah kenyataan"

"Itu tak mungkin nyata, Lu. Tak mungkin."

"Mengapa gege berkata seperti itu?"

"Hanya perasaanku saja." Ujar Xiumin santai sambil berjalan meninggalkan Baekhyun dan Luhan.

"Ge, ingat perkataanku, tak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini!" Teriak Baekhyun yang samar-samar di dengar oleh Xiumin.

.

.

.

Xiumin menendang timbunan salju di jalan yang dilaluinya. Pikirannya penuh dengan perkataan Baekhyun tadi. Diadahkannya kepalanya menatap langit senja yang berwarna keemasan.

"Tidak ada yang tidak mungkin? Yah… andai saja begitu…" Desahnya pelan.

Namja berpipi chubby it uterus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Hingga seorang namja lain tampak dari persimpangan jalan, berlari tepat kearahnya.

Bruk!

"Ah! Jeosonghamnida!" Ucap namja tersebut.

Xiumin mengerang pelan saat merasakan sakit pada tubuhnya. "Ah… ne… gwaenchana…"

Namja tersebut mengulurkan tangannya, berniat membantu Xiumin berdiri. "Jinjja gwaenchana?"

"Ne, jinjjayo" Ucap Xiumin seraya menyambut tangan namja dihadapannya. 'Tampan…' Pikirnya saat melihat namja itu.

Xiumin tertegun pelan saat memegang tangan namja itu. "Kau—"

"Jeosonghamnida, aku harus pergi sekarang. Annyeong!"

Namja itu berlari cepat meninggalkan Xiumin yang masih belum melepaskan pandangannya.

"Dia… kenapa? Ah, mungkin hanya perasaanku saja…" Gumam Xiumin lalu menggosokkan kedua telapak tangannya yang terasa hampir membeku.

.

.

.

Kim Family's house. 07.55 p.m

"Xiu, kau tidak makan malam?" Tanya umma Kim.

"Sebentar lagi aku akan turun untuk makan malam umma. Umma makan saja duluan." Ujar Xiumin tanpa melepas pandangannya dari tumpukan buku di meja belajarnya.

"Arasseo. Cepatlah selesaikan tugasmu, Minnie-ah."

"Ne umma~"

Sepeninggal umma-nya Xiumin merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Dirapikannyya buku-buku dan alat tulis yang berserakan di mejanya, lalu berjalan ke balkon kamarnya.

Ia tersenyum kecil mengingat pembicaraannya dengan Baekhyun dan Luhan.

"Fairies? It's not funny at all…" Ucapnya pelan. "But maybe if it's true, Fairies akan setampan namja itu…" Xiumin memejamkan matanya dan mengingat rupa namja yang ditemuinya sepulang dari Universitas tadi.

"Thanks, untuk penilaianmu tentang diriku."

Xiumin terkejut saat mendengar suara sesorang dari belakangnya. Dibaliknya tubuhnya cepat, namun nihil. Tak ada seorangpun dibelakangnya.

"Aku ada disini, Xiumin-ah"

Xiumin membalikkan badannya lagi dan mendapati seorang namja, lebih tepatnya namja yang ia temui siang tadi, kini tengah melayang dihadapannya seraya membawa tongkat kayu yang familiar di matanya.

'Ha-hantu?'

"Annyeong, Xiumin-ah. Namaku Kim Jongdae. Dan—ah, aku bukan hantu. Aku seorang fairies."

Good job, Baekhyun. Memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

.

.

.

TBC

.

.

.

Eotteokhae? Apa chap 1 memuaskan?'^' tolong kritik dan sarannya ne~

Ohya, Don't be a SIDERS juseyo ^^ tolong hargai hasil karya oranglain nee~

Last,

Mind to RnR?