Chapter 2:
Ada tetangga baru yang pindah di sebelah rumahnya. Bukan sebuah keluarga, melainkan hanya seseorang. Dari kabar yang beredar, ia sepertinya seorang mahasiswa. Dan... tampan. Rasa-rasanya seperti dunia mulai banyak melahirkan manusia-manusia rupawan akhir-akhir ini. Kouki belum melihatnya. Ia sedang sibuk dengan 'bonus' berupa tambahan pekerjaan rumah yang di berikan guru Biologinya tercinta. Oh, terima kasih. Mungkin nanti ia akan mengunjungi lelaki itu, sekedar berkenalan dan—jika beruntung, sedikit berbincang. Betapa kesepiannya Kouki sekarang. Agaknya baru kemarin ia pulang bareng Tetsuya. Kini ia harus sendiri, mengambil rute terjauh dengan kereta agar tak bertemu Tetsuya.
Bukan dengan tanpa alasan ia menghindari temannya itu. Ia hanya merasa akan mengganggu bila ia terus mengekor Tetsuya kemanapun anak itu pergi. Ah... mau bagaimana lagi. Tetsuya sudah memiliki kekasih sekarang. Anak kelas sebelah. Kouki tidak terlalu mengenalnya, namun sepertinya seorang gadis baik-baik. Bersurai merah muda panjang, dengan senyum yang manis dan nada yang sopan ketika berbicara.
Ia sendiri agak terkejut ketika—secara mendadak—Tetsuya mengenalkan gadis yang bersangkutan, kurang lebih, sebulan lalu. Ia tak tahu sama sekali jika Tetsuya sedang dekat dengan gadis manapun sebelumnya. Aneh rasanya. Bagaimana ketika kau merasa sudah mengenal seseorang 'lebih' di banding orang lain, padahal kenyataannya kau tak mengenalnya sebaik yang kau rasa. Ah. Pada awalnya Kouki juga merasa sedikit sakit hati. Ia terluka akan perasaannya sendiri dan itu bodoh. Tidak. Tidak ada cemburu atau apapun di sini. Kita sedang membahas perasaan. Dan itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kecemburuan tak logis.
"Furihata-kun," hampir jantungnya meloncat keluar ketika di rasanya sensasi dingin menjalari pipi. Ia seharusnya sudah dapat membiasakan diri dengan suhu tubuh Tetsuya, namun pada akhirnya, selalu ia panik dengan dingin yang tak wajar itu. "Ingin pulang bersamaku dan Momoi-san?" Tetsuya menundukkan sedikit wajahnya, agar dapat melihat wajah Kouki yang tertunduk dengan lebih jelas. Tak yakin Kouki bahkan menyadari kehadirannya, ia mengibas tangan di depan wajah pemuda bermata kucing itu.
"Eh... apa?" Hela napas terdengar dalam ruang kelas yang sudah sepi. "Pulang bersamaku dan Momoi-san?" Ada senyum khas yang di beri Kouki tiap ia akan menolak sesuatu. Kali ini, ia memunculkan senyum tersebut. Melihatnya, bahkan tanpa kata apapun yang menyertai, Tetsuya tahu Kouki menolak ajakannya. –entah untuk yang ke berapa kali. Maka ia menyandang tas di bahu, melambai pada Kouki sebelum berlalu keluar kelas. Kouki merasa perlu bersyukur juga memiliki teman macam Tetsuya ini. Ia akan bicara di waktu yang di butuhkan, dan akan total diam saat sedang tidak di butuhkan.
Setelahnya ia membereskan buku-buku yang tercecer di meja. Beberapa di antaranya adalah milik lelaki bersurai merah bernama lengkap Akashi Seijuuro yang di temuinya beberapa bulan lalu. Seijuuro ternyata pengoleksi serial novel misteri kesukaannya. Praktis, dengan itu mereka sering bertukar cerita, dan kadang sengaja bertemu di waktu istirahat—atau jam pulang. Tanpa sepengetahuan Tetsuya, tentu. Jika kau tanya mengapa, Kouki pun tak mengetahui jawabannya. Ia sendiri sebenarnya merasa ada yang aneh tiap menatap langsung ke kedua mata dwiwarna itu. Ia... Kouki pernah melihatnya. Mungkin. Ia tak yakin namun sepertinya pernah.
Mendadak pintu kelas menjeblak terbuka. Matanya bahkan tak mendapatkan kesempatan tersendiri untuk berkedip. Sekonyong-konyong warna merah memenuhi penglihatannya dan asap tebal membekap mulut. Ia tidak bisa bernapas. Rasanya sakit. Perih.
/
Kouki mengerjap beberapa kali, berusaha membiasakan matanya dengan bias cahaya yang terlalu terang. Ia berusaha menggerakkan jemarinya, merasakan perih menjalari dari ujung kuku. Ada bekas luka bakar di sana. Begitu jelas terlihat. Dan masih baru, kelihatannya. Kouki tak menyukai api, dan ia tak pernah berani bermain-main dengannya. Trauma masa kecil, bisa di bilang.
Sewaktu itu, ia membakar kertas ulangannya yang berhiaskan tinta merah di halaman belakang rumah dengan tetangganya, yang juga merupakan teman baiknya. Ayah-ibunya akan pulang dari tugas dinas di luar kota dalam kurun waktu lima jam lagi. Kemudian, entah bagaimana, api mengganas dan membakar habis sebelah lengan tetangganya. –kalau ia tidak dengan segera mengambil air, mungkin anak malang berambut ikal itu sudah hanya tinggal nama.
Memaksakan diri untuk duduk, dan kemudian menyadari ia tidak berada di kamarnya—atau setidaknya tempat yang di kenalnya. Banyak sampah berserakan di lantai, dan tak ada barang apapun di ruangan sempit nan kotor ini kecuali ranjang reyot yang di dudukinya sekarang. Di langit-langit ada warna kehitaman. Mungkin tempat ini pernah terbakar sebelumnya? Nah. Hanya konklusi asal. Pikirnya, berusaha menenangkan diri.
Tak dapat di pungkiri ia cukup panik juga. Maksudnya, ia berada di ruangan yang tak di kenalnya, sendiri. Dalam keadaan ada bekas luka yang masih baru di tubuh dan lagi—well, ini hanya perkiraan—pintu yang terkunci? Apa namanya kalau bukan sebuah rencana penculikan? Tak ingin membiarkan rasa panik makin menguasai pikirannya, Kouki bergegas bangkit. Namun tak sampai detik berikutnya ia sudah limbung dan terjatuh. Tak sempat berpegangan pada apapun. Tak ada luka apapun di kakinya. Agaknya kram atau apa. Memaksakan diri, Kouki setengah terseok berjalan ke arah pintu. Menggapai kenop, memutarnya perlahan.
Menemukan pintu tak terkunci, hampir saja remaja tanggung itu bersorak kegirangan. Ia bisa keluar dari sini dan pulang ke rumah dengan taksi. Atau ia bisa menghubungi Tetsuya dan menunggu di sekitar sini. Atau... atau ia bisa melumpuhkan para penjahat-sialan itu, menyekapnya, menelepon polisi dan kabur. Uh. Pilihan terakhir sungguh mustahil. Menyadari kondisinya begitu menyedihkan seperti ini. Rupa-rupanya ia berada dalam rumah yang tak kalah kotor dari ruangan yang di tempatinya tadi. Ia tidak bisa mendengar suara apapun. Rumah ini begitu hening. Bahkan deru napasnya yang tidak beraturan saja terdengar memantul dan bagai satu-satunya melodi pertanda adanya kehidupan di rumah ini.
Ada beberapa ruangan di dalam tempat ini. Tak terlalu banyak, —atau mungkin sebenarnya banyak? Ia tidak menjelajahi rumah ini lebih detail, lagipula. Ingat kalau kakinya sakit? Setidaknya ada dapur di ujung lorong. Ada kulkas di sana, di dekat wastafel. Dan kulkasnya terisi penuh oleh bahan-bahan makanan. Duganya, pastilah sang penjahat tidak hanya sendiri. Menutup pintu kulkas perlahan, hanya untuk melihat bagaimana lampunya meredup. Tak berniat mengambil apapun dari sana. Itu hanya akan membuatnya terlihat bagai pencuri. Sekalipun ia lapar, sih.
"Siapa di situ?" Kaget, Kouki terburu bersembunyi di bawah meja makan. Derap cepat terdengar jelas. Begitu dekat, seakan berada tepat di depan wajahnya. Sebelah tangan ia gunakan untuk menutupi mulut, takut suara sekecil apapun yang di keluarkannya akan terdengar sampai ke telinga para penjahat-sialan itu. Di pejamkannya mata kuat-kuat, sembari berusaha memikirkan sesuatu hal yang menyenangkan. Ia tidak bisa menghentikan degup jantungnya.
Bagaimana—bagaimana ini? Aku bisa di temukan jika—
Sebuah tangan terjulur ke bawah meja, menariknya dengan kasar keluar dari sana. Ia bertanya-tanya orang seperti apa yang memiliki tenaga sekuat ini. Pergelangan tangannya sedikit memerah akibat cengkeraman tersebut. Ia sempat meringis tadi, namun tak lama. Berhubung ia sadar situasinya sedang sangat membahayakan nyawa begini.
"...Ah~ kucing kecil. Manis sekali." Andaikan ia seorang gadis, mungkin wajahnya akan memunculkan rona merah tipis yang lucu. Bukan bulir keringat dingin. "Siapa namamu?" Di hadapkan pada kenyataan kejam sang lawan bicara adalah pemuda tampan, bertubuh atletis nan tinggi semampai, dan ia hanya setinggi dada pemuda itu... wah. Mati saja.
Kouki menelan ludah, takut. Gugup juga, mungkin. Di rematnya celana, seraya di alihkannya pandangan. "Kouki... Kouki Furihata." Dalam hati bertanya-tanya, di mana kawanannya yang lain? Tak mungkin jika ia hanya tinggal sendiri di sini—namun isi kulkasnya sedemikian penuh. Kalaupun ia rakus, dapatkah ia menghabiskan semuanya sendirian? Dan beberapa potong baju yang di letakkan berantakan di meja dapur memiliki beberapa ukuran berbeda. Kembali asal menarik kesimpulan, si penjahat tidaklah sendirian. Ada satu atau dua temannya di sini.
Kemana mereka sekarang?
Pertanyaan yang sangat di takutinya. Ia tidak ingin dengar jawabannya. Tapi di satu sisi, ia butuh untuk mendengar jawabannya. "Arara~ aku tidak memperkirakan kau akan bangun secepat ini..." sang lelaki mengusap dagu lancipnya, memberi Kouki tatapan lembut yang— (APA-APAAN? MANA ADA PENJAHAT SELEMBUT INI?! BAHKAN DALAM MIMPIPUN TERDENGAR ANEH.) "Saat kami menemukanmu kemarin, kau nampak benar-benar kacau. Bahkan dalam penglihatanku, kau seperti sekarat. Pakaian yang melekat di badanmu hangus terbakar dan hanya menyisakan kulit bersih yang menggoda untuk di warnai dengan luka. Kau tidak dapat membayangkan betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak mengunjungi kamarmu semalam. Mengunjungimu dan melepas kancingmu satu per satu."
Tolong. Ini bahkan lebih buruk dari sekedar penculik.
"—kau sepertinya harus berterima kasih padanya, Kouki-kun."
"...Siapa?" Salahnya tidak memasang telinga baik-baik.
Tiba-tiba pundaknya di tarik dengan kasar oleh seorang lain lagi. Lagi-lagi ia tak dapat berbuat banyak kecuali meringis. Masalah tenaga masih menjadi pokok nomor satu di sini. Punggungnya kemudian di hantam ke tembok, dan dagunya di angkat sedikit. "Kau ke kamarnya kemarin." Jemari-jemari lentik yang mana bukan miliknya menelusuri bagian lehernya, secara tidak langsung membuatnya kegelian.
"Aku~? Aku tidak, kau tahu. 'Membantahku dan kau mati', kan? Aku sangat tidak mau itu terjadi, dear."
"Tapi ada bekas cekikan di sini." Suara baritone rendah menyapa telinganya. Ia agaknya kenal suara ini. "Hanya ada kita berdua—dan si tolol itu, kemarin. Dan aku punya banyak alasan yang tak perlu kukemukakan dengan lugas mengenai betapa besarnya kecurigaanku padamu."
Maka pria tadi pun berlalu, kalah berdebat dari pria lainnya. Punggungnya yang lebar terlihat perlahan menghilang bersamaan dengan kekehan menyeramkannya. Mengikuti insting, kepalanya di dongakkan perlahan. Matanya sedikit terbelalak melihat wajah tak asing yang begitu dekat dengan wajahnya, bahkan hidung keduanya hampir bersentuhan.
Seijuuro...?!
Tak di beri kesempatan untuk mengatakan apapun, ia di bungkam oleh sebuah ciuman panjang. Di mana—untuk pertama kalinya—ia harus merasakan yang namanya french kiss (well... 'adult kiss' katanya). Dalam situasi begini, Kouki bahkan tak kepikiran untuk memberontak. Memaksa otaknya untuk bekerja sementara nafsunya sendiri bergejolak. Entah sejak kapan tangannya melingkari leher Seijuuro, mendorong kepala itu mendekat untuk memperdalam ciuman.
Ia tidak tahu apa yang di lakukannya. Ia sedang berpikir, kok.
Dan entah sejak kapan pula tangan Seijuuro perlahan turun ke kantong, merogoh sesuatu dari sana. Menariknya keluar dengan gerak kilat hingga tak di sadari Kouki, dan menodongkannya ke kepala remaja tanggung itu. Otomatis, sentuhan intim itu terputus, menyisakan jejak saliva tipis di sudut bibir Kouki—dan Seijuuro juga.
"Kau punya satu menit, Kouki."
Apa?
"—jadi milikku atau mati."
Dia bilang apa?
Pistol dengan garis silver mengilap itu masih di todongkan padanya. Pelatuk hampir di tekan. Ia sedang berpikir di sini.
/
/
/
A/N: Maaf. Saya lama update apa gimana? Saya sibuk UPRAK sih. Heuheu. Tapi RP on terus kok. /gaadayangnanya Kalau alurnya kecepetan, atau ada apa-apa(?) yang mengganjal, bilang aja. Asal jangan flame saya terima dengan suka cita(?) Jadi... RnR? :)
