A SHORT JOURNEY: Family, Happiness and Hurt
Author: naranari
Casting: Sehun and Luhan and another cast is going on
Genre: Angst, Romance, Family, Drama
Rating: T
Warning: typos and GS
Author's note below, please
.
.
.
Summary: Oh Sehun tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Sehun telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Xi Luhan juga selalu menolak cinta. Hidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.
Ketika akhirnya Sehun dan Luhan bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tumbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.
Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka
.
.
.
Chapter 2
.
.
Sehun sudah memasuki dunia SMA awal musim semi delapan tahun kemudian. Semua yang dilalui Sehun dan keluarganya selama delapan tahun terakhir ini adalah sebuah perjuangan. Ibu Sehun yang bekerja mati-matian dan bekerja serabutan demi hidupnya dan kedua anaknya. Ibu Sehun sangat bersyukur kepada Tuhan karena diusia yang masih dua belas tahun Sehun sudah membantu ibunya bekerja sebagai pengantar Koran.
Sehun dan Seyoung tidak pernah merepotkan ibu mereka dengan keinginan-keinginan mereka layaknya anak lain yang seusianya. Walaupun hidup mereka dibawah kata cukup tapi mereka tidak pernah mengeluh. Seyoung tumbuh menjadi gadis paling pintar diusianya. Ia selalu menjadi juara kelas dan itu membuatnya mendapatkan beasiswa penuh hingga ia lulus di sekolah dasarnya.
Hyun Joo tidak pernah merasa bersyukur melebihi hidupnya saat ini. Ia mempunyai dua malaikat yang selalu dicintainya dan selalu ada saat ia mulai kehilangan gairah hidup. Hidupnya mungkin saja sempurna kalau delapan tahun silam lelaki yang mengaku sebagai suaminya itu tidak pergi meninggalkan mereka. Tapi Hyun Joo tidak pernah menengok ke belakang, baginya masa lalu itu hanyalah sebuah pembelajaran untuk masa depannya.
Sejak masuk SMA Sehun mulai jarang pulang kerumah. Awalnya Hyun Joo merasa khawatir pada anak sulungnya. Biarpun mereka hidup didesa tapi Hyun Joo tetap mengkhawatirkan pergaulan mereka. Setidaknya tiga hari dalam seminggu Sehun tidak berada dirumah.
Keadaan itu terus berlanjut, bahkan insensitas Sehun pulang kerumah benar-benar jarang. Jika ada kesempatan untuk pulang itupun tidak lama, pagi hari pulang dan sorenya ia pergi lagi. Dan yang lebih membuat Hyun Joo khawatir setiap Sehun pulang anaknya itu selalu membawa uang yang lumayan banyak. Hyun Joo sempat berpikir mungkin saja Sehun mempunyai pekerjaan tetap di luar sana. Tapi ketika suatu hari Sehun pulang dengan muka yang babak belur, Hyun Joo benar-benar khawatir.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan diluar sana Oh Sehun? Bicara dan jangan membuat ibumu khawatir!"
Sehun masih terdiam sambil sesekali meringis ketika lukanya tidak sengaja tertekan oleh Seyoung yang sedang mengobatinya.
"Oh Sehun, jawab ibumu!" Hyun Joo berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Seyoung memberi isyarat pada Sehun untuk menjawab, Sehun menghela napas dan merebahkan kepalanya disofa.
"Aku bertarung, Bu. Menjadi petinju."
Hyun Joo mendadak pusing dan cepat-cepat mencari pegangan sebelum tubuhnya terjatuh. Seyoung dengan cekatan menangkap ibunya dan mendudukannya di sofa terdekat. Adik Sehun itu memberikan minyak angin untuk mengurangi rasa pusing pada ibunya. Setelah itu ia kembali pada Sehun tapi tidak untuk mengobatinya, melainkan menuntut jawaban yang lengkap dari ucapannya barusan.
"Apa yang kau maksud menjadi petinju kak? Coba jelaskan pada kami!" Seyoung walaupun masih berusia tujuh tahun tapi sudah mengerti tentang kehidupan. Kecerdasannya membuat pola pikirnya berbeda dengan teman sebayanya. Sehun tersenyum lembut pada Seyoung, "Kau tidak akan mengerti, Dik. Kau cukup belajar saja dan mengurusi ibu. Aku yang akan bertanggung jawab soal keuangan."
"Ucapan gila macam apa itu, Sehun?" Hyun Joo sudah ada dihadapannya sambil berkacak pinggang lagi. "Aku yang seharusnya berbicara seperti itu. Kau dan Seyoung cukup belajar saja, aku yang akan bekerja dan mencari uang untuk kalian!"
Sehun berdiri dan memegang bahu ibunya. Hyun Joo tidak pernah menyadari perubahan pada fisik Sehun. Anak laki-lakinya tumbuh menjadi pemuda yang tampan, dengan mata kecil dan hidung runcing. Hyun Joo juga harus mendongak untuk menatap anaknya karena ia begitu tinggi, padahal Sehun baru enam belas. Secara tidak langsung Sehun sangat menuruni ayahnya.
"Ibu, aku tidak bisa diam begitu saja melihat wanita yang paling aku cintai membanting tulang untuk keluarganya. Aku ini lelaki, Bu, aku tidak bisa diam saja."
Ucapan Sehun begitu tulus terdengar di telinga Hyun Joo. Air mata perlahan mulai menuruni pipi wanita itu. Sehun mengulurkan tanganya dan menghapus air mata dari wajah cantik ibunya dan memeluknya. Sehun bersungguh-sungguh pada ucapannya tadi. Hanya ada dua wanita yang paling ia cintai, ibunya dan adik perempuannya. Sehun mengulurkan satu tangannya pada Seyoung dan mengajak gadis kecil itu bergabung dengannya untuk memeluk ibu mereka.
.
.
.
.
Luhan adalah gadis enam belas tahun yang paling cantik di desanya. Ayahnya seorang dokter hewan dan ibunya perawat di salah satu rumah sakit di kota. Luhan jarang sekali bergaul dengan teman-temannya. Setiap pergi dan pulang sekolah selalu diantar ayahnya, kadang juga ibunya. Hidup Luhan menjadi suatu rahasia besar oleh mereka yang mengenalnya.
Selain jarang bergaul Luhan juga jarang masuk sekolah. Setidaknya ia absen sebanyak empat kali dalam sebulan dan itu sudah menjadi rutinitasnya. Yixing adalah salah satu orang yang cukup dekat dengan Luhan. Meskipun cukup dekat tapi ia tidak benar-benar dekat dengan Luhan. Menurutnya Luhan selalu mempunyai satu hal yang sangat ditutupinya. Yixing sering sekali mencoba mengorek sisi lain dari Luhan tapi gadis cantik itu selalu melindungi dirinya sebelum Yixing mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Luhan sangat berbeda dari gadis-gadis biasanya. Kulitnya putih lebih ke pucat dan tubuhnya sangat ringkih, walaupun begitu Luhan masih mempunyai lekukan-lekukan feminim. Dan yang paling membuat Luhan beda dari gadis lain adalah pesonanya yang selalu terpancar dalam dirinya. Entah memang dilahirkan untuk cantik, setiap yang melihat Luhan akan langsung terpesona. Belum ada gadis yang cantiknya melebihi Luhan.
Meskipun Luhan memiliki keluarga yang utuh, wajah yang cantik dan orang-orang yang selalu menyanjungnya, tetap saja Luhan merasa ada sesuatu yang kurang. Luhan selalu merasa kesepian bukan karena tidak mempunyai teman. Ia juga kurang begitu paham apa yang terjadi pada dirinya. Semenjak ia melihat salah seorang temannya berkencan dengan kekasihnya, perasaan itu lalu muncul.
Luhan sempat bertanya pada ibunya perihal yang sedang dialaminya akhir-akhir ini. "Karna kau sudah besar dan sudah menjadi seorang gadis dewasa. Makanya kau memiliki perasaan seperti itu." Itulah jawaban yang didapat dari ibunya. Tapi Luhan belum benar-benar puas akan jawaban dari ibunya. Ia akan mencari jawabannya sendiri. Nanti, jika saat itu sudah tiba, ia yakin akan menemukan jawabannya.
Selain cantik Luhan mempunyai tatapan mata yang misterius. Matanya yang kecil dan seolah selalu bersinar itulah yang membuat orang-orang terpesona padanya. Luhan tidak banyak bicara, tetapi ia sangat cerdas. Luhan adalah gadis yang sungguh sempurna.
Tetapi Luhan menyimpan rahasia besar dengan kesempurnaannya.
.
.
Sudah tiga hari Sehun pulang kerumah dan itu tentu saja membuat ibunya senang. Setiap hari Hyun Joo selalu memasak makanan kesukaan Sehun. Ia selalu pulang lebih awal untuk menemani Sehun dirumah. Setelah mengetahui pekerjaan Sehun, Hyun Joo tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan dan selalu memastikan kesehatan anaknya. Sehun berkata ia mempunyai sebuah apartemen kecil di kota dekat dengan sekolahnya, dan apartemen itu menjadi tempat tinggalnya jika ia tidak pulang kerumah. Sehun juga bercerita uang yang dihasilkan dari pertandingan tinjunya cukup untuk menyewa apartemen dan biaya sekolahnya, itu sebabnya selama ini ia tidak pernah meminta uang sekolah pada ibunya.
"Tapi kau selalu membawa uang yang banyak ketika pulang, apa itu sisa dari bayaran apartemen dan sekolah?" Hyun Joo bertanya.
"Tidak. Sebenarnya itu uang tabunganku selama enam tahun menjadi penjual koran."
Hyun Joo tidak bisa tidak menitikan airmatanya. Sehun benar-benar tumbuh menjadi lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Kekhawatiran Hyun Joo selama delapan tahun ini ternyata salah, Sehun tetap menjadi Sehun yang dulu. Hanya saja satu hal yang membuat Hyun Joo bersedih. Sehun tidak pernah berbicara tentang ayahnya. Ia tidak pernah menceritakan ayahnya pada Seyoung. Ia telah membuang semua foto-foto yang ada gambar ayahnya. Ia selalu bersikap seolah ia tidak pernah mempunyai seorang ayah.
Hyun Joo pernah menyinggung ayahnya dalam pembicaraannya bersama Sehun, tapi reaksi yang didapat sungguh menohok hati Hyun Joo. Sehun langsung pergi, ia tidak mau mendengar nama ayahnya terucap dari bibir ibunya. Sebelum pergi Sehun sempat berkata, "Aku tidak mempunyai ayah. Dan aku tidak mengenal siapa ayahku."
Hati Hyun Joo benar-benar hancur mendengar itu. Meskipun Hyun Joo juga membenci perbuatan suaminya saat itu, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia masih mencintai suaminya. Menyesal sudah sangat terlambat. Hyun Joo menyadari betul hubungan ayah-anak yang dilakoni Jong Sik dan Sehun. Sehun selalu memuja ayahnya. Ia bangga mempunyai ayah seperti ayahnya.
Dan saat Jong Sik pergi, Sehun menangis. Mungkin Sehun juga merasakan apa yang dirasakannya saat itu. Ditinggal, dikhianati, dikuasai oleh perasaan putus asa. Sehun sudah sangat berbeda semenjak peristiwa itu. Ia sudah tidak lagi mengenal cinta dalam hidupnya, kecuali cinta pada ibu dan adiknya. Hyun Joo hanya berharap suatu saat ada seseorang yang akan mengajari Sehun apa arti cinta itu sebenarnya.
Hyun Joo tersenyum dan kembali memeluk Sehun. "Jadilah anak yang bisa kubanggakan Sehun. Maaf karena aku, kau dan Seyoung tidak bisa menikmati hidup yang sebenarnya." Sehun melepas pelukan ibunya begitu ia merasa getaran ditubuh ibunya. Sehun kembali mengusap air mata yang jatuh diwajah ibunya yang menangis, dalam hati ia berjanji tidak akan membiarkan ibu dan adiknya menangis lagi.
"Ini sudah takdir Tuhan, Bu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku berjanji, aku akan membanggakan ibu dan Seyoung sehingga kita tidak perlu hidup seperti ini lagi."
.
.
To be continued
.
.
Thanks to all reviewers
