Lesson

Naruto dan karakternya bukan milik saya :"


#2

Lesson 1

Ketika bel berdering, suasana ramai, hiruk pikuk karena anak-anak ribut keluar Hinata bukan salah satu dari mereka. Bukannya langsung keluar menyambut kebebasan setelah diikat di kelas terlalu lama, ia malah santai memperbaiki catatannya.

"Oh, ayolah Hinata!"

Tak ia pedulikan bujukan Kiba yang ingin segera menariknya ke kantin. Begitu melihat Hinata tak bergeming, Kiba beralih sasaran, membujuk tertawa kecil begitu mendengar Shino ikut menolak ikut Kiba.

"Baik baik, aku ikut," jawab Hinata seraya merapikan buku-bukunya.

"Yes! I love you, Hinata!" Kiba meninju lengannya di udara, sementara Shino memutar bola selalu begitu pada Hinata—tak segan-segan untuk memujinya atau membujukkan dengan kata-kata semanis madu, meskipun sepertinya Hinata sudah terbiasa.

"Aku juga ikut," sahut Shino, membuat Kiba mendelik.

"Kalau begitu kenapa tadi kau bilang tak mau?" dengus Kiba. Shino tak menjawab, hanya memimpin menuju koridor kantin yang diikuti Hinata. Kiba mengekor, masih menggerutu dan mendengus sendiri .

"Kau selalu begitu, Shino, hanya karena Hinata jawabannya secepat itu berubah," sahut Kiba lagi—tahu, kali ini Shino terpancing untuk bicara.

"Hm. Seperti kau tak begitu," jawab Shino justru Kiba yang terpancing , hanya bisa tersenyum kecil mendengar perdebatan kedua sahabatnya (yang sebenarnya di dominasi Kiba).Namun senyumnya pudar begitu melihat Sasuke, Naruto, dan Sakura dari ujung koridor, dengan arah berlawanan.

Bukan sekali dua kali ada kejadian seperti hampir setiap hari. Hinata selalu merasa bagai cermin, ketika Sasuke dan teman-temannya berpapasan dengan ia dan sahabatnya. Kiba yang selalu berbicara ditimpali sepatah dua patah kata dengan Shino dan Hinata yang diam dan mendengarkan, berpapasan dengan Naruto yang selalu berdebat dengan Sakura dan Sasuke yang diam tak peduli.

Hinata menemukan dirinya memandang Sasuke. Tumbuh bersamanya membuat Hinata tak sadar betapa berubahnya ia. Dulu, tinggi mereka sama dan masih sering terlihat senyum di wajahnya. Dulu, Sasuke adalah anak yang manja dengan ibunya dan sering dikerjai , dengan seragam berantakan dan kedua tangan berada di kantung celananya, Sasuke berubah menjadi dingin, pendiam, dan menakutkan.

Hinata bertanya-tanya, apakah dirinya juga berubah?

Matanya dan mata Sasuke detik berikutnya, Hinata membuang pandangan. Sasuke pun—Hinata yakin—mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mengetahui itu, Hinata merasakan nyeri di dadanya.


Gadis berambut gelap sebahu itu mengelus tengkuknya saat mendengar beberapa gadis seumurannya berbisik-bisik saat melewatinya. Sesekali, mereka menatapnya tajam, kadang tak malu untuk menunjuknya.

Hinata hanya bisa berdoa agar Neji dan Sasuke cepat keluar.

Gadis berumur 13 tahun itu berdiri di tepi koridor, di depan kelas kakak sepupu dan tetangganya. Bel istirahat sudah berbunyi dari tadi, namun kelas mereka belum keluar. Mungkin sedang ulangan.

Begitu pintu dibuka, Hinata mengadahkan wajahnya sumringah, "Sasuke-kun?"

Sasuke, keluar dari kelasnya seraya menguap, diikuti oleh Neji yang mendorongnya keras. Kakak sepupunya itu tersenyum, menyapanya, "Kau sudah lama menunggu, Hinata?"

Ia tersenyum, "Tak juga. Hari ini kita mau makan dimana?"

"Bagaimana kalau di atap lagi?" usul Neji. "Hei, Sasuke—"

Omongannya terhenti begitu menyadari ada seseorang gadis di depan Sasuke yang menunduk malu-malu, menawarkan bentonya. Kedua Hyuuga itu bertukar pandang. Akhir-akhir ini makin banyak yang mencegat Sasuke untuk memberikannya sesuatu. Namun ia hanya menolak mereka dingin. Beberapa kali Hinata telah menasehatinya untuk bersikap sopan pada cewek-cewek itu, namun ia hanya mengangkat dagu tak peduli.

"Aku sudah punya," potong Sasuke dingin. Ia menoleh pada Neji dan Hinata, menatap gadis Hyuuga di belakangnya, "Hinata, bentoku?"

Astaga, itu sangat tidak sopan! Namun Hinata tak berkutik dan hanya menyodorkan bento Sasuke yang dititipkan Mikoto-baasan padanya. Walaupun ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia bisa merasakan tatapan sakit gadis itu dan tatapan menusuk teman-temannya di balik dinding. Segera, ia mendekatkan diri pada Neji—yang membuat tatapan gadis-gadis itu semakin tajam dan mengerikan.

"Ayo, kita makan," ucap Sasuke. Hinata tahu, Sasuke menyadari tatapan gadis-gadis itu. Ia menghela napas lega. Setidaknya kini ada Neji dan Sasuke—ia tak perlu merasa takut sendiri lagi. Ia tertawa kecil mendengar protes Neji ketika tangan Sasuke bergerak melingkari lehernya, merangkulnya pergi menjauh.

Seketika, ia lupa akan gadis-gadis mengerikan itu.


Sasuke membiarkan tangannya menjelajahi kulit kepala dan rambutnya yang tumbuh makin benci tiap hari harus berpapasan dengan Hinata, lalu membuang muka. Ia benci melihat Hinata menghindarinya. Ia benci harus menahan diri untuk memanggil nama Hinata dan menarik tangannya menjauh dari teman-temannya itu. Mata gelapnya menatap layar ponselnya.

Disana, terbuka aplikasi e-mail dengan tujuan Hinata Hyuuga, namun subject dan isi pesannya masih kosong. Sasuke mendengus, merasakan betapa bodohnya ia, lalu kembali mengetik. Sebelum jempolnya menekan tombol 'OK' matanya dengan cepat meneliti isi pesannya, lalu seketika jempolnya berkhianat dan menekan tombol 'c' dan menghapus semua pesannya. Kesal karena hal itu sudah terjadi paling tidak 5 kali hari ini, Sasuke menutup ponselnya.

Amankah kalau ia dan Hinata pulang bersama? Seperti kemarin? Tidak, bahkan kemarin ada beberapa perempuan yang berbisik-bisik begitu ia dan Hinata lewat. Ataukah ia harus menyuruh Hinata ke suatu tempat, lalu baru ia jemput? Tidak, membuang tenaga. Haruskah ia menunggu Hinata di rumahnya? Tidak! Tujuannya adalah harus bersama Hinata sampai makan malam! Kesempatan itu sudah ada di depan mata, tak mungkin ia sia-siakan!

Sasuke mengambil lagi ponselnya, membuka aplikasi e-mail dan kembali menulis kontak Hinata Hyuuga. Namun ia kembali terdiam begitu menyadari Naruto dan Sakura memandangnya takut-takut.

"Sa-Sasuke? Kau yakin kau baik-baik saja?"

Seketika Sasuke menutup ponselnya, memasukkannya ke kantung, kesal. Ah sial!


Sore itu, kedua remaja berumur 14 tahun itu berjalan pulang bersama, seperti biasa. Tanpa Neji. Sesuatu yang sangat Sasuke syukuri. Sasuke lebih menikmati jalan kaki bersama Hinata yang pendiam dan menikmati pemandangan jalan daripada dengan Neji yang selalu mengkritik tiap inci gerakannya.

Gadis disampingnya itu sedang men-scroll ponselnya, geli sendiri. Sasuke memandanginya, tanpa sadar, kepalanya bergerak mendekati gadis itu.

Sadar Sasuke terganggu, Hinata mengadahkan kepalanya, tersenyum. Ia menatap teman sepermainannya itu, tahu Sasuke penasaran apa yang membuatnya asik sendiri.

"Temanku tadi ada yang meminjam ponselku dan bertanya, apakah aku pacaran denganmu," katanya, masih tertawa geli.

Sasuke mengerutkan alisnya. Tak sedikit yang menyangka keduanya berpacaran. Sasuke sendiri sebetulnya tak peduli, namun sejujurnya, ia cukup senang dengan sangkaan orang-orang. Hinata memang miliknya. Buktinya, tak ada yang mengira Hinata pacar Neji—tapi tentu saja karena keduanya sama-sama Hyuuga.

"Karena ia melihat inbox-ku," lanjut Hinata. Barulah remaja disebelahnya itu menoleh sepenuhnya. Bagaimana bisa gadis itu tertawa karena seseorang membuka-buka privasinya?

"Semua e-mail yang masuk adalah namamu, Sasuke-kun," jelasnya seraya melirik Sasuke.

"Apa inbox seseorang selalu dipenuhi email pacarnya?" dengus Sasuke. "Lagipula memang kenapa kalau aku mengirimi e-mail tiap hari?"

Hinata hanya tertawa, memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Benar, tak ada salahnya. Lagipula akan aneh kalau Sasuke-kun tak mengirimiku e-mail."

Sasuke hanya terdiam mendengarnya, tak menjawab lagi. Namun tak lama, ponselnya bergetar. Tangannya meraih ponsel. Ada satu e-mail masuk dari ibunya yang otomatis segera ia hapus setelah membalas. Dan seketika, Sasuke tersadar.

Semua e-mail dan pesan masuk akan ia hapus setelah ia balas, kecuali dari Hinata.

Ia lirik gadis disebelahnya yang sibuk mengamati toko di sebrang jalan. Seringai tipis tercipta di wajahnya. Ia raih tangan gadis itu dan menggenggamnya.

"S-Sasuke-kun?" gadis itu menoleh kaget, mendongak ke arahnya.

"Cepat, Ibuku sudah cerewet," dengusnya. Alih-alih melepas tangannya, ia justru menarik gadis itu mendekat, mempercepat jalannya.

"Ha-hai'!"

Dan tangannya, tak ia lepas lagi hingga depan pintu pagar.


To: Sasuke Uchiha

From: Hinata Hyuuga

Sasuke, bisakah kita mulai pelajarannya hari ini? Aku baru saja diberitahu bahwa Kurenai-sensei memberi kesempatan untuk mengulangi praktik

Sasuke membaca kembali e-mail dari Hinata, entah sudah keberapa kalinya. Ia tak memperdulikan siswa-siswi yang mendahuluinya keluar kelas. Ia tetap duduk tegak di bangkunya, hingga yang tersisanya hanyalah ia, Naruto dan Sakura. Tak seperti Sasuke, kedua sahabatnya itu sudah setengah jalan menuju pintu saat melihat Sasuke masih duduk tenang.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke-kun?" tanya Sakura, sikunya menyenggol Naruto. Takut-takut, ia bertanya, "Apakah kau... baik-baik saja?"

"Dari tadi kau hanya melihat ponselmu. Ada apa sih?" Naruto memanjangkan lehernya, berusaha mengetahui apa yang terpampang di layar ponsel itu. Dengan cepat, Sasuke menutupnya.

"Ayo pulang," ucapnya tenang. Dengan cepat, ia berjalan melewati kedua sahabatnya itu, mendahului mereka keluar kelas. Meninggalkan Sakura dan Naruto yang saling lirik bingung dengan kelakuannya sedari tadi.

Sasuke ingin menyeringai lebar-lebar, namun ia tahan keinginannya itu. Bisa heboh kalau salah satu fangirl melihatnya. Ia merogoh kantungnya, meraih ponselnya, dan membuka aplikasi e-mail yang sempat tertutup karena gangguan Naruto. Setelah membacanya sekali lagi, ia mengetik cepat.

To: Hinata Hyuuga

From: Sasuke Uchiha

Ok. Pulang sekolah, di rumahku.


"Lho? Hinata-chan?" Mikoto tertegun begitu melihat Hinata berdiri di depan rumahnya, masih berseragam dan membawa tas sekolah. "Mana Sasuke?"

"Eh? Sasuke belum pulang?" Hianta menelengkan kepalanya, bingung.

"Tadaima," suara datar itu membuat Hinata menoleh. Sasuke berdiri di belakangnya, menutup pintu malas, rambutnya acak-acakan, tampak kacau.

"Ah, itu dia. Kalian mau belajar bersama kan? Silahkan masuk ke kamar Sasuke saja, Hinata-chan, aku akan membuat snack dan minuman."

"Ah, tak perlu repot-repot," sahut Hinata lemah yang segera ditinggal Mikoto. Ia tersenyum kecut, melihat usahanya gagal. Bahkan sepertinya Mikoto tak mendengarnya sama sekali.

"Kata Hinata tak perlu repot-repot, Kaa-san! Biar nanti dia ambil sendiri," teriak Sasuke dari belakangnya, masih sibuk melepas sepatunya.

"Argatou, Sasuke-kun," ucap Hinata yang hanya dibalas 'hn' oleh Sasuke. Ia berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya yang diikuti Hinata.

"Itu adalah pelajaran pertamamu; berbicara lebih keras," ucap Sasuke begitu mereka sampai kamarnya, membuat Hinata mengangguk kecil. Gadis itu menempatkan dirinya di kursi belajar Sasuke, mengingat-ingat sudah berapa lama ia memasuki kamar ini. Terakhir mungkin 2 tahun yang lalu, saat Hinata meminjam buku. Biasanya paling Hinata hanya sampai depan pintu kamar untuk memanggil Sasuke makan seperti malam kemarin.

Ia membiarkan Sasuke pergi meninggalkannya sendiri di kamar. Ia menatap sekeliling kamar. Rapi dan bersih. Seakan-akan kamar ini adalah kamar hotel yang baru dibersihkan. Tak ada tanda-tanda orang pernah tidur di atas kasur itu atau tanda-tanda orang duduk di kursi dan belajar di meja belajar. Kamar itu simple, dengan satu kasur dan meja belajar di sebelanya, juga satu lemari di seberang. Tak banyak yang berubah dari kamar ini. Hinata masih bisa mencium wangi sabun yang Sasuke pakai sejak kecil dulu, hanya saja kini memudar.

Gadis itu menoleh begitu Sasuke masuk, membawa handycam dan tripod di seragamnya sudah berganti kaus dan celana selutut. Ia duduk di atas kasur, sibuk menyalakan handycam dan mengatur tripodnya.

"A-ano… itu untuk apa, Sasuke-kun?" tanya Hinata. Bukankah mereka mau berlatih public speaking?

Tanpa bicara, Sasuke bangkit dan mendekati meja belajar di depan Hinata. Tangan kirinya di sebelah kiri Hinata, seolah menahan dan mengurungnya, sementara tangan kanannya membuka laci meja belajar di sebelah kanan HInata. Gadis itu menegang begitu merasakan napas Sasuke berhembus di lehernya.

"Ah, ini," Ia meletakkan beberapa lembar print-out sebuah naskah pidato. Tetap di posisi yang sama, Sasuke menjelaskan sesuatu, namun Hinata tak mengerti apa. Otaknya sulit berkonsentrasi dengan apa yang Sasuke jelaskan karena suaranya yang sangat dekat di telinga dan hidungnya yang hampir bersentuhan dengan telinganya.

"Hinata? Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, menjulurkan wajahnya, menatap Hinata dari samping, membuat Hinata otomatis menjauhkan kepalanya. Ia berhasil membiarkan beberapa kata sanggupan keluar dari mulutnya dan berusaha berkonsentrasi pada naskah di depannya.

"Wajahmu memerah, kau tahu?" sahut Sasuke lagi, masih dalam posisi yang sama. Hinata memejamkan matanya, takut bergerak sedikit lagi dan kedua kepala mereka beradu.

Ia bisa mendengar dengusan geli Sasuke dan merasakan tubuh Sasuke menjauh, "Baiklah kalau begitu."

Gadis itu membiarkan detak jantungnya normal kembali sebelum menoleh pada Sasuke yang sibuk pada tripodnya. Ternyata Sasuke juga sedang menatapnya, plus seringai di Hinata kembali memerah. Sasuke mengerjainya!

Ia tahu Sasuke suka melihat wajahnya yang memerah. Dulu ia sering menggodanya hingga Hinata kabur dan menyembunyikan wajahnya. Lagi-lagi Hinata bertanya-tanya, kapan terakhir ia melakukan hal itu? Rasanya dulu sering sekali Sasuke mengisenginya seperti Itachi dan Neji menjahilinya.

Hinata membuang muka kesal, menarik naskah ke dalam genggamannya, pura-pura membaca ketika Sasuke menawarkan untuk menjelaskan ulang apa maksudnya. Hinata menggeleng, masih kesal walaupun ada sedikit rasa geli yang hangat di perutnya. Detik berikutnya, ia menyadari bahwa ia merindukan saat-saat Sasuke menggodanya. Bodoh sekali.

"Jadi yang kujelaskan tadi, kau menghapalkan naskah itu, lalu kalau kau sudah siap, berdiri di depan kamera ini dan berpidatolah," ucap Sasuke santai, mengerti sekali kalau Hinata sebenarnya tadi tak mendengarkan. "Itu teks pidato yang kupakai saat praktik kemarin. Aku ingin lihat bagaimana kau berpidato—kita akan lihat betapa buruknya public speaking-mu lewat kamera ini."

Kepala Hinata susunya membulat, menatap Sasuke di depannya malah menatapnya tenang—bahkan ada sedikit mimik 'jahil' di wajahnya.

"A-a-a-aku—"

"Tanpa gagap."

"Ta-ta-t-ta-tapi—"

"Kalau kau gagap, akan kuhukum."

Bahkan kini bahu Hinata menegak, "Di-d-dihukum?"

Sasuke menaikkan kedua alisnya, menantang.

"D-d-di-dihukum a-a-apa?"Cengkraman Hinata pada kursi belajarnya menguat.

Sasuke berpikir sejenak."Kau membuatkan bekal?"

"Ti-tidak b-bisa! Ba-ba-bagaimana jika…."

Hinata terdiam, ia juga tahu kalau Sasuke merutuk dalam hati. Ia tahu betul Sasuke tak tahan dengan keadaan ini.

"Sudahlah, hapalkan saja. Kutunggu setengah jam lagi," sahut Sasuke cepat, akhirnya. Namun perkataannya justru membuat Hinata berkeringat dingin.

"Se-setengah jam?"

Sasuke memandang jam dinding kamarnya yang tepat jarum panjangnnya berada di angka 12, "Sekarang!"

Panik, Hinata membolak-balik naskah dan membacanya dengan Sasuke membiarkan seringai geli kembali menghiasi wajahnya. Ia mengambil kembali hadycam yang sudah terpasang di tripod, dan mulai mengutak-atiknya sambil bersandar di kasur. Sesekali, matanya melirik Hinata yang sibuk membaca dengan alis berkerut. Hmp, serius sekali. Ide jahil langsung muncul di kepala Sasuke.

"Hinata."

Gadis berambut gelap itu menoleh dari kesibukannya menghapal naskah demi mendengar bunyi shutter terdengar. Sasuke menilai gambar yang ia ambil dengan wajah aslinya. Di foto, gadis itu menoleh, inosen, tanpa curiga sekarang, mata gadis itu melebar dan mulutnya membulat, alisnya terangkat, membeku.

Sasuke tertawa dalam hati, mensyukuri reaksi Hinata yang lama, lalu menekan shutter sekali lagi, menangkap wajah kaget Hinata. Begitu gadis itu sadar, Matanya mengerjap-ngerjap, mulutnya masih membulat.

"S-S-Sa-Sasukeee!" serunya tertahan, mengingat Mikoto bisa saja menghambur keatas kalau Hinata menggapai-gapai kamera di tangan Sasuke—yang sengaja dijauhkan dari jangkauannya.

"Hei, ingat waktu, ingat waktu," ucap Sasuke mengingatkan, membuat Hinata manyun sebentar lalu kembali berkonsentrasi pada membiarkan seringai terpasang di wajahnya saat melihat hasil bidikannya.

Setelah setengah jam terdiam dan membiarkan Hinata berkonsentrasi dengan naskahnya, Sasuke bangkit, mengunci Hinata dengan tangannya, lalu merebut naskah di hadapan Hinata.

"E-eh…," Hinata mengadah, kaget tiba-tiba naskah di tangannya memerah begitu menyadari wajahnya dan Sasuke sangat Uchiha itu sudah keberapa kali seringai terpasang di wajahnya hanya karena senang melihat wajah Hinata yang memerah malu. Ia senang melihat Hinata gugup, tergagap dan membeku. Ia senang melihat reaksi Hinata yang lucu. Mungkin ia harus berterimakasih pada Hiashi Hyuuga setelah ini, karena berkat ketegasannya, Hinata mau bersusah payah belajar dengan Sasuke.

"Sudah setengah jam," ucap Sasuke datar, menarik kursi putar yang di duduki Hinata hingga berada di depan handycam yang sudah terpasang di atas tripod. Hinata memekik kecil begitu kursinya ditarik tiba-tiba, wajahnya bertanya-tanya.

"Sa-Sasuke-kun?" panggilnya begitu Sasuke duduk di atas kasur, tepat di belakang Sasuke mengerut mendengar namanya disebut.

"Kau ," ucap Sasuke, menulis angka satu di naskah pidato yang dibaca Hinata tadi.

"Sasuke!" keluh Hinata pelan, namun langsung pucat begitu Sasuke memotongnya.

"Atau kau mau aku mengajakmu ke taman yang banyak orang dan berpidato disana?"

Hinata menggeleng cepat, buru-buru bersiap mendengar ancaman Sasuke. Ia tak menyadari Sasuke kembali menampakkan seringai kecilnya. Oh, ini bakal seru.


Pintu terbuka pelan, menyisakan jarak sedikit antara daun pintu dan dinding. Mata putih Hinata mengintip di sela-sela itu, mengawasi isi kamar Sasuke. Kamarnya, tak ada yang berubah. Hanya saja ada Sasuke yang masih tidur, membuatnya sangat pelan-pelan membuka pintu.

Sebenarnya ia memilih untuk menunggu sampai Sasuke bangun. Tapi Itachi dan Mikoto dengan semangat menyuruhnya langsung menuju kamar Sasuke sekalian membangunkannya kalau perlu. Tentu saja Hinata tak bisa menolak walaupun jelas-jelas ia ragu bagaimana cara membangunkan Sasuke. Seharusnya mudah, karena Sasuke sensitif dengan suara-suara ribut. Saat mereka kemping waktu umur 10 tahun dulu, Sasuke paling duluan bangun atau malah tak bisa tidur sama sekali karena suara jangkrik.

Alih-alih membuat keributan agar Sasuke bangun, Hinata malah sebisa mungkin tak bersuara. Ia tahu kemarin Sasuke baru berlatih kendo dengan Neji dan pasti sangat kelelahan. Jadi pelan-pelan, ia masuk, meneliti tumpukan buku Sasuke, mencari judul buku yang ia butuhkan.

Buku yang ia butuhkan, ternyata berada di deretan paling ujung, pojsok lemari. Ia gapai buku itu, namun untuk anak berusia 14 tahun, ia termasuk agak pendek. Lagipula ada tempat sampah kering yang mengganggunya. Bukannya menggeser tempat sampah tersebut, ia justru menyenggolnya, membuat isinyakertas-kertas, amplop, dan bekas rautanberserakan keluar.

Hinata menahan napas, melirik Sasuke takut-takut. Tapi teman sepermainannya itu tak terbangun, hanya berguling. Gadis itu segera menghela napas lega dan buru-buru membereskan sampah-sampah yang berserakan. Namun alisnya berkerut begitu melihat sebagian besar amplop dan kertas-kertas itu berwarna pink. Ya, pink! Pikirannya langsung melayang, seandainya Neji bersamanya, melihat hal ini. Pasti sepupunya itu langsung meledek Sasuke habis-habisan.

Penasaran, ia membolak-balik amplop yang terkunci itu. Hinata bisa meraba di dalamnya masih ada surat, tapi Sasuke membuangnya begitu saja tanpa membuka amplopnya. Mengapa Sasuke membuang amplop yang ia kirim?

Tapi ternyata ia salah. Amplop itu dikirim untuk Sasuke. Dan matanya membulat begitu melihat siapa pengirimnya.

"Itu surat cinta."

Hinata mendongak kaget, melihat Sasuke sudah duduk sila di atas kasurnya. Ia masih menguap sambil mengacak-acak rambutnya yang makin berantakan, tapi tak tampak kaget melihat Hinata yang berjongkok di lantai kamarnya.

"Ini semua...?"

Sasuke mengangguk, ada sedikit bangga namun juga kesal di matanya. Hinata sendiri bingung kenapa kombinasi itu dari semua perasaan.

"Tapi," Hinata merubah posisi duduknya menjadi sila, "ini dari Karin!"

"Lalu?"

"Di-dia kan cewek tercantik di sekolah!"

Sasuke bangkit, malas-malasan. "Biasa saja," ia berjalan menuju Hinata dan mengambil buku incaran gadis itu tanpa susah payah. Ia tepuk kepala Hinata dengan buku itu.

"Terima kasih," ucap Hinata, ketika matanya menemukan surat yang lain. "Kau juga menolak yang ini? Haruno Sakura? Yang paling cantik di sekolah putri terkenal itu?"

Sasuke mencibir pelan, "Baik Karin dan Sakura tak secantik itu, Hinata."

Mata putihnya terbuka lebar, tak percaya, "Tapi, tapi, mereka sangat cantik... Aku iri," kepalanya menunduk. Namun detik berikutnya, ia kembali mendongak, menatap Sasuke dengan tatapan-aku-tahu. Sementara Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Kau menolak Sakura karena tahu Uzumaki-san menyukainya kan?"

Mau tak mau, Sasuke terbatuk. "Apa?"

"Walaupun sebenarnya kau sering bertengkar dengan Uzumaki-san di klub kendo, kau sebenarnya ingin berteman dengannya kan?"

Mata hitam Sasuke berputar, kesal. Ia menghela napas. "Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja aku menerima Sakura dan langsung mencomblangkanmu dan Naruto?"

Saat wajah Hinata memerah seketika, Sasuke menunjukkan seringai kemenangannya. "Jangan kau pikir aku tak tahu, Hinata."

Gadis di depannya berbisik pelan, takut-takut, "Siapa saja yang tahu? Memangnya sejelas itu ya?"

Sebenarnya, kalau Sasuke mau jujur; ya, sangat jelas. Tapi melihat sinar takut-takut di mata putih itu, Sasuke hanya bisa menggeleng lemah, "Yah, paling Neji juga tahu. Maksudku, kami sudah bersamamu seumur hidup, bagaimana bisa kami tak tahu kalau kau naksir seseorang."

Hinata tersenyum kecil, mengangguk lega. Ia segera bangkit, dan mengekori Sasuke yang sudah menuju pintu duluan. Ketika ia sudah sibuk dengan pikirannya, Sasuke kembali berbicara, "Maaf ya Hinata, tapi aku terlalu egois untuk mencomblangkanmu dengan Naruto."

Langkah Hinata terhenti. Ia memanjangkan lehernya, berusaha melihat ekspresi Sasuke namun sia-sia. Teman sepermainannya itu sudah berjalan memunggunginya.

"Ya," balas Hinata, menyusul Sasuke. "Terima kasih, Sasuke."

Cukup dengan kalimat itu, Sasuke menghela napas lega. Hinata tak salah menangkap maksudnya. Gadis itu mungkin sudah sadar akan ke-overprotektif-an Sasuke dan Neji. Jadi Sasuke cukup menjawabnya dengan menggandeng tangan gadis di belakangnya menuju ruang makan, mengajaknya sarapan.


Betapa hebatnya hari ini.

Hampir seharian bersama Hinata, dari pulang sekolah sampai makan ada ibu atau saudaranya yang menganggu makan malamnya, Hinata, dan sendiri hari ini dalam mood baik karena ada Hinata yang membantunya menyiapkan makanan hingga tak banyak ini begitu sempurna hingga Sasuke melihat Hinata menawarkan diri menggantikan hukumannya.

Tercenung, ia menatap mata putih susu itu. Hinata masih mengulurkan tangannya, menunggu Sasuke memberikan kantung plastik hitam besar di tangannya.

"Sasuke-kun?" panggilnya, membuat Sasuke kembali ke kenapa, Sasuke tak ingin Hinata ?Bukankah itu sudah perjanjian? Tapi Sasuke merasakan tangannya berat, seakan-akan terbuat dari besi dan susah digerakkan.

"Sasuke," panggil ibunya dari dalam, "Kau sudah membuang sampah kan?"

Sasuke mendengus, tanpa sadar kantung plastik hitam besar itu telah hilang dari belakang terbuka, menyisakan Sasuke yang bengong sendirian.

Ah sial.

Seraya memakai jaket tipisnya, ia berlari keluar mengejar bayangan Hinata, "Hei, Hinata!"

Hinata menoleh melihat Sasuke berlari menyusuri halaman, mengejarnya. Begitu keduanya sejajar, ia merebut kantung hitam itu dari tangannya dan menyeretnya menatap Sasuke penuh tanya.

"S-Sasuke-kun?"

"Hn."

"Bu-bukankah… kita telah membuat perjanjian?"

"Hn."

"L-lalu kenapa kau tetap menjalankan hukumanmu?" tanya Hinata hati-hati, terus mengamati wajah Sasuke yang sulit dibaca. Kini, alis pemuda itu berkerut—tampaknya ia sendiri tak mengerti apa jawabannya.

"Aku—ukh, kau tetap menjalankan hanya menemanimu," jawabnya asal.

Kini, alis Hinata yang mengerut.

"Ma-maksudnya?"

Mereka sampai di depan tong sampah. Sasuke mengangkat dan melempar kantung hitam itu ke dalam tong, dan menepukkan menarik tangan Hinata, agar berbalik arah.

Gadis itu kebingungan, namun ia mencoba berpikir, menebak maksud Sasuke. Banyak perilaku Sasuke yang tidak dimengerti oleh sebagian orang, dan biasanya—dulu—ia sangat ahli membaca tingkah-laku Sasuke yang sering bikin bingung. Sambil berpikir, matanya tertumbuk pada rumahnya yang berada tepat di samping rumah Sasuke. Jendela belakang menyala, menunjukkan beberapa sosok bayangan yang ia kenal betul.

"Sasuke-kun?" panggil Hinata lagi.

"Hn."

"K-Kau—"

"Diamlah, Hinata. Lebih baik kau memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu karena telah berkali-kali gagap tadi," ucap Sasuke, mengenggam tangan Hinata, menariknya kembali ke terdiam, mengerti bahwa Sasuke cukup frustasi untuk menjawab pertanyannya kecil, Hinata menurut.

"Bagaimana jika kubuatkan bekal, seperti maumu?Akan kuberikan pagi-pagi sebelum berangkat sekolah," ucap Hinata.

Gadis itu tersenyum melihat Sasuke yang menoleh, mata gelapnya seakan bersinar dalam kegelapan malam, seakan penuh harap.

"Ide bagus Hinata."

Ia tertawa kecil. Tangannya beringsut memasuki celah antara jari-jari Sasuke dan menggenggamnya merindukan ini. Ia merindukan tangan Sasuke. Ia merindukan wangi sabun yang Sasuke pakai. Ia merindukan suara gesekan antara baju mereka. Ia merindukan tatapan Sasuke padanya, merindukan seringai Sasuke, merindukan sikap acuh tak acuh Sasuke.

Memikirkan hal itu, membuatnya tersenyum sendiri. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya. Dulu, ia, Sasuke, dan Neji suka kemping disini. Halaman belakang rumah Sasuke yang luas menjadi area bermain mereka. Mereka akan meminta Itachi menyalakan api unggun, lalu bertengkar saat mendirikan tenda, dan kembali ke rumah sekitar tengah malam karena ketakutan. Ingatan itu membuatnya tertawa sendiri hingga matanya bertemu Sasuke. Ia mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan. Hinata hanya menggeleng seraya tertawa kecil.

"Ti-tidak, sebenarnya tadi aku me-memanggilmu untuk memperingatkan," desah Hinata, membuat Sasuke menolehkan kepalanya cepat.

"Ka-karena ada bayangan Neji-niisan di jendela rumahku. Di-dia pasti kesal melihat ki-kita," jelas Hinata. "Ta-tapi aku jadi teringat waktu kita ke-kemping disini."

"Hn. Jadi sekarang kau takut pada Neji? Bukan pada hantu di atas pohon itu?" Sasuke menyeringai, mengangkat sebelah alisnya, puas melihat Hinata yang ternganga.

"Sa-Sasuke!" wajahnya memerah, mendorong Sasuke dengan bahunya sekuat tenaga. Keduanya jadi berjalan zig-zag karena Sasuke masih memegang tangan Hinata, membuat gadis itu ikut tertarik dorongannya sendiri.

"Apa? Kau mau menangis dan berlari ke seberang sana?" pancing Sasuke. "Merindukan Baa"

Kalimatnya terpotong karena Hinata sudah menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas, sementara tangannya yang lain berusaha melepaskan diri dari genggaman Sasuke. "Cu-cu-cukuup!"

Yep, sangat cukup untuk Sasuke. Best day indeed.


Alkisah saat mereka semua berumur 10 tahun, tiga sekawan itu berniat untuk kemping. Namun karena orang tua mereka sangat protektif, mereka hanya diijinkan kemping di belakang rumahkali ini, rumahnya Sasuke. Jadi dari sore, ketiganya sudah ribut-ribut menarik Itachi untuk membuatkan api unggun, sementara mereka mendirikan tenda. Walaupun ujung-ujungnya, mereka dibantu Itachi, mereka cukup bangga dengan hasil kerja mereka.

Lalu, ketika matahari terbenam, mereka kembali masuk ke rumah Sasuke, untuk makan malam, sebelum kembali kemping di luar. Awalnya mereka bersikeras untuk memasak sendiri. Namun setelah terdengar bunyi ledakan kecil dan bau asap gosong, para orang tua membujuk mereka untuk makan malam di rumah.

Dan ketiga sekawan itu cepat-cepat menghabiskan makanannya agar bisa kembali ke alam terbuka dan tidur di bawah bintang-bintang. Mereka sangat bersemangat, hingga berlari sampai ke kemah. Mereka telah menyiapkan senter, makanan ringan, dan juga sleeping bag.

Namun ketika ketiganya telah masuk kemah, mereka terdiam, kebingungan.

"La-lalu, apa yang kita lakukan?" tanya Hinata, menatap Neji dan Sasuke bingung.

"Tidur?" usul Neji yang langsung dibalas dengan dengusan Sasuke.

"Kata Aniki, kalau berkemah, belum seru kalau belum cerita seram," kata Sasuke. "Bagaimana kalau kita gantian bercerita seram?"

Neji mengangguk setuju, sementara Hinata menggeleng ketakutan. "Bagaimana kalau hantu yang kita ceritakan marah?"

"Mengapa mereka harus marah? Kita kan hanya menceritakan mereka," ujar Sasuke beralasan.

"Benar," tambah Neji. "Lagipula, kita kan sudah besar, makanya kita harus berani berkemah sendiri."

"Tapi, tapi..."

"Tenang, Hinata, hantu itu tak ada," tegas Neji. "Tak perlu takut, ada aku dan Sasuke disini. Walaupun dia tak bisa diharapkan."

Detik berikutnya, Sasuke sudah melempar popcorn pada Neji yang disertai protes keras. "Sudah, mulai saja ceritanya!"

Sasuke mendengus. Ia memasang senter di bawah wajahnya, agar tampak seramseperti yang Itachi lakukan waktu menceritakan hal ini. "Jadi... Kalian tahu pohon di pekarangan rumahku kan?"

Mata putih Hinata membulat, "Maksudmu... Maksudmu... Yang di belakang kemah kita ini?"

Sasuke mengangguk. "Dulu, sebelum rumah dan kompleks ini dibangun, pohon ini sudah ada. Makanya pohon ini sangat besar. Dari dulu, orang-orang sekitar percaya, pohon ini adalah pohon yang dihuni oleh youkai. Karena dulu, kompleks ini adalah rawa-rawa yang gelap dan mengerikan, tapi pohon ini hidup tidak pada tempatnya."

"Maksudnya...?"

"Maksudnya, pohon sejenis ini tidak biasa tumbuh di rawa-rawa, makanya penduduk sekitar menganggap ini pohon keramat," jelas Neji. Matanya lalu kembali melirik Sasuke, menyuruhnya untuk melanjutkan.

"Jadi," mata hitam Sasuke melirik Hinata di kanannya lalu, Neji di kirinya, secara bergantian, memberikan efek menegangkan, "semua orang tak ada yang berani lewat sini. Hingga suatu saat, di desa terdekat, seorang ibu kehilangan anak yang ia sayangi. Konon anak itu sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya, lalu hilang, tak lagi ditemukan. Semenjak saat itu, penduduk melihat sosok anak dibalik semak-semak dekat rawa-rawa ini atau anak kecil yang berlarian sambil menghitung. Sang Ibu depresi, karena anak itu adalah anak semata wayangnya"

"Semata wayang?"

Neji mendelik pada Hinata, merasa terganggu, "Maksudnya anak satu-satunya."

Sasuke menghela napas, lalu kembali melanjutkan, "Namun tiba-tiba...!"

Hinata terkesiap, menutup mulutnya, kaget dan sontak merapat pada Neji dan Sasuke. Sementara Neji sempat melompat kaget, melotot pada Sasuke. Sasuke sendiri menyeringai, senang bisa membuat teman-temannya ketakutan.

"Namun tiba-tiba," ulang Sasuke agak berbisik, ia dekatkan kepalanya pada Neji dan Hinata, membuat kedua sepupu itu ikut mendekatkan kepala mereka, "Ibu itu juga ikut menghilang entah dimana."

Hinata menahan napas. Neji penasaran.

"Tak lama kemudian, seseorang datang untuk merubah rawa-rawa mengerikan ini menjadi kompleks perumahan mewah. Orang itu sangat berani, meskipun warga sudah berkata agar jangan mendekati rawa-rawa. Orang itu memerintahkan pekerjanya untuk membabat habis rawa-rawa mengerikan itu... dan menemukan..."

Tangan Hinata mencengkram Neji erat-erat, sementara Neji makin mendekatkan kepala agar cerita Sasukeyang sengaja dibuat bisik-bisikterdengar.

"Mayat seorang wanita paruh baya gantung diri di pohon keramat itu," tiba-tiba Sasuke mengencangkan suaranya, membuat Hinata memekik pelan.

"Sssh, diam Hinata," ucap Neji sambil mengelus dada. Yah, bagaimana tidak, Sasuke berbicara keras di telinganya.

"Oh tidak, tidak, jangan menangis Hinata."

Mata gadis mungil di depan mereka mulai berkaca-kaca, tangannya menggenggam baju Neji dan Sasuke. Ia susah payah menahan tangis, mengingat umurnya yang sudah 10 tahun. Sambil menahan napas agar air matanya tak keluar, ia berkata, "A-ayo ki-kita ti-ti-tidur saja!"

Tak mau mendengar tangisan Hinatayang pasti berujung pada orang tua yang khawatir lalu melarang mereka berkemah lagikedua anak laki-laki itu mengangguk. Sebenarnya, mereka masih penasaran dan ingin bercerita horor lebih banyak, tapi terlanjur tak tega pada Hinata. Jadi, sebagai kakak laki-laki yang baik, mereka membiarkan Hinata tidur diantara mereka.

Entah sudah berapa jam berlalu, Hinata gelisah. Ia berguling berkali-kali, hingga Neji mendengus kesal.

"Tidur, Hinata," bisiknya keras.

Hinata merengut, berusaha diam dan tidur. Tapi ia tak bisa. Di kepalanya terbayang seorang wanita pucat berambut panjang acak-acakan bergoyang-goyang di pohon di belakang mereka. Terbayang pula suara anak kecil bersembunyi di balik kemah mereka. Dan entah mengapa ia bisa mendengar suara anak kecil tertawa sambil menghitung. Tak terasa air mata mengalir menuruni pipinya. Setengah mati ia menahan diri agar tak terisak, namun makin lama makin sesak hingga akhirnya ia menangis juga. Merasakan punggung Hinata yang bergetar, Sasuke dan Neji menoleh.

"Hinata," desah keduanya. Betapapun cengengnya Hinata, gadis itu tetaplah adik yang mereka sayangi. Sasuke mengelus pundaknya karena tak mengerti bagaimana menghentikan tangisannya. Sementara Neji menepis tangan Sasuke kesal, lalu memeluk Hinata. Kini, giliran Sasuke manyun.

"Ayolah, Hinata, kita sudah besar kan," ucap Sasuke.

"Hiks, aku mau Kaa-chan," isak Hinata di pelukan Neji. Neji melirik Sasuke yang angkat bahu, menyerah.

"Baiklah, tapi Baa-san pasti sedang tidur," kata Neji. "Kita tidur disini saja, oke?"

Hinata menggeleng keras, "A-aku takut..."

Sasuke menghembuskan napasnya banyak-banyak, "Oke, Hinata, dengar. Itu cerita Itachi, dan kita semua tahu Itachi pembohong, benar?"

Neji mengangguk, mengetujui, tapi Hinata tetap terisak.

"A-aku mendengar suara anak kecil me-menghitung," dalihnya lagi. Kali ini, Neji dan Sasuke saling pandang, mulai memucat.

"Be-benarkah?"

Hinata mengangguk keras. "Ayo pulang!"

"Tapi..."

"Sasuke," panggil Neji. "Ayo pulang."

Sasuke menghela napas, walaupun sedikit lega. Ia sendiri tak bisa membayangkan jika melihat atau mendengar anak seumuran mereka berlari-lari sambil menghitung seolah-olah sedang main petak umpet. Jadi ketiganya bangkit, masing-masing menggandeng Hinata, dan membuka kemah mereka. Saat itu, ketiganya melihat sosok Nyonya Hyuuga yang baru saja keluar rumah. Dan begitu melihatnya, Hinata sudah tak peduli lagi, ia hanya ingin ada di pelukan ibunya. Jadi ia berlari, makin lama makin kencang, menuju rumahnya, menyebrangi halaman dan hampir melompati pagar. Dan Nyonya Hyuuga terkejut, namun menyambut Hinata juga. Ia melirik kedua anak laki-laki di belakang Hinata penuh tanda tanya.

"Uhm," Neji menggaruk tengkuknya. "Kalau begitu aku pulang dulu."

"Oh," Sasuke tak berani melihat pohon di belakangnya. Setengah mati ia tahan matanya tetap melihat rumahnya yang terang benderang. "Oke."

Dan keduanya lari terbirit-birit.


Begitu mereka memasuki rumah, Hinata melepaskan genggamannya, melesat menuju ruang makan menemui Mikoto-baasan agar Sasuke tak melihat wajahnya yang memerah. Begitu menemukan Nyonya Uchiha itu, ia pamit pulang dan berderap ke kamar Sasuke, diikuti Sasuke dari belakang.

Hari itu panjang berkali-kali gagap begitu melihat lensa. Setiap ia gagap, salah, atau lupa naskah, Sasuke akan mengulangnya dari awal. Ia letih dan capek, namun ia tahu ini baru permulaan. Pada akhirnya, saat Mikoto memanggil mereka, ia baru berhasil membaca setengah dari pidato itu tanpa gagap. Itu pun mukanya masih tegang dan badannya masih kaku.

"Sasuke-kun," panggilnya, menoleh ke belakang dan menemukan Sasuke memasuki kamarnya mengambil tas Hinata sebelum gadis itu sempat mengambilnya.

"Kuantar pulang," ucapnya pendek, diikuti anggukan melirik handycam yang masih bertengger di tripod. "Kau tak ingin melihat rekamanmu dulu?"

Hinata bersumpah dalam melihat mata jahil dan iseng Hanabi dan Itachi bersamaan di mata yakin, Sasuke pasti tak sabar melihat reaksinya sendiri dan videonya yang berpidato dengan kaku. Dengan wajah memerah malu, Hinata menggeleng hebat.

"Tidak, a-ayo pulang," ucapnya agak memohon begitu menyadari niat Sasuke untuk mengambil kamera itu.

"Tapi kau harus melihatnya untuk melihat kesalahanmu," balas Sasuke.

"K-kita bisa melakukan itu besok, aku lelah," Hinata mendorong punggung Sasuke menjauhi kamera.

"Hn. Kalau begitu biar kulihat sendiri saja nanti."

Matanya melebar, tangannya memukul punggung Sasuke pelan, "S-Sasuke!"

Sasuke terkekeh pelan, berbalik, memberikan Hinata jaketnya dan menarik gadis itu keluar kamarnya. Semua gerakan dan percakapan standar mereka seakan berputar ulang di otak Hinata, membuat gadis itu tak sadar ketika Sasuke memakaikan jaketnya dibalik seragam Hinata, tak sadar ketika tangannya di tuntun menuruni tangga, tak sadar ketika Sasuke berteriak pada ibunya—mengatakan akan mengantarkan Hinata.

Kapan terakhir ia mendengar Sasuke terkekeh seperti itu? Kapan terakhir kali Sasuke mengantarnya pulang? Kapan terakhir kali ia memukul Sasuke pelan karena candaan Sasuke? Kapan terakhir kali Sasuke meminjamkan jaketnya pada Hinata?

Hinata masih ingat dulu, ketika mereka kecil, Sasuke sering sekali terkekeh seperti itu jika wajahnya memerah malu. Dulu, setelah main, Sasuke pasti mengantarnya pulang sampai depan rumah. Dulu, kalau Hinata main ke rumah Sasuke, saat pulang, Sasuke pasti meminjamkan jaketnya dan mengantarnya seperti sekarang.

Hinata bahkan masih ingat, jaket Sasuke masih ada padanya, ada di lapisan baju-bajunya yang paling dalam.

Begitu gadis itu kembali ke bumi, ia sudah berada di depan rumah Sasuke, dengan tangan mereka saling bertautan seperti kecil dulu, dan jaketnya yang terlalu besar menenggelamkan tubuh mungilnya. Tangannya, juga selalu hangat dan sanggup mengenggam seluruh telapak tangannya.

Keduanya terdiam, berjalan beriringan sampai depan rumah Hinata. Sunyi adalah sahabat mereka berdua, dan keduanya tak pernah merasa canggung jika tak ada yang bicara. Hinata merasakan lagi perasaan itu, perasaan berat untuk melepas tangan Sasuke, seperti dulu mereka kecil karena ia masih ingin bermain.

Apakah itu berarti Hinata masih ingin bersama Sasuke?

Mungkin, karena sudah lama tak begini, ia jadi bernostalgia dan merasakan hal ini. Ia memandang Sasuke dengan senyum di wajahnya. Teman masa kecilnya itu menyerahkan tas Hinata dan mengetuk pintu rumah.

"Terima kasih, Sasuke-kun," kata Hinata, diikuti anggukan kepala oleh suara-suara ribut dari dalam, hingga akhirnya pintu terbuka oleh Neji yang menatap Sasuke keji.

"Sasuke Uchiha," desisnya.

"Hai," balas Sasuke santai."Malam Obaa-san," sapanya begitu melihat ibu Hinata di balik tubuh Neji."Aku hanya mengantarkan Hinata pulang setelah belajar bersama tadi, seperti biasa."

Dan Hinata tak lagi mendengar perdebatan Neji dan Sasuke ataupun godaan Hanabi.Seperti biasa tersenyum lebar. Ternyata Sasuke masih ingat. Ternyata bukan hanya ia yang merasakan itu. Ternyata Sasuke juga.

Begitu Sasuke memanggil namanya untuk pamit pulang disertai desisan pada Neji dan pamitan sopan kepada Ibu dan adiknya, Hinata membiarkan Sasuke melihat senyum lebarnya dan lambaian tangan—seperti yang ia lakukan dulu setelah Sasuke mengantarnya.

"Sampai jumpa besok pagi, Sasuke-kun," ucapnya dan pintu pun ditutup (dibanting) oleh Neji. Dalam sekejap, ia melupakan latihannya dengan Sasuke tadi dan merasakan moodnya naik beberapa persen. Ia tak tahu, Sasuke masih ada disana, tercenung karena kalimatnya yang terakhir.

Kedua-duanya tak sabar menunggu hari esok.


Mungkin ini terakhir kalinya ia mengantar Hinata pulang.

Gadis itu masih terisak di punggungnya. Sasuke memejamkan mata, merasakan perasaan bersalah di seluruh tubuhnya. Namun tetap saja, ia seorang Uchiha dengan gengsi dan keegoisan yang tinggi. Sangat sulit untuknya meminta maaf, hanya untuk membuka mulut dan berkata, "Maaf."! Ia jadi kesal pada dirinya sendiri.

Begitu sampai di depan rumahnya, Sasuke mnurunkan gadis itu dari punggungnya, sebisa mungkin menghindari mata Hinata. Ia melihat kemana saja, asal jangan ke Hinata. Otaknya menggerutu, menyuruh matanya melihat pupil putih Hinata dan menyuruh mulutnya berkata, "maaf" tapi anggota tubuhnya berkhianat. Ia menurunkan Hinata dari punggungnya, membiarkan gadis itu terdiam lama di depannya, hingga akhirnya pintu rumah di sampingnya ditutup dengan keras. Masih ia dengar suara-suara memanggil Hinata, menanyakan kenapa, masih ia dengar suara derap kaki Hinata, masih ia dengar suara Neji mengejarnya.

Ia harus pulang.

Ia harus mendinginkan otaknya sejenak, untuk menemukan jawaban.

Apakah ini semua salahnya?

Ya, ini salahnya. Ia mengutuk dirinya dalam hati, menjauh dari Kediaman Hyuuga dan berbelok menuju rumahnya sendiri.

Mungkin ini yang terbaik.


Oke, pertama-tama ijinkanlah saya meminta maaf atas:

1. keterlambatan update. Mohon dimaklumi karena saya sendiri baru selesai UN, dan sebenernya udah nilai upload dari kemarin-kemarin, tapi karena banyak revisi yang saya buat banyak yang gak ke save pula.. hiks.. jadi baru sekarang kesempatan itu terjadi :"

2. chapter 1 yang membingungkan. Yep, kemarin flashbacknya gak saya pakein italic, jadi pada bingung ya. Sekali lagi, gomenasai m(_ _)m tapi tenang, sekarang semua udah dipakein italic. Dan yes! masa lalu mereka mulai terungkap! Tapi masa lalu mereka gak dark kok, tenang aja. Cuma masalah remaja biasa yang pasti sebagian dari kita pernah merasakannya. Cuma author aja yang nge-lebay-in masalah ini buat Sasuke dan Hinata hohohoho...

3. ke-OOC-an karakter. Maap banget, tapi author pengen banget bikin Sasuke jail-jail introvert gitu (emang ada? :p) jadi emang OOC... banget... hiks. Satu-satunya pembelaan author disini: kalau di flashback Sasuke dan Hinata emang OOC karena mereka masih kecil, masih cerewet dan bawel akibat isengannya Itachi. Jadi maafkan kebawelan Sasuke pas cerita horor ya, dia cuma ngikutin Itachi kok hehe

4. ketidakjelasan umur mereka. Jadi biar author kasih tau umur mereka saat ini: Sasuke, Neji, Hinata 16 tahun. Itachi 21 tahun. Hanabi 13 tahun.

5. ketidakjelasan nama ibunya Hinata. Siapa sih namanya, btw? ada yang tahu? ada yang mau usul?

6. lebih panjang flashback dibanding cerita aslinya. Duh, abis gimana? Lucu banget bikin cerita Sasuke-Neji-Hinata pas masih kecil-kecil itu ihihihi, bagi yang mau usul cerita, monggo kutunggu :3

Nah, author juga memohon kritik dan saran yang membangun dan bisa disalurkan lewat review. Terima kasih udah baca!