A SHORT JOURNEY: Family, Happiness and Hurt

Author: naranari

Casting: Sehun and Luhan and another cast is going on

Genre: Angst, Romance, Family, Drama

Rating: T

Warning: typos and GS

Author's note below, please

.

.

.

Summary: Oh Sehun tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Sehun telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Xi Luhan juga selalu menolak cinta. Hidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.

Ketika akhirnya Sehun dan Luhan bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tumbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.

Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka

.

.

.

Chapter 3

.

.

Xi Luhan duduk tenang didalam mobilnya, disamping kiri ada ayahnya yang sedang menyetir. Pagi ini mereka berdua pergi menuju rumah sakit tempat ibu Luhan bekerja. Di pangkuan Luhan ada beberapa map yang berlebelkan nama Rumah Sakit itu. Luhan mengusap bagian depan map yang berada paling atas lalu membukanya. Luhan menghela napas, betapa kejamnya hidup yang ia jalani ini. Karena ia sangat tahu hidupnya tergantung pada tulisan dan statistik dalam kertas ini. Rahasia besar dalam hidup Luhan ada didalam map ini. Hasil kesehatan dan check up yang sering ia lakukan. Rahasia besar yang hanya Luhan dan keluarganya yang tahu.

Rahasianya adalah Xi Luhan menderita fibrosis sistik.

Fibrosis sistik—Cystic Fibrosis, dengan semua keterbatasannya yang mengerikan dan hukuman seumur hidup karena punggungnya dipukul selama dua jam setiap hari, agar ia bisa mengeluarkan cairan kental yang kalau tidak dikeluarkan akan membuatnya tercekik. CF, begitu dokter menyebutnya, adalah penyakit yang bisa mengubah penyakit flu menjadi pneumonia, dan setiap pneumonia bisa berarti kematian.

Luhan sangat tahu penyakit apa itu, orangtuanya tidak pernah memberi tahu, ia mengetahuinya sendiri dari internet. Pasien fibrosis sistik biasanya meninggal pada usia muda, meskipun harapan hidupnya meningkat tetapi hasil akhirnya sudah sangat jelas. Dan suatu hari nanti, tak lama lagi penyakit itu akan membunuh dirinya.

Luhan menoleh sekilas kearah ayahnya ketika mobil mereka berhenti tepat didepan lobby rumah sakit. Hari ini dia akan menjalankan serangkaian pemeriksaan yang sudah sangat ia hapal. Mulai dari pemeriksaan paru-parunya dan juga saluran pernapasannya. CF mengakibatkan banyaknya lendir yang lengket didalam paru-paru dan saluran pernapasan yang mengakibatkan si pasien mengalami kesulitan bernapas dan masalah pencernaan secara berturut-turut.

Biasanya Luhan akan menghabiskan harinya di rumah sakit jika sudah melakukan pemeriksaan, tapi hari ini dia sudah diperbolehkan pulang saat jam menunjukan pukul tiga sore. Hasil kesehatan hari ini cukup baik, tidak ada masalah yang berarti. Luhan diantar pulang oleh ibunya karena sang ayah kembali ke klinik hewan miliknya.

"Bagaimana harimu sayang?" Ibu Luhan membawa sekotak makanan yang diberikannya pada Luhan. "Terima kasih, Bu." Luhan mengambil kotak itu, "Dan hari ini sangat menyenangkan. Dokter Song membawakanku poster boyband favoritku yang ia janjikan." Luhan mengacak tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar poster dari sana. "Lihat! Mereka tampan bukan?" Ibu Luhan tertawa senang melihat putri satu-satunya ini. Luhan sangat ceria, ia senang sekali tersenyum dan tertawa. Ibu Luhan tidak akan pernah percaya dibalik senyum dan tawa Luhan terdapat satu titik kesakitan yang dirasakan putri cantiknya kalau saja delapan tahun lalu ia tidak membawa Luhan ke rumah sakit.

"Bu, besok aku akan pergi ke sekolah." Ibu Luhan berdehem sebentar sebelum mengangguk, "Tentu saja. Karena hari ini kau menjadi anak baik untuk pergi ke dokter maka keinginanmu akan ibu kabulkan."

"Yeay!" Luhan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Aku mencintaimu Bu."

.

.

.

Sehun kembali bertarung malam ini, dikelas sedang. Sebelumnya ia sudah mengikuti enam kali pertandingan tinju kelas ringan dan dua kali dikelas sedang, dengan sekarang menjadi tiga kali. Usaha Sehun pada olahraga fisik ini tidak mudah. Ia sempat ditolak beberapa kali oleh sanggar kebugaran karena berat badannya yang sangat kurang. Semenjak itu Sehun jadi sering berlatih dan berolahraga untuk mendapatkan bobot badan setidaknya enampuluh kilogram dan membentuk otot-ototnya.

Kemenangan menjadi hal tersulit dalam olahraga ini. Tapi Sehun tidak. Ia selalu menang, bahkan ketika pertama kali ia mencoba pertandingan olahraga ini, ia menang. Sehun bisa merubuhkan lawannya hanya dengan waktu tiga belas menit, dan ia belum pernah mendapatkan luka serius selain lebam-lebam pada tubuhnya.

Pertama kali mencoba olahraga tinju Sehun berpikir ini adalah hal tergila yang pernah ia lakukan. Memukul orang, melukai orang lain, dia tidak pernah melakukan seperti itu. Saat itu Sehun tengah memikirkan ayahnya, tidak dapat ia pungkiri ia merindukan sosok ayahnya meski sekarang perasaan benci menguasai pikirannya.

Saat memukul samsak berat berwarna merah itu Sehun merasa liar dan bergairah. Seakan adrenalin dalam jiwa lelakinya benar-benar memberontak. Usahanya untuk terus memukul samsak tak sia-sia saat benda berat itu terjatuh. Dan semuanya terdiam memerhatikan Sehun yang sedang terengah-engah dengan keringat yang mengucur dari pangkal dahi hingga lehernya.

Sehun adalah seorang petinju yang cukup dikenal bahkan hingga ke kelas berat. Temannya pernah menawarinya untuk ikut di kelas berat, namun Sehun menolak. Dia belum tertarik berada disana. Selama ini orang-orang hanya melihat Sehun yang beringas di atas ring, memukul lawan dengan telak dan tidak terkalahkan. Tapi semua itu semu bagi Sehun. Karena selama ini ia bertarung hanya untuk melampiaskan kemarahannya pada sang ayah.

Sehun menang lagi, ia memperoleh nilai tinggi pada pertandingan malam ini. Setelah beristirahat beberapa saat diruang tunggu, Sehun kemudian menuju ruangan administrasi untuk mendapatkan penghasilannya untuk kemenangan kali ini.

"Kerja yang bagus Oh Sehun. Ada lebih sepuluh persen dari bos."

Sehun tersenyum kecil pada Jiyoon yang sedang memberikannya uang. Tambahan sepuluh persen berarti ia bisa mengajak ibunya dan Seyoung untuk makan malam direstoran langganan mereka. Sehun baru saja ingin pergi sebelum suara Jiyoon menginterupsi.

"Ka mendapat luka parah? Sepertinya bibirmu sobek."

Sehun segera menyentuh sudut bibirnya setelah Jiyoon menunjuk bibirnya sendiri. Ada rasa sakit dan sedikit perih saat ia menyentuhnya; Sehun meringis. "Sepertinya. Aku akan mengobatinya."

"Bagaimana kalau aku saja." Jiyoon menahan lengan Sehun. Sehun tersenyum kemudian melepaskan pegangan Jiyoon pelan-pelan. "Tidak perlu, terima kasih" Setelah itu Sehun berbalik dan pergi dari sana.

.

.

.

.

Sehun berhenti disebuah perkarangan rumah seseorang. Di perkarangan itu ada kebun luas dan banyak sekali bunga yang ditanam. Tapi kebun itu sepi. Dan tak jauh dari perkarangan itu ada sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah itu juga terlihat sepi. Sehun duduk diatas rumput. Ia mengambil sapu tangan dari kantung celananya dan mengusap pelan darah yang ada disudut bibirnya.

"Aww…"

Sehun kembali meringis, sepertinya bibirnya memang robek. Ia menghela napas, tidak mungkin pulang kerumah dengan keadaan bibir terluka kalau ia tidak ingin melihat ibunya khawatir. Sehun mengacak rambutnya, ia kesal karena tadi pagi ia lupa membawa kotak p3k-nya yang selalu ia bawa jika ada pertandingan tinju.

Sreett…

Sehun menegakkan badannya begitu mendengar bunyi gemeresak diantara rumput-rumput tinggi di belakangnya. Sehun mengubah posisinya menjadi siaga, berjaga-jaga jika ada seekor anjing yang tiba-tiba menyerangnya.

"Siapa disana."

Suara wanita.

Sehun mengeluarkan napas sedikit. Seorang wanita, bukan anjing.

"Aku bilang siapa disana?" Suara wanita itu sedikit meninggi. Sehun tersenyum simpul sebelum berdiri. Dan ia mendapati seorang gadis mungil dan cantik. Wajahnya kecil dan terkesan seperti anak kecil. Matanya berbinar, hidungnya bangir dan bibirnya mungil. Sempurna. Kecantikan murni yang terpancar dari dalam jiwa gadis mungil itu.

"Kau…siapa?"

Sehun terkesiap dari lamunannya pada kecantikan gadis mungil itu. Ia tersenyum gugup dan menggaruk belakang kepalanya. "Maaf, aku tidak tahu ini adalah kebunmu."

Luhan terdiam sebentar. Mencerna setiap suara yang keluar dari mulut seorang pemuda tampan dan tinggi dihadapannya. Suara yang begitu merdu dan lucu. Suara khas anak-anak remaja; tidak besar dan tidak melengking.

"Siapa…kau?"

"Aku…ssshh"

Sehun memegang sudut bibirnya, sepertinya luka robeknya makin parah karena Sehun berbicara keras tadi. "Apa itu sakit?" Sehun mengangkat kepalanya dan melihat Luhan yang berjalan mendekat. "Bibirmu robek. Aku akan mengobatinya." Belum sempat Sehun berbicara Luhan sudah melesat kedalam rumahnya.

Sehun menghela napas dan kembali duduk diatas rumput. Tidak lama kemudian ia mendengar suara gemeresak lag dan sebuah sepatu tepat disampingnya. Sehun menongak, Luhan sudah berdiri sambil tersenyum disampingnya kemudian ikut duduk diatas rumput. Sehun melihat Luhan membawa kota seperti kotak p3k karena ada tanda khas kotak obat.

"Namamu?" Tanya Luhan.

"Sehun. Oh Sehun."

"Baiklah Oh Sehun mungkin ini agak sedikit perih. Jadi jangan berteriak seperti gadis." Sehun tersenyum simpul lagi. Luhan mulai mengeluarkan isi dari kotak obatnya. Ada alkohol pembersih, kain kasa, obat merah dan sebuah plester luka.

"Namaku Xi Luhan," Luhan mulai menempelkan kain kasa yang sebelumnya diberikan alcohol pada bibir Sehun, si pemuda sedikit meringis. "Maaf, apa aku terlalu kencang?"

"Tidak. Tidak apa-apa." Luhan tersenyum dan kembali mengobati luka Sehun.

Yang diobati hanya terdiam sambil memerhatikan wajah cantik seorang gadis yang sedang membersihkan luka di bibirnya. Sehun akui, ia terpesona pada Luhan; gadis cantik yang baru pertama kali ia temui. Ia belum pernah melihat kecantikan alami seperti kecantikan Luhan sebelumnya.

"Sudah selesai."

Luhan membereskan peralatannya kemudian duduk diam sambil memerhatikan Sehun. "Oh Sehun kau asli didesa ini. Maksudku kau pribumi?" Sehun mengangguk, "Lalu kenapa aku baru melihatmu" Luhan melanjutkan. "Aku jarang berada dirumah." Jawab Sehun, Luhan hanya mengagguk. Kemudian gadis itu berdiri dan sedikit berlari kearah salah satu tanaman bunga yang ada disana dan memetiknya. Luhan kembali ke tempatnya semula dan memberikan bunga yang baru saja dipetik pada Sehun.

Sehun menyerngit bingung namun tetap menerima bunga dari Luhan. Luhan memberikan Sehun bunga akasia berwarna putih.

"Ini bunga akasia putih. Artinya persahabatan." Sehun kembali menyerngit. Luhan tertawa kecil lalu mengulurkan tangan kanannya pada Sehun. "Jadilah temanku, Oh Sehun."

Kerutan di kening Sehun menghilang, wajah tampan itu kini dihiasi oleh senyum menawan miliknya. Sehun menyambut uluran tangan Luhan. "Aku senang menjadi temanmu."

Keduanya kemudian tersenyum.

.

.

To be continued

.

.

.

Thanks for all reviewers

Especially you, Shabira ^.^