"Ingat Naruto, kau harus jadi laki-laki yang kuat agar bisa melindungi orang-orang yang kau sayangi," ucap seorang wanita berambut panjang berwarna merah. Seorang anak laki-laki yang mengenggam tangan wanita itu terdiam melihat kearah wanita itu yang sedang memandang kearah matahari terbenam. "Ingat itu ya sayang," wanita tersebut tersenyum kepadanya. Iris biru langit Naruto yang lebar tidak dapat melihat mata indah wanita itu karena tertutupi oleh poninya yang berterbangan karena angin.
"Iya Ibu," jawab Naruto sambil tersenyum lebar kemudian ia memeluk tubuh wanita yang ia panggil ibu tersebut.
"Anak pintar," Sang Bunda mengelus kepala anaknya tersebut. Naruto tersenyum lebar.
"...UP... WAKE UP SILLY BOY... WAKE UP SILLY BOY!" sebuah jam weker dengan bentuk kata yang sedang memegang jam bundar berteriak tidak karuan di sebuah kamar. Tubuh seorang laki-laki tergeletak seperti tak bernyawa diantara puluhan kertas dan buku-buku serta peralatan menggambar lainnya. Benar-benar seperti kapal pecah, diatas perutnya terdapat sebuah meja kecil yang tak kalah berantakannya. "WAKE UP SILLY BOY... WAKE...!"
"SHUT UP!" teriak laki-laki dengan rambut pirang tersebut sambil mengambil jam weker dengan bentuk katak tersebut, kemudian ia melihat kearah jarum jamnya. Matanya langsung terbelalak saar ia melihat jarum jam pendek menuju kearah angka delapan sementara jarum jam panjang di angka enam. "WAAAAAAA, AKU TELAT, MAMPUS," Naruto langsung bangkit dari tidurnya. "Aduh," karena tubuhnya yang baru saja terbangun dipaksa untuk bangkit menyebabkan kepalanya menjadi pusing. Hati-hati ini salah satu penyebab mati mendadak, jangan lakukan di rumah walaupun kalian telat ke kantor maupun ke sekolah. "Ya Tuhan...," beberapa menit setelahnya Naruto langsung bergerak mengambil pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas. "Oh shit! Aku harus buru-buru," pikirnya sambil memasang sepatu dengan tergesa-gesa kemudian mengambil kertas dengan ukuran yang cukup besar diatas mejanya. Ia menggulung kertas tersebut kemudian memasukkannya kedalam tas tabungnya. Naruto keluar dari kamar dan berlari sambil menutup pintunya. "Tuan maaf saya terlambat," ucap Naruto pada Sasuke yang sedang bersantai di depan kolam ikan, ditangannya terdapat koran pagi dan secangkir cappucino diatas meja kecil. "Saya permisi dahulu mau pergi ke kampus," Naruto membungkukkan tubuhnya dihadapan Sasuke.
"Hn, cepatlah, kau tidak ingin dihukum karena terlambat masuk kelas bukan Naruto," ucap Sasuke sambil melihat kearah Naruto yang tampak sangat kusut. Ia mengerutkan dahinya, dandanan Naruto masih sama dengan yang kemarin... "Naruto... jangan bilang ka...," putus Sasuke dengan wajah terkejutnya.
"Ya... iya... saya akan membersihkan diri di kampus...," isak Naruto sambil berlalu dari hadapan Sasuke yang terdiam.
"Dasar," Sasuke menghela nafasnya kemudian ia kembali melihat kearah korannya.
"Tuan Sasuke... Tuan Sasuke...," panggil seorang pelayan wanita. Sasuke melihat kearah sang pelayan yang tampak sangat kusut tersebut. "Kamar Tuan Naruto... kamarnya...," ucap sang pelayan dengan terbata-bata.
"Hah?" Sasuke terdiam mendengarnya. "Astaga?" Sasuke mengerutkan dahinya saat melihat isi kamar Naruto yang berantakan... benar-benar berantakan. Bagaimana bentuk kapal pecah dan beling-beling saat kau melemparnya sekuat tenaga ya seperti itulah kamar Naruto sekarang ini.
"Bagaimana Tuan?"
"Dasar, biarkan saja... kalau kalian menyentuh barang-barang anak itu takutnya nanti dia kebingungan mencarinya, kita tidak tahu diantara tumpukan sampah itu mungkin saja ada yang penting," ucap Sasuke sambil menutup kamar Naruto. "Apakah dia sesibuk itu sampai-sampai kamarnya sendiri tak pernah ia bersihkan sampai-sampai seperti tempat sampah begini, astaga... apa begini kehidupan anak-anak seni?" pikir Sasuke sambil menghela nafasnya dan mengurut dahinya.
BIG MISTAKE
DESCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
STORY : ZOMBIE
GENRE : ROMANCE, SHO-AI , HURT/COMFORT,
"Good job Naruto," ucap seorang wanita berambut hitam nan panjang pada Naruto yang sedang duduk di kantin kampusnya.
"Aku tidak menyangka anak ini akan datang tepat waktu... benar-benar tepat waktu...," tawa seorang anak laki-laki dengan tato taring di kedua pipinya. "Kau juga bau... pasti belum mandi," kata laki-laki tersebut. Naruto terdiam kemudian ia melihat wanita yang ada dihadapannya, tertawa kekeh mendengar ucapan teman yang duduk disampingnya itu. "Seberapa banyak pun parfum yang kau pakai bau busuk tubuhmu itu masih kecium bego, kau lupa penciumanku ini tajam, Inuzuka Kiba... ingat Inuzuka Kiba, sang pancium terhebat di kampus ini," ucap Kiba dengan bangganya.
"Hah?" Naruto melihat kearah Kiba dengan tatapan malas. "Dari pada aku terlambat dan dihukum berdiri didepan kelas sambil megang dua ember berisi air, mending aku mengorbankan penciuman orang, aku tidak ingin dipermalukan dihadapan puluhan pasang mata, dosen yang satu itu mengesalkan, memberi hukuman pada mahasiswa layaknya anak sekolah dasar, memangnya ini sekolah dasar!" keluh Naruto sambil menggeram, ia jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ia terlambat masuk kelas Konan-Sensei, walaupun memiliki ekspresi datar dan terkesan lembut dengan wajahnya yang cantik dan manis, dosennya yang satu itu menghukum para mahasiswanya dengan mempermalukan mereka yang terlambat bahkan tidak mengerjakan tugas layaknya menghukum anak SD. "Hanya anak SD yang suka lupa mengerjakan tugas dan sering terlambat bangun pagi," moto seorang Konan-Sensei, jadi tidak salah juga dosen satu ini menghukum mahasiswanya dengan hukuman layaknya seorang anak SD. Sialnya lagi Naruto sering mendapatkan hukuman seperti itu sehingga Sasuke sendiri pernah melihat Naruto kena hukuman sedang berdiri berjemur dibawah terik matahari sambil membawa air dengan ember.
"Lebih baik kau membersihkan diri, bukannya anak-anak dari klub olah raga punya kamar mandi sendiri," ucap wanita yang ada dihadapan Naruto tersebut.
"Iya aku tahu, Hinata... aku titip tas ya," ucap Naruto sambil bangkit dari duduknya dan meletakkan tas tabungnya diatas kursi. "Pak ramennya di tunda dulu saya mau pergi," ucap Naruto sambil menyandang ranselnya dan berbicara kepada pria tua yang bernama Takeuchi tersebut.
"Iya," jawab Takeuchi sambil tersenyum kepada Naruto. Sementara sang pemuda langsung berlari menuju kamar mandi kampusnya.
"Haaah, dasar anak itu, aku yakin dia bergadang lagi untuk mengerjakan tugasnya," ucap Kiba sambil meletakkan tangannya ke belakang kepalanya dan menyandarkannya ke tangannya tersebut. "Ng, Hinata kau kenapa?" tanya Kiba pada Hinata yang memandang sayu kearah tangannya. Ia meremas tangannya kemudian menggigit bibirnya.
"Kemarin aku ke rumah sakit," jawab Hinata sambil mengerutkan dahinya. Kiba memperbaiki cara duduknya dan memerhatikan Hinata yang mulai bercerita.
"Kau menjenguk Menma?" tanya Kiba. Hinata menganggukkan kepalanya.
"Dia sudah tidak berada di rumah sakit itu,"
"Eh?" Kiba terkejut mendengar pernyataan Hinata tersebut. "Kenapa bisa?" tanya Kiba.
"Aku tidak tahu, yang pasti Kak Shizune bilang kalau keluarga Namikaze membawa Menma keluar dari rumah sakit,"
"Apa? Kenapa mereka bisa menemukan keberadaan Menma dan Naruto?" tanya Kiba tidak percaya.
"Aku tidak tahu Kiba, astaga," Hinata memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Dasar, lagi-lagi dia menyembunyikan masalahnya sendiri, kapan sih anak itu bisa terbuka dengan orang lain?" Kiba memegang kepalanya.
~Big Mistake~
Naruto berdiri dibawah shower yang membasahi tubuhnya. Tatapan matanya kosong. Pikirannya berkecamuk. Semenjak ia bertemu dengan kepala keluarga Namikaze, semua peristiwa masa lalu kembali menghantui tidurnya, menusuk kepalanya dengan jarum-jarum yang dipenuhi dengan kenangan pahit di masa lalu, hingga untuk tidur saja ia takut. Takut ia tak akan terjaga lagi, takut akan dunia yang akan menghancurkan seluruh perjuangannya, takut untuk dihancurkan. Ia tidak ingin, ia hanya ingin bahagia, ia hanya ingin kebahagiaan. Tapi semuanya seolah-olah di tahan oleh kebesaran dari keluarga Namikaze yang membumbung tinggi dihadapannya, menghalangi sinar mentari dan angin berhembus kearahnya. "Ukh," rasa sakit itu kembali menusuk tubuhnya, ia memeluk tubuhnya dengan rasa dingin dan hampa menyentuh seluruh tubuhnya.
"Siapa anak ini?" tanya seorang wanita pada pria berambut pirang. Seorang anak kecil berambut hitam sedang tertidur dipangkuan pria berambut pirang tersebut sementara seorang anak kecil sedang bermain dengan mainannya tak jauh dari wanita dan pria yang sedang bercengkrama tersebut.
"Namanya Menma, Kushina, anakku dengan Himeka," jawab pria berambut pirang. Wanita berambut merah panjang yang diyakini oleh sang pria berambut pirang bernama Kushina, meremas tangannya.
"Naruto bermainlah diluar, Nak," ucap wanita yang bernama Kushina tersebut. Anak laki-laki yang bernama Naruto, ia langsung bangkit dari duduknya sambil membawa bola dan keluar dari rumah seraya bermain di taman belakang rumahnya. Tapi dasar anak-anak, rasa ingin tahunya begitu kuat, ia mendekati pintu dorong tempat dimana ia keluar dari ruangan tersebut dan bersembunyi di balik rerumputan. Disana ia dapat mendengar percakapan Ibunya dan pria yang tidak ia kenal itu. "Kenapa kau membawanya kesini?" tanya Kushina sambil membuang wajahnya.
"Himeka meninggal setelah melahirkan Menma," jawab pria tersebut. Kushina terdiam dengan kening berkerut.
"Aku turut berduka Minato," Kushina memegang pergelangan tangannya. Pria yang bernama Minato mengerutkan dahinya. "Pulang lah! Tuan Besar pasti sedang mencarimu," ucap Kushina. Minato menundukkan kepalanya seraya melihat bayi kecil yang berada dipangkuannya.
"Kushina...," ucap Minato sambil mengelus pipi halus sang bayi. "Ayo kita pergi dari kota ini!" ajak Minato sambil tersenyum. Kushina terkejut mendengar ucapan Minato tersebut. Ia melihat pria itu sedang meletakkan Menma diatas kasur kecil yang ada di depan televisi. "Aku sudah tidak tahan lagi, Ayah terlalu mengekangku, menikah dengan Himeka itupun membuatku sengsara, yang kucintai hanya dirimu," ucap Minato sambil melihat Menma yang tertidur pulas diatas kasur itu.
"Bawa pulang bayimu dan jangan datang lagi kesini, aku sudah capek di uber-uber terus oleh bawahan ayahmu Minato, aku hanya ingin hidup tenang, aku hanya ingin hidup dengan Naruto dan menjalani semuanya berdua dengannya, jangan ganggu kami lagi!" Kushina membalikkan tubuhnya. Minato mengerutkan dahinya kemudian ia mendekati Kushina dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa? Naruto butuh figure seorang ayah Kushina," ucap Minato sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak perlu, dia tidak memerlukannya, yang ia butuhkan hanya aku, hanya aku, pergilah!" ucap Kushina sambil melepaskan pelukan Minato. "Lagian kau bukan ayahnya, Minato, bukan ayahnya," Kushina memalingkan wajahnya.
"Dia anakku Kushina, dia anakku," ucap Minato sambil mengerutkan dahinya. Naruto yang mendengar ucapan Minato terkejut. Kushina meremas tangannya dan mengerutkan dahi.
"Jadi dia...?!" pikir Naruto.
"DIA BUKAN ANAKMU, KENAPA KAU SELALU BERSIKERAS MENGATAKAN KALAU DIA ANAKMU? JANGAN MEMBUATKU TERTAWA TUAN," bentak Kushina. Minato terkejut mendengar suara bentakkan wanita tersebut. Begitupun dengan Menma, ia terisak kemudian meraung. Minato langsung melihat kearah Menma dan mencoba menenangkan sang bayi yang sedang menangis meraung.
"Dia mirip denganku, aku yakin dia adalah anakku," ucap Minato sambil melirik keluar pintu dan melihat Naruto yang sedang memandang kearahnya dengan tatapan terkejut sambil memeluk bolanya.
"Pergilah," pinta Kushina sambil menundukkan kepalanya. Minato tersenyum tipis kemudian ia mendekati Kushina sambil mengendong Menma dan mengecup pipi wanita tersebut. Minato keluar dari rumah tersebut meninggalkan Kushina dan Naruto yang melangkahkan kaki memasuki ruang tamu rumahnya itu.
"Ibu," ucapnya. Tiba-tiba setetes air mengenai pipinya dan Naruto melihat sang bunda sedang menangis tersedu-sedu sambil membasuhnya dengan tangan kanan. "Ibu?!"
"Ibu...," isak Naruto sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. Keheningan melanda kamar mandi tersebut, yang dapat didengar hanyalah suara air dari pincuran. "Sial, semuanya gara-gara laki-laki itu," Naruto memegang dadanya dengan ekspresi wajahnya yang begitu sangat mengerikan dan penuh dengan ambisi membunuh. "Kenapa semua orang yang kusayangi diregut oleh mereka? Kenapa selalu saja...," isak Naruto sambil mengerutkan dahinya.
"Are?! Naruto?" ucap seorang laki-laki berambut pendek dengan model bob. Ia melihat Naruto yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan ditangannya terdapat sebuah handuk yang menutupi rambutnya yang basah. Naruto mendelikkan irisnya dan melihat pria tersebut.
"Oh, Lee-senpai? Mau mandi juga?" tanya Naruto dengan wajah polosnya. "Kau telat juga ya senpai?" Naruto tersenyum lebar melihat kearah Lee yang terdiam mendengar pernyataan Naruto tersebut.
"Apa maksudmu? Anak-anak mengajakku latih tanding sepak bola pagi-pagi tadi, jadi sekarang aku ingin membersihkan diri," jawab Lee sambil tersenyum lebar dan meletakkan tasnya di dalam loker. Naruto terdiam kemudian ia menghela nafasnya seraya tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju kearah loker yang satu barisan dengan loker milik Lee. "Sementara itu Naruto...," ucap Lee sambil membuka bajunya dan melihat Naruto yang sedang meminum susunya. "... kau telat bangun lagi," ucap Lee sambil tersenyum kearah Naruto yang langsung tersedak oleh air susu yang sedang diminumnya. "Ya ampun," tawa Lee. "Jangan terlalu sering bergadang Naruto, itu tidak baik untuk kesehatanmu, akhir-akhir ini kau sudah jadi langganan kamar mandi ini, dasar,"
Naruto hanya tersenyum sambil ia melihat Lee melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia kemudian memakai pakaiannya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan tas sampingnya tersandang dibahu. Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju kantin kampus. Melewati pelataran parkir kampusnya Naruto dikejutkan dengan sesosok seorang pemuda berambut hitam dengan setelan jas melekat di tubuhnya yang kecil. Pemuda itu memiliki perawakan yang sama persis dengan dirinya. Pemuda itu berdiri disamping sebuah mobil mewah dengan beberapa pria berpakaian jas hitam dan berkacamata hitam.
"Deg," jantung Naruto berdetak kuat saat ia sadar siapa pemuda dengan iris biru yang sama dengan irisnya itu. "Menma?!" ucapnya lirih. Naruto memerhatikan gerak-gerik pemuda dengan nama Menma tersebut. Ia memandang sendu kearah bangunan megah tempat kegiatan administrasi kampus tersebut. "Akh," Naruto hendak memanggil pemuda tersebut tapi dihalangi oleh sesosok pria tua dengan tongkat ditangannya. "Ah," Pemuda bersurai pirang itu tercekat kemudian ia mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya. "Syukurlah kau sudah sadar Menma," ucap Naruto sambil membalikkan tubuhnya dan meneteskan air matanya. "Ya Tuhan, bahkan aku merasa ada tembok besar yang tinggi menjulang diantara aku dan dia," isak Naruto sambil menghapus air matanya.
"Lho," Hinata dan Kiba terkejut melihat wajah Naruto yang basah dan lusuh. "Kau kenapa Naruto?" tanya Hinata sambil berdiri dari duduknya dan mendekati Naruto yang berjalan mendekati mereka.
"Hinata, aku mau pulang," ucap Naruto lirih sambil menghapus air matanya.
"Tapi kau masih ada kuliah Naruto," jawab Hinata sambil berdiri dihadapan pemuda itu. Naruto menggelengkan kepalanya.
"Aku mau pulang," Naruto menundukkan kepalanya dan meremas tangannya. Kiba yang berdiri disamping Hinata terdiam melihat ekspresi teman kecilnya itu kemudian ia melihat Hinata yang tersenyum sambil memegang bahu Naruto.
"Baiklah, Kiba kita pulang cepat hari ini," ucap Hinata sambil membalikkan tubuhnya dan mengambil tas tabung Naruto begitupun dengan tasnya. "Aku akan mengantarmu pulang, ke kediaman keluarga Uchiha?" tanya Hinata sambil memberikan tabung Naruto.
"Tidak, apa aku boleh beristirahat di rumahmu?" tanya Naruto sambil mengambil tas tabungnya dari tangan Hinata.
"Baiklah," jawab Hinata. "Kebetulan sekali ada kamar dimana kau bisa menyendiri," Hinata tersenyum sambil berjalan melewati Naruto sementara itu Kiba mengikuti gadis tersebut dari belakang dengan Naruto yang tersenyum tipis setelah mendengar persetujuan Hinata tersebut.
"Terima kasih, Hinata,"
"Sama-sama," jawab Hinata sambil tersenyum. Kiba hanya diam melihat kearah Naruto yang masih saja menundukkan kepalanya dan sesekali ia dapat mendengar suara cegukkan dari pemuda yang ada disampingnya itu. Kiba hanya bisa menghela nafasnya, Naruto terlalu sensitif dan selalu terbawa perasaan. Pada akhirnya ya seperti ini, menangis.
~Big Mistake~
"Biarkan dia Kiba, kita tunggu saja, disaat ia siap, ia akan menceritakan semuanya," ucap Hinata sambil duduk diatas sofa dan menyesapi aroma teh coklat yang sedang berada ditangannya. Sementara Kiba yang duduk diatas karpet sedang asyik bermain game RPG dari PS3 milik Hinata, kaki kanannya ditekuk keatas sementara tangan kananya berada diatas lutut dan tentunya tangan kiri dan kaki kiri berada dibawah. Posisinya persis seperti orang-orang yang sedang bersantai di kedai makanan.
"Yah, hidupnya terlalu rumit untuk kucampuri Hinata," jawab Kiba sambil memandang tv plasma ukuran 50 inchi yang menggantung di dinding ruangan tersebut.
"Kita hanya bisa menunggu," Hinata melihat ke langit-langit ruangan yang cukup luas tersebut dengan tatapan sendu dan sedih. "Naruto," ucap Hinata lirih. Kiba terdiam dengan tatapan datarnya. Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah dari iris biru sang Uzumaki itu, kesepian dan ketakutan selalu ia rasakan kala ia tersadar kalau sebenarnya ia hidup sendiri dan dikejar-kejar oleh keluarga besar terpandang hampir di seluruh penjuru negeri. Melindungi keluarga satu-satunya yang saat ini bersamanya dan menerima dirinya. Tapi semuanya sirna bagaikan tsunami yang datang tiba-tiba dan menghapus semuanya. Menghapus emua kebahagiaan yang sudah lama ia coba untuk membangunnya kembali.
"Aku tidak ingin sendiri, aku tidak ingin sendiri," isak Naruto yang sedang berbaring diatas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Aku tidak ingin sendiri... hik... Menma, kembalikan Menma... kembalikan Menma kepadaku!" isaknya.
Tak jauh dari ranjang tersebut suara ringtone handphone terdengar dari tasnya yang tergantung di belakang pintu kamar tersebut. Di layarnya tampak sebuah tulisan dengan nama "Tuan Sasuke Calling". Tapi tampaknya Naruto tidak mempedulikan panggilan tersebut. Sibuk dengan pikiran dan keluh kesahnya saat ini.
"Dia tidak mengangkat," ucap Sasuke sambil mematikan handphonenya dan melirik kearah tamunya yang sedang duduk di sofa sementara ia sedang berdiri didepan meja kerjanya. "Begitu mirip, diakah yang namanya Menma?" pikir Sasuke sambil memandang kearah pemuda berumur 10 tahun yang sedang memandang kearah Sasuke dengan iris biru dengan tatapan sendunya.
"Kakek," ucap Menma sambil memandang kearah kakeknya yang diyakini Sasuke adalah kepala keluarga Namikaze, Namikaze Jiraiya. Jiraiya tersenyum kepada Menma dan mengelus kepala cucunya itu.
"Sepertinya ia sedang sibuk Menma," jawab Jiraiya. "Nah, Tuan Uchiha, saya dengar dia bekerja sebagai pelayan pribadi anda, apakah saya boleh membawanya ke kediaman Namikaze, mengingat...," putus Jiraiya. Sasuke terdiam sambil mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Jiraiya yang sepertinya tercekat karena kata-kata yang akan ia ucapkan itu. "... dia bagian ke...,"
"Maaf, saya tidak akan melepaskan dia sebagai pelayan saya Tuan," Sasuke meletakkan handphonenya keatas meja kerjanya.
"Dia kakakku, dia bagian dari keluargaku," ucap Menma sambil berdiri dan memandang dengan ganas kearah Sasuke.
"Oh ya, bagi anda memang ia adalah bagian dari keluarga, tapi apakah kakek anda juga berpendapat seperti itu?" tanya Sasuke sambil melipat tangan dan kedua kakinya dengan tubuh bersandar ke meja. Ia melirik Jiraiya yang memandang kearahnya dengan tatapan seekor binatang buas yang sedang terbawa amarah karena tiba-tiba ada orang asing yang masuk ke dalam teritori kekuasaannya.
"Tentu saja, aku percaya pada kakekku, kalau dia tidak menganggap kakak adalah keluarga kenapa kakek mau meluangkan waktu sibuknya untuk menemaniku menjemput kakak," jawab Menma dengan tegas.
"Huh," Sasuke mendengus sambil menyeringai. "Maaf Tuan, kontrakku dengan Naruto masih berjalan selama 2 bulan dan itu belum bisa melunasi semua tugakkan biaya perkuliahannya karena itu saya tidak bisa...,"
"KAKEK AKAN MELUNASINYA... KAKEKKU AKAN MELUNASI SEMUANYA," teriak Menma sambil meremas tangannya. Sasuke terdiam kemudian ia melihat kearah Jiraiya yang masih memandang dengan tatapan yang sama.
"Tidak bisa, aku tidak ingin pelayanku masuk kedalam kandang macan, terima kasih atas pengertiannya," Sasuke tersenyum lebar. Menma terdiam mendengar penolakkan dari Sasuke tersebut. "Dan tentunya anda tidak ingin berlama-lama disini bukan Tuan Namikaze, mengingat betapa sibuknya anda," Sasuke membalikkan tubuhnya dan duduk diatas kursi kerjanya. "Percuma berdebat karena saya tahu apa yang sedang anda pikirkan Tuan Namikaze," Sasuke menghela nafasnya.
"Menma kita pulang!" Jiraiya bangkit dari duduknya.
"Tapi kakek...," rengek Menma.
"Pulang Menma!" Jiraiya menatap Menma dengan tatapan datarnya yang menusuk. Tuan Muda tersebut tercekat kemudian ia menundukkan kepalanya. "Maaf telah menganggu waktu sibuk anda Tuan Sasuke, kami permisi," ucap Jiraiya sambil menundukkan kepalanya. Ia berjalan menuju pintu dengan Menma berjalan dibelakangnya.
Sasuke memandang kearah punggung Menma yang tampak frustasi berbeda dengan Jiraiya yang berjalan tegap dengan segala keangkuhan dan kesombongan memancar dari setiap sudut tubuhnya. Mata Sasuke mendelik tajam kearah punggung Tuan Besar Namikaze tersebut hingga punggung kebesarannya tidak dapat lagi dilihat setelah daun pintu ruang kerja Sasuke ditutup dengan rapat. Pemuda itu mengambil handphonenya dan mencari sebuah nama di daftar kontak teleponnya. Ia menyentuh sebuah nama kemudian meletakkan handphone tersebut kedaun telinganya. Tak lama kemudian ia dapat mendengar suara seorang wanita menyahut teleponnya tersebut.
"Dia disana?" tanya Sasuke sambil memegang keningnya. "Oh syukurlah, aku pikir dia akan bertindak nekat," Sasuke menghela nafasnya. "Ya... aku melihatnya sedang berjalan di parkiran dan kebetulan juga keluarga itu datang, apa dia menangis?" tanya Sasuke sambil memandang kearah layar komputernya. "Oh... ya sudah... biarkan ia istirahat disana... nanti aku akan menjemputnya, hm... ya terima kasih Hinata," Sasuke tersenyum tipis kemudian ia mematikan teleponnya dan meletakkan handphone tersebut keatas meja. "Hah... Naruto... ada apa dengan Namikaze ini sih?" keluh Sasuke sambil menyandarkan dahinya keatas meja.
"Tuan Sasuke," terdengar suara seorang pria dari depan pintu ruang Sasuke.
"Masuk!" jawab Sasuke sambil menegakkan kepalanya. Ia melihat Jugo berjalan mendekatinya dengan setumpuk berkas ditangannya. "Pekerjaan hari ini?" tanya Sasuke sambil mengambil kacamatanya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Iya Tuan," jawab Jugo sambil meletakkan berkas tersebut diatas meja Sasuke. "Saya akan kembali mengambilnya 30 menit kemudian Tuan, setelahnya anda harus bersiap mengikuti pertemuan ke Perusahaan Hyuuga untuk membicarakan kerja sama dengan direktur perusahaan tersebut,"
"Hm," jawab Sasuke sambil mengambil salah satu berkas. "Apa lagi jadwalku hari ini?" tanya Sasuke sambil membaca berkas tersebut.
"Acara makan malam dengan Nona Haruno Sakura," jawab Jugo.
"Batalkan! Ada yang lain?" tanya Sasuke sambil mengambil bulpennya dan menandatangani berkas yang telah ia baca tersebut dan meletakkannya di sisi meja yang lain kemudian ia mengambil berkas yang lain dan membacanya.
"Dibatalkan Tuan?" tanya Jugo sambil mengerutkan dahinya.
"Iya, hari ini aku akan ke rumah Hinata dan menjemput Naruto, sekalian ada yang ingin aku bicarakan dengan pelayanku yang satu itu," jawab Sasuke sambil mengerjakan pekerjaannya. Jugo terdiam sambil mengerutkan dahinya. Sasuke berhenti menggerakan tangannya kemudian ia mengangkat kepala dan melihat kearah Jugo yang terdiam ditempatnya saat mendengar pernyataan Sasuke tersebut. "Dari awal 'kan kau sudah tahu kalau aku tidak suka dengan yang namanya Haruno Sakura, perjodohan itu pun atas dasar paksaan keluarga juga, jadi carilah alasan untukku agar acara makan malam itu dapat dibatalkan, aku tidak peduli dengan wanita super berisik seperti dia," Sasuke membalikkan kepalanya dan kembali melihat berkas pekerjaannya.
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi!" pinta Jugo sambil membungkukkan tubuhnya.
"Hn," jawab Sasuke yang masih membaca berkasnya. Jugo kemudian berjalan menuju pintu, saat hendak ia memegang handle pintu tersebut ia kembali membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Sasuke yang masih sibuk dengan berkasnya.
"Tuan Sasuke," panggil Jugo. Sasuke menegakkan kepalanya dan melihat kearah Jugo dengan ekspresi wajah datarnya memberikan pertanyaan lewat mimik wajahnya kepada Jugo. "Sepertinya anda sangat tertarik dengan pemuda Uzumaki Naruto ini, apa perlu saya cari informasi tentang dirinya?" tanya Jugo. Sasuke terdiam kemudian ia kembali menundukkan kepalanya dan memainkan tangannya yang sedang memegang bulpen diatas kertas.
"Tidak usah, lawan kita berat Jugo, Namikaze...," jawab Sasuke sambil meremas bulpennya dan mengerutkan dahinya. "Kalau kita salah langkah, perusahaan dan yayasan pendidikan ini bisa hancur kalau kita ikut campur dalam urusan keluarga mereka," Ia kembali menggoreskan tinta hitam dari bulpen itu diatas kertas kerjanya. "Aku tahu betul tabiat dari Namikaze Jiraiya ini, dia tak akan segan-segan membunuh lewat tangan orang lain demi obsesinya, dia layaknya godfather-nya dunia bisnis di seluruh dunia, hancur sudah kalau kau tidak mengikuti apa yang diinginkannya," Sasuke menghela nafasnya. "Jangan pernah bergerak tanpa perintahku perihal masalah ini, kau paham Jugo?" ucap Sasuke sambil melihat Jugo dari sudut matanya.
"Baiklah Tuan, saya permisi," Jugo membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan tersebut. Saat Sasuke dapat mendengar suara pintu yang tertutup, ia melepaskan bulpennya dan menghela nafasnya.
"Setidaknya aku tahu sekarang, Namikaze punya hubungan dengan Naruto," pikir Sasuke sambil mengurut keningnya. "Dasar, aku sudah terjerat dalam masalah mereka, bagaimana caranya untuk lepas? Melepaskan Naruto, yang benar saja... hi... hi... hi...hi, aku tidak akan melepaskan buruan yang telah aku tangkap ini dengan susah payah... ha... ha...ha," tawa Sasuke sambil menutup wajahnya dengan tangan kanan. "Lagian dia juga tidak menginginkan keberadaanmu Naruto, kau sudah dianggap sampah baginya," Sasuke menyeringai. "Jadi tidak salahkan aku mengambil sampah itu," Sasuke mengambil bulpennya dan kembali menggoreskan tinta hitam dari bulpen tersebut dengan aura yang cukup membuat semua orang disekelilingnya memilih untuk pergi menjauh.
~Big Mistake~
"Setidaknya kompres dulu matamu, bengkak tuh," ucap Hinata sambil meletakkan handuk basah diatas mata Naruto. Pemuda itu masih berbaring diatas ranjangnya.
"Ha... ha... ha, kapan sih kau bisa berubah Naruto?" tanya Kiba sambil berdiri dibelakang Hinata yang duduk diatas kursi.
"Diam kau Kiba!" ucap Narto sambil memegang handuk yang menutupi matanya.
"Lucunya kau mudah menangis, sensitif banget jadi cowok," Kiba mengambil balok es dari baskom kecil yang ada diatas meja nakas kemudian ia memasukan tangannya ke dalam baju Naruto seraya meletakkan dua balok es tersebut tepat di dada Naruto.
"GYAAAAAA," tiba-tiba Naruto terpekik karena merasakan dinginnya balok es yang langsung menyengat syaraf-syaraf kulit dadanya. "SIALAN KAU, KIBA," Naruto menegakkan tubuhnya dan melempari handuk basah kepada Kiba yang sudah kabur keluar dari kamar tersebut dengan tawa yang sangat keras. Hinata terdiam melihat reaksi Naruto tersebut, kemudian ia menghela nafasnya. "Dingin... dingin," isak Naruto sambil mencoba menghambil balok es yang masih berada di atas kulit tubuhnya.
"Kalian berdua memang tidak bisa akur ya? Tiap hari pasti bawaannya bertengkar terus," Hinata bangkit dari duduknya dan mengambil handuk basah yang dilempari Naruto.
"Dia menjahiliku terus Hinata," keluh Naruto sambil meletakkan balok es yang belum mencair ke dalam baskom. Hinata hanya bisa menghela nafasnya dan berjalan mendekati Naruto seraya meletakkan handuk basah itu kembali ke mata Naruto.
"Sasuke akan datang menjemputmu, setidaknya kurangi matamu yang sembab itu, jelek banget dilihat," Naruto memanyunkan bibirnya sambil memegang handuk yang menutupi matanya tersebut.
'Iya... iya," jawab Naruto sambil melepaskan handuknya dan mengambil balok es seraya meletakan balok tersebut ke matanya. "Huuuufffff, enaknya,"
"Baguslah kalau sudah merasa baikkan, kalau begitu aku kembali dulu ke bawah, kalau kamu mau mandi seperti biasa ambil bajumu ada di lemari itu Naruto," ucap Hinata sambil menunjuk lemari besar yang ada disudut ruangan tersebut.
"Eh, bajuku?" tanya Naruto sambil membelalakkan matanya.
"Eh, lho lupa ya bajumu itu menumpuk terus di rumah ini? Pakaianmu menumpuk sejak dua bulan terakhir ini, karena sibuk dengan tugas-tugasmu dan tentunya kau selalu mandi disini kalau sudah sore, kudengar juga setelah pulang ke rumah kediaman Uchiha kau juga langsung tidur bukannya mengerjakan tugasmu sebagai pelayan," jawab Hinata dengan tatapan datarnya sambil melihat Naruto.
"Engh," Naruto mengerutkan dahinya dan menggaruk kepalanya. "Walah, pantas saja pakaianku disana pada habis," pikir Naruto sambil meletakkan tangan kanan ke dagunya. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Aduh... aduh, Sasuke apa yang kau lihat sih dari laki-laki tulalit seperti Naruto, jujur kubilang dia tidak bisa jadi pelayan pribadi lho Sasuke," pikir Hinata sambil berjalan mendekati pintu kamar.
"Eh, Hinata," panggil Naruto. Hinata terdiam saat Naruto memanggil namanya.
"Iya?" tanya Hinata sambil melihat kearah Naruto.
"Terima kasih, kau benar-benar mirip ibuku," Naruto tersenyum lebar.
"Eh," Hinata mengerutkan dahinya. "Sudah puluhan kali kau bilang seperti itu padaku Naruto," jawab Hinata sambil menghela nafasnya. "Haaaah, ya sudahlah, cepatlah mandi, Sasuke pasti sedang menuju kesini," Hinata tersenyum sambil membuka pintu kamar dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Ah... Hinata...," panggil Naruto sesaat pintu kamar Naruto ditutup oleh Hinata. Wanita tersebut melihat kearah Naruto. "Aku lapaaaaaar," isak pemuda tersebut. "Dari pagi belum makan," lanjutnya.
"Ah iya, pelayan akan menyiapkan makanan untukmu, jadi bergegaslah mandi,"
"Aku mau ramen," ucap Naruto sambil turun dari ranjangnya.
"Tidak, hari ini kau harus makan menu yang telah aku siapkan," jawab Hinata tegas.
"Ah, pasti makanan sampah lagi," isak Naruto sambil berjalan mendekati Hinata.
"Itu bukan sampah Naruto, itu makanan," bantah Hinata. "Dan jangan merengek, kalau masih tetap ingin berkunjung kesini kau harus ikuti semua peraturan di rumah ini, mengerti Tuan Uzumaki Naruto?" tanya Hinata sambil tersenyum lebar.
"Yaaaah, Hinata kau pelit," isak Naruto sambil memanyunkan bibirnya dan membalikan tubuh seraya berjalan kembali ke ranjangnya.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan," Hinata tersenyum sambil menutup pintunya.
"Haaah, Bruuuk," Naruto menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Dengan posisi tengkurap ia melihat telapak tangannya. "Menma, syukurlah kau sudah sadar," pikir Naruto sambil menutup matanya.
~Big Mistake~
"Brocon," ucap Sasuke sambil mengendarai mobilnya. Naruto yang duduk disamping Sasuke melihat kearah Sasuke dengan wajah polosnya. "Kau brother complex, Naruto," ucap Sasuke sambil melirik kearah Naruto.
"Lho, kenapa anda bisa berpikiran seperti itu Tuan?" tanya Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sasuke menghela nafasnya kemudian ia tersenyum.
"Sudahlah lupakan, kau sudah makan?" tanya Sasuke.
"Sudah, tadi Hinata memberi saya makan banyak sekali jadi kekenyangan," ucap Naruto sambil mengelus perutnya yang membuncit karena kebanyakan makan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke pantai?" tanya Sasuke sambil membanting setir mobilnya kearah pantai.
"Lho, bukannya kita bagusnya pulang ke rumah dan istirahat Tuan, apalagi ini sudah malam?" tanya Naruto.
"Kau lelah? Setahuku kau sudah tidur hampir setengah hari di kediaman Hyuuga," tawa Sasuke sambil melirik kearah Naruto. "Atau jangan-jangan kau ingin tidur lagi, hati-hati lho nanti kau terjangkit penyakit sleeping beauty dan tidak bangun-bangun lagi Naruto,"
"Anda mendoakan kematian saya Tuan?" tanya Naruto sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak aku mendoakan supaya kau bisa tidur sepuas yang kau mau Naruto," ucap Sasuke sambil tertawa kekeh.
"Maunya sih begitu, tapi sayang saya masih ingin tetap hidup," jawab Naruto sambil melipat tangannya dan membiarkan Sasuke tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Naruto tersebut.
"Kau tahu Naruto, aku akan menunjukkan ketenangan yang sebenarnya padamu," Sasuke melihat kearah Naruto yang melihat kearahnya dengan ekor matanya.
Sasuke memarkirkan mobilnya di bawah lampu jalan raya. Gelapnya malam membuat angin yang bercampur dengan aroma asin menambah dinginnya malam dipinggir pantai tersebut. Naruto keluar dari mobil begitupun dengan Sasuke yang telah melepaskan jas kerjanya serta dasinya, kedua lengan kemejanya di lipat keatas dan dua kancing bajunya ia biarkan terbuka hingga menampakkan leher jenjang dari Sang Uchiha Bungsu. Suara demburan ombak yang menghempas bebatuan karang terdengar jelas oleh kedua telinga pemuda yang sedang berjalan mendekati bibir pantai. Sasuke duduk diatas pasir, cahaya rembulan membuat Naruto dapat melihat keberadaan Sasuke yang sedang duduk disampingnya dengan posisi kaki yang ditekuk keatas.
"Coba kau rasakan Naruto, betapa indahnya laut kala malam hari, suara deburan ombak dan semilir angin darat," Sasuke menutup matanya mencoba untuk merasakan ketenangan jiwa dengan suara-suara dan suasana hening pantai tersebut. "Duduklah dan rasakan ketenangan itu Naruto!" Sasuke membuka matanya dan melihat kearah Naruto yang terdiam melihat mata Sasuke yang memandang dengan ekspresi datarnya.
"Mata... mata anda mirip dengan malam," ucap Naruto. Sasuke terdiam mendengar ucapan Naruto tersebut. "Seperti malam ini, walaupun gelap tapi ada secercah cahaya dibalik mata itu, layaknya rembulan yang menyinari langkah-langkah para pejalan kaki kala malam hari," Naruto duduk disamping Sasuke. "Seandainya saya memiliki mata seperti itu," Naruto tersenyum sambil memeluk kakinya.
"Matamu seperti langit siang hari, bercahaya dan memberikan kehidupan," jawab Sasuke sambil membuang wajahnya yang memerah karena mendengar ucapan Naruto yang memuji matanya. Naruto menggelengkan kepalanya.
"Banyak orang yang bilang seperti itu, mata ini begitu indah dan menawan, tapi dibalik itu semua... mata ini adalah kutukan bagi saya, mata biru ini hanya selimut yang menutupi semua kegelapan hati, Hinata juga menyadari hal itu, bahkan sebelum saya menyadarinya," Naruto menutup matanya dan membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya. "Mata laki-laki yang telah membuat ibu menderita beberapa tahun sebelum ia bertemu dengan laki-laki itu," pikir Naruto sambil meneteskan air matanya. "Hik Ibu," isaknya. Sasuke terdiam mendengar suara isakan Naruto kemudian ia memegang tangan pemuda tersebut dan menarik tubuh kecil tersebut kepelukannya. Naruto membelalakkan matanya disaat Sasuke memeluk erat tubuhnya. "Tuan?"
"Aku akan mengikis kegelapanmu Naruto, aku akan melindungimu dan memberikan cahaya kepadamu, aku janji!" Sasuke melepaskan pelukannya seraya menghapus air mata Naruto yang mengalir di kedua pipinya. "Bahkan kalau kau ingin...," putus Sasuke sambil mendekati wajahnya ke wajah Naruto. "... aku akan merebut kembali adikmu dari tangan Namikaze," bisik Sasuke sambil mengecup kelopak mata Naruto. "Tidak ada yang boleh membuatmu menangis seperti ini, tidak ada yang boleh membuatmu galau bahkan merasa hancur dan sendiri seperti ini Naruto," Sasuke mengecup hidung Naruto. "Tidak boleh," Sasuke mengecup bibir Naruto.
"Eh," Naruto membelalakkan matanya saat itu juga. Sasuke melilitkan tangan kirinya ke tubuh Naruto sementara tangan kanannya memegang kepala bagian belakang Naruto. "Tuan Sasuke?" pikir Naruto disela-sela keterkejutannya terhadap perlakuan Sasuke kepadanya.
TBC
Bingung mau menjawab apa pada para pembaca dan yang telah mau memberikan waktunya untuk memberikan reviewnya kepadaku... yang pasti terima kasih dengan sambutannya terhadap fic ini... aku masih butuh banyak-banyak belajar untuk membagi waktu antara kuliah dan fic ini...
Akhir-akhir ini aku sedang mood-moodan buat cerita... jadi terbengkalai semua...
Ah iya terima kasih banyak... semoga terhibur dengan fic ini...
Makasih...
