Chapter 3:

"Hei..." teman ikalnya itu mendadak terdiam, membiarkan es krim yang mulai meleleh di tangan terlepas darinya. Terlepas dan jatuh. Es yang cair itu mengotori lantai, membuatnya mengernyitkan dahi. Ia tak menyukai kotor.

"Astaga! Kau tak seharusnya membuangnya seperti itu! Jika kau sudah kenyang, mengapa tak berikan saja padaku? Lantainya jadi kotor begini, kan?" Omel bocah yang lebih pendek, sembari menarik selembar tissu dari kotak.

"Ini rumahku, lagipula." Balas anak yang lain, nampak tak peduli sekalipun kawannya kembali menghadiahinya tatapan tak senang. Ia tahu kok kawannya ini sangat menjunjung tinggi yang namanya 'kebersihan' dan untuk 'tidak membuang-buang makanan'—ia juga, omong-omong. Namun mengenai 'tidak membuang-buang makanan' itu... tidak terlalu penting kan, ya? –oops! Ini hanya pemikirannya pribadi.

"Mentang-mentang," berjongkok, ia mulai menyeka es yang mencair di lantai. Dalam hati, masih tak menyenangi kearoganan si ikal. Apa-apaan—maksudnya, apakah dia tak memikirkan jika ia mungkin masih lapar dan lebih memerlukan es krim itu? Ia sungguh benci membuang-buang makanan, berhubung makanan di ibaratkan bagai bentuk dari sebuah kehidupan dalam sudut pandang keluarganya, dan sekarang temannya melakukan hal yang oh-jangan-di-bahas-di-depannya. Kurang menyebalkan apa, coba? "Lagipula, ini pertama kalinya kau makan es kan?" Ia bangkit, meremas lembaran tissu yang agak basah kemudian menyimpannya di saku.

Heran... masa rumah sebesar ini tak memiliki cukup tong sampah?

Mendudukan diri di sofa, baru kemudian memberi jawaban berupa angguk. "Lebih tepatnya, es krim yang murahan." Katanya, mengoreksi. Bukan tidak sengaja ia mengubah nada menjadi lebih sarkastik, ia hanya suka melihat temannya marah, dan memberinya delik lucu itu. Entah mengapa.

"Oke oke, terserah!" Sesuai dugaannya, sang bocah menggembungkan pipi, lalu mengikutinya duduk di sofa. Sofa di rumah temannya ini sungguh jauh berbeda di bandingkan dengan sofa di rumahnya. Eh... sebentar deh. Ia—baru—ingat sofa tuanya sudah di jual. Perekonomian keluarganya memang tidaklah baik, semenjak ibunya terserang kanker payudara dan kakak tertuanya kabur dari rumah dengan... dengan kekasihnya. Kekasih kakaknya itu pria yang kaya (bayangkan saja pria itu memarkir mobil Porsche Panamera S platina yang masih baru—dan belum banyak beredar di negaranya—tepat di depan pintu garasinya?!) dan baik, mungkin. Ia sering melihat sang kakak yang pulang dari serangkaian kencan berkelas mereka membawa beberapa kantong penuh barang belanjaan.

Ia pernah bersikap nakal dan mengintip sekali. Di dalamnya ada begitu banyak pakaian. Dan sepatu. Dan parfum. Dan bahkan sejumlah uang yang di selip dalam salah satu pakaian bermerk ternama macam Cazzia, Noof, dan sekawanannya. Kadang, kekasih kakaknya itu datang hanya sekedar untuk bertemu dengannya. Ia tak terlalu menyukai cara bicara pria bersurai keabuan itu. Aksennya lebih terdengar kebarat-baratan, dan cara ia memanggil namanya... 'Kyoki' lebih terdengar seperti ia memanggil orang lain. Selain itu sebenarnya tak ada lagi yang ia tahu tentangnya.

Kakaknya sangat mencintai kekasihnya, dan begitu juga sebaliknya. Itulah yang Kouki kecil lihat. Ia menyenangi fakta itu sebenarnya. Kakaknya yang selalu diam dan tak banyak bicara, bisa menjadi sedikit lebih terbuka saat topik berubah haluan—membicarakan sang kekasih.

Kouki menyayangi kakaknya.

Maka dari itu ia memberi kode setuju—dengan sering menggoda orang yang bersangkutan.

Tentu itu semua tak kan jadi masalah dan berakhir bahagia bilamana sang kakak adalah seorang gadis. Namun, apa daya. Kakaknya adalah pemuda tulen berusia pertengahan dua puluh, dengan tampang tak terlalu tampan—namun 'cantik' dan bersurai sama sepertinya, kecoklatan muda. Itulah penyebab kakaknya sering bertengkar dengan kedua orangtua mereka, beradu pendapat, tak mau mengalah dan lebih mementingkan ego pribadi. Pernah sekali ayah memberi pukulan telak di wajah kakak. Kouki—yang sewaktu itu—mengintip melalui lubang kunci, tidak dapat berbuat apa-apa ketika caci dan maki terlontar dari mulut ayah, di tujukan khusus untuk sulung Furihata.

Anehnya, Kouki tak menemukan kakak menangis setelah kejadian itu. Ia tetap sama. Hanya kembali tampil dalam pribadi lamanya. Pendiam, tertutup, tak pernah membuka mulut untuk bicara—kecuali jika itu benar-benar penting.

Singkat cerita, kakak memutuskan untuk meninggalkan rumah, tanpa membawa apapun. Malam sebelum pergi, ia sempat mendatangi kamar Kouki. Tanpa ada kata-kata yang mengiringi kepergiannya, hanya senyum tulus dari sang adik. Kabar terakhir yang di dapatnya adalah kakak dan kekasihnya menikah di... Italia? Lalu mengambil perjalanan panjang ke Belanda sebagai bulan madu. Nah, wajah Kouki mulai memerah saat membayangkannya.

("M-Maksudnya... cowok dan cowok, l-lho?")

Ah, sudahlah.

"Jadi, kita mau apa sekarang?" Adalah pertanyaan yang di ajukan Kouki sembari mengayunkan kedua kaki. Siang tadi, setelah pulang dari sekolah, ia sebenarnya berniat untuk membantu ayah membuat kue. Namun si ikal ini malah menyeretnya ke 'istana' berkedok rumahnya. Ia bosan, katanya. Butuh teman main.

'Dan Kouki selalu berakhir menjadi korban 'teman bermain' si ikal.'

Huft.

Sejam-dua jam lalu, mereka baru saja menyelesaikan permainan petak umpet dan... ("Uh, kuda tadi apa namanya? Ca—catur?") ya, itu. Mereka sering sekali memainkannya hingga sampai pada tahap di mana rasa bosan itu datang. Apalagi petak umpet itu. Kouki selalu memilih tempat persembunyian yang sama tiap bermain di rumah si ikal. Kalau tidak di balik gorden ya di dalam lemari. Klise?

"Kau habiskan saja dulu es-mu."

Menurut, Kouki menjilati es yang mulai meleleh itu dengan lebih cepat, tanpa menyadari si ikal mencuri pandang ke arahnya. Ia tak tahu lagi apa rasa dari benda cair dalam mulutnya ini. Awal tadi terasa bagai vanila, tapi sekarang... kok... tidak ada rasanya?

("Sudah kubilang, kan? Namanya juga murahan.")

Yah, mungkin, /sesekali/ ia harus setuju dengan temannya.

Setelah selesai dengan es-nya, Kouki—lagi-lagi—memilih untuk menyimpannya dalam saku. Selain karena alasan 'istana' ini pelit tong sampah, ia memang senang menyimpan benda-benda unik, sih. Doakan saja semoga saat besar nanti ia bisa jadi kolektor.

Si ikal memberikan tatap jijik. "Buang sana."

"Eeeh jangan!" Sedikit cemberut plus gelengan kepala ekspresif.

"...Dasar jorok."

"Kata orang yang bahkan hanya punya dua buah tong sampah dalam 'istana' lima lantainya." Brunette membalas. Entah sejak kapan ia bisa jadi senyolot ini.

"Tahu darimana?"

"Kan aku menghitungnya."

"Kurang kerjaan."

Kouki menghela napas, sambil masih mengayunkan kedua kaki telanjangnya. Ia menolak mengenakan sandal rumah kelincinya ketika berada dalam rumah kawannya ini, omong-omong. "Lagipula, siapa tahu aku menang undian berhadiah?" Mendapati temannya menaikan alis seakan tak mengerti, kekeh lembut sempat terdengar sebelum ia berinisiatif melanjutkan. "Biasanya ada kode-kode tertentu di stik es krim murahan. Kau mungkin tak tahu—karena kau terbiasa dengan yang mahal." Berniat menyindir—dalam konteks bercanda, akan tetapi yang di dapatinya malahan busungan dada dan raut bangga dari si ikal.

("A-Apa aku salah memilih kata—")

"Omong-omong, Kouki," si ikal beringsut mendekat. Dekat, dekat, dan dekat hingga kedua kening yang sama-sama tertutup poni itu hampir bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, brunette kita hampir terhanyut oleh merah membara dalam biner tajam temannya. Jika ia ingin menggambarkannya dalam bentuk puisi, mungkin kalimat di bawah ini akan cocok.

'Bagaikan terseret lautan merah lengket—seakan membelit tubuh dan tak dapat di lepas dalam cara apapun. Bagaikan terhanyut olehnya. Terhanyut dan menyesal sebab tak menyadari telah hanyut begitu jauh. Kemudian di tenggelamkan secara paksa.'

"...Ya?"

"Ayah dan Ibu akan pulang malam nanti."

"Bagus, kan?" Berhubung ia tahu kedua orangtua temannya ini begitu sibuk dan—terlalu—mementingkan kerjaan mereka.

"Apa bagusnya dari itu?"

"Eh? Bukannya kau menantikan kepulangan mereka?" Agak heran begitu di lihatnya si ikal sedikit menunduk. Biner merah berani itu nampak agak meredup tadi.

"Siapa bilang?"

"Aku yang bilang...?"

Lawan bicaranya sweatdrop.

Wajah Kouki masih menampakan kekhawatiran. Sedikit memiringkan kepala, berusaha menerka-nerka mengapa teman yang—menurutnya—tak punya hati itu bisa memperlihatkan ekspresi sedemikian terluka. Ia tak ingat si ikal pernah menceritakan padanya ia memiliki masalah dengan keluarganya atau apa.

('Ah... mungkinkah ia belum memercayaiku—hingga menyimpan semuanya sendiri?')

Dan Kouki kecil menjadi semakin khawatir.

"Ada apa dengan keluargamu?"

Si ikal hanya menggeleng, memberinya ekspresi datar—memasang kembali topeng. Pikirnya, Kouki mungkin tak akan mengerti banyak hal jika ia ceritakan. Ia butuh untuk menunggu Kouki tumbuh menjadi pribadi yang lebih kritis. Lebih kritis dan dewasa. Cukup dewasa sampai bisa mengerti mengenai masalahnya. Cukup bijak sampai bisa terus menemaninya, apapun yang terjadi.

"Hei..."

Kouki, yang memang masih memberi perhatian penuh pada si ikal, memberi senyum kecil. "Eh? Apa?"

"Kau tak akan pergi."

Menemukan si ikal mulai melantur seperti biasa, Kouki hanya bisa kembali di bingungkan oleh pemikiran-pemikirannya.

"Tapi ayah mungkin akan khawatir—"

"Kau akan terus di sini."

"Ap—"

"Kemudian kau akan mati ketika kuperintahkan untuk itu."

"H-Hei, henti—"

"Kouki... aku tak dapat mentolerir jika kau berani mati tanpa aku memberimu izin."

Meski Kouki masih berusia tak lebih dari tujuh tahun saat itu, tentulah ia mengerti dengan baik arti dari kata 'mati' yang di bawa-bawa sang sahabat dalam obrolan. Si ikal tak nampak bercanda. Ia serius, benar-benar serius hingga yang dapat terbaca dari matanya hanyalah kehampaan. Seakan ada pusaran yang berusaha mengisapnya melewati mata. Ia tak ingat pernah mendapati anak kaya ini bercanda, barang sedikitpun. Jadi pastilah ini juga serius.

Tetapi mati... tidakkah itu terlalu berlebihan?

Ia sendiri tak mengerti. Mengapa pembicaraan yang tadinya santai bisa melenceng /terlalu jauh/ menjadi sedemikian serius dan... gelap. Namun pada akhirnya, sekuat apapun Kouki menyangkal, ia tak bisa mengabaikannya. Ia tak bisa diam saja melihat sang teman sendirian. Sendirian dalam keputus asaan yang bahkan ia tak tahu apa.

Awalnya, Kouki hanya ingin membantu. Janganlah menganggapnya terlalu baik atau apa. Tanpanya memerlukan beribu alasan untuk tidak berlari dan menangis di dalam kamarnya. Cukup satu.

Ia tidak bisa meninggalkan temannya.

Dengan itu, di anggukan kepala dalam gerak ringan yang di sisi lain juga terlihat tegas—begitu mantap. Dalam nada yang penuh keyakinan, dalam sorot yang begitu tangguh, di ucapnnya.

"Aku akan mati di tanganmu."

Bersamaan dengan itu, senyum manis terukir di bibir kering temannya. Senyum manis yang terbentuk tanpa sadar, begitu lebar hingga sampai menyebabkan kedua biner kemerahan itu menyipit.

Setengah berbisik, "Terima kasih," di suarakan dengan keharuan yang tersirat.

/

Ia benci ini.

Dalam situasi terdesak, tanpa mengetahui sudah berapa detik terlalui dalam tegang nan senyap, di beri tatap tajam oleh pemuda rupawan di hadapannya. Ia ingin melarikan diri, menggunakan kakinya untuk berlari secepat mungkin. Kabur dari sini. Kemudian menceritakan segala duduk perkara pada polisi, setelahnya sang 'penculik'—jika ia memang sedang menjadi korban dari sebuah aksi penculikan—akan di tangkap. Setelahnya, Kouki akan di kembalikan pada kehidupannya.

Hidup normalnya yang tenang. Bersama Tetsuya. Mereka akan sama-sama belajar keras untuk ujian akhir nanti, tiap jam istirahat menyempatkan diri untuk ke perpustakaan, pulangnya mampir ke Maji Burger dan menikmati makanan di sana—jika beruntung, di traktir para senpai di klub. Atau... ia akan berusaha membuka diri pada kekasih Tetsuya, berusaha menjadikan gadis manis itu temannya. Pada akhirnya, mereka bertiga akan bersahabat. Dan tak akan ada lagi rasa canggung di saat ketiganya perlu untuk pergi bersama.

Semisalnya untuk membeli kostum pementasan drama beberapa bulan mendatang.

Ah...

Omong-omong soal drama, kelasnya akan memainkan Hamlet.

(Padahal menyebut nama sang tokoh utama saja Kouki tak bisa. Parah? Parah.)

Seijuuro, masih anteng dengan posisinya, menodongkan pistol pada korban yang—merasa—benar-benar innocent di sini. Beberapa detik sekali ia menyempatkan diri untuk melirik arloji. Tak perlu untuknya mengikat Kouki. Ia tahu pemuda chiwawa itu tak akan berani kabur darinya. Selangkah mundur, maka ia tak akan segan untuk menembak kedua kaki pemuda bersangkutan. Biar saja jika polisi datang ke mari lalu ia di tangkap. Ia tak mengkhawatirkan penjara, kok.

Toh ia akan selalu membawa Kouki bersamanya.

Pip.

Semenit.

"A—Ah...!" Kouki, yang merasa tak siap untuk memberi jawaban, mulai gelagapan. Gelagapan dan panik. Apalagi saat di lihatnya Seijuuro memicingkan mata tak sabaran. "S-Sei—tung—"

"Waktumu habis."

Bang.

Segera di rengkuhnya tubuh limbung itu, kemudian di dekatkannya wajah Kouki ke dada. Menghiraukan darah yang mulai merembesi kemeja kesayangan. Seijuuro menunduk, menyembunyikan ekspresinya dalam cahaya lampu pijar yang remang. Ia memang tak tertawa, tak juga pula menangis.

.

.

.

Ia terhenyak.

/

/

/

A/N: Heihoo~ saya datang kembali /shot

Bagian atas tadi itu flashback sebelum Kouki kenal Tetsuya dan mungkin di chap-chap berikutnya saya bakal banyak masukin flashback. Maaf jika ada yang berpikir saya terlihat seperti menelantarkan fic ini. Saya sibuk ujian btw. HUH UN KAMPRET /diam

Oke, karena saya sudah berjuang keras(?) menyelesaikan chap 3, boleh saya minta review sebagai imbalan? Lagipula semua review itu juga jadi motivasi tersendiri bagi saya. :]